Cerita ini original milik penulis a.k.a Chanie (chaniethor)
Cerita ini merupakan fanfiksi, tidak bermaksud menjelekkan pihak manapun (I Love BTS :*)
BTS Fanfiction
Polar opposite
Hukum kutub yang berlawanan adalah tarik-menarik, bukan tolak menolak.
[15]
-Polar Opposite-
15
.
.
.
Gila. Rasanya Taehyung hampir gila.
Taehyung tidak mengerti mengapa, tapi ia merasa sebentar lagi mungkin memang akan gila. Ia tidak bisa menahannya. Sungguh, ingin pecah kepalanya.
Pikirannya kembali pada cita-cita, impian masa muda, sebagai seorang alpha. Sebagai sosok yang selalu berusaha membuat mendiang ibunya bangga. Berkat masa lalu yang mengajarkannya, Taehyung bertekat untuk menjadi alpha yang kuat dan akan memberikan kehidupan yang indah untuk keluarga di masa depannya. Taehyung tidak pernah ingin muluk. Dia hanya ingin seorang omega yang mencintainya, sehat, dan bersedia sehidup-semati menjalani kehidupan berumahtangga dengannya.
Taehyung tidak pernah sedikitpun berdoa, bahwa omeganya adalah bangsawan yang kaya, yang begitu berbeda dunia dengannya. Taehyung juga tidak pernah sedikitpun mengkhayal, bahwa ia harus berjuang mempertahankan takdir—atau dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
Taehyung tidak ingin menjadi alpha yang seperti ayah tirinya. Ia tidak ingin harus kembali bersama Yoongi—matenya—setelah Yoongi mempunyai anak dari Jungkook—atau siapalah itu. Pada dasarnya, alpha tidak begitu menyukai keturunan alpha lain yang dilahirkan omega-matenya. Itu naluriah.
Tapi, Taehyung juga tidak tahu harus bagaimana. Memangnya Yoongi akan 'iya' saja jika Taehyung memintanya untuk membatalkan pertunangan mereka? Taehyung kan tidak tahu bagaimana perasaan Yoongi padanya.
Perasaan sesungguhnya dari manusia dan gelora takdir itu bias.
Tidak ada yang bisa memastikan, dan mungkin hanya sebagian orang yang beruntung yang bisa melewatinya. Taehyung tidak ingin bertaruh untuk itu. Terserah untuk bias perasaan yang mungkin tengah dihadapinya, Taehyung hanya tahu—bukan alpha itu yang bisa memiliki Yoongiku!
Untuk itu, Taehyung berlari membongkar laci dan lemari. Tidak ada orang di rumah saat ini, sehingga tidak ada yang berkicau heran pada kegaduhan yang ia timbulkan. Taehyung kemudian berlari keluar, menuju rumah Hoseok. Ia tadi mencari kunci—kunci cadangan ke rumah Hoseok.
"Hyung, kau bisa memukulku nanti," gumam Taehyung setelah berhasil membuka pintu dan bergegas mencari lemari.
Hoseok tidak ada di rumah, tentu saja. Taehyung bisa menduga bahwa Hoseok mungkin sedang sangat sibuk menyiapkan acara sore ini. Mungkin, Hoseok malah menjadi bagian penting dalam persiapan acara—Taehyung sih tidak peduli. Meskipun sejenak ia merasa khawatir kalau Hoseok akan menjadi korban tindakannya nanti, Taehyung tetap bergegas mengancingkan kemeja dan mengenakan sarung tangannya.
"Yap, kau tampan, Taetae!" Serunya sendiri ketika bercermin. "Kostum pestaku sudah siap, waktunya berangkat!" Serunya lagi setelah memastikan penampilannya sempurna. Penampilan sempurna menjadi seorang butler.
Ya, Taehyung akan menyusup sebagai butler sore ini.
.
.
-Polar Opposite-
.
Yoongi cemas. Ia tidak bisa berhenti membuat ibu jarinya terluka dengan terus menggingitinya tanpa sadar. Yoongi tidak menyukai situasi ini, tapi juga tidak mengerti harus bagaimana lagi. Ia tidak bisa semerta-merta membatalkan semuanya, Ia tidak ingin membuat Jungkook terluka juga. Tapi, Ia tidak ingin melakukannya. Ia tidak mau bertunangan.
Aku masih muda, sialan! Kenapa aku harus bertunangan?! Kenapa juga aku harus mengalami semua ini!?
Yoongi diam, tapi batinnya berteriak. Ia muak, mengapa dia harus berada di situasi ini sekarang? Serendah itukah posisi omega yang menyatu dalam dirinya?
"Sialan, aku ini Tuan Muda!" Yoongi menggeram hampir tanpa suara. Persetan dengan perintah Mamanya untuk bersiap karena sudah hampir memasuki acara. Yoongi tidak peduli dengan itu semua. Yoongi ingin keluar dari tempat ini.
Tapi bagaimana…?
"Hoseok!"
Yang diteriaki namanya lekas berlari menghampirinya. Dengan sikap hormat, Hoseok berdiri di sebelah Yoongi yang tidak seperti biasanya tengah menatapnya dengan sangat murka. "Kenapa kau diam saja?!"
Suara Yoongi tinggi, tapi rendah volumenya. Hoseok tahu, Yoongi murka tapi juga tidak ingin membuat perhatian semua orang terpusat pada teriakannya. Hoseok menunduk, tidak berani bicara.
"Bukankah kau seharusnya memikirkan sebuah rencana?! Kenapa kau malah mengikuti Mama?!" Yoongi kembali bertanya dengan murka.
"Aku…" Yoongi seketika ragu untuk melanjutkannya. Lidahnya kelu, tapi sesuatu menggelitik seisi perutnya. Hawa panas mulai menyambut kedua pipinya, menepuk lembut, dan membuatnya otomatis sedikit menunduk. "…Mate adikmu," imbuhnya lirih.
Sialan..
Yoongi mengumpat dalam hati. Mengapa ini terasa memalukan?! Pikiran Yoongi mendoktrin kalau dia sebenarnya tidak peduli masalah Taehyung lagi—semoga—yang ada di pikirannya hanya 'bagaimana cara kabur dari situasi ini'. Ya, anggap saja ia baru saja sengaja membawa nama Taehyung sebagai alasan meminta tolong pada Hoseok, butler yang Yoongi harapkan bisa menolongnya.
"Hoseok, pikirkan sebuah cara…" ujar Yoongi kesal.
Hoseok masih diam saja. Padahal Yoongi sudah menunjukkan wajah murkanya. Hanya helaan napas yang Yoongi terima, membuatnya semakin merasa putus asa.
Harus bagaimana..
Yoongi kembali mendengar hela lelah jiwa omeganya. Pasti omeganya juga tidak ingin dia bertunangan segera. Terlepas dari keinginan khusus yang berbeda, intinya Yoongi dan omega dalam dirinya menginginkan pergi dari situasi ini. Ketika ia mulai serius merenungi, Hoseok tiba-tiba bertanya padanya.
"Saya belum bisa membantu anda, Tuan." Yoongi mengangkat kepalanya, untuk melihat Hoseok yang berusaha berbicara. "Saya tidak tahu apa yang akan Tuan Min lakukan pada anda, maupun adik saya jika saya membantu anda."
"Hoseok.."
Hoseok menggeleng, dan Yoongi semakin putus asa. Satu-satunya harapannya hanya bisa diam patuh pada sang Mama. Siapa lagi yang bisa ia harapkan..
Taehyung..
Yoongi terhenyak, ia lekas mengangkat kepalanya. Benar, Taehyung mungkin bisa mengeluarkannya dari situasi ini. Hoseok mungkin tidak bisa karena sumpah setianya pada keluarga Min untuk selalu patuh, tapi Taehyung tidak terikat semua itu. Taehyung mungkin bisa—seketika bayangan wajah murka tertahan sewaktu di taman mulai Yoongi ingat.
Benar, Taehyung terlihat tidak suka.
Dengan begitu, Taehyung mungkin akan mengacaukan acara hari ini. Hanya perlu sedikit cara supaya Taehyung tidak dikuliti hidup-hidup oleh mama, dan ini bagian Yoongi untuk mengarahkannya. Maka, ia kembali menatap Hoseok dan meminta ponselnya.
"Untuk apa, Tuan?" tanya Hoseok padanya.
"Menghubungi Taehyung.."
Hoseok mengerjap, diam-diam terkejut luar biasa. Bukankah Taehyung tidak tahu perihal ini? Hoseok sengaja tidak mengabarinya memang. Tuan Min yang marah cukup berbahaya—mungkin akan mencelakai adik kesayangannya itu.
Hoseok menatap Yoongi yang tengah serius mengetik pesan dengan ponselnya. Ia sengaja tidak berbuat apa-apa karena untuk keselamatan mereka. Lagipula, Taehyung dan Yoongi berbeda dunia, dan Tuan Min sudah mulai menunjukkan otoritasnya sebagai penghalang mereka.
"T-tapi, Taehyung tidak tahu—"
"Dia tahu, kok. Tadi siang kami bertemu di taman, Jungkook yang mengundangnya. Jadi, dia tahu." Jawab Yoongi, terlihat santai saja. Tidak peduli bahwa ekspresi Hoseok semakin tidak percaya. Ada sesuatu yang membuat dada Hoseok nyeri, membayangkan bagaimana terlukanya Taehyung mendengar undangan ini tadi.
Hoseok bersusah payah menelan ludahnya. Mengabaikan rasa tidak nyaman, sekaligus cemas memikirkan keadaan adiknya. Hoseok mulai berpikir, bagaimana cara menyelamatkan mereka sekarang. Hoseok tidak bisa diam membiarkan Yoongi merencanakan semuanya. Meskipun Yoongi sedang mengarahkan Taehyung untuk mengacaukan acara ini dengan ponselnya, tidak ada jaminan bahwa rencananya akan sempurna. Salah sedikit bisa kacau luarbiasa. Nyawa bisa jadi taruhannya.
Taehyung tidak boleh ketahuan oleh Tuan Min..
Itu adalah satu-satunya tujuan yang bisa Hoseok pikirkan sekarang. Terserah apakah acara ini benar bisa dibatalkan atau tidak, tapi mencegah pertemuan Tuan Min dan adiknya dirasa lebih prioritas. Hoseok tidak mau Taehyung menjadi incaran kemurkaan Tuan Min, Hoseok harus mencegah pertemuan mereka. Maka, Hoseok mulai memicing pada Yoongi dengan gesture berpikirnya.
Hal pertama yang harus dilakukan..
"Tuan Muda," seru Hoseok penuh hormat. Yoongi merasa terpanggil, dan bergegas menatap Hoseok tengah menatapnya juga. "Apa anda perlu melakukan semua ini?"
Yoongi seketika mengerutkan kening, dan dengan cepat menjawab 'tentu saja!'. Hoseok terlihat masih mengerutkan keningnya juga, membuat Yoongi jadi penasaran dengan kata yang ingin Hoseok ucapkan selanjutnya.
"Tapi, bagaimana dengan Tuan Jungkook?"
Yoongi mendengus, lekas berdecak juga. "Ckck..Tidak usah dipedulikan. Aku akan menghadapinya nanti, yang penting aku harus pergi dulu!"
Yoongi kembali menatap pesan yang ia tulis di ponsel Hoseok, dan kembali meneruskan ketikannya dalam kotak tulis pesan. Ia tampak antusias sekali, sampai senyum gilanya terpampang berkali-kali. Senyum penuh ambisi, Hoseok menilai senyum itu cukup jarang ia temui pada Yoongi akhir-akhir ini.
Maafkan saya, Tuan Muda.
Hoseok begitu senang untuk melihat senyum itu lagi, makanya ia merasa bersalah sekarang ini. Tapi, ia merasa perlu melakukannya. Ia harus memastikan sesuatu.
"Tuan muda," ujar Hoseok, dengan nada hormat yang sama.
Yoongi kembali mengangkat kepalanya. Hoseok tampak tersenyum penuh makna. Yoongi dibuat was-was karenanya.
"Ada apa?" Tanya Yoongi, pada pelayanannya. Yoongi tidak lekas mendapatkan jawabannya, maka ia bermaksud kembali fokus untuk mengirimkan pesannya. Sayang, pertanyaan Hoseok berikutnya nyaris membuat sendinya kaku, dan gatal untuk mengirimkan pesan yang sudah ditulisnya..
.
Pertanyaan yang tidak pernah ia dengar lagi sejak waktu yang lama..
.
"Bagaimana dengan Tuan Park Jimin…."
.
.
.
-tbc-
Mind to Review?
Cek WP dan twitter chanie di scramblegg_ dan scramblegg_au
thanks
Salam!
