"Maksudnya, kalian dijodohkan."

Ucapan nyonya Xiao semakin memperjelas situasi. Dan saat itu juga, Dejun mulai panik dengan ribuan pertanyaan lain bermunculan di kepalanya. Ia kini menatap Hendery meminta penjelasan. Namun, pria Macau itu hanya tersenyum saja dan tidak berbicara sedari tadi. Si manis semakin dibuat kebingungan.

Kenapa situasinya menjadi seperti ini?

"Tapi, pa, kenapa harus dia?" protes Dejun.

Tentu, dia harus bertanya, di antara jutaan manusia lain yang berjalan di atas bumi, kenapa harus Hendery -teman baiknya- yang dijodohkan dengan dirinya? Dunia begitu sempit! Dejun bukan tidak suka. Ia tidak yakin karena perjodohan berarti pernikahan. Pernikahan ada atas dasar cinta. Tapi, dirinya dan Hendery tidak saling mencintai. Tidak mungkin ia harus menghabiskan hidupnya tanpa kasih sayang.

Mungkin iya, Dejun sedikit menyukai Hendery tapi itu bukan cinta.

Dan memangnya Hendery menyukai Dejun juga?

"Memangnya kamu mau dijodohkan dengan perempuan?" tanya kakaknya.

Skakmat.

Memang orientasi seksualnya itu homo-seksual dan ia tidak tertarik kepada lawan jenis. Cinta pertamanya saja seorang laki-laki. Keluarganya menerimanya dengan baik setelah dia coming out sebelum ia pergi ke Korea. Namun, kakaknya memang masih sedikit sensitif terhadap hal itu. Apalagi ayah mereka dulu adalah drag queen -identik dengan komunitas LGBT- dan dulu meninggalkan rumahnya demi pekerjaan itu.

Makanya, sang kakak menyinggung terus menerus.

"Sudahlah, kalian kan sudah mengenal satu sama lain. Tinggal menyesuaikan saja."

Sesudah itu, Dejun tak bisa banyak protes.

Ia hanya diam sampai makan malam selesai. Memang hotpot enak dan masakan chinese lainnya juga begitu menggugah selera. Tapi moodnya sedang down dan itu tidak bisa diselamatkan. Ayah, ibu, dan kakaknya sudah tampak akrab dengan Hendery. Hal itu semakin membuat Dejun tidak terlalu senang. Harusnya imlek ini dia habiskan hanya dengan keluarganya dan tanpa beban pikiran. Sekarang ia malah pusing.

Sesudah makan malam, ia membantu ibunya mencuci piring.

"Anak-anak, kemari, papa beri kalian sesuatu."

Dejun langsung berlari menghampiri ayahnya. Dia tahu betul maksud kalimat dari si ayah yang selalu diucapkan setiap tahun baru imlek. Memberikan sesuatu yang paling ia sukai. Sesuatu dalam bungkus amplop merah. Ia tersenyum kemudian duduk di sofa di samping kanan tuan Xiao dengan riang. Kakaknya duduk di sisi kiri. Ibunya duduk di hadapan sang ayah.

Hendery? Uh, dia menghilang.

Tapi, masa bodoh.

"Dimana Hendery?" tanya si ibu.

"Dejun, cari dia, papa juga ingin memberi dia sesuatu."

Dejun langsung bermuka masam karena disuruh seperti itu. Kenapa Hendery juga diberikan angpao? Sejak kapan dia jadi bagian keluarganya? Si Xiao bungsu belum siap menerima kenyataan bahwa ia akan dijodohkan, lalu si Wong nanti akan masuk ke keluarganya. Rasanya aneh saja dan asing. Maka dari itu, ia tak mendengar perintah ayahnya dan tidak beranjak.

Namun, si kakak menyelundupkan tangannya dan mencubit lengannya dengan gemas dari belakang, "Jangan merajuk, anak kecil."

Dejun menyipitkan mata dan menatap kakaknya yang duduk di sisi kiri si ayah. Jelas bukan ayahnya yang mencubitnya. Sudah pasti sosok kakaknya. Ia lalu protes, "Ko, aku sudah bukan anak kecil. Jangan mencubitku. Kenapa tidak kau saja yang pergi mencarinya?"

"Itu kan calon suamimu!"

"Hush, malam tahun baru jangan bertengkar. Dejun, kamu panggil dia ya."

Perintah mama kedengaran lebih halus tapi keduanya langsung menurut. Dejun juga takut kalau mamanya sudah berbicara dengan nada seperti itu. Bisa-bisa si ibu marah dan melempari kepalanya dengan spatula atau mengusirnya dari rumah semalaman. Maka dari itu ia hanya menunduk dan berdiri lalu melesat ke arah kamar tamu di lantai dua -tempat Hendery tidur- sambil berseru ke pada nyonya Xiao.

"Iya, ma. Aku cari Guanheng dulu ya!"

Dejun sampai di depan pintunya lalu mengetuk terlebih dulu.

"Guanheng!"

Tidak ada balasan. Ia mengetuk lagi.

"Guanheng, keluar!" panggilnya dengan bahasa cantonese.

Tetap tidak ada balasan meski diketuk berkali-kali. Dejun sekarang mulai kesal karena tidak dijawab. Tidak mungkin pria itu ada di lokasi lain, pasti ada di dalam, hanya tidak bersuara saja. Ia akhirnya mengabaikan sopan santun dan langsung membuka pintu dengan tidak sabar. Syukurnya, pintu itu tidak terkunci.

Ia mengintip dahulu.

"Guanheng?"

Tidak ada orang.

Akhirnya ia membuka pintu itu secara lebar. Namun, tetap saja matanya tak menemukan siapa-siapa di dalam sana. Ia memutuskan mengintip di balik pintu. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada pria itu. Dejun mengerutkan keningnya. Kemana pria itu sebenarnya jika tidak ada di kamar?

Dejun melangkah masuk.

Ia kemudian melirik pintu menuju balkon yang tertutup. Kakinya segera melangkah karena kemungkinan besar pria itu ada di sana. Ia membuka pintunya kemudian tersenyum ketika menemukan sosok model yang sedang melamun itu. Hendery tampak memandang ke arah kejauhan dan tampak tidak sadar akan keberadaan si Xiao.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Dejun sekarang sudah terbiasa berbahasa cantonese dengan Hendery.

Hendery sedikit terkejut ketika mendengar suara Dejun. Ia langsung menoleh ke belakang dan tersenyum ketika mata mereka berdua bertemu. Si Xiao hanya mengernyit kemudian melangkah mendekat ke sana dan berdiri di sampingnya. Tangannya ia tumpu ke pembatas balkon. Matanya kemudian melirik ke arah langit.

Ada bulan purnama yang indah memang, tetapi itu tertutup oleh awan gelap.

"Tidak ada yang menarik, kau lihat apa?"

"Tunggu saja."

"Apa maksudmu den- wah!"

Perkataan Dejun terpotong dan ia langsung menoleh ke arah langit ketika mendengar suara ledakan. Sedikit kaget tetapi juga kagum karena ia melihat berbagai cahaya berwarna yang indah menghiasi langit malam itu. Percikan kembang api yang indah! Kurvanya melengkung ke atas. Matanya dipenuhi binar.

"Indah 'kan?"

Dejun tidak menoleh atau menjawab pertanyaan dari Hendery itu. Seluruh atensinya sudah tertuju ke langit yang begitu indah. Kembang api itu tidak ada hentinya, dari berbagai arah dan dengan berbagai warna. Suaranya nyaring tetapi begitu meriah. Pria di sampingnya tidak ia pedulikan lagi. Ia bahkan melupakan tujuan awalnya ke sini.

"Xiaojun."

Dejun akhirnya menoleh, "Apa?"

"Dari hatimu, apakah kau menerima perjodohannya?"

Ia terdiam sebentar. Matanya terpaut ke netra gelap milik Hendery. Ia menenangkan otak untuk berpikir sejenak jawaban yang tepat. Sebab pertanyaan itu adalah hal yang sangat sensitif bagi dirinya maupun si model. Kemudian, dengan agak ragu, ia menjawab singkat, "Tidak."

"Kenapa?"

Dejun melihat ekspresi kekecewaan di wajah Hendery dengan jelas dan ia mulai bimbang. Kenapa pria itu membuat raut wajah seperti itu? Si Xiao mulai berasumsi jika pria itu juga mengharapkan perjodohan ini dan dengan penolakan dari dirinya membuat semangat si Wong itu padam. Hanya asumsi. Tapi, ia bertanya-tanya jika memang asumsinya benar, kenapa pula si model setuju saja?

Mereka berdua hanya teman dekat selama beberapa bulan terakhir. Memang seminggu awal pertemuan mereka, begitu banyak hal dramatis yang terjadi. Memang dalam permainan mereka, Hendery sudah menjadi pasangan dari Dejun dan papa dari Yangyang. Memang mereka sering menggoda satu sama lain. Memang ada rumor jika mereka berpacaran.

Tak mungkin kan pria Macau itu membawa semua permainan itu masuk ke hati? Hendery yang Dejun kenal adalah pria yang tidak terlalu membawa perasaannya. Pada dasarnya, mereka tidak pernah mengatakan tentang perasaan masing-masing dalam pertemanan mereka. Tapi, masa Hendery -si model terkenal- menyukai dirinya?

Maka dari itu, Dejun berhati-hati memilih jawaban, "Aku hanya ragu."

"Kenapa ragu?"

Dejun hanya tersenyum, matanya kali ini memilih menghindari tatapan Hendery. Ia mendongak dan menatap langit yang dihiasi kembang api, "Guanheng, kita itu teman baik selama beberapa bulan belakangan. Rasanya aneh jika seseorang yang baru saja kau anggap teman baik tiba-tiba menjadi kekasihmu."

"Aneh ya?"

Dejun menangguk sambil tersenyum dan menoleh kembali ke arah Hendery -karena kembang apinya berhenti sesaat. Ia bertanya, "Kau sendiri, kata hatimu, setuju atau tidak?"

"Aku tidak senang, Xiaojun, sangat tidak senang ketika ayahku menelponku dan menyuruhku kemari. Aku berpikir aku akan dijodohkan dengan orang asing. Namun, ketika aku melihat Tuan Xiao dan mengingat figura di apartemenmu. Aku sadar, aku dijodohkan dengan dirimu."

Hendery berhenti sebentar kemudian melanjutkan kata-katanya, "Aku sangat senang mengetahui fakta jika aku dijodohkan dengan dirimu, bukan orang lain."

TBC.