Kita tahu sendiri Sehun dan Luhan pertama kali kencan saat mereka menonton comeback boyband terkenal yakni EXO. Namun, sebulan sebelum kencan mereka, Mansion Xi kedatangan tamu penting.

Kedatangan tamu tersebut yang menjadi asal-usul keinginan Luhan menonton comeback boyband tersebut.

"Berapa usia kandunganmu, nak?"

"Baru dua bulan."

"Biasanya di usia itu, perut ibu hamil belum buncit. Justru terlihat di usia keempat bulan. Tapi mengapa aku melihat hal berbeda? Perutmu sedikit timbul."

"Orang-orang sering menyangka aku hamil anak kembar karena itulah di usia dua bulan, perutku terlihat lebih besar dari lainnya."

"Doakan saja agar itu kenyataan. Memiliki bayi kembar adalah idaman kebanyakan calon orang tua."

"Aku hanya berharap anak kami sehat."

Xi Luhan tengah berbicara dengan pria bermarga Cho, seorang pemilik agensi entertainment termasuk di bidang musik dan akting. Pria itu sudah memasuki usia enam puluhan. Ketampanannya pun masih bisa terlihat meski mengeriput oleh usia.

Tuan Cho, biasa dipanggil demikian, bertamu di Mansion Xi saat Sehun masih bekerja. Luhan pun sudah memasuki masa cutinya sehingga Tuan Cho bisa berkesempatan bertemu wanita super sibuk itu.

Pertemuan kali ini membuat Tuan Cho terkesima. Luhan yang dikenal brengsek, jalang, dan seksi, kini beraura feminim dan menyejukkan. Seakan di sekitar Luhan terdapat bunga-bunga berguguran disertai kilauan pelangi. Hormon kehamilan ternyata tak hanya berefek terhadap sang calon ibu, tapi juga orang-orang di dekat calon ibu tersebut.

"Jadi... Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Luhan menghentikan basa-basi ini. Dia bukannya tidak suka mengobrol dengan Tuan Cho tapi kehamilannya kali ini berbeda saat dia hamil Guanlin. Cukup kuat, namun menghabiskan energi Luhan berkali-kali lipat. Luhan pun jadi mudah lelah, kantuk terus menerjangnya, dan tubuhnya selalu pegal. Jadi lebih baik pembicaraan ini langsung ke topik agar cepat selesai. Luhan begitu merindukan ranjangnya.

Tuan Cho menolehkan atensinya pada pekarangan bunga mawar di sekitarnya. Dia memilih bicara dengan Luhan di kursi taman untuk suasana santai saja.

Sambil memandangi bunga mawar yang masih menguncup, Tuan Cho menjawab, "aku datang ke sini ingin meminta tolong padamu."

Luhan mengerutkan kening. Dari ekspresi tak terbaca Tuan Cho, sepertinya pembicaraan ini agak berat. Mungkin mengenai bisnis karena Tuan Cho adalah salah satu kolega bisnis Luhan. Dia juga memasang saham 10% untuk agensi milik Tuan Cho.

"Apa ini tentang bisnis?"

"Ya," angguk Tuan Cho. "Aku ingin saham sebesar 55% milikku di agensi AA Entertainment berubah atas nama XiLu Corporation. Atau, kau bisa membelinya. Itu terserahmu."

Saham triliunan won itu hal kecil bagi Luhan. Namun selayaknya pebisnis, dia tidak bisa mengiyakan begitu saja.

"Sepuluh tahun akhir ini agensimu sering mengalami kontradiksi. Seringkali terjadi pemutusan kontrak di tengah jalan, adanya tuntutan, sampai kasus bunuh diri. Terobosan yang agensimu buat juga kebanyakan merugikan agensimu sendiri, sehingga berbalik pada turunnya harga saham. Agensimu bukan lagi trendsetter seperti masa sebelumnya," Luhan terkekeh sinis. Pandangannya seakan merendahkan, khas CEO angkuh. "Tidak ada untungnya bagi XiLu Corporation untuk mengakusisi agensimu. Lagipula industri hiburan bukan ranah kami."

Tuan Cho terkekeh, "Aku belum bangkrut, Luhan. Sebenarnya perusahaanku tidak butuh diakusisi."

"Lalu apa alasanmu memintaku membeli agensimu?"

Tuan Cho memandang Luhan lamat-lamat sebelum menjawab,

"Usiaku semakin menua. Bagiku, industri hiburan ini mendekati titik jenuhku. Anak-anak dan cucuku tidak mau meneruskan usaha yang kurintis dari nol ini. Mereka lebih tertarik pada bidang properti, arsitek, atau backpacker." Kekehan Tuan Cho bercampur suara serak akibat batuk-batuk. "Pemikiran anak-anak muda jaman sekarang sudah berbeda dengan orang tua sepertiku. Rasanya aku seperti tersesat di jaman yang salah."

"Alasan yang aneh. Terlalu remeh."

"Aku hanya ingin menikmati masa tuaku," Tuan Cho berusaha membujuk Luhan. "Apa tidak bisa, nak?"

Luhan bergeming. Kepalanya tak mengangguk pun menggeleng. Sebaliknya, dia memalingkan wajah.

"Luxian adalah sahabatku. Kalau dia masih hidup, mungkin sudah seusiaku." Pandangan Tuan Cho mengarah ke langit tinggi. "Kadang aku bertanya, apakah dia masih setampan diwaktu muda apabila dia hidup sampai sekarang?"

Muka Luhan suram. Dia tidak terlalu suka apabila Tuan Cho membahas babanya.

"Kalau begitu, aku ingin memberimu ini. Mungkin kau tertarik?"

Luhan menerima sebuah album lagu dari tangan Tuan Cho. Desainnya cukup elegan. Warna dasarnya hitam merah. Ada logo segi enam seperti speedometer motor di cover album. Luhan tersenyum kecil, "kau memberiku album artismu secara gratis?"

Tuan Cho mengangguk.

"Album itu akan rilis sebulan lagi. Apalagi tahun ini agensi memutuskan tidak melakukan promosi yang terlalu besar pada EXO," Tuan Cho menghela nafas, "kau pebisnis yang sama telitinya dengan babamu. Dan kau benar, agensiku sudah mengalami beberapa kerugian dan 'menggunakan' EXO adalah salah satu cara mengatasi hal tersebut. Kasarannya, mereka dan fans mereka penyumbang dana terbesar untuk agensi."

Luhan tersenyum remeh, "benar-benar kacau. Tapi... Kuterima album ini."

"Sejujurnya, ada satu rahasia yang perlu kau ketahui."

Luhan menaruh album lagu itu di atas pahanya. Tuan Cho sedikit melebarkan senyum padanya.

"Luxian dulunya perintis AA Entertainment bersamaku. Saham yang ditanamnya lebih besar dariku waktu itu."

Kenyataan itu cukup mengejutkan Luhan.

Sejak kapan Xi Luxian tertarik pada musik, heh? Mungkin itulah pertanyaan di benak Luhan.

"Sayangnya, Luxian menjual sahamnya hingga dia hanya mematok sepuluh persen saham, karena kurang tertarik di bidang musik." Kata Tuan Cho. "Setidaknya berkat otak cemerlangnya selama lima tahun awal sebagai CEO agensi, AA Entertainment menjadi sebesar ini."

Tuan Cho menunjuk album EXO bertulis 'Tempo' di atas logo speedometer. "Konsep boyband ini dibuat olehku dan Luxian semasa kuliah kami. Dan akhirnya terwujud beberapa tahun setelah dia meninggal."

Luhan tak banyak merespon kecuali dua kalimat, "sepertinya sebuah kesalahan kau membentuk boygrup satu ini di agensimu."

Wanita itu memainkan album Tempo seakan itu hanya mainan murahan.

"Apapun yang dibentuk oleh Luxian bagaikan sumber anugerah dan kutukan. Contohnya karakterku...

...dan konsep EXO."

Tuan Cho tersenyum kecut tanpa respon.

"Tuan Cho."

"Ya?"

Luhan meliriknya remeh,

"Kau benar kalau aku pebisnis teliti. Dimana aku tahu segalanya mengenai apa-apa yang kuurus termasuk agensimu. Jadi selayaknya pebisnis, aku harus menggunakan 'mereka' dengan semestinya."

Wanita brengsek itu bersandar di punggung kursi taman, memiringkan kepala, tersenyum simpul sembari memandangi hamparan bunga mawar.

Tuan Cho memperhatikan Luhan. Tubuhnya merinding kala memikirkan satu hal.

Xi Luhan punya satu rencana.

Yaitu sebuah gebrakan aneh yang akan merubah 'nama'nya.

.

.
.

.

.

HUNHAN (GS)

GS FOR UKE, TYPO(S), RATE-M, KINGDOM-AU, MAFIA-AU, ABAL-ABAL

NOTE in this chapter :

A. Jika ada yang ingin ditanyakan, ketik di kolom komentar.

B. List Member EXO

-Si Leader (Suho)

-Si Imut (Baixian)

-Si Telinga Lebar (Richard Park)

-Si Tan (Kai)

-Si Muka Bebek Uwu :3 (Jongdae)

-Si Maknae (Odult)

C. Awalnya aku ingin pakai boyband selain EXO, tapi tetap saja gambaran yang cocok untuk "Boyband andalan Lady Luhan" hanyalah EXO.

WARNING :

Part-nya panjang demi tercapainya target.

.
.
.
.
.

Twelve : Luhan's Love is War

"Lady Luhan dengan tindak-tanduk ekstrimnya dan Tuan Muda Sehun dengan ketenangan tak wajarnya, sudah cukup untuk menjatuhkan lawan berskala internasional. Ditambah mereka berdua sering melakukan gebrakan aneh untuk mengultimatum lawan mereka. Apakah romantisme mereka seekslusif itu?"

—Park Chanyeol—
.
.
.
.
.

Tanpa suara Sehun berkata, "'barang-barang' kalian adalah mayat manusia. Tepatnya organ-organ tubuh mereka." Sehun memicingkan mata. "Akan di bawa ke mana mayat-mayat itu?"

Hanbin menjawab telak tanpa suara, sembari menatap punggung Baekhyun di pelukan Sehun.

"Byun Hospital."

Sehun mengelus kepala Baekhyun yang dipasangi wig rambut pendek. Suami Luhan itu menyimpulkan satu fakta lain.

Satu fakta yang mencengangkan mengenai istrinya.

Yaitu... selama ini, Xi Luhan tak sekedar 'membunuh dan membantai'. [Chapter Eleven]

Sehun menunduk pada Baekhyun. Secara kebetulan Baekhyun membalas tatapannya penuh tanya.

"Oppa akan mengantarkanmu kembali ke Mansion Xi."

"Tapi Oppa—" Baekhyun terdiam kala Sehun menatapnya tajam. "Ne, oppa."

"Jika Luhan menanyaiku. Katakan padanya, aku masih ada urusan dengan Hanbin."

Sebenarnya Baekhyun sedikit curiga ketika tangan besar Sehun menekan kepala belakangnya, seakan Sehun tak ingin Baekhyun menoleh agak ke belakang. Baekhyun pikir urusan Mafia Xi sebaiknya tak perlu diselaminya terlalu dalam, jadi dia memaklumi tingkah mencurigakan Sehun ini.

Suara pintu pickup truk berdebam, membuktikan acara 'beberes' Hanbin dan Mafia Xi lainnya sudah selesai.

"Nona Muda Baekhyun bisa ditemani Rowoon." Ujar Hanbin. Baekhyun menguraikan pelukan Sehun dan beralih menatapi pria itu. "Sebentar lagi Rowoon datang kemari. Kalian bisa menaiki taksi bersama ke mansion Xi." lanjut Hanbin.

"Rowoon-oppa?" tanya Baekhyun memastikan. Senyumnya pun terbit penuh kelegaan kala Hanbin mengangguk. "Baiklah. Setidaknya aku ditemani pulang oleh pria yang kukenal."

Meskipun Hanbin menyuruh salah seorang Mafioso dari Keluarga Xi mengantarkannya pulang, Baekhyun takkan pernah mau karena dia was-was. Terkecuali Rowoon. Pria itu terlihat cukup baik dan Baekhyun nyaman berinteraksi dengannya.

Tepat saat taksi mendekati Sehun dan lainnya, Baekhyun mencium pipi kanan Sehun lalu berkata, "itu sepertinya taksi yang ditumpangi Rowoon-oppa! Kalau begitu aku pulang dulu, Sehun-oppa."

Sehun memastikan di dalam taksi itu ada Rowoon. Sedetik melihat Rowoon melambaikan tangan dari dalam taksi, Sehun mengangguk. Dia agak membungkuk ketika kaca pintu taksi turun. "Rowoon-ah... Aku titip adikku. Tolong jaga dia. Pastikan dia menemui Luhan secara langsung."

"Tentu, Tuan Muda."

"Hati-hati, oppa! Jangan terlalu banyak membuat Luhan-eonni khawatir. Ingat Triple Twin kalian," pesan Baekhyun kalem.

"Arraseo," Sehun balas mencium pipi kanan Baekhyun. "Jangan ketiduran."

Setelah taksi itu meninggalkan basemen mall B, Sehun memperhatikan lamat truk es krim yang sebelumnya dia kendarai.

Truk es krim itu ternyata membawa setidaknya lima belas mayat. Belasan mayat itu dipindahkan ke truk pickup yakni pengangkut barang-barang elektronik produk XiLu lainnya. Setelah truk es krim tadi sudah bersih dari mayat dan jejak apapun, salah seorang mafioso mengendarai truk itu kembali ke Mapo-gu.

"Anda mau ikut ke Byun Hospital, Tuan Muda?" Tawar Hanbin memecahkan lamunan Sehun. "Kita bisa menaiki truk pickup bersama."

Sehun memperhatikan sekitar enam Mafioso lainnya memasuki mobil biasa.

Dengan datar dia menjawab, "aku ikut saja."

Selama di perjalanan menuju Byun Hospital, Sehun mengamati beberapa mobil secara acak mengikuti truk pickup 'pembawa mayat' ini.

"Hanbin," tegur Sehun saat Hanbin masih fokus menyetir truknya.

"Nde?"

"Apakah Keluarga Byun dibunuh karena Luhan ingin menguasai rumah sakit mereka?"

Hanbin 'membisu'.

Tanpa respon Hanbin, Sehun sudah tahu jawabannya.

Byun Hospital.

Rumah sakit itu sangat besar. Itu terkenal dengan dokter-dokternya yang kompeten, serta peralatan medis mumpuni. Tak jarang, rumah sakit itu selalu jadi rujukan apabila beberapa penyakit atau kondisi pasien tak bisa ditangani di rumah sakit biasa.

Dan disinilah Sehun saat ini, tepatnya salah satu cabang Byun Hospital—rumah sakit milik Keluarga Bangsawan Byun—di Gwangjin-gu.

Hari sudah petang. Sebentar lagi malam dan jam jenguk habis.

Sudah pemandangan biasa apabila pihak Byun Hospital merenovasi atau merawat sarana dan prasarana pada malam hari. Petinggi rumah sakit beralasan bahwa dia tak ingin menganggu kerja dokter, mengingat dokter kebanyakan aktif di jam kerja kecuali adanya kecelakaan atau kejadian darurat lainnya. Selain itu, para pekerja yang biasanya merenovasi rumah sakit sudah ahli bekerja dalam diam. Artinya, para pekerja ini bekerja tanpa menimbulkan gangguan bagi pasien saat beristirahat.

Tak bisa dipungkiri, Byun Hospital adalah rumah sakit kelas atas dengan etos kerja tinggi. Membuat Byun Hospital diisi orang-orang kaya konglomerat berpenyakitan.

Selain itu, hari ini sudah waktunya bagi Byun Hospital membeli barang-barang elektronik seperti pendingin ruangan, televisi, bahkan telepon kabel, untuk mengganti barang-barang non medis yang rusak di rumah sakit tersebut.

Di basemen rumah sakit, Sehun dan Hanbin melompat turun dari truk.

Mereka disambut seorang wanita berpakaian dokter.

Dokter Hyoyeon.

"'Barang-barang'nya masih aman?" ucap Hyoyeon tanpa beban pada Hanbin.

Pria itu merespon, "tentu. Ini semua berkat Tuan Muda." Dia mengendikkan dagu ke arah Sehun.

Hyoyeon tampak tak terkejut melihat eksistensi Sehun. Sebaliknya, dia tersenyum tipis, "sepertinya saya harus mengakui identitas asli saya pada anda, selain saya sebagai dokter kandungan Lady Luhan."

Hyoyeon sedikit membungkuk pada suami dari Luhan tersebut.

"Nama saya Hyoyeon. Saya adalah dokter dan spesialis di beberapa bidang. Baik itu kandungan, umum, atau bedah. Saya juga Gadis Koleksi Lady Luhan yang kesepuluh. Salam kenal sekali lagi, Tuan Muda Sehun."

Sudah berapa kali Sehun membatin kalau, 'istriku benar-benar dipenuhi kejutan. Dia selalu membuatku tercengang.'?

"Hyoyeon adalah Pemimpin Kelompok Gwangjin-gu." Hanbin menyeringai pada Sehun. "Kedudukannya setara Rowoon."

Ini diluar dugaan Sehun.

Diperhatikannya dokter Hyoyeon. Dalam balutan jas putih dokter dan tangan disembunyikan di saku jas, tak ada yang menyangka dokter itu adalah salah satu pemimpin sub kelompok mafia.

Itu artinya, Dokter Hyoyeon seorang Mafioso.

"Apa situasinya sudah tepat?" Hanbin bertanya lalu matanya melirik keseluruhan area di sekitarnya.

"Jangan khawatir." Hyoyeon berkacak setengah pinggang. "Keamanan terjamin. Di jam ini rumah sakit tidak terlalu sibuk. Penjenguk sudah pulang, pekerja shift malam secara keseluruhan belum datang, dalam beberapa waktu area sekitar kamar mayat hening. Jadi kalian bisa memindahkan lima belas barang tersebut ke kamar mayat yang sudah disediakan. Lakukan dengan cepat."

"Aku mengerti."

Beberapa perawat pria mulai berdatangan. Mereka membawa ranjang beroda. Mayat-mayat itu sudah dilepaskan dari kantung mayat, dibaringkan ke ranjang, kemudian dari kepala sampai ujung kaki diselimuti. Secara bergiliran dibawa masuk. Mereka belum meninggalkan bau busuk yang kentara.

Sehun ingat. Saat dia di basemen mall B, Sehun melihat bagian dalam pickup pengangkut barang elektronik itu dipasangi pendingin, persis pickup truk es krim.

Pendingin dalam pickup itu menjaga mayat-mayat tersebut lebih tahan lama, persis daging sapi dalam kulkas.

Dari ucapan Hyoyeon tadi, Sehun pun percaya keamanan di Byun Hospital.

Bagi Sehun, memang agak mencurigakan jika belasan mayat secara bersamaan dimasukkan dalam kamar mayat. Namun Byun Hospital sudah dipastikan sepi, dan para perawat, dokter, serta pekerja lainnya mengosongkan area sekitar kamar mayat yang Hyoyeon maksud.

"Untuk sekelas mafia... Pekerjaan mereka terlalu rapi," gumam Sehun berpendapat.

Setelah memastikan seluruh mayat dipindahkan, Hanbin bicara sesuatu pada Hyoyeon. Terkadang pembicaraan mereka berdua ditimpali mafia Xi lainnya.

Sementara itu, Sehun berdiri agak menjauh seakan dia tersisihkan.

"Mereka semua gadis muda?" Monolognya. Hanya Sehun yang bisa mendengar ucapannya sendiri.

Dirasa selesai, Hanbin bersalaman dengan Hyoyeon.

"Aku tunggu laporannya besok." ucap Hanbin setelah melepas jabatan tangannya.

"Tentu."

"Tuan Muda, ayo kembali. Saya antar ke Mansion Xi," ajak Hanbin.

"Kau duluan," kata Sehun. Keindahan mata tajamnya terpicing. "Aku ingin bicara sesuatu pada Hyoyeon. Nanti aku akan menghubungimu lagi jika ada perlu."

"Baik, Tuan Muda," angguk Hanbin.

"Sepertinya anda penasaran bagaimana Mafia Xi beroperasi," ucap Hyoyeon seusai basemen sepi dari Hanbin dan anak buahnya. Hyoyeon seakan tak takut ketika mengucapkan 'mafia Xi' di area rumah sakit. "Lady Luhan sudah menyampaikan padaku kalau suaminya penasaran, beritahu saja."

Mendengar nama Luhan membuat air muka Sehun lebih cerah.

"Petinggi rumah sakit tahu hal ini?" Sehun memastikan dugaannya.

Dia mengikuti Hyoyeon. Wanita itu melangkah mendahului Sehun ke dalam gedung rumah sakit.

"Ya. Secara tak langsung mereka terikat pada Lady Luhan. Jika mereka menyeleweng, 'ciuman kematian' akan mereka dapat. Begitulah cara Mafia Xi bekerja, memegang kesetiaan seseorang di bawah tekanan atau loyalitas. Ada 'tikus' di antara kami, bunuh!"

Lima belas mayat itu berada dalam satu kamar mayat yang sama. Sebelum Hyoyeon dan Sehun masuk, dokter kandungan Luhan itu menginterupsi.

"Pakai sarung tangan dan masker sebelum memasuki kamar ini, Tuan Muda."

Setelah memakai sarung tangan dan masker, Hyoyeon memimpin Sehun memasuki kamar mayat tersebut.

"Kebetulan kamar mayat ini kosong. Jadi saat ini hanya diisi barang-barang milik Mafia Xi," Hyoyeon berkata di balik maskernya. "Sudah biasa Mafia Xi mengirim belasan mayat di cabang Byun Hospital yang berbeda, untuk memeriksa kelayakan mayat ini. Seperti mengetahui apakah mayat ini membawa penyakit menular, penyakit turunan, penyakit genetik, penyakit kronis, kecacatan, dan semacamnya. Kadang pemasok tidak mencantumkan catatan kesehatan 'barang-barang' mereka."

Pemasok yang Hyoyeon bicarakan di sini adalah Instansi, organisasi, atau individu yang memasok mayat-mayat ini pada Mafia Xi.

"Kupikir untuk sekelas mafia, kalian hanya peduli uang tanpa mempertimbangkan kualitas 'barang'."

Pembicaraan Sehun dan Hyoyeon seolah mayat-mayat di ruangan tersebut adalah daging sapi di pasaran.

Hyoyeon menggeleng lemah, "sejak Lord Luxian mengepalai Mafia Xi, pola pikir mereka berubah. Itu kata Komandan sebelum Hanbin." Wanita itu tersenyum tipis, "beliau sudah pensiun. Identitasnya tidak boleh Anda ketahui meskipun anda sangat penasaran."

"Untungnya aku tidak mau tahu." Sehun memperhatikan kondisi mayat dimana posisinya paling dekat dengannya. "Setelah diperiksa, lalu apa?"

"Mayat dari Mapo-gu ini akan dipindahkan ke ambulans milik Byun Hospital. Yang layak nantinya akan dibawa ke Byun Biological Center." Seakan Hyoyeon mengajari mahasiswa magang, dia menjelaskan, "Byun Biological Center. Itu nama perusahaan bioteknologi. Bisnis penjualan manusia untuk riset medis, perusahaan alat-alat medis, kemiliteran, dengan pemasok berasal dari berbagai pihak. Sekitar lima puluh persen dari keseluruhan mayat-mayat di Byun Biological Center, terdiri dari gelandangan, atau mayat dari keluarga miskin yang tak mampu membayar biaya pemakaman atau kremasi."

"Sementara yang tidak layak juga dijual tapi bukan untuk sumber donor melainkan kemiliteran." Lanjut dokter Hyoyeon. "Banyak pihak militer membeli mayat-mayat dari Mafia Xi, lewat Byun Biological Center, untuk mengetes daya kekuatan senjata mereka terhadap makhluk hidup khususnya manusia." Lanjut Hyoyeon. "Seperti daya ledak pada tubuh manusia, misalnya? Kalaupun mayat tidak seratus persen layak, beberapa bagian tubuh mereka seperti kaki, tangan, atau kepala masih laku dijual ribuan dolar."

Hyoyeon memiringkan sudut bibirnya. Pembawaan ramahnya sedikit hilang, "Byun Hospital dan Byun Biological Center memang milik Keluarga Bangsawan Byun. Namun aktivitas dua instansi ini di bawah perlindungan Keluarga Bangsawan Xi. Tepatnya, dilindungi Mafia Xi."

Sehun menghela nafas, "Korea Selatan atau kerajaan lain memang tampak tenang tanpa perang. Namun siapa yang tahu? Jaringan luas mafia bekerja di bawah ketenangan mereka."

Ketika Sehun menunduk, anak-anak rambut hitamnya jatuh menutupi dahi tampannya. Jari beruratnya meraba selimut mayat tepatnya di bagian perut. Keningnya berkerut seksi.

"Mereka kehilangan salah satu organ," ucap Sehun sambil menekan bagian perut bawah mayat di balik selimut. "Rahim?"

"Hanbin memberitahu anda kalau seluruh mayat ini gadis muda?" Hyoyeon bertanya karena dia yakin Hanbin tidak seceroboh itu membicarakan 'barang-barang' mafia Xi di tempat umum, kecuali Byun Hospital dan beberapa instansi kekuasaan Mafia Xi lainnya.

Sehun menggeleng lemah.

"Dari mana anda tahu mayat-mayat ini kehilangan rahim mereka, kalau anda tidak tahu mereka itu gadis?"

"Perawat-perawat pria tadi bekerja terlalu rapi sampai aku nyaris tak tahu kelamin para mayat ini" puji Sehun. "Tapi dari postur dan tinggi tubuh mereka, walau di bawah selimut atau dibungkus kantung mayat, sudah ketahuan kalau mereka para gadis muda." Sehun bersedekap. Serius menekuri mayat sambil memiringkan kepala.

Tanpa disadari Sehun, dia bergumam tanpa suara,

"Hal ini sudah biasa untukku, karena di masa lalu, aku sudah biasa 'menyuguhi' banyak mayat wanita atau gadis."

"Anda mengatakan apa, Tuan Muda?"

Sehun menggelengkan kepala. Dia menutup bibirnya dengan jemari kokohnya yang nampak jantan.

"Hm...? Aku mulai menduga sesuatu. 'Benang merah mulai nampak'." Monolog Sehun. Matanya mengerling ke arah lain. "Apa Luhan merasakannya juga?"

Tampilan sampingnya terlalu menggoda. Apalagi gerak-gerik Sehun ketika kening mulusnya berkerut penuh pikiran, sementara tangan kirinya terlipat di dada dan ibu jari kanannya digigiti.

Hyoyeon jadi meragukan pekerjaan Sehun sebagai Psikolog Klinis. Mungkin saja Sehun punya pekerjaan sampingan sebagai model? Karena cara jalan Sehun pun seakan dipenuhi kilauan blitz kamera.

Hyoyeon menyimpul bibir. Pemiliknya, Xi Luhan, memang tak salah memilih suami.

Sehun berdeham elegan tanpa perubahan ekspresi. Nyatanya, Sehun hanya menyembunyikan isi pikirannya dari siapapun.

"Boleh aku melihat setidaknya dua mayat, uisa-nim?"

Hyoyeon awalnya ragu. Luhan memang memerintahkannya menuruti segala kemauan Sehun, namun kerahasiaan 'barang' Mafia Xi tidak termasuk di dalamnya. Itu bukan masalah, setidaknya dia menghadapi Sehun sang suami Lady Xi, bukannya orang asing.

Setelah dua selimut disingkap, Sehun memperhatikan keseluruhan tubuh dua mayat itu.

"Aku akan menghubungi Hanbin."

Ucap final Sehun.

.

.

.

.

.

Sehun menghubungi Hanbin lewat ponselnya. Dia berdiri di pojok kamar mayat, tak takut sama sekali dengan suasana horor di sana.

"Beberapa mayat gadis ini kehilangan organ reproduksi mereka, maksudku rahim. Ini seperti Jack the Ripper, pembunuh terkenal di London pada masanya." Sehun menengadah sembari kepala belakangnya bersandar pada dinding.

"Hanbin. Dari mana kau mendapatkan mayat-mayat gadis ini? Siapa pemasok mereka?"

Yang ditanya menjawab di seberang,

["Saya belum bisa menjawabnya. Lady Luhan memerintahkan saya untuk menjaga kerahasiaan data dari siapapun termasuk anda. Kami hanya ingin menjaga privasi pemasok kami."]

"Aku akan membicarakan ini dengan Luhan."

["Sebaiknya begitu. Jika anda dapat izin dari Lady Luhan, saya mungkin bisa juga memberitahu segalanya tentang Mafia Xi."]

Hanbin tertawa kala mendengar Sehun mendengus.

["Kesetiaan dan keloyalan kami hanya untuk Lady Luhan, bukan untuk anda. Jadi tolong dimaklumi, Tuan Muda."]

Ucap telak Hanbin tidak mempengaruhi Sehun. Mengetahui respon diam Sehun, Hanbin melanjutkan,

["Kami selalu menjaga kerahasiaan identitas kami. Siapapun tidak boleh tahu siapa saja mafioso dari Organisasi Mafia Xi kecuali orang-orang di selingkar Mafia Xi, khususnya Lady Luhan. Karena itulah saat pihak mafia Xi bertemu pemasok dan pembeli, usahakan identitas kami sebagai distributor tidak ketahuan. Cukup mereka tahu kami orang-orang dari Bidang Kesehatan, Instansi Kepolisian, Dewan Rakyat, Diplomat, atau...

...hanya tukang es krim.

Inilah gunanya penyamaran, Tuan Muda."]

"Hmh..."

Sehun kembali mendekati dua mayat tadi. Dia memandang keseluruhan wajah dua mayat gadis itu.

Sorot matanya begitu tajam dan memukau, saat dia mengucapkan sesuatu untuk Hanbin.

"...tanpa kau jawab pun, aku sudah tahu siapa yang menjadi pemasok mayat para gadis muda ini."

Oh Sehun memang seperti itu.

Dia mudah mengenal lawan dan kawannya terlalu detail, tanpa perlu menyelami kehidupan mereka terlalu dalam.

Meski begitu,

Lawan dan kawannya sulit menembus kemisteriusannya.

.

.

.

.

.

Kepulangan Sehun ke mansion Xi disambut ceria oleh Luhan.

"Hunnie!"

Tubuh Sehun nyaris oleng ke belakang kalau dia tak tahan menerima pelukan istrinya. Luhan menangkup dua pipinya lalu melahap bibirnya rakus. Sehun membalas dan memimpin ciuman itu. Sampai akhirnya Luhan melenguh akibat belitan lidah Sehun dalam rongga mulutnya. Ujung lidah Sehun dan Luhan saling bersentuhan, membentuk gerakan melingkar, menciptakan hawa panas di seluruh tubuh.

Luhan terengah-engah sementara Sehun mengusap bibir basah istrinya.

"Kau sangat merindukanku, hm?"

"Aku menginginkanmu. Aku terlalu rindu..." Bisik Luhan. Rangkulannya mengerat di leher Sehun. Keduanya kembali bertarung lidah.

Merasa gejolak panas di tubuhnya tak mampu dielak, Sehun memilih menggendong Luhan ala pengantin setelah ciuman mereka terlepas.

"Aku akan mengunjungi anak-anak kita, sayang. Kau keberatan?"

"Itulah yang kutunggu-tunggu! Kunjungilah mereka."

"Andai kau tidak hamil, aku pasti akan menggempur dirimu sekeras mungkin, Hannie..." geram Sehun begitu jantan di hadapan Luhan.

Baekhyun dan Chanyeol.

Sedari tadi mereka memperhatikan kemesraan pasutri itu hingga hilang dari pandangan.

Keduanya saling melirik.

Lalu tersenyum malu-malu.

"Nona Muda, sebaiknya anda tidur. Ini sudah malam."

"Oppa... A...aku... Berhasil membantu Sehun-oppa dan Luhan-eonni. Aku gadis yang bisa diandalkan, kan? Apa... Op-oppa bangga padaku? Pada Baekki?"

Chanyeol menggusak rambut Baekhyun kemudian menciuminya cukup lama. "Saya bangga mendengarnya."

Baekhyun tersenyum persegi. Dia terkikik, "tidurlah di sampingku, oppa."

"E-eh?"

"Aku yakin oppa tidak macam-macam padaku. Ne? Oppa mau ya?"

Tak tahan pada keimutan Baekhyun, Chanyeol mengangguk.

"Ayo ke kamar anda."

.

.

.

.

.

Keesokan harinya...

.

.

.

.

.

Kemarin, Kris selaku Raja Korea Selatan, mengalami kegagalan cukup parah.

Dan hari ini Kris didampingi Penasihat Kerajaan, Juru Bicara, dan Perdana Menteri, mengadakan rapat bersama para petinggi kepolisian khususnya Kepala Kepolisian dan salah satu Intel yang mengawasi truk-truk kemarin.

Kepala Kepolisian Kota Seoul bernama Kim Leeteuk, sedangkan Intel yang dimaksud bernama Yoochun.

Ruang rapat istana tampak suram berkat buruknya mood Sang Raja. Kris hanya bertopang dagu di kursi utama tanpa bicara apapun. Kris sama sekali tidak berminat bertemu 'bawahan' negara yang tidak becus sama sekali.

"Sewaktu para Intel mengawasi setiap truk di tiap distrik dan tiap titik, kami mendapat telepon atas nomer rumah tempat tinggal keluarga kami," Yoochun bicara di kursinya. "Suara mereka persis salah satu asisten rumah tangga atau anggota keluarga kami."

'Kami' yang Yoochun maksud adalah para Intel.

"Mereka mengancam akan menembak mati salah satu anggota keluarga. Lalu ancaman kedua, mereka akan meledakkan diri mereka sendiri, yang sekaligus meledakkan seisi rumah dan sekitarnya. Awalnya kami tidak terpengaruh namun sebagai Intel, kami juga dituntut mempertajam insting dan intuisi kami. Jadi kami sepakat untuk mengabaikan truk-truk kecil kecuali truk besar dengan muatan di atas sepuluh ton."

Tepat di seberang meja, Kris melihat foto-foto yang disuguhkan oleh cahaya-cahaya lcd proyektor.

Foto-foto itu berisi bom di rumah beberapa Intel. Penemuan bom ini dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk anggota keluarga para Intel. Karena dari awal 'Pengawasan Truk' ini tertutup apalagi dilakukan oleh Intel. Lain kata, jika penemuan bom ini diketahui seisi rumah maka tak menutup kemungkinan identitas pada Intel terbongkar.

"Bom itu sudah dijinakkan sejak awal ditemukan." Ucap Yoochun sambil memandangi foto bom itu. "Ada yang ditemukan di kamar mandi, wastafel, bawah ranjang salah satu asisten rumah tangga, atau tempat-tempat yang mudah diakses namun tidak terlalu diperhatikan oleh seisi rumah."

"Bisa dikatakan, ancaman para pembunuh itu serius," celetuk Perdana Menteri Yeonseok. Sontak Kris meliriknya tajam dan dibalas senyum tenangnya.

"Benar," Yoochun mengepalkan kedua tangannya. "Ada ratusan Intel dan semuanya dihubungi oleh para pembunuh. Mereka menghubungi kami dengan nomer telepon rumah, mereka bahkan tau nomer ponsel yang kami gunakan 'sebagai intel' padahal keluarga kamipun tak tahu nomer ponsel itu. Itu artinya, identitas kami bocor. Padahal identitas kami adalah rahasia negara secara tidak langsung."

"Kau ingin mengatakan ada orang dalam di pihak pemerintahan?" Gumam Kris. Yeonseok memiringkan bibir tanpa dilihat siapapun.

"Sudah biasa di negara manapun, pasti punya struktur pemerintahan yang cacat di sana-sini," Yoochun menunduk hormat. "Saya tak bermaksud menghina anda dan Perdana Menteri Yeonseok, Pyeha... Tolong maafkan saya."

Kris menoleh pada Yeonseok, "ini akan jadi pekerjaan rumah untukmu selaku Kepala Pemerintahan."

"Nde, saya mengerti, Pyeha..." Respon Yeonseok.

"Kini aku mengerti penyebab kecolongan kalian. Atau mungkin memang tak ada satupun mafia yang beroperasi di Kota Seoul," ucap Kris. "Ada beberapa kemungkinan penyebaran atau distribusi barang mereka, adalah dari tangan ke tangan, atau melalui agen-agen kecil. Aku hanya berharap gerbong kejahatan besar seperti narkoba atau barang ilegal lainnya segera ditumpas dari Korea Selatan. Aku sangat mengandalkan kalian dan para militer nantinya."

"Sesuai titah anda, Pyeha..." Ucap Yoochun sedangkan Kepala Kepolisian dan petinggi aparat lainnya hanya mengangguk sekali penuh hormat.

Bagi mereka, Raja Woo Kris lebih idealis dibanding Raja Woo sebelumnya.

Kris berhasil mencetak nama baiknya di benak 'bawahan'nya.

Setelah Yoochun, berganti Leeteuk melapor sembari membaca kertas di hadapannya. Dia berdiri di samping layar.

Layar berubah foto. Berisikan potret korban kecelakaan seperti mobil memasuki jurang. Ada pula orang tertidur di ranjang dengan air muka pucat, sudut bibir berhias busa, atau orang meninggal karena gantung diri.

"Semua anggota Intel melaporkan satu dari seluruh pelayan atau pembantu rumah tangga di rumah mereka masing-masing, meninggal dunia. Entah karena kecelakaan, dibunuh, atau bunuh diri. Jadi bisa dikatakan, ada ratusan kematian seiring dengan ratusan Intel Kepolisian yang dikerahkan. Waktu dari ratusan kematian itu terjadi bersamaan,bahkan salah satu anggota keluarga intel juga meninggal karena disabotase." Leeteuk menggelengkan kepala. Sejujurnya dia takjub dan miris untuk melanjutkan.

"Sebagian besar korban pun tinggal sendirian atau sebatang kara di Seoul. Jika ada pekerja yang tinggal di rumah majikannya, maka target diganti salah satu anggota keluarga atau disabotase lewat tabrak lari, kecelakaan, dan semacamnya. Dari sini bisa disimpulkan bahwa para pembunuh ini sudah mengawasi pergerakan korban cukup lama." Leeteuk menggeleng lemah, "maksud saya... Para pembunuh ini sudah mengawasi seisi rumah para Intel cukup lama."

Leeteuk membuka lembar selanjutnya.

"Mari kita sebut ini dengan 'Ratusan Kematian'. Dengan ini akan lebih mudah karena fokus kita adalah 'kasus pembunuhan yang dilakukan oleh ratusan pembunuh'."

Kris menekan headset bluetooth di telinga kirinya. Suara Chanwoo terdengar dari seberang.

Kris melirik ponselnya yang tergeletak di hadapannya.

Sebenarnya Kris mengaktifkan komunikasi lewat ponsel dengan Chanwoo sedari awal. Dengan ini Chanwoo juga bisa mendengar isi rapat.

["Padahal Pembunuh dari kalangan Mafia Xi tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenali targetnya. Mereka terbiasa di bidang ini, jadi hal remeh ini bukanlah apa-apa bagi mereka,"] gumam Chanwoo di seberang yang bisa didengar Kris seorang. ["Pyeha... saya sudah memperingatimu sedari awal bahwa melawan Keluarga Bangsawan Xi tidak cukup hanya dengan kepolisian. Jadi jangan salahkan saya atas kegagalan pihak anda."]

Kris tersenyum sinis.

Lcd proyektor menunjukkan cahaya berwarna hingga menjadi foto peta Korea Selatan. Di peta terdapat ratusan lingkaran merah yang tersebar di titik-titik berbeda.

Leeteuk berdeham. Rasa-rasanya tenggorokannya gatal untuk mengatakan, 'ini kasus yang terlalu serius hanya karena mengawasi truk-truk di satu kota. INI GILA!'

"Ratusan kematian ini tersebar di Seoul dan luar Seoul. Lebih tepatnya... Seluruh Korea Selatan," ucap sang kepala Kepolisian. "Demi keamanan kerajaan, kasus-kasus tersebut dibuat seakan-akan hanya kecelakaan atau kematian yang wajar. Para polisi dan media dikerahkan untuk mengkondisikan agar publik tidak tahu-menahu mengenai 'ratusan kematian' ini."

"Pekerjaan mereka terlalu rapi," salah satu petinggi kepolisian memuji. "Sampai hari ini tak ada laporan mengenai penyelundupan barang atau hal mencurigakan lainnya. Aku mengatakan hal ini karena pihak kami sudah menyebarkan pengawasan di segala tempat yang mencurigakan. Misal club malam seperti Burning Sun, instansi pemerintah dan swasta, bahkan daerah pedesaan di seluruh Korea. Untuk saat ini semuanya aman."

"Anda tidak boleh terlalu yakin, Tuan," ucap Leeteuk. Wibawanya terjaga meski ingin mendengus sinis. "Keamanan yang anda maksud juga hasil dari ketidaktaatan instansi kerajaan pada Korea Selatan. Saya tak bisa mengelak pihak kita ada kongkalikong dengan gerbong kejahatan serupa mafia. Ini semua pun tak jauh dari kekuasaan dan uang."

Tak ada bantahan lagi.

Kali ini Leeteuk, seorang dari pihak kepolisian yang juga sangat idealis dan berdedikasi bagi kerajaan, berkata tanpa membaca laporan,

"Dari apa yang dilakukan ratusan pembunuh ini, sudah pasti mereka atau 'pemimpin' mereka ingin mengatakan beberapa hal pada pihak kita. Tepatnya instansi kepolisian, kemiliteran, khususnya pemerintahan."

Gaya bicara Leeteuk cukup berwibawa kala menjelaskan argumennya.

"Pertama, jika kegiatan mereka kembali diusik maka akibatnya akan lebih buruk dari ini. Seperti yang kita tahu, hanya karena kita mengerahkan ratusan Intel di satu kota, akibatnya adalah kematian yang hampir tersebar di seluruh daerah di Korea Selatan."

Kris dan Chanwoo di seberang sana membulatkan mata mereka seakan mendengar alarm bahaya.

Kata-kata Leeteuk selanjutnya seakan menghabisi kadar oksigen untuk seluruh penghuni ruangan.

"Kedua, ratusan kematian ini dilakukan nyaris bersamaan tanpa diketahui siapa pembunuhnya. Jadi, jika ini diberitakan atau ratusan kematian ini dikasuskan, akibatnya stabilitas Kerajaan Korea Selatan retak. Ini memberikan mindset buruk bagi masyarakat. Bahwa kerajaan dengan sistem pemerintahannya SAAT INI tidak memberi keamanan bagi rakyatnya."

Kris mengepalkan tangannya.

'Cara Luhan melawanku sebelumnya tidak seperti ini.' batinnya marah. 'Dia pasti akan mengirim tujuh kepala manusia di ruangan ini, atau melakukan hal sadis lain, hanya untuk memamerkan betapa bodohnya kerajaan di hadapannya. Ya. Luhan bukan wanita yang suka melakukan rencana setenang ini.'

'Lalu, siapa?'

"Ketiga," Leeteuk bisa membaca raut tercengang seluruh penghuni ruangan. Ada yang membulatkan mata, muka memucat, kening berkerut dalam, mengepalkan tangan tanpa ekspresi, atau mengigit bibir. "Jika ratusan kematian ini dikasuskan, akan ada penggiringan opini yang disebarkan oleh berbagai oknum tertentu. Di antaranya opini bahwa kerajaan dengan pemerintahannya saat ini dinilai lalai atau tidak mampu mengatasi suatu oknum. Dengan maksud lain, masyarakat akan meragukan kekuatan dari ketahanan nasional akibat dipimpin oleh Raja dan Perdana Menteri yang baru. Mengingat Raja Kris menjabat baru beberapa Minggu, dan Perdana Menteri Yeonseok baru menjabat belum setahun ini."

["Yang kita hadapi bukan Lady Luhan,"] ucap Chanwoo di seberang. ["Pyeha, sepertinya aku mencurigai satu orang di pihakmu."]

Kris kembali melirik Yeonseok. Sorot matanya dingin menusuk.

"Keempat, ratusan kematian ini berlangsung bersamaan di berbagai daerah, sehingga publik pasti akan menuntut pendalaman kasus. Apapun bisa terjadi di lapangan, termasuk mengetahui fakta bahwa ada gerbong mafia, atau oknum lain terlibat di balik ratusan kematian ini. Jika didalami lagi, pihak kerajaan sama saja membuka kedok dirinya sendiri." Leeteuk bicara hanya untuk ditujukan pada Woo Kris seorang. "Anda perlu diingatkan bahwa secara turun temurun Raja Woo menggunakan 'mafia' atau kelompok kejahatan tertentu, untuk mengamankan negara ini."

["Hanya Lady Luhan yang bisa menjadikan bantuannya sebagai boomerang bagi si penerima bantuan."] Chanwoo menertawakan ironi. ["Seperti yang diharapkan dari anak gadis tunggal seorang Lord Xi Luxian"]

"Aku ingin bicara secara pribadi dengan Penasihat Kerajaan." Kris beranjak dari kursi. Ucapannya terlampau dingin hingga menggetarkan punggung setiap orang. "Juru bicaraku akan mewakiliku di rapat ini. Jangan khawatir, aku tidak kabur dari masalah. Aku tahu kerajaanku berusaha mengobati luka di dalam tubuhnya sendiri."

Kris keluar ruangan diikuti Penasihat Kerajaan.

Yeonseok menggumam rendah,

"Apa kau sudah sadar siapa lawanmu, Pyeha...?"

.

.

.

.

.

Sementara itu, di Mansion Xi...

.

.
.

.

.

"Mereka mungkin menerka siapa yang menjadi dalang dibalik kegagalan aksi mereka. Dan ya... Mereka tahu serangkaian rencana kemarin terorganisir tanpa meninggalkan ciri khas seorang Xi Luhan." ucap cuek Sehun seakan dia membicarakan hal tak penting. Dia justru bertopang dagu dengan lengan terlipat di atas sandaran sofa.

Hari ini dia lelah sekali meladeni kecerewetan Luhan. Sekarang istrinya tertidur pulas sedangkan Sehun menonton program tv musik di ruang keluarga bersama Hanbin.

Kedatangan Hanbin murni karena urusan Mafia Xi. Kalau bukan karena Luhan yang memintanya datang, Hanbin takkan pernah mendatangi Mansion Xi.

Luhan hanya tak ingin apapun yang berhubungan dengan Mafia Xi tinggal di sini. Semua itu demi keamanan berbagai pihak.

"Rencana terstruktur dan bersifat ketenangan bukanlah ciri khas seorang Lady Luhan," ucap Hanbin. Pergelangan kaki kanannya bergoyang menikmati lagu berjudul Love Scenario dari boyband IKON. "Semua rancangan rencana anda adalah skenario yang biasa dibuat seorang 'Oh'. Sebelum Chanyeol, saya yang mewakili Lady Luhan menghadiri pertemuan antara Kepala Keluarga Bangsawan dengan Raja Korea Selatan. Dari pertemuan-pertemuan itulah saya sedikit tahu tentang Keluarga Bangsawan Oh."

Sehun menyimpul bibir. Kemudian terkekeh geli tanpa diketahui penyebabnya, "apakah mereka memahami 'pesan' dariku?" Kemudian dia duduk tegak, lalu meminum secangkir coklat hangat dengan aura kebangsawanannya yang kental.

'Pesan?' Hanbin membulatkan matanya. Manik coklatnya mengerling ke bibir tipis Sehun yang melukis smirk super menggoda.

Dia menggigit ibu jarinya, menahan segala ketakjubannya pada seorang Oh Sehun.

'Apakah rencana-rencana hari itu, adalah peringatan untuk Pihak Istana, bahwa betapa berbahayanya suami dari Lady Luhan ini...?'

Hanbin hanya menerka-nerka.

Namun dia tahu jawabannya adalah kebenaran mutlak.

.

.

.

.

.

Raja Korea Selatan dan Penasihat Kerajaan berada di kamar pribadi Raja Kris. Untuk saat ini, hanya tempat ini saja yang aman.

Penasihat Kerajaan yang Kris pekerjakan adalah seorang wanita.

Namanya Jihyo.

Perawakannya mirip Luhan. Tapi tetap saja dia sangat berbeda dengan wanita kecintaan Kris tersebut.

"Apa pendapatmu tentang ucapan Jenderal Leeteuk?"

Hanya di hadapan Kris, Jihyo berani membuka bungkus permen karet lalu mengunyah isinya.

Usianya yang memasuki kepala tiga tak menghalangi kebiasaannya dikala kalut.

Sambil menyempilkan permen karet di pinggir mulutnya, dia menjawab

"Jika saat pemerintah dituntut mendalami 'Ratusan Kematian' ini, lambat laun kepolisian atau pihak manapun pasti menemukan satu kecacatan mengenai seorang Woo. Yaitu, Raja Woo terdahulu menggunakan cara terbusuk termasuk menggunakan mafia untuk stabilitas kerajaan. Parahnya, itu sudah kebiasaan turun-temurun sejak tahun 90-an." Jihyo meniup permen karetnya. Lalu balon permen itu meletus. "Kedok semacam itu tentu tidak boleh dan tidak bisa dipublikasikan. Jika sudah begitu, maka mau tak mau pemerintahan bertingkah seakan menutup-nutupi kasus ini. Sekali lagi akibatnya fatal, penggiringan opini dari berbagai oknum akan membuat masyarakat memandang buruk pihak kita, khususnya anda sebagai Raja."

Dirasa manisnya permen karetnya hilang, Jihyo memuntahkan permen itu ke sebungkus permen tadi. Tanpa peduli jorok, Jihyo memasukkan bekas permen karetnya ke saku blazer abu-abunya.

Kris meringis jijik melihatnya.

Jihyo membekap bibirnya. Dahinya mengernyit ringan. Dia meringis kecil. Kepalanya menggeleng kencang seakan dia ingin menyadarkan diri dari pingsan.

Kris meremas lengan atasnya, "kau baik?"

"Ne, Pyeha..." Muka Jihyo memucat ketika Kris memandangnya khawatir.

"Maka sebaiknya," lanjut Jihyo sambil tetap menutup bibirnya seakan menahan sesuatu. Menahan muntah. Meski begitu, otak cerdasnya berkata lewat bibir tipisnya, "Pikirkan kembali jika ingin menghancurkan Keluarga Bangsawan khususnya Keluarga Xi, Pyeha... Membuka kedok gerbong kejahatan mereka yang sudah mengakar kuat di berbagai negara, tentu berakibat fatal. Cara ini tidak terlalu efektif karena sama saja dengan merusak citra kerajaan sendiri. Termasuk citra anda sebagai Raja."

Atas segala pertimbangan itu, Kris dan Jihyo kembali ke ruang rapat.

Seluruh penghuni ruangan memperhatikan lekat penjelasan Raja Kris.

"Sebelum aku menjadi raja, aku yakin beberapa oknum berada di bawah perlindungan Raja Woo terdahulu. Ini menyebabkan, di masa lalu, pemberantasan kejahatan yang dilakukan kepolisian dan kemiliteran terhambat. Kali ini aku, sebagai Raja kalian, takkan melindungi oknum manapun dan membiarkan polisi membongkar kedok Keluarga Bangsawan khususnya Keluarga Xi."

"Ini demi kesembuhan 'luka dalam' Korea Selatan." Timpal Penasihat Kerajaan—Jihyo. "Tapi usahakan pihak kita tidak menyentuh kebusukan kerajaan, karena dalam hal ini, itu bisa menghancurkan nama baik instansi kepolisian dan kemiliteran juga. Usahakan Keluarga Bangsawan tidak menjadikan 'aib' Raja Woo terdahulu sebagai senjata mereka."

Kris mengetuk jemarinya di lengan kursi utama. "Jadi kalian angkat saja kasus-kasus yang dulu dimenangkan Luhan, dengan Pengacara Jongin sebagai Kuasa Hukum Keluarga Xi. Jika didalami, kasus itu tidak ada hubungannya dengan Keluarga Kerajaan atau kepolisian. Justru kasus-kasus itu menambah kepercayaan masyarakat pada pihak kita."

Headset bluetooth Kris menyampaikan perkataan Chanwoo.

Kris tersenyum dingin nan licik.

Para penghuni ruangan termasuk Leeteuk dan Yoochun saling berpandangan.

Sementara sinar mata Yeonseok meredup kala Kris berkata,

"Bagaimana dengan insiden kematian seluruh anggota Keluarga Byun, Keluarga Emeline, dan Keluarga Do?"

.

.

.

.

.

Keenam member EXO sudah menandatangani kontrak sebagai brand ambassador beberapa produk XiLu Corporation, serta menjadi 'wajah' nama organisasi XiLu Foundation.

XiLu Foundation bergerak di bidang kemanusiaan. Sudah dari dulu organisasi yang dipelopori Xi Luxian ini, bekerja sama dengan pihak UNESCO dan UNICEF dalam kegiatannya. Mereka menaungi ribuan murid di seluruh Korea, dan beberapa persen dari luar kerajaan, di akademi keolahragaan dan akademi kesenian. XiLu Foundation juga mendirikan yayasan untuk sekolah kebangsawanan yaitu Exordium High School dan sekolah asrama yakni Exelard High School.

Investasi berbasis kemanusiaan memang hasilnya tak main-main. Atlit, artis, dan lulusan jebolan XiLu Foundation sudah diasah sebaik mungkin agar saat mereka lebih produktif di lingkungan masyarakat. Selain itu, tanpa disadari mereka mempromosikan brand XiLu di berbagai bidang serta menjadi pekerja berkualitas di perusahaan global macam XiLu Corporation.

Xi Luhan memang hanya mengembangkan apa yang ayahnya bangun. Seakan dia mendapat semua kekayaan ini begitu instan. Padahal tidak demikian. Mempertahankan nyatanya lebih sulit apalagi di bawah tekanan stigma buruk masyarakat mengenai Keluarga Bangsawan Xi. Belum lagi lawan bisnis atau lawan di bidang lainnya bahu membahu menjatuhkan Luhan.

Sekarang?

Luhan yakin Raja Korea Selatan turut andil meruntuhkan kekuasaannya.

Latar belakang Luhan yang begitu karismatik, benar-benar membuat siapapun terkagum-kagum termasuk Si Leader EXO.

Suho, nama dari Leader EXO, punya senyum khas dan kepribadiannya selembut kapas. Karena statusnya sebagai Rakyat Kelas Bangsawan, dia tak bisa berkarir sebagai publik figur. Namun karena hobi dan kecintaannya pada menyanyi dan menari, Suho memutuskan untuk menggunakan hak khususnya. Hak itu digunakan dengan berbagai pertimbangan sampai akhirnya Suho diizinkan mengikuti audisi dan jadi trainee AA ent (kini menjadi Lu Ent.)

•~kalau bingung sama klasifikasi golongan atau kelas rakyat, kalian bisa baca Fact 1 di FF Poisonous Love.

Pertama kali dia bertemu Luhan secara langsung adalah di ruang latihan. Respon pertamanya adalah terkejut dan... Speechless.

Apalagi Xi Luhan itu wanita idaman nyaris semua pria bangsawan untuk diperistri. Parahnya, Suho seringkali dititah ayahnya agar menikahi wanita seperti Xi Luhan. Wanita itu harus jadi role model menantu Tuan Besar Kim yang notabene ayah kandung Suho.

Suho mengumpat. Dia akui selera ayahnya terlalu tinggi.

Dan di sinilah dia bersama lima member EXO lainnya. Duduk bersila di atas karpet, tepatnya di taman utama Xinger Academy, sebuah akademi kesenian yang berfokus pada olah vokal, akting, musisi, dan semacamnya, untuk dipersiapkan menjadi trainee agensi besar. Namun tak sedikit lulusan dari Xinger Academy menjadi pelukis kontemporer terkenal, pemahat patung, desainer, dan lainnya.

"Aku memang bukan sutradara, tapi aku adalah pemilik brand XiLu entah XiLu Corporation atau XiLu Foundation. Jadi aku punya wewenang mengawasi kalian selama syuting iklan."

Luhan memberi semacam bimbingan singkat untuk keenam member.

"Kalian sudah membaca skrip?"

"Nde, Noona!" serentak keenam member. Karena secara kebetulan usia mereka lebih muda beberapa tahun dari Luhan, jadi Luhan memerintahkan mereka memanggilnya 'Noona'.

Luhan memang masih hamil, namun tampilan santainya dengan gaun merah muda, rambut coklat dicepol seadanya, satu tangan memegang skrip serta tangan lain berkacak pinggang, membuat seluruh member EXO terpesona.

Luhan sangat bersinar di bawah guyuran mentari pagi menjelang siang.

Keringat wanita hamil itu membasahi leher jenjangnya, membuat helai rambut yang terlepas dari cepolannya menempel.

'Tidak mungkin EXO-L seekslusif ini...' ujar salah satu member dalam hati, Richard Park.

'Disukai anak gadis pemimpin Amerika saja tidak membuatku segugup ini, tapi kenapa dengan Lady Luhan sensasinya agak... Merinding?' batin member berkulit tan eksotis, Kai.

'Apa benar Lady Luhan mengidolakan kami?' batin si maknae. Kemudian dia, Odult, melirik leadernya. 'Suho-hyung pernah bilang tipe wanita idealnya seperti Lady Luhan. Bagaimana perasaan Hyung saat tahu agensi dibeli wanita idealnya? Hahaha. Membayangkannya sungguh sekocak lawakannya yang garing.'

Sementara member lainnya membatin, 'beruntung sekali yang menjadi suami Lady Luhan.'

"Ada yang punya sebotol air minum? Aku haus!" Seru Luhan membuyarkan lamunan member EXO.

"Ini Noona!"

Bagai enam anak kecil, para member bersamaan mengacungkan sebotol air untuk Luhan.

Luhan terkekeh geli, "kalian menggemaskan." Wanita hamil itu memilih sebotol air dari Baixian, member terimut. Kemudian dia meminumnya sambil berdiri.

Baixian tentu saja senang. Pria imut itu langsung mendapat tinju jahil dari beberapa member.

Yuri, salah satu gadis koleksi Luhan yang kini menjadi asisten pribadi Luhan, hanya menyimpul senyum kala melihat tingkah lucu member EXO.

"Kau haus, Yuri? Minumlah."

"Ne, My Lady," Yuri meminumnya, lalu menaruh sebotol air dari Luhan ke kursi terdekatnya.

"Iklan mengenai program kemanusiaan XiLu Foundation berdurasi tiga menit tiap episode. Iklan ini ada enam episode." Suara lembut Luhan membuyarkan terpananya keenam member EXO pada pesona Luhan. "Berupa iklan bersambung yang akan ganti episode tiap dua minggu sekali. Misal, iklan episode satu tayang saat ini, maka episode dua tayang dua Minggu selanjutnya." Luhan sedikit menoleh ke belakang. Para kru sudah sibuk menata properti, sementara para penata rias mulai menggotong tas make up mereka.

Ada pula yang membawa beberapa model pakaian untuk member EXO pakai.

"Lady Luhan," tegur sang sutradara. "Apa bagus jika ada adegan Richard memainkan gitar di akhir iklan? Episode satu menonjolkan Richard Park, kan?"

Luhan mengetuk dagunya sambil mengangkat sebelah alis.

Kini berganti seluruh kru iklan yang terpesona. Mereka menghentikan pekerjaan mereka beberapa detik demi senyum indah Sang Lady Xi.

Ya, senyum indah seperti saat ini.

"Baiklah. Itu saran bagus, Tuan Min."

Sutradara tersenyum puas. Padahal dia takut Luhan menolak sarannya.

Luhan kembali pada member EXO.

"Jongdae, syuting iklan episode kedua aku ingin kau menunjukkan suara emasmu di sepuluh detik terakhir."

Jongdae, member EXO dengan muka bebek lucunya, memberi senyum lebarnya untuk Luhan.

"Nde, Noona."

"Di tiap episode, iklan ini tak hanya untuk promosi kegiatan XiLu Foundation melainkan mempromosikan EXO dengan lebih layak dibanding sebelumnya," Luhan menggulung kertas skrip kemudian dia menunjuk kerumunan gadis-gadis di balik gerbang Xinger Academy.

"Lihat! Gadis-gadis kalian mendukung kalian!"

Semua member EXO sontak memutar bokong agar berbalik ke belakang. Sorakan dan teriakan EXO-L, serta banner kecil di tangan mereka, membuktikan masih banyak yang mendukung boyband berbakat tersebut.

"Fighting, anak-anak!" Ucap Luhan menyemangati.

Shindong selaku manager EXO sejak awal boyband ini debut, tak pernah seterharu ini. Dia menyaksikan sendiri di masa debut, EXO memberi penghasilan luar biasa untuk agensi namun diberi treatment cukup buruk.

Shindong melihat sendiri keenam member EXO cukup nyaman dengan pribadi Luhan. Bahkan mereka berenam berinisiatif, agar Luhan ikut menempelkan telapak tangan di atas keenam telapak tangan member lainnya.

"EXO..."

Tangan keenam member EXO dan Luhan terangkat di udara bersamaan.

"...SARANGHAJA!"

Luhan tidak ikut berseru. Dia hanya tersenyum lima jari.

"Berikan yang terbaik, jangan kecewakan diri kalian sendiri, para penggemar, serta partner kerja kita. Good luck!" Shindong memberi semangat untuk para member.

Setelah didandani dan dipersiapkan sedemikian rupa, akhirnya EXO siap menunjukkan persona mereka.

Syuting pun dimulai.

Sutradara sangat senang karena member EXO secara individual punya bakat akting mumpuni. Jadi dia dan kru lainnya cukup terbantu, apalagi waktu pengambilan video jadi tidak terbuang banyak.

Luhan hanya mengawasi. Sesekali dia duduk sambil dikipasi Yuri.

Member EXO akan mengenalkan sedikit tentang Xinger Academy. Ada beberapa adegan seperti masuk ke dalam kelas musik dan kelas vokal, bertemu para guru, ikut dance saat kelas tari, dan terkadang bertingkah cukup alami hanya untuk bercanda dan tertawa.

Saat EXO mengambil take adegan di aula Xinger Academy, Luhan memutuskan pergi ke halaman depan akademi diikuti Yuri.

"My Lady," Yuri menegurnya. "Tuan Muda Sehun menghubungi Anda."

Luhan menerima ponselnya dari Sehun, "Siang, Hunnie..."

["Hannie sayangku, bagaimana harimu?"] Suara bariton Sehun selalu berhasil menghangatkan bagian bawah Luhan. Hanya dengan Sehun Luhan kembali bertingkah sejalang ini.

Ugh! Nanti malam Luhan harus telanjang di ranjang sebelum Sehun pulang!

"Sangat menyenangkan. Yah, walaupun sedikit melelahkan. Mungkin bawaan hamil."

["Tidakkah tindakanmu ini berlebihan, sayang? Sebagai pemilik saham terbesar Agensi Lu Ent, kau harusnya cukup merebah di rumah. Ingat kau hamil Triple Twin kita."]

"Aku tahu. Seharusnya aku selaku pemilik saham terbesar cukup leha-leha, tapi kau tahu aku bukanlah wanita rumahan jadi... Aku di sini sekarang. Mengawasi artisku. Lagipula... Aku menyenangi pekerjaan ini."

["Sampai kapan kau membantah ucapan suamimu ini, hm?]

Luhan memanyunkan bibir. Dia kesal. Sehun seakan tak memahami betapa bosannya Luhan merebah di rumah. Untuk pribadi Luhan yang selalu dikelilingi kesibukan, ketika santai sedikit, Mansion Xi rasanya persis tempat paling membosankan sedunia.

Luhan sebenarnya ingin berlibur, tapi tidak etis juga karena Sehun sangat sibuk sebelum akhir bulan datang.

Luhan memutuskan keluar dari area Xinger Academy. Dia ingin ke kedai bubble tea di pinggir jalan. Puluhan gadis yang terdiri dari EXO-L menatapnya kurang bersahabat. Tapi Luhan tak peduli.

Para satpam membukakan gerbang akademi. Otomatis kerumunan EXO-L seakan membelah, memberi Luhan dan Yuri jalan.

Aura Luhan terlalu dingin dan eksklusif untuk para EXO-L ini.

Dari tatapan mereka seakan mengartikan, 'perbedaan kami dan Lady Luhan cukup jauh!'

Tak sedikit pula yang antusias menyambut Luhan seakan mengatakan, 'Ya Tuhan! Eris Bangsawan Konglomerat yang luar biasa! Anda adalah panutan kami!'

Terdengar berlebihan, tapi jika melihat profil dan latar belakang Luhan, para EXO-L garis keras (yang biasa menghujat wanita manapun dekat dengan idolanya)... Pasti bungkam.

.

.

.

.

.

["Kau dengar, sayang? Duduk atau segeralah pulang kalau kau benar-benar lelah. Ingat kondisimu dan Triple Twin. Jangan membuatku kesal. Bisa-bisa aku menghancurkan karir EXO siapalah itu."]

Oh Sehun, suami sah dari wanita seluar biasa Xi Luhan, masih mengomeli istrinya.

Kini Luhan duduk di taman dekat kedai bubble tea. Sedangkan Yuri mengantri.

"Sehun..." Rengek Luhan jengah. "Jangan cemburu buta begitu!"

["Habisnya... Kau terlalu cantik untuk jadi fans mereka. Cobalah pahami kecemburuanku!"]

Kini berganti Sehun yang merajuk.

"Ne, appa." Respon malas Luhan. Tangannya yang kosong mengelus perut buncitnya. "Eomma dan Triple Twin akan istirahat."

Omelan Sehun tak lagi Luhan dengar kala dia melihat gadis, cukup cantik nan mungil dengan rambut hitam terurainya, tengah berjalan gelisah. Sesekali tubuh gadis itu menggigil. Pergerakannya persis kelinci hutan diintai singa. Kadang dia berputar badan, kebingungan, dan kepalanya menoleh kanan kiri. Dia persis seseorang yang tersesat.

Luhan memicingkan mata.

Gadis itu bermasker, memakai kacamata hitam, dan jaket tebalnya membuat tampilannya sedikit rusuh.

"Sehun, aku matikan dulu ya. Nope! Ini bukan karena EXO tapi urusan yang benar-benar genting! Aku harus minum bubble tea pesananku."

Syukurlah Sehun mengerti, pria itu mematikan komunikasi sementara Luhan menoleh pada kedai. Dia melihat Yuri baru saja membawa dua gelas bubble tea.

Muka Yuri lebih cerah setelah mendekati Luhan, "ini pesanan anda—"

"Ikut aku. Taruh bubble tea itu ke sini!" Perintah Luhan sambil menepuk alas kursi di samping pantatnya.

Luhan beranjak dari kursi taman, berjalan cepat dan elegan namun seolah tak terjadi apa-apa sambil diekori Yuri. Luhan, dengan perutnya yang agak buncit, melangkahi semak-semak kecil menuju lahan parkir. Yuri pun tetap mengikuti. Namun, alangkah terkejutnya Yuri saat melihat...

BRAKK...!

"ARGH...!"

...Luhan menjegal kaki supir taksi (dilihat dari seragamnya) hingga supir itu jatuh tersungkur.

Kejadian ini tidak terlalu dilihat orang lain karena berada di lahan parkir, kebetulan titik Luhan menjegal supir itu berada di balik pohon-pohon besar sehingga pengunjung taman tidak melihat aksi Luhan.

Belum supir itu bangkit, Luhan menendang kepala supir itu hingga pingsan. Luhan pastikan supir itu tidak mengalami gegar yang cukup parah. Tapi jika benar begitu, Luhan tersenyum sinis. Dia tak peduli.

Pria itu pingsan.

Sedangkan gadis bermasker yang dikuntit si supir taksi berhenti melangkah dan berbalik. Mata di balik kacamata hitamnya membelalak ketakutan. Mungkin bibir di balik maskernya juga menganga tak percaya.

"Yuri, dekati dan tenangkan gadis itu." Perintah Luhan dengan suara lembut dan sedingin salju.

Yuri melakukannya. Gadis bermasker itu dirangkulnya.

"Kondisi anda saat ini?" Tanya Luhan datar. Tak ada nada kekhawatiran di sana.

"A-aku baik-baik saja..."

Luhan menyebar pandang. Lahan parkir yang dipenuhi mobil ini lumayan sepi. Meski begitu Luhan memaklumi kepanikan gadis itu. Panik membuat pikiran seseorang tidak jernih. Harusnya gadis itu berjalan atau berteriak di keramaian agar si supir taksi tidak terus mengikutinya.

"Sudah menghubungi managermu?"

"N-ne...?"

"Aku tahu kau seorang artis dari tampilanmu. Meskipun... Maaf, aku tidak mengenal artis manapun kecuali artis di bawah naungan agensiku." Luhan melirik pria yang pingsan di dekat kaki jenjangnya. "Sasaeng kah?"

Merasa bicara dengan Luhan takkan membahayakan diri, gadis itu memperkenalkan diri tanpa menampakkan wajahnya. "Na-namaku Hwang Yuji. Leader girlband Itzy."

Luhan hanya diam mendengarkan.

"Sebagai seorang Leader, saya sungkan apabila saya hadir terlambat di acara talk show apalagi sebelum itu, saya punya jadwal solo menghadiri acara lainnya. Karena itulah saya tidak berangkat ke talkshow bersama member Itzy lainnya. Sayapun menumpang taksi tanpa tahu itu bukan taksi pesanan saya. Jadi saya cukup syok, tak menyangka saya dibawa ke tempat sepi, sampai akhirnya saya tersesat di sini." Jelas Yeji pada Luhan. "Dia benar-benar Sasaeng yang mengerikan!" Ujar Yeji sambil menahan gemetar namun tak gentar menatap si Sasaeng Fans-nya.

"Oh. jadi begi—"

KRETEK...!

Itu suara putaran slot pistol.

Si supir melompat bangkit sambil mengarahkan moncong pistol ke wajah Luhan.

Luhan berbalik, refleks tangan kirinya menangkup moncong pistol.

DORR...!

Yuri akan mengeluarkan senjata dari saku blazernya, kalau tak melihat darah mengaliri telapak tangan Luhan.

"My lady...?" lirihnya.

"Diam di tempatmu. Berpura-puralah!"

Yuri mengerti. Luhan memunggungi taman sambil tangan kanan memeluk perutnya.

Para pengunjung penasaran pada suara tembakan jadi perhatian mereka perlu dialihkan.

Yuri pura-pura marah, "ban mobilku meletus! Aish!" Kebetulan di dekatnya ada mobil. Ditendangnya ban mobil, yang untungnya tidak membunyikan alarm sensor gerak pada mobil tersebut.

Dengan itu pengunjung taman tidak tahu apapun termasuk insiden penembakan. Perhatian mereka teralihkan. Mereka tak peduli pada Luhan, Yuri, Hwang Yuji, dan si supir a.k.a Sasaeng fans.

Luhan memunggungi taman, dia menggeram pada si Sasaeng, tangan kirinya yang tertembak mencekal pergerakan pistol, "jika kau berontak. Kupastikan siksaan mendatangimu."

"Siapa kau hah?! Beraninya—"

"Berteriak lagi maka..." Luhan menyeringai kala Yuri memasukkan moncong pistol ke si mulut si penguntit. "...aku tak segan memerintahkan gadisku untuk membunuhmu!"

Sasaeng itu seorang pria. Tubuhnya kecil kurus. Kuyu. Matanya dipenuhi kantuk. Persis pecandu narkoba. Dilihat lagi, dia benar-benar amatiran karena itulah tangannya gemetar memegang pistol, dan kurang gesit memanfaatkan waktu untuk 'membunuh' Luhan.

Kedua tangan Yuji Itzy membekap bibirnya tak percaya.

'Ya Tuhan... Mereka berdua seorang wanita dan salah satunya hamil... Bagaimana mereka begitu hebat layaknya wonder woman versi nyata?' batinnya terkesima.

Pria itu tak menyerah. Dia menggunakan tangan kosongnya untuk menyerang Luhan, tapi Luhan menendang selangkangannya dengan lutut. Luhan melepas cekalan moncong pistol milik si Sasaeng. Membiarkan pria itu meringis dan Yuri memukul kepala belakangnya lagi hingga pingsan kembali.

"Dia jelas mabuk." Gumam Luhan menganalisa. "Mulutnya bau alkohol. Dia sudah minum mungkin lima atau enam jam lalu namun sisa-sisa 'teler'nya masih ada."

Manager Itzy akhirnya datang ke lahan parkir. Sejauh sepuluh meter dari lokasi Luhan, dia turun dari mobilnya bersama rombongan, namun melihat penampakan seorang wanita hamil, manager Itzy langsung kalap.

"Aigoo! Itu Lady Luhan!" Ucapnya agak panik. Dia mengintruksi rombongannya. "Kalian tetap di sini. Jangan menarik perhatian siapapun. Aku akan mendekati mereka."

Manager Itzy mendekati Yuji. Gadis itu sontak dirangkul oleh si manager. "Yuji-na... Kau baik-baik saja kan?"

Yuji mengangguk patah-patah. "Eonni itu menolongku, manager-nim..." gumam Yuji menunjuk Luhan.

"Lady Luhan..." Manager-nim membungkuk hormat pada Luhan. "Terima kasih banyak dan maaf membuang waktu anda atas insiden i—" mata manager-nim melotot sempurna karena melihat tangan kiri Luhan berdarah. Bahkan di tengah telapaknya tertancap sebuah peluru. "...ini..." lirihnya luar biasa syok.

Luhan tak peduli atas ucapan maaf dan terima kasih dari pria di depannya. Dia hanya mengusap tangan kirinya yang terus mengeluarkan darah dengan saputangan. Luhan memerintah pada Yuri, "belilah perlengkapan operasi kecil di apotek terdekat. Pisau bedah, pisau buah pun tidak masalah kalau tidak ada, obat, perban, dan lainnya. Kau paham, Yuri?"

"Ne, My Lady." Berbeda dengan Krystal, Yuri langsung patuh tanpa menunjukkan kekhawatiran berlebihannya pada Luhan.

Yuri bukannya tak peduli, dia tahu Luhan butuh tindakan bukan tangisan.

Yuri langsung berlari ke apotek terdekat.

"Kami bisa membawa anda ke rumah sakit, Lady Luhan.." ucap manager Itzy.

"Tidak perlu. Segeralah pergi dan usahakan namaku tidak terseret bila kejadian ini jadi pemberitaan hangat media KPop," Luhan tersenyum sinis. Tatapan cantiknya menghunus manager Itzy. "Katakan itu pada agensimu. Kalau sampai namaku terseret, kau orang pertama yang karirnya kuhancurkan."

Manager Itzy dan Yuji Itzy menelan ludah kasar.

Mungkin satu pertanyaan menaungi, 'jadi beginilah aura kepemimpinan bangsawan dari Keluarga Xi?'

"Sekali lagi saya berterima—"

"Aku bilang, pergi."

Dengan tenang Luhan menekan tangan kirinya sambil berbalik badan. Pandangan mata rusanya mengikuti langkah menjauh manager Itzy dan artisnya itu. Tak lupa beberapa orang dari rombongan manager Itzy menggotong si Sasaeng.

Luhan ditinggal sendirian. Tanpa siapapun di dekatnya, dia menunjukkan ekspresi kesakitannya.

"Ini perih..." ringisnya. Matanya sontak memerah. "Triple Twin? Kalian baik-baik saja kan?" Kedua tangan Luhan memerah akibat darah. Bahkan darahnya menetesi jalanan. Tangan kanan Luhan yang tak terluka menahan diri agar tidak mengelus perut berlapis kain gaun pink. "'Obsesi benar-benar candu yang merayu untuk menjerumuskan seseorang.' itu... Kata Baba."

'Aku jadi memaklumi bagaimana gilanya Kris karena terobsesi pada kehancuranku.'

.

.

.

.

.

"Tidak perlu ke rumah sakit."

Yuri tidak membantah.

Di dalam salah satu koleksi mobil pribadi Luhan, Yuri melakukan operasi kecil agar peluru keluar dari tengah telapak tangan Luhan. Untung tidak menembus sampai melubanginya. Setelah Yuri menggigit benang, luka itu terjahit sempurna.

Peran Yuri sama seperti Namjoon. Mereka seorang multitasking. Yuri mudah diajari oleh siapapun, termasuk Dokter Hyoyeon selaku Gadis Koleksi Luhan ke-10.

Shindong berada dalam satu mobil dengan Luhan. Dia duduk di samping supir.

"Anak-anak EXO tengah mencari anda. Mereka ingin tahu pendapat anda, apakah hasil syuting hari ini cukup memuaskan atau tidak." Shindong tak tega ketika melihat ibu hamil macam Luhan meringis sewaktu Yuri meliliti perban di tangannya. "Lady Luhan, anda bisa pulang terlebih dahulu. EXO akan menjadi urusan saya dan staf lainnya."

Shindong heran, mengapa Luhan tak ditemani setidaknya dua pengawal Xi? Jika dikawal, Luhan pasti tak bisa dilukai secara fisik.

"Kau pasti bertanya mengapa aku tidak mengikutsertakan pengawalku untuk 'jalan-jalan', kan?"

Sudah biasa bagi Shindong, kalau pikirannya sangat mudah ditebak. Jadi dia hanya mengangguk.

"Beroperasi sehalus mungkin. Anggaplah begitu." Jelas Luhan. "Aku hanya tak ingin namaku ada di pemberitaan Korea apalagi dunia KPop. Jadi lebih baik tidak ada satupun saksi mata atau perekam kejadian tadi. Itulah kenapa aku tidak mengikutsertakan pengawalku. Mereka dapat menarik perhatian sementara aku ingin siapapun cuek pada eksistensiku."

'tidak bisa! Eksistensi anda terlalu mendominasi bahkan di antara sekumpulan pria dominan!' erang Shindong dalam hati.

Ah, sepertinya Shindong tidak tahu cara kerja Mafia Xi, lebih tepatnya...

...seorang Xi yang ahli dalam mengalihkan perhatian siapapun darinya.

"Titip salam untuk member EXO."

"Nde."

"Sebelum turun dari mobilku, katakan ini pada pihak agensi. 'Perketat keamanan dorm dan asrama trainee kita. Lakukan pemeriksaan secara rutin pada seluruh staf agar tak terindikasi adanya penyusup. Entah itu Sasaeng fans, atau fandom toxic, atau musuh bisnisku.' kau paham, Shindong?"

"N-nde! My Lady!"

"Kau boleh pergi."

Shindong mengucap permisi kemudian keluar mobil.

Yuri menyimpul bibir setelah luka Luhan diperban rapi. Luhan mencium kening Yuri dan berkata, "anak pintar."

Sontak mata Yuri berbinar cerah karena dipuji Luhan.

Ponsel Luhan berdering di dalam tas tangan Yuri. Gadis itu memutuskan memasang earphone bluetooth ke telinga kanan majikannya.

["My Lady, nama saya Eunwoo, saya ingin melapor,"] ternyata salah satu pengawal Xi, Cha Eunwoo, menghubunginya.

"Laporanmu?"

["Saya menangkap basah salah satu penguntit. Dia juga mendapatkan beberapa foto skandal dating. Skandalnya... Hm? Member EXO yang saat ini masih wamil. Orang yang saya tangkap ini mengatasnamakan dirinya jurnalis, padahal dia adalah master-nim dari media Disfack. Itu semacam media portal entertainment Korea. Biasanya skandal-skandal artis dibuka oleh pihak ini. Juga... Media ini agak 'cringe'"] Eunwoo terdengar jijik saat mengatakannya. ["Jadi apa perintah anda?"]

"Yuri, cari tahu mengenai media Disfack."

Yuri membuka web dari ponselnya. Setelah menjelaskan sedikit tentang Disfack, Luhan berkata dingin,

"Orang itu masih sadar? Jika iya, arahkan ponselmu padanya."

["Lepas! Lepaskan aku kumohon...hkks... Sakit!"] Cicit dari salah satu master-nim Disfack.

Luhan memiringkan kepala sambil bersandar santai di jok mobil. Senyum liciknya begitu ayu dan terasa berbahaya.

"Hello, master-nim. Dengar ucapanku baik-baik dan camkan. Jangan sampai kau dan orang-orang satu naungan denganmu, memberitakan skandal apapun tentang artis di bawah Lu Entertainment dan jajarannya. Jika sekali saja ada penggiringan opini tak baik mengenai artisku dan itu berasal dari media kalian...

...orang-orang di dalam media kalian akan merasakan 'bar-bar'nya seorang Xi Luhan."

Luhan menyeringai.

Semenjak menikahi Sehun, Luhan merindukan sensasi ketakutan dari 'mangsa'nya.

Dan saat ini dia merasakan sensasi itu secara tidak langsung.

"Eunwoo."

["Yes, My Lady?"]

"Jika dia sudah menyampaikan apa yang kukatakan kepada partner kerjanya...

...Bunuh dia."

.

.

.

.
.

Di Mansion Xi, Sehun lebih dulu menyambut kepulangan Luhan. Pria itu langsung mencium kening istrinya, saling menempelkan dahi serta berangkulan. Tatapan mereka terlalu dekat.

"Kau lelah?"

Pertanyaan Sehun begitu retoris, namun ampuh melunturkan semua kelelahan Luhan.

"Sangat. Bagaimana dengan suamiku?"

"Aku juga lelah terus merindukanmu. Aku selalu was-was jika tak ada dirimu di pandanganku."

"Tukang rayu!"

Keduanya terkekeh. Sehun mencium tengkuk istrinya. Menghirup aromanya. Menyesap kelembutannya. Luhan memejamkan mata. Dia merasakan kemesraan sederhana ini sangat memabukkan.

Tangan Sehun mulai merambat ke tangan Luhan. Sayangnya, dia terdiam kaku saat tangan kanannya menggenggam tangan kiri Luhan.

Luhan mendesis kesal, takut Sehun terlalu mengkhawatirkannya atau memarahinya.

Dulu Luhan penasaran profil Sehun marah, tapi tidak untuk saat ini.

Dengan nanar Sehun mengangkat tangan istrinya. Lukanya dibalut perban. Rapi dan bersih.

"Diperban?"

"Sehun..."

"Ini pasti sakit."

Luhan dibuat tak habis pikir dengan tindakan Sehun. Pria itu seharusnya marah, atau menghakiminya, tapi dia mengangkat lalu mencium tangan kiri istrinya. Dia menempelkan tangan berbalut perban itu di pipinya. Sambil memandang intens Luhan, Sehun berkata pelan, "sayangku... kenapa kau tidak pernah berhenti membuatku khawatir?"

"Mianhae, Hunnie..."

Sehun kembali mencium tangan istrinya. "Kau pasti lelah dan mengantuk. Tidurlah... Walaupun ini masih sore tapi kau bisa tidur saat ini."

"Mianhae... Seharusnya aku menemanimu bersantai mumpung kau pulang cepat dari pekerjaanmu sebagai Presdir Oh Group."

"Sayangku, kita bisa tidur sambil berpelukan. Itu cukup untukku."

Sejauh ini, sepasang suami istri ini tak pernah melewati momen bulan madu seperti pasangan lainnya. Sehun dan Luhan bahkan bermesraan diiringi darah dan ancaman berbagai pihak. Kesibukan sebagai individu berposisi tinggi mencekik waktu santai mereka. Kadang kala mereka lelah dan jengah menahkodai mahligai rumah tangga mereka.

Ya, bagaimana kau tidak jengah kalau hanya tidur bersama atau bercinta yang menjadi waktu bermesraan mereka?

Kini Luhan tertidur pulas di pelukan Sehun. Setiap Sehun melepas elusannya di perut buncit sang istri, empunya pasti mengerang dalam tidurnya. Jadi Sehun asumsikan, Triple Twin juga merindukan appa-nya.

"Kau bersamaku sayang," Sehun mencium pucuk kepala istrinya. "Dan aku bersamamu. Terima kasih sudah bertahan menjadi sosok Luhan yang sekuat ini. Setegar ini. Sehebat ini." Sehun mengelus tangan Luhan yang diperban.

"Tak tahukah kau kalau aku lemah melihatmu terluka, hm?"

Air mata tanpa isakan dari Sehun lolos begitu saja. Dia menciumi tangan Luhan cukup lama. Sehun memejamkan mata. Menikmati ciuman itu. Berharap luka dan sakit istrinya berpindah padanya.

"Triple Twin..." tangan kokoh Sehun kembali merengkuh perut buncit istrinya. "Terima kasih karena kalian tak merepotkan eomma kalian...appa sayang kalian."

Lambat laun Sehun tertidur pulas dengan lengan menjadi bantalan istrinya. Posisi mereka saling berhadapan.

Pintu kamar mereka belum ditutup.

Yuri ada di ambang pintu, tersenyum lirih memandangi majikan tersayangnya nyaman dan aman di pelukan pria yang tepat.

'Tuhanku, beri kebahagiaan, selalu, untuk Lady Luhan dan Tuan Muda Sehun.'

Itu adalah doa sederhana Yuri sebelum pintu kamar ditutup.

.

.

.

.

.

Di usia kehamilan Luhan yang ke-4 bulan, dia memerintahkan Chanyeol datang ke China. Tujuannya adalah untuk mewakili pertemuan Luhan dengan Perdana Menteri Kerajaan China dan petinggi pemerintahan di sana.

Sementara itu, Sehun akan membicarakan beberapa hal dengan Yeonseok selaku Perdana Menteri Korea Selatan. Karena Perdana Menteri adalah Kepala Pemerintahan di suatu Kerajaan, maka Sehun tak perlu mendatangi istana. Seharusnya Luhan selaku pihak bersangkutan datang ke gedung pemerintahan pusat, namun Sehun bersikeras Luhan harus istirahat di Mansion Xi.

Pertemuan ini sebenarnya tidak terlalu urgensi untuk dua negara tersebut.

Karena tujuannya hanya agar EXO bisa diizinkan mengadakan konser di China.

Kerajaan China dan Korea Selatan berseteru mengenai politik, hingga musik K-Pop diboikot di dataran China.

Dunia entertainment memang berhubungan dengan politik. Kita tidak perlu munafik mengenai ini. China sebagai kandidat lawan kerajaan adidaya, tentu cukup superior mem-boikot sesuatu. Hanya saja...

...mereka masih bisa mendengar ucapan Luhan walau itu mengenai pemboikotan.

Sehari sebelum Chanyeol terbang ke China, Luhan menghubungi Perdana Mentri China lewat video call.

Mungkin fakta ini bisa disombongkan, kalau hanya Xi Luhan satu-satunya pemilik agensi musik yang pengaruhnya seberkuasa ini.

"Perwakilanku akan datang menemuimu dan Raja China. Kali ini peranmu kembali kubutuhkan. Ya... Kau harus berterima kasih padaku karena tanpa pengaruh 'pihak'ku, hasil pemilu dua tahun lalu tidak dimenangkan olehmu."

Jangan dikira pihak Xi melalukan hal serendah kecurangan. Waktu itu, hasil pemilu dimenangkan dengan jujur. Walau masih ada segelintir kecurangan dari masing-masing kandidat Calon Perdana Menteri China.

Sudah beberapa kali di bawah kekuasaan Luhan, mafia Xi berhasil 'memenangkan' salah seorang bawahan Xi menjadi Perdana Menteri, atau politikus lainnya. Caranya cukup mudah yaitu jalan 'menghasut', penggiringan opini, atau pencitraan publik.

Ya. Begitulah sebagian kecil proses agar eksistensi Keluarga Bangsawan Xi tetap berkuasa.

"Dan lewat EXO, Mafia Xi akan kembali 'memenangkan' seseorang." gumam Luhan sambil berkaca di cermin riasnya.

.

.

.

.

.

"Kau akan bersama Baekhyun. Dia butuh liburan di luar Korea. Kuharap kau bisa menjaganya, Yeolli. Dan untukmu Baekhyun, aku mempercayaimu. Jangan merepotkan Chanyeol dan jadilah gadis yang bisa diandalkan di sana."

"Eng!" Angguk Baekhyun penuh semangat.

Akhirnya, dia bisa bersama Chanyeol tanpa dibayangi eksistensi Luhan sebagai pemilik hidup pria kecintaannya.

Ini hari kedua Chanyeol dan Baekhyun berada di Beijing, China.

Mereka menginap di salah satu gedung apartemen milik XiLu Corporation.

Untungnya satu ruang apartemen terbagi atas beberapa kamar. Jadi Baekhyun dan Chanyeol bisa tidur terpisah.

Baekhyun baru saja selesai membersihkan diri, berdandan, memakai gaun santai, menemani Chanyeol yang sibuk pada seluruh berkas-berkas.

Perlu diingat Keluarga Bangsawan Xi dideportasi dari dataran China namun pekerja di sana kebanyakan dipekerjakan oleh Luhan. Well, Chanyeol tertawa menghina untuk ini.

Karena tanggung jawab besar sebagai adik angkat Luhan, Chanyeol gugup luar biasa. Kedua tangannya gemetar.

Demi hatinya! Dia akan menghadapi dua tokoh penting di dataran China dengan membawa nama 'Xi'.

Jemari lentik Baekhyun merangkul tangan besar Chanyeol. Kedua sejoli yang saling mencintai ini saling mendukung dan menguatkan.

"Oppa... Ada aku. Walaupun aku tidak seahli Luhan-eonni yang seringkali menghadiri pertemuan-pertemuan penting, aku di sini ada untuk mendukungmu."

"Terima kasih sudah menenangkan saya, Nona Muda."

Keduanya saling tersenyum.

"Asal oppa tahu, aku iri dengan Luhan-eonni dan Sehun-oppa."

"Iri kenapa?" Obrolan ringan ini sangat Baekhyun harapkan agar Chanyeol lebih rileks.

"Mereka mengagumkan."

"Ya..." Chanyeol menerawangi kertas-kertas di hadapannya. "Lady Luhan dengan tindak-tanduk ekstrimnya dan Tuan Muda Sehun dengan ketenangan tak wajarnya, sudah cukup untuk menjatuhkan lawan berskala internasional. Ditambah mereka berdua sering melakukan gebrakan aneh untuk mengultimatum lawan mereka. Apakah romantisme mereka seekslusif itu?"

Baekhyun mengendikkan bahu.

"Oppa.."

"Ne?"

"Apakah... hubungan kita bisa seperti mereka?"

Chanyeol tertegun atas pertanyaan polos Baekhyun.

"Saya akan terus memperjuangkan anda." Chanyeol mencium kening Baekhyun. "Anda tak perlu khawatir."

Baekhyun sebenarnya tak suka formalitas Chanyeol untuknya. Tapi biarlah. Terpenting adalah Chanyeol tak lagi menolak dipeluk oleh Baekhyun.

Si imut Byun tersenyum persegi sambil memeluk bahu lebar Chanyeol.

"Oppa... Fighting!"

.

.

.

.

.

Selama lima hari berada di China, adik angkat Luhan itu tahu bahwa perjuangannya yang dilakukannya tidak sia-sia.

Chanyeol senang bukan main.

Diskusi antara pihak XiLu Corporation sekaligus pihak agensi Lu Entertainment, dengan para petinggi pemerintahan di China, menyepakati adanya izin untuk tur konser EXO.

Sebenarnya semua dialog berjalan alot. Chanyeol sampai diancam diusir dari gedung pemerintahan pusat.

Tapi, dengan pengaruh bawahan Xi yang menjelma sebagai Dewan Rakyat, tentu hasil diskusi bisa sedikit di'arah'kan. Akhirnya banyak yang pro pada keputusan pihak Luhan.

Belum lagi petisi dari masyarakat serta beberapa faktor lain yang tak bisa disebutkan, menambah dukungan untuk Luhan.

Dengan ini, lambat laun, pemerintah China merasakan bagaimana pengaruhnya Keluarga Bangsawan Xi di tanah mereka.

Ketika Baekhyun mendengar kabar baik dari Chanyeol, gadis itu terlonjak senang. Dia bangga Chanyeol berhasil memenangkan diskusi.

Di dalam apartemen, Baekhyun mempersiapkan diri. Dia menyusup ke kamar Chanyeol lalu bersembunyi di balik selimut.

Antusiasme Baekhyun tak bisa membuatnya terjaga cukup lama. Pada akhirnya Baekhyun tertidur di dalam selimut Chanyeol.

Sementara itu, Chanyeol baru kembali ke apartemen.

"Ah... Sepertinya aku terlalu banyak minum," Chanyeol meringis kepalanya pusing sambil membuka pintu apartemen. Dia tak melihat Baekhyun menyambut kedatangannya. Langsung saja dia melepas sepatunya sembarangan, melempar jas formalnya, melepas kemejanya, dan setengah telanjang dia merebah di ranjang kamarnya.

Tapi...

"Ngghh...oppa?"

Chanyeol membulatkan matanya. Dia langsung menyingkap selimut yang ditindihnya ini. Alangkah terkejutnya pria itu saat melihat Baekhyun, gadis remaja tujuh belas tahun nan polos, memakai lingerie hitam yang kontras dengan kulit putih mulusnya.

"Nona Muda?"

Sial! Chanyeol masih setengah sadar akibat alkohol. Dia meminumnya dalam rangka menghargai suguhan pesta kebangsawanan. Karena selain urusan EXO, Chanyeol juga ada kunjungan kerajaan sebagai bangsawan Xi.

Chanyeol telanjang dada.

Baekhyun memakai lingerie hitam nan seksi.

Kebetulan yang luar biasa.

"Oppa... Chanyeol-Oppa... Suka? Luhan-eonni yang membelikan lingerie ini sewaktu aku masih..." Baekhyun berkata getir. "...Masih jadi 'partner seks'nya."

Chanyeol nanar memandangi tubuh mungil Baekhyun. Gadis itu masih amatir bila dijadikan jalang haus belaian. Lihat saja saat tubuhnya tak berhenti gemetar mengangkangi perut sixpack Chanyeol.

"Oppa... Kiss me..."

"Nona—ssh!"

Baekhyun menggoda Chanyeol. Dari mulai menjilati putingnya, mengelus perut kotak-kotaknya, sampai akhirnya jemari lentik Baekhyun menangkup kebanggaannya di balik celana.

"Oppa... Kumohon... Jadikan aku milikmu..."

Chanyeol berusaha waras.

Tapi jelas dia tidak bisa.

Maka dia berbalik menindih Baekhyun.

Aroma alkohol dan parfum Chanyeol mengundang hasrat yang selalu Baekhyun tahan sebagai remaja puber. Dia melingkarkan lengannya di leher Chanyeol.

"Nona..."

"Panggil aku 'Baekhyun', oppa... Kumohon..."

"'Baekhyun'...?"

Manik mata Baekhyun seolah berpendar indah, sebelum akhirnya dia cukup terkejut saat Chanyeol langsung meraup bibirnya seliar mungkin.

Semuanya berlangsung kacau.

Mereka saling menelanjangi diri. Saling menyesap kenikmatan. Saling menikmati penyatuan cinta mereka.

Baekhyun menanggalkan kepolosannya, demi terlihat jalang selayaknya Luhan.

Chanyeol menanggalkan kesetiaannya, demi memuaskan hasrat menggebu-gebu.

Ketika mereka menyatu, Baekhyun menangis lirih.

"Aku mencintaimu, oppa...hkkss... Sangat! Sangat!" Dia berteriak kesakitan ketika Chanyeol menggeram rendah di telinganya. "Sangat mencintaimu... hikss... Oppa..."

Dorongan itu semakin cepat. Baekhyun kewalahan. Chanyeol lebih tidak terkendali.

"Chanyeol... Oppa...!"

Sampai saat Chanyeol menyemburkan cairan cintanya di dalam tubuh wanitanya, Chanyeol dengan bangganya berkata sesuatu yang amat terlarang diucapkan.

Ucapan itu adalah penanda pengkhianatan Chanyeol pada Luhan sebagai pemilik hidupnya.

"Aku mencintaimu, Baekhyun..."

.

.

.

.

.

Siang hari di Korea Selatan cukup terik.

Luhan mendapat kabar dari Chanyeol bahwa sebentar lagi dia akan kembali ke Korea. Luhan sudah cukup puas dan bangga, Chanyeol berhasil mendapat kesepakatan dari China.

Ini bagus.

Luhan menggumam sambil mengelus perutnya. "Kami melakukan semua ini juga untuk masa depan kalian, Triple Twin..."

Sehun baru saja keluar dari ruang kerjanya. Karena hari ini hari Sabtu, dia tak perlu pergi ke kantor.

"Sehun, kudengar kau menemui member EXO di dorm mereka. Benarkah?"

"Yup!"

"Malam-malam?"

"Yup!"

Luhan mencubit hidung besar Sehun, "untuk apa?"

"Aku ingin mereka cukup becus tampil di hadapan fans secantik istriku ini."

Luhan memutar bola matanya. Sehun kembali memeluknya erat sambil menonton program tv bersama.

Beberapa jam terlewati, Sehun dan Luhan tertidur di sofa. Luhan bersandar di dada bidang suaminya, sedangkan Sehun tidur bersandar di punggung sofa dengan tangan merangkul istrinya.

"Luhan-eonni... Sehun-oppa... Ayo bangun.." bisik Baekhyun tiba-tiba di telinga Luhan lalu Sehun. Dia terkikik jahil.

Luhan dan Sehun melenguh. Mata mereka mengerjap-ngerjap bersamaan. Sama-sama meregangkan badan. Kemudian tersenyum tipis.

"Baekhyun-ah, Chanyeol-hyung, selamat datang."

Sehun menyambut hangat kepulangan Chanyeol dan Baekhyun.

Tapi Luhan tidak menyambut baik gadis dan pria koleksinya yang ke-13 ini. Sebaliknya, Luhan menarik kasar kerah pakaian Baekhyun hingga Sehun dan Chanyeol cukup terkejut atas tindakan 'bar-bar'nya.

"Eonni...?"

"Apa ini?"

Mendadak jantung Baekhyun seakan menyobek dada. Dia meremas tangan kanan Luhan yang cukup kuat mencekal kerah pakaiannya. Hanya dalam satu tarikan, sebuah kancing kemeja Baekhyun copot hingga menggelinding di lantai. Sehun menegur Luhan, namun wanita itu tetap menatap tajam Baekhyun yang memucat.

"Apa kau bercinta dengan Chanyeol?"

Di leher jenjang hingga selangka Baekhyun, bahkan bisa dipastikan di bagian lainnya, terdapat tanda kissmark dan bitemark.

Bagi Luhan, ini sudah tidak benar.

Chanyeol langsung menarik Baekhyun agar berlindung di balik punggungnya, "My Lady, saya yang—"

PLAASSH...!

"Oppa!"

Tamparan Luhan cukup keras sampai cap tangannya menghiasi muka Chanyeol. Pria itu menyesap darah di sudut bibirnya. Menunduk nanar pada Luhan.

"Mianhae... My Lady..."

Sehun kali ini hanya mengawasi. Dia tahu tidak baik apabila ikut campur pada urusan yang tak diketahuinya sama sekali.

Meski begitu, Sehun akan mengawasi dan mengontrol tindak-tanduk istrinya agar tidak membahayakan siapapun.

"Kau ingat apa perjanjiannya, Park Chanyeol?"

Ketika Chanyeol mendengar nama pemberian Luhan disebut oleh pemberinya, Chanyeol memandang nanar Luhan.

"Kau mendadak tuli atau tulalit, huh?"

"Perjanjian apa yang kalian maksud, hah?!" Baekhyun berseru parau. Dia menatap nyalang Luhan dan Chanyeol bergantian. "Jika melibatkan diriku kenapa aku sendiri tidak tahu apapun?! Seseorang katakan padaku apa yang terjadi di sini! Kumohon... Chanyeol-oppa... Luhan-eonni... Jelaskan padaku!"

Luhan dan Chanyeol masih adu pandang. Serupa mereka punya telepati kuat tanpa menggubris kekalutan Baekhyun. Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dan dengan tidak gentarnya, dia menentang titah pemilik hidupnya.

"Saya tidak akan menepatinya, My Lady. Saya akan tetap memperjuangkannya dan bersamanya."

"Dari mana rasa percaya dirimu itu berasal? Kau tau siapa yang kau lawan, Yeolli?"

"Mian, My Lady..."

"JAWAB, PARK CHANYEOL!"

"Eonni..." Baekhyun menangkup kedua tangannya dan menunduk dalam pada Luhan. "Kumohon restui kami... Aku tidak punya siapa-siapa di sini dan aku sudah menganggap Sehun-oppa dan Luhan-eonni seperti orang tuaku sendiri. Jadi aku butuh restu kalian berdua. Dan itu berarti aku butuh kau merestui kami... Eonni... Jika kau tidak menjelaskan apapun padaku tak apa. Asal kau—"

"Perjanjian tetaplah perjanjian, Nona Muda Byun." ucap Luhan.

Dari panggilan Luhan untuk Baekhyun, Chanyeol merasa jauh dari Baekhyun. Chanyeol adalah gelandangan beruntung dan Baekhyun jelas Bangsawan.

Chanyeol dan Baekhyun saling memandang. Baekhyun menggelengkan kepala, "jangan dengarkan Luhan-eonni... Oppa..."

Kelopak mata Chanyeol mengarah ke bawah. Mata bulatnya, untuk pertama kalinya, menancap tajam pada wanita yang lima tahun membayar kontan segala penderitaannya di masa lalu.

"Saya akan melakukannya."

"Op-oppa?"

Baekhyun mundur sambil menangis. Dia terisak cukup keras sampai tersedak ludahnya sendiri.

"Kau membantai seluruh anggota Keluarga Bangsawan Byun! Apa itu belum cukup?!" Geram Baekhyun pada Luhan. Gadis remaja itu tanpa takut mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Luhan. "Kau menyiksaku dengan alat-alat seksmu, yang aku yakini apa yang kualami lebih parah dari gadismu lainnya! Kau! KAU JUGA MENYIKSAKU LEWAT CINTAKU PADA CHANYEOL-OPPA?!" Baekhyun tertawa sinis. "Orang-orang bilang aku mendapat perlakuan khusus? Ya. Mereka benar! Perlakuan khusus dari Lady Xi Luhan membuat mentalku setengah gila!" Baekhyun sudah mencapai batas kesabarannya. Dia jatuh tersungkur dalam kebenciannya saat Luhan bahkan tidak menoleh padanya.

"Aku sangat membencimu, Eonni... KUHARAP KAU MATI SAJA!"

"Nona Muda tolong jaga ucapan anda!"

Chanyeol berusaha meraih Baekhyun, namun gadis itu sudah gesit berlari keluar mansion.

"Jangan mengejarnya," ucap Luhan untuk Chanyeol dan mungkin untuk Sehun. "Ada Namjoon di pos satpam. Dia yang akan mengawasi Baekhyun."

"Aku akan tetap mengejarnya," Sehun mencium pelipis Luhan lalu berbisik, menghantarkan ketenangan, "bicaralah dengan Chanyeol. Menjadi keras kepala akan membuatmu menyesal dikemudian hari, sayangku..."

Luhan menengadah pada Sehun. Suaminya mengangguk meyakinkannya sebelum akhirnya Sehun berlari ke luar mansion.

Mengabaikan Luhan dan Chanyeol, Sehun berlari mengejar Baekhyun. Setelah bertemu beberapa bawahan Luhan, Sehun tahu arah Baekhyun adalah gerbang Mansion Xi.

Sehun sempat menemui Guru Pribadinya, yang biasa dipanggilnya 'Han-ahjusshi'. Pria parubaya berwajah setengah cacat itu selalu berpesan satu hal padanya...

"Pengkhianatan bisa didapat dari manapun, termasuk pihak yang sangat kau sayangi. Maksudku di sini bukan hanya dari pihak Luhan, tapi dari pihakmu juga, Oh Sehun."

.

.

.

.

.

Baekhyun menangis sambil berlari keluar dari Mansion Xi.

Tak sengaja dia menabrak punggung seseorang. Dia baru sadar dia sudah mencapai gerbang dan ada Namjoon di sana.

"Nona Muda Baekhyun? Kenapa anda menangis?"

"Luhan-eonni... Apa yang dia permasalahkan dari hubunganku dan Chanyeol-oppa?! Apa perjanjian mereka sampai Chanyeol-oppa tidak berani mengucap cinta padaku selama ini?!"

"Mungkin karena Lady Luhan terlalu menyayangi Chanyeol seperti adik sendiri. Oh tidak!"

"Maksud Namjoon-oppa? Apa? Katakan padaku!"

"Tidak..." Namjoon panik. Dia keceplosan. Namun Baekhyun akan selalu mengincar lanjutan dari perkataannya.

"Oppa! Bicaralah!"

"Maaf saya tidak bisa—"

"Namjoon-oppa! Kumohon...hkkss... Jangan buat aku satu-satunya yang kebingungan di sini..."

Namjoon mengelus-elus rambut Baekhyun sembari berkata pelan penuh nada kepahitan.

"Lady Luhan pernah memerintahkan Chanyeol melakukan sesuatu pada ibu anda."

"A-apa?"

"Memperkosanya. Tepat di depan mata anda sewaktu pembantaian Keluarga Bangsawan Byun."

"Ti...tidak mungkin..."

"Anda tidak ingat? Nyonya Do, ibu dari Kyungsoo, juga diperkosa oleh para pengawal Xi, bukan? Dan Lady Luhan memang biasa melakukan itu tak hanya pada Nyonya Do tapi juga...

...pada Nyonya Byun dan Madam Rosella."

Baekhyun menahan teriakan kemurkaannya. Dia menangis kencang di pelukan Namjoon.

"Tidak mungkin Luhan-eonni dan Chanyeol-oppa sejahat itu! TIDAK MUNGKIN!"

"Begitulah penyebab perjanjian itu ada, Nona Muda. Pemikiran irasional Lady Luhan seakan mengatakan, lebih baik kalian mati daripada terluka karena cinta."

Baekhyun memukul-mukul bahu Namjoon sebagai pelampiasan rasa sesaknya.

"Perjanjian mereka adalah jika Chanyeol mengucapkan cinta pada Anda...

...Lady Luhan akan memerintahkan Chanyeol agar dia membunuh anda lalu membunuh dirinya sendiri."

Baekhyun tertegun sejenak dari sesaknya tangisan.

"kau tahu, Baekki-ya? Jika kau berani menyakiti Chanyeol hanya karena cintanya padamu, saat itulah aku akan memerintahkannya untuk membunuhmu." [Chapter Nine]

Baekhyun mengepalkan tangan sambil meremas kain seragam satpam Namjoon di bagian dada.

"Luhan..." amarah Baekhyun sudah menenggelamkannya dari kelembutan hatinya. "Kau harus mendapat ganjarannya agar kau berhenti bertindak bagai Tuhan...!"

'Ya! Luhan-eonni harus disadarkan. Yaitu dihukum setimpal!' batin Baekhyun murka.

Namjoon tahu kelemahan manusia salah satunya adalah cinta.

Lebih tepatnya, nurani mereka sebagai manusia.

Karena itulah Namjoon tersenyum manis di balik pelukan Baekhyun.

Percayalah, senyumannya sangat tersirat.

.

.

.

.

.
NEXT CHAPTER :

Thirteen : X-EXØ feat Xi's Mafia

"Kau tidak perlu menjadi Raja untuk melawan Raja. Kau hanya perlu menjadi Oh Sehun, suami sah Xi Luhan, untuk mengalahkannya."

—Xi Luhan—

.

.

.

.

.

Cuplikan Chapter Thirteen :

"Aku mohon... Tetaplah di sini."

"Aku dan Triple Twin membutuhkanmu."

"Lihat wajah-wajah lucu mereka. Apa sekarang kau tega?"

"Hannie-ku... sayangku... bagaimana bisa kau setega ini?! Kami sudah semaksimal mungkin melindungimu selama ini dan kau memutuskan untuk menyerah? Meninggalkan kami?"

"Tolong jangan anggap aku berlebihan karena apapun tentangmu membuatku terlalu sensitif!"

.

.

.

.

.
TBC

.

.

.

.
.

AUTHOR NOTE :

Disfack. Plesetan dari dispatch! And... I hate this media! (Walau ada sisi baiknya sih)

Fyuh! Alhamdulillah kerangka alur ni ff udah ditulis dari dulu-dulu, jadi enak dijabarin tanpa perlu membebani pikiran di pertengahan UAS.

Dan, jika ada yang tanya riset untuk ff ini butuh berapa lama?

Sejak kerangka ff ini jadi, aku udah mulai riset. Jadi udah lama juga sih. Cuma gak terlalu mendetail karena fokus di sini adalah romansanya HunHan (yang semoga aja beda ama kisah romansa di ff HunHan biasanya).

Jika ada yang ditanyakan, silahkan review.

Terus dukung author agar ff ini cepat tamat! Karena semakin banyak dukungan maka author semakin on fire!

Oke, makasih udah review, favorit, follow ini ff abal-abal!

Nikmati kebersamaan di malam indah ini dengan chapter ini, hohoho!

Selamat hari Natal bagi yang merayakan ya... :D (mian telat)

Semoga di tahun baru kita dapat kesempatan meraih apa yang ingin digapai!

Surabaya, 26 Desember 2019