Terimakasih untuk yang sudah membaca dan menunggu kelanjutan cerita ini. Semoga ga bosen, semoga masih inget sama alur sebelumnya.. ehe

Just Love Him

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Park Hana, Kim Suho, Kim Minseok, Others.

Rated M

Mohon maaf untuk typo yang masih berserakan, Padahal udah aku coba perbaiki. Maaf untuk karakter Baekhyun yang menderita di sini, pun dengan Chanyeol yang kejam. Semoga mereka selalu di limpahkan kebahagiaan dan kesehatan di real life mereka. Aamin.

.

.

.

Tulisan bercetak miring merupakan flashback cerita.

.

.

.

Selamat membaca!

...

Irisnya terpejam erat dengan kening berkerut dalam ketika cengkraman pada rambutnya terasa semakin menguat. Erangan keluar dari bibirnya yang terbuka ketika kepalanya yang terdongak dipaksa menoleh dengan kasar.

Air mata semakin membanjiri wajah pucatnya ketika bibir tebal itu untuk kesekian kalinya melumat kasar belah bibirnya.

Tidak ada yang mampu ia lakukan selain menyalahkan takdir. Takdir yang membuatnya terlahir sebagai lelaki, namun takdir pula yang membuatnya diperlakukan layaknya wanita lemah.

Dadanya yang terasa diremat kuat dari dalam hanya membuat nafasnya sesak. Tangannya yang terikat tidak membantu sama sekali. Tubuhnya bahkan terasa semakin remuk ketika dipaksa menegak sedemikian rupa. Ia bahkan yakin luka cambuk sebelumnya kembali terbuka karena tubuhnya yang dipaksa meregang.

"Akh!"

Baekhyun memekik sakit ketika lagi-lagi kepalanya dipaksa mendongak hingga mempertontonkan leher putihnya yang berkeringat dingin.

Bibirnya Baekhyun gigit dengan kuat ketika bibir tebal Chanyeol beralih menggigit dan menyesap kuat lehernya. Chanyeol menjilat tanda yang baru saja dibuatnya. Ia sempat menatap adiknya di depan sana dengan bibir yang menyeringai.

"Kau lihat, Hana? Pantaskah lelaki ini untuk kau cintai?"

Sementara Hana hanya menggerakan tubuhnya yang terikat dengan tidak berdaya. Air mata yang keluar hanya membuat pandangannya memburam. Teriakannya yang teredam kain yang mengikat mulutnya hanya membuatnya semakin frustasi. Dan hanya nama Baekhyun yang mampu ia rapal berkali-kali dalam hati.

Chanyeol hanya menyeringai melihatnya dan kembali melanjutkan kegiatannya. Sebelah tangannya yang bebas merambat ke dada Baekhyun dan melepas dua kancing teratas kemeja yang dikenakan Baekhyun. Di singkapnya sebelah kerah kemeja Baekhyun hingga memperlihatkan pundak putihnya yang begitu menggoda. Ia merundukan kepalanya hendak meraih pundak Baekhyun sebelum getar suara lelaki itu menghentikannya.

"De-demi Tuhan a-aku sangat mem-bencimu Park Cha-nyeol."

Chanyeol menyeringai mendengar ucapan penuh penekanan yang Baekhyun lontarkan.

"Aku tahu, sayang." Bisiknya.

"Aargh!"

Baekhyun mengerang keras ketika Chanyeol menggigit kuat perpotongan pundaknya. Baekhyun bahkan mampu merasakan gigi-gigi Chanyeol yang menembus kulitnya. Tangannya yang terikat terkepal kuat. Sakit sekali. Tubuhnya semakin menegang dengan otot-otot yang tercetak keluar. Belum lagi cengkraman Chanyeol pada helai rambutnya yang membuat beberapa helai tercabut sekaligus dari pangkalnya. Baekhyun bahkan dapat merasakan rembasan darah dari kulit kepalanya.

Chanyeol menyesap rakus darah yang keluar dari bekas gigitannya tersebut. Jiwa iblisnya semakin berkoar melihatnya. Mendengar Baekhyun yang terengah di sela isakan tertahannya membuat birahi Chanyeol semakin tersulut. Ia menarik kedua pundak Baekhyun kesamping, hingga posisinya kini saling berhadapan. Baekhyun tersentak dan kembali mengerang sakit.

"Akh!" Irisnya kembali terpejam ketika Chanyeol melepaskan cengkramannya pada rambutnya. Denyut menyakitkan itu begitu terasa di bagian tersebut.

"Buka mulutmu, jalang."

Baekhyun tersentak mendengar perkataan Chanyeol, bersamaan dengan sesuatu yang menampar pelan pipinya. Irisnya terbelalak sepenuhnya ketika mendapati kejantanan Chanyeol yang menegang berada tepat di depan wajahnya. Baekhyun sontak memalingkan wajahnya. Sungguh enggan melihat apa yang ada di depannya.

Namun bukan Chanyeol jika ia membiarkan begitu saja seseorang menolaknya. Ia kembali mencengkram rambut Baekhyun. Membuat Baekhyun menjerit dan dengan segera melesakan kejantanannya pada rongga mulut Baekhyun.

Baekhyun tersedak hingga ingin muntah ketika kepala kejantanan Chanyeol menyodok hingga ke pangkal mulutnya . Bibirnya terbuka lebar tanpa mampu ia gerakan. Air mata semakin banyak keluar, sementara dadanya sakit bukan main. Baekhyun mengernyit di antara pesakitan yang di rasakannya. Sungguh, ia tidak sanggup sekedar bernafas setelah ini. Ia bahkan tidak sanggup membayangkan bagaimana reaksi Hana di samping sana saat ini. Baekhyun benar-benar merasa hina dan tidak memiliki harga diri lagi.

Sementara Hana tercekat dengan kedua iris membola. Meskipun buram, pemandangan di depannya sungguh menusuk hingga kerelung hati. Haruskah Chanyeol melakukan hal sejauh ini untuk memisahkan Baekhyun darinya?

"Hmmp!" Teriakan Baekhyun tertahan kejantanan Chanyeol.

Irisnya terpejam kuat dengan kening mengernyit dalam begitu Chanyeol menggerakan kejantanannya. Ia mencoba menggelengkan kepalanya, namun cengkraman Chanyeol pada rambutnya menahan pergerakannya.

"Ssh, brengsek."

Di sisi lain, Chanyeol menggeram rendah begitu nikmat ia rasakan dari mulut hangat Baekhyun. Ia semakin mempercepat gerakannya tanpa mempedulikan Baekhyun yang kini meronta kepayahan. Tangannya yang terikat bahkan kini telah lecet dan mengeluarkan darah. Kakinya yang ia paksa gerakan, hanya membuat bagian bawah tubuhnya sakit bukan main karna luka kemarin. Baekhyun hanya mampu mengeluarkan air matanya di balik kelopaknya yang terpejam. Membiarkan Chanyeol yang semakin mempercepat gerakannya.

"Hhh, Brengsek. Sial!"

Chanyeol memelankan gerakannya dan menggantinya dengan hentakan-hentakan dalam. Saliva yang membasahi dagu dan leher Baekhyun bahkan hanya membuatnya semakin bergairah. Ia merasa akan segera sampai. Dan benar, tiga hentakan kuat yang ia lakukan benar membuatnya mengeluarkan sperma tepat di dalam mulut Baekhyun.

Baekhyun limbung kesamping ketika Chanyeol melepaskan cengkramannya pada rambutnya dan mengeluarkan kejantanannya dari mulutnya. Dimuntahkan sperma Chanyeol yang tertelan olehnya. Belum sempat ia bernafas dengan benar, Chanyeol menyentak pundaknya hingga ia terbaring sepenuhnya. Tubuhnya membusung karna tangannya yang terikat tertahan di punggungnya. Baekhyun hanya menatap sayu dengan ringisan yang keluar dari bibirnya.

Chanyeol sejenak menyelami wajah Baekhyun yang semakin memucat. Chanyeol mengakui bahwa sosok di bawahnya memang sungguh sempurna. Indah bak malaikat. Namun penolakan dan tatapan takut yang lelaki tersebut tunjukan, membuat Chanyeol menutup nuraninya. Membuat Chanyeol melakukan segala cara untuk menghancurkannya. Ia pun merundukan kepalanya dan berbisik penuh penekanan tepat di telinga Baekhyun.

"Kau milikku, Byun Baekhyun. Tubuhmu, detak nadimu, debar jantungmu, bahkan hela nafasmu adalah milikku. Hanya milikku."

Baekhyun tercekat mendengarnya. Tubuhnya bergetar hebat, sementara jantungnya berpacu kuat. Baekhyun merasa begitu takut saat ini. Ia belum pernah merasa sebegitu takutnya pada Chanyeol. Baekhyun ingin menyangkalnya, namun hati dan pikirannya sepakat bahwa Baekhyun tidak bisa lari dari jerat Chanyeol setelah ini.

Pun dengan Hana di tempatnya. Ia mematung mendengar bisik ucapan Chanyeol pada Baekhyun. Meskipun dingin, Chanyeol adalah pribadi yang hangat bagi Hana. Dan apa yang ia lihat di depannya seolah menampar semua persepsinya terhadap saudara lelakinya tersebut.

Hana mematung. Pikirannya kosong. Irisnya memaksa tetap terbuka, seolah merekam perlakuan saudara lelakinya terhadap Baekhyun, lelaki yang dicintainya.

Hana hanya diam tercekat. Bahkan ketika Chanyeol mengoyak kemeja Baekhyun seperti binatang. Hana hanya diam tercekat. Mendengar teriakan pilu Baekhyun di bawah kuasa saudara lelakinya tersebut.

Sementara Chanyeol menuli. Chanyeol seperti kesetanan. Tangannya mencengkram rahang Baekhyun dan melumat begitu kasar bibirnya kemudian. Baekhyun mengerang tertahan ketika Chanyeol melesakan lidahnya ke dalam mulutnya dan mencumbunya dengan penuh nafsu.

Baekhyun terengah hebat begitu Chanyeol menghentikan ciumannya. Namun ia kembali mengerang ketika lehernya di gigit dengan kuat oleh Chanyeol.

"Aargh!!"

Baekhyun menjerit ketika gigi-gigi Chanyeol menembus kulit lehernya. Baekhyun mencoba menggeleng, perihnya bukan main. Ia meraung ketika Chanyeol berganti menyesap bagian tersebut. Namun Baekhyun kembali menjerit ketika Chanyeol berganti mengigit puting kirinya lalu menyesapnya kuat. Kakinya menjejak lemah. Raungannya memenuhi penjuru ruangan. Darah merembas dari puting kirinya ketika Chanyeol beralih ke puting yang satunya. Namun ia hanya menyesapnya seperti bayi kehausan di sana.

Chanyeol menurunkan ciumannya pada perut rata Baekhyun. Hanya kecupan-kecupan ringan yang ia bubuhkan di sana, sebelum menegakan tubuhnya dan menatap Baekhyun yang terengah di antara segukannya. Chanyeol semakin berkabut ketika pandangannya ia turunkan pada tubuh Baekhyun.

Tubuh putih itu basah oleh keringat. Terlihat mengkilat karena cahaya lampu. Lehernya sedikit mengeluarkan darah di bagian yang ia gigit sebelumnya. Pun dengan pundaknya. Bagian itu bahkan telah meruam biru. Ibu jarinya ia usapkan pada puting kiri Baekhyun yang membengkak dan mengeluarkan darah. Baekhyun berjengit merasakannya. Chanyeol terus melayangkan pandangannya hingga berhenti pada kejantanan Baekhyun yang tertidur. Bagian tersebut terlihat membiru dan sedikit bengkak karna ulahnya kemarin. Chanyeol menyeringai ketika pikiran untuk melakukannya lagi terbesit di kepalanya. Ia pun mengarahkan tangannya pada bagian tersebut dan menggenggamnya kuat.

"Arrggh! Ti-tidak, Jangan! Aargh!"

Baekhyun berteriak sejadi-jadinya ketika sebelah tangan Chanyeol mencengkram dan meremas kuat kejantanannya yang masih luka. Baekhyun mendongak dan menggeleng kasar. Sakitnya bukan main. Pandangannya menggelap seketika. Baekhyun bahkan tidak menemukan nafasnya tepat ketika Chanyeol menggigit dan menyedot dengan kuat ujung kejantanannya. Tangannya bahkan tidak berhenti meremat kasar pangkal kejantanan Baekhyun.

"Aaarghh!!"

Baekhyun membusung tinggi ketika sesuatu akhirnya keluar dari lubang kejantanannya. Bukan sperma hasil orgasme, melainkan darah pekat.

Chanyeol menampung darah yang di keluarkan Baekhyun di mulutnya. Ia menyeringai sebelum meraih bibir Baekhyun yang terbuka kedalam ciuman kasarnya. Membagi darah di dalam mulutnya kepada Baekhyun melalui ciumannya. Baekhyun terhenyak dan mencoba melepaskan ciuman lelaki itu. Kepalanya ia gelengkan dengan kuat dan sontak terbatuk, memuntahkan darah yang terdapat di mulutnya.

"Bagaimana rasanya, hmm? Bukankah darahmu sangat manis? persis seperti dirimu, Baekhyun." Bisik Chanyeol di telinga Baekyun sebelum kemudian mengulumnya.

"Bu-bunuh saja sekalian a-aku, Chanyeol." Lirih Baekhyun.

Chanyeol mengangkat kepalanya dan menatap wajah Baekhyun yang merah padam. Lelaki itu terpejam dengan rembasan air mata yang setia mengalir. Jemarinya ia arahkan pada wajah Baekhyun dan menelusuri pahatan indah tersebut. Ibu jarinya berhenti di bibir Baekhyun yang membengkak. Ia hapus darah yang keluar dari luka di bagian tersebut. Di kecupnya ujung bibir Baekhyun sebelum kemudian mencengkram kasar rahang Baekhyun.

"Akan. Jika sudah saatnya."

Ucapnya sebelum membuka kedua kaki Baekhyun dan menghujamkan kejantanannya pada tubuh Baekhyun, tanpa mengalihkan tatapannya pada wajah Baekhyun. Mengamati bagaimana wajah indah itu terdongak ketika penyatuan tubuh itu berlangsung. Baekhyun tidak berteriak. Namun Chanyeol tahu lelaki itu tercekat. Wajahnya yang merah padam karena menahan sakit tidak luput dari penglihatan Chanyeol.

Chanyeol menggerakan kejantanannya. Menghentaknya perlahan namun begitu dalam. Mengamati Baekhyun yang terpejam kuat dengan nafas tersendat seiring dorongan yang ia lakukan. Begitu indah. Dan Chanyeol tidak tahan. Di raihnya bibir bergetar Baekhyun kedalam pagutannya dengan dorongan cepat yang ia lakukan di bawah sana.

Baekhyun tidak lagi mampu berteriak. Tubuhnya tenggelam dalam rasa sakit. Baekhyun bahkan merasakan punggungnya basah hingga mengenai tangannya yang terikat. Dan sungguh Baekhyun tidak mampu membayangkan bagaimana keadaan kejantanannya saat ini. Karna fokusnya terarah pada kasar gerakan Chanyeol di dalam tubuhnya. Baekhyun hanya berharap ia tidak akan terbangun kembali setelah ia terpejam nanti.

...

"Kim Minseok?!"

Minseok tersentak begitu sebuah suara memanggilnya bersamaan dengan gedoran pada pintu kamarnya.

"Dokter Suho?" Lirihnya.

Ia lalu bergegas mendekati daun pintu dan menempelkan telinganya disana. "Dokter! Tolong! hiks, Baekhyun..."

"Menjauh dari pintu!"

Minseok segera menjauh dari pintu. Sementara Suho mulai mendobrak pintu kayu tersebut dengan tubuhnya. Berkali-kali, sebelum tendangan berhasil membuka pintu tersebut. Ia segera menghampiri Minseok dan meremat pundak lelaki tersebut.

"Tu-tuan Chanyeol mem-bunuh Luhan. Ia juga menyandra adikknya bersama Baekhyun di kamar. Penjaga mengurungku ketika aku mencoba mencegahnya. Sudah hampir ti-tiga jam sejak Tuan Chanyeol memasuki kamar, tapi aku belum mendengar a-apapun. A-aku takut Baekhyun... Keadaan Baek-baekhyun.."

Suho mengeraskan rahangnya sebelum memeluk Minseok yang bergetar ketakutan. Chanyeol benar-benar di luar batas.

"Kita kesana sekarang."

Minseok mengangguk dan mengikuti Suho yang sudah terlebih dahulu melangkahkan kakinya.

...

"Chanyeol, buka pintunya, Brengsek!"

Suho menggedor pintu kamar Baekhyun dengan kuat, dan mencoba mendobraknya sesampainya disana. "Buka, Chanyeol!"

Chanyeol di dalam sana sempat menghentikan gerakannya. Ia menatap sejenak pintu kamar Baekhyun sebelum kembali mencumbu punggung Baekhyun dan kembali menggerakan kejantanannya.

Ia justru semakin mempercepat sodokannya ketika hasrat kembali menuntutnya untuk segera sampai. Di tamparnya kuat belah bokong Baekhyun sebelum akhirnya ia kembali orgasme.

"Chanyeol, Brengsek. Buka pintunya!!"

Chanyeol menggeram lalu membalikan tubuh Baekhyun. Kembali ia buka paha Baekhyun sebelum memasukan kejantanannya dan bergerak kuat di dalam sana. Ia menatap wajah pasi Baekhyun. Lelaki itu tidak lagi mengeluarkan air mata. Bibirnya terbuka namun tidak bersuara. Irisnya menatap kosong udara di hadapannya. Chanyeol tahu lelaki itu tengah berada di ambang kesadarannya. Namun Chanyeol tidak peduli. Ia justru mencengkram pinggul Baekhyun dan mempercepat gerakannya.

"Chanyeol! Buka, brengsek!"

Suho meremat rambutnya frustasi. Kenapa pintu kamar Baekhyun begitu kuat hingga tidak mampu di dobraknya? Minseok di belakangnya hanya menangis sembari mengatupkan tangannya di depan wajah.

Suho kembali menggedor pintu kayu tersebut dan berteriak lebih keras. Berharap Chanyeol mendengar apa yang akan ia katakan selanjutnya.

"Tidak cukupkah kau menyiksa Baekhyun selama ini, Chanyeol?! Kau berhasil menghancurkannya! Ku mohon berhenti! Kau bahkan telah berhasil membunuh Luhan!"

Suho menendang kuat pintu kayu tersebut. "Sekarang apa yang kau lakukan?! Kau memperkosa Baekhyun di hadapan adikmu sendiri?! Demi Tuhan, Baekhyun bahkan sedang mengandung saat ini, Brengsek!"

Chanyeol benar-benar menghentikan gerakannya saat ini. Gairahnya hilang begitu saja. Ia tersentak mendengar ucapan Suho. Ia lalu menatap Baekhyun dengan khawatir.

"Baekhyun..."

Iris sipitnya bergetar dan mulai meneteskan air mata. Begitu pula dengan bibirnya yang bergerak seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun sedetik kemudian lelaki itu terpejam, benar-benar hilang kesadaran.

Sementara Hana terperanjat di tempatnya. Telinganya berdengung mendengar teriakan tersebut. Benarkah? Benarkah apa yang di dengarnya? Jika benar, sungguh Hana tidak sanggup menerimanya.

Chanyeol mengeluarkan kejantanannya dan membenarkan celananya. Ia rengkuh pundak Baekhyun, hingga membuatnya terduduk dalam rengkuhannya.

"Baekhyun," panggilnya lirih.

Chanyeol tidak mengerti dengan perasaannya. Ia begitu tertohok mendengar perkataan Suho. Semua dendamnya seolah lenyap dan hanya tertuju pada perasaan Baekhyun. Apa yang lelaki itu rasakan ketika mendengarnya? Tidak, benarkah apa yang di katakan Suho? Baekhyun mengandung? anaknya?

Chanyeol menggulirkan pandangannya pada perut rata Baekhyun. Di sentuhnya perut tersebut, dan seketika sakit menggerogoti hatinya. Terlebih ketika sepenuhnya ia mampu menangkap keadaan Baekhyun yang kini di penuhi darah di beberapa bagian, terlebih pada bagian bawah tubuhnya.

Tanpa pikir panjang, Chanyeol segera melepas ikatan tangan Baekhyun dan membawa tubuh itu ke dalam gendongannya.

Suho di depan sana bahkan tersentak dengan pintu yang terbuka tiba-tiba. Ia hendak menyalak, namun urung ketika melihat Chanyeol yang membopong Baekhyun dalam keadaan seperti itu dengan langkah tergesa. Tanpa bertanya pun ia mengerti. Karenanya ia membiarkan lelaki tersebut membawa Baekhyun dan segera memasuki kamar Baekhyun dimana Hana berada.

...

Suho menatap selembar kertas di genggamannya untuk yang kesekian kali. Namun hasil yang di lihatnya tetaplah sama. Ia lalu mengusap kasar wajahnya dan menggebrak meja di depannya.

Sebenarnya Suho menyadari ada yang berbeda ketika ia menangani keadaan Baekhyun kemarin. Tepat ketika ia memeriksa denyut nadi di tangan Baekhyun. Suho berusaha menyangkal hal tersebut. Namun sebagai dokter perasaannya menuntun untuk segera memastikan kejanggalannya. Ia pun mengambil sample darah Baekhyun dan membawanya kerumah sakit.

"Kau benar-benar melakukannya Chanyeol."

Suho kembali mengusap wajahnya. Jika dipikir kembali, bukankah ini semua kesalahannya? Ia yang tengah mabuk karena rasa frustasinya pada sang kekasih, tidak sadar menarik lengan seorang gadis yang hendak menolongnya di pinggir jalan untuk kemudian menyeretnya ke sebuah gang yang terlampau sepi. Tanpa sadar pula ia memperkosa gadis tersebut dengan amarah yang begitu memuncak hingga menimbulkan rasa trauma yang begitu dalam.

Suho tidak pernah berpikir bahwa apa yang dilakukannya saat itu membuat keadaan sebegitu kacaunya. Merusak persahabatan, merusak percintaan, pun merusak harga diri seseorang.

Suho sempat menyangkal bahwa ini semua bukan sepenuhnya kesalahan. Bagaimanapun ia sudah pernah mengatakan hal yang sebenarnya kepada Chanyeol. Bahwa ialah yang telah memperkosa kekasihnya. Namun saat itu, dendam Chanyeol sudah bukan pada kematian kekasihnya. Melainkan penolakan yang dilakukan Baekhyun terhadapnya.

Suho tidak pernah menyangka bahwa perasaan yang tumbuh di hati Chanyeol terhadap Baekhyun berganti dengan obsesi. Merubahnya menjadi seorang psikopat yang melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang di inginkannya. Untuk menghancurkan Baekhyun sedalam-dalamnya.

Bersambung..