Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Freezing: Lim Dall-Young and Kim Kwang Hyun
.
.
.
I Need You, Pandora!
By Hikasya
.
.
.
Chapter 14. Penyelidikan dan rencana
.
.
.
Kejadian yang menimpa acara yang diselenggarakan Chevalier, membuat semua Pandora dari Jepang penasaran. Seorang gadis dari anggota E-Pandora mendadak menjadi Nova. Lalu Naruto menggunakan Spear of Destiny untuk mengubahnya kembali menjadi manusia. Satelit merekam semua kejadian di malam itu dan disiarkan di berita pagi yang ditonton oleh Cassie dan teman-temannya.
"Ternyata begitu kejadian yang sebenarnya." Arnett duduk di sofa yang sama dengan Cassie. Ia memegang remote seraya memandang setiap wajah yang hadir di kamar itu. Sambungnya, "kita harus menyelidiki semua ini secepatnya."
"Biar aku yang menyelidikinya." Elizabeth menawarkan diri. "Aku akan meminta keluargaku untuk menyerang Chevalier lewat media massa."
"Ide yang sangat bagus, Elizabeth." Rana tersenyum yang mendapatkan anggukan Satellizer.
"Apa aku boleh ikut membantumu, Elizabeth?" Satellizer memegang kacamatanya yang berwarna merah muda.
"Tidak usah. Biar aku dan Limiter-ku yang menyelidikinya. Kalian fokus saja berteman dengan Amelia."
Elizabeth tersenyum. Semuanya mengangguk kecuali Chiffon. Kemudian mereka bergegas mandi untuk menghadiri acara sarapan pagi bersama di aula hotel.
.
.
.
Julia selesai berpakaian seragam sekolah. Ia menilik Ingrid yang sedang duduk di pinggir ranjang. Ingrid memakai sepatu, menyadari pandangan Julia. Sementara teman-teman mereka sudah keluar dari kamar, beberapa menit yang lalu.
"Julia, ada apa?" tanya Ingrid mengerutkan kening.
"Kira-kira siapa the Knight of Sacred itu, ya?" Julia balik bertanya.
"Tidak ada yang tahu siapa dia."
"Tapi, tombak berbilah yang dia gunakan itu, mengingatkanku tentang senjata yang dipakai seseorang untuk mengalahkan Maria. Senjata yang bernama Spear of Destiny."
"Kau tahu dari mana tentang hal itu?"
"Aku pernah membacanya di perpustakaan kota."
"Oh. Tapi, Spear of Destiny itu sudah menghilang sejak Maria dikalahkan."
Ingrid mengatakan itu sambil bangkit dari ranjang. Ia menatap Julia dengan wajah serius.
"Daripada itu yang kita bahas, lebih baik kita pergi ke aula sekarang," sambung Ingrid seraya pergi meninggalkan Julia.
"Ya," sahut Julia mengangguk pelan. Ia mengikuti Ingrid dari belakang.
Semua Pandora dan Limiter kembali menghadiri aula untuk sarapan bersama. Mereka bergabung dengan anggota-anggota E-Pandora. Pihak Chevalier tidak terlihat, hal itu menimbulkan pertanyaan di otak kelompok Arnett.
"Makanan di sini enak-enak, ya?" ujar Rana tersenyum, "senang rasanya bisa ikut ke sini. Apa lagi bersama Kazuya di sampingku, membuatku semakin bahagia."
Kazuya yang sedang makan di samping Rana, tersenyum. Satellizer melirik mereka sebentar, lalu melanjutkan makan lagi. Cassie dan Arnett yang melihat Kazuya dan Rana, tiba-tiba teringat Naruto.
Naruto, apa dia ikut sarapan di sini? Batin Cassie yang celangak-celinguk. Tidak tampak batang hidung Naruto di antara keramaian.
Aku harus mencari Naruto setelah ini, batin Arnett. Ia menghabiskan makanannya dengan cepat.
Waktu terus berjalan. Acara sarapan bersama selesai. Semua Pandora pergi dengan Limiter masing-masing untuk mencoba fasilitas yang tersedia di hotel itu. Hanya Cassie sendirian yang tidak ditemani Limiter. Cassie berjalan di ruang lobi yang kosong.
"Naruto mana, ya?" Cassie melihat kesana-kemari, "apa dia ada di kamarnya?"
Cassie memutuskan naik lift supaya sampai ke lantai enam. Ia bertemu dengan Arnett yang keluar bersama Sasori dari lift. Arnett tersenyum padanya.
"Hai, Cassie. Kau mau kemana?" tanya Arnett penasaran.
"Aku mau balik ke kamar," jawab Cassie berbohong.
"Kau tidak mau ikut dengan kami?"
"Tidak. Terima kasih."
Cassie tersenyum sambil menggeleng. Ia masuk ke lift. Arnett sempat menoleh ke arahnya sebelum pintu lift tertutup. Cassie memencet tombol angka enam. Lift pun bergerak naik menuju lantai enam.
Pintu lift terbuka saat di lantai enam. Tiba-tiba, Cassie mendapatkan sambutan teriakan seorang gadis berseragam sekolah yang berbeda dengannya.
"Kau tidak pantas menjadi Pandora seperti kami, Amelia! Kau itu lemah!"
"Ya. Kau itu manusia biasa yang tidak sama seperti kami!"
Dua gadis berseragam sekolah dari East Genetic menghina Amelia habis-habisan. Kemudian mereka pergi meninggalkan Amelia dan masuk ke kamar. Amelia yang ditinggalkan, menunduk dengan sorot mata yang sayu.
"Amelia-senpai." Cassie memanggil Amelia seperti itu karena usia Amelia lebih tua tiga tahun darinya. "Apa yang terjadi?"
"Seperti yang kau dengar, Cassie. Jadi, jangan bertanya lagi." Amelia menatapnya tajam.
"Aku mengerti dengan apa yang terjadi padamu."
"Kau tidak akan mengerti, Cassie!"
Amelia membentak Cassie dengan muka yang garang. Membuat Cassie membelalakkan mata, mulutnya sedikit terbuka. Amelia berjalan melewatinya dan masuk ke lift usai memencet tombol nomor satu. Sebelum pintu lift tertutup, Amelia mendengar suara Cassie yang keras.
"Apa pun yang terjadi, kau tetaplah temanku dan teman North Genetic, Amelia-senpai!" Cassie meletakkan dua tangannya di mulut sehingga menyerupai corong. Amelia terpaku ketika pintu lift tertutup.
Sunyi. Cassie berdiri di sana untuk beberapa saat. Ia merasa kasihan pada Amelia. Berpikir ingin membantu, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Ya, Tuhan, tolonglah, Amelia-senpai. Berikanlah aku jalan kemudahan agar bisa membantunya," ucap Cassie sembari mengatupkan jari-jari tangannya. Ia menunduk dan memejamkan mata. Berdoa serius.
Cassie tidak menyadari sosok laki-laki berambut pirang mengamatinya dari kejauhan. Senyuman terukir di wajah Naruto saat melangkah menghampiri Cassie. Suara sepatu Naruto menggema di koridor itu, terdengar sampai ke gendang telinga Cassie. Kedua mata Cassie terbuka cepat. Mendapati Naruto berdiri di sampingnya.
"Na ... Naruto," kata Cassie terbata-bata dengan kedua pipi yang memerah. Bersikap malu. Sambungnya, "kau dari mana saja? Semua temanku pergi. Cuma aku yang sendirian tanpa ditemani ... Limiter."
Cassie menunduk seraya memegang pergelangan tangan kirinya. Suaranya lembut, mampu menyentuh hati Naruto. Naruto tersenyum, memahami apa yang dirasakan Cassie.
"Kalau kau mau, aku ingin kau menemaniku pergi menjelajahi hotel ini," sambung Cassie menengadah untuk menatap Naruto. Wajahnya memerah, menahan gelora asmara yang memuncak.
Naruto tersenyum, langsung melewati Cassie. Cassie terpaku melihat Naruto yang pergi. Ketika Naruto memencet tombol nomor tujuh di dekat pintu lift, menoleh di sudut bahu kiri. Tersenyum pada Cassie. Itu sudah menandakan Naruto bersedia menemani gadis berambut hijau tosca itu untuk mengisi waktu luang sebelum acara makan siang tiba.
"Naruto," gumam Cassie dengan mata yang berbinar terang. Hatinya melonjak kegirangan. Ia bergegas menyusul Naruto. Mereka berdua masuk lift menuju lantai satu.
Selama di lift, Cassie terdiam. Sesekali dia memandang Naruto lama sekali. Naruto fokus merasakan gerakan lift, menyadari pandangan Cassie, menoleh. Cassie tersentak, membulatkan mata kemudian membuang muka. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Tingkah Cassie sungguh membuat jantung Naruto berdebar-debar. Laki-laki berambut pirang itu merasakan lagi perasaan cinta yang sempat hilang. Berusaha menahan perasaan itu agar tidak terlihat oleh Cassie.
Lift pun berhenti. Pintu terbuka otomatis. Naruto dan Cassie keluar terlebih dahulu, lantas dimasuki beberapa orang. Pintu lift tertutup sendiri lagi.
Keheningan menguasai ketika Naruto dan Cassie berjalan di koridor. Cassie berpikir ingin pergi ke suatu tempat supaya bisa menghabiskan waktu bersama Naruto. Suaranya pun memecahkan kesenyapan di tempat itu.
"Naruto, bagaimana kalau kita pergi ke atap hotel ini? Pemandangannya pasti bagus jika dilihat dari atas, 'kan?" usul Cassie.
Naruto menanggapi perkataan Cassie dengan senyum. Cassie juga tersenyum, tanpa menyadari tangannya bergerak mendekati tangan Naruto. Perasaan senang menuntunnya untuk menggenggam tangan Naruto.
Naruto melihat tangan Cassie yang berpegangan erat dengan tangannya. Cassie juga menatap arah yang dipandang Naruto, terperanjat dan langsung melepaskan tangannya dari tangan Naruto. Cassie bergeser sedikit menjauh saat berjalan bersama Naruto. Memalingkan muka, malu.
"Maaf, aku tidak sengaja melakukannya." Cassie menahan perasaannya yang semakin menggebu-gebu ingin mendapatkan Naruto lagi. Cara spontan yang tidak terduga tadi, ia berharap bisa meluluhkan hati Naruto.
Naruto tersenyum. Ia tetap diam selama melakukan perjalanan bersama Cassie hingga mencapai atap hotel. Pemandangan gelap gulita yang didapati mereka meski pun waktu yang berjalan sekarang adalah jam siang hari. Hawa dingin terasa menusuk kulit karena di Alaska masih dilanda musim dingin.
Pegunungan dan hutan yang mendominasi wilayah Alaska tertutupi salju. Mereka tidak bisa dilihat dari kejauhan meski pun ada cahaya kota yang menerangi. Angin bertiup lembut, menerpa Naruto dan Cassie. Rambut dan pakaian dua anak muda itu melambai-lambai karena dimainkan angin.
Cassie memegang rambut di sisi kanannya seraya berkata, "Naruto, apa kau ingat bagaimana pertama kali kita bertemu dulu?"
Naruto menjeling Cassie. Ia ingat pertemuannya dengan Cassie waktu itu. Serangkaian peristiwa dilaluinya sampai Cassie mengatakan cinta padanya. Butuh waktu yang lama, ia menerima kehadiran Cassie di hatinya. Lalu saat ia mulai mencintai lagi, Cassie malah pergi meninggalkannya demi mencapai cita-cita menjadi novelis. Mengoyakkan hatinya untuk kedua kali. Mengingat itu, sungguh membuatnya sangat sedih.
Tapi, keadaan sekarang berbeda. Cassie sudah menunjukkan bukti cinta yang besar pada Naruto. Gadis itu berusaha mati-matian melakukan segala cara demi mendapatkan Naruto lagi. Perjuangannya selama tiga bulan ini, belum mendapatkan hasil. Meski pun sempat dilanda putus asa, Cassie tetap bangkit untuk mengejar laki-laki yang sangat dicintainya.
"Selama kita menjalin hubungan dulu, kita tidak sempat berjalan-jalan berdua seperti ini. Kita selalu disibukkan untuk melawan Nova," lanjut Cassie lagi dengan nada lirih, "andai kau memberikanku kesempatan kedua, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi. Kita akan tetap bersama hingga menjadi kakek dan nenek. Tapi, jika kau tetap memilih di jalan Tuhan, aku mengerti itu. Kita akan berteman untuk selamanya."
Cassie tersenyum dengan wajah semringah. Naruto tertegun, sorot matanya meredup. Menangkap kedua mata Cassie yang berkaca-kaca. Cassie menahan air matanya, berpaling ke arah lain.
Kesunyian menghampiri Naruto dan Cassie lagi. Mereka terdiam hingga muncul seorang gadis berambut merah yang datang dari pintu atap.
"Ternyata kalian berdua ada di sini," kata gadis berambut merah yang diikat satu itu ketika berdiri tak jauh dari Naruto dan Cassie.
"Arnett-senpai," tukas Cassie membulatkan mata, "kenapa kau ada di sini?"
"Tentu saja mencarimu, Cassie. Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu."
"Apa itu?"
Cassie mengerutkan kening. Arnett menghelakan napas panjang terlebih dahulu untuk menenangkan hati. Usai itu, ia bersikap serius.
"Aku sudah berpikir ini matang-matang dari semalam," tutur Arnett sembari memandang wajah Naruto dan Cassie bergiliran, "aku akan melepaskan Naruto untukmu karena aku ingin berteman denganmu, Cassie."
Cassie terkesiap. "Kau serius dengan ucapanmu itu, Arnett-senpai?"
"Aku serius. Tidak ada yang lebih indah dari persahabatan. Itu yang tertulis di novelmu, 'kan?"
"Ya. Kau benar."
"Kalau begitu, mari kita mulai dari awal lagi. Kita perbaiki hubungan kita ini dengan persahabatan. Cassie, kau mau, 'kan menjadi sahabatku seumur hidup?"
Arnett mengulurkan tangannya. Cassie terpaku dengan dua bola mata yang bergoyang-goyang karena terharu. Ia mengangguk sambil berjalan mendekati Arnett. Bersalaman erat. Senyuman terukir di wajah dua gadis itu. Naruto yang menyaksikan interaksi mereka, turut tersenyum.
Syukurlah, Cassie-senpai. Satu sainganmu yang ingin merebutku, sudah rela melepaskanku. Arnett-senpai memilih bersahabat denganmu. Itu bagus sekali.
Hela napas lega terdengar dari hidung Naruto. Laki-laki berambut pirang itu sudah menetapkan keputusan yang akan disampaikannya pada Cassie nanti. Cassie dipandanginya lama sekali, mengukir senyum di wajahnya lagi.
Cassie-senpai, dia memang sangat cantik, batin Naruto yang terpesona.
Cassie dan Arnett memandang Naruto. Mereka saling bergandengan tangan saat menghampiri Naruto.
"Hai, Naruto," ujar Arnett tersenyum, "kau harus menerima Cassie lagi karena Cassie sangat mencintaimu. Kalau kau menolak gadis seperti dia, kau pasti akan menyesal nantinya."
"Tidak usah katakan itu, Arnett-senpai. Aku pasrah saja jika Naruto menganggapku teman," timpal Cassie dengan muka kusut.
"Tapi, aku yakin Naruto masih mencintaimu. Dia saja yang tidak mau mengaku."
Arnett melototi Naruto. Naruto tersenyum, kemudian langsung pergi meninggalkan Cassie dan Arnett.
"Hei, Naruto! Kau mau pergi kemana? Kau harus temani Cassie! Soalnya aku mau pergi lagi dengan Limiter-ku!" pekik Arnett.
"Ah, tidak apa-apa, Arnett-senpai. Aku sudah terbiasa sendiri. Kau pergilah sekarang, aku akan tetap di sini," sahut Cassie tersenyum.
"Apa benar tidak apa-apa?"
"Iya. Benar."
"Baiklah. Aku pergi dulu, ya."
Arnett berlalu meninggalkan Cassie. Ia tidak bertemu dengan Naruto saat menuruni tangga. Naruto sudah pergi mendahuluinya. Kesunyian yang kini menemani Cassie. Gadis itu mematung sembari menunduk. Perasaannya berguncang lagi.
"Naruto, tidak. Aku harus fokus dulu untuk menyelidiki tentang proyek E-Pandora itu. Setelah itu, aku akan menyelesaikan masalahku dengan Naruto," bisik Cassie sembari mengusap air matanya yang sempat jatuh di dua pipinya. Ia tidak menyadari Naruto masih ada di sana. Naruto bersembunyi di balik bangunan kubus - tempat menuju atap hotel.
.
.
.
Elizabeth dendam terhadap Chevalier karena Chevalier memfitnah keluarganya lewat media massa. Aksi serangan dan balasan lewat media massa menyebabkan keluarga Mably bangkrut. Perusahaan Mably yang bergerak di produk kecantikan, pakaian, dan lain-lain ditutup. Menuntun Elizabeth bergerak untuk menyusup masuk ke markas Chevalier yang terletak di pegunungan.
Elizabeth berhasil menyusup ke markas Chevalier. Andre menunggu di hotel atas permintaan Elizabeth. Elizabeth sendiri yang menyelidiki ke sana. Dari hasil penyelidikan itu, Elizabeth melihat proses pengujian E-Pandora yang dilakukan pada gadis-gadis biasa di sebuah laboratorium. Proses pengujian E-Pandora itu terkesan menyiksa gadis-gadis itu hingga berujung cacat mental dan fisik. Lebih membahayakan bisa menjadi Nova atau mati.
Elizabeth menggeram kesal saat bersembunyi di tempat yang tidak terlihat oleh tim Chevalier. Setelah mendapatkan bukti yang kuat lewat memotret tempat itu, Elizabeth mengirim pesan pada Andre melalui smartphone miliknya. Kemudian ia segera pergi menuju ruang Direktur yang memimpin Chevalier ini. Koridor yang dilewatinya remang-remang, tidak ada penjagaan khusus. Membuatnya sukses masuk ke ruang Direktur.
Direktur menyambut kedatangan Elizabeth dengan tangan yang terbuka. Ia adalah pria botak yang berkumis cokelat. Duduk di dekat meja, berhadapan dengan Elizabeth.
"Wah, Elizabeth Mably rupanya!" ucap Direktur, "ada apa sehingga kau datang menemuiku di sini?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Pak Direktur", sahut Elizabeth berwajah serius.
"Apa itu?"
"Hentikan proyek E-Pandora ini."
"Apa maksudmu?"
Direktur mengerutkan keningnya. Matanya sedikit terbelalak. Elizabeth menatapnya tajam.
"Penelitian yang kalian lakukan mengancam kehidupan umat manusia. Protipe Stigmata yang kalian ciptakan sangat berbahaya bagi tubuh gadis-gadis biasa. Jadi, aku mohon, hentikan proyek E-Pandora ini sebelum terjadi sesuatu yang buruk," ujar Elizabeth mencoba bernegosiasi dengan Direktur.
"Apa yang kau katakan? Protipe Stigmata itu sangat penting untuk kehidupan umat manusia. Kami tidak akan menghentikan proyek ini apa pun yang terjadi. Jika kau masih mencoba mencegah kami, aku akan memberimu pelajaran," balas Direktur seraya berteriak, "semuanya, tangkap dia!"
Tiba-tiba, muncul beberapa Pandora yang langsung mengepung Elizabeth. Elizabeth terkesiap dengan mata yang membulat. Ia tidak bisa melakukan apa pun dan akhirnya tertangkap oleh tim Chevalier, lalu dibawa ke ruang lain untuk dihukum di kursi listrik.
.
.
.
Andre menunggu Elizabeth di kamar hotel. Laki-laki berambut hitam panjang yang diikat satu itu, merasa gelisah. Hatinya mengatakan ada sesuatu yang buruk terjadi pada Elizabeth. Membuatnya bolak-balik ke seluruh sudut kamar. Hal itu tidak juga membuatnya tenang.
"Kenapa Elizabeth-senpai tidak membalas pesanku?" bisik Andre seraya mengecek smartphone-nya lagi. Ia sudah beberapa kali menelepon dan mengirim pesan sejak beberapa jam yang lalu.
Andre memutuskan keluar kamar. Para Limiter lain yang sekamar dengannya, juga belum kembali. Kesendirian membuat otaknya mampat. Kecemasan melipat ganda menuntunnya untuk memberitahukan ini pada teman-teman Elizabeth.
Tiba di depan kamar kelompok Arnett, Andre mengetuk pintu dengan keras. Rana yang membuka pintu.
"Ah, Andre, ya? Ada apa?" tanya Rana mengerutkan kening.
"Apa Elizabeth-senpai sudah kembali ke sini?" Andre balik bertanya dengan muka yang kusut.
"Belum."
"Aku khawatir padanya."
"Memangnya apa yang terjadi?"
Sebelum Andre menjawab, tiba-tiba muncul dua gadis yang membawa Elizabeth dari ujung lorong. Andre dan Rana melihat mereka yang langsung mendorong Elizabeth dengan kasar.
"Elizabeth-senpai!" seru Andre yang langsung memeluk Elizabeth. Dua gadis yang membawa Elizabeth barusan, sudah pergi.
"Elizabeth! Apa yang terjadi dengannya?" Rana berlutut di dekat Andre yang terduduk bersama Elizabeth.
"Ini pasti ulah Chevalier."
"Chevalier?" Satellizer datang mendekat.
"Ya. Aku dan Elizabeth-senpai sudah mengetahui keganjalan yang terjadi di markas Chevalier. Banyak pengujian yang tidak manusiawi yang membahayakan tubuh para gadis biasa. Seperti yang dijelaskan ibu Mei."
Satellizer, Rana, Cassie, dan Arnett terdiam mendengarkan penjelasan Andre. Mereka marah pada Chevalier yang telah membuat Elizabeth seperti orang yang kehilangan mental. Kedua mata Elizabeth kosong, wajahnya pucat. Piyama putih membungkus tubuhnya yang tidak bisa digerakkan lagi.
"Kurang ajar, Chevalier itu! Lihat saja! Aku akan menghancurkan markas mereka itu! Berani-beraninya mereka telah menyakiti temanku!" Arnett berwajah garang dengan mata yang berapi-api. Emosi meluap naik ke ubun-ubunnya. "Ayo, kita serang mereka sekarang juga!"
"Arnett-senpai, jangan gegabah! Kita tunggu Elizabeth sembuh dulu!" Cassie memegang tangan Arnett dengan kuat sebelum Arnett melangkah.
"Tapi, Cassie."
"Benar yang dikatakan Cassie. Kita harus tunggu Elizabeth sembuh. Barulah kita membentuk rencana untuk menyerang markas Chevalier." Satellizer menyetujui perkataan Cassie.
"Iya, redakan emosimu itu, Arnett." Rana berwajah kusut.
"Aaah. Baiklah. Aku mengerti."
Arnett menghelakan napas kekesalan. Hatinya lega dengan perasaan yang enteng. Fokusnya adalah segera merawat Elizabeth bersama teman-teman terbaiknya.
.
.
.
Tidak ada siang di sepanjang musim dingin di Alaska. Badai salju terjadi di luar sana, sehingga semua orang tidak berani untuk keluar. Begitu juga dengan Cassie dan teman-temannya yang mengurung diri di kamar selama menunggu Elizabeth sembuh.
Elizabeth terbaring di ranjang. Selimut tebal menutupi tubuhnya hingga sebatas bahu. Andre setia menemaninya sampai sekarang. Arnett, Rana, Satellizer, Chiffon, dan Cassie juga turut melindungi mereka supaya tidak diganggu lagi oleh Chevalier.
Cassie memandang badai salju lewat jendela kamar. Semua orang sudah tidur, hanya ia sendiri yang terjaga. Beberapa hari ini, ia tidak bertemu dengan Naruto karena sibuk menjaga Elizabeth. Perlahan keadaan Elizabeth membaik, hal itu membuat semua orang dari North Genetic, senang.
Rencananya, dua hari lagi, Arnett dan teman-temannya akan menyerbu markas Chevalier dan sekaligus menyelamatkan teman baik mereka yaitu Amelia agar tidak bernasib sama dengan gadis-gadis yang ditemui Elizabeth di ruang laboratorium Chevalier. Karena fakta yang ditemukan Elizabeth lewat pesan smartphone milik Andre, protipe Stigmata bisa berdampak fatal yang mengubah gadis-gadis biasa menjadi half-form Nova.
Cassie tidak sabar ingin menyelamatkan Amelia. Sebab itu juga, ia tidak bisa tidur. Hatinya menuntunnya untuk menemui seseorang yang dirindukannya. Dalam kegelapan, Cassie menempuh kamar hingga keluar. Pintu ditutupnya pelan dan kaki diayunkan menuju tangga supaya sampai ke lantai enam.
Sesampainya di lantai enam, Cassie langsung berjalan menghampiri kamar Naruto. Ia ingin memberitahu Naruto tentang apa yang terjadi di tempat ini. Saat ia hendak mengetuk pintu kamar Naruto, jiwa menghentikannya karena mengingat waktu sudah menunjukkan pukul satu malam.
Ah, sebaiknya aku tidak memberitahukan semuanya pada Naruto, batin Cassie. Ia mengurungkan niatnya itu, pergi. Tiba-tiba, gendang telinganya menangkap suara pintu terbuka. Menariknya untuk berbalik melihat ke asal suara. Naruto berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka, berjarak beberapa meter darinya. Cassie memandangnya dengan muka yang kusut, lalu perlahan berjalan mendekatinya. Kepala Cassie tertunduk sembari memegang pergelangan tangan kirinya.
"Aku tidak bisa tidur, makanya aku menemuimu, Naruto," ungkap Cassie dengan nada yang lembut, "kita tidak bertemu beberapa hari ini, aku ... sangat merindukanmu."
Naruto memahami itu, lantas tersenyum. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Cassie juga tersenyum, tetapi sorot matanya sayu.
"Oh ya, kau mau kemana sehingga kau keluar kamar juga?" lanjut Cassie yang membuat Naruto tersenyum lagi. Tapi, tidak ada jawaban apa pun sehingga Cassie yang harus berbicara lagi. "Ya, sudah, aku mau ke kamar dulu. Kau juga, masuklah dan segeralah tidur."
Kaki Cassie terayun menjauhi Naruto. Naruto memandang kepergiannya dengan tampang yang kusam. Berharap Cassie tetap menemaninya karena tidak bisa tidur seperti yang dialami Cassie sekarang.
Sejujurnya, aku juga merindukanmu, Cassie-senpai. Maaf, aku tidak bisa mengatakan itu padamu sekarang.
Suara hati Naruto menggema di tempat itu. Hanya Tuhan yang bisa mendengarkannya. Tapi, jiwanya tidak tenang sebelum memastikan Cassie kembali ke kamar. Kaki menuntunnya untuk menyusul Cassie.
Cassie bertemu Julia di dekat kelokan tangga saat mau turun ke lantai lima. Mereka saling berhadapan dengan tatapan yang tajam.
"Kau pasti dari kamar Naruto, 'kan?" ucap Julia dengan tampang serius.
"Ya. Memangnya kenapa?" Cassie menjawab dengan nada sinis.
"Naruto itu milikku sebelum kau bertemu dengannya. Kami nyaris membabtis waktu itu. Tapi, sesuatu terjadi sehingga aku terluka karena serangan tiba-tiba dari tubuh Naruto yang tidak terlihat."
"Lalu kau mencampakkannya dan menggantikannya dengan Limiter lain. Pandora macam apa kau ini?"
"Apa katamu? Kau sama saja denganku! Kau juga mencampakkannya demi cita-cita menjadi novelis!"
"Tapi, aku bukan pengkhianat sepertimu, Julia-senpai!"
"Kau!"
Emosi Julia naik drastis. Ia menyilangkan tangan di depan dada, lalu menjulurkan kedua tangan ke depan. Tiba-tiba, muncul gelombang kejut berkecepatan dahsyat menuju Cassie.
Syaaat! Seorang laki-laki berambut pirang jabrik menjadikan dirinya tameng sehingga serangan gelombang kejut itu mencetak goresan luka-luka di punggungnya. Dirinya pun terdorong bersama Cassie yang dipeluknya. Mereka terjerembab kasar di lantai.
"Naruto!" seru Julia dan Cassie bersamaan.
Julia berhenti menyerang dan melihat Naruto yang berada di atas tubuh Cassie. Wajah Naruto sangat dekat dengan wajah Cassie. Senyuman terukir di wajah sang Pendeta sehingga membuat muka Cassie memerah padam. Pemandangan itu sungguh meremukkan hati Julia.
"Hei, Cassie menyingkirlah dari Naruto!" tandas Julia dengan muka yang menggelap.
"Naruto, pinggir!" Cassie mendorong tubuh Naruto. Naruto terduduk dengan senyum yang masih melekat di wajahnya.
Cassie spontan menjauh dari Naruto. Naruto tampak meringis kesakitan pada punggungnya. Julia yang datang mendekatinya, langsung memegang tangannya.
"Naruto, kau tidak apa-apa, 'kan? Maafkan aku." Julia berkata lembut dengan alis yang melengkung ke atas.
Naruto menepis tangan Julia dari tangannya. Menatap gadis berambut indigo itu tajam sekali. Julia terkesiap, segera menjauh.
"Naruto, kau marah padaku?" Julia merasa bersalah, kemudian melototi Cassie. "Cassie, pertarungan kita belum selesai. Ingat itu."
"Aku paham." Cassie mengangguk cepat.
Julia melenggang pergi, menuruni tangga. Cassie menghelakan napas lega, lalu khawatir pada keadaan Naruto. Ia melihat Naruto berjalan menaiki tangga lagi.
"Naruto, tunggu!" Cassie menyusul Naruto. Ia naik tangga dengan cepat. "Keadaanmu baik-baik saja, 'kan?"
Naruto berhenti berjalan dan berdiri di puncak tangga. Ia tersenyum, menandakan keadaannya yang sehat. Cassie turut tersenyum sambil menunduk.
"Terima kasih karena kau sudah menolongku. Tapi, kau tidak perlu menjadikan dirimu tameng seperti itu. Itu melukai dirimu sendiri," kata Cassie dengan sorot mata yang melunak, "aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku tidak ingin merepotkan orang lain lagi."
Naruto yang mendengarkan, terenyuh. Ia tetap tersenyum sampai pergi lagi meninggalkan Cassie. Cassie melihat punggungnya yang terluka. Darah merembes dari sela luka-luka gores hingga terserap oleh baju kaos putih yang dipakai laki-laki berambut pirang itu.
"Naruto, dia terluka," bisik Cassie. Ia ingin mengejar untuk merawat luka yang ditanggung Naruto, tetapi tidak bisa karena Naruto tidak bisa didekati lagi.
Cassie juga pergi dengan membawa perasaan kecewa yang bercampur sedih. Tidak ada kebahagiaan yang ditemukannya lagi selama kehilangan Naruto.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Terima kasih.
Jumat, 31 Januari 2020
