Tangan ini mungkin semakin menjauh dari permukaan, gapaiannya tak sebanding dengan seberapa cepat tubuh ini terhempas. Semakin dalam, merambah arus gelap dimana sinar tak lagi sampai padanya. Ingatan yang kian terkoyak pun mengulangi penggalan yang sama, menguarkan aroma luka, gaung dari duka.
Ingatlah. Sepekat apapun malam yang mengembuskan sunyi, fajar tetaplah bergulir pada waktunya.
Proved Me Wrong
By: Koyuki17
© Boboiboy Monsta Studio
Chapter 13: Retas
Masih belum genap satu bulan lamanya sejak penantiannya di malam badai itu berakhir nihil. Boboiboy pulang dengan kaki yang sedikit terseok, penampilannya berantakan dan bajunya penuh dengan debu. Baik Halilintar maupun Taufan kaget dan langsung menanyakan apa yang barusan terjadi padanya.
Untuk pertama kalinya Boboiboy berkelahi, dengan anak yang tinggal tak jauh dari tinggalnya. Alasannya sederhana, karena mereka mengejeknya dan mengatakan bahwa dirinya ditinggalkan oleh ibunya. Boboiboy, yang saat itu menganggap bahwa ibunya akan pulang, sekuat tenaga membantah. Walau semakin lama, kepercayaannya semakin goyah. Karena ia mulai berpikir, bahwa ada hal yang benar atas perkataan anak-anak itu.
"Kak, apa benar... mama pergi karena Boboiboy terus sakit...?" Pertanyaan yang diajukan oleh Boboiboy kontan membuat kedua pria itu tertegun sejenak.
"Karena Boboiboy tak bisa menjadi anak yang baik buat mama? Karena Boboiboy... hanya bikin repot mama?" Kembali Boboiboy bertanya, ingin memastikan bahwa pernyataan barusan benar atau salah.
"Jelas itu ngga benar Boboiboy... mamamu kan sayang Boboiboy, makannya dia terus bekerja keras supaya Boboiboy bisa sembuh..." Taufan pun meraih bahu anak itu, mencoba untuk meluruskan hal barusan.
"Sampai mama capek dan tak ingin pulang lagi kak?" Tanya Boboiboy kembali, ingin rasanya anak itu menangis.
Perkataan Taufan selanjutnya terbata-taba, tak mampu menjawab dengan lugas pertanyaan telak barusan.
"Boboiboy, siapa yang bilang begitu?" Halilintar kini tak bisa diam, langsung menanyakan biang dari kejadian saat ini.
Tapi Boboiboy bergeming, tak sekalipun ia menjawab. Hal ini menjadi titik balik atas kepercayaannya pada kedua kakaknya. Sampai pada kepindahannya ke rumah mendiang kakeknya sekalipun. Setiap hari, ia mendapati Halilintar maupun Taufan hampir kewalahan untuk bekerja dan merawatnya. Mereka tetap tersenyum dan berkata tak apa-apa, tapi Boboiboy bisa tahu bahwa mereka pun kelelahan.
Perkataan anak-anak yang dulu mengejeknya itu benar, keberadaannya di sini hanya membuat orang-orang terdekatnya kesulitan saja. Bagaimana jika suatu saat, kedua kakaknya pun pergi seperti ibunya? Pikiran itu terus menghantuinya, membuat Boboiboy bersikeras bahwa jika ia ditinggal sendirian di rumah pun tak apa. Ia berjanji akan menjadi anak yang baik dan menunggu kepulangan mereka. Baik Taufan maupun Halilintar tak bisa berbuat banyak soal hal ini.
Waktu pun bergulir, dan musim dingin kini menyambut bersama bekunya udara. Boboiboy malam itu menunggu Taufan yang pergi berbelanja walaupun malam lebih dahulu datang, begitupun Halilintar yang masih bekerja sampingan setelah mengurus kafe.
Saat itulah sosok anak laki-laki sebayanya muncul di taman dan entah mengapa begitu mengusik benak Boboiboy yang sedari tadi memandang ke luar jendela. Ketika melihat sosok itu, entah kenapa Boboiboy seolah tahu persis apa yang dihadapi oleh anak itu. Tatapan yang sendu, persis ketika ia kehilangan sosok sang kakek, ketika ibunya pergi dan tak pulang kembali.
Intuisinya tergerak, nasihat sang kakek bergema dalam benaknya. Mungkin ia sekarang masih merepotkan siapapun, tapi ingin sekali ia menolong anak itu. Lalu Boboiboy meraih jaket tebalnya dan sebatu botnya, menembus salju dan menghampiri anak bersurai berantakan itu.
"Hei.. kamu siapa?"
Dilihatnya manik violet yang sendu itu, lalu kembali ia berkata, "Namaku Boboiboy! Salam kenal!"
-PmW-
"Katanya kamu hampir nggak mau pergi ya Fang..." Dari balik telepon, Boboiboy menyinggung perlombaan yang nyaris batal dikejar oleh Fang "Padahal kau sudah janji untuk tampil bukan? Nanti kau malah nggak keren, lagi, katanya kau mau menunjukkan kalau kau lebih hebat sekarang..."
"Berisik! Makannya jangan bikin orang lain khawatir!" Tak menyangka bakal diledek oleh sang rival, Fang pun balas berseru.
Baru saja ia ingin menanyakan kabar sang rival, mengingat bagaimana terakhir kali Fang melihatnya dan menyangka bahwa mereka mungkin takkan bisa berbincang lagi seperti sekarang. Harusnya ini menjadi percakapan yang canggung, namun ujaran Boboiboy mampu membuat Fang menjawabnya demikian.
"Iya deh..." Boboiboy menghela napas sejenak "Fang, janji ya. Jangan sampai kau mundur."
"Nggak akan lah!" Jawab Fang dengan mantap "Dan tonton lombaku dari sana! Kupastikan kalau aku akan menang kali ini!"
"Oke..." Ada jeda sebelum Boboiboy kembali berkata, "... maaf membuatmu khawatir..."
"Pastinya, jadi jaga kesehatanmu baik-baik!"
"Fang... sudah ya, kak Hali sekarang bilang saatnya istirahat... haha" Ucap Boboiboy. "Padahal aku ingin ngobrol lebih lama.."
"Jangan sampai kena marah Kak Hali sana... Tunggu saja penampilanku!"
Tangan Fang pun meletakkan kembali ponselnya di meja, lalu pikirannya kembali pada kamar dimana dirinya berada.
"Temanmu itu pasti sangat dekat denganmu ya Fang.." Komentar Cahaya sembari tersenyum-senyum.
"Mungkin... kami berbagi kamar soalnya di rumah." Jawab Fang "Dia selalu saja bikin khawatir, selalu berkata semua baik-baik saja! Merepotkan lah..."
"Tapi... dia pasti teman yang berharga bagimu kan...?" Tanya Cahaya, ia nampaknya bisa menangkap arti dari sikap Fang barusan.
"Bisa dibilang...?" Jawab Fang, walaupun ia agak ragu-ragu.
"Aku pun punya teman menyusahkan sepertimu... kurang lebih..." Tiba-tiba saja Cahaya mulai bercerita singkat "Dia yang menyuruhku untuk membawa kaktus itu setiap lomba sekalipun."
"Ah... bisa dibayangkan..." Komentar Fang.
Nampaknya Cahaya tahu bahwa ia sempat melihat kaktus miliknya itu dengan tatapan penasaran. Tapi sekarang, Fang tak begitu tertarik dengan kaktus atau sahabat Cahaya itu. Setelah percakapan di telepon barusan, ia tak bisa lagi diam saja malam ini.
"Loh, Fang. Kau mau kemana?" Cahaya melihat Fang yang mulai bangkit dan hendak keluar dari kamar.
"Latihan! Rasanya tak cukup setelah berjanji seperti itu barusan!" Jawab Fang.
Cahaya pun melihat punggung Fang semakin jauh, jujur ia merasa lega dengan bergulirnya kegelisahan teman sekamarnya itu. Sekarang, ia tak perlu khawatir lagi bahwa pesaingnya berada dalam tekanan dan tak mampu bertanding secara maksimal. Hari konser mereka semakin dinantinya sekarang.
-PmW-
Setelah menutup telepon, Boboiboy pun rebah di kasurnya. Baru beberapa jam sejak kesadarannya kembali, dan suasana kamar rawat yang biasa lebih membuatnya lega dibandingkan unit perawatan intensif barusan. Ia tahu malam sudah cukup larut, tapi ingin sekali ia menghubungi Fang dengan segera.
"Nah, sekarang tidur, pokoknya istirahat!" Seru Taufan, mengulang kembali perkataan Halilintar sebelumnya.
"Siap kak..." Sahut Boboiboy, ia memang masih tak memiliki banyak tenaga sekarang.
"Sudah nggak khawatir soal Fang kan?" Sembari mengelus surai gelap Boboiboy, Halilintar pun tersenyum.
Boboiboy pun mengangguk pelan. Hari itu, ia merasa bahwa waktu yang dilaluinya begitu panjang sebelum berakhir pada percakapannya dengan Fang barusan. Padahal tubuhnya tak pergi kemanapun, tapi sebuah pengembaraan yang seolah sedikit samar itu masih meninggalkan jejak hangatnya.
.
.
.
Cengkeraman gelap menyelimuti matra yang kini ada di hadapannya, membuat Boboiboy tak lagi tahu ada dimana aliran waktu kini berada. Meringkuk dalam sunyi, merangkai kembali ingatan terakhir sebelum dimensi inilah tempatnya berada sekarang.
'Suara ini... kak Taufan?' Begitulah benak Boboiboy menerka-nerka atas suara sayup yang terdengar.
Tapi suara yang didengar Boboiboy bukanlah suara riang yang biasanya, membuatnya teringat kembali bagaimana ketika ia berjuang melawan leukemia saat masih kecil dulu dan kedua kakaknya selalu mendampinginya sebisa mungkin.
'Aku... pasti membuat kak Hali dan kak Taufan khawatir lagi bukan?'
Mungkin Boboiboy tak begitu kaget ketika penyakit ini kembali padanya, tapi tetap saja semua berakhir seperti ini. Ia tetaplah sama, tanpa daya dan tak sekalipun bisa membuat sedikitpun perbedaan.
Ingin rasanya Boboiboy menghilang dari ingatan orang-orang yang mengenalnya sekarang. Agar ia tak lagi menjadi beban, tak membuat siapapun merasakan sedih atau khawatir tentangnya. Kepergian ibunya dulu sudahlah cukup membuktikan, bagaimana pengorbanan untuk dirinya berakhir dengan begitu buruk.
Ia kadang membayangkan kalau Halilintar kini mungkin tak lagi segan untuk menempati sebuah cabang kafe yang cukup jauh. Taufan mungkin akan kembali memiliki waktu untuk hobinya bermain skateboard dan tak kesana kemari mencari pekerjaan sampingan.
Dan Fang, mungkin saja ia bisa lebih bebas tanpa harus menghadapi hal yang sama untuk kedua kalinya. Walaupunterlepas dari hal itu, Boboiboy tentunya sangat menikmati rivalitas mereka. Tak pernah terbayangkan ia akan menjalani hari-hari yang begitu diinginkan dulu, ketika waktu yang panjang di rumah sakit membuatnya sering melamun. Menemukan seorang sahabat yang terus menemaninya seolah hanya mimpi belaka saat itu.
Tapi semua telah berakhir, dengan kondisinya sekarang ia tak lagi berharap banyak. Membayangkan bagaimana sahabatnya itu sekarang membuat Boboiboy semakin menyesali keputusannya saat itu.
Apa mungkin, lebih baik jika mereka tidak berjumpa? Apa lebih baik jika hari itu ia tak meminta Fang untuk tinggal bersama?
Dirinya kini semakin tenggelam dalam ketidakpastian. Boboiboy mencoba untuk tak lagi mengingat, membiarkan kesadarannya diselimuti oleh sunyi. Ingin rasanya ia menjadi daun yang gugur, menghilang seiring dengan musim dingin yang menjemput.
-PmW-
Alih-alih sunyi, bunyi hujan yang cukup deras kini mulai merasuki indera pendengarannya, membuat Boboiboy kembali menerka dimana ia berada sekarang. Lalu segera saja manik matanya memandang gelap dan bayangan dari helai baju yang menggantung di atasnya, juga tumpukan kain yang kini menjadi tempat dimana tubuhnya bersandar. Ia kembali ke malam itu, kembali menjadi seorang anak kecil berumur enam tahun yang bersembunyi di dalam lemarinya.
Diingatnya jam yang menunjukkan pukul sebelas (suara detak jarumnya sempat menguasai jam-jam sepi di sana), juga ruangan yang lebih sepi dari biasanya. Boboiboy tengah menunggu kepulangan ibunya, sementara malam semakin larut dan badai semakin mengamuk di luar sana.
Gemuruh petir dengan lantangnya membelah derasnya hujan, membuat Boboiboy semakin gentar dan menutup kedua telinganya. Ia lalu menyadari bahwa ia saat ini sendirian, tak akan ada seorang pun yang akan datang. Sosok mungilnya duduk semakin meringkuk, gemetar.
Lalu tiba-tiba saja suara badai di luar sana menghilang, detak jarum jam pun tak jua terdengar. Boboiboy pun mengangkat wajahnya, menyadari sunyi yang begitu asing sekarang. Seolah waktu telah berhenti, dan ia pun mendengar denting lambat piano. Intuisinya pun terpanggil untuk mengingat kembali dari mana melodi ini berasal.
'Fang...?' Nama itu pun menyeruak dari benaknya.
Ya, pemuda bersurai berantakan dan berkacamata itulah pemilik dari lantunan permainan piano ini. Waktu-waktu yang dilewati mereka bersama, walau sedikit samar pun kembali.
Pintu kayu di hadapannya pun perlahan terbuka. Seorang anak laki-laki berdiri dibaliknya, merenggut penuh atensinya yang semula larut dalam kesendirian dan ketakutannya. Sosok itu hampir luput dari ingatan Boboiboy, yang kini hanya mengulang sepenggal ingatan di malam itu.
'Ayo kita pergi...' Tangan Fang meraih lengan Boboiboy yang semula memeluk lututnya.
'Pergi... ke mana?' Tanya Boboiboy dengan kebingungan.
Mendengar itu, Fang kecil pun tersenyum padanya 'Ke tempat dimana kau seharusnya berada...'
Boboiboy mengulang frasa barusan, tak percaya dengan apa yang diungkapkan Fang.
'Aku tak ingin kembali ke sana... aku... pasti hanya..' Boboiboy pun menolak, jika ia kembali sekalipun tak akan ada hal yang baik menyambut.
Saat itulah Fang berjongkok dan menjadikan lututnya sebagai tumpuan. Tangannya pun menyusup dan melingkari tubuh Boboiboy. Lalu dingin yang membuatnya mati rasa pun mulai luruh, kehangatan dari Fang menjalari setiap relung yang hampa.
'Kau tak sendirian...' Gumam suara itu, membuat Boboiboy terpaku.
Rengkuhan Fang semakin erat, seolah menjadi isyarat bahwa ia tak ingin kehilangan sosok Boboiboy. Namun hal ini sekaligus membuat Boboiboy menyadari bahwa dalam gelap, di malam saat ia sendirian dan menghadapi kenyataan bahwa ibunya takkan kembali, pelukan inilah yang diinginkannya. Sosok yang bisa meraihnya dan membuatnya tak seorang diri di sana.
Jemari Fang kini terulur padanya, kelingking itu menunggu untuk bertaut dengan milik Boboiboy. Boboiboy memandanginya dengan kebingungan. Fang memintanya berjanji... untuk apa? Lalu telunjuk Fang menunjuk ke atas, dimana langit-langit kini telah sirna. Berganti dengan langit malam dengan gugusan bintang.
'Ingatlah sekali lagi..' Ucap Fang pelan.
Bintang, dan janji yang mereka ucapkan di bawah bentangannya. Sebuah janji jika ia menginjak umur yang keenambelas. Tentang masa depan mereka, yang Boboiboy jadikan tumpuan untuk terus menyambung kesehariannya. Janji yang hampir dilupakan olehnya.
Fang menarik tangannya kembali, mengajak Boboiboy untuk berlari. Dan walau sedikit ragu, Boboiboy pun mengikuti sahabatnya itu.
Tempo lagu itu semakin cepat, begitupun dengan langkah yang mereka ambil. Keduanya melintasi koridor yang semula gelap, namun kini cahaya bintang semakin benderang. Lalu suara-suara lain, juga kilasan balik tentang kesehariannya mulai Boboiboy munculkan kembali.
Tentang hari-hari dimana Halilintar dan Taufan selalu hadir untuknya dan Fang, melewati suka duka layaknya sebuah keluarga. Tentang Gopal dan Api yang selalu memanggilnya sebagai kapten dan kesehariannya memimpin timnya, juga turnamen yang mereka perjuangkan sampai akhir. Tak lupa ia mengingat mereka, tujuh orang sahabat yang sering berkumpul bersama.
Ia tak bisa membohongi dirinya lagi. Seingin apapun Boboiboy atas hilangnya eksistensinya, tangannya masih ingin menjangkau mereka. Orang-orang yang mengisi alur hidupnya selama ini. Ia tak ingin membuang kenangan-kenangan itu...
Akhirnya mereka sampai di ujung koridor, di depan ambang matra yang dibanjiri cahaya. Fang kini menghentikan langkahnya, lalu memberikan sebuah isyarat bagi Boboiboy untuk melanjutkan sendiri. Kedua manik hazel memandangi dengan lekat sosok Fang, yang kini menjelma menjadi Fang yang dikenalnya sekarang. Begitupun dengan sosoknya sendiri, yang bukanlah lagi anak laki-laki berumur enam tahun yang terkurung sendirian di sana.
'Kita akan berjumpa kembali, jadi teruslah maju ke sana...' Begitulah gerak bibir Fang ditangkap oleh Boboiboy, ditambah dengan tatapan lembut dan senyuman itu.
Sebuah anggukan pelan dari Boboiboy menjadi sebuah jawaban. Tautan tangan mereka pun lepas, lalu Boboiboy mengambil langkah demi langkah. Walau visinya mulai buyar dan terbias karena basah sudah pelupuk matanya, ia tetap maju. Berulangkali tangannya menyeka agar air matanya tak mengalir, ia tak boleh menangis dan berhenti di sini.
.
.
.
Awalnya jemari ini melepaskan
Ingatan, entitas, semua dalam relung diri
Hingga jiwa dan raga ini
Menuju pada sirna
.
Di matra antara, aku kini berada
Memandangi kepingan ingatan tentangmu
Yang tak bisa hilang sempurna
.
Mengapa tangan ini masih terus ingin menggapainya?
Mengapa air mata ini terus mengalir?
-PmW-
Boboiboy telah berpikir bahwa inilah sebuah akhir, dimana jemarinya menyibakkan halaman terakhir pada kisahnya selama ini. Namun kedua netranya justru kembali meraih cahaya dan warna, sebuah bentangan kembali menyambutnya. Ia berdiri di sana, di tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya. Deretan kursi berlapis merah beludru, dan sebuah panggung yang cukup megah dimana sebuah grand piano berada tepat di tengahnya.
Orang-orang di sana terlihat sedikit kabur dalam pandangan matanya, namun sosok yang berada di bawah lampu sorot itu selalu bisa dikenali Boboiboy. Kacamata berbingkai nila itu hampir menyembunyikan sepasang netra violet, surai gelap itu nampak lebih berantakan dari biasanya. Tapi ia tetap mengenalnya dengan baik.
Kembali Boboiboy menemukan sosok akrab Fang yang memainkan sebuah lagu yang sedari tadi didengarnya, sedari tadi menuntunnya. Boboiboy akhirnya mengingat kembali nama dari rangkaian melodi ini, yang kalau tidak salah adalah lagu kesukaan mendiang ibu Fang.
Remaja bertopi oranye itu selama ini memikirkan dengan gamang, bagaimana jika kondisinya saat ini membuat Fang kembali muram dan menarik diri. Memang bukan tak mungkin jika Fang memutuskan untuk mundur dari lombanya. Melihat reaksi rivalnya itu setelah tahu penyakit yang kembali mucul pada tubuhnya, Boboiboy semakin merasa bersalah.
Tapi Fang tetap di sana, melanjutkan 'pertempuran' miliknya dan duduk di depan piano itu.
Tetes embun mengalir, membasahi pipi dan dagunya setelah sekian lama ia mencoba untuk membendungnya. Tapi sekarang tak lagi, setelah apa yang dilihatnya saat ini. Telah lama Boboiboy mengira bahwa ia hanyalah sebuah beban, jerat yang menghalangi orang-orang terdekatnya untuk mendapatkan hidup yang lebih baik dari sekarang.
Pemikiran dimana andaikan saja ia tak ada di sana, tak membuat siapapun kesulitan kini semakin tipis dalam benaknya.
Kembali, ia mengingat bagaimana sosok mungil Fang memeluknya. Berbagai teriakan dan penyesalan yang semula mengakar begitu kuat mulai melepaskan jeratnya. Ketika tangan milik Fang menariknya keluar, saat itulah waktu miliknya mulai kembali bergulir. Benaknya, waktu yang terkunci pada petak sempit dan gelap itu kini telah beranjak.
Seiring dengan lantunan lagu bermakna awan itu, seiring pula langkah yang diambilnya bersama sosok akrab sang rival yang entah mengapa muncul di hadapannya. Boboiboy kini menyadari, bagaimana selama ini ia telah begitu keliru. Tentang anggapan nihil atas makna dari keberadaannya di sana.
Walaupun esok tak selalu pasti akan menjumpainya, walaupun batas dari kisahnya semakin jelas terlihat. Ia harus tetap meretas matra ini dan kembali. Karena ia kini memiliki sebuah hal yang ingin dilakukannya sekarang.
Jika Fang berusaha keras untuk tetap berada di sana, maka ia tak bisa takluk begitu saja.
Lalu kedua manik matanya kembali menjemput sebentang dunia nyata. Perlu waktu sejenak hingga Boboiboy bisa mengenali sekelilingnya. Termasuk bagaimana barusan ia telah menembus mimpinya, mengakhiri matra samar itu. Taufan, yang saat itu sedang menjaganya pun tak beranjak dari sisi Boboiboy, membuatnya lega karena keberadaan sang kakak menjadi isyarat bahwa ia tak benar-benar sendirian (Begitupun dengan hadirnya Halilintar setelah itu). Tak ada yang berniat meninggalkannya sendirian, ia mengerti itu sekarang.
.
.
.
Berlanjut pada chapter 14: Aksa
.
.
.
Boboiboy mendapat kunjungan pertama dari kelima sahabatnya siang itu. Segera saja Gopal maupun Api menerjang, tangan mereka meraih Boboiboy dan memeluknya erat-erat. Lalu keduanya mulai terisak, menangis layaknya dua orang anak laki-laki. Boboiboy tentunya merasa sangat canggung dengan pertemuan ini. Pastilah ia membuat semua temannya ini khawatir, dan bisa bertemu dengan mereka membuat Boboiboy lega.
"Kalian mau bikin kita diusir? Cepat lepasin hei kalian berdua!" Seru Ying. Sebagaimanapun mereka ingin merangkul sahabat mereka, tapi Boboiboy masihlah belum pulih.
"Benar kata Ying, Boboiboy kan masih perlu istirahat, janganlah kita ribut-ribut." Timpal Yaya.
"Hiks.. iya deh..." Akhirnya Gopal pun melepaskan pelukannya. "Api, kau juga..."
Sembari menyeka tangisannya, Api berseru "Pokoknya, kapten harus tetap menonton pertandingan kami! Janji ya?"
"Iya, iya... aku dengar dari kak Taufan, kalian masuk ke semifinal bukan...?" Ujar Boboiboy.
"Besok dan hari final nanti, aku, Yaya, dan Air akan buat live report dari stadion!" Ying pun dengan semangat berkata.
"Jadi Boboiboy bisa memantau pertandingan dari sini..." Ujar Yaya, sementara itu Air hanya mengangguk saja sebagai isyarat partisipasinya nati.
"Kutunggu ya... aku pasti akan memantau pertandingan..." Boboiboy pun berjanji.
"Beres! Pokoknya setiap menit, kami akan menyampaikan situasi di lapangan." Sahut Ying sembari mengacungkan jempolnya.
"Ohya! Dan nanti sehabis pertandingan, kami akan pergi ke lomba Fang!" Kini Gopal pun mengalihkan topik pada sahabat mereka yang lain.
"Wiih, kalian sudah dapat tiketnya?" Taufan, yang sedari tadi menyimak keramaian yang ada, kini tak tahan untuk menimpali.
"Ada koneksi dong kak, hehehe..." Jawab Gopal sembari menarik Air, yang menjadi jalan bagi mereka untuk mendapat tiket yang terbatas itu.
"Yes! Jadi nonton bareeeng!" Seru Api dengan kegirangan.
"Dia bakal berisik loh..." Air memperingatkan sambil melirik sahabatnya itu, hal ini berdasarkan pengalaman tentunya.
"Aku juga ingin ke sana... tapi kalian pasti akan menyemangati Fang kan?" Tanya Boboiboy.
Kelima orang itu pun saling berpandangan sebelum tersenyum dan berseru bersamaan, "Serahkan pada kami!"
A/N:
Dengan chapter ke-13 ini, maka lengkaplah sudah perspektif dari Fang maupun Boboiboy. Mungkin saya masih belum bagus dalam menyampaikan, tapi semoga cukup untuk menggenapi kisah keduanya.
Oh ya, Pada chapter kedua ff A Place Called Home juga ada cerita singkat soal janji Boboiboy dan Fang.
Senang rasanya bisa menyelesaikan chapter ini, dan semoga dua chapter selanjutnya tak banyak lagi kendala.
Terimakasih sudah mampir dan sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^/
