Fiction

Chapter 15

Sasuke Uchiha

Sakura Haruno

Gaara

Karin Uzumaki

Drama, Hurt/comfort, romance

WARNING!!!! AU! TYPO! OOC! DLDR

Happy reading

o0o

"Sasuke kun." Suara merdu itu menyapa indera pendengaran Sasuke. Ia yang semula sibuk dengan ponselnya menoleh, hampir saja ia menjatuhkan ponselnya ketika mendapati tunangannya dibalut gaun pengantin.

"Bagaimana? Cocok tidak?" Sakura menanti dengan cemas pendapat kekasihnya itu.

"Hn." Hanya dua konsonan itu yang keluar dari mulutnya dan memalingkan wajahnya yang terasa hangat. Sasuke tidak ingin Sakura tahu jika ia merona karena melihat dirinya.

"Kenapa kau memalingkan wajahmu? Apa aku terlihat jelek?" Sakura terdengar sedih dan menundukan kepalanya.

"Itu cocok untukmu Sakura, kau terlihat sangat cantik." Sasuke mendekati Sakura dan menyentuh tangan Sakura lalu mengecup punggung tangannya membuat gadis itu merona.

"Benarkah? Izumi nee bilang ini gaun spesial untukku." Sakura tersenyum manis, ia berputar membuat rok gaunnya mengembang indah.

Sasuke tersenyum pahit mengingat kenangannya bersama Sakura, ia dan Sakura mencoba pakaian pengantin mereka di butik milik Izumi sebelum ia berangkat ke Ame. Jika saja ia tidak pergi ke Ame mungkin gaun itu akan dikenakannya di altar saat mereka menikah.

Sasuke terus memandangi lukisan di dinding kamarnya, seolah matanya tak lelah hanya memandang satu objek didalam keremangan. Ia masih ingat Sakura selalu memuji hasil goresan kuas milik Sai itu. Hatinya masih sangat sakit dan rasanya sangat sulit menerima kenyataan jika Sakura menolaknya. Ia belum menghubungi ibunya sejak kembali dari Suna kemarin, Kakashi juga memberitahunya jika Sakura mengundurkan diri.

Ia menghela nafas lelah, ibunya sangat bahagia ketika ia memberitahu jika ia dan Sakura selalu makan siang bersama. Wanita yang telah melahirkannya itu sangat berharap jika dirinya akan membawa pulang Sakura ke Konoha.

Sasuke sudah memberitahu Itachi jika ia kembali ke Konoha dan meminta kakak laki-lakinya itu untuk menggantikannya ke Suna. Sasuke meremas rambut ravennya, ia adalah seorang Uchiha tidak seharusnya ia tenggelam dalam kesedihan hanya karena seorang gadis. Tapi, ia menyadari ia sangat mencintai Sakura, mungkin memang benar jika kita akan menyadari cinta kita setelah kehilangannya.

Ia bangkit dari atas tempat tidur dan meraih kunci mobilnya. Ia memutuskan untuk pulang kerumahnya dan menemui ibunya. Sasuke melihat ibunya sedang menyiapkan malam saat ia datang dan langsung memeluk wanita paruh baya itu.

"Saauke kun." Ibunya sangat terkejut melihat ia sudah kembali dari Suna dan terlihat kacau.

"Tadaima." Sasuke tersenyum pada ibunya.

"Okaeri." Mikoto tau apa yang terjadi pada putranya meskipun pria itu tidak mengatakan apapun. Ia melihat luka dimata putra bungsunya, karena itu Mikoto memeluk putranya lembut.

Mikoto merasakan basah dibahunya, ia tidak mengatakan apapun hanya tangannya yang terus bergerak membelai lembut punggung putranya yang bergetar kecil. Sedewasa apapun kedua putranya mereka tetaplah anak-anak dimatanya, putranya sedang bersedih karena telah salah mengambil keputusan hingga ia kehilangan cahaya hidupnya.

"Anata." Fugaku berhenti memasuki ruang makan saat melihat Istrinya sedang memeluk putra bungsunya. Awalnya ia ingin menanyakan dimana istrinya itu menyimpan sepatu olahraganya karena ia berencana akan bermain golf dengan salah satu koleganya.

Pria paruh baya itu memilih berbalik meninggalkan mereka. Ia sudah menduga ini akan terjadi, bahkan meski Sakura menerima putranya pun ia yakin keluarga gadis itu tidak akan menerimanya. Fugaku tahu cepat atau lambat Sakura akan menerima kehadiran Gaara karena pemuda itu terlihat begitu tulus mencintai Sakura.

o0o

Sakura masih menggembungkan pipinya merajuk dan sesekali memelototi Gaara yang sedang meminum kopinya lalu memalingkan wajah saat pemuda berambut merah itu menatapnya.

"Ada apa?" Gaara menatap bingung pada kekasihnya.

"Dasar pembohong." Sakura berguman pelan tapi masih bisa didengar oleh Gaara.

Gaara beranjak dari sofa meninggalkan kopinya yang hampir dingin dimeja dan mendekati kekasihnya. Ia duduk dibangku kecil berhadapan dengan Saskura.

"Aku minta maaf. Aku lupa menelepon Temari nee semalam." Gaara tahu seharusnya ia meminta kakanya agar membawakan bubur telur untuk Sakura.

Sakura tidak mengatakan apapun ia hanya memelototi kekasihnya. Ia sangat kesal karna harus memakan bubur encer yang hambar tadi pagi. Sementara kekasihnya itu dengan tenang makan sandwich yang dibelinya dikantin dan segelas kopi.

"Bola matamu akan jatuh kau terus saja melotot seperti itu." Gaara mencubit pipi kekasihnya pelan dan tertawa.

"Dasar menyebalkan." Sakura memukul tangan Gaara.

Bibirnya ikut tertarik mengulas sebuah senyum saat melihat kekasihnya tertawa rasanya sudah lama sekali Sakura tidak melihat Gaara tertawa. Selama dua bulan kekasihnya pergi ke Kumo dan baru dua minggu terakhir ia bisa menghubungi kekasihnya. Ia ingat jika Gaara marah padanya sebelum pergi dan hingga saat ini masih belum tahu alasan kekasihnya marah dan mengabaikannya.

Dokter sudah mengijinkannya pulang dan tidak ada yang serius sehingga butuh penanganan lebih lanjut. Ia hanya dianjurkan untuk bed rest dan mengatur pola makan.

Sakura mencoba turun dari ranjang, kakinya gemetar dan tubuhnya sangat lemas. Ia merasakan kakinya seperti jeli dan terasa berat untuk diangkat. Gaara yang sedang merapikan barang-barang langsung menghampiri kekasihnya.

"Aku ingin mengganti bajuku." Gaara meraih pinggang kekasihnya dan membawanya ke toilet. Ia mendudukan Sakura diatas kloset.

Gaara kembali membawa pakaian Sakura. Dan menyerahkannya pada kekasihnya.

"Aku tidak keberatan membantumu berganti pakaian." Pemuda itu tersenyum miring menggoda kekasihnya.

Sakura memelototkan matanya. "Aku bisa melakukannya sendiri!" Wajah Sakura memerah hingga ketelinga mendengar ucapan kekasihnya.

"Kau yakin? Aku benar ingin membantumu loh." Gaara tersenyum dengan wajah polos.

"Gaara no echi!" Sakura berteriak dan memukul Gaara dengan pakaian yang ada dipangkuannya. "Cepat keluar!"

Gaara tertawa nyaring dan menutup pintu toilet. Sakura merasakan wajahnya panas, apa-apaan kekasihnya itu menggodanya seperti pria mesum. Ia keluar dari toilet setelah mengganti pakaian pasien dengan dres selutut, ia berjalan perlahan dan duduk

"Kenapa tak memanggilku." Gaara sudah selesai mengepak pakaian kotor miliknya dan Sakura.

Sakura mengabaikannya dan memainkan ponselnya. Ia bersenandung kecil seolah pertanyaan Gaara hanyalah hembusan angin. Gaara mendekatinya dan mengecup pipi Sakura membuat gadis itu terlonjak kaget.

"Masih merajuk?" Gaara menatapkekasihnya lembut, Sakura hanya diam tidak menjawab pertanyaan kekasihnya. Ia terlalu sibuk menenangkan jantungnya yang berdebar.

"Ayo kita pulang." Gaara mengangkat tubuh Sakura ingin mendudukkannya di kursi roda.

"Aku tidak mau pakai kursi roda." Sakura menolak. "Aku ingin digendong."

"Baiklah." Gaara kembali mendudukan Sakura ke tempat tidur, ia meraih tas pakaian dan keluar.

Sakura hanya melongo melihat kekasihnya pergi. Bukankah ia meminta pemuda itu menggendongnya, tapi ia malah ditinggalkan dirinya diruang rawat sendirian. Hampir saja gadis itu menelepon kekasihnya tapi Gaara sudah kembali ke kamar.

"Baiklah Tuan Putri, kita pulang sekarang." Gaara menggendong Sakura seperti pengantin. Awalnya ia hanya bercanda meminta gendong pada kekasihnya tapi pemuda itu benar-benar menurutinya.

Sakura tidak menyangka mereka akan menarik perhatian banyak orang, beberapa perawat atupun keluarga pasien yang berpapasan dengan mereka akan tertawa menggoda mereka dan tidak sedikit orang yang mengatakan betapa Gaara sangat romantis. Ia merasa malu dan menybunyikan wajahnya di dada kekasihnya. Beberapa orang mengira jika mereka adalah sepasang pengantin baru dan mendoakan agar mereka langgeng dan segera di beri anak.

Netra Sakura menangkap seorang pria tua yang tengah mendorong kursi roda berisi seorang wanita tua melintasi taman rumah sakit. Mungkin itulah arti romantis yang sebenarnya menemani hingga usia senja. Dan ia berdoa semoga Gaara dan dirinya akan seperti pasangan tua itu selalu bersama hingga menjadi kakek dan nenek.

o0o

Gaara melihat Pakura sedang mengobrol dengan Temari di ruang tamu saat ia datang. Wanita dewasa itu menaikan sebelah alisnya saat melihatnya masuk menggendong Sakura. Gaara memang tidak memberitahunya jika Sakura sakit. Ia melihat tas miliknya di dekat kaki sofa, sepertinya kekasih pamannya itu mengantarkan barang-barang miliknya.

"Konichiwa." Sakura menyapa Pakura yang dibalas anggukan kepala.

Pemuda itu melewati dua orng yang tengah mengobrol. Ia membawa Sakura naik kekamar gadis itu dan membaringaknnya di ranjang.

Sakura berguling dan membenamkan wajahnya kedalam bantal menghirup dalam-dalam aroma stroberi yang menguar dari bantalnya. Rasanya sangat menyenangkan bisa pulang, semalam ia tidak bisa tidur. Ia melihat novelnya ada di nakas, rasanya ingin sekali membacanya. Ia terlalu fokus bekerja belakangan ini sehingga tidak memimiliki waktu luang dan sekarang kepalanya masih pusing membuatnya mengurungkan niat untuk membaca.

Gaara melihat jika Sakura terus menatap novel miliknya. Novel yang menjadi sumber amarahnya pada kekasihnya, apa sebaiknya ia tanyakan pada Sakura mengapa ada foto Sasuke disana.

"Kenapa kau terus menatap novel itu." Gaara mencoba menarik atensi kekasihnya.

"Aku ingin membacanya, hanya saja kepalaku masih pusing." Sakura menatap kekasihnya yang duduk ditepi ranjang.

"Ne Gaara kun, sebenarnya kenapa kau marah padaku?" Sakura tidak yakin apakah ini waktu yang tepat untuk bertanya pada kekasihnya tentang maslah itu. Hanya saja ia sudah tidak bisa menahan rasa penasarnnya memgingat kemarin Temari mengatakan jika Gaara cemburu dan melarikan diri.

Gaara teesentak mendengar pertanyaan kekasihnya ia tidak menyangka Sakura akan menanyakan hal itu sekarang.

"Kemarin Temari nee mengatakan jika kau cemburu, kau cemburu pada siapa? Aku tidak pernah dekat dengan siapapun selama berada di Suna." Sakura menatap lurus pada mata kekasihnya.

Gaara menghela nafas, mungkin ini adalah waktu yang tepat jika ia menanyakan perihal foto itu.

"Kenapa kau masih menyimpan foto Sasuke?" Gaara mencoba bertanya dengan hati-hati.

"Foto Sasuke?" Sakura merasa bingung dengan peetanyaan kekasihnya, untuk apa ia menyimpan foto Sasuke jika ia mengembalikan semua barang pemberian pria itu sebelum pergi ke Suna.

Gaara meraih novel yang ada di nakas dan menggoyangkannya hingga selembar foto jatuh keatas tempat tidur. Netranya menangkap raut terkejut kekasihnya saat melihat foto Sasuke.

"Aku tidak tahu jika itu ada disana. Sungguh aku tidak menyimpannya." Sakura berusaha meyakinkan Gaara. Ia memang tidak tahu jika foto Sasuke ada disana. "Novel itu pemberian bibi Mikoto, mungkin bibi yang menyimpan foto itu."

"Aa, aku tahu." Gaar tersenyum tidak ada alasan baginya untuk tidak mempeecayai Sakura setelah apa yang ia dengar kemarin.

"Apa kau marah padaku karena foto itu? Kau cemburu tapi tidak menanyakannya padaku. Kenapa?"

"Maaf, aku terlalu cemburu dan takut jika ternyata kau masih mencintai Sasuke. Aku takut jika kau akan kembali padanya." Gaara tersenyum kecut mengingat kebodohannya.

"Bodoh... Bodoh... Bodoh!" Sakura memukul Gaara dengan boneka beruang miliknya. Bagaimana bisa kekasihnya itu tidak mempercayainya dan masih berfikir jika ia masih mencintai Sasuke.

"Untuk apa aku datang ke Suna jika aku masih mengharapkan pria itu." Sakura menangis karena kesal.

Pemuda bersurai merah itu hanya diam menerima pukulan dari kekasihnya yang tidak terasa sakit. Sakura masih terisak dan memukul Gaara hingga ia merasakan kepalanya berdenyut sakit. Gaara meraih tubuh Sakura dan memeluknya, membelai lembut surai kekasihnya mencoba menenangkan. Dikecupnya puncak kepala Sakura.

Pakura yang awalnya ingin menemui Sakura karena mendengar jika gadis itu mengurungkan niatnya masuk saat melihat drama sepasang kekasih itu karena pintu kamar Sakura yang terbuka. Selama ini ia meragukan gadis itu, Pakura pikir Sakura tidak benar-benar mencintai Gaara karena selama ini gadis itu tidak pernah menyadari perasaan Gaara. Bahkan semua orang tau perasaan pemuda itu padanya hanya dia seorang yang tidak tahu seolah apa yang Gaara lakukan hanyalah hal wajar tanpa pernah berfikir jika Gaara mencintainya.

Dia tidak pernah membenci Sakura hanya saja Pakura merasa gadis itu kelewat polos karena berfikir jika semua perlakuan Gaara adalah karena pemuda itu menganggapnya sebagai saudar. Bahkan kelurga mantan kekasihnyapun menyadari perasaan Gaara.

"Aku pamit." Pakura melambaikan tangan pada Temari yang sedang menyiapkan makan siang di dapur.

Ia yakin Yashamaru akan menyeringai penuh kemenangan jika ia menceritakan apa yang ia lihat tadi. Kekasihnya itu sangat yakin jika Sakura tulus mencintai Gaara meski ia selalu menyangkal perkataan kekasihnya itu.

o0o

Itachi mendengar desas desus karyawan tentang adiknya dan juga Sakura, ia mendengar jika Sakura memaki atasannya didepan karyawan lain. Sakura sedang menjadi topik hangat dikalangan karyawan bagaimana ia selalu makan siang bersama Sasuke dan tentang adiknya yang sudah memiliki istri tapi tetap mendekati Sakura.

"Jadi kau teman dekat Sakura?" Itachi menatap gadis berambut pirang yang beediri dihadapannya.

"Kami satu divisi, hanya berteman biasa Uchiha sama." Shiho mencoba menjawab pertanyaan bosnya. Pria ini menggantikan Uchiha Sasuke sejak tiga hari yang lalu.

"Aku mendengar gosip tentang Sakura dan Adikku. Bisa kau memberitahuku?"

"Maaf Uchiha sama, saya tidak tahu." Shiho berbohong, ia tahu segalanya hanya saja ia merasa bukan haknya untuk menceritakan apa yang tetjadi di divisinya.

"Aku sudah dengar dari karyawan lain. Aku hanya ingin memastikannya saja." Itachi menghela nafas lelah.

"Anda bisa menanyakannya pada Uchiha Sasuke."

"Baiklah, apa kau tahu alasan Sakura mengundurkan diri? Kau mengembalikan surat pengunduran dirinya bukan?"

"Sakura ingin pindah ke Sabaku corp." Ia ingat saat mengirim pesan pada Sakura menanyakan alasannya berhenti bekerja dan gadis itu mengatakan jika Gaara sedang butuh sekertaris karena itu ia berhenti.

"Baiklah, kau kembalilah bekerja." Shiho membungkuk dan keluar dari ruangan Itachi.

Empat hari yang lalu Sasuke meneleponnya dan mengatakan jika ia akan kembali ke Konoha dan memintanya menggantikan dirinya di Suna. Ia tidak yakin dengan apa yang terjadi karena adiknya tidak menyinggung tentang Sakura dan hingga saat ini ia belum bisa menghubungi Sasuke. Hanya ibunya yang memberi kabar jika Sasuke ditolak oleh Sakura dan pemuda itu memilih menghabiskan waktunya di kantor.

"Yo." Kakashi masuk ke ruangan Itachi dan duduk dihadapan bosnya itu. "Apa kau baru saja menginterogasi Shiho?"

"Kau pikir aku polisi." Itachi mendengus mendengar pertanyaan sahabat pamannya itu.

"Aku yakin dia tidak mengatakan apapun." Kakashi menyeringai. "Sasuke terus mengejar Sakura dan entah bagaimana ada karyawan yang tahu jika Sasuke sudah menikah. Lalu mulai beredar gosip jika Sakura meninggalkan kekasihnya dan menggoda pria beristri demi uang. Aku yakin mereka akan menutup mulut jika tahu siapa Gaara sebenarnya."

"Dan asal kau tahu karena adikmu itu aku diteriaki dan dibentak-bentak oleh gadis kecil bahkan ia menunjuk hidungku dengan penuh amarah." Kakashi tertawa mengingat bagai mana ia dipermalukan gadis itu didepan bawahannya.

"Aku pikir mereka akan kembali bersama jika Sasuke kemari. Lagipula Sasuke dan Karin sudah bercerai." Itachi mengacak rambutnya karena telah mengambil keputusan yang salah dan menyakiti Sakura.

"Sepertinya Sakura sangat mencintai kekasihnya. Kau tahu dia terus menghindari Sasuke setiap jam makan siang. Lagipula hidup itu terus maju tidak mungkin Sakura terus mencintai adikmu saat dia sudah mencampakannya dan menikahi wanita lain." Itachi mengiyakan ucapan Kakashi, bagaimana mungkin Sakura akan terus mencintai Sasuke setelah apa yang dilakukan adiknya.

Kakashi keluar tanpa permisi, bahkan Itachi tidak menyadari jika pria itu telah meninggalkan ruangannya.

o0o

Sakura sibuk dengan tablet ditangannya, ia sedang berbaring diranjang Gaara sesekali bibirnya berguman bagus atau manis. Sementara kekasihnya duduk dengan laptop dipangkuannya.

"Lihat ini, menurutmu bagaimana?" Gaara melirik tablet yang disodorkan Sakura. Gadis itu sedang memilih desain undangan pernikahan mereka.

"Bagus." Gaara memperhatikan undangan berwarna merah hati dengan pita besar berwarna gold, sangat elegan pikirnya.

"Bagaimana dengan ini?" Sakura menggerakan jarinya sehingga gambar berganti dengan undangan berwarna putih dengan pita biru.

"Ini juga bagus." Undangan itu terlihat lebih simpel menurut Gaara.

"Kalau yang ini?" Gaara terdiam melihat undangan berwarna peach dengan pohon sakura dan sepasang pengantin pada kertas dalamnya dan amplopnya berwarna peach dengan pita merah.

"Ini cantik." Pujinya.

"Sudah ku duga kau akan menyukainya." Sakura tertawa riang. "Aku akan minta rambut mereka diganti pink dan merah."

Gaara menutup laptopnya dann meletakannya di nakas. Ia meraih tubuh Sakura dan menariknya kepangkuannya. Gadis itu tidak terusik dan tetap fokus pada gadget yang ia pegang. Hingga sebuah kecupan di pipinya menarik atensinya dan menoleh pada kekasihnya. Gaara mendekatkan wajahnya dan melumat lembut bibir bawah Sakura. Selama ini ia bersikap hati-hati saat menyentuh Sakura karena tidak ingin membuatnya meeasa tidak nyaman dan ia juga masih belum yakin dengan perasaan gadis itu.

Sakura sedikit berjengit mendapati perlakuan Gaara namun kemudian gadis itu tersenyum. Membiarkan kekasihnya kembali mencumbunya, Sakura membalas setiap lumatan dari Gaara. Ia menyukai bagaimana pemuda itu menciumnya terasa manis dan lembut.

Sakura sangat bahagia memiliki Gaara disisinya. Bagi Sakura Gaara adalah perwujudan malaikat yang dikirimkan Tuhan untuknya.

"Kau percaya benang merah takdir?" Gaara bertanya pada Sakura.

"Aku percaya." Sakura mengangguk, ia ingat jika ibunya dulu mengatakan setiap pasangan terikat benang merah di jari kelingkingnya.

"Kau ingat saat kita pergi ke kuil di desa Oni no kuni?" Sakura mengangguk sebagai jawaban jika ia ingat. "Miko di Kuil itu bernama Shion, ia bisa melihat masa depan."

Sakura tidak mengerti kemana arah pembicaraan kekasihnya. Ia ingat saat pergi ke Oni no Kuni ada seorang Miko muda bernama Shion tapi ia tidak tahu jika sang Miko bisa melihat masa depan.

"Miko itu mengatakan jika kita terikat dengan benang merah." Sakura terkejut mendengar ucapan Gaara. "Tapi ia bilang benang itu terlihat sangat kusut dan tersangkut. Aku harus bersabar dan perlahan menguraikannya, menunggu tanpa memaksa memutuskan tali yang tersangkut meski itu menyakitkan. Jika aku bisa melakukannya maka aku mendapatkan kebahagianku."

Sakura hanya bisa menutup mulutnya mendengar cerita Gaara. Itukah alasan kekasihnya terus menunggunya meski ia terluka. Ia percaya pada gadis Miko itu, ia percaya jika dirinya adalah takdirnya. Sakura memeluk kekasihnya erat.

"Arigato telah mencintaiku. Terimakasih sudah menungguku. Terimakasih karena tidak pernah melepaskanku. Aku mencintaimu."

TBC

Thanks for reading

Review please

With love,

Lovely odapus

03912020