01.34 PM.

Waktu jam istirahat bagi Nanadaime Hokage. Biasanya, Naruto akan memakan bekal yang dia bawa dari rumah, namun kali ini dia ingin merasakan suasana lagi makan ramen bersama sahabat-sahabatnya di Ichiraku. Tentu, di sana pemandangan Naruto dan Kiba sedang berlomba siapa pemenang memakan ramen terbanyak. Ya, kita sudah tahu kalau pemenangnya adalah Naruto. Dan sebagai catatan baru kali ini dia menang melawan Kiba.

"Kau tidak akan bisa melawanku dalam pertarrungan memakan ramen, Kiba,"ujar Naruto, dia berbangga.

"Ya, ya, ya, kau menang," ucap Kiba, dia merasa kesal.

"Sesuai kesepakatan yang kita buat dulu. Jika aku menang, kita akhiri kompetisi ini, Kiba. Dan bilang ke Hinata kalau kau kalah," ucap Naruto, meminum airnya.

"Baiklah, terserah apa katamu. Tapi, aku akan mengajak Sai sebagai saksi, oke?" ujar Kiba.

"Terserah, aku mau kembali ke kantor." Selepasnya, Naruto sudah menghilang dari tempat itu. Kiba sedikit menyeringai tatkala Naruto bilang harus memberitahu Hinata. Itu berarti dia harus ke rumahnya.

Seperti pucuk dicinta, ulam pun tiba. Sai datang ke kedai ramen itu.

"Sai, kau ada acara hari ini?" tanya Kiba, setelah Sai duduk di sampingnya.

"Tidak, memangnya kenapa?"

"Kau ikut aku sekarang dan bawa kamera digitalmu." Mereka berdua pun pergi dari tempat itu menuju rumah Naruto.

( . Y . )

Naruto's house.

Kiba dan Sai tiba di kediaman Hokage ke-7. Pintu di ketuk dan dibuka Hinata.

"Kiba-kun? Dan Sai-san?" Hinata bingung.

"Hinata, aku sangat menyesal harus mengatakan ini," ucap Kiba, sedikit murung.

"Mengatakan apa, Kiba-kun?"

"Aku menang lagi, Hinata." Hinata mengerti, kalau Kiba menang berarti dia harus mempersiapkan diri. Dan kebetulan, Kiba mengajak Sai. Hinata sedikit tersenyum.

"Masuklah," ucap Hinata, mandahului mereka.

"Sai, segera aktifkan kameramu dan jangan lupa kunci pintu," ujar Kiba, menyusul Hinata.

Sai langsung mengaktifkan kameranya dan mengunci pintu.

( . Y . )

NaruHina's bedroom.

Di lantai atas, tepatnya di kamar tidur Naruto dan Hinata. Terdengar suara desahan Hinata dan tebarakkan kulit yang sangat nyaring. Jelas, sampai suara kasur pun ikut terdengar karena kencangnya perbuatan mereka bertiga di dalam.

"Mmmhh ... Mmmhhh ... Mehhh ... Sshh ... Ahh ... Ahh ... Ahh ... Ohhh ... Sodok terus, Kiba-kun. Entot aku!" desah Hinata sambil menyepong kontol Sai.

"Akan aku entot dirimu sampai sepuasku hari ini, Hinata! Sai, jangan sampai gagal fokus. Rekam!" ujar Kiba, dia sedang menyodok-nyodok memek Hinata dalam posisi doggystyle. Nampak sekali, kontol Kiba yang sudah agak kemerahan menusuk-nusuk memek Hinata. Kelauar dan masuk dengan liarnya. Sedangkan Hinata sendiri, dia sedang menyepong kontol Sai. Lihat saja, kedua pipinya sampai mengempis. Betapa nafsunya Hinata saat ini sedang dientot. Sai merekam semua kejadian ini. Dari dapur sampai ke kamar Naruto.

Beruntung, Himawari sedang main di luar dengan anak tetangga. Jadi, Kiba dan Sai bisa leluasa ngentotin istri Naruto di ranjangnya.

Kiba keenakan, kontolnya kembali menyodok-nyodok Hinata untuk kesekian kalinya. Dia merasakan kontolnya dijepit kuat oleh bibir memek Hinata. Batang kontol Kiba keluar-masuk dan bergesekkan dengan bibir memek Hinata, membuatnya mempercepat sodokannya.

"Aku mau keluar!" Buru-buru Kiba menyabut kontolnya dari dalam memek Hinata dan menyemprotkan pejuhnya ke punggung Hinata. Banyak sekali cairan lengket itu keluar dari ujung kontol yang bukan suaminya sendiri. Kiba mengurut batangnya agar cairan pejuhnya keluar semua.

Kiba yang sudah puas memberi isyarat ke Sai agar dia memberikan kamera kepadanya. Sai mengerti. Tanpa banyak bicara --yang memang ciri khasnya-- dia memberikan kamera itu ke Kiba. Sai mengambil posisi tiduran dan mengarahkan Hinata agar duduk tepat di selangkangannya. Hinata langsung masuk ke posisi women on top, mengarahkan kontol Sai untuk masuk ke dalam memeknya.

"Uhh ... Shhh ... Mhhh ... Ahh ... Shhh ... Mmhh ... Ohhh ... " Hinata menggoyangkan badannya merasakan kontol pria lain selain suaminya sendiri memenuhi memeknya. Sai mencengkram kuat pantat Hinata. Pria itu langsung menggerakan kontolnya menyodok-nyodok memek Hinata. Hinata hanya pasrah ketika Sai begitu nafsu ngentotin dirinya. Kiba merekam perbuatan mereka layaknya kameramen film porno.

"Ohh,... Aku akan keluar!" ucap Sai, dia menancapkan kontolnya dalam-dalam ke memek Hinata dan menyemburkan pejuhnya di sana. Hinata merasakan memeknya memanas, langsung mengalami orgasmenya menyusul Sai.

"Sebenarnya, aku kalah, Hinata," ucap Kiba, menutup kameranya.

Hinata kaget, menegapkan tubuhnya. Dia lupa mencabut kontol Sai dari dalam memeknya.

"Aku kalah. Dan sesuai kata Naruto dulu, kita akhiri ini. Tapi, aku ingin rekamanmu ada padaku. Tenang, tidak akan aku seberluaskan. Ini akan menjadi kenangan yang nikmat," ucap Kiba, selesai memakai celana panjangnya.

Hinata agak menenang, dia baru sadar kalau dia masih menyatu dengan Sai. Hinata bangkit, mencari bra dan pantiesnya untuk dia kenakan lagi.

"Kau jangan beritahu Naruto akan hal ini. Bilang saja aku kalah dan ini berakhir," ucap Kiba, bersiap mau pergi.

"Baiklah, aku tidak akan memberitahu suamiku," ucap Hinata.

"Bagus, aku mempercayaimu. Baiklah, aku pergi, Hinata. Sai, ayo!" Dan mereka berdua pun akhirnya meninggalkan rumah Naruto.

Hinata yang habis dientot, berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dari bau pejuh yang ada di tubuhnya.

( . Y . )

05.43 PM.

Sore menjelang, Himawari pulang dengan muka yang pucat.

"Aku pulang." Sarat sekali suaranya yang lemah.

"Selamat datang." Hinata langsung menghampiti anak keduanya, memastikan keadaannya. Dan, ya. Himawari demam.

"Ayo, sayang, kau harus istirahat dulu," ajak Hinata, dia langsung mengambil tindakan merawat Himawari.

Setelah Himawari sudah ditidurkan, Hinata memberitahu suaminya, Naruto dan anak pertamanya, Boruto via telepon kalau putri dan adik tercinta mereka jatuh sakit.

( . Y . )

08.38 PM.

Malam hari di rumah Nanadaime Hokage ribut sekali. Pertengkaran ayah dan anak yang tidak mau mengalah untuk mempersiapkan hidangan hangat untuk malaikat kecil mereka. Hinata baru turun dari lantai atas sehabis mengompres Himawari dan mendapati dapur berantakan.

"Kalian, hentika--" Bahkan, ucapannya terpotong karena mereka berdua ribut sekali. Mau tidak mau, Hinata harus mengusir mereka dari rumah agar keadaan kembali tenang.

"Jika kalian masih saja ingin bertengkar, kelauar dari rumah ini," ucap Hinata memakai Byakugannya sambil mengusir mereka.

Setelah mereka berdua sudah meninggalkan rumah, Hinata harus membereskan kekacauan yang diperbyat ayah dan anak itu.

Hampir memakan waktu kuramg lebih satu jam. Dan sekarang waktu sudah menunjukan 10.11 malam. Dapur sudah bersih, lampu sudah dimatikan.

Mungkin, Hinata akan berendam air hangat. Dia menuju lantai atas, ke kamarnya dengan Naruto. Lampu di sana belum dipadamkan. Hinata mulai membuka bajunya, dan kini dia hanya mengenakan bra yang kalau dilihat, bra itu tidak muat menampung kedua tetek montok Hinata.

Tingtong!

"Jika ini Naruto-kun, aku akan membanting pintu di depan mukanya." Hinata buru-buru menuju lantai bawah dan lupa kalau dia hanya mengenakan bra dan rok panjang kesehariannya.

Pintu dia buka dan mendapati Raikage Ay berdiri di sana.

"Ya, ada yang bisa saya bantu, Raikage-sama?" tanya Hinata.

"Apa Naruto ada di dalam?" Bukannya menjawab, Raikage Ay malah menanyakan balik.

"Tidak, dia baru saja kembali ke kantor," jawab Hinata, kesal dengan menekan kata 'kantor' pada kalimatnya.

"Lalu, kedua anakmu?"

Menghela nafas, Hinata menjawab, "Boruto juga keluar dan menginap di rumah temannya. Himawari demamnya baru saja turun".

Hinata mengerutkan dahinya, bingung. Pria hitam di depannya diam saja setelah dia mejawab pertanyaan.

"Um,... Raikage-sama, ada yang bisa saya bantu?"

Dan kejadian selanjutnya adalah chapter awal di kisah pertama di mana semua ini dimulai.

TAMAT.