Disebuah ruangan temaram, seorang laki-laki duduk dengan tenang di kursinya. Tangan sesekali memutar-mutar pena. Sorot matanya begitu dingin saat melihat ke arah sebuah monitor yang menampilkan seorang gadis berhijab. Gadis itu terlihat diikat di sebuah kursi dengan mulut yang dibekap memakai sapu tangan. Keadaannya masih pingsan.

Laki-laki itu mendengus.

"Lihat saja, apakah dia akan diam saja saat 'umpan'nya sudah disambar ikan piranha?" gumamnya dengan seringai keji.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu membuatnya menengok ke arah pintu.

Perlahan pintu terbuka dan memperlihatkan seorang laki-laki yang lebih muda darinya. Wajahnya datar dengan sorot dingin dibalik kacamata frame ungu itu.

"Ada apa?" tanyanya.

"Persiapan hampir selesai. Bagaimana menurut Anda?" tanya laki-laki muda itu.

Yang ditanya melebarkan seringainya. Ia menampakan sorot licik yang mungkin terlihat menyeremkan di mata yang melihatnya.

"Bagus." Laki-laki itu tersenyum puas, lalu tatapannya menjadi serius, "tapi, sebelum itu kita harus bermain-main dulu dengan target kita," katanya santai.

Ia mendelikan matanya meminta persetujuan pada laki-laki muda itu.

"Bagaimana menurutmu, Fang?"

A BoBoiBoy fanfiction proudly present

"Programmer of Love"

-- Halilintar x Yaya --

-- The Truth Untold --

Di kediaman BoBoiBoy bersaudara, tampaknya sedang terjadi kepanikan dan cemas yang luar biasa. Mereka semua berkumpul di sana. Bahkan Solar dan Blaze.

Halilintar sedang berusaha melacak mobil yang menculik Yaya. Beruntung sekali Solar melihat plat mobilnya, jadi tidak terlalu menyulitkannya. Namun, masalahnya adalah plat mobil yang digunakan ternyata sudah dilarang digunakan lagi oleh negara. Entah bagaimana orang itu dapat memakainya dengan bebas.

Daun yang memang masih bocah berusia empat tahunan tidak terlalu mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, sensor pekanya mengatakan agar tidak membuat keributan dan mengakibatkan semua orang dewasa yang ada di sekitarnya semakin runyam. Maka dari itu, Daun memilih mengajak Taufan bermain.

Gempa yang sudah datang dari arah dapur dengan nampan pun bertanya, "bagaimana perkembangannya?" tanyanya. Ia menaruh nampan berisi teh hangat dan beberapa camilan itu di meja.

Halilintar memijit pangkal hidungnya sejenak. "Belum," ujarnya lirih.

Solar dan Blaze menatap prihatin pada dosen mereka. Meski Halilintar adalah dosen killer yang paling tak disukai, tapi saat melihatnya frustrasi seperti itu malah kasihan.

"Bapak yang sabar, kita harus tetep usaha supaya nemuin Yaya. Saya yakin dia baik-baik saja. Dia gadis yang kuat dan berani," ucap Blaze menenangkan.

Solar mengangguk. "Iya, dia itu pemberani. Bahkan berani sama dosennya sendiri," timpalnya santai.

Halilintar mendelik tajam padanya dan hanya dibalas kekehan canggung dari Solar. Setelahnya dia menghela napas dan kembali fokus pada tujuannya.

Blaze yang merasa keadaan sudah kembali tenang mulai bertanya. "Sebenarnya ada kaitan apa Yaya, Bapak sama penculikan Yaya? Saya yakin ada alasan dibalik itu," tanyanya serius.

Halilintar menghentikan ketikannya. Ia belum mengangkat kepalanya dari monitor. Namun, yang jelas pasti saat ini dia berusaha menahan emosinya. Entah kenapa dia merasa marah sekali dengan kejadian ini. Terlebih, Blaze malah bertanya disaat dirinya sedang malas menjelaskan. Menjengkelkan sekali.

Gempa yang paham dengan kondisi kakaknya mengelus pundak Halilintar. Menenangkan. Lalu, menatap kedua anak didik kakaknya dengab sorot lembut.

"Sebaiknya kalian jangan bertanya dulu. Dia masih—" Ucapan Gempa terpotong saat Halilintar buka suara.

"Ini tentang kasus balas dendam lima tahun lalu."

"Hah?" Solar dan Blaze melongo tak paham.

Gempa dan Taufan hanya dapat menghela napas. Sepertinya kenangan kelam Halilintar akan kembali teringat. Kenangan pahit yang terjadi karena sebuah kesalah pahaman antar dua belah pihak yang mengakibatkan dendam berkepanjangan.

Sebenarnya, Gempa dan Taufan ingin menghentikan kakak mereka untuk tak menceritakan kejadian kelam itu pada Blaze dan Solar. Tapi, melihat sorot penasaran keduanya, membiarkan Halilintar bercerita.

"Sebenarnya..."

Flashback on

Lima tahun yang lalu...

Seorang laki-laki berusia 19 tahun baru saja menyelesaikan studi S2 untuk bidang Informatika. Saat ini, dia akan melamar pekerjaan sebagai dosen dasar pemrograman di Rintis Island University. Salah satu Universitas terkenal di Malaysia.

Setelah resmi menjadi dosen, Halilintar, itulah namanya menjadi satu-satunya dosen termuda di sana. Di usianya yang belum genap dua puluh tahun, dia sudah menjadi dosen. Wajahnya yang rupawan membuat Halilintar digandrungi oleh para mahasiswi. Namun, karena pribadinya yang dingin membuatnya tidak menanggapi para penggemarnya.

Suatu hari, Halilintar mengajar salah satu kelas untuk mata kuliah daspro. Dia selalu memperhatikan semua anak didiknya. Bagaimana sifat mereka, latar belakang sampai psikis.

Bukan. tanpa alasan Halilintar melakukan hal semacam itu. Namun, karena satu orang dia melakukannya. Seminggu mengajar di sana, Halilintar melihat ada satu hal ganjil pada salah satu mahasiswanya. Usianya mereka terlihat seumuran. Wajah oriental laki-laki berambut pantat ayam itu menarik perhatiannya. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh laki-laki itu.

Selama itu Halilintar terus memperhatikan mahasiswa yang diketahui bernama Kaizo itu. Selama itu pula, dia menemukan berbagai hal ganjil dibalik sifat dingin Kaizo.

"Dia sakit."

Itulah yang tertanam di kepala Halilintar sejak mengetahui jika Kaizo merupakan psakit Dissociative Identity Disorder atau Kepribadian ganda.

Kaizo dapat terlihat ramah dan baik hati di hadapan banyak orang. Namun, dilain waktu dia akan berubah menjadi pembunuh berdarah dingin yang tak segan melenyapkan korbannya yang berniat mengganggunya.

Skip

Awalnya Halilintar tidak percaya jika Kaizo itu sakit. Namun, sebuah kejadian kelam membuatnya berpikir dua kali jika tetap tidak percaya.

Saat itu, entah bagaimana awalnya, yang jelas Halilintar mendengar terjadi sebuah ledakan tak jauh dari RIU. Dengan panik dan penasaran, dia berlari ke TKP. Jantungnya berdegup kencang. Berkali-kali dia meneguk ludah berusaha tenang.

Tak berapa lama, Halilintar sampai di tempat kejadian.

Sebuah rumah mewah sudah terbakar dengan kobaran api yang besar meluluh lantakannya. Manik ruby-nya bergulir ke segala arah. Tepat saat itu, dia mendapati seorang anak laki-laki usia SMP akhir tengah menangis histeris dengan seorang pria tergeletak dipangkuannya. Darah mengalir deras dari kepalanya.

Halilintar menghampiri mereka dan bertanya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Halilintar tak sabar.

Belum sempat anak laki-laki itu menjawab, ada sebuah suara yang menyambar dengan amarah.

"Itu semua salah mu! Kau dan seluruh dedengkot Fakultas Informatika sudah meledakan rumahku dan membuat kedua orang tuaku mati! ITU SEMUA SALAH MU!!" marah Kaizo.

Halilintar tak bicara. Namun, matanya menelisik Kaizo dengan seksama. Matanya menemukan sebuah hal yang ganjil di saku jaket ungu yang dipakai Kaizo.

'Alat peledak?' pikirnya.

"POKOKNYA INI SEMUA SALAHMU! SALAH FAKULTAS! SALAH RIU!" Kaizo semakin meracau.

"Bukannya kau yang meledakannya sendiri?" tanya Halilintar sarkas.

"Apa maksudmu?"

"Itu salahmu. Jangan menyalahkan orang lain!"

"Diam sialan!" bentak Kaizo semakin hilang akal. "Aku berjanji akan membalas apa yang terjadi dengan keluargaku! Camkan itu!"

Kaizo meneduhkan sorot matanya, "dan aku akan membuat gadis kecilmu menderita," sambungnya.

Halilintar membulatkan matanya.

"DIA TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA DENGAN INI! LAGI PULA ITU JUGA SALAHMU BANGSAT!"

"Mau itu salahku atau bukan, yang jelas kalian semua menghalangi jalanku."

"Apa maksudmu?" Halilintar bertanya disela emosinya.

"Kau! Kalian semua menghancurkan mimpiku! Aku hanya ingin bisa hidup tenang tanpa Psikiater, Sialan!" bentaknya lagi.

"Tapi kau sakit..." Halilintar memiringkan kepalanya, "... Kassim.."

"Diam kau!"

Kassim mengambil pistol dalam saku jaketnya. Lalu mengarahkannya pada Halilintar.

"Mati kau!" desisnya seraya menarik pelatuk dan..

Dor!!

Halilintar tetap berdiri tegap meski bahu kanannya terkena tembakan. Ia mendesis kecil saat rasa ngilu itu terasa. Manik rubynya melirik pada Kaizo yang mulai linglung.

Sebelum limbung, Halilintar mendengar laki-laki itu mengatakan sesuatu yang membuatnya menegang.

"Aku akan menjadikan gadis kecilmu itu sebagai gantinya..."

Sejak hari itu, Halilintar terus cemas dan khawatir. Ia terus berkonsultasi pada psikiater yang menangani Kaizo. Katanya, Kaizo melupakan kejadian pengeboman karena trauma. Tapi tidak dengan kepribadian psikopatnya. Kassim semakin gencar untuk membalaskan dendam pada semua pihak Fakultas Informatika. Padahal, tidak ada sangkut pautnya.

Flashback off

Halilintar mengakhiri ceritanya. Ia menghela napas dan menatap kosong keluar jendela.

"Tapi, kenapa Kaizo-maksudnya Kassim berpikir jika oknum fakultas ada sangkut pautnya dengan kejadian itu? Bukannya dia sendiri yang meledakan kediamannya?" tanya Solar masih belum paham.

"Ada beberapa alasan kenapa Kassim berpikir demikian. Pertama, kepribadian asli atau Kaizo adalah Mahasiswa IF. Kedua, saya ada di tempat kejadian dan merupaka dosen daspro. Ketiga, ada pihak lain yang pastinya menjadi dalang dan penghasut sebenarnya dalam kasus itu. Dan yang jelas berasal dari fakultas IF," jelas Halilintar.

Solar dan Blaze mengangguk paham.

"Apa Bapak tahu siapa dalang dibalik kasus lima tahun lalu?" tanya Blaze kepo.

"Hm."

"Siapa, Pak?" tanya keduanya serentak.

"Apa saya bilang jika itu adalah Rektor kampus kalian akan percaya?"

"Apa?!"

OwO

Yaya berusaha menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku. Berpura-pura pingsan itu ternyata melelahkan juga. Ditambah saat ini kedua tangan dan kakinya terikat cukup kuat. Untuk digerakan saja susahnya bukan main.

Kepalanya mengarah ke sekeliling tempat di mana dia dikurung. Setelahnya, Yaya mendengus sinis.

'Para hacker dan penjahat kelas teri.'

Ceklek! Kriet..

Pintu perlahan terbuka menampakan sosok yang sangat dikenal oleh Yaya selama dia menjadi maba semester satu di RIU.

"Halo, Yaya," sapa orang itu. Yaya tak menjawab, hanya menaikan sebelah alisnya.

Sosok itu mendekat ke arahnya. Ada sorot penuh penyesalan di mata amethyst itu.

"Maaf."

"Maaf karena kau iku terseret dalam masalah yang sebenernya nggak ada sangkut pautnya denganmu. Tapi, abangku memintaku agar membawamu kemari," jelasnya sendu. Ia menyesal karena keinginan egois kakaknya, temannya ikut terseret.

Yaya hanya menjawab dengan gumaman tidak jelas. Tapi, sorot matanya tampak lembut keibuan. Membuat Fang semakin merasa bersalah.

Laki-laki itu berbalik dan akan meninggalkan Yaya. Namun, saat ada diambang pintu dia berbalik sedikit.

"Sabar dulu, akan ada yang menyelamatkanmu," katanya lalu berlalu setelah menutup pintu.

Di dalam ruangan, Yaya berharap seperti yang dikatakan oleh Fang. Dalam kepalanya dia masih bingung sebenarnya apa tujuan semua yang telah terjadi.

Rencana peledakan fakultas IF RIU dan penculikannya. Apa ada hubungannya?

.

.

.

.

Seorang pria paruh baya tampak tersenyum dengan puas saat melihat monitor di depannya. Sebuah cerutu tampak mengepul yang diapit oleh bibirnya.

"Permainan akan sangat menarik. Ternyata para bocah ingusan itu sangat mudah untuk dipermainkan." Asap cerutu dihembuskannya. "Sepertinya permainan sebentar lagi akan berakhir. Jadi, Tuan Amato dan Tuan Huang, bagaimana menurut kalian?"

Pria itu mendelik pada dua pria dewasa yang terkurung dalam sebuah tabung. Mereka melotot marah pada pria paruh baya yang masih asyik dengan cerutunya.

"Apa? Kalian mau marah? Silahkan saja, tapi ternyata mempermainkan anak-anak kalian itu mengasikan. Terutama Kaizo yang sedang 'sakit'. Dia sangat mudah dihasut. Rencana gilanya untuk meledakan fakultas RIU itu sungguh mengesankan," kata pria itu lagi.

"Terus, Halilintar Boboiboy itu benar-benar cerdas dan protektif sekali. Persis sekali dengan ayahnya," tambah pria itu.

Pria itu beranjak dari kursinya mendekat ke arah kedua pria yang terjebak dalam tabung.

"Bersabarlah dulu, dan mari kita bersiap menyaksikan ledakan hebat dalam dua hari lagi," ucap Pria paruh baya itu.

Amato mendesis. "Retak'ka sialan!" katanya tak terdengar hanya gerakan mulut saja.

OwO

Malam telah tiba. Halilintar masih terjaga di ruang kerjanya. Saat ini, dia sedang berkomunikasi dengan seseorang yang bisa membantunya membereskan permasalahannya.

"Kau tahu aku benci menanyakan hal ini. Tapi, bagaimana perkembangannya?" tanya Halilintar lewat ear piece.

"Done. Kita hanya perlu mematangkan rencana sedikit lagi. Lagi pula kau sudah mengetahui lokasi Yaya bukan?"

"Hm."

"Ok. Aku hanya bisa membantumu sedikit. Kau tahu, memata-matai saudara sendiri itu menyebalkan."

"Aku tak perduli."

Orang disebrang sana mendengus. "Tak pernah berubah."

"Hm."

"Sudahlah. Jika kau ingin menanyakan kabarnya, dia baik-baik saja sampai saat ini. Jadi jangan terlalu cemas. Kau lebay."

"Berisik!"

"Hahaha..."

Keduanya terdiam sejenak.

"Hei, bagaimana dengan ayah-ayah kita?"

"Aman. Mereka belum diapa-apaka oleh tua bangka itu. Kita ikuti saja alurnya dulu, sekalian menyadarkan kepribadian menyebalkan kakakmu itu. Serius, aku ingin sekali menoyor kepalanya."

"Sabarlah. Bukan hanya kau saja. Aku juga ingin melakukannya. Sudah ya? Tidak ada yang dibicarakan lagi."

"Hm."

Tutttt...

Sambungan itu terputus. Halilintar melepas ear piece ditelinganya dan menghela napas. Benar-benar melelahkan. Ia melirik sebuah foto yang berada di sisi komputernya.

"Maafkan aku. Bersabarlah sedikit lagi," gumamnya pelan.

To be continued

selamat berpusing ria manteman...wwwkwkw

tinggal tiga part lagi fic ini tamat

see you in next part

love you

.*RnR please*