Kali ini lebih mendebarkan dari sebelumnya. Ayah meminta Lizzy bertemu secara empat mata di ruang kerjanya sehari setelah ia kembali dari Weissmuster.
Lizzy menutup pintu di belakangnya lalu melangkah menuju kursi di depan meja kayu itu. Ia memandangi punggung Ayah yang menghadap jendela. Dari jendela besar itu, Matterhorn tampak gagah berlapis selimut saljunya yang berkilau disiram cahaya musim gugur. Pemandangan dari ruang kerja ayah ini favoritnya. Dari ceruk di ujung tebing sana, agak ke bawah dari puncak gunung, air terjun mengucur deras, membawa kemurnian salju menuju lereng-lereng pegunungan di bawahnya. Katanya, itu air terjun yang memasok debit air sungai terbesar di seluruh Eropa. Di saat seperti ini, Lizzy justru cemas. Barangkali ini kali terakhir ia bisa menikmati keindahan desanya. Tiba-tiba, seperti ada yang menahan langkahnya.
Gadis itu menggeleng kuat-kuat, mengusir keragu-raguan. Ia sudah melangkah sejauh ini. Sudah tak ada jalan mundur lagi.
"Ayah," kata Lizzy hati-hati, memecah kesunyian. Punggung ayah terlihat sangat jauh. Ia tidak bisa melihat raut wajahnya padahal sangat ingin tahu.
"Grey bilang tukar guling komoditi antar dua desa sebetulnya tak dibutuhkan lagi." Ia memulai topik dengan urusan desa. "Konfederasi sudah menaruh kepercayaan besar terhadap kita. Meski begitu, dia masih ingin supaya Grunwolf memasok lima puluh persen bahan baku susu dan gandum untuk pabrik-pabrik cokelat di Weissmuster."
Ada hening yang sangat lama, yang menambah kecemasan Lizzy. Jangan-jangan, ia sudah salah bicara, pikirnya. Ia bingung harus membuka perbincangan seperti apa dengan ayahnya? Hanya topik itu yang terpikirkan olehnya.
Ayah memutar kursi, hanya menghadapkan sisi wajah bagian kanannya.
"Kau masih punya nurani memikirkan desamu rupanya, Elizabeth."
Ayah memang tidak terlalu dekat dengannya. Masa-masa ketika Lizzy diperlakukan bagai tuan puteri itu sudah berlalu. Sudah lama semenjak terakhir kali Lizzy merasakan hangatnya dekapan Ayah, lengan yang kekar dan kuat, yang kerap menggendongnya di atas bahu. Ia tidak begitu ingat, selain bahwa ayahnya berubah semenjak memanggul beban kepala desa, sepuluh tahun lalu. Itu adalah masa-masa terberat Lizzy, saat perlahan ia merasakan perhatian ayahnya mengendur. Ayah beralasan Lizzy sudah besar. Bahkan hanya sekadar ciuman di dahi, ia sudah tidak mendapatkannya dari Ayah lagi. Hingga Ayah 'membuangnya' ke akademi di desa Weissmuster, lalu memberi 'hadiah' pertunangan paksa di ulang tahunnya yang ketujuh belas. Ayah bahkan bersikap acuh, mengeraskan kepala dan menutup mata dan telinga, ketika Lizzy merajuk berhari-hari; menangis dan mengunci diri di kamar. Ia sudah kehilangan sosok Ayah. Yang ada di hadapannya adalah kepala desa bertangan besi, yang rela 'menukar' anak sendiri, demi ambisi modernisasi wilayah dan melepaskan desa dari keterkucilan masa.
"Tentu, Ayah. Bagaimanapun juga, ini adalah desa kelahiranku," ucap Lizzy lirih. Ia menelan ludah pahit. Ayah masih belum mau berkompromi.
"Elizabeth. Seluruh desa adalah tanggung jawab Ayah. Kau meragukan kemampuan ayahmu?"
Lizzy terperanjat ketika Ayah memutar kursi kali ini persis menghadapkan wajah padanya. Ada sesuatu dari sorot mata Ayah yang membuat Lizzy terenyuh.
"Tidak, Ayah! Bukan seperti itu maksudku."
"Ah, Ayah mengerti. Pertemuan kalian lancar ya. Padahal kupikir Serigala Putih itu akan menajamkan taring dan cakarnya."
"Grey sudah berbuat yang terbaik, Ayah. Apakah Ayah masih belum puas?"
"Apakah kamu puas atas kelancangan ini, Elizabeth?"
Lizzy menggigit bibir. Kepalanya tertunduk. Ia ingin marah. Kenapa bahkan Ayah masih enggan memahaminya?
"Hanya jika Ayah merestuiku."
Lizzy tahu, Ayah ingin melihatnya memohon-mohon. Apa yang dia inginkan tidak akan diberikan dengan semudah itu.
Namun, dugaannya salah. Ayah justru terdiam lama, yang membuat Lizzy tertegun lagi. Ketika mendongak, Ayah tampak menerawang, melempar pandangan ke luar jendela, jauh ke puncak gunung dan menembus kedalaman hutan.
"Elizabeth … Sepuluh tahun Ayah sudah mengabaikanmu."
Kalimat Ayah selanjutnya menjungkirbalikkan perasaan Lizzy.
"Padahal kau adalah harta berharga kami. Ayah pikir mengorbankan harta kesayangan kita demi kepentingan bersama adalah hal mulia, tapi Ayah sudah memperoleh karma. Memaksakan kehendak pada orang lain itu ibarat menanam duri, kau akan terluka karenanya tanpa sengaja suatu saat nanti. Itulah mengapa Ayah menghargai perjuanganmu, Puteriku."
Ketika tatapan mata tua itu menatapnya lamat-lamat, gadis itu sadar bahwa kasih sayang sang ayah tidak berkurang sepeserpun. Bagaimana mungkin, ia memilih uluran tangan orang asing yang baru dikenal, dan malah menampik tangan orang terdekatnya?
Tiba-tiba, entah dapat dorongan dari mana, Lizzy melesat secepat kilat menuju pelukan Ayah. Lelaki tua itu sama terkejutnya. Ia merentangkan tangan dan membalas dekapan putrinya lebih erat. Runtuh sudah pertahanan mereka. Masing-masing jujur mengungkap perasaannya.
"Tapi ayah harus mencemaskanmu, hidup di luar itu tidak mudah, Elizabeth," bisik Ayah di telinganya.
Lizzy masih belum ingin berpisah dari aroma kemeja Ayah setelah sekian lama. Merasakan tepukan lembut di punggungnya.
Wajar apabila Ayah khawatir, tetapi Lizzy ingin meyakinkan, "Ayah tidak perlu mencemaskanku. Apa Ayah tidak percaya pada putrinya sendiri?"
Lizzy mengangkat kepala. Ayah mengusap sudut matanya yang basah oleh air mata.
"Tentu. Ayah percaya padamu, Nak. Kau harus ingat satu hal: kelak ketika kau berhasil menggapai puncak, jangan lupakan mereka yang pernah mendorongmu saat kau masih berada di bawah."
"Aku bangga Ayah menjadi salah satu penyemangatku. Ayahlah yang paling berjasa untukku."
Tuan Midford tersenyum lebar. Senyum yang Lizzy kira sudah memudar, setelah selama ini hilang darinya. Senyuman itu seperti tarikan cahaya yang menapak garis horizon yang kerap terlihat dari jendela kamarnya saat fajar tiba.
"Jadilah perempuan yang tangguh, Elizabeth. Yang berani bertanggung jawab atas pilihanmu sendiri."
Lizzy mengangguk mantap. Ia mendekap Ayah lagi. Bahkan seluruh taman bunga milik pemukiman Grunwolf tak cukup mewakili kegembiraannya saat ini.
