Jika umumnya undangan h-1 akan banyak mendapat cibiran dan mungkin tamu yang diundang tak akan mau datang. Tapi tidak dengan undangan resepsi pernikahan yang menyangkut keluarga Quattuor Coronam.

Ballroom hotel sudah penuh dengan banyak sekali undangan.

Terlihat Hyunwoo, Kihyun, dan Chan yang menyambut banyak tamu di pintu masuk.

Seungcheol dan Seungkwan sudah melalangbuana ke segala penjuru untuk menyapa rekanan mereka.

Quattuor Coronam lainnya juga menyebar dan berbaur dengan suasana pernikahan yang menyerempet bisnis ini. Bagaimana tidak. Undangan pernikahan ini sudah melebihi undangan ulang tahun Red Moon Hotel waktu itu.

Kihyun tersenyum lebar saat melihat hyungnya yang datang dengan istri dan anaknya.

"Kihyun-ah…" Sang hyung langsung memeluk Kihyun.

"Hyung… Aigoo, Hyungwon-ah dan Changkyunie, kalian benar-benar semakin cantik." Kata Kihyun.

"Ei… Kau yang malah tetap imut." Kata Hyungwon sambil mendengus.

Namja dengan tinggi tubuh dan kecantikan luar biasa itu memeluk Kihyun dengan erat sambil membisikan ucapan terimakasih yang halus.

"Imo, gomawo. Coba kalau tidak ada imo, sudah pasti appa akan tetap menikahkanku dengan Seokmin." Ucap Changkyun dengan sinis melirik ke arah Wonho.

Sang appa yang dilirik tajam hanya terkekeh kecil sambil menepuk punggung sang anak.

"Sama-sama Changkyunie. Tak akan kubiarkan kau masuk ke jeratan iblis. Kalian masuklah ke dalam dan jangan lupa sapa kedua mempelai oke." Kata Kihyun.

Hyunwoo hanya bisa menatap pasrah istrinya yang banyak akal itu.

"Selamat atas pernikahan hyungmu, Lee doryeo." Kata Wonho yang menyalami Chan.

Hyungwon dan Changkyun juga terlihat menyalami Chan sambil tersenyum lebar.

"Kami masuk dulu, Ki, Hyunwoo hyung, Lee doryeo." Kata Hyungwon.

Keluarga Yoo masuk ke area pernikahan. Hyunwoo, Kihyun, dan Chan kembali menyambut ledakan undangan yang hadir dengan senyum mereka masing-masing.

Kita beralih ke sisi keluarga Kwon yang berjalan beriringan dengan keluarga Jeon di area ball room.

Terlihat juga Chaeyeon yang menggandeng lengan Mingyu. Mereka berjalan jauh di depan dan terlihat amat sangat serasi.

Tak ada yang bisa berbohong untuk mengatakan Mingyu tidak tampan. Ia namja yang amat sangat tampan dengan postur tubuh yang tinggi. Sedangkan Chaeyeon juga sosok gadis yang amat sangat cantik. Apalagi gaun baby blue yang ia kenakan menambah keanggunan yang ia miliki.

Soonyoung dengan setia mendorong kursi roda Jihoon sedangkan sang sahabat, Wonwoo berjalan beriringan dengan Hansol.

Jangan lupakan empat orang yang selalu menemani langkah Hansol berjalan sedikit jauh dari sang bos.

Mereka benar-benar mengagumi dekorasi dan segala persiapan yang dilakukan h-1 itu. Semuanya terlihat megah, elegan, dan tanpa cela. Seperti yang diharapkan dari keluarga Choi.

"Kira-kira, Buseok ajushi dimana saat ini." Kata Soonyoung sambil tertawa kecil.

"Jangan bicarakan ajushi itu. Aku dendam sekali padanya karena menjodohkan Seokmin ke orang lain." Jawab Jihoon sedikit sinis.

Jika saja yang dijodohkan itu dirinya, Jihoon mungkin akan benar-benar membunuh Buseok dengan tangannya sendiri.

"Ugh…"

Suara sekecil itu mungin tidak disadari oleh yang lainnya. Namun Hansol yang notabene pemimpin tertinggi Alligator yang sudah mengalami banyak hal di kehidupannya, langsung menoleh ke arah sang hyung.

"Gwaenchana?"

Wonwoo menggeleng pelan lalu tersenyum tipis.

Hansol mendekat ke arah Wonwoo lalu berbicara tepat di telinga Wonwoo.

"Hyung, kau terlihat pucat. Yakin kau tidak ingin istirahat?" Tanya Hansol memastikan.

"Ada apa hyung?" Tanya Jihoon yang merasa Hansol dan Wonwoo menghilang dari pandangannya.

Wonwoo meremas lengan Hansol dan langsung tersenyum ke arah Jihoon. "Tidak ada apa-apa. Ayo, kita harus segera duduk." Kata Wonwoo.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Resepsi besar itu sudah selesai dilaksanakan. Kini Quattuor Coronam beserta Jeonghan dan Myeongho berkumpul di ruangan khusus milik Hyunwoo yang ada di Red Moon Hotel.

Hyunwoo dan Kihyun sedang dalam urusan, jangan tanyakan urusan apa karena mereka sosok yang amat sibuk.

Pancaran bahagia terlihat dari wajah Seokmin dan Jisoo.

Waktu menunjukan pukul 11 malam dan belum ada dari mereka yang menunjukan tanda-tanda mengantuk.

"Kalian mau minum apa?" Tanya Jeonghan yang langsung berdiri dan menuju ke bar yang ada di ruangan itu.

Secara bersamaan yang lain mengucapkan minuman keinginan mereka.

"Aigoo, satu persatu." Ucap Myeongho sambil mengeluarkan smartphonenya.

"Jiwa pemilik café memang tak bisa dihilangkan." Ucap Seungkwan.

Myeongho hanya memutar matanya malas dan mulai mencatat keinginan masing-masing orang disana.

Sambil Jeonghan dan Myeongho mulai menyiapkan minuman, pembicaraan tidak penting mulai terdengar.

"Jadi malam pertama kalian dimana?" Tanya Seungcheol langsung.

Suara gelak tawa muncul bersamaan dengan wajah Jisoo yang memerah.

"Lihat nanti sajalah hyung. Kan kita tidak tahu situasi dan kondisi nanti bagaimana." Jawab Seokmin dengan senyuman lebarnya.

"Kau sudah siap tinggal di rumah Lee, Jisoo hyung?" Tanya Seungkwan yang terlihat khawatir.

"Entahlah, Seungkwanie. Aku berada di antara siap dan tidak siap. Aku hanya berharap Buseok ajushi tidak memperlakukanku seperti mertua jahat di drama."

"Tenang hyung. Ada Chan disini. Kalau Seokmin hyung tak bisa melindungimu, aku yang akan maju!" Ucap Chan sambil menepuk dadanya.

"Kau punya tameng yang banyak hyung. Kau dari keluarga Choi dan terlebih ada Alligator yang berdiri di sisimu." Kata Jihoon sambil memberi kode ke Hansol.

Hansol mengangguk setuju. "Katakan saja jika ada hama."

Bersamaan dengan pembicaraan itu, Myeongho dan Jeonghan telah usai meracik minuman-minuman beraneka warna itu.

"Myeongho-ya. Biarkan aku memelukmu." Kata Jihoon yang sudah merentangkan kedua tangannya.

Myeongho menatap bingung namun tetap menuruti apa yang Jihoon ucapkan.

"Jangan merasa bersalah padaku, oke." Bisik Jihoon tepat di samping telinga Myeongho.

Helaan nafas panjang Myeongho keluarkan dan ia mengangguk.

"Mian, Jihoonie."

Percakapan tidak penting mulai terdengar lagi dan itu membuat waktu berjalan dengan cepat. Bahkan tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 2 pagi.

"Adeul-a… Ayo kita kembali. Atau kalian ingin tidur di hotel?" Tanya Kihyun yang muncul bersama Hyunwoo di sampingnya.

"Kembali saja, eomeoni. Nanti masih ada kelas pagi." Jawab Mingyu.

"Aku juga akan kembali. Jihoon harus istirahat karena jam 8 akan ada terapi lagi." Kata Soonyoung.

"Kalau begitu ayo. Kita pulang." Kata Hyunwoo.

Mereka semua berdiri dan melangkah keluar ruangan untuk kembali ke rumah masing-masing.

Begitu pula dengan Jisoo yang akan pulang ke rumah keluarga Lee.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pagi yang cerah di kediaman keluarga Jeon.

Sang kepala keluarga tengah asyik mendengarkan laporan yang masuk mengenai dunia belakang.

Mulai dari informasi mengenai perdagangan manusia, narkoba, perjual-belian senjata illegal, hingga mata-mata negara.

Menjadi Hansol itu susah. Selain karena memang tanggung jawabnya yang luar biasa berat, ia harus selalu menggunakan rompi anti peluru di balik pakaian yang ia kenakan.

Hansol adalah The Big Boss of Alligator, Vernon. Mau tidak mau, nyawanya adalah hal yang selalu berada di ujung tanduk.

"X Clan sudah memasuki tahap ingin menghancurkan St. Carat Foundation, boss. Itu lah mengapa karyawan yang melakukan korupsi hingga menghilangkan 7% sahan malah berbahagia walau dipenjara. Boss tahu siapa agentnya."

Perkenalkan, sosok yang selalu ada di samping Hansol ini biasa di panggil Seven. Namanya memang mirip dengan nama artis namun ia bukanlah Seven yang itu. Ia adalah sekretaris Hansol.

Ia pria kurus berambut hitam yang suka tersenyum. Wajahnya amat sangat baik sehingga orang awam tak akan tahu bahwa sosok ini hobi menyiksa orang.

"Karena campur tangan RED Corporation untuk menutupi kehilangan St. Carat Foundation, X Clan memilih menghentikan penyerangan mereka. X Clan akan melakukan penyerangan ke Monteen Stage. Karena bagaimana pun, kehancuran Quattuor Coronam sangat dinantikan."

Dan perkenalkan satu sosok lagi yang tak akan pernah melepaskan pandangan dari Hansol adalah Teen. Teen adalah tangan kanan Hansol. Dengan otot yang besar dan tubuh yang tinggi membuatnya terlihat sangat menakutkan.

Ia sudah menghilangkan jati dirinya yang dahulu sama seperti Seven.

Yang memberikan nama kedua sosok ini adalah Jihoon. Karena jika digabungkan, mereka akan menjadi Seventeen. Angka yang sama dengan umur Seven dan Teen ketika mereka menyerahkan kesetiaan kepada Alligator.

Katakan selera humor Jihoon yang berumur 8 tahun, buruk sekali waktu itu, namun Seven dan Teen menerima dengan senang hati nama baru mereka.

Hansol hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Boss. Besok ulang tahun sosok yang memiliki hubungan rumit dengan Anda. Anda tidak ingin melakukan apa pun?" Ucap Seven sambil memainkan dua alisnya.

Walau berwajah baik, Seven ini juga suka sekali menggoda dan bercanda dengan Hansol.

Hansol melirik sang sekretaris dengan santai.

"Aku sudah memikirkannya semenjak tiga hari lalu. Jangan remehkan aku, Seven hyung." Kata Hansol.

"Baik baik. Jadi kapan Anda akan menyelesaikan masalah itu?" Tanya Seven lagi.

Teen yang tengah menuangkan teh untuk bossnya hanya bisa maklum atas kelakuan Seven.

"Sebelum itu, beritahu Monteen Stage bahwa X Clan akan melakukan serangan." Kata Hansol yang kini meminum teh dari cangkir porselen itu.

Seven mengangkat smartphonenya lalu melambaikannya ke arah Hansol.

"Oops boss… Sudah kulakukan." Kata Seven.

Teen memutar bola matanya.

"Boss, ini scan kesehatan milik kalian." Kata Teen yang menyerahkan tiga buah berkas ke Hansol.

Scan kesehatan merupakan kegiatan rutin yang ketiga saudara Jeon itu lakukan tiga kali dalam satu bulan.

Hansol mengangguk lalu membuka berkas dirinya sendiri terlebih dahulu.

Gula darah normal, tekanan darah normal, oke, semuanya normal.

Hansol lalu membuka berkas sang hyung tertua.

"Hmm…" Ucapnya sambil melirik dan menyerahkannya ke Teen.

Yang terakhir, Hansol membuka berkas kesehatan Jihoon.

"Perkembangannya sudah sangat pesat." Kata Hansol.

"Anda harus segera ke kampus, boss." Kata Seven.

Hansol mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Mari biarkan boss Alligator itu bersiap untuk kewajibannya sebagai mahasiswa.