Hal pertama yang kurasakan adalah, aroma perpaduan antara kayu dan lemon, Sangat menenangkan dengan pencahayaan yang lembut. Dinding dan langit-langitnya berwarna merah gelap. Ada borgol penahan di setiap sudut. Disamping pintu terdapat berbagai macam alat yang mengerikan bagiku, dan yang kutahu hanyalah sebuah cambuk pendek dan alat berbulu yang terlihat lucu.
Tidak jauh dari sana, ada sebuah lemari dengan banyak laci. Sejenak aku berfikir, apa yang ada didalam laci-laci itu?
Tapi apa yang mendominasi ruangan ini adalah sebuah ranjang. Yang mana terlihat lebih besar dari ukuran king-size, dengan empat tiang di masing-masing Ujungnya, Aku dapat melihat lebih banyak borgol-borgol di dekatnya.
Ruangan ini memiliki pencahayaan murung. Dinding-dindingnya berwarna gelap, dan banyak furniture berbahan kayu disini, membuat ruangan ini berkesan lembut dan romantis. Dan.. aku mengerti, ini adalah sisi lembut dan romantis dari Chanyeol.
Aku berbalik untuk menatapnya sebentar, dan dia menatapku dengan ekspresi yang tak dapat dibaca. Aku berjalan lebih jauh ke dalam ruangan, dan dia mengikutiku. Sesuatu membuatku tertarik, dan emm.. itu seperti cambuk..?
"Itu disebut flogger," Chanyeol menjelaskan.
Sungguh, sepertinya calon kekasihku—sebut saja begitu— benar-benar seorang sadis, atau mungkin masokis. Dan aku merasa.. Takut. Ya, perasaan itu mendominasi diriku. Tapi aku tau dia tidak akan menyakitiku, yah, tidak tanpa persetujuanku.
Aku berjalan menuju ranjang dan menyentuh salah satu tongkat berukir, kelihatannya sangat kokoh, dan akan sangat menyakitkan jika seseorang memukulmu dengan itu.
"Katakan sesuatu," Suara Chanyeol mengalun halus ditelinga. Aku sempat tertegun mendengarnya.
"Apakah kau melakukan yang ini kepada orang-orang atau mereka melakukannya untukmu?" Tanyaku.
"Aku melakukan ini pada wanita yang sudah menandatangani perjanjian."
"Wanita?" Aku mengernyit.
"Ya, kau tau aku tidak tertarik pada Pria." Dia mengangkat bahunya.
Aku ingat, dia mengatakan mengenai hal itu saat wawancara.
"Lalu, mengapa kau menyuruhku melakukan ini? Aku ini Pria jika kau lupa." Aku memutar mataku malas.
Dia menatapku tajam lalu berjalan mendekat. "Ya, kau Pria. Pria paling cantik yang pernah kulihat selama hidupku, Pria 'berbeda' yang berhasil menarik perhatianku." dia menjeda. "Dan, bukankah sudah ku beri tahu untuk tidak memutar matamu, Tuan Byun?" Bisiknya. "Dan yang harus kau tahu, aku bisa melakukan ini dengan siapapun yang aku mau. Aku punya banyak uang dan orang-orang menginginkan diriku." Dia bersuara.
Lihat, dia sangat sombong.
"Jika begitu, mengapa tidak kau suruh saja orang lain melakukannya?"
"Karena aku ingin melakukan hal ini denganmu Baekhyun. Sangat ingin. Hanya denganmu." Dia mendesah putus asa.
Aku terkesiap. Ini pertama kalinya bagiku melihat wajah putus asa nya. Tapi mengapa, Mengapa aku? Aku bertanya-tanya.
Aku berjalan ke sudut ruangan dan mendudukkan diri disana. "Chan, kau itu seorang sadis atau semacamnya ya?" aku mendongak untuk menatapnya.
"Aku seorang Dominan." Manik abu-abunya menatap tajam.
Aku menelan ludah kasar. "Dan.. apa artinya?" Bisikku.
"Artinya aku ingin kau menyerahkan dirimu padaku, dalam segala hal."
"Untuk apa aku melakukan itu?"
"Untuk menyenangkanku." bisiknya sambil memiringkan kepalanya ke satu sisi.
Mulutku mengaga. Membuatnya senang katanya?
"Bagaimana aku melakukannya?" Aku mencicit pelan, tenggorokanku terasa sangat kering sekarang.
Dia melipat kedua tangannya didepan, menatapku dengan tajam. "Aku punya aturan, dan aku ingin kau mematuhinya. Semuanya untuk kesenangan mu dan untuk kesenanganku. Jika kau mengikuti aturan untuk kepuasanku, aku akan menghargaimu. Jika tidak, aku akan menghukummu." Dia berbisik. Dan dengan refleks, Aku melirik tongkat yang tadi ku pegang saat ia mengatakan ini.
"Lalu, apa hubungannya dengan semua ini?" Aku menunjuk ke sekeliling ruangan.
"Ini? Ini merupakan pendukung. Kau bisa mendapatkan ini Baik untuk penghargaan maupun untuk hukuman."
"Jadi kau akan menggunakan alat-alat ini padaku? Seperti memasangkannya pada tubuhku?" Aku berkata frontal. Dan dia terlihat terlihat sedikit terkejut tadi. Sial, aku jadi malu.
"A-ah, lupakan." Kataku menahan malu. Dia menyeringai.
"Oke, apa yang akan aku dapatkan dari semua ini?" Kataku mengabaikan seringaiannya.
Dia mengangkat bahu dan menaikkan kedua alisnya. "Aku." katanya singkat.
Aku mengernyit ketika dia mengatakannya.
"Mari kita kembali ke lantai bawah di mana aku bisa berkonsentrasi lebih baik. Terasa sangat mengganggu mengobrol denganmu di ruangan ini." Ia berbisik serak, lalu mengulurkan tangannya.
Aku menatap kosong kearah uluran tangannya. sekarang aku menjadi ragu untuk meraihnya, entah. Aku hanya merasa sedikit tidak nyaman. Sebagian dari diriku tak menginginkan hal ini, dan Sebagian yang lain berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Aku tak akan menyakitimu Baekhyun." Manik kelabunya memohon, dan aku seperti merasa bahwa yang ia katakan adalah tulus dari hatinya. Jadi aku menerima uluran tangannya. Senyum samar terukir di wajah dinginnya, lalu dia membawaku keluar.
•
•
•
"Jika kau menyetujui hal ini, aku akan menunjukkan sesuatu." Alih-alih turun ke lantai bawah, dia membawaku berbelok. Melewati beberapa pintu sampai kami tiba di ujung. Terdapat kamar tidur dengan ranjang yang besar disana, semuanya serba putih. Furniture, dinding, ranjang, semuanya berwarna putih. Tampak bersih dan dingin. Namun kaca besar yang menyajikan pemandangan kota Seoul membuat kamar ini menjadi sedikit terasa hangat.
"Ini akan menjadi kamarmu. Kau bisa menghiasnya seperti yang kau inginkan." Ia berucap tenang.
"Kamarku? Aku harus pindah kesini?"
"Tidak setiap hari. Hanya hari Jumat malam sampai Minggu. Kita harus berunding dan bicara tentang semua ini. Jika kau menyetujui semua ini tentu saja." tambahnya.
"Aku akan tidur di sini?"
"Ya."
"Denganmu?"
"Tidak. Seperti yang kukatakan, aku tidak tidur dengan siapa pun. Hanya sekali saat kau mabuk parah." Katanya mengungkit kejadian kemarin malam.
"Di mana kau tidur?"
"Kamarku di lantai bawah." Katanya singkat. "Ayo, Kau pasti lapar." lanjutnya.
"Tidak. Sepertinya aku telah kehilangan nafsu makanku." gumamku kesal.
"Kau harus makan Baekhyun." Dia menasihati lalu menggenggam tanganku, membawaku kembali ke lantai bawah.
π
Fikiranku dipenuhi dengan pertanyaan dan keraguan sekarang. Gambaran singkat dari semua hal ini adalah, anggap saja aku sedang berada tepi jurang, dan aku harus memutuskan apakah aku akan melompat atau tidak.
Chanyeol melirik kearah ku sebentar. "Aku sepenuhnya sadar bahwa ini adalah jalan yang gelap dan aku menuntunmu ke dalamnya Baekhyun. Jadi aku ingin kau benar-benar berfikir tentang hal ini. Kau pasti memiliki beberapa pertanyaan."
Ya, Aku punya pertanyaan. Banyak! Tapi harus dimulai dari mana?
"Kau sudah menandatangani perjanjiannya, Kau dapat bertanya apapun yang kau inginkan, dan aku akan menjawab." Ia tersenyum.
Aku memperhatikannya saat ia membuka lemari es dan mengeluarkan sepiring keju yang berbeda dengan dua ikat besar anggur hijau dan merah. Ia menata piring di atas meja dan meletakkan roti baguette disana.
"Duduklah." Chanyeol menunjuk ke salah satu kursi di meja bar, dan aku menuruti perintahnya. Jika aku setuju untuk melakukan ini, aku harus membiasakan diri bukan?
"Selain dokumen perjanjian, ada dokumen kontrak, kita bisa merundingkan mengenai hal yang boleh dilakukan dan tidak disana. Aku ingin kita melakukan ini dengan dasar suka sama suka, Baekhyun." Ia menjelaskan.
"Dan jika aku tidak ingin melakukan ini?"
Ia menatapku sebentar lalu tersenyum. "Itu tidak apa." katanya lembut, Tapi wajahnya menunjukkan kalau ia kecewa.
"Kita tak akan memiliki semacam hubungan?" Aku bertanya.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Ini satu-satunya jenis hubungan yang bisa aku lakukan." Katanya singkat.
"Kenapa?"
Dia mengangkat bahu. "Ini diriku."
"Bagaimana kau bisa menjadi seperti ini Chanyeol?"
"Mengapa ada orang seperti aku? Itu agak sulit untuk dijawab. Mengapa beberapa orang suka keju dan beberapa membencinya? Apakah kau suka keju?" Dia mengambil dua piring putih besar dari lemari dan menempatkan satu di depanku. Yeah, dia mengalihkan pembicaraan.
"Aturan apa darimu yang harus aku ikuti?" Tanyaku kembali pada topik pembicaraan sebelumnya.
"Aturannya tertulis. Kita akan membahasnya setelah makan."
Bagaimana aku bisa makan dengan fikiran berkecamuk seperti ini?
"Aku benar-benar tidak lapar Chanyeol." Cicitku pelan.
"Kau harus makan." katanya singkat. "Apakah kau ingin wine?"
"Emm.. mungkin ya." Kataku ragu.
Dia menuangkan wine ke dalam gelasku dan duduk di sampingku. Aku segera meneguk anggurnya dalam satu tegukan. Dan dia menatapku aneh.
"Makanlah, jangan hanya minum itu."
Aku mengambil seikat kecil anggur lalu melahapnya satu persatu. "Kau sudah melakukan ini sejak lama?" tanyaku.
"Ya."
"Apakah semudah itu untuk menemukan wanita yang mau melakukan ini?"
Dia mengangkat alis ke arahku. "Sangat mudah." katanya datar.
"Lalu mengapa aku? Aku benar-benar tak paham."
"Baekhyun, sudah kukatakan. Kau berbeda." Dia menatapku serius. "Aku benar-benar sangat menginginkanmu, terutama sekarang, saat kau menggigit bibirmu lagi." Dia mengambil napas panjang dan menghembuskannya kasar.
Hentikan Chanyeol, kau membuat jantungku seperti akan melompat keluar.
"Makanlah." Katanya sambil menatapku.
"Tidak. Dan Chanyeol, Aku belum menandatangani apa pun yang berkaitan dengan kontrak, jadi aku masih ingin memikirkan hal ini dan menikmati kebebasanku, jika kau mengizinkan." Aku balik menatapnya, sorot matanya melembut, ia tersenyum.
"Kau bisa melakukan apa yang kau mau Tuan Byun."
Aku mengangguk pelan, lalu memikirkan hal yang sangat menggangguku sedari tadi. "Emm Chanyeol, Sudah berapa banyak wanita yang melakukan perjanjian denganmu?"
"Lima belas." Singkatnya.
Aku mengangguk lagi, lalu melanjutkan pertanyaanku "Apakah kau pernah menyakiti seseorang?"
"Ya."
Sialan.
"Parah?"
"Tidak."
"Akankah kau menyakitiku?"
"Apa maksudmu?" Dia mengernyit.
"Secara fisik, akankah kau menyakitiku?"
"Aku akan melakukannya ketika kau meminta, dan mungkin akan menyakitkan."
Aku merasa tubuhku melemas. Jadi aku meneguk wine didepanku lagi. Alkohol ini akan membuatku menjadi berani bertanya lebih banyak.
"Apakah kau pernah diperlakukan tidak baik, seperti disiksa atau semacamnya?" Tanyaku.
"Ya."
Oh, itu mengejutkanku.
Dan Sebelum aku bisa menanyainya lebih jauh, dia menyela. "Mari kita bahas ini di ruang kerjaku. Aku ingin menunjukkan sesuatu."
Aku mengikutinya ke ruang kerjanya, ruangan yang sangat luas dengan jendela besar yang menampilkan pemandangan luar. Dia duduk di kursinya, aku mengikuti dengan duduk di kursi si depannya.
"Ini adalah aturan-aturannya, ini bagian dari kontrak. Isinya masih bisa dirubah. Bacalah, setelahnya mari kita bahas." Ia menyerahkan selembar kertas besar padaku.
ATURAN
Yang harus dipatuhi:
•Submisiv harus mematuhi setiap instruksi yang diberikan oleh dominan langsung tanpa ragu atau keengganan dan dengan cara yang cepat.
•Submisiv harus menyetujui segala aktivitas seksual yang dianggap cocok dan menyenangkan dengan dominan, Dia (Submisiv) harus melakukannya dengan penuh semangat dan tanpa ragu.
Tidur:
•Submisiv akan dipastikan mendapatkan minimal tujuh jam tidur per malam ketika ia tidak bersama dengan Dominan.
Makanan:
•Submisiv harus makan secara teratur untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan.
•Submisiv tidak boleh makan camilan, kecuali buah.
Pakaian:
•Saat bersama dominan, Submisiv akan mengenakan pakaian yang disetujui oleh Dominan.
•Dominan akan menyediakan anggaran pakaian untuk Submisiv, dan Submisiv akan memakainya.
•Dominan akan menemani Submisiv membeli pakaian dengan kegunaan khusus.
• Jika Dominan sangat menginginkan, Submisiv harus mempercantik diri sesuai keinginan Dominan.
Kebugaran:
•Dominan akan menyediakan pelatih pribadi empat kali seminggu, setiap sesi berlangsung selama satu jam pada waktu yang disepakati bersama antara pelatih pribadi dan Submisiv. •Pelatih pribadi akan melaporkan kepada Dominan tentang kemajuan Submisiv.
Kebersihan Pribadi / Kecantikan:
•Submisiv akan menjaga kebersihan diri, mencukur, atau melakukan wax setiap waktu.
•Submisiv akan mengunjungi salon kecantikan yang dominan pilih dan waktunya yang akan ditentukan oleh Dominan, dan menjalani perawatan apa pun yang dilihat cocok oleh Dominan.
Keselamatan Pribadi:
•Submisiv tidak boleh minum berlebihan, merokok, menggunakan obat-obatan terlarang atau tidak menempatkan dirinya dalam kondisi berbahaya.
Kualitas pribadi:
•Submisiv tidak boleh melakukan hubungan seksual dengan orang lain selain dengan Dominan.
•Submisiv harus bersikap hormat dan sopan setiap saat.
•Submisiv harus menyadari bahwa perilakunya adalah refleksi langsung dari Dominan.
•Submisiv harus bertanggung jawab atas semua kejahatan, kesalahan dan perilaku buruk yang dilakukan saat tidak dengan Dominan.
*Jika gagal mematuhi apa yang tertera di atas Submisiv aknn diberi hukuman yang di tentukan oleh dominan.*
_
"Ada yang ingin kau ubah?" Suaranya.
"Aku tidak ingin menerima uang. Rasanya aneh." Kataku. Karena entahlah, kata 'Pelacur' terngiang begitu saja di kepalaku.
"Aku harus memberimu uang, seperti untuk membelikanmu beberapa pakaian. Karena aku ingin kau menemaniku untuk pergi ke berbagai acara, dan aku ingin kau berpakaian dengan baik. Aku yakin gajimu tak akan cukup untuk membeli jenis pakaian yang aku inginkan untuk kau pakai." Jelasnya.
Ya benar, gaji ku tidak akan cukup untuk membeli jenis pakaian yang dia inginkan. Dia itu kan Richard Park, si billioner muda yang tampan. Pasti selera pakaiannya sangat-sangat tinggi, sangat berbeda denganku yang nyaman memakai celana jeans dan kaos casual, Fikirku.
"Aku tak harus memakainya saat aku tidak bersamamu kan?"
"Tidak."
"Baiklah." Jawabku. Anggap saja itu hanyalah seragam yang harus kupakai saat sedang bersamanya.
Dia mengangguk, menungguku untuk mengatakan hal lain yang ingin kuubah.
"Aku tidak bisa hidup tanpa Camilan." Kataku.
Chanyeol menatapku heran. "Tapi mereka tidak baik untuk kesehatanmu."
"Camilan atau cari partner lain untuk melakukan hal ini." Kataku tegas.
"Baiklah, tapi tidak berlebihan." Ia menghela nafas.
"Dan aku tak ingin olah raga empat kali seminggu." Kataku cepat.
"Baekhyun, aku ingin kau menjadi sehat, kuat dan berstamina. Percayalah, kau perlu olah raga." Dia meyakinkan.
"Tapi tentunya tak perlu empat kali seminggu, bagaimana kalau tiga kali?"
"Aku ingin kau melakukannya empat kali." Dia bersikeras. Seperti biasanya.
"Bukankah ini adalah negosiasi?" Kataku sambil mengerucutkan bibir.
Dia menghela nafas. "Baiklah Tuan Byun, Kau bisa mengubah aturannya. Dan, apakah kau tidak ingin magang di perusahaanku? Kau seorang negosiator yang cerdas." Dia tersenyum mengejek.
"Tidak, itu bukan ide yang bagus. Dan terimakasih atas pujiannya Chanyeol." Jawabku sambil meniru senyum mengejeknya.
Dia terkekeh, lalu menjulurkan selembar kertas padaku. "Ini adalah batas-batas kekerasan, yang ini berlaku untukku."
BATAS KEKERASAN
1.Tidak boleh ada tindakan yang melibatkan jarum, pisau, menusuk, atau darah.
2.Tidak boleh ada tindakan yang akan meninggalkan suatu bekas permanen pada kulit.
3. Tidak boleh ada tindakan yang melibatkan sesak napas.
_
Ugh. Pasti dia sendiri yang membuat peraturan ini! Ini sangat mudah untuk dilakukan, tidak seperti peraturan untukku. Karena tentu saja, Setiap orang yang waras pasti tak akan melakukan hal semacam ini kan?
"Apa ada sesuatu yang ingin kau tambahkan?" Tanyanya dengan ramah.
Apa yang harus ku tambahkan? Aku benar-benar bingung.
Dia menatapku dan kening berkerut. "Apakah ada sesuatu yang tak ingin kau lakukan?"
"Aku tak tahu." Kataku pelan.
"Apa maksudmu kau tak tahu?"
Aku menggeliat tak nyaman dan menggigit bibirku. "Aku belum pernah melakukan hal seperti ini."
Ia semakin mengernyitkan keningnya.
"Ketika kau melakukan seks, ada sesuatu yang tak kau sukai?" Ia menjelaskan. "Kau dapat memberitahuku. Karena bisa saja aku tidak sengaja melakukan hal yang tidak kau sukai saat berhubungan seks nanti."
Aku menggeliat tak nyaman lagi dan menatap jariku yang saling bertautan.
"Katakan padaku." Perintahnya.
"A—aku tidak tahu.. Aku belum pernah berhubungan seks sebelumnya, jadi aku tak tahu." Suaraku lirih. Aku Mengintip ke arahnya. Dan dia menatapku dengan wajah terkejut, dan pucat. Benar benar pucat.
"Belum pernah?" Bisiknya.
Aku menggeleng.
"Kau masih perawan?" Dia memperjelas.
Aku mengangguk.
Chanyeol menutup matanya, sekitar sepuluh detik. Dan saat ia membuka matanya, dia terlihat marah, sorot matanya menatapku tajam.
"Mengapa kau tak memberitahuku?" Ia menggeram marah
TBC
