Hal pertama yang Wei Wuxian sadari saat itu adalah ekspresi wajah pria di depan mereka. Dan tentunya, itu juga yang membuat Wei Wuxian pada akhirnya membuka suara dengan penuh keyakinan.

"Kau bukanlah pelakunya," ucapnya tertuju pada Lan Xichen.

Baik Lan Xichen dan Lan Wangji terkejut atas ucapan Wei Wuxian. Namun, setelah beberapa detik, Lan Xichen nampak berhasil menyatukan sesuatu di dalam pikirannya sendiri.

"Kalian..." Lan Xichen sedikit mengambil jeda, pandangannya beralih pada sosok adiknya sendiri, "Apa kalian berpikir masih ada pelaku yang belum tertangkap?"

"Mn," Wangji menjawab, "Ponsel yang kakak genggam mempunyai nomor milik sang pelaku."

Lan Xichen terlihat tak bergeming sedikitpun kala mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Lan Wangji. Hal itu juga tak luput dari pandangan Wei Wuxian.

"Xichen Laoshi," lagi, Wei Wuxian bersuara dan nampaknya berhasil menyadarkan Lan Xichen dari sesuatu yang seakan menahannya, "Apa... kau tahu siapa pemilik ponsel tersebut? Karena aku sangat yakin kalau itu bukanlah milikmu."

Lan Xichen masih terdiam, namun ia bisa mendengar semua perkataan Wei Wuxian dengan jelas. Ada kesunyian yang menyelimuti ketiganya untuk beberapa detik. Bagaimanapun, ketika Lan Xichen kembali membuka suara, Wei Wuxian seakan mendengar sebuah dentuman keras di telinganya secara tiba-tiba.

Dan tentu saja, hal tersebut membuat suara Lan Xichen terdengar samar di indera pendengarannya, menyisakan Wei Wuxian yang hanya bisa membaca pergerakan bibir sang guru.

"Ponsel ini... milik A-Yao."

.

.

.

Jika Wei Wuxian harus menjelaskan seberapa jauh ia mengenal Jin Guangyao, maka tentu hal itu tidak akan cukup jika ia hanya diberi waktu satu hari untuk menjelaskannya.

Hubungan Wei Wuxian dengan Jin Guanyao sendiri tidaklah berbeda dengan hubungan Wei Wuxian kepada teman-teman terdekatnya. Justru, kalau boleh ia jujur, meski nyatanya Jin Guangyao dan Lan Xichen seumuran, Wei Wuxian benar-benar sudah menganggap pria itu sebagai teman dekatnya sendiri dan bersikap seakan jarak umur diantara dirinya dan Jin Guangyao memang tidak pernah ada.

Hal itu sendiri, berawal ketika Jin Guangyao menceritakan tentang kisah hidupnya secara tiba-tiba saja pada Wei Wuxian di suatu hari—ketika Wei Wuxian singgah ke ruang kerjanya. Ia memang tidak bisa mengingat banyak apa saja yang telah Jin Guangyao katakan saat itu. Namun, ia ingat Jin Guangyao mengatakan bahwa dirinya memutuskan untuk bekerja di Gusu Academy agar ia bisa menutup biaya rehabilitasi yang dibutuhkan ibu kandungnya.

Wei Wuxian tidak pernah bertanya bagaimana ibu kandung Jin Guangyao bisa berakhir di pusat rehabilitasi. Namun, melihat ekspresi wajah Jin Guangyao yang terlihat berbeda beberapa hari itu, membuat Wei Wuxian yakin jika apa yang Jin Guangyao katakan adalah suatu hal yang benar.

Bagaimanapun, meski Wei Wuxian tahu itu semua, ia sama sekali tidak bisa menebak alasan apa yang membuat Jin Guangyao juga ikut ambil bagian dalam masalah ini. Terlebih lagi, menjatuhkan image Wei Wuxian di hadapan orang banyak.

Wei Wuxian tentu ingin bertanya pada Jin Guangyao, namun ia seakan tahu kalau ia tidak akan mendapatkan apa-apa pada akhirnya. Dan hal itu, membuat perasaan dan emosi Wei Wuxian sendiri berkecamuk.

Saat kedok Xue Yang dan Su She terbongkar, Wei Wuxian bisa bersikap acuh tak acuh pada hukuman yang akan menimpa keduanya. Namun, ketika ia tahu bahwa Jin Guangyao juga ikut ambil bagian dari semua ini... bagaimana ia harus bereaksi? Bagaimana ia bisa membayangkan nasib Jin Guangyao setelahnya jika Gusu Academy mengeluarkannya?

"Wei Ying."

Panggilan Lan Wangji yang terdengar pelan di telinganya, membuat Wei Wuxian sadar dari lamunannya sendiri. Ia bisa melihat raut khawatir yang terpampang di wajah kekasihnya tersebut.

Apa wajahku saat ini terlihat pucat? Wei Wuxian membatin.

Wei Wuxian membiarkan tangannya digenggam oleh Lan Wangji seiring langkah kaki mereka menuju ruang kerja Lan Xichen.

Menurut pengakuan Lan Xichen, ponsel tersebut ia temukan di sofa yang berjarak tidak jauh dari meja kerjanya. Dan juga ponsel itu sempat terselip di sela-sela bantalan sofa sehingga butuh waktu yang cukup lama bagi Lan Xichen untuk melacak bunyi yang keluar dari ponsel tersebut.

Saat Lan Xichen berhasil menemukan ponsel itu, dirinya secara tidak sengaja membuka salah satu pesan yang masuk. Lan Xichen sendiri tahu jika ponsel tersebut kemungkinan besar adalah milik Jin Guangyao, karena Jin Guangyao adalah satu-satunya orang terakhir yang singgah ke ruang kerjanya.

Dan saat Lan Xichen menerima telephone yang masuk, ia sangat terkejut ketika yang didengarnya saat itu adalah sebuah nada ancaman. Yang mana hal itu juga membuat Lan Xichen tanpa pikir panjang memutuskan untuk menemui seseorang di seberang telephone ketimbang memberitahu Jin Guangyao terlebih dahulu.

Sesampainya mereka di tempat yang dituju, napas Wei Wuxian seakan tercekat kala kedua matanya menangkap sosok Jin Guangyao yang entah sejak kapan telah berada di dalam ruang kerja milik Lan Xichen.

Jin Guangyao sendiri nampak sama terkejutnya dengan ketiga orang yang kini tengah menatap kearahnya. Tapi, ketika pandangannya beralih pada sesuatu yang tengah digenggam Lan Xichen, ia terlihat mengerti sepenuhnya.

Jin Guangyao menghindar dan sebisa mungkin tidak membalas tatapan Wei Wuxian. Dan hal itu semakin membuat Wei Wuxian frustasi karena pada akhirnya dugaannya pun benar, bahwa dirinya tidak akan mendapat apa-apa jika ia bertanya pada Jin Guangyao sekarang.

Lan Xichen mengisyaratkan Wei Wuxian untuk duduk terlebih dahulu. Sementara Lan Wangji dimintanya untuk membawa Jin Guangyao ke ruang kepala sekolah. Tidak banyak percakapan yang terjadi diantara mereka dan Jin Guangyao. Jin Guangyao sendiri pun seakan lebih memilih untuk menuruti perintah Lan Xichen ketimbang membela diri atau menjelaskan tentang kepemilikan ponsel tersebut.

Setelah sosok Jin Guangyao dan Lan Wangji tak terlihat lagi di ruangan tersebut, Lan Xichen memutuskan untuk mendudukkan dirinya dibalik meja kerja. Tangannya menaruh ponsel milik Jin Guangyao di atas meja. Dan setelah ia menginformasikan sesuatu pada Lan Qiren lewat telephone, ia kembali menghela napas.

Di sisi lain, pikiran Wei Wuxian masih terasa kosong. Jemari - jemarinya saling mengait satu sama lain dengan pandangannya yang kini tertuju pada lantai ruang kerja Lan Xichen. Dan hal itu lah yang pada akhirnya membuat Lan Xichen memecah keheningan diantara mereka.

"Apa kau mengkhawatirkan nasib Jin Guangyao selanjutnya?"

Wei Wuxian menoleh dengan cepat, raut wajahnya menatap heran Lan Xichen untuk sepersekian detik sebelum berubah menjadi tatapan mengerti.

"Laoshi," Wei Wuxian membalas, "Apa kau merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan sekarang?"

Lan Xichen tersenyum sekilas, ia mulai bangkit dari tempat duduknya dan kini beralih ke depan. Sebelum akhirnya menyandarkan tubuhnya pada salah satu sisi meja kerjanya, dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada.

"Tentu, bagaimanapun dia adalah teman baikku," balas Lan Xichen.

Ada nada sedih yang mengiringi ketika pria tersebut berbicara. Dan Wei Wuxian dapat dengan jelas menangkapnya.

"Aku yang menawarkan dia untuk bekerja disini. Karena aku tahu kalau ia membutuhkan uang untuk menutupi biaya rehabilitasi ibunya."

Mendengarnya, Wei Wuxian pun bergumam, "Aku... juga tahu akan hal itu darinya."

Aneh, batin Wei Wuxian. Entah kenapa menyalahkan orang lain yang tidak kita kenal seakan lebih mudah ketimbang menyalahkan seseorang yang terasa begitu dekat dengan kita. Meski nyatanya orang tersebut memang benar-benar salah.

"Kalau sudah begini, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan selain menyerahkan semuanya pada paman," Lan Xichen melanjutkan. "Dia bisa saja di penjara karena hal ini."

Wei Wuxian tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya ketika mendengar kata 'penjara' keluar dari mulut Lan Xichen.

"Apa... apa tidak bisa kalau ia diberhentikan untuk sementara waktu?"

Pandangan Lan Xichen beralih pada luar jendela untuk sementara, "Lalu, bagaimana dengan yang lain?" tanyanya pelan, kini ia kembali menatap Wei Wuxian, "Xue Yang dan Su She hanyalah orang suruhan Jin Guangyao. Bagaimana bisa kita memberi pengecualian pada Jin Guangyao hanya karena kita lebih mengenalnya?"

"Tapi, bagaimana dengan—"

"Aku yakin ada cara lain untuk membantunya," Lan Xichen memotong. Ia sedikit tersenyum tipis setelahnya. "Tapi, apa kau sendiri tidak merasa penasaran kenapa dia melakukannya?"

Wei Wuxian terdiam dan lagi, kesunyian itu pun datang menyelimuti keduanya. Penasaran? Tentu dia sangat penasaran dan ingin mendapat sebuah penjelasan dari Jin Guangyao. Namun, ketika ia mengingat bagaimana Jin Guangyao sendiri seakan menghindarinya dan menolak untuk menatapnya, Wei Wuxian merasa putus asa dan tahu kalau dirinya tidak akan mendapat jawaban apa-apa meski ia memaksa pria itu sekalipun.

Lan Xichen mendengus pelan, seperti menangkap sesuatu yang cukup menghiburnya. Hal itu pun membuat Wei Wuxian menolehkan pandangannya kembali pada guru musiknya tersebut.

"Bagaimana hubunganmu dengan Wangji?" tanya Lan Xichen tiba-tiba saja.

Kedua mata Wei Wuxian mengerjap.

Satu kali.

Dua kali.

"H-huh?" sahutnya kemudian, seperti orang idiot.

Lan Xichen tertawa sekilas melihat reaksi Wei Wuxian.

Wei Wuxian berani bersumpah kalau itu adalah pertama kalinya ia melihat sang guru tertawa seperti itu. Namun, bukan hal itu lah yang menjadi masalahnya, melainkan pertanyaan Lan Xichen yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan situasi Jin Guangyao saat ini!

Apa gurunya itu memang random seperti ini?!

"Mm..." Wei Wuxian berpikir sejenak sebelum membalas pertanyaan Lan Xichen, "Aku rasa hubunganku dengan Lan Zhan baik-baik saja."

"Ah, benarkah?" Lan Xichen kembali tersenyum, jelas sekali ada perasaan senang yang terpampang di raut wajahnya. "Aku harap kau tidak mengajarkannya yang tidak-tidak."

Ya, Tuhan?!

Wei Wuxian berseru seketika di dalam hati. Tubuhnya tiba-tiba saja terasa panas dingin.

Aku harus keluar dari topik ini bagaimanapun juga! Lan Zhan, 'ku mohon... 'ku mohon hubungi aku dan selamatkan aku sekarang!

"Tapi, aku rasa tidak ada salahnya jika kau mengajarinya satu atau dua hal. Bagaimanapun, ini adalah kali pertama Wangji mempunyai hubungan spesial dengan seseorang," Lan Xichen berpangku tangan dengan jemarinya yang memegang dagunya kini.

Sementara itu, Wei Wuxian hanya berharap kalau ia bisa menghilang dari ruangan tersebut saat itu juga.

Lan Xichen kembali berjalan menuju kursi di balik meja kerjanya, dan mendudukkan dirinya disana.

Wei Wuxian tidak mengerti, bagaimana sebelumnya ia bisa melewatkan sesuatu yang penting dari pandangannya. Karena ketika kedua matanya mengikuti arah gerak Lan Xichen kali ini, ia dapat menangkap sebuah figura yang terpajang tepat di belakang sang guru. Dan Wei Wuxian tidak bisa untuk tidak merasa penasaran dengan figura tersebut.

Lan Xichen pun seakan menyadari arah pandang Wei Wuxian, karena detik berikutnya Lan Xichen sudah mengamit figura tersebut dari tempat asalnya dan memberikannya pada Wei Wuxian.

Kedua mata Wei Wuxian sedikit melebar ketika Lan Xichen menyodorkan figura tersebut. Pandangannya menjadi semakin jelas kini dengan apa yang terpajang di dalam figura itu.

"Aku harap kau merasa penasaran dengan wajah kekasihmu ketika ia berumur lima tahun," ucap Lan Xichen kemudian. Sebuah senyuman lembut masih bertengger di bibirnya.

Wei Wuxian menatap figura tersebut dalam diam. Tangannya tanpa sadar sedikit mengeratkan genggamannya pada figura yang hanya berukuran A5 itu.

Di dalam figura tersebut terdapat foto dua anak laki-laki yang saling menghadap ke kamera. Wei Wuxian tidak perlu bertanya siapa anak laki-laki yang berada di samping Lan Wangji, karena sejujurnya kedua bola matanya kini hanya tertuju pada sosok Lan Wangji saat kekasihnya itu masih berumur lima tahun.

Lan Wangji sendiri memiliki rambut panjang sebahu di dalam foto tersebut dan raut wajah yang ditunjukkannya tidaklah jauh berbeda dengan Lan Wangji diumurnya yang sekarang. Hanya saja, kalau boleh Wei Wuxian jujur, Lan Wangji terlihat lebih lucu ketika ia masih kecil karena pipinya yang terlihat sedikit chubby. Tapi, selain itu, tidak ada hal lain yang berubah dari sosok kekasihnya tersebut.

"Kau pasti berpikir kalau dia tidak pernah berubah," Lan Xichen kembali membuka suara. Menyadarkan Wei Wuxian dari lamunannya.

Wei Wuxian tidak bisa untuk tidak mendengus kecil mendengarnya. Dan sebuah senyuman tipis pun terukir dibibirnya kemudian,"Secara kesuluruhan, aku rasa tidak ada yang berubah dengan dirinya," sahut Wei Wuxian, pelan. "Tapi, aku harus mengakui kalau ia sedikit lebih imut di foto ini," ia terkekeh melanjutkan.

Lan Xichen kembali memberikan sebuah senyuman tipis. Setelah membiarkan kesunyian menyapa mereka untuk beberapa detik, ia pun berkata, "Kau tidak perlu khawatir dengan Jin Guangyao. Aku akan mencari cara untuk tetap membantunya. Tapi, aku harap kau dan Wangji..."

"A-ah..." Wei Wuxian memotong, tangannya bergerak meletakkan figura yang sempat dipegangnya tadi ke atas meja kerja Lan Xichen, "Kau tidak perlu khawatir. Aku bahkan tidak punya keinginan untuk meninggalkannya. Aku, Wei Wuxian, sangat menyukai Lan Zhan. Aku tidak akan menyakitinya sedikitpun."

Lan Xichen mengangguk pelan tanda mengerti, "Baiklah, kalau begitu... kau bisa kembali ke kelas. Aku akan segera ke ruang kerja paman dan menyelesaikan semuanya."

"Mn," jawab Wei Wuxian. Kemudian ia pun membungkukkan badan sekilas untuk memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan tersebut.

Setelah menutup pintu ruang kerja Lan Xichen, pandangan Wei Wuxian menatap lurus ke arah tembok di depannya untuk beberapa saat.

Sedikit menghela napas, ia pun melangkahkan kakinya kembali menuju ruang kelasnya.

.

.

.

Di kelas, Wei Wuxian menenggelamkan wajahnya pada tasnya yang ia letakkan di atas meja. Sementara itu, Jiang Cheng yang sejak tadi sibuk mengocehinya, ia biarkan begitu saja.

Entah Wei Wuxian harus menganggap hari itu adalah hari keberuntungannya atau justru mimpi buruknya yang lain. Berita tentang Jin Guangyao nampak telah menyebar ke seluruh penjuru sekolah.

Mungkin ada murid atau guru lain yang menjadi biang gosip di sekolah ini? Siapa yang tahu?

Dan tidak heran, jika hal tersebut pun yang mengakibatkan absennya para guru di ruang-ruang kelas. Ada yang bilang mereka semua dipanggil ke ruang kepala sekolah untuk memberi vote tentang keputusan yang harus mereka ambil untuk Jin Guangyao.

Sedikit konyol memang, terlebih jika Lan Qiren mempunyai kekuasaan penuh untuk mengambil tindakan seorang diri. Karena pada dasarnya Lan Qiren bukan hanya sekedar kepala sekolah Gusu Academy, melainkan pemilik resmi sekolahan tersebut.

"Jangan katakan kau masih mengasihaninya karena kau tahu kondisi Jin Guangyao yang sebenarnya."

Wei Wuxian memutar bola matanya kala Jiang Cheng kembali mengucap hal yang sama berulang kali.

"Apa kau idiot? Dia mungkin sengaja mengatakannya kepadamu agar nantinya kau bisa memaafkan perbuatan kotornya itu!" Jiang Cheng mendengus kesal. Meski keadaan kelas terdengar sedikit gaduh saat ini dengan topik pembicaraan yang tidak jauh berbeda dengan apa yang mereka miliki, namun Jiang Cheng sebisa mungkin mengontrol volume suaranya ketika dia mengocehi Wei Wuxian.

Kepala Wei Wuxian ia tolehkan ke samping, membuat pandangannya tertuju pada langit di luar jendela. Ada beberapa pertanyaan yang kian berputar di dalam pikiran Wei Wuxian, namun Wei Wuxian memilih untuk menepisnya kali ini.

Meskipun begitu, Wei Wuxian tidak dapat menghentikan rasa gelisahnya ketika ia menyadari sesuatu; apa semuanya benar-benar sudah berakhir kali ini?

.

.

.

Wei Wuxian menggeser nampan yang ia bawa mendekat pada milik Jiang Cheng dan dengan malas mendudukkan dirinya disamping pemuda tersebut.

Ia menghela napas untuk ke sekian kali, tidak menyentuh makanan yang ia bawa sedikit pun. Hanya sesekali menyentuhkan bibirnya pada ujung sedotan susu kotak yang berada di depannya.

Jiang Cheng yang sejak tadi lebih memilih untuk diam, kini mendorong tubuh Wei Wuxian agar menjauh darinya. Seperti kesal dengan sikap Wei Wuxian yang tak henti menghela napas.

"Jiang Cheng, apa kau melihat Nie Huaisang?" tanya Wei Wuxian tiba-tiba.

Jiang Cheng menoleh, "Memangnya ada perlu apa kau mencarinya?"

Mendengarnya, membuat Wei Wuxian berdecak pelan, "Aish, nada bicaramu seolah-olah berteriak kalau aku akan melakukan yang tidak-tidak padanya. Aku hanya ingin berterima kasih. Itu saja."

Jiang Cheng kembali menyibukkan diri pada makanan yang berada di depannya, "Aku tidak tahu. Tapi, terakhir, aku melihatnya berbicara dengan kakaknya. Sepertinya dia kena tegur lagi."

Wei Wuxian pun menggumam 'hmm' panjang sembari mengangguk pelan.

"Apa kau yakin kau tidak ingin menghajar Jin Guangyao?"

Wei Wuxian menatap aneh pemuda di sampingnya, susu kotak yang sejak tadi menemani 'keisengannya' pun ia jauhkan.

"Apa kau gila?" desisnya pelan. "Jiang Cheng, meskipun aku seorang kapten martial arts, hal itu tidak serta merta memberiku hak untuk memukul seseorang!" lanjut Wei Wuxian, masih dengan volume suara yang sama.

Kali ini, Jiang Cheng yang ganti menatap aneh ke arahnya, "Bukankah kau sendiri melempar kepala Su She dengan suling yang seharusnya menjadi properti cosplaymu?"

Wei Wuxian meneguk ludah dan berdehem pelan, "Aku tidak ingat."

Dan Jiang Cheng hanya menatap datar pemuda di sampingnya itu.

"Aish, kau tahu, aku hanya refleks. Lagipula kau juga ikut membantuku. Kau bahkan menginjak kepalanya!" balas Wei Wuxian.

"Wei Wuxian! Jadi sekarang kau menyalahkanku?!"

"Aiyooo," Wei Wuxian mengusap punggung sahabatnya itu, bermaksud untuk menenangkan, "Kau tidak perlu berteriak. Lihat, kau bahkan menarik perhatian murid-murid yang lain. Bagaimana kalau salah satu dari mereka ada yang tersedak karena suaramu, huh?"

Jiang Cheng menepis tangan Wei Wuxian cukup keras, "Aku tidak peduli."

Wei Wuxian berdecak kecil, ia memberikan makanannya sendiri kepada Jiang Cheng sebagai tanda permintaan maaf.

Melihat hal tersebut, Jiang Cheng hanya memutar bola mata dan menyerah. Ia nampak menangkap maksud Wei Wuxian ketika pemuda tersebut memberikan makanannya. Wei Wuxian menginginkan Jiang Cheng untuk tidak membahas masalah Jin Guangyao lagi. Dan itu sudah jelas.

Namun, meski telah menyadari maksud Wei Wuxian, Jiang Cheng sama sekali tidak mengambil makanan yang disodorkan Wei Wuxian kepadanya. Justru, ia mendorong kembali nampan itu ke arah Wei Wuxian.

"Makan dan berhenti membuat orang itu khawatir," ucapnya kemudian.

Kedua mata Wei Wuxian sedikit melebar ketika mendengarnya. Ia tahu jelas siapa yang dimaksud oleh Jiang Cheng ketika sahabatnya menyebut 'orang itu'.

Kemudian, selang beberapa detik, Wei Wuxian pun memberi cengiran khasnya.

"Ah, terima kasih karena sudah mengingatkanku. Jiang Cheng, kau memang paling bisa 'ku andalkan!"

Jiang Cheng tidak membalas lagi dan memilih untuk diam.

Setelahnya, mereka pun menyibukkan diri mereka masing-masing pada makanan yang berada di depan mereka.

.

.

.

.

.

.

.

Saat umurnya menginjak sembilan tahun, dirinya bertanya kembali kepada sang ibu. Masih dengan pertanyaan yang sama, masih dengan rasa penasaran yang sama.

"Bagaimana jika aku ingin bersikap egois?" tanyanya.

Saat itu, yang memonopoli indera pendengarannya hanyalah suara 'beep' dari mesin di samping ranjang milik ibunya.

Suara tersebut terdengar berulang kali. Pelan. Dan pelan. Dengan irama yang sama. Seperti memecah keheningan di dalam ruangan yang nyatanya sering ia kunjungi.

Dirinya sendiri, tahu dengan jelas jika ia tidak akan mendapat jawaban apapun atas pertanyaan itu. Tapi, entah bagaimana, ia tidak terlalu mempermasalahkannya. Karena sejujurnya, ia telah mengetahui jawabannya dengan sangat jelas.

Jawaban yang terus berputar di dalam pikirannya. Jawaban yang didapatnya saat ia bertanya kepada ibunya untuk yang pertama kali.

"Tentu. Tentu kau bisa," Pikirannya kian meneriaki satu jawaban tersebut.

Dan dengan senyuman sang ibu yang masih samar-samar terlintas di ingatannya, ia masih bisa memutar ulang kalimat yang diucapkan oleh sang ibu setelahnya.

"Lakukan jika kau pikir hal itu masih berada di jalan yang benar."

Mungkin... mungkin karena kata-kata itu juga lah, yang berhasil membuat dirinya berani mengambil sebuah keputusan yang sama sekali tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Mungkin, karena kata-kata itu juga lah, yang membuat pikirannya terasa lebih jernih beberapa minggu lalu. Dan yang membuatnya memberanikan diri untuk memohon, juga bertekuk lutut di hadapan seseorang yang sejak kecil ia hormati.

"Wangji!"

Ia masih bisa mengingat dengan jelas seruan itu. Seruan sang kakak yang masih terngiang dengan keras di setiap kali ia menutup mata.

Tapi, pikirannya sudah mantap. Dan keputusannya sendiri sudah bulat.

Saat itu, yang ia inginkan hanyalah persetujuan sang paman.

"Jadi, kau berpikir bahwa Wei Wuxian bukanlah pelakunya?" kalimat tersebut terlontar dari bibir sang paman, seorang pria yang tak pernah henti ia hormati, seorang paman yang selalu menjadi panutannya.

"Paman, aku melihat seseorang berusaha menjebaknya." Balasnya saat itu. Posisinya sendiri masih tidak bergeming, masih sama seperti sebelumnya. Yang berbeda hanyalah kedua tangannya yang mengepal erat di atas lututnya.

"Kau ingin aku tidak mengeluarkan Wei Wuxian sekarang juga karena kau merasa yakin dia tidak terlibat dalam kasus ini? Wangji, pikirkan baik-baik. Apa yang akan kau lakukan jika ternyata kau salah? Jika Wei Wuxian memang benar-benar terlibat?"

Dengan napas yang bergetar, ia pun kembali bersuara, "Aku akan mengundurkan diri dari posisiku sebagai ketua osis jika aku salah."

.

.

.

to be continued

.

.

.

P.s: di chapter sebelumnya wwx ber-tanya2 kenapa LQR gak langsung ngeluarin dia. Sebelum wwx dateng ke ruang kepala sekolah dan ngeliat barang bukti yg ditemuin di lokernya (chapter 2), LWJ ada di tempat itu juga. POV diatas ngjelasin kenapa LWJ ada di tempat itu. Dan itu terjadi sebelum wwx sampai ke ruangan tersebut. Jadi, ya, alasan kenapa LQR milih ngskors wei wuxian ketimbang langsung ngeluarin dia itu karna bujukan LWJ.