Aku datang kemari bukan hanya untuk belajar tentang ilmu-ilmu medis. Setidaknya, itulah hasil dari kesimpulan yang telah kupikirkan hingga saat ini. Jika hanya belajar, aku pun bisa belajar dari nenek. Namun, aku datang ke sini untuk mencari jati diriku sebagai seorang dokter dan juga sebagai seorang manusia.
Kami berempat bukanlah orang-orang yang diberkahi dengan bakat atau pun kekuatan yang besar. Kami juga bukan tipe manusia yang dapat menciptakan sebuah keajaiban. Rintangan yang harus kami lalui di masa depan pun terlampau sulit untuk dihadapi.
Namun, layaknya sekelompok hyena. Kami akan membentuk sebuah kelompok yang akan saling melindungi punggung satu sama lain. Kami akan membentuk kelompok agar dapat terus bertahan hidup hingga akhir. Dan dengan kelompok ini pula, pada akhirnya kami akan memangsa predator lain yang jauh lebih superior daripada kami.
Dadu sudah dilempar, angka sudah didapat. Bidak pun sudah berjalan di atas papan. Dengan begini, tidak akan ada jalan mundur bagi semua yang telah terlibat.
Naruto by Masahi Kishimoto
Highschool DxD by Ichie Ishibumi
and other characters are not belongs to me
genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.
Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.
Chapter 13 : Bagaimanapun Juga, Dia dan Dirinya Adalah Orang Miskin Sejati.
XxxxX
"Jadi, apa yang akan kita lakukan di sini?"
Sepulang sekolah. Umumnya, aku akan meluangkan waktuku untuk pergi ke perpustakaan atau mengurung diriku di dalam kamar untuk sekedar membaca buku. Atau jika tidak, aku akan pergi berlatih sendiri bersama dengan Sasuke. Namun, saat ini yang kulakukan benar-benar berada di luar lingkaran kebiasaanku.
Hari ini adalah hari Senin, hari pertama dalam hitungan satu minggu. Bisa dibilang, hari ini juga adalah hari pertama aku dan Sasuke resmi bergabung dan menjalankan kegiatan klub Perkumpulan Masyarakat Modern. Awalnya, aku berpikir kami akan melakukan sesuatu seperti mendengar keluhan klien dan membantu mereka untuk mengatasi keluhan tersebut agar dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka.
Tidak, aku ralat kembali hal itu. Sona tidak setuju dengan gagasan mengatasi masalah orang lain. Dia lebih berpikir bahwa kegiatan kami adalah membantu dan mendorong agar mereka dapat mengatasi masalahnya sendiri. Dia berkata bahwa ini seperti mengajari orang untuk menggunakan alat pancing, dan kemudian membiarkan mereka memancing ikan dengan kemampuannya sendiri.
Yah, tentu saja itu hanya tujuan sampingan kami. Karena bagaimanapun, rencana awal kami adalah membuat sebuah revolusi.
"Diam dan jangan mengeluh, Naruto-kun. Sebagai klub baru, kita masihlah harus melakukan promosi," balas Sona atas keluhanku.
Di waktu pulang sekolah ini, kami bertiga—aku, Sasuke, dan Sona—pergi ke gerbang utama akademi Shouka Sonjoku. Kami berada di sini untuk membagikan selebaran yang berisi tentang jasa yang kami tawarkan di dalam klub.
Tsubaki yang menjadi orang yang selalu mengekori Sona, tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Dia bilang, dia ingin mencari guru yang akan menjadi pembimbing untuk klub kami. Seharusnya, guru itu sudah datang sejak sebelum kami pergi menyebarkan selebaran ini. Namun, guru sialan itu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya sampai sekarang.
Rasa tidak bertanggung jawabnya itu mengingatkanku dengan Kakashi-sensei, wali kelasku dan Sasuke. Namun, aku pikir Kakashi-sensei masih sedikit lebih baik karena rela tidur di dalam kelas agar tidak terlambat memberikan bimbingan wali kelas di pagi hari. Tidak, aku tahu yang dilakukan Kakashi-sensei itu benar-benar tidak memiliki nilai positif. Akan tetapi, setidaknya itu lebih baik daripada terlambat dari waktu yang sudah dijanjikan.
Itu membuatku berpikir, siapa orang yang bahkan lebih buruk dari Kakashi-sensei itu?
Kami memiliki waktu satu jam untuk membagikan selebaran ini. Setelah selesai, kami akan pergi ke ruang klub untuk bertemu dengan Tsubaki yang aku harap semoga sudah menemukan guru tidak bertanggung jawab itu.
Gerbang utama akademi Shouka Sonjoku adalah tempat utama di mana semua murid akan berlalu lalang di sini. Bahkan, bagi murid yang menetap di asrama, pasti banyak dari mereka yang juga pergi ke luar akademi untuk membeli beberapa kebutuhan. Karena itulah, gerbang utama adalah spot yang sangat strategis untuk melakukan sebuah promosi atau semacamnya.
Untuk seukuran gerbang, gerbang ini memiliki ukuran yang sangatlah lebar. Jika aku perkirakan, bahkan gerbang ini dapat dilalui oleh delapan kereta kuda sekaligus karena begitu lebarnya tempat ini. Bukan hanya ukurannya, di gerbang tersebut juga terdapat banyak ornamen-ornamen mewah yang sangat menyilaukan mata-mata orang miskin sepertiku ini.
Aku bahkan yakin, jika aku mencuri salah satu ornamen itu dan menjualnya, aku pasti dapat meraup uang yang begitu banyak.
"Ini membosankan, tidak bisakah kita menempelkan kertas-kertas ini di berbagai tempat di akademi?" protes Sasuke.
"Kalau begitu, bersiaplah untuk berurusan dengan bagian kedisiplinan, Sasuke-kun."
"Jika seperti itu, kita tinggal kabur saja, 'kan?" ucap Sasuke sambil melihat ke arahku.
Tunggu, apa-apaan dengan tatapanmu itu, Sasuke-teme? Kenapa kau melihatku seperti aku ini adalah orang yang paling ahli untuk kabur dari berbagai hal? Tidak, tolong jangan salah paham dari hal itu. Aku ini bukan orang yang ahli dalam melarikan diri atau semacamnya, aku hanya orang yang dikaruniai bakat istimewa untuk melihat hal-hal buruk lebih baik dari siapa pun, itu saja!
Sona terlihat menghela napas sejenak mendengar balasan dari Sasuke. "Aku tahu, itu pasti jalan keluar terbaik yang bisa kamu pikirkan dari otak kecilmu. Aku hargai itu, Sasuke-kun."
"Kau memang benar-benar tidak masuk akal seperti biasa, Sasuke. Namun, aku sangat setuju denganmu!" ucapku sambil menepuk pundak kanannya.
"Aku tahu itu, Naruto. Kita bisa melakukannya jika bekerja sama."
Seperti yang Sasuke katakan, membagi-bagikan selebaran seperti ini benar-benar sangat membosankan. Aku bahkan sedari tadi juga sudah berpikir untuk menempelkan kertas-kertas ini di berbagai tempat begitu saja. Karena aku telah banyak melihat akibat-akibat buruk dari pemikiran tidak bertanggung jawabku itu, aku pun sudah menyiapkan 116 cara untuk kabur dari situasi tersebut.
"Kalian berdua memang pasangan yang terburuk," ucap Sona sambil memijit pelipisnya.
Ini sepenuhnya bukan salah kami jika kami berpikir seperti itu. Sebelumnya, Sona bilang tidak perlu terlalu terburu-buru untuk mempromosikan klub. Bahkan, Sona berpikir dengan hanya memanfaatkan wawancara rutin seluruh klub di Shouka Sonjoku yang dilakukan oleh klub Jurnalis Akademi, sudah cukup untuk menjadi sarana promosi.
Di hari Senin ini saja, majalah mingguan akademi yang memuat wawancara-wawancara tersebut sudah resmi diterbitkan oleh klub jurnalis. Setiap kelas dan setiap klub mendapatkan masing-masing satu cetakan. Seharusnya itu memang sudah cukup untuk menjadi tempat promosi.
Namun, Sona mengatakan pada kami bahwa dia telah memikirkan rencana untuk mengetahui beberapa orang yang mendukung kami dan tidak. Menurut Sona, itu akan menjadi modal berharga untuk mengatasi kursi keempat dan kelima yang merupakan perpanjangan tangan dari kerajaan dan gereja yang menancap kuat di akademi ini.
Karena itulah, kami perlu menyiapkan segalanya agar dapat melangkah ke rencana yang selanjutnya. Namun, berusaha bersikap normal dan bertingkah seperti klub yang biasa-biasa saja sambil memberikan pancingan ke beberapa kelompok tertentu, itu sedikit menyusahkan bagi kami.
Berbicara tentang sikap normal, itu membuatku teringat akan sesuatu.
"Sona, bisa aku bertanya satu hal padamu?"
"Tentu," balasnya singkat sambil tangannya terus membagi-bagikan selebaran ke siapa pun murid yang lewat.
"Selama ini, kau selalu berusaha untuk bersikap menjadi orang yang normal, 'kan?"
"Begitulah."
"Namun, jika aku melihat dari rekam jejakmu sejak junior high, bukankah itu jauh dari kata normal?" tanyaku padanya. "Maksudku, daripada mengincar nilai rata-rata di seluruh subjek pelajaran, kau justru terlihat sangat menonjol di bidang teori dan sangat payah di dalam praktik."
Jika kau melihat arti kata normal dalam kamus, itu akan berarti sesuatu yang berada dalam keadaan yang biasa. Dengan kata lain, normal dalam lingkungan bermasyarakat berarti menjadi orang yang berada pada nilai rata-rata dalam setiap aspeknya. Jika sepuluh adalah nilai untuk orang jenius, maka lima adalah nilai yang cocok untuk orang normal.
Jika kau ingin menjadi orang yang benar-benar normal, maka seluruh aspek dalam hidupmu haruslah bernilai lima.
Dalam kasus Sona, dia menunjukkan bahwa kemampuan otaknya ada pada nilai sepuluh dan hal-hal yang berbau prakitk ada pada nilai satu. Itu adalah sebuah perbedaan yang sangat jauh. Dari mana pun melihatnya, nilai itu bukanlah sesuatu yang menunjukkan kata normal.
Alih-alih disebut normal, Sona justru menjadi salah satu siswi yang cukup mencolok. Bahkan, aku mendengar bahwa dia akan mendapat rekomendasi untuk menjadi cendekiawan hebat di masa depan.
"Kurasa kamu sedikit salah paham, Naruto-kun," balasnya sambil berjalan mendekat. "Aku bilang bahwa aku tidak ingin terlalu mencolok. Tidak mencolok bukan berarti aku harus hidup normal."
Tunggu, ini masih sedikit membingungkan bagiku. Jika kau tidak ingin mencolok, maka kau harus melakukan sesuatu yang berkebalikan dengan itu. Selain itu, lawan kata mencolok adalah biasa. Jadi, ini wajar bagiku jika aku berpikir bahwa dia ingin bersikap normal selama di junior high, 'kan?
Jarak antara kami berdua tidaklah terlalu jauh, mungkin hanya terpaut sekitar lima meter. Kertas-kertas selebaran dengan jumlah yang awalnya sangat banyak, kini telah menghilang dari kedua tangan Sona. Itu menandakan bahwa tugasnya telah selesai. Begitu pula dengan Sasuke, ia terlihat bernapas lega setelah akhirnya mampu menyelesaikan tugasnya dan berjalan ke arahku.
Dengan begini, hanya aku seorang saja yang masih menyisakan beberapa lembar kertas di tanganku.
Setelah sampai di dekatku, Sona berkata, "sihir adalah segalanya di dunia ini. Dengan begitu, selama aku tidak menunjukkan bakat dalam sihir, maka aku tidak akan dianggap sebagai orang yang spesial."
Benar juga. Bahkan, meskipun negara ini pernah mengalami revulolusi satu kali di masa lalu, tetap saja itu masih belum dapat mengubah fakta tentang betapa berpengaruhnya sihir di dunia ini.
"Selain itu, aku tidak ingin berakhir menjadi pelayan di istana kerajaan," lanjut Sona
"Pelayan?" guamamku dengan wajah bingung.
Tunggu, aku benar-benar tidak paham di bagian ini. Bukankah Keluarga Sitri adalah keluarga bangsawan dengan tingkat marquess? Siapa pun pasti tahu bahwa bangsawan yang mendapatkan tingkat marquess, pastilah bangsawan dengan kekuatan tempur yang tinggi dan memiliki kedudukan yang sangat penting di dalam politik kerajaan.
Menurut Sasuke, keluarga Sitri adalah salah satu keluarga yang paling menonjol di antara keluarga marquess-marquess lainnya. Bahkan, dia tidak akan terkejut jika Sitri akan diangkat menjadi duke di generasi selanjutnya.
Jadi, berdasar fakta-fakta tersebut, bagaimana bisa Sona berakhir menjadi pelayan di kerajaan?
"Menjadi gadis yang menonjol pada satu sisi, itu masih lebih baik daripada menjadi gadis yang hanya memiliki nilai rata-rata. Setidaknya, itu masih menunjukkan kalau gadis itu mempunyai bakat yang menjanjikan."
Jawaban itu bukan datang dari mulut Sona, melainkan berasal dari Sasuke yang sudah berada di sebelahku. Namun, itu masih belum menjawab pertanyaanku tentang bagaimana putri seorang marquess bisa berakhir menjadi seorang pelayan.
Untuk melengkapi jawaban Sasuke, Sona pun lanjut menjelaskan, "untuk menjadi pelayan dari ratu, selir raja, calon ratu, dan juga tuan putri, bukan berasal dari kalangan orang-orang biasa. Para gadis, mulai dari keluarga viscount hingga marquess, akan diangkat menjadi dayang dari orang-orang tersebut. Bahkan, ada juga beberapa putri duke yang dikirim untuk bekerja sebagai dayang di istana."
"Itu juga ditujukan untuk menjaga hubungan antara istana dengan bangsawan lain, sekaligus mempertegas peta politik yang berada di lingkaran kerajaan," imbuh Sasuke.
"Jadi, maksud kalian berdua adalah gadis yang dikirim menjadi dayang, juga bertujuan untuk menjamin koneksi antara istana dan bangsawan lain?"
"Tepat sekali," balas Sona sambil mengangguk pelan.
Aku mengerti sekarang. Dengan kata lain, menjadi dayang itu tidak ada bedanya dengan menjadi tawanan politik.
Para bangsawan adalah orang-orang yang memiliki harga diri yang sangat tinggi. Itu juga berlaku bagi putra-putri mereka. Karena itulah, banyak murid-murid bangsawan di akademi, khususnya perempuan, yang mengincar peringkat tinggi di sini. Karena tentu saja, mereka tidak mau dianggap tidak berguna bagi keluarga mereka. Dianggap tidak berguna, berarti harus siap dikirim menjadi dayang. Setidaknya, itulah satu-satunya cara yang dapat mereka lakukan agar tetap dianggap memiliki nilai oleh keluarga mereka.
Namun, jika itu berarti harga yang harus dikorbankan adalah kebebasan mereka, maka siapa pun tidak akan mau untuk menjualnya. Khususnya bagi Sona yang memiliki impian yang bahkan sangat sulit untuk diwujudkan.
Di sela-sela kekosongan komunikasi antara kami bertiga, secara tiba-tiba kami mendengar seseorang yang terdengar seperti sedang memanggil kami bertiga.
"Hei, kalian bertiga! Apa kalian yang membagikan kertas ini?"
Terpaut jarak beberapa meter dari kami, di sana terdapat seorang gadis dengan penampilan yang cukup nyentrik. Di belakang gadis tersebut, juga ada seorang siswa laki-laki yang terlihat sangat gugup.
Alih-alih memakai seragam yang umum digunakan siswi lain, gadis tersebut justru memakai seragam olahraga sekolah kami. Memang sih, celana dan jaket olahraga yang berwarna merah darah itu terlihat cocok dengannya. Hanya saja, bukankah itu sedikit aneh untuk memakai setelan olahraga saat selesai sekolah?
Dengan gaya rambutnya yang dicepol dua dan warna rambutnya yang nampak seperti berwarna merah vermillion, itu membuatnya terlihat semakin padu dengan setelannya.
Selain dari cara berpakaiannya yang unik, masih ada beberapa hal yang membuatku tertarik dari gadis tersebut. Warna kulitnya yang sangat putih, seputih susu, membuatku berpikir apakah gadis itu mengalami kelainan pada pigmen kulitnya. Selain itu, dia yang tetap menggunakan payung merahnya meskipun matahari telah menunjukkan warna oranye juga turut memberikan tanda tanya di dalam kepalaku.
Berkebalikan dengan gadis yang terkesan sedikit liar, laki-laki yang berdiri di belakangnya justru menampilkan aura seorang siswa teladan. Rambut dengan potongan rapi, kacamata bulat, juga seragam yang nampak selalu bersih memberi kesan yang normal terhadapnya.
"Kagura-chan, sopanlah sedikit! Mereka itu senpai kita!"
Bentak si kacamata pelan sambil mendorong kepala si gadis agar sedikit menunduk ke arah kami.
Jika kulihat dari tinggi badan mereka yang kira-kira lebih pendek 20 cm dariku, itu membuatku berpikir bahwa mereka adalah murid dari tingkat junior high. Selain itu, seragam si kacamata itu juga membuatku semakin yakin dengan pendapatku.
Pasalnya, perbedaan yang paling mencolok antara seragam senior high dan junior high terletak pada bagian atasnya. Jika senior high menggunakan blazer akademi, maka junior high hanya diberikan rompi saja. Dan si kacamata itu sekarang sedang menggunakan rompi tersebut.
"Singkirkan tanganmu, patsuan! Memangnya, apa yang salah dengan pertanyaanku?" protes gadis yang bernama Kagura itu.
"Siapa yang kau panggil patsuan, gadis bar-bar? Juga, nada bicaramu itu tidak sopan, kau tahu?" ucap si patsuan. "Maafkan gadis ini, senpai. Dia memang sedikit unik."
"Namaku adalah Shinpachi Shimura, dan gadis ini adalah Kagura. Kami masih tahun pertama di junior high. Salam kenal!" lanjut si kacamata yang ternyata bernama Shinpachi-kun.
Awalnya, aku benar-benar berpikir bahwa si kacamata ini adalah korban perundungan atau semacamnya yang dilakukan oleh gadis itu. Namun, dari yang aku lihat, aku rasa ini lebih seperti si kacamata yang bernama Shinpachi-kun itu sedang menjaga hewan liar yang akan selalu mendapat masalah kapan pun ia berada atau semacamnya.
"Namaku adalah Sona Sitri, mereka berdua adalah Naruto Namikaze dan Sasuke Uchiha. Kami berasal dari klub Perkumpulan Masyarakat Modern, salam kenal."
Bahkan meskipun sedang berhadapan dengan junior yang mengesalkan, Sona masih tetap menguasai emosinya dan memperkenalkan kami dengan begitu baik. Sejak awal aku bertemu dengannya, aku tidak pernah meragukan kualitas dari gadis itu. Bahkan, aku berani bertaruh bahwa level penguasaan dirinya berada di tingkat yang jauh berbeda dari remaja-remaja lain di generasi kami.
"Kagura-chan, benar?" lanjut Sona. "Jadi, apa kamu memiliki sebuah urusan dengan kami?"
"Aku ingin bergabung dengan kalian!"
Ucapannya yang spontan itu tentu saja mengagetkan kami semua. Bahkan, aku sempat melihat sekilas bahwa kedua bahu Sona sedikit tersentak saat mendengar jawabannya. Tidak ada satu pun dari kami yang berpikir bahwa dia akan mengatakan sesuatu seperti itu.
Meskipun kami sedari tadi menyebar selebaran yang berfungsi untuk promosi kegiatan klub, tetapi itu hanyalah selebaran yang berisi tentang jasa yang kami tawarkan. Bukan sesuatu seperti selebaran yang berisi tentang pencarian anggota baru atau semacamnya.
Apalagi, di lihat dari berbagai macam sudut logika mana pun, ini sama sekali tidak masuk akal bagiku. Umumnya, seseorang akan menawarkan diri untuk bergabung ketika organisasi tersebut sudah memiliki nama dan rekam jejak yang menjanjikan.
Maksudku, ini sesuatu yang sama seperti ketika kau sedang berusaha mencari pekerjaan. Yang pertama kali kau lakukan pastilah mencari profil perusahaan yang akan kau tuju, dan membuat perhitungan jangka panjang tentang kecocokanmu dengan pekerjaan yang ingin kau lamar.
Dengan kata lain, tidak ada satu pun alasan yang cocok yang dapat membuat gadis di depan kami ini mempunyai keinginan untuk bergabung dengan klub yang bahkan belum genap berdiri satu minggu.
"Hei-hei-hei, apa kau paham dengan yang kau katakan? Apa kau tahu klub macam apa kami ini?" tanya Sasuke dengan wajah datarnya.
"Hiiiii … maafkan kami, maafkan kami, Uchiha-senpai!" respon Shinpachi-kun sambil membungkuk berkali-kali.
"Di sini ditulis klub Perkumpulan Masyarakat Modern, 'kan?" tanya Kagura sambil menunjukkan selebaran. "Jadi, aku rasa kalian tidak memiliki kegiatan apa-apa. Karena itulah, aku ingin bergabung dengan kalian!"
Jadi, maksudmu itu kau ingin bergabung dengan kami karena kami terlihat seperti perkumpulan para pengangguran, begitu? Ini benar-benar tidak masuk akal, semua kemungkinan yang ada di kepalaku, hilang sudah.
Dalam detik ini, kami bertiga, anggota klub Perkumpulan Masyarakat Modern, dibuat terdiam begitu saja oleh seorang bocah.
"Kagura-chan, sudah kubilang untuk menjaga sikapmu, 'kan? Mereka ini senpai kita, lho!" ucap Si Kacamata-kun yang lagi-lagi meminta maaf atas sikap tidak sopan kawannya itu.
"A- apa hanya itu saja alasanmu?" tanyaku.
"Tentu saja. Wali kelas kami bilang, jika kami mengikuti kegiatan klub, maka kami akan mendapat tambahan kredit nilai dalam rapor kami," balasnya. "Karena itulah, aku ingin bergabung dengan kalian. Klub kalian hebat, aku yakin aku bisa mendapat kredit tanpa melakukan apa pun!"
Tu- tunggu, kenapa kau bisa-bisanya berpikir seperti itu? Selain itu, lebih baik kau jaga ucapanmu mulai sekarang. Jika tidak, aku tidak tahu seberapa lama Sona akan dapat menahan hasratnya untuk tidak mencacimu, kouhai-chan! Asal kau tahu, aku bahkan sekilas dapat melihat sedikit gerakan di rahangnya!
Namun, itu bukan berarti aku tidak dapat memahami pemikiran Kagura-chan atau semacamnya. Aku adalah orang yang hidup dan tumbuh besar di dalam lingkaran kemiskinan. Jadi, aku sangat mengerti dengan jalan pikiran Kagura-chan tersebut. Maksudku, bukankah itu terdengar seperti dia ingin mendapat banyak uang tanpa bekerja?
Hei, meskipun aku adalah orang yang memiliki hati yang lembut, tetapi aku tetap saja orang miskin yang tertarik dengan sesuatu seperti uang!
"Sekali lagi, Kagura-chan. Bisakah kau sedikit menjaga mulutmu? Kau tidak ingin para senpai ini mengusirmu seperti yang terjadi di klub memasak, 'kan?" ucap Shinpachi-kun yang mulai terlihat lelah.
"Hei, itu bukan salahku, kau tahu? Yang aku lakukan hanya membantu mereka, dasar sialan!"
"Kau tidak membantu sama sekali. Yang kau lakukan hanya memakan semua makanan mereka, kau tahu? Bahkan, kau juga memakan semua persediaan nasi milik mereka, gadis rakus!" Teriak Shinpachi-kun.
"Huh? Bukankah itu memang kegiatan klub memasak?"
"Pergilah ke klub memakan jika kau hanya inign makan!"
"Apa? Jadi, apa ada klub semacam itu? Aku ingin ke sana, aku ingin bergabung ke klub memakan!" ucap Kagura yang sumringah.
"Tentu saja tidak! Mana ada klub seperti itu di dunia ini?" teriak Shinpachi-kun.
Tunggu, situasi macam apa ini sebenarnya? Kenapa mereka berdua justru bertengkar di depan kami? Bahkan, apa ini layak disebut pertengkaran?
Dari apa yang aku lihat dengan mata kepalaku, ini justru terlihat seperti si Kacamata-kun yang sedang merutuki nasib sialnya karena telah membawa beban hidup berupa gadis yang bernama Kagura itu.
"Cih, berhentilah berteriak, Patsuan. Kau benar-benar menyebalkan," decih Kagura. "Lagi pula, mereka bilang ini adalah sekolah yang berisi anak-anak orang kaya. Jadi, kenapa mereka begitu mempermasalahkan tujuh panci nasi yang sudah aku makan?"
Tu- tujuh panci nasi, katanya? Tunggu, gadis sekecil dia memakan tujuh panci nasi? Hei, itu bisa bertahan sampai beberapa minggu untukku, tahu tidak?
Selain itu, mengutip dari beberapa kata yang ia ucapkan, itu sedikit menggangguku untuk sejenak.
"Hanya berisi anak-anak kaya, katamu?" ucapku pelan. "Asal kau tahu, aku ini adalah anak miskin. Tidak, aku ini adalah anak super miskin!"
Ya, aku adalah anak super miskin. Aku hidup jauh di gunung di dekat perbatasan kerajaan Codafata ini. Aku hanya memiliki beberapa lembar pakaian yang bisa aku pakai sehari-hari. Bahkan, aku hanya memiliki enam celana dalam!
Benar, aku adalah anak super miskin yang sangat keren karena dapat masuk ke akademi ini. Y- yah, aku tahu kalau aku masuk ke sini karena rekomendasi dari kakek dan nenekku. Namun, itu tidak mengubah fakta kalau aku ini adalah orang miskin sejati!
"Naruto-kun, dari sekian banyak hal yang bisa kau komentari, kau justru memilih untuk mengomentari itu?" ucap Sona dengan memandang jijik ke arahku.
"Jangan pedulikan itu, Naruto. Kata-katamu tadi sangat keren," puji Sasuke sambil mengarahkan sebuah kepalan tinju ke arahku.
"Aku tahu itu. Aku tahu kalau kau memang satu-satunya yang bisa memahamiku," balasku dengan menyambut kepalan tinju yang ia tujukan kepadaku.
Dengan menghela napas panjang, Sona menjawab, "Aku sudah berkali-kali memikirkan ini. Namun, seperti yang aku duga, kalian berdua benar-benar eksistensi yang tidak bisa dinalar oleh orang normal."
"Apa kau baru saja menyebut bahwa dirimu itu orang normal, Sona? Kau akan merendahkan martabat orang normal jika kau berpikir bahwa dirimu itu normal," komentar Sasuke.
Ya, aku setuju dengan itu. Tidak ada orang normal di dunia yang ini yang sudah membuat rencana secara terstruktur dan sistematis sejak remaja untuk mengudeta sebuah pemerintahan raja. Dengan kata lain, tidak ada kata normal di antara kami bertiga.
Mengabaikan ucapan Sasuke, Sona terus memandangi Kagura-chan dan Shinpachi-kun secara intens. Tatapan matanya yang dingin seakan dapat menusuk ke dalam tulang-tulangmu bagaikan sebuah jarum-jarum kecil yang bahkan dapat merusak sel-selmu.
Jika itu aku yang diberikan tatapan mata tersebut, mungkin aku sudah merasakan mual-mual di perutku. Itu juga reaksi yang tercetak jelas di wajah Shinpachi-kun. Berbeda dengan Kacamata-kun, Kagura-chan justru menunjukkan mimik wajah seolah tidak terjadi apa-apa padanya.
"Kagura-chan dan Shinpachi-kun," ucap Sona tanpa mengalihkan pandangannya. "Baiklah, aku menerima kalian sebagai anggota."
"EEEHHH?"
Baik aku, Sasuke, maupun Shinpachi-kun, kami semua dibuat tidak percaya dengan keputusan Sona.
XxxxX
Jika dilihat dari beberapa sisi, aku dapat mengerti dengan alasan Sona mengizinkan Kagura-chan dan Shinpachi-kun bergabung dengan klub. Meskipun klub kami telah menjadi klub resmi, tetapi itu hanya bersifat sementara. Setidaknya, Sona dan Tsubaki telah memenuhi berbagai syarat yang diperlukan untuk membuat klub Perkumpulan Masyarakat Modern menjadi sebuah klub resmi.
Namun, masih ada sebuah syarat yang masih belum dipenuhi sehingga klub ini hanya memiliki label resmi secara sementara. Persyaratan itu adalah keberadaan anggota yang berasal dari jenjang junior high. Jadi, aku paham jika Sona memberikan izin kepada mereka berdua untuk bergabung.
Hanya saja, ada beberapa hal yang menggangguku. Klub ini dan kegiatan yang kami lakukan, itu tidak lebih dari sebuah kamuflase yang kami gunakan untuk menjalankan rencana besar kami. Karena itulah, setidaknya kami harus melakukan seleksi ketat terhadap orang-orang yang akan berurusan dengan kami.
Aku tahu, Kagura-chan bukanlah orang yang mencurigakan yang dapat bertindak dengan berbagai rencana yang rumit. Tidak, aku yakin gadis itu bukan tipe orang yang seperti itu. Hanya saja, itu tidak menutup kemungkinan bahwa Kagura-chan akan dimanfaatkan beberapa pihak demi kepentingan mereka atau pun untuk menjegal kami suatu saat nanti.
Yah, aku yakin Sona membiarkan anak-anak ini bergabung dengan kami bukan tanpa pertimbangan sama sekali. Satu yang sangat aku yakini, gadis berkacamata itu pasti memiliki alasan yang kuat dibaliknya. Karena itulah, yang perlu aku lakukan sekarang adalah berusaha percaya kepadanya, dan membiarkan dia mengeluarkan isi pikirannya saat waktunya sudah tepat.
Kuhembuskan napasku lelah. Aku tidak peduli lagi sudah keberapa kali aku menghembuskan napasku secara kasar seperti ini. Hari ini terasa sedikit berat bagiku. Misteri tentang hari Senin yang memberikan energi negatif, menjadi topik utama di kepalaku saat ini. Mungkin, suatu saat nanti aku akan mengangkat tema ini menjadi bahan penelitianku.
Namun, untuk sekarang mari kita berfokus pada dua orang yang mungkin saja sudah menunggu kami semua di dalam ruang klub.
Saat ini, kami berlima sudah sampai di lantai empat gedung khusus akademi Shouka Sonjoku. Gedung enam lantai yang secara khusus digunakan untuk markas klub-klub di akademi ini dan juga sekaligus digunakan untuk beberapa kegiatan pembelajaran.
Sebagai ketua klub, Sona memimpin jalan kami di depan, dan diikuti olehku dan Sasuke yang berada di sebelah kanan dan kirinya. Dua anggota baru kami, Kagura-chan dan Shinpachi-kun, dengan setia mengikuti kami dari belakang.
Payung merah yang sedari tadi Kagura-chan gunakan, kini telah ia lipat dan ia tenteng menggunakan tangan kanannya. Awalnya, aku mengira bahwa ia menggunakan payung meskipun hari sudah sore, itu ia tujukan untuk menambah kesan imut padanya. Namun, mengetahui bahwa ternyata ia melipat payungnya ketika memasuki ruangan, aku mulai benar-benar penasaran terhadap alasannya menggunakan payung selama ini.
Tepat setelah kami sampai di depan ruangan kami, Sona pun mulai mendorong pintunya secara perlahan. Suara decitan dari engsel yang bergerak, terdengar samar di telinga kami. Suara decitan yang khas itu pula, yang menjadi tanda bahwa di dalam ruangan ini sudah dimasuki oleh orang sebelumnya. Karena kami yakin, kami sudah mengunci pintunya dengan benar.
Secara resmi, hanya ada satu buah kunci yang disediakan oleh sekolah untuk ruangan klub kami. Namun, Sona sudah mendapat izin dari mereka untuk menggandakan kunci tersebut. Jadi, saat ini terdapat tiga buah kunci yang dapat digunakan untuk klub kami. Satu ada pada Sona, satu berada di Tsubaki, dan satu lagi dipegang olehku dan Sasuke.
Mungkin, untuk ke depannya aku akan menyerahkan kunci ini kepada guru pembimbing kami. Bagaimanapun, diserahi kunci itu sedikit memberi beban bagiku. Dan aku adalah tipe orang yang akan sebanyak mungkin mengurangi beban yang aku bawa.
Berbicara tentang guru pembimbing, aku masih penasaran dengan sosoknya. Bahkan, aku juga tidak dapat berpikir lurus tentang ini. Setelah Kakashi-sensei yang dengan seenaknya menggunakan ruang kelas sebagai tempat tinggalnya sehari-hari, bagaimana bisa akademi yang prestisius ini memperkerjakan guru yang tidak bertanggung jawab lain, yang bahkan bisa terlambat di hari pertama pertemuannya?
Aku serius aku akan melayangkan surat protes setelah ini.
Diiringi dengan rasa penasaran dan rasa jengkelku yang sangat besar, aku pun tidak sabar menanti Sona membuka pintu itu dengan sepenuhnya. Gerakan tangannya yang lembut dalam mendorong pintu, terasa sangat lamban di mataku. Secara tidak sadar, aku pun menahan napasku sebagai upaya agar perasaanku tidak meledak begitu saja.
Pintu itu sudah terbuka sepenuhnya, menampilkan berbagai macam isi-isian yang berada di dalamnya. Tidak ada yang berubah dari tatanan ruangan yang memang telah ditata secara sederhana. Karena bagaimanapun, kami hanya meninggalkan ruangan ini selama kurang lebih sekitar satu jam.
Namun, jika ada perubahan yang terjadi di dalam ruangan ini, itu adalah keberadaan dari dua orang yang sangat amat kukenali. Orang pertama adalah Tsubaki yang sedang duduk di kursinya yang biasa. Sedangkan orang kedua adalah orang paling aneh yang pernah kutemui selama ini.
Rambut peraknya yang melawan gravitasi, masker hitam yang tidak pernah luput dari wajahnya, juga celana dan jaket olahraga berwarna hitam yang entah sudah berapa hari sudah ia pakai adalah sebuah pemandangan yang sangat tidak asing bagiku dan Sasuke.
Ditambah lagi, kedua matanya yang terlihat seperti mata ikan yang sudah mati itu tidak mungkin membuat kami tidak mengenali sosok tersebut.
Lebih parah dari itu, orang yang memancarkan aura hidup enggan, mati pun tak mau itu justru sedang nyaman tidur-tiduran di sofa panjang yang biasanya aku dan Sasuke gunakan untuk bersantai-santai.
Menyadari kedatangan dari rombongan kami, baik Tsubaki dan orang itu pun menyapa kami dengan cara mereka sendiri.
"Sona-sama dan yang lain, selamat datang kembali."
"Oh. Yo, Haruto-kun, Sasuke-kun, dan Sona Sitri-kun."
"Sudah kukatakan berkali-kali, namaku Naruto, sensei," balasku pasrah.
"Kenapa anda di sini, Kakashi-sensei?" tanya Sasuke dengan ekspresi yang sama terkejutnya sepertiku.
"Kenapa? Tentu saja karena aku guru pembimbing klub ini," balasnya santai. "Apa Sitri-kun dan Shinra-kun tidak memberi tahu kalian?"
"Jadi, orang yang tidak bertanggung jawab itu ternyata anda, ya?"
"Bagaimana bisa ini terjadi?"
Baik aku dan Sasuke, kami berdua tidak bisa menahan untuk tidak memasang ekspresi frustasi di wajah kami.
Kedua pasang mata milikku dan Sasuke memandangi Sona dan Tsubaki secara bergantian. Meskipun Kakashi-sensei adalah wali kelasku dan Sasuke, tetapi aku yakin baik Sona maupun Tsubaki mengenal beliau. Bagaimanapun, Kakashi-sensei adalah guru literatur, dan literatur adalah bagian penting dalam penulisan dan pengucapan mantra.
Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mengenal guru nyentrik tersebut.
"Maafkan aku, aku sendiri masih enggan menerima kenyataan kalau beliaulah guru pembimbing kita," ucap Sitri sambil membuang muka dan memasang wajah masamnya.
"Kakashi-sensei adalah orang pertama yang mengajukan dirinya sebagai guru pembimbing untuk klub baru seperti kita. Jadi, kami tidak punya kuasa untuk menolaknya," timpal Tsubaki.
Aku mengerti, aku benar-benar mengerti dengan perasaan itu. Terkadang, rasa empati dan simpati dari manusia memang sedikit merepotkan. Apalagi jika empati tersebut ditujukan oleh orang yang bahkan tidak patut diberi rasa empati sama sekali, seperti Kakashi-sensei.
"Kejam sekali, kalian semua. Aku hanya ingin mendapat nilai lebih pada lembar portofolioku sehingga aku bisa segera diangkat menjadi pengajar tetap di sini," balas Kakashi-sensei dengan entengnya.
"Tidak bisakah anda sedikit menyembunyikan niat anda yang sebenarnya itu, sensei?" tanyaku.
"Natsuo-kun, nilai dari seorang pria itu ada pada kejujuran dalam kalimatnya. Kau harus memiliki determinasi dalam setiap ucapanmu agar orang-orang mau memeperhatikanmu."
Seandainya kau mengaplikasikan ucapanmu itu dengan benar, mungkin nilaimu di mata kami benar-benar berbeda, sensei. Hanya saja, aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa orang seperti dia menjadi guru di sekolah ini?
"Pria ini sungguh kelihatan tidak berguna. Apa dia benar-benar seorang guru?"
Suara cempreng milik Kagura-chan yang sangat tepat sasaran, membuat tenggorokan kami tersedak untuk sesaat. Bahkan di antara kami berempat, tidak ada satu pun yang berani mengatakan sesuatu seperti itu secara langsung ke arah Kakashi-sensei. Seberapa tidak begunanya Kakashi-sensei, bagaimanapun dia tetaplah seorang guru.
Shinpachi-kun yang sedari tadi selalu memarahi setiap kali Kagura-chan membuat kesalahan, menjadi terdiam dengan mulutnya yang menganga. Dalam detik ini, aku benar-benar mengerti seberapa besar penderitaannya.
"Ahahaha … selera humormu sangat bagus, ojou-chan. Omong-omong, aku tidak tahu kalau kalian sudah memiliki dua anggota dari junior high," balas Kakashi-sensei enteng.
Karena merasa sedang melewatkan sesi perkenalan anggota yang cukup penting, Sona pun menundukkan kepalanya penuh penyesalan kepada Kakashi-sensei. Aku tahu sensei tidak memiliki maksud untuk menyindir Sona. Hanya saja, reaksi Sona benar-benar selalu terlihat serius dalam berbagai hal.
"Maafkan saya, Kakashi-sensei. Dua orang yang di sebelah saya, Naruto Namikaze-kun dan Sasuke Uchiha-kun, anda pasti sudah mengetahui mereka berdua. Sedangkan dua orang lain, adalah Kagura-chan dan Shinpachi Shimura-kun, mereka adalah dua anggota terbaru kami dari junior high."
Menanggapi perkenalan dari Sona, Kakashi-sensei pun berdiri dari tempat duduknya. Ia berdiri dengan postur tubuh yang sangat tegap. Kombinasi antara tinggi badan dan proporsi badannya yang ideal, membuat tubuhnya menjadi berpadu dalam sebuah harmoni.
"Kalau begitu, namaku adalah Kakashi Hatake. Aku dulu bekerja sebagai penjaga perpustakaan di perpustakaan kota Edo sebelum akhirnya menjadi guru di sini. Bisa dibilang aku masih baru dalam bidang ajar-mengajar. Jadi, mohon kerja samanya,"
Kedua kelopak mataku dibuat membola dalam sesaat. Itu bukan tanpa alasan. Entah yang lain juga merasakannya atau tidak, tetapi aku yakin bahwa aku merasakan bahwa Kakashi-sensei terlihat sangat bersinar dari biasanya. Dalam beberapa detik, aku dapat merasakan sebuah aura yang sangat kuat yang sebelumnya belum pernah ia tunjukkan.
Fakta baru yang telah masuk ke dalam otakku ini, membuatku kembali berpikir tentang orang seperti apa Kakashi-sensei yang sebenarnya.
Bersambung
Author Note : Halo, kembali lagi dengan saya.
Di chapter 13 ini, adalah babak awal untuk arc baru. Arc yang nantinya akan berfokus pada pengembangan karakter NaruSasu, juga dimulainya rencana besar Sona. Tapi, tentu saja, yang namanya memulai itu bukan berarti aku akan langsung menampilkan keselurahan rencananya haha. atau bisa dibilang, arc ini nanti akan menjadi pengiring untuk masuk ke arc yang benar-benar membawa nuansa baru di karakter NaruSasuSona.
Tidak banyak yang ingin aku bahas di sini. karakter Kagura dan Shinpachi adalah karakter yang aku ambil dari Gintama. Gintama adalah seri favoritku, makanya aku langsung kepikiran Kagura saat mencari karakter adik kelas yang mengesalkan.
lalu, patsuan adalah kata sebutan dari Kagura untuk Shinpachi. patsuan sendiri berarti bocah pesuruh. makanya, Naruto sempat berpikir kalau Shinpachi adalah korban perundungan.
Dalam salah satu dialog, Sona mengatakan ini, "Aku sudah berkali-kali memikirkan ini. Namun, seperti yang aku duga, kalian berdua benar-benar eksistensi yang tidak bisa dinalar oleh orang normal." Lalu, baik Sasuke dan Naruto menganggap bahwa Sona bukanlah termasuk orang normal. dengan kata lain, Sona adalah salah satu orang yang dapat memahami pola pikir NaruSasu.
Oke, itu saja dariku. review dan flame sangat saya terima. jadi, silahkan tulis apa pun yang kalian pikirkan tentang fict ini. hanya saja, jika ingin mengirim flame tolong log in ke dalam akun, karena saya akan dengan senang hati menjelaskan alasan-alasan yang membuat kalian semua tidak terima dengan plot yang saya ambil. oke, saya ucapkan terima kasih kepada semua orang yang sudah mengikuti cerita ini, dan sampai berjumpa di chapter selanjutnya.
