Haiihaiii~

Selemat datang kembali dan selamat membaca!

Sorry for typo ^^

.

.

Because of You

Chapter 15

.

.

Pagi hari di asrama putri, tepatnya di kamar nomor 231b telah terjadi kehebohan. Penghuni kamar tersebut, Luhan benar-benar membuat kehebohan dengan membuat kamarnya kacau. Roomate-nya bahkan menatap Luhan terkejut. Sebenarnya apa yang Luhan lakukan?

"As-ta-ga… Luhan! Apa yang terjadi?!" pekik Minseok yang baru saja bangun dari tidurnya. Ini baru pukul 6 pagi, tetapi entah apa yang Luhan lakukan hingga banyak pakaian Luhan berserakan di lantai dekat kaca. Seingatnya, kemarin Luhan sudah menyusun semua pakaiannya di koper agar tidak terburu-buru saat kembali ke rumah, tetapi, lihatlah pagi ini…

Luhan berbalik, membelakangi cermin yang sejak 2 jam lalu selalu ia pandangi. "Apa aku membangunkanmu? Mian…"

Roomate-nya, Minseok mengusap wajah bangun tidurnya, "tapi apa yang kau lakukan? Kau tidak pulang?" tanyanya.

"Mana mungkin…"

"Lalu?" lanjut Minseok.

Luhan menggigit bibir bawahnya sembari melihat kekacauan yang ia buat, "se-sebenarnya…" Minseok menatap Luhan penasaran, bahkan tatapannya mendesak Luhan untuk melanjutkan ucapannya, "…seseorang mengajakku pergi, aku tidak tahu harus memakai apa…" lanjut Luhan lesu.

Mengerti situasinya, lantas Minseok tertawa, Luhan benar-benar unik, pikirnya. "Jadi, kau bingung memakai pakaian yang mana untuk berkencan dengan si Oh itu?"

Wajah Luhan merona, "bu-bukan berkencan– si-siapa bilang Sehun yang mengajakku!" Luhan masih saja mengelak meskipun ia tahu teman sekamarnya sangat peka.

Minseok menatap malas pada Luhan, kebiasaan teman sekamarnya itu memang tidak berubah ketika tertangkap basah, mengelak, gagap, dan memerah. "Berhenti mengelak, kau menyebalkan saat seperti itu." Komentar Minseok.

"Mian." Cengir Luhan. "Apa aku terlihat aneh dengan ini?" Luhan menunjukkan pakaian yang dikenakannya. Celana jeans putih dengan atasan berwarna peach dipadu dengan jaket putih tebal, Luhan terlihat cantik dengan itu, tetapi komentar Minseok: "ganti. Kau terlihat sangat pucat!"

Luhan mengangguk, kemudian mengambil pakaiannya yang lain dengan asal. "Ini?" Luhan menunjukkan baju turtleneck coklat muda.

"Sepertinya terlihat hangat, cobalah…" angguk Minseok. Lalu Luhan pergi ke kamar mandi untuk mencobanya.

"Eotte?" tanya Luhan. Minseok membulatkan matanya, knitted turtleneck dress itu memperlihatkan lekuk tubuh Luhan–sampai membuat Minseok iri karena tubuh Luhan terlihat cantik. Luhan memadukannya dengan stocking hitam dan sebuah jaket berbulu yang baru ia ambil. "Minseok-ah?" panggil Luhan.

Minseok tersadar dari lamunannya mengagumi tubuh Luhan, tapi komentar Minseok membuat Luhan menghela napas panjang: "jangan gila, Luhan. Sehun bisa membunuhmu jika kau memakai itu. Ganti-ganti!"

Membunuh? Luhan bergidik ngeri, meskipun ia tidak tahu artinya, ia tidak mau sampai dibunuh Sehun. Padahal maksud Minseok adalah 'Sehun bisa dalam bahaya jika melihat Luhan berpakaian seperti itu.' Sebenarnya Minseok berlebihan, hanya saja ia tidak mau si Oh itu macam-macam pada Luhan, yah… ia memang berlebihan memikirkan itu.

"Ini?" Luhan menunjukkan terusan pink selutut. Komentar Minseok, "No! Jangan pink, jebal dan juga, kau mau mati membeku?!" sebenarnya Minsok yang tidak suka melihat perempuan memakai pakaian pink saat berkencan. Terlihat seperti perempuan yang suka bermanja-manja dan menyebalkan. Luhan menghela napas panjang kembali, apa teman sekamarnya ini juga tidak bisa memilih pakaian? Pikirnya.

Di saat Minseok masih memandangi berbagai pakaian Luhan di lantai, Luhan diam-diam mengambil satu setel pakaian dan menggantinya di kamar mandi tanpa Minseok sadari.

"Eotte?" akhirnya Luhan keluar dan menunjukkan pakaiannya. Mata Minseok membulat, begitu juga dengan bibirnya, "aku tidak mau mendengar komentar buruk lagi!" kesal Luhan mengantisipasi apa yang akan Minseok katakan.

Minseok menggeleng, "perfect! Ini sangat bagus!" pekiknya senang, Luhan akhirnya dapat bernapas lega. Sweater putih dipadu dengan cape coat navy membuat Luhan terlihat manis. "Kenakan kaus kaki panjangmu dan sepatu yang hangat, okay!" tutur Minseok.

"Okay!"

"Jam berapa kau pergi?" tanya Minseok sembari mengambil peralatan mandinya.

Luhan melihat jam tangannya, "Sebentar lagi," jawabnya kemudian kembali merapikan baju-bajunya. Setelah merapikan segala sesuatu yang ia buat berantakan, Luhan mengambil tas kecilnya dan mengenakan sepatu yang sudah ia siapkan.

"Minseok-ah, aku pergi!" teriak Luhan dari pintu, teman sekamarnya itu sudah masuk terlebih dahulu ke kamar mandi. Entah Minseok mendengar atau tidak, Luhan langsung bergegas setelah berpamitan.

..

..

Luhan sedikit berlari ketika melihat seseorang sudah menunggu di luar asrama. Tanpa melihat wajahnya, Luhan tahu bahwa seseorang di sana adalah Sehun. Postur laki-laki tinggi dengan bahu yang cukup lebar itu terlalu Luhan hapal.

"Sehun!" panggil Luhan.

Benar saja, seseorang di depan sana memutar balik tubuhnya. Langkah Luhan terhenti tiba-tiba, ia merutuki perbuatannya, seharusnya ia tidak memanggil Sehun, jantungnya benar-benar belum siap untuk ini.

Baru kali ini Luhan melihat Sehun dalam balutan pakaian bebas. Ia selalu saja melihat Sehun dengan kemeja tanpa dasi–yang terkadang terlihat dekil karena berkelahi, tetapi kali ini, wow mata Luhan benar-benar sangat beruntung. Sehun mengenakan sweater yang entah mengapa senada dengan coat Luhan, jaket levis putih dipadu dengan celana jeans hitam. Wajah Luhan memerah menyadari betapa tampannya Sehun dan betapa serasinya pakaian mereka hari ini.

"Momchongi!" panggil Sehun. Luhan berbalik dengan cepat, ia memeriksa penampilannya. Apa penampilannya baik-baik saja? Pikir Luhan panik.

Sementara itu, Sehun menatap punggung Luhan dengan heran, sebenarnya apa yang Luhan lakukan di ujung sana. Sehun akhirnya memutuskan untuk menghampiri Luhan. "Luhan?" panggil Sehun setelah sampai di belakang Luhan. Anehnya, Luhan tidak juga berbalik, malah ia terlihat tersentak karena terkejut.

"Lu–" Sehun menarik tangan Luhan dan membuat Luhan berbalik. Sehun mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti mengapa Luhan menutup matanya seperti itu. "Luhan?" panggil Sehun lagi.

Luhan membuka matanya dengan hati-hati, ia menahan napasnya ketika matanya menemukan wajah tampan Sehun di hadapannya. "O-oh, hai Sehun…" sapa Luhan. Mata Luhan tidak bisa berhenti menatap Sehun, tetapi rasanya sangat mengkhawatirkan karena jantungnya tidak berhenti berdebar. Ia khawatir Sehun mengetahui debaran jantungnya, memalukan.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sehun.

Luhan menggeleng, "a-aniya,"

Sehun tersenyum, ia memandang Luhan dengan lembut. "W-wae? Mengapa melihatku seperti itu?" tanya Luhan, tak lupa ia juga mengutuk Sehun yang membuat jantungnya semakin menggila.

"Kau cantik."

Perkataan Sehun langsung saja mengundang semburat merah di pipi Luhan. "Ish! Berhenti menggodaku!" Luhan melepaskan tangannya dari Sehun, tetapi Sehun tidak semudah itu, ia mengejar Luhan dan kembali menggenggam tangan Luhan.

"Aku tidak menggodamu, sungguh," ucap Sehun lagi, lalu ia tersenyum ketika Luhan menatapnya sebal.

"Hentikan!" Luhan menutup sebagian wajahnya dengan tangan lainnya yang bebas.

Tawa Sehun meledak, ia menemukan kegemarannya yang lain, menggoda Luhan. "Geurae, mianhae. Kkajja, kita bisa terlambat pulang nanti."

Luhan mencoba meloloskan tangannya dari Sehun, tetapi Sehun seperti tidak akan pernah merelakannya. Ia bukannya tidak suka, tetapi ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya. "Ke mana kita pergi?" tanya Luhan, lebih baik ia sibuk berbicara daripada sibuk mengurusi jantungnya.

"Kau akan tahu nanti." Sehun tersenyum penuh rahasia.

Kepala Luhan menoleh kiri-kanan mencari sesuatu. "Di mana mobilmu?" tanya Luhan.

Sehun menoleh pada Luhan, "kau bukan gadis yang tidak bisa naik bis kan, Lu?"

Luhan menibir Sehun, "bukan begitu, bodoh! Kalau begitu katakan dari tadi!" gerutu Luhan.

Keduanya berjalan ke halte yang tak jauh dari sekolah. Sekeliling mereka sangat ramai siswa dari sekolah mereka yang sepertinya sedang menikmati waktu liburan bersama teman-temannya. Suasana terasa tidak nyaman karena beberapa pasang mata menatap kepada keduanya. Setelah menatap, mereka terlihat berbisik-bisik sambil menatap Luhan sinis. Segera Luhan meloloskan tangannya dari Sehun yang membuat Sehun menoleh padanya, tetapi Luhan tidak menoleh ke manapun. Luhan terlihat menyedekapkan tangannya.

Ditengah kebingungan, Sehun menemukan beberapa pasang mata yang menatap pada mereka. Sepertinya Sehun mengerti, Luhan merasa tidak nyaman. Lantas Sehun memasukkan kedua tangannya ke saku jaket dan tetap berjalan berdampingan sampai halte.

Di halte, keduanya tidak berbicara, mereka berdiri berdampingan menunggu bis datang. Luhan menoleh pada Sehun, ia tidak tahu harus mengatakan apa, ia menggigit bibirnya. Matanya beralih pada tangan Sehun yang tersimpan. Apa Sehun marah padanya karena ia memaksa melepas tangannya tadi? Pikir Luhan.

Bis yang mereka tunggu datang. Tanpa menoleh pada Luhan, Sehun berjalan mendahului Luhan dan membuat Luhan kebingungan. Luhan naik ke bis selang satu orang di belakang Sehun, ia mendadak khawatir Sehun benar marah dan juga kesal karena Sehun meninggalkannya.

Mata Luhan menyusuri bangku bis, Sehun duduk di sana, di kursi single di sebelah kanan bis. Luhan perlahan jalan menuju Sehun dan melihat Sehun bangkit dari kursinya.

"Duduk di sini," Sehun membaritahu, tetapi Luhan menggeleng, ia menahan Sehun agar tetap di tempatnya, "aniya, kau yang mendapatkan kursi, mengapa aku yang duduk?"

Sehun menatap Luhan dengan tatapan datar. Bis semakin penuh, dan Luhan nampaknya mempertahankan keseimbangannya yang baru saja terdorong penumpang lain. Ketika bis akan berangkat, dorongan terjadi, membuat Luhan yang tidak berpegangan–karena menahan Sehun agar tidak pergi, terjatuh di pelukan Sehun. Kedua tangan Luhan melingkar ke belakang leher Sehun, napas Luhan tertahan. Sehun tidak siap, kepala belakangnya menabrak kaca bis dan matanya membulat saat menyadari wajah Luhan berada kurang dari 1cm dari wajahnya. Kedua bibir mereka hampir bersatu dan hidung mereka sempat bersinggungan.

Keduanya membeku untuk beberapa detik. Sehun melihat sekeliling, banyak orang-orang di bis yang berbisik-bisik ke arah mereka dan sebagian menertawakan mereka. Sehun berdehem lalu dengan cepat membawa tangannya ke pinggang Luhan dan dalam satu gerakan menukar posisi mereka. Ia membawa Luhan duduk di kursi yang memang ia tempati untuk Luhan dan ia sendiri berdiri di samping Luhan dengan berpegangan pada pegangan di atas.

Luhan melirik Sehun sekilas yang terlihat masih terkejut, kemudian Luhan menundukkan kepalanya. Ia memejamkan mata merutuki kesalahannya. Bagaimana jika karena ini mereka menjadi canggung? Bersebelahan dengan Sehun seperti ini membuat Luhan membayangkan wajah Sehun dan itu membuat darahnya berdesir cepat. Kacau! Ia tak tahu menghadapi Sehun setelah ini. Ia memukul-mukul kecil kepalanya, seakan memaki dirinya.

Sehun sebenarnya sedaritadi memperhatikan Luhan sembari menetralkan detak jantungnya. "Berhenti menyakiti kepalamu, Momchongi. Kau bisa tambah bodoh nanti." Sehun sengaja membuat Luhan marah, tetapi tidak ada respon dari Luhan. "Makanya, aku sudah bilang kau harus duduk, tetapi kau menolak. Bukan salahku–"

"Araseo… hentikan, jebal. Aku malu…" keluh Luhan sambil memegangi pipinya yang tambah memanas.

Sehun terkekeh, ia mengusak puncak kepala Luhan, "gwaenchanha? Sepertinya kau bisa meledak sebentar lagi,"

Luhan menyingkirkan tangan Sehun dari kepalanya, "diam kau!" Sehun hanya tertawa tanpa suara melihat tingkah Luhan yang imut dimatanya.

..

..

Sehun dan Luhan kini sudah turun dari bis. Keduanya berjalan menuju tempat yang Sehun sarankan. Tidak banyak percakapan diantara mereka, keduanya sibuk berpikir masing-masing. Luhan sendiri sedaritadi terus memandangi tangan Sehun yang terus tersimpan di saku, ia masih memikirkan kejadian sebelum mereka sampai di halte. 'Apa Sehun benar-benar tidak mau menggandengkku lagi?' pikir Luhan, 'bukankah bagus? Jantungku baik-baik saja sekarang.' Luhan menggeleng 'tapi mengapa rasanya canggung seperti ini?!' gerutunya.

Ternyata, sedaritadi Sehun memerhatikan Luhan, "wae? Ada masalah?" tanya Sehun.

Luhan menarik napasnya, lalu menghembuskannya dengan tenang. Ia memberanikan tangannya bergerak memegang lengan jaket Sehun dan hal itu membuat Sehun berhenti melangkah.

"Wae?" tanya Sehun.

Luhan menggigiti bibirnya, lalu bergumam sebentar, "sebenarnya, ta-tadi aku tidak bermaksud…" ia memejamkan matanya, "aku terpaksa melepaskan tanganku, banyak yang memerhatikan." akhirnya Luhan mengaku.

Sehun tersenyum, "gwaenchanha, sekarang juga banyak orang di sekitar," lalu Sehun kembali berjalan. Luhan menatap punggung Sehun kecewa, Sehun terlalu menurutinya, seperti bukan Sehun yang ia kenal. Luhan menunduk, 'sebenarnya aku kenapa sih!' kesal Luhan.

Kehangatan melingkupi tangan dingin Luhan, menyalurkan beberapa kehangatan yang langsung menjalar ke tubuhnya, termasuk wajahnya yang mulai bersemu. "Se-Sehun…" cicit Luhan.

"Momchongi yang meyusahkan. Bilang saja jika ingin kugenggam," kekeh Sehun.

Luhan mengeratkan genggamannya pada Sehun, "diamlah!" keluh Luhan, ia menyandarkan kepalanya pada lengan Sehun, mencoba menyembunyikan wajah merahnya. Sehun tertawa dibuatnya. Sepertinya hari ini adalah mimpi terindah yang pernah ia rasakan, ia tidak berani melihat ini sebagai kenyataan, khawatir sesuatu yang buruk terjadi. Perasaan aneh sedaritadi melingkupinya, hari ini terlalu bahagia, dan ia cukup takut untuk melangkah ke masa depan yang tak bisa diprediksinya. Ada yang pernah bilang, jika kau banyak tertawa dan bahagia, tidak ada yang tidak mungkin esok kau akan menangis.

Setelah sampai di tempat tujuan, Luhan berlari dan dengan otomatis Sehun ikut tertarik karena mereka masih bergandengan. "Waaah, ini indah sekali!" pekik Luhan senang. Sehun tersenyum senang mengetahui Luhan menyukainya.

Pemandangan di hadapan mereka adalah view terbaik, hijau dengan garis jalan yang terlihat memanjaang menuju bukit biru di ujung sana. Di bukit itu juga terdapat bangunan megah seperti kastil modern. Di sisi kanannya juga terdapat danau buatan yang saat cantik dengan berbagai permainan air.

Mereka pergi ke salah satu tempat favorit musim dingin, yaitu tempat yang tidak akan pernah membeku. Ya, tempat buatan ini dirancang agar masyarakat tetap bisa merasakan musim semi lebih cepat di musim dingin seperti sekarang.

"Aku belum pernah ke tempat indah seperti ini," ucap Luhan.

"Benarkah?"

Luhan terlihat berpikir, "entahlah, aku tidak bisa mengingat kenangan baik yang pernah aku miliki." mata Luhan agak berkaca-kaca.

"Kalau begitu ayo buat kenangan yang akan kau ingat," ajak Sehun, lalu ia membawa Luhan turun ke bawah.

"Waah, ada sepeda…" kagum Luhan.

"Kau mau menaikinya?" tawar Sehun. Luhan mengangguk antusias. "Kkajjaa–"

Luhan menahan Sehun, "tapi aku tidak bisa mengendarainya…"

"Mwo?" Sehun tertawa membuat Luhan manyun. "Gwaenchanha, kita sewa sepeda tandem saja," Luhan menarik Sehun kembali, "wae? Apa lagi?"

"Kalau tahu aku akan naik sepeda, seharusnya aku memakai celana panjang!" kesal Luhan.

Tanpa meresponnya, Sehun melepas jaketnya lalu mengaturnya sedemikian rupa sehingga dapat diikatkan ke pinggang Luhan. Sehun merunduk, tangannya melingkari tubuh Luhan, memasangkan jaket ke pinggang Luhan.

Luhan membeku, posisi Sehun seperti hendak memeluknya membuat Luhan berdebar. Jika sedekat ini, ia khwatir Sehun akan mendengar debar jantungnya.

"Selesai. Kkajja…" Luhan hanya mengangguk, lalu membiarkan Sehun menariknya ke tempat penyewaan sepeda.

..

..

"Kyaaa! Ini menyenangkan!" teriak Luhan kesekian kalinya, dan kesekian kalinya juga membuat gendang telinga Sehun hampir pecah. Sehun tidak masalah, asal Luhan bahagia. "Luhan, pegangan, nanti kau bisa terjatuh!" omel Sehun untuk yang kesekian kalinya. Luhan terlalu bahagia karena akhirnya ia bisa menaiki sepeda yang ia sendiri tidak pernah membayangkan bahwa ia bisa naik ke atasnya tanpa khawatir.

"Sehun!"

"Wae?"

"Cepat kayuh sepedanya!" setelah mengatakannya, Luhan tertawa.

Mau tak mau, Sehun dibuat tertawa, "araseo Tuan Putri,"

"Kyaaa!"

Setelah hampir satu jam bersepeda, keduanya beristirahat di kursi dekat kedai es krim yang mereka temui. Sesuai informasi, masih sekitar 20 menit lagi mereka akan sampai di bangunan yang menyerupai kastil.

"Gamsahamnida," ucap Luhan ketika menerima dua es krim cone. Ia menyerahkan es krim stroberinya pada Sehun, sedangkan es krim vanilla untuknya. Luhan duduk di samping Sehun, ia menatap Sehun yang melahap es krimnya. "Aneh sekali, mengapa laki-laki sepertimu suka es krim yang lucu seperti itu?" kekeh Luhan, lalu mulai menjilati es krimnya.

"Laki-laki sepertiku? Seperti apa?" tanya Sehun.

"Kau laki-laki menyebalkan, suka membolos, dan suka melanggar peraturan," jawab Luhan santai.

"Ya! Momchongi–"

Luhan menutup mulutnya, "mian…" lalu cengiran khas Luhan terlihat.

"Kau yang aneh, mengapa tidak suka es krim stroberi?"

Luhan menggeleng, "ugh… rasanya aneh, bagaimana bisa ada es krim yang yang terasa asam seperti itu," Luhan bergidik.

Sehun tertawa, "kau berlebihan Nona Lu. Yang ini tidak asam, ini menyegarkan." Sehun menyodorkan es krimnya pada Luhan, "kau mau mencobanya?"

Luhan menggeleng, ia balik menyodorkan es krim vanillanya, "mau?"

Sehun terdiam, ia menatap es krim di tangan Luhan. Kemudian matanya beralih pada kedua manik Luhan dengan tatapan dalam. "Tidak mau?" tanya Luhan lagi, "araseo…" Luhan kembali memakan es krimnya.

Luhan tersentak karena dengan tiba-tiba Sehun mencium bibirnya, bibir dingin mereka mulai meleleh karena hangat. Sehun memajukan lagi wajahnya mencoba sedalam mungkin merasakan bibir Luhan yang terasa seperti vanilla. Tak bisa melawan, akhirnya Luhan mulai menutup matanya dan merasakan es krim stoberi yang sangat tidak ia sukai. Sepertinya Luhan harus menghapus es krim stroberi dari daftar makanan yang tidak ia sukai. Stroberi itu terasa manis dan lembut, membuatnya ketagihan. Sehun sedikit memberi lumatan dan penekanan sebelum akhirnya ia melepaskan Luhan.

Keduanya saling bertatapan ketika membuka mata, Sehun tersenyum sambil mengusap pipi Luhan yang sedikit bersemu. Dada Luhan naik turun memvisualisasikan bagaimana jantungnya berdetak cepat. "Kita pergi sekarang?" tanya Sehun sambil memberikan tangannya.

Luhan tersenyum menyambut tangan Sehun, "kkajja…"

Setelah 20 menit mengayuh, akhirnya mereka sampai di tempat pengembalian sepeda. Setelah berterima kasih, keduanya menaiki tangga dimana banyak pengunjung yang juga akan ke atas.

"Kau lelah?" tanya Sehun yang menyadari langkah Luhan melambat.

Luhan menggeleng, "aniya… aw!" Luhan tidak memerhatikan langkahnya hingga ia melukai kakinya dan terjatuh.

"Gwaenchanha?" Sehun panik, kemudian membantu Luhan berdiri.

"Aw!" keluh Luhan sambil memegangi kakinya.

Sehun menghela napasnya, "astaga, seharusnya katakan jika kau lelah. Kemari, aku akan membantumu," Sehun berjongkok di depan Luhan menyuruhnya untuk naik ke punggungnya.

"Ti-tidak usah, nan gwaenchanha–"

"Luhan, naik saja" perintah Sehun. Akhirnya Luhan menyetujuinya dan naik ke punggung Sehun, ia mengeratkan tangannya melingkari leher Sehun.

"Ugh! Kau berat," goda Sehun.

"Ish! Turunkan aku!" Luhan memberontak.

"Araseo araseo mian…" Sehun tertawa tanpa suara, ia tak mau mengambil risiko jika Luhan kembali terjatuh karena berontak di gendongannya.

Keduanya sampai di atas, pemandangan yang indah hingga membuat Luhan lupa akan sakit di kakinya. "Turunkan aku,"pinta Luhan.

Sehun mendengarkan, ia dengan hati-hati menurunkan Luhan, tetapi ia dibuat panik kembali karena Luhan agak berlari menuju balkon. Sehun menarik Luhan dari balkon lalu mendudukkannya di salah satu kursi kosong.

"Wae?" protes Luhan.

"Sebentar, kakimu masih sakit," Sehun duduk di hadapan Luhan lalu melepas sepatu Luhan untuk memijit kakinya.

"Aw! Sakit…" keluh Luhan.

"Tahan sebentar, Momchongi. Nanti bisa bertambah parah," ucap Sehun lalu fokus memijit kaki Luhan.

Luhan tidak lagi mengeluh, tetapi ia menggigit bibirnya menahan sakit di kakinya.

"Sudah lebih baik kan?" tanya Sehun.

Luhan menggerakkan kakinya perlahan, "benar, kakiku sudah baik-baik saja," senang Luhan.

Sehun mengusap sebutir air mata yang menggantung di pelupuk mata Luhan, "aigoo, kau sampai menangis. Mian…"

Luhan mengusap kedua matanya, "a-aku tidak menangis!" elak Luhan. Sehun terkekeh, kemudian memakaikan kembali sepatu Luhan.

Keduanya menghabiskan waktu menikmati pemandangan yang menenangkan dan banyak berfoto bersama. Mereka makan siang di salah satu restoran dalam bangunan kastil dan juga mereka sempat masuk ke beberapa kios untuk membeli kenang-kenangan. Sehun memilihkan gantungan rusa untuk Luhan, sedangkan Luhan memilihkan gantungan serigala untuk Sehun. Setelah memilih, masing-masing memegang satu rusa dan serigala yang digabung. Luhan memilih menggantungkannya di tas kecilnya, sedangkan Sehun menyimpan gantungannya di saku.

Kini keduanya duduk di salah satu meja yang terdapat 2 kursi–sebelumnya Sehun sudah melakukan reservasi, tempat di mana banyak orang berkumpul karena event spesial akan dimulai. Event kali ini adalah menyaksikan matahari terbenam di pinggir pantai. Ya, tentu saja ini adalah event buatan. Dengan mengandalkan teknologi, tempat yang mereka tempati sekarang terlihat seperti mansion di pinggir pantai dengan pemandangan pantai yang indah dan matahari sore yang hampir menjingga. Benar-benar terlihat asli. Banyak orang terkagum dengan kemampuan menyalin alam di sini.

Luhan dan Sehun hanyut dalam suara deburan ombak yang menabrak batuan di bawah sana. Tidak dari mereka menginginkan untuk membuka percakapan. Keduanya terlalu sibuk berkelana dalam pikirannya masing-masing. Suasana mulai tenang, sekitar mereka juga perlahan agak meredup pertanda event dimulai.


"Sehun…" panggil Luhan.

Sehun menoleh pada Luhan, "hm?"

"Aku akan pergi…"

"M-mwo? Pergi? Maksudmu?"

Luhan menatap Sehun dengan mata berairnya, "aku akan melanjutkan kuliah di Inggris. Mama sudah menyiapkannya dan setelah upacara kelulusan, aku akan langsung pergi."

Sehun terdiam beberapa detik, "itukah maksudmu tidak bisa menepati janjimu untuk terus bersamaku?" tanya Sehun setelahnya.

Luhan menunduk, "um, mian…"

"Lalu… apa artinya aku menunggu selama ini?" tanya Sehun.

Luhan mengangkat kepalanya, "Se…hun…"

Sehun menatap Luhan tidak percaya, "bahkan kau tidak memberikanku kesempatan untuk mengetahuinya."

"Sehun–"

Sehun bangkit dari kursinya, "benar. Sepertinya hanya aku yang mengharapkan lebih, bukan?"

"Sehun!"

Sehun pergi dari sana, meninggalkannya dengan sejuta penyesalan.


"Luhan? Lu? Kau mendengarku?" Sehun mengguncang bahu Luhan. Ia terkejut melihat Luhan yang tiba-tiba menangis dalam hening.

Luhan tersentak, ternyata semua itu hanya lamunannya saja. Ia menatap Sehun yang masih berada di sampingnya. "Wae? Mengapa kau menangis?" tanya Sehun khawatir.

Luhan tidak bisa menahan air matanya lagi, dalam hitungan detik, Luhan menabrakkan kepalanya pada dada Sehun. Bersembunyi di sana dan meluapkan segala ketakutannya.

"Hei? Luhan? Kau baik-baik saja?" tanya Sehun terkejut.

Luhan menggeleng, "se…hiks…se…bentar saja…" pintanya.

Sehun mengusap punggung Luhan dengan lembut ketika Luhan semakin menenggelamkan diri pada dekapan Sehun. Hati Sehun terasa sakit saat ini melihat Luhan yang tiba-tiba menangis saat bersamanya. Ia sungguh tidak memiliki clue apapun tentang apa yang dirasakan Luhan dan apa yang sedang Luhan hadapi. Ia ingin sekali bertanya, tetapi sepertinya tidak akan mungkin mendapatkan jawabannya dari Luhan.

Setelah beberapa saat, Luhan keluar dari persembunyiannya dengan mata yang sembab. Pertama kali yang menyapa penglihatan Luhan adalah Sehun yang tersenyum padanya. "Sudah lebih baik?" tanya Sehun sambil mengusap jejak-jejak air mata pada pipi Luhan.

Luhan mengangguk, "kau tidak ingin bertanya?"

Sehun menggenggam kedua tangan Luhan, "lalu kau mau memberitahuku?" Luhan tidak menjawab, ia terlihat menunduk dan tanpa sadar menggenggam kuat tangan Sehun. "Gwaenchanha, kau bisa memberitahuku jika kau mau…"

"Mianhae…" ucap Luhan lemah. Mentalnya tidak cukup kuat untuk menerima kemungkinan bahwa Sehun akan meninggalkannya seperti bayangannya. Ia akan menahannya sedikit lama, bolehkan? Luhan menatap Sehun yang sedang menatap ke depan 'lalu sekarang apa yang kau pikirkan tentangku, Sehun? Aku tidak berani bertanya, itu hanya membuatku semakin serakah karena menginginkan pendapatmu tanpa memberi alasan padamu.'

"Waaahh~"

"Cantik sekali!"

Sekitar mulai kembali riuh, mereka mengagumi matahari buatan itu yang nampak seperti aslinya. Matahari perlahan membuat sekitar berwarna jingga, terasa hangat dengan hembusan angin lembut disertai bau asin yang benar seperti laut.

"Lu…" panggil Sehun.

Luhan menoleh pada Sehun dan terkejut mendapati sebuah kotak cantik mengarah padanya. "Untukku?" tanya Luhan.

Sehun tertawa, "bukan, untuk perempuan di belakangku."

"Ish!" kesal Luhan.

"Tentu saja ini untukmu, Momchongi. Bukalah…"

Luhan mengambil kotak putih dengan pita coklat itu perlahan, matanya membola menemukan kalung cantik berbandul cincin dengan ukiran inisial 'L-S' di sana. "Ya! inikan…"

"Kau menginginkannya tadi kan?" tanya Sehun.

Luhan mengangakan mulutkan, "maksudku bukan… astaga Sehun…" ia tidak bisa lagi berkata-kata.

"Lagipula itu bukan asli. Nanti aku berjanji memberikanmu yang sebenarnya, akan ada saatnya dimana aku berlutut padamu." ucap Sehun. Luhan membatu, berlutut? Maksud Sehun? Otak Luhan tidak bisa diajak berpikir, ia tidak mau berspekulasi mengenai apapun. Bukankah perjalanan mereka masih jauh?

Sehun mengambil kalung tersebut untuk memasangkannya pada Luhan. Sehun berdiri di belakang Luhan dan memasangkannya. Ia sedikit merunduk lalu berbisik pada Luhan, "kau bisa terus mengingatku dengan ini. Ingatlah bahwa aku selalu di sampingmu, bersamamu dimanapun kau berada."

Air mata Luhan jatuh tanpa ia sadari. Suasana semakin jingga hingga mulai meredup, Luhan menengok ke arah Sehun berbisik padanya. Bersamaan dengan matahari yang akan bersembunyi, keriuhan memenuhi sekitar mereka, suasana menggelap, dan saat itu Luhan menempatkan bibirnya pada bibir Sehun yang tersenyum. Perasaannya tidak bisa ia tahan, tidak lagi untuk kehilangan Sehun di saat-saat terakhir mereka.

Selesai mengaitkan kalung dengan sukses, tangan Sehun berpindah untuk memeluk pundak Luhan. Membiarkan kedua bibir mereka terus bersentuhan dengan banyak perasaan yang tak tersampaikan. Tautan keduanya terlepas ketika suasana mulai terang. Sehun tersenyum dengan tenang membuat Luhan ikut tersenyum meskipun matanya memancarkan kesedihan.

"Aku juga memiliki ini…" Sehun menunjukkan kalung lainnya dengan bandul yang sama dengan Luhan.

"Sehun…"

"Aku juga menginginkanmu tetap bersamaku." Ucap Sehun. Suasana kembali terang seperti sebelumnya, orang-orang di sana mulai pergi satu-persatu, tapi tidak dengan Luhan dan Sehun.

"Jadi, kalau aku memintamu untuk menjadi kekasihku sekarang. Apa kau akan menerimaku?" tanya Sehun tiba-tiba setelah ia kembali ke bangkunya.

Luhan membulatkan matanya, "m-mwo?" ia hampir kehabisan napas karena jantungnya yang mendadak berdebar.

Sehun tertawa, matanya terlihat gugup, "memang bukan itu kesepakatannya, tapi… aku menyukaimu Lu, dulu, saat ini, bahkan nanti. Aku selalu menyukaimu dan aku tidak pernah berhenti menyukaimu. Hmm… jadi… maukah kau menjadi kekasihku?"

Luhan dilanda kegundahan, ia tidak berharap Sehun memintanya seperti itu. Bagi Luhan, bisa bersama Sehun adalah yang diinginkannya. Jika harus membuat status yang berbeda, Luhan tidak tahu harus menghadapinya mengingat ia juga akan pergi. Ia tidak bisa menyakiti Sehun dan putus dengannya. "Sehun…"

Sehun menunggu jawaban Luhan dengan gugup. Ia tidak tahu apa yang akan Luhan katakan karena ia tidak bisa mengartikan tatapan Luhan padanya.

"…mianhae…" lanjut Luhan.

Wajah Sehun terlihat kecewa, tentu saja ia akan merasa seperti itu, tetapi kemudian ia tersenyum. "Aku terlalu cepat bukan? Padahal aku bilang akan menunggu sampai upacara kelulusan," kekeh Sehun. Lalu ia menempatkan tangannya pada kepala Luhan lalu mengacaknya lembut, "gwaenchanha. Aku akan menunggumu,"

"Sehun…" panggil Luhan.

"Hm?"

"Apa kedekatan kita harus dalam status suatu hubungan?" tanya Luhan.

Sehun mengerutkan keningnya, "maksudmu?"

Luhan menatap Sehun, "tidak bisakah jika terus seperti ini?"

Sehun sepertinya mengerti ke mana arah pembicaraan Luhan. Rupanya Luhan tetap keras kepala menyembunyikan maksudnya. Sehun hanya merespon dengan senyuman, lalu ia mengajak Luhan untuk kembali ke rumah.

"Kkajja, sebentar lagi kau di jemput kan?" Sehun berjalan memimpin Luhan. Tanpa berbalik, ataupun sekedar menggandeng Luhan seperti sebelumnya. Luhan menyentuh bandul kalung pemberian Sehun, ia baru saja merasakan sebuah tombak es yang melubangi hatinya.

.

.

to be continued-

.

.


Chapter kali ini update sebelum waktunya ya? Hahaha, sekali-kali gak papa kan ya karena jam 19.00 nanti gak bisa update TT sekarang ajadeh jadinya ^^ Tanpa banyak cang-cing-cong(?) jadii gimana menurut kalian chapter kali ini? dan juga silakan tebak gimana nasib mereka selanjutnya ya hehehe

..

Balasan review

#Phe19920110: kali ini lebih gemes gak? kkkk semangat!

#AsaHunHan: kita nantikan hasilnya di hari kelulusan minggu depan! ^^

..

Yups, segini dulu ya hehe. Makasi masih setia sama cerita ini tunggu chapter selanjutnya ^^

Gamsahamnida, jangan lupa reviewnya :)

*loveforHUNHAN yeayy!