Suara dering telpon masuk terdengar sahut menyahut di dalam ruangan berukuran sedang. Hari ini seperti biasa, Divisi Marketing selalu disibukan dengan aktivitas penjualan online bagi salah satu perusahaan besar cat Jepang.
Hinata keluar dari ruangan dengan beberapa dokumen penting, sebagai Manager Marketing membuat wanita berumur dua puluh tujuh tahun itu selalu disibukan oleh jadwal meeting, maupun acara temu di luar kantor. Seperti hari ini, ia telah melakukan beberapa kali rapat bersama para pemegang saham, lalu pergi bertemu dengan salah satu customer luar kota.
Sampai ia tidak menyadari malam telah datang, suasana kantor yang telah sepi, hanya tinggal Hinata sendiri. Mata peraknya melirik pada jam dinding, pukul delapan malam. Ia segera mematikan layar komputer, meraih jas abu-abu, lalu mengunci pintu kantor. Saat berada di lift, kedua matanya mengerjap mendapati banyaknya pesan masuk dari Naruto.
'Apa hari ini kau ada acara?'
'Sepertinya Hime sedang sibuk, jangan lupa makan siang, yah!'
'Serius, hari ini apakah kau ada acara? aku ingin bertemu!'
Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum, lalu tertawa pelan. Sampai mata peraknya membulat ketika membaca pesan berikutnya.
'Aku menunggu di depan kantormu, kita makan malam bersama, yah?.'
Pesan terakhir dari sang pemuda bagai peledak bagi batin Hinata, membuat wanita muda itu kelabakan. Ia segera melihat pantulan dirinya lewat cermin lift, memastikan raut wajahnya tidak kelihatan kusam. Rambut pendek ia rapikan beberapa kali, membuka tas lalu mengeluarkan bedak serta lipstik. Mata peraknya sempat melirik angka di layar untuk memastikan belum sampai di lantai dasar.
Setelah memastikan penampilannya tidak terlalu berantakan, Hinata menghembuskan napas panjang. Degup jantung mulai bertalu pelan, bersama memori dua hari lalu, ketika hujan turun, dimana mereka berdua sempat sepayung berdua, sampai sengatan listrik yang ia rasakan di ujung bibir. Ingatan itu menghantarkan rasa hangat di dada, bersama desiran menyenangkan yang wanita itu rasakan.
Pintu lift terbuka, Hinata keluar dengan kedua tangan terkepal erat, gugup masih ia rasakan, namun senyumnya tak kunjung layu. Ia melangkah penuh percaya diri menuju area parkiran, dimana Naruto mengatakan bahwa ia menunggu di sana.
Setiba di area parkir, mata rembulan itu mengedar, mencari motor vespa milik Naruto. Namun sepeda motor unik itu tidak ia temukan, melainkan sebuah mobil hitam mengkilat yang terlihat mewah. Hinata mengambil ponsel, mencoba menghubungi Naruto kembali, namun sebuah tepukan di bahu mengejutkannya.
"Malam Hime," sapa Naruto dengan senyum manis.
Hinata mengerjap, ia melongo. Bagaimana tidak, jika penampilan Naruto membuatnya pangling. Pria itu mengenakan kemeja biru muda dengan celana bahan hitam berbalut sepatu kulit yang terlihat mahal. Penampilan santai dan sedikit urakan yang biasa Hinata lihat, dari diri Naruto tidak ada sama sekali. Pemuda di depannya saat ini, bagai seorang pangeran yang keluar dari buku dongeng, atau seorang aktor dari dunia drama, hingga membuat Hinata terdiam beberapa saat, terpesona dengan sosok sempurna di depannya.
Melihat sang gadis bergeming, Naruto melambaikan tangan di depan wajah Hinata. Tidak mendapat respon, ia lalu memanggil Hinata dengan cara berbisik di samping telinga.
"Hime-chan!"
Sontak pipi putih itu merona sempurna, Hinata mundur selangkah, ia mengerjap beberapa kali sambil memegang telinganya yang terasa panas. "Na-Na-Naruto-kun?"
"Um, Uzumaki Naruto di sini, Hime!" ia mengangguk tanpa memudarkan senyumnya, "Apa yang kau lamunkan, sampai dipanggil tidak menyahut. Apa kau terpesona dengan penampilanku?"
Hinata mengangguk ragu, ia menatap penuh selidik, entah mengapa sosok Naruto di depannya terasa asing dimatanya. "Mengapa kau berpenampilan seperti itu?"
"..., Nanti aku ceritakan setelah kita makan malam." Narutot tersenyum tipis, tatapannya penuh arti membuat Hinata tidak mampu membantah. "Kamu pasti belum makan malam, melihat sudah jam segini dan kau belum pulang. Yuk, kita pergi ke restoran enak."
Tangan itu terulur, bersikap begitu manis pada Hinata, namun tidak mampu mengenyahkan perasaan tidak nyaman yang gadis itu rasakan. Meski begitu sang gadis menerima uluran tangan itu, mengikuti langkah Naruto menuju sebuah mobil mewah yang ia lihat tadi. Pertanyaan kembali timbul begitu saja dalam benak Hinata.
Siapa sebenarnya Naruto?
...
Mereka sampai di sebuah tempat makan sederhana namun berkesan bagi Hinata. Desain ruangan simpel dengan kombinasi warna putih serta coklat muda, minimalis dan rapi. Mereka menikmati makan malam dengan berbagi cerita, juga canda tawa. Tempat mereka makan terletak di pojok ruangan, sehingga tidak terlalu ramai dan ditemani lagu jazz.
Usai menikmati makan malam, Naruto berdehem pelan. Ia sudah bertekad untuk memberitahu Hinata siapa sebenarnya dirinya. Terutama dengan keseriusan dirinya untuk meminang sang gadis, membuat Naruto harus memberikan kebenaran yang selama ini ia tutupi.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf, karena aku datang kedalam kehidupanmu dengan cara paling aneh yang mungkin kamu temui." Bibirnya tertarik membentuk tawa gugup, terutama saat Hinata juga tertawa geli. "Bahkan pertemuan pertama kita terbilang jauh dari kata baik."
Hinata mengangkat salah satu alisnya, "Aku pikir kau sudah lupa dengan kejadian itu."
"Ha ha ha! mana mungkin aku lupa, saat kau meninggalkanku sendirian setelah melamarmu," Naruto menyeringai lebar, sementara Hinata terbahak. "Ku akui itu adalah hal bodoh yang ku lakukan dulu, namun yang paling bodoh adalah ketika aku datang dalam hidupmu bukan sebagai sosok sebenarnya dari Uzumaki Naruto."
Kali ini kening sang gadis mengerut samar, tidak mengerti. Naruto menghembuskan napas perlahan, ia meraih tangan Hinata dan meremasnya pelan. Kedua pasang mata berbeda warna itu bersitatap lekat dan dalam.
"Namaku Namikaze Naruto, Pewaris tunggal dari perusahaan Namikaze Corp." ungkap Naruto tegas, "Aku bukan seorang pemusik jalanan ataupun pengangguran seperti yang selama ini kau tahu. Melainkan sosok pemuda bisnis seperti dirimu, dan aku minta maaf karena baru memberitahumu hari ini."
Hinata mengangguk pelan, "Terima kasih telah memberitahuku, Naruto-kun."
"Kau tidak terkejut?" melihat sikap biasa yang gadis itu perlihatkan membuat kening Naruto mengerut. "Kau juga tidak marah karena aku seperti menipumu?"
"Kau pasti memiliki alasan tersendiri, mengapa baru hari ini kau mengatakan hal yang sebenarnya." Hinata tersenyum tipis, "Semua orang memiliki satu-dua rahasia, bukan? Aku juga bukan siapa-siapa sampai harus membuatmu mengatakan segalanya."
Penjelasan yang gadis itu berikan membuat dada Naruto terasa hangat sekaligus berdenyut pelan. Ia merasa beruntung bertemu dengan wanita bijak seperti Hinata, namun juga sedih ketika menyadari bahwa hubungan mereka berdua tidaklah begitu dalam sampai membuat Hinata harus tahu segala hal tentangnya.
Namun karena itulah membuat tekad Naruto semakin bulat. Ia menggenggam erat tangan Hinata, mengejutkan sang gadis ketika pancaran mata biru langit itu berubah.
"Aku tahu kau takut dengan pernikahan maupun membangun keluarga. Namun bisakah kau mempertimbangkan diriku sebagai calon suamimu?" ungkap naruto tegas.
"Aku ingin menikah denganmu, menikahlah denganku, Hinata."
Tidak seperti pertama kali waktu Naruto melamarnya, Hinata tidak lari, maupun panik setengah mati. Gadis itu terdiam, sebelum ia tertawa pelan, seakan perkataan pemuda itu salah satu dari candaanya.
"kau sama sekali tidak kenal menyerah, yah, Naruto-kun." Hinata tersenyum tipis, namun tatapan mata yang ia berikan terasa hampa. "Pernikahan bukan hanya tentang aku dan kau, Naruto-kun. Tetapi tentang masa depan, dan kau tidak akan menemukan masa depanmu denganku."
"Mengapa? masa depan bisa kita buat bersama!"
Hinata menggeleng pelan, tatapannya berubah sendu hingga membuat Naruto spontan ingin merengkuh wanita di depannya. Bibir tipisnya terbuka, suara lirih keluar, terdengar menyayat hati. "Aku tidak akan bisa memiliki anak."
Pernyataan itu seakan air dingin, mengguyur benak Naruto begitu saja. Hinata tertunduk, ia memalingkan wajah, enggan menatap sang pemuda.
"Aku tidak tahu apakah ini disebut kemandulan, tetapi ada sesuatu yang salah dengan tubuhku. Saat aku memeriksanya, dokter mengatakan kalau aku akan sulit memiliki keturunan" Hinata menarik tangan dari genggaman Naruto, "Kau pewaris, dan akan membutuhkan keturunan untuk mewarisi perusahaanmu. Menikah denganku, tidak akan membawa masa depan bagimu, maupun bagi Namikaze Corp."
Kemudian Hinata berdiri, tersenyum pahit pada lelaki yang telah mengisi hatinya beberapa minggu ini. "Kau orang pertama yang kuberitahu masalah ini, karena aku tidak ingin kamu menyesal telah menikah denganku kelak."
"Selamat tinggal, Naruto-kun."
"Tunggu!" dengan cepat Naruto menahan tangan Hinata. Binar matanya terlihat tegas, membuat Hinata balik bergetar. "Aku ingin hidup tua bersamamu, bukan mencari pewaris untuk perusahaanku. Jika aku memang membutuhkannya, kita bisa mengadopsi anak bersama-sama."
"Kamu bisa bilang itu dengan mudah, tetapi memangnya waktu tidak akan membuatmu berubah pikiran? apa kau tidak akan iri dan ingin menimang darah dagingmu sendiri?!" suara Hinata naik satu oktaf, air mata jatuh dari sudut matanya. "Aku saja ingin memilikinya, bagaimana mungkin kau tidak akan ada keinginan nantinya. Jangan bersikap naif, Naruto-kun."
"Pasti ada! aku juga pasti ingin memiliki anak darimu, Hinata. Tetapi jika tuhan tidak bisa memberikannya, masih ada anak-anak kurang beruntung yang bisa kita angkat sebagai anak." Naruto menarik Hinata ke dalam pelukannya, mengusap pelan air mata yang jatuh begitu deras. Ia berbisik di samping telinga sang wanita, "Anak adalah pelengkap, tidak peduli ia datang darimana, selama kita yakin, mampu menjaga dan menyayanginya, dia akan jadi darah daging kita."
Naruto mengusap pelan punggung Hinata yang bergetar pelan. Kini ia tahu dari mana rasa cemas dan ketidak percayaan diri gadis itu berasal. Selain dari keluarga yang tidak utuh, kecemasaan dari dirinya yang tidaklah sempurna sebagai seorang wanita, membuat Hinata menjadi takut pada yang namanya pernikahan maupun keluarga.
"Aku akan tetap di sampingmu, Hinata. Kita bisa melaluinya pelan-pelan," Naruto menangkup wajah Hinata, mengecup lembut kening gadis itu. "Jadi jangan dorong aku untuk menjauh, okay?"
Hinaata mengangguk lemah, ia tidak sanggup lagi untuk berkata tidak. ketika pria yang semula datang bagai badai, ternyata mau memahaminya, membimbingnya untuk melangkah bersama. Meski ia telah jujur, mengatakan betapa tidak sempurnanya dia, Naruto mau menerma dirinya apa adanya. Hal yang selama ini gadis itu mimpikan ketika mengetahui kekurangannya.
"Terima kasih, Naruto-kun. Terima kasih..."
"Apapun untuk Hime tersayang."
Hidup ini seperti puzzel, dimana jika ada yang kurang maka tidaklah sempurna. Merasa kosong, ataupun hampa, namun bukan berarti harus menjadi tujuan untuk menggapai kesempurnaan. Jangan sampai kekurangan menjadi alasan untuk menyerah, dan menarik diri. Karena dari kekosongan itulah, kita mencari pelengkap hidup dari orang lain.
Buka diri dan hati, temukan kepingan hidup kalian untuk melengkap definisi kesempurnaan kalian. Karena semua wanita itu sempurna, begitu juga semua pria, ketika mereka telah menemukan kepingan hati mereka yang hilang. Begitu juga keluarga, seorang anak menjadi pelengkap, ketika dua insan telah mampu saling menjaga satu sama lain. Tidak peduli datangnya dari mana, selama kalian menyayanginya dari lubuk hati terdalam.
.
.
.
FIn~
Terima kasih yang telah mengikuti cerita ini dari awal. Gamophobia telah rampung dengan dua belas Chapter. Jujur aku sama sekali tidak mengira cerita ini banyak yang minat, ketika aku membuatnya iseng-iseng untuk menjadi tempat curahan hati. Semoga kalian semua terhibur dengan cerita pendek ini yah, sampai jumpa lagi.
