Gempa as Gyandev


Gyandev sendirian dan ia tidak tahu kemana Kannan akan pergi. Namun, mendengar dari kata-kata Kannan sebelumnya, ia akan kembali dalam waktu dekat. Heryawan telah memberi tahu keberadaan batu spiritual itu dan dengan berbagai tanaman dan obat langkanya, ia bisa hidup dan bertahan sampai akhir.

Gyandev menutup matanya dan menghirup udara dingin malam. Ia tidak memiliki orang tua dan tidak memiliki sedikit pun keinginan untuk kembali ke istana dan menjalani hidup sebagai bangsawan. Ia senang dengan hidup bebas dan berpetualang seperti sekarang.

Gyandev membuka matanya dan melihat langit yang hanya dihiasi bulan. Ia sudah sering menantang maut dan menantang maut untuk yang kesekian kalinya bukan apa-apa baginya. Jika ia berhasil ia bisa memberikan inti spiritual itu tapi jika Kannan tidak ada ia hanya akan menyimpannya. Jika ia gagal dan meninggal, maka hidupnya selesai.

Mungkin Kannan tidak akan membawa arwahnya karena ia adalah iblis. Namun ia tahu Kannan bisa mencarinya di kehidupan selanjutnya jika ia mau. Mungkin ia tidak ingat, tapi Kannan bisa melihat kehidupan seseorang.

Gyandev berjalan keluar kuil dan melangkah melewati pagar yang membatasi kuil dengan gunung di belakangnya. Tepat ketika ia melewati pagar itu, jantungnya berhenti berdetak sejenak dan matanya membola. Sebuah perasaan melewati perbatasan sihir membuatnya terkejut.

Heryawan mengatakan tidak ada yang berhasil dan Kannan mengatakan apa yang ada di balik kuil sangatlah berbahaya. Gyandev baru melewati pagar dan keringat telah mengucur dari dahinya. Ia merasakan dorongan yang kuat dari tembok sihir itu dan sihir itu berusaha untuk mengeluarkannya. Gyandev terus memaksa dan sebuah bisikan terdengar di telinganya di tengah kegelapan malam.

"Kamu bukan dewa."

Gyandev terkejut dan behasil terlempar keluar. Ia melirik ke arah kuil dan melihat lingkaran sihir itu bergerak sendiri. Lingkaran sihir dengan berbagai tulisan itu bergerak searah jarum jam sekaran-akan ada mekansime di dalamnya. Gyandev mengingat-ingat seluruh kuil yang digambari dengan lingkaran sihir dan akhirnya mengerti kenapa tidak ada satu pun penyihir yang tahu arti dari lingkaran sihir itu.

Ini bukan sihir biasa! Ini adalah sihir dari dewa untuk menahan manusia biasa masuk ke area ini!

Gyandev terus memperhatikan lingkaran sihir itu berputar hingga berhenti. Di tengah lingakaran sihir itu muncul sebuah mata berwarna emas murni yang menatapnya tajam. Mata itu lalu mengeluarkan elemen cahaya.

Sinar cahaya itu menyinari seluruh gunung dan orang-orang di Kota Barat menoleh ke gunung secara berasamaan. Mereka mengangguk mengerti dan tahu bahwa seseorang berusaha naik ke gunung lagi.

Sinar itu menyorot ke dahi Gyandev dengan gila. Gyandev membentuk benteng tanah dan menahan cahaya itu tapi benteng tanahnya dengan mudah dihancurkan dan cahaya itu kembali menyorot dahinya.

Gyandev dan seluruh orang tidak tahu bahwa ini adalah ujian masuk. Jika mereka bisa menahan cahaya surga dan berhasil hidup, mereka dapat masuk dan menghadapi monster di perbatasan sihir namun, jika mereka gagal, mereka akan menghilang selamanya dan arwahnya akan langsung dikirim ke neraka.

Pada dasarnya, masuk ke perbatasan sihir dewa adalah dosa besar.

Menurut sejarah, kuil ini didirikan oleh seorang dewi agar manusia belajar berdoa dan bersyukur. Dewi itu tidak membuat patungnya atau menulis namanya sebagai nama kuil. Ia tidak mengutus pendeta atau siapa pun untuk mengurus kuil itu. Dewi itu hanya ingin menjaga apa yang ada di balik tembok sihir itu.

Banyak orang yang berusaha naik setelah mendengar sebuah harta berada di puncak gunung dan orang yang berhasil mendapatkannya akan menjadi sangat kuat. Sayangnya, hanya 13% dari penantang itu yang berhasil menerima cahaya surga dan melindungi diri dengan baik. Namun, melewati cahaya surga tidak berarti mereka bisa naik dengan mulus, seluruh orang itu berakhir menjadi tulang di atas sana.

Mata Gyandev menahan sinar yang menyilaukan itu dan menyipit. Mendadak, mata emasnya menyala terang dan ia tertegun. Mata di lingkaran sihir itu juga terkejut dan menarik kembali cahaya surganya. Ia melihat Gyandev dengan penuh penasaran namun Gyandev dengan marah melempari mata itu sebuah batu besar.

Mata dewa di lingkaran sihir itu hanyalah imitasi dan melukainya tidak menimbulkan karma buruk apa pun. Gyandev membuka matanya lebar-lebar dan menatap mata itu garang. Mata dewa itu berkedip sebelum menutup dan membuka dengan perlahan untuk menujukkan rasa hormatnya pada Gyandev. Mata itu lalu menutup selamanya dan lingkaran sihir di dinding itu kembali berputar dan kembali seperti semula.

Gyandev segera berlari masuk dan setelah satu kilometer ia berhenti untuk menarik menoleh ke belakang dan melihat tidak ada yang aneh. Setelah merasa cukup, Gyandev berjalan naik dengan penuh semangat.

Gyandev mengusap keringatnya dan memperkirakan dua jam telah berlalu sejak ia naik. Ia melihat banyak burung bermata merah menatapnya namun tidak melakukan apa-apa. Burung-burung itu jelas adalah monster dan mereka telah tinggal lama di sini. Ia terus berjalan dan melihat sosok beruang dengan mata emas pucat. Beruang itu melihat mata emas Gyandev lalu berbalik dan pergi begitu saja.

Gyandev menyentuh bawah matanya dengan penuh rasa syukur. Sepertinya ia bisa dengan aman menemukan inti spiritual dan pulang. Ia dengan penuh percaya diri berjalan maju sambil meminum air untuk melegakan dahaganya.

Suara binatang yang bergerak disemak-semak tidak Gyandev pedulikan. Banyak monster baik monster iblis mau pun dewa telah mengabaikannya karena matanya. Ia terus berjalan sampai sesuatu melompat di belakangnya.

Gyandev menoleh dan membelalakkan matanya. Seekor kelinci bermata emas pucat membuka mulutnya lebar-lebar dengan gigi tajam. Gyandev secara reflek menginjak tanah dan membuat benteng tanah. Ia mundur beberapa langkah dan melihat kelinci itu dengan ganas menggerogoti benteng tanah itu hingga habis.

Gyandev kembali membuat benteng tanah berlapis-lapis lalu berbalik untuk berlari. Ia menggigit bibir bawahnya dan menahan rasa lelahnya. Ia harus berlari menaiki gunung dan energi yang dibutuhkan jauh lebih besar. Ia akhirnya memutuskan untuk memanggil ombak tanah dan maju dengan itu.

Setelah berlari entah berapa jauh, ia berhenti dan menoleh ke belakang. Gyandev baru saja ingin menghela nafas lega saat seekor kelinci dengan tubuh yang bertambah besar berlari ke arahnya.

Gyandev berteriak dan berlari lagi namun kelinci itu dengan lincah melompat dan menghalangi dirinya. Gyandev mundur dan berlari ke arah yang berlawanan namun kelinci itu kembali melompat dan memblokir jalannya.

Gyandev meninju tanah berkali-kali dan balok-balok tanah itu berusaha memukul sang kelinci namun kelinci itu dengan mudah menghindarinya. Kelinci itu bercicit dengan keras lalu melompat ke arahnya.

Gyandev terhempas dan kelinci itu kembali melompat ke arahnya. Ia berguling dan sebatang tanah yang tajam menusuknya.

Suara nyaring kelinci itu memecah keheningan. Kelinci itu mengibaskan kepalanya. Salah satu telinga panjangnya tertusuk tanah itu dan darah mengalir dari lubang itu. Kelinci itu menoleh pada Gyandev lalu melompat lagi untuk menimpa tubuh pemuda itu.

Kelinci itu telah membesar dengan tinggi sebesar manusia dewasa. Gigi depannya terlihat rata namun ketajamannya tersinar oleh cahaya bulan. Bulu putihnya bersinar biru dan mata emasnya menatap Gyandev tajam.

"Sial! Monster dewa macam apa yang galak seperti ini?"

Ia tidak pernah bertemu dengan monster dewa namun ia sering bertemu monster iblis. Monster iblis iseng dan suka berbuat jahat dan ia berpikir monster dewa adalah kebalikannya. Ia pikir monster dewa itu baik dan hanya peduli untuk menjadi peliharaan atau tunggangan para dewa. Ia benar-benar tidak mengira seekor kelinci manis mempunyai niat untuk memakannya!

Gyandev akhirnya memanggil raksasa tanah. Ia belum selesai mengucapkan mantranya saat kelinci itu melompat padanya. Ia memuntahkan darah. Berat kelinci itu begitu luar biasa hingga Gyandev merasa tulang rusuknya patah dan organ-organnya hancur. Tubuh Gyandev remuk dan pandangannya mengabur. Kelinci itu merasa ia berhasil membunuh mangsanya dan membuka mulutnya lebar-lebar.

"Nyiiiiiiii!"

Teriakan kelinci itu hampir memecahkan gendang telinga Gyandev. Ia merasakan beban di tubuhnya terangkat dan darah kembali keluar dari mulutnya. Gyandev menoleh dan berusaha untuk melihat kemana kelinci itu pergi.

Aura kegelapan berwarna hitam dan ungu menguar di bawah kelinci itu. Kelinci itu berusaha menyerang orang yang berani menjebaknya namun kakinya terikat aura kegelapan itu. Sepasang mata merah yang menyala di kegelapan malam membuatnya takut. Tubuh Gynadev bergetar saat ia melihat orang itu meledakkan tubuh kelinci itu.

Malam itu hujan darah, daging dan tulang menjadi pemandangan Gyandev. Ia menatap wajah pucat itu terwarna darah dan matanya menyala dingin.

"Kannan…"