Blue Ribbon

Disclaimer: Fate Series milik Kinoko Nasu dan Takashi Takeuchi. Saya hanya meminjam karakternya saja.

Warning: Gaje, typo (maybe), agak ooc, terlalu terburu-buru, pokoknya bnyk kekurangannyalah.

Happy reading :)

Ting-tong...ting-tong...ada seseorang yang menekan bel rumah. Irisviel menyuruh putra sulung angkatnya untuk membukakan pintunya. Begitu pintu terbuka, Shirou langsung tersenyum lebar melihat Arturia berada di depannya dengan menggendong putranya yang masih bayi.

"Arturia, akhirnya kau datang juga," kata Shirou lalu mencari keberadaan Gilgamesh. "Kau tidak bersama dengan suamimu?" tanyanya.

"Bukankah berbahaya jika mengajak Gilgamesh?" tanya Arturia tersenyum.

"Kupikir dia akan selalu menemanimu di mana pun kau berada," kata Shirou lalu mempersilahkan Arturia masuk.

Arturia melangkahkan kakinya memasuki rumah bergaya klasik itu lalu kepalanya menoleh kesana kemari melihat seisi ruangannya. Banyak foto keluarga Einzbern dari generasi terdahulu sampai generasi sekarang yang terpajang di dinding rumah ini. Arturia tak menyangka bahwa keluarga Einzbern telah eksis sejak dahulu sebelum dihancurkan oleh mertuanya ini .

"Mohon maaf kalau rumah kami berantakan hehehe," ucap Shirou sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Tidak apa-apa," jawab Arturia lalu duduk di sofa.

"Putramu sangat menggemaskan sekali. Persis sekali dengan suamimu," kata Shirou menatap Urlugal. "Omong-omong, kemana suamimu?" tanya Shirou.

"Dia sedang ada pertemuan dengan koleganya bersama Enkidu," jawab Arturia.

"Apakah dia tahu kalau kau kesini?" tanya Shirou.

"Tentu saja tidak karena aku tidak bilang kepadanya," jawab Arturia. "Kuharap dia tidak mengirim bawahannya untuk mengikutiku," kata Arturia lagi.

"Kuharap seperti itu," kata Shirou.

"Akhirnya kau datang juga, Arturia," tiba-tiba Irisviel muncul di hadapan Shirou dan Arturia.

Arturia menyerahkan bayinya kepada Shirou lalu berpelukan dengan Irisviel. Mereka pun juga saling cium pipi kanan dan kiri.

"Kau lebih cantik dengan tubuh yang berisi seperti ini, Arturia," puji Irisviel dengan tersenyum lebar.

"Kau adalah orang kesekian yang bilang seperti itu, Iri," kata Arturia.

"Berarti banyak yang mengakuinya, Arturia. Jangan dikuruskan lagi. Sudah bagus seperti ini," kata Irisviel lalu menatap bayi yang ada di gendongan Arturia.

"Lucunya," kata Irisviel sembari jemarinya memegang pipi Urlugal.

Seketika Irisviel terkejut melihat tangan mungil Urlugal menangkap jemarinya. Apalagi Urlugal tersenyum kepada Irisviel.

"Arturia, kurasa putramu akan menjadi pria yang lembut dan romantis," kata Irisviel.

Arturia hanya tersenyum saja menatap putranya ini. Memang benar yang dikatakan oleh Irisviel bahwa Urlugal memiliki potensi untuk menjadi pria romantis dan mudah menarik banyak wanita. Persis dengan ayahnya yang mudah menarik banyak wanita untuk mencintainya. Arturia mengakui kalau sebenarnya Gilgamesh adalah pria yang romantis disamping sifatnya yang menyebalkan.

"Ayo ke ruang makan, Arturia. Kami sudah menunggumu," ajak Irisviel.

"Baik," ucap Arturia.

Irisviel, Arturia dan Shirou berjalan menuju ruang makan.

"Lama sekali kau datangnya, suster Arturia," kata Illya lalu turun dari kursi meja makan untuk menyambut Arturia.

"Maafkan aku, Illya. Tadi aku sempat kesulitan mencari rumah ini," ucap Arturia.

"Kali ini aku memaafkanmu, Suster," kata Illya lalu menatap bayi yang berada di gendongan Arturia.

"Lucu sekali. Namanya siapa?" kata Illya dengan mata yang berbinar-binar menatap Urlugal lalu bertanya kepada Arturia.

"Urlugal Pendragon. Panggil saja Lugal," jawab Arturia.

"Namanya dari timur tengah," kata Illya sembari telunjuknya memegang pipi Urlugal.

"Tentu saja karena ayahnya dari timur tengah, Illya," tiba-tiba Kiritsugu angkat bicara yang membuat Arturia menatap pria itu.

Seketika Arturia teringat dengan kejadian berdarah di mana kepala Gilgamesh ditembak oleh Kiritsugu yang membuat suaminya sekarat dan koma selama berbulan-bulan. Di sisi lain, ia merasa berterima kasih kepada Kiritsugu karena menghalangi Gilgamesh untuk membunuh darah dagingnya sendiri dan membuat suaminya sadar akan perbuatannya selama ini.

Karena hal itu Arturia ingin berbicara secara empat mata dengan Kiritsugu. Arturia ingin mengucapkan terima kasih kepada Kiritsugu sekaligus menyuruhnya untuk berhenti mengincar Gilgamesh. Arturia yakin sekali kalau Kiritsugu masih bekerja di bawah perintah Matou Kariya.


Di kamar...

Arturia meletakkan Urlugal yang telah tertidur ke dalam boks bayi setelah menyusuinya. Kemudian, Arturia mematikan lampu kamar lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur.

"Hei, kenapa kau mematikan lampunya?" tanya Gilgamesh.

"Tentu saja waktunya tidur," jawab Arturia.

"Tetapi masalahnya aku meminta 'jatah' darimu," perkataan dari Gilgamesh ini sukses membuat Arturia membelalakkan matanya karena tahu maksud dari perkataan suaminya ini.

"Lain kali saja. Aku sudah mengantuk berat," kata Arturia lalu membelakangi Gilgamesh. "Dan satu hal lagi, kondisimu masih belum stabil untuk berhubungan seks. Jadi jangan memaksakan dirimu hanya demi memuaskan hasratmu."

"Ayolah. Sudah lama sekali aku tidak berhubungan seks denganmu," kata Gilgamesh lalu membalikkan tubuh Arturia hingga wanita itu berhadapan dengannya. "Soal kondisi tubuhku, aku akan pelan-pelan kok," katanya lagi berusaha meyakinkan Arturia.

"Baiklah. Tapi syaratnya harus pakai 'pengaman'. Aku masih belum ingin hamil lagi disaat anak kita masih bayi," kata Arturia.

"Aku sudah menyiapkan 'pengamannya' kok," kata Gilgamesh sembari menunjukkan kondom kepada Arturia.

"Oke," ucap Arturia lalu membuka kancing piyama satu persatu.

Gilgamesh menyeringai menatap Arturia yang melepaskan seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat. Kemudian, Gilgamesh melepaskan kaosnya dan juga celana 3/4-nya serta celana dalamnya.

"Aku masih menyusui. Jadi jangan terlalu keras meremas payudaraku," kata Arturia sembari menutupi payudaranya dengan kedua lengannya.

"Jangan khawatir," ucap Gilgamesh lalu mencium bibir Arturia dengan lembut sekaligus menindih tubuh kecil istrinya.

Arturia mendesah disaat Gilgamesh mencium lehernya sembari tangan kanannya meremas payudaranya dengan lembut. Suaminya ini pun juga mencium sekaligus menghisap puting payudaranya.

"Arturia, cium aku," pinta Gilgamesh.

Arturia menganggukkan kepalanya lalu mencium bibir Gilgamesh dengan lembut. Ia pun juga mencium lehernya sembari meremas punggung kokohnya hingga suaminya melenguh.

"Ngghhh bagus sayangku," ucap Gilgamesh menyeringai.

Gilgamesh membuka kemasan kondom lalu memakai kondom. Kemudian ia melebarkan kaki Arturia lalu memasukkan penisnya ke dalam vagina istrinya. Arturia langsung mendesah begitu Gilgamesh menggerakkan pinggulnya sembari mencium lehernya.

"Gil, pelan-pelan. Ingatlah kondisimu akhh," ucap Arturia pelan. Kedua tangannya kembali meremas punggung kokoh suaminya.

"Nghh baik, sayang," kata Gilgamesh.

Seketika Arturia terkejut dengan Gilgamesh yang secara tiba-tiba menarik tubuhnya hingga dirinya berada di pangkuan suaminya dan berhadapan dengannya. Perlahan-lahan, Arturia melingkarkan kedua tangannya di leher Gilgamesh. Kemudian Arturia memandang wajah suaminya dengan seksama.

"Apa ada yang salah denganku?" tanya Gilgamesh.

"Wajahmu masih saja licik seperti dulu," jawab Arturia. "Apa jangan-jangan kau kembali menjadi mafia?" tanya Arturia.

"Aku sudah tidak memiliki peluang lagi menjadi mafia setelah Enkidu menjual seluruh aset ilegalku kepada si Matou sialan itu," jawab Gilgamesh.

"Bagaimanapun juga dia melakukan ini demi kebaikanmu. Tolong hargai keputusannya," kata Arturia berusaha memberikan pengertian kepada Gilgamesh.

"Tetap saja aku kecewa kepadanya. Dia telah menghancurkan harga diriku. Tak seharusnya dia menjual aset ilegalku kepada musuh bebuyutanku," kata Gilgamesh.

"Ternyata kau lebih mementingkan harga dirimu daripada keselamatanmu dan persahabatanmu, Gilgamesh," kata Arturia menggelengkan kepalanya karena kecewa dengan suaminya. "Aku tidak mau tahu pokoknya kau harus baikan dengan Enkidu. Dia adalah sahabat terbaikmu," tuntut Arturia.

"Akan kuusahakan," kata Gilgamesh dengan nada malas lalu kembali menindih tubuh Arturia sekaligus menggerakkan penisnya sembari mencium bibir istrinya.

Arturia tahu kalau Gilgamesh sebenarnya masih belum rela untuk berbaikan dengan Enkidu. Tetapi setidaknya suaminya ini berniat untuk membangun kembali hubungannya dengan Enkidu seperti dulu karena pria cantik itu merupakan sahabat satu-satunya yang dia miliki. Arturia benar-benar tak rela kalau Gilgamesh sampai memutuskan hubungan persahabatannya dengan Enkidu hanya karena masalah sepele.


Gilgamesh mengajak Arturia makan siang di kafe langganannya. Tentu saja Arturia mau diajak oleh suaminya karena kebetulan sekali dia ingin makan siang di luar rumah. Kali ini mereka berdua tidak mengajak Urlugal. Hal ini dikarenakan mereka berdua ingin makan siang dengan tenang tanpa terganggu tangisan bayi. Atau lebih tepatnya ingin berpacaran dengan tenang.

Sampai di kafe, Gilgamesh dan Arturia duduk di meja makan yang dekat dengan jendela. Kemudian Gilgamesh dan Arturia memesan makanan dan minuman pilihannya.

"Baik tuan dan nona. Tunggu beberapa menit lagi. Kalau begitu saya permisi dulu" ucap pelayan ini dengan membungkukkan badannya lalu berjalan menuju dapur.

Arturia menatap Gilgamesh yang sedang melirik sesuatu. Arturia mengikuti arah lirikan suaminya lalu terkejut melihat Mordred bersama seorang lelaki tampan berkacamata dan berambut pirang-persik pendek itu. Tentu saja Arturia kenal dengan lelaki itu karena lelaki itu merupakan kekasih keponakannya.

"Pacarnya ya?," tanya Gilgamesh.

"Benar. Namanya Henry Jekyll. Dia juga teman sekelasnya Mordred," jawab Arturia.

"Kenapa keponakanmu yang tomboy itu mau berpacaran dengan lelaki baik-baik yang kutu buku sepertinya?" tanya Gilgamesh heran.

"Namanya juga jodoh. Seperti halnya kita. Banyak yang tak menyangka kalau pria brengsek yang kaya raya sepertimu telah menikahiku yang hanya seorang perawat," jawab Arturia.

"Kuterima pendapatmu," kata Gilgamesh menyeringai sembari membelai pipi Arturia.

"Omong-omong, apakah kau mengenalinya? Dia anak pengusaha besar. Mungkin orang tuanya menjadi kolegamu ataupun koleganya ayahmu dulu," tanya Arturia.

"Tidak," jawab Gilgamesh. "Apakah ada yang tak beres dengannya?" tanya Gilgamesh

"Kurasa dia lelaki yang baik. Aku pernah bertemu dengannya waktu Mordred mengajakku bertemu dengannya di gedung bioskop. Saat itu aku sedang hamil lima bulan. Tapi Morgan tidak menyetujui hubungan mereka. Padahal saudaranya dan Arthur menyetujui hubungan mereka," kata Arturia.

"Mungkin orang tua si kutu buku itu merupakan pesaing bisnis saudari sialanmu itu. Atau bisa juga tidak sekaya dirinya. Jadi tidak menguntungkannya," duga Gilgamesh.

"Bisa jadi," kata Arturia.

"Arturia, Gilgamesh."

Arturia dan Gilgamesh menoleh kepada seseorang yang memanggil namanya.

"Mordred, Jekyll. Tak kusangka kita bertemu di sini," kata Arturia menatap keponakannya ini.

"Kalian tidak membawa Urlugal?" tanya Mordred.

"Tidak. Dia sedang bersama kakek dan neneknya. Kami ingin makan siang diluar dengan tenang," jawab Arturia.

"Yah sayang sekali. Padahal Jekyll ingin sekali menggendong Urlugal," kata Mordred kecewa lalu menatap Gilgamesh. "Perkenalkaan, dia pacarku. Namanya Henry Jekyll. Panggil dia Jekyll saja," kata Mordred memperkenalkan kekasihnya kepada Gilgamesh.

Gilgamesh dan Jekyll berjabat tangan dengan senyum yang mengembang di wajah mereka.

"Habis ini kalian mau kemana?" tanya Arturia.

"Ke toko buku. Si kutu buku ini sedang mencari buku yang sedang ia butuhkan," jawab Mordred.

"Padahal aku mengharapkan kau mencari buku," celetuk Arturia.

"Sangat mustahil dia mencari buku, Arturia," sahut Gilgamesh tersenyum mengejek Mordred.

"Kau ini selalu saja benar, Gilgamesh," kata Mordred sembari menepuk bahu suami bibinya ini.

"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya. Ayo Jekyll," pamit Mordred lalu berjalan mendahului Jekyll.

Jekyll berpamitan kepada Arturia dan Gilgamesh lalu ia menyusul Mordred keluar dari kafe ini.

"Kurasa si kutu buku itu benar-benar mencintainya. Kuharap keponakanmu itu tidak mempermainkannya," kata Gilgamesh.

"Jangan khawatir. Mordred juga sangat mencintainya. Bahkan dia lebih memilih Jekyll daripada Galahad yang jauh lebih kuat daripada Jekyll," kata Arturia tersenyum.

"Baguslah kalau begitu," kata Gilgamesh juga tersenyum.


Di halaman rumah Arthur...

Arturia tersenyum menatap para keponakannya ini sedang bermain bersama Urlugal sekaligus menggodanya hingga anaknya ini tertawa girang. Tawa Urlugal semakin menjadi lantaran Gawain menggendong putranya yang seolah putranya ini terbang seperti superman. Melihat Urlugal tertawa girang membuat Arturia mengingatkannya pada tawa Gilgamesh yang sangat menyebalkan baginya.

"Gawain, pelan-pelan. Nanti Lugal pusing lo," kata Arthur.

"Ini pelan-pelan kok," kata Gawain sembari menggoyangkan Urlugal seperti terbang ala superman dengan pelan.

"Ya ampun," gumam Arthur lalu menatap saudari kembarnya. "Arturia, kurasa Lugal akan menjadi anak yang aktif dan mudah bergaul," kata Arthur.

"Aku juga berpikiran seperti itu. Apalagi cara tertawanya mirip dengan ayahnya," kata Arturia.

"Benar-benar salinannya Gilgamesh," kata Arthur. "Omong-omong, di mana Gilgamesh?" tanya Arthur sembari menoleh kesana kemari.

"Entah. Dia langsung pergi begitu saja tanpa berkata apapun," jawab Arturia.

Di balik pagar rumput, ada seseorang yang bersiap-siap melemparkan peledak ke arah Arturia dan keluarganya dan berniat mengambil bayi Arturia. Sesuai perintah bosnya yang tak lain adalah Morgan. Ketika pria ini hendak meleparkan peledak ke arab Arturia dan keluarganya, tiba-tiba ada seseorang yang menembak kepalanya hingga pria ini tewas dalam waktu sekejap.

"Cih! Benar-benar amatiran," gumam Gilgamesh lalu meniup ujung pistolnya.

"Jadi kau ingin sekarat lagi?"

Gilgamesh menyeringai dan mengangkat satu alisnya mendengar suara Morgan yang mengancamnya.

"Gilgamesh!" kata Arturia lalu berlari menghampiri suaminya sembari menggendong Urlugal dengan diikuti oleh Arthur dan keempat keponakannya.

"Arthur, bawa istri dan anakku pergi dari sini. Cepat!" perintah Gilgamesh kepada Arthur.

"Baik," jawab Arthur lalu mengajak Arturia untuk pergi dari sini.

"Tidak! Aku tidak bisa meninggalkannya!" kata Arturia menatap Arthur.

"Ini permintaan suamimu! Utamakan juga keselamatan Lugal!" paksa Arthur.

Arturia menghiraukan perkataan saudaranya lalu menatap Gilgamesh. "Gilgamesh, aku tahu kalau kau akan membunuh Morgan. Apapun yang terjadi, kumohon jangan membunuhnya! Keponakanku masih membutuhkan sosok seorang ibu!"

"Membutuhkan bagaimana? Mereka saja sudah muak dengan wanita gila ini," kata Gilgamesh.

"Aku tahu itu! Tetapi aku yakin sekali kalau hati kecil mereka tidak ingin Morgan mati!" kata Arturia.

"Arturia, jangan pikirkan kami. Kami sudah ikhlas jika itu terjadi," kata Gawain.

"Benar. Lebih baik pikirkan keselamatanmu dan juga Lugal," kata Mordred membenarkan.

"Anak-anak kurang ajar! Akan kubunuh kalian semua!" teriak Morgan lalu mengarahkan pistolnya ke arah Mordred.

"Selamatkan putriku, Arturia. Dengan begitu kau yang akan kena," batin Morgan.

"Mordred! Awas!" teriak Arturia lalu mendorong tubuh Mordred.

"Bagus!" kata Morgan lalu menarik pelatuknya hingga peluru mengenai dada Arturia.

"ARTURIA!" teriak Gilgamesh dan Arthur secara bersamaan.

Secara refleks Gawain memeluk Urlugal dengan erat agar sepupunya ini tidak dibunuh juga oleh ibunya.

"Ibu! Kau sudah keterlaluan!" bentak Gawain.

"Kau benar-benar wanita yang jahat!" bentak Gareth.

Gilgamesh langsung berlari menghampiri Arturia lalu menangkap tubuh istrinya yang akan terjatuh ke bawah.

"Arturia! Kumohon bertahanlah!" kata Gilgamesh sembari tangan kanannya memegang dada Arturia yang terluka.

"Gil...gamesh," kata Arturia pelan lalu memegang pipi suaminya hingga pria itu mengeluarkan air matanya. "Tolong...jaga...," belum selesai berbicara sudah dipotong oleh Gilgamesh.

"Tidak! Tidak! Kau tidak boleh meninggalkanku! Kau harus selalu berada di sisiku, Arturia!" bentak Gilgamesh dengan berurai air mata.

"Huuu pas sekali," kata Morgan tersenyum lebar lalu mengarahkan pistolnya ke kepala Gilgamesh.

Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang membuat tangan kanan Morgan -yang memegang pistol- bergetar cukup hebat.

"Ada apa ini? Kuharap ini bukan pertanda buruk," batin Morgan.

"Kau takut, huh?"

Morgan membelalakkan matanya sekaligus memekik kesakitan karena tangannya dipelintir oleh seseorang berambut hijau panjang dan bermata hijau hingga pistolnya terjatuh.

"Tuan Enkidu," kata Arthur terkejut dengan kedatangan Enkidu.

"Lepaskan aku wanita brengsek! Akan kubunuh kau!" bentak Morgan.

"Aku bukan wanita, jalang sialan!" kata Enkidu menyeringai lalu memukul perut, wajah serta leher Morgan hingga wanita itu tak sadarkan diri.

"Gaheris, Gareth, Mordred, tahan ibu kalian!" perintah Enkidu kepada mereka bertiga.

"Baik," ucap Gaheris, Gareth dan Mordred secara bersamaan lalu mereka bertiga memegang ibu mereka.

Tak lama kemudian, lima orang polisi memghampiri Morgan dan ketiga anaknya lalu. Sementara Enkidu berjalan menghampiri Gilgamesh yang sedang memeluk Arturia yang sedang sekarat.

"Gil, ayo kita bawa Arturia ke rumah sakit," ajak Enkidu.

Gilgamesh menganggukkan kepalanya lalu membopong istrinya. Sementara Arthur menutup luka di dada Arturia dengan menggunakan sapu tangan miliknya sembari memberi semangat kepada Arturia untuk bertahan dari rasa sakitnya.


Di rumah sakit...

Diarmuid membelalakkan matanya mendengar kabar dari Kayneth bahwa pasien yang akan dioperasi olehnya adalah Arturia. Keterkejutannya semakin menjadi lantaran Arturia menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh kakaknya sendiri. Tubuh Diarmuid terasa lemas setelah mendengar kabar yang kurang mengenakkan dari wanita yang dicintainya ini.

"Jangan lemas. Lakukan yang terbaik seperti yang kau lakukan pada pasien lain," kata Kayneth sembari menepuk pundak Diarmuid. Diarmuid menganggukkan kepalanya walaupun hatinya terasa sakit.

Tak lama kemudian, datanglah para perawat dan keluarga Arturia dengan mendorong brankar dorong yang ditempati oleh Arturia memasuki ruang operasi.

"Diarmuid! Tolong selamatkan istriku! Apapun caranya dia harus selamat!" pinta Gilgamesh dengan berurai air mata. Untuk pertama kalinya bagi Diarmuid melihat Gilgamesh menangis seperti ini.

"Jangan khawatir! Aku pasti akan menyelamatkaannya," kata Diarmuid meyakinkan Gilgamesh lalu memasuki ruang operasi.

Begitu ruang operasi tertutup, Gilgamesh langsung terduduk lemah di bawah dengan menautkan kedua telapak tangannya lalu ditempel di keningnya tanda ia berdo'a kepada Tuhan untuk keselamatan istrinya.

"Tuhan, hamba tidak masalah Kau takkan mengampuni dosa-dosaku selama ini. Tetapi hamba mohon sekali kepada-Mu untuk menyelamatkan istri hamba. Hamba sangat mencintainya. Arturia adalah cahaya kehidupanku. Hanya dialah yang dapat merubahku menjadi lebih baik lagi," batin Gilgamesh berdo'a kepada Tuhan.

Sementara di dalam ruang operasi, Diarmuid bersama dengan dokter bedah lainnya dan beberapa perawat berusaha menyelamatkan Arturia walau jantungnya berdetak cukup lemah.

"Ayo Arturia sayang! Kau harus kuat! Kau tidak boleh meninggalkanku! Urlugal masih sangat membutuhkanmu! Bahkan suamimu sampai menangis seperti itu karena tidak ingin kehilanganmu! Apalagi kau juga baru merasakan memiliki keluarga kandung! Ingatlah itu, Arturia!" batin Diarmuid.


Enkidu memberikan roti kepada Arthur. Arthur meraih roti dari tangan Enkidu lalu mengucapkan terima kasih kepada Enkidu dengan tersenyum. Setelah memberikan roti kepada Arthur, Enkidu melangkahkan kakinya menghampiri Gilgamesh yang sedari tadi terduduk di depan pintu operasi dengan membawa roti isi daging, botol air putih dan obat.

"Gil, sudah waktunya untuk makan," kata Enkidu lalu berjongkok.

"Bagaimana aku bisa makan kalau Arturia masih dalam keadaan kritis?" tanya Gilgamesh marah.

"Ayolah. Jangan menyiksa dirimu sendiri. Arturia pasti akan marah kepadamu apabila kau tak makan tepat waktu," kata Enkidu berusaha membujuk Gilgamesh untuk makan.

Tak lama kemudian, pintu ruang operasi telah terbuka. Enkidu, Gilgamesh dan Arthur menghampiri Diarmuid lalu menanyakan kabar Arturia.

"Puji Tuhan. Arturia bisa diselamatkan," jawab Diarmuid tersenyum sembari menyeka keringatnya dan juga menghapus air matanya.

Gilgamesh, Enkidu dan Arthur langsung bernafas lega sekaligus mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena telah menyelamatkan wanita yang mereka sayangi ini. Mereka bertiga pun juga berterima kasih kepada Diarmuid karena telah berusaha menyelamatkan Arturia.


Di ruang transisi...

Gilgamesh memandang Arturia yang masih tak sadarkan diri. Walaupun Arturia telah berhasil diselamatkan, tetap saja Gilgamesh merasa gelisah karena istrinya ini tak kunjung sadar.

"Wanita sialan, bangunlah. Sudah saatnya kau mengomeliku dengan mengumpatku, menyuruhku untuk makan, dan menyusui Lugal. Sedari tadi dia rewel terus karena dia ingin kau menggendongnya," kata Gilgamesh.

Gilgamesh menghelakan nafasnya dengan kesal karena Arturia masih belum sadar juga.

"Apa aku harus selingkuh di depanmu supaya kau sadar?" tanya Gilgamesh. "Tidak! Itu bukan ide yang bagus. Justru kau yang malah senang supaya kau bisa mendekati Diarmuid," kata Gilgamesh.

Perlahan-lahan, Gilgamesh menggenggam tangan Arturia lalu mencium punggung tangan istrinya.

"Arturia akan sadar apabila kau keluar dari ruangan ini."

Gilgamesh menatap Diarmuid yang mengatainya seperti itu dengan tatapan tajam. "Katakan padaku kalau kau ingin kubunuh, anjing kampung," kata Gilgamesh.

"Kau ingin Arturia segera sadar 'kan?" tanya Diarmuid.

"Bilang saja kau ingin berduaan dengannya, brengsek!" kata Gilgamesh. Diarmuid hanya terdiam saja dengan menatap tajam Gilgamesh.

"Gilgamesh, Diarmuid, berhentilah bertingkah seperti anak kecil."

Seketika Gilgamesh dan Diarmuid membelalakkan matanya mendengar suara Arturia yang terdengar lemah.

"Arturia! Akhirnya kau sadar juga," kata Gilgamesh laluembali mencium punggung tangan istrinya serta mencium keningnya.

"Kau benar-benar tak bisa menahan emosimu ya?" kata Arturia.

"Dia yang...ummm maaf," kata Gilgamesh berusaha untuk tidak menyalahkan Diarmuid di hadapan istrinya.

"Omong-omong, kau tidak membunuh Morgan 'kan?" tanya Arturia.

"Tidak. Enkidu yang telah melumpuhkannya dan menjebloskannya ke dalam penjara. Padahal aku ingin sekali menembak kakakmu yang jalang itu," jawab Gilgamesh. "Kuharap dia dipenjara seumur hidup supaya tidak mengganggumu lagi. Orang sepertinya tidak akan bisa berubah," kata Gilgamesh lagi.

"Sepertimu," kata Arturia tersenyum mengejek menatap suaminya.

"Hei, jangan samakan aku dengan wanita jalang itu. Aku ini bisa berubah menjadi lebih baik lagi, tahu? Buktinya saja aku sudah tidak menjadi penjahat lagi," kata Gilgamesh tak terima.

"Tapi kau habis membunuh bawahannya," kata Arturia.

"Itu karena si anjing kampung itu berusaha membunuhmu dan juga Arthur serta menculik anak kita. Seharusnya kau berterima kasih kepadaku," kata Gilgamesh.

"Oh begitu," kata Arturia lalu menundukkan kepalanya. "Sekarang di mana Lugal? Kamu sudah memberinya susu 'kan?" tanya Arturia.

"Sudah," jawab Gilgamesh. "Sekarang dia berada di rumah kita. Siduri yang mengurusnya," jawab Gilgamesh lagi

"Syukurlah Lugal baik-baik saja," kata Arturia lalu menggenggam erat tangan suaminya.

Kemudian Arturia menatap Diarmuid lalu mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah menyelamatkan hidupnya.

"Kau ini, selalu saja membahayakan nyawamu. Ingatlah bahwa kau ini sudah punya anak," kata Diarmuid.

"Aku berjanji akan selalu lebih berhati-hati," ucap Arturia tersenyum menatap Diarmuid.


Seminggu setelah dioperasi, Arturia diizinkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Kepulangan Arturia dari rumah sakit hanya ditemani oleh Gilgamesh. Gilgamesh sengaja melarang keluarganya Arturia dan juga keluarganya untuk mengantarkan istrinya karena ia ingin mengajaknya ke suatu tempat.

"Emang kita mau kemana?" tanya Arturia penasaran.

"Rahasia," jawab Gilgamesh tersenyum.

"Jangan lama-lama. Lugal sudah menantikan kehadiran kita," kata Arturia.

"Tenang saja. Tidak akan lama kok," kata Gilgamesh lalu mempersilahkan istrinya untuk memasuki mobilnya.

Arturia memasuki mobilnya. Begitupun juga dengan Gilgamesh. Kemudian Gilgamesh menyalakan mobilnya lalu melajukan mobilnya keluar dari area parkir mobil dalam.

"Gilgamesh," panggil Arturia.

"Ada apa?" tanya Gilgamesh sembari menyetir mobil dengan pandangan lurus kedepan.

"Kau benar-benar sudah sehat ya?" kata Arturia.

"Ini semua berkat dirimu yang selalu sabar merawatku di tengah kesibukanmu merawat Lugal," kata Gilgamesh tersenyum.

Arturia tersenyum menatap suaminya. Kemudian ia menatap jendela untuk melihat dunia luar. Dua puluh meenit kemudian, Gilgamesh memberhentikan mobilnya di parkiran khusus pengunjung taman. Kemudian Gilgamesh turun dari mobil lalu membukan pintunya untuk Arturia. Begitu pintu mobil terbuka, Arturia meraih tangan Gilgamesh lalu turun dari mobil.

"Kita...ke taman?" tanya Arturia.

"Benar. Aku ingin kencan denganmu di taman. Seperti waktu itu," jawab Gilgamesh.

"Kau ini tahu saja kalau aku ingin taman," kata Arturia.

"Tentu saja karena aku ini suamimu," kata Gilgamesh lalu berjalan berdampingan bersama Arturia memasuki area taman.

Tiba-tiba, ada seorang gadis kecil yang memberikan rangkaian bunga lily kepada Arturia.

"Untukku?" tanya Arturia. Gadis kecil itu hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.

"Terima kasih, sayang," ucap Arturia dengan tersenyum lalu mengambil rangkaian bunga lily dari tangan kecil gadis itu.

Setelah itu, gadis kecil itu langsung berlari begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tanpa sepengetahuan Arturia, Gilgamesh mengacungkan jempolnya kepada gadis kecil itu karena bekerja sangat baik.

"Gadis itu begitu menggemaskan ya?" tanya Arturia menatap suaminya. "Tiba-tiba aku jadi teringat dengan masa laluku waktu disuruh oleh seorang pria untuk memberikan bunga kepada kekasihnya," kata Arturia mengenang masa lalu.

"Sungguh masa lalu yang indah," kata Gilgamesh.

Tak lama kemudian, Gilgamesh dan Arturia duduk di karpet yang tersedia di depan kolam.

"Arturia," panggil Gilgmaesh.

"Hn?"

"Jangan ditinggalkan aku lagi ya?" kata Gilgamesh.

"Selama pita biru mengikat kita, aku tidak akan bisa meninggalkanmu," kata Arturia lalu memegang tangan kekar suaminya. "Dan jika pita biru di antara kita terputus, aku tidak akan meninggalkanmu karena aku sangat mencintaimu," kata Arturia lagi.

"Jadi kau sudah mulai mencintaiku dengan tulus?" tanya Gilgamesh.

"Iya. Aku mencintaimu," jawab Arturia dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya ini.

Gilgamesh tersenyum kepada Arturia lalu kedua tangannya meraih wajah istrinya. Gilgamesh langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Arturia lalu mencium bibirnya dengan lembut. Sementara Arturia membalas ciuman suaminya dengan memeluknya. Seketika, Arturia teringat dengan awal mula dirinya bertemu dengan Gilgamesh hingga dinikahi oleh pria itu serta melahirkan buah cinta mereka. Ia pun juga mengingat kehidupan pernikahannya yang dipenuhi dengan pertengkaran serta kejadian yang sangat tak diinginkannya yang hampir merenggut nyawa mereka berdua. Arturia berharap sekali kehidupan rumah tangganya ini untuk kedepannya berjalan lebih baik lagi dari sebelumnya.


OMAKE

Dua tahun kemudian...

Seorang anak kecil berusia dua tahun berlarian dengan girang dikejar oleh pria bertubuh tinggi dengan rambut berwarna emas -yang merupakan ayahnya- di halaman rumah. Sementara wanita berambut pirang panjang yang disanggul dengan kepangan yang mengelilingi sanggulnya ini hanya tersenyum menatap kedua lelakinya ini.

"Ketangkap kau, anak nakal fuahahaha," ucap pria ini sembari menggandong putranya dengan tertawa.

Sementara anak kecil yang digendongnya ini hanya tertawa sembari berusaha melepaskan dirinya dari gendongan ayahnya.

"Ayah, lepaskan aku. Aku ingin memeluk ibu," kata anak ini.

"Baiklah. Ayo kita balapan," kata pria bermata merah darah ini lalu menurunkan putranya.

Setelah itu, sang balita langsung berlari menghampiri ibunya dengan berteriak memanggil ibunya.

"Hei, kemarilah," kata wanita ini lalu menerima pelukan dari putranya ini.

Tak mau kalah, sang ayah pun juga memeluk istrinya sembari mencium pipinya dengan lembut.

"Gil, kau mengagetkanku saja," kata Arturia lalu melepaskan pelukan putranya ini.

"Aku tidak mau kalah darinya, tahu?" kata Gilgamesh tersenyum.

"Kau ini seperti anak balita saja," kata Arturia lalu mencubit hidung mancung suaminya.

"Hei, pelan-pelan dong," kata Gilgamesh lalu mencium bibir Arturia dengan lembut.

Tak lama kemudian, Urlugal memanggil Gilgamesh dan Arturia dan bilang kepada mereka berdua kalau dirinya melihat kucing liar berwarna putih yang sangat menggemaskan. Gilgamesh dan Arturia segera beranjak dari karpet lalu berjalan menghampiri putranya.

"Seekor kucing? Di mana?" tanya Arturia sembari menggandeng tangan Urlugal lalu mereka bertiga berjalan dengan bergandengan tangan untuk mengejar kucing itu.

SELESAI

Akhirnya selesai juga menyelesaikan fic ini fuuuh. Mohon maaf ya minna-san kalau update-nya lama. Krn berhubungan fic ini sudah selesai, aku akan berencana membuat fic dgn pairing Henry Jekyll x Mordred atau Arthur x Jeanne. Ada yang berminat? Jika tidak ya tidak apa-apa. Tapi ada kemungkinan bikin fic Gilsaber lagi dgn jalan cerita yang lebih dark. Btw, jangan lupa direview ya guys :)