Seorang Sawamura Eijun memang kadang-kadang suka absurd. Masih ingat ketika dia dua kali cium-cium pipi Kazuya gak pake izin? Ketika Eijun kembali ke kamar, yang pertama dilakukannya adalah memeluk Kazuya sambil mewek. Oke! Sampai sana tidak ada masalah.
Sampai akhirnya Eijun mulai menciumi wajahnya, di hadapan para hadirin yang terhormat sekalian.
Nabe menyeringai, Youichi cengo, Satoru pura-pura gak lihat, Haruichi masih ngambeg di pojokan, Koushu menatap tajam seolah memergoki Kazuya sedang melakukan perselingkuhan.
Dicium tunangan orang apakah termasuk selingkuh?
"Ahem!" Nabe berdehem. Sepertinya dia gak lagi keselek ludahnya, cuma lagi pengen cari perhatian aja.
"Apa?"
"Gak ada" Nabe duduk di single sofa di dekat televisi. "Aku cuma senang karena akhirnya kamu udah bisa dajak berkomunikasi. Dokter bilang kesadaranmu tiba-tiba meningkat dengan cepat"
"Apa itu buruk?"
"Gak juga. Bagus malah. Tiga hari ini kamu gak karuan. Kamu bangun tapi nyaris gak ada respon. Bahkan saat tidurpun kamu mengigau"
Kazuya terdiam, mencoba mengingat apa saja yang bisa di ingatnya. Tidak ada sama sekali. hanya beberapa mimpi-mimpi aneh yang bahkan samar-samar di dalam ingatannya.
"Maaf"
"Untuk?"
"Membuat kalian khawatir"
Suara tawa aneh Youichi terdengar "Jangan memikirkan itu! Menunggumu disini seabad pun kami rela. Yang bakalan habis duit cuma bocah itu" Dia mendongakkan kepala kepada Eijun yang nyengir di samping Kazuya. Mata Eijun memerah seperti habis menangis, atau kemasukan debu.
"Gimana perasaanmu?" Eijun bertanya. Tangannya menyentuh kepala Kazuya.
Perasaan maksudnya?
"Kamu sakit? Apa yang kamu rasakan sekarang"
Ya, jelas itulah! Emang apa lagi maksud Eijun? Nih otak minta di ganti atau gimana?
"Gak enak. pengen tidur, pengen mati" Jawab Kazuya. Sebenarnya dia cuma mau bercanda, walau gak sepenuhnya bercanda juga sih. Tapi tampang Eijun jadi gak enak banget di lihat setelah itu "Tapi aku gak mati" Kazuya menambahkan dengan cepat "Kalo aku mati, cewek sinting itu pasti bakalan nyamperin dan ngetawain aku"
"Cewek sinting?" Kening Eijun berkerut.
"Udahlah! Dia gak penting"
Eijun tersenyum. Ada yang salah dengan senyumnya, tapi Kazuya terlalu malas untuk bertanya. Dia menoleh kepada Nabe.
Nabe berdehem lagi, kemudian pindah duduk ke sofa panjang di sebelah Youichi "Well, aku bukan dokter yang bisa menjelaskan keadaan pasien dalam bahasa yang gampang di mengerti, tapi aku akan mencoba"
Memangnya apa kemungkinan terburuk yang akan terjadi? Umur Kazuya hanya tinggal hitungan bulan?
"Kamu menderita delirium"
See? Not that bad, right?
"Kesadaranmu terhadap lingkungan berkurang, kadang kamu mungkin sadar tapi kebingungan, berhalusinasi, mood berubah-ubah, tiba-tiba agresif atau bahkan pasif sama sekali"
Masa sih? Kazuya tidak bisa mengingat apapun. Hanya saja terkadang dia sadar, tapi terlalu malas untuk memberi respon terhadap sekitar. Kazuya samar-samar juga bisa mengingat ada kalanya dia merasa sangat marah dan ingin mengamuk.
"Hal ini terjadi karena banyak faktor. Efek obat penenang dan pain killer, demam tinggi, malnutrisi dan dehidrasi. Tapi kabar baiknya, kamu masih waras dan gak gila. Kamu akan pulih seperti semula, walaupun mungkin kamu harus bertahan di tempat ini cukup lama"
"Oh, oke" Respon Kazuya
"Kamu yakin?"
"Ya, tentu! Aku akan baik-baik saja, kan?"
Eijun tersenyum pada Kazuya. Dia menggenggam tangan Kazuya yang diinfus, kemudian mendaratkan ciuman di jarinya. Tampaknya Eijun tidak terlalu peduli dengan tatapan aneh yang di tujukan padanya. Tapi Kazuya tidak merasa ada yang salah. Justru Kazuya tidak ingat kapan dia begitu merindukan sesuatu sedalam ini.
Dan yang terpenting Kazuya masih hidup. Apalagi yang harus di khawatirkannya?
...
...
"Hei, itu buat dimakan. Kenapa kamu pelototin terus" Kazuya terhenyak. Youichi duduk bersidekap di sampingnya dengan tampan bosan. Padahal kalau bosan dia tinggal pulang. Youichi memang yang rajin menungguinya selain Eijun dan Nabe. Mereka mirip pengangguran yang gak punya kerjaan gara-gara Kazuya.
Eijun emang pengangguran sih. Dan sekarang dia lagi di kamar tamu dengan Nabe. Katanya lagi memberi makan iguana. Mudah-mudahan mereka emang cuma beneran memberi makan iguana. Lagian ngapain Nabe bawa-bawa peliharaannya kemari? Awas saja kalau dia sampai bawa ular!
"Baunya gak enak" Jawab Kazuya sambil menjauhkan meja kecil berisi makanan untuknya di atas tempat tidur "Baunya seperti sianida"
Youichi menghela nafas. Dia mengambil makanan Kazuya dan memakannya "Kalau aku mati habis ini, berarti makanan ini emang ada sianidanya" Katanya sambil mengunyah nasi.
"Kenapa kamu makan?"
"Aku lapar" Youichi menyumpit sepotong ikan salmon "Rasanya emang gak enak, tapi aku bisa jamin ini gak ada sianidanya"
Oke, mungkin Kazuya berhalusinasi lagi. Youichi sudah melakukan ini berkali-kali –memakan makanan rumah sakit yang harusnya jatah Kazuya karena Kazuya pikir makanan disini beracun-. Biasanya ketika Youichi mulai memakan makanannya, Kazuya baru sadar kalau tidak mungkin perawat disini meracuninya.
Aneh, kan? Kazuya juga gak ngerti gimana otaknya bekerja akhir-akhir ini
Eijun dan Nabe keluar dari kamar tamu. Dia menggendong seekor iguana di lengannya. Lagi-lagi dengan santainya, Eijun mendaratkan ciuman di kening Kazuya. Youichi keselek nasi. Nabe lagi-lagi cuma senyum.
Kazuya pasrah.
"Hei, kamu gak takut dengan ini kan?" Eijun bertanya dengan wajah ceria seperti biasa, kemudian tanpa persetujuan Kazuya dia meletakkan iguana di lengannya ke tungkai Kazuya yang ditutupi selimut.
"Gak papa disini ada binatang?" Kazuya menatap iguana yang kini cuma diam bertengger di ujung jari kakinya.
"Aku bahkan ngeliat ada yang bawa siberian husky yang gede banget. Yang aku tahu sih pastinya mereka bukan pasien biasa" Jawab Eijun santai. "Kamu butuh sesuatu?"
"i'm good, for now. Kamu sendiri?"
Eijun mengangkat bahu, lalu tersenyum "Better"
Kazuya yakin suara ribut-ribut itu datang dari Nabe dan Youichi yang berdebat. Sepertinya Nabe protes karena Youichi dengan seenaknya memakan makanan untuk Kazuya. Meskipun begitu, pikiran Kazuya justru melayang entah kemana.
"Kenapa Mochi-san makan makananmu lagi?" Eijun bertanya setelah mereka diam sejenak.
"Oh, itu.. baunya gak enak"
Eijun tersenyum maklum "Kamu mau sesuatu? Aku bisa carikan untukmu"
"Aku gak tahu apa aku bisa makan sekarang. Mencium bau apel aja aku seperti mencium bau bubuk mesiu"
"Oke"
Kazuya lega karena tidak ada siapapun yang memaksanya untuk makan. Dia tahu tubuhnya butuh asupan nutrisi selain dari infus, tapi tidak akan ada yang bertahan lama di mulut Kazuya sekuat apapun dia mencoba. Mungkin melihatnya tersiksa karena muntah-muntah, mereka jadi tidak tega. Terkadang Kazuya merasa bersalah karena membuat teman-temannya khawatir. Walaupun Kazuya sudah bisa merespon lingkungan sekitar, moodnya masih suka tidak karuan. Kazuya beberapa kali memarahi perawat yang mau mengganti infusnya, menuduh mereka berusaha membunuhnya, atau membuang obat yang diberikan padanya. Kadang Kazuya mendengar suara tawa mamanya di dalam kepalanya. Kadang dia bengong dan tidak menanggapi lawan bicaranya.
Ini sudah hari kelima dia dirawat. Dokter bilang keadaannya membaik perlahan. Kazuya akan lebih percaya kalau dokter justru bilang dia gila perlahan.
Seperti kali ini, ketika Eijun menyentuh bahunya. Kazuya tidak sadar kalau dari tadi dia membiarkan Eijun bicara sendiri.
"Ada apa?" Kazuya bertanya.
Eijun menggeleng "Aku cuma mengingatkan siang ini harusnya jadwalmu untuk konsultasi dengan.."
"Permisi" Dua orang dokter masuk kedalam kamar rawat dan menyapa mereka ramah. Kazuya mengenal dokter laki-laki bernama Aizawa yang merawatnya, tapi Kazuya tidak kenal dokter wanita muda dan cantik –yang bikin Nabe dan Youichi sukses gagal berpaling- itu. Mungkin dia seumuran Kazuya, atau lebih muda. Tapi yang jelas kemungkinannya kecil kalau dia lebih tua. Kazuya tidak terlalu jago menebak umur seseorang, tapi rambut kepang berjalin itu lebih cocok di pakai anak SMA dari pada wanita karier "Seperti yang di jadwalkan sebelumnya, Miyuki-san akan berkonsultasi dengan Dokter Minami Kana. Dokter Minami adalah psikiater yang akan menangani Miyuki-san"
"Halo tuan-tuan! Maaf mengganggu waktunya" Minami tersenyum lebar. Dia terlihat sangat ramah.
"Ahem!" Youichi dan Nabe berdehem bersamaan. Kok bisa mereka kompak begitu?
"Aku ada urusan kecil dengan Miyuki-san. Gak papa kan kalau aku meminta sedikit privasi?" Minami mengedipkan sebelah mata. Tapi bukannya tampak genit, dia malah terlihat sedikit kekanakan dengan gesture itu.
Kazuya melirik Eijun. Wajahnya datar. Setahu Kazuya, wajah Eijun itu selalu penuh dengan ekspresi. Aneh saja rasanya melihat dia lempeng seperti itu.
"Halo! Kita ketemu lagi" Minami melempar senyum kepada Eijun. "Kita ketemu di ruanagan dokter Aizawa sebelumnya"
"Ah, iya" Jawabnya singkat. Bahkan ada yang aneh dengan nada bicaranya.
"Jadi, bisa kami di tinggal berdua?"
"Tentu!" Eijun mengambil iguana di kaki Kazuya, memasukkannya kembali ke kandangnya di kamar tamu lalu melangkah keluar kamar. Nabe harus menampar Youichi agar membuatnya kembali ke bumi. Kelamaan melihat bidadari gak baik buat kesehatan jiwa.
"Kalau begitu aku permisi juga" Pamit dokter Aizawa.
Kazuya yakin Youichi menyeringai ke arahnya, sementara Nabe hanya geleng-geleng kepala.
Dan Eijun, entahlah! Dia bahkan tak menatap Kazuya saat kemuar kamar tadi.
Tidak seperti biasanya.
...
...
"Heeh, dokternya si Miyuki bening banget. Enak banget tuh mereka bisa berduaan"
Nabe menoyor pelipis Youichi yang omongannya ngaco "Jangan bego-bego amatlah jadi manusia! Kalau rame-rame namanya bukan konsultasi, tapi ngerumpi"
Youichi mengeluarkan tawa anehnya lagi "Aku tahu. Cuma rasanya iri aja"
"Cari pacar sana!"
"Lagi usaha" Jawab Youichi sambil terkekeh "Hei, Sawamura. Kamu kenapa?" Tiba-tiba bahu Eijun di rangkul oleh Youichi.
Eijun yang mendapat kontak fisik tiba-tiba begitu langsung terkesiap "Aku? Gak papa" Jawabnya ragu. Tapi lebih aneh lagi justru kalau Eijun kenapa-napa, sih.
Kedua alis Youichi naik turun. Bibirnya menyeringai. Firasat Eijun gak enak "Yakin?"
"Kenapa aku harus gak yakin?"
"Mukamu kayak mau menelan orang hidup-hidup"
"Hah?" Eijun memekik. Dia reflek mendorong lengan Youichi di bahunya "Kenapa juga mukaku begitu?"
"Mungkin karena dokter si Miyuki cantiknya kelewatan" Goda Youichi
"Terus aku harus gimana? Minta dokter tua gendut keriputan? Ya gak mungkinlah!" Sergah Eijun "Lagi pula kenapa dokter Minami di bawa-bawa?"
"Ya ampun, emang kamu gak sadar gimana kelakuanmu selama ini?"
"Huh?"
"Cuma orang kelewat bego yang gak sadar, Sawamura" Kali ini Nabe ikut-ikutan menertawakan Eijun "Hal apa lagi yang lebih kentara selain kelakuanmu yang cium-cium Miyuki gak lihat situasi itu?"
"I-itu aku cuma.." Eijun kalau sudah kalap memang suka lupa baca situasi kondisi. Tapi Eijun gak ada maksud apa-apa selain cuma pengen... cium doang. Yah, pemain drama aja main cium-cium di depan kamera. Masa Eijun gak boleh sih? Apalagi dia cuma lagi meluapkan rasa senangnya. Tapi gimana cara menjelaskannya kepada kedua orang ini agar mereka percaya ? "Apa sih? Cuma cium doang di ribetin. Kalian mau ku cium juga? Ayo sini!" Lanjut Eijun sambil memonyongkan bibirnya kearah pipi Youichi.
"Hoy, jangan berani-berani kamu!" Bibir Eijun di jepit oleh telunjuk dan jempol Youichi "Kamu pikir kami gak bisa ngebedain mana ciuman pake perasaan dan yang enggak? Kamu pikir pengalaman hidup kami belum sampai situ, hah?" Youichi memelintir bibir Eijun "Jauhin lagi mainmu kalau kamu berusaha menipu kami, kunyuk!"
"Mweehchee-sheen"
"Apa?"
"Lhevheesheen"
Youichi melepaskan bibir Eijun sambil ketawa.
Nabe ikut-ikutan terkekeh "Apa lagi pembelaanmu sekarang? Bahkan aku yang waktu itu baru bertemu denganmu sehari bisa langsung tahu kalian ada sesuatu"
"Kami gak ada sesuatu" Bantah Eijun
"Yah, fase denial itu terkadang memang dihadapi sama orang yang jatuh cinta"
"APA?"
"Kenapa kamu kaget?"
"Siapa yang jatuh cinta, Nabe-san?"
"Kamu lah! Masa aku?"
"AKU GAK JATUH CINTA!" Eijun berkata dengan ketegasan di setiap katanya. Dari pada menegaskan ke Nabe dan Youichi, sepertinya dia lebih menegaskan ke diri sendiri. Oke, Kazuya memang baik kepadanya. Dia mau-maunya saja membawa Eijun yang jelas-jelas bermasalah tanpa takut terhadap apapun, tapi masa gitu aja Eijun langsung jatuh cinta?
Youichi mencibir, lalu merangkul bahu Eijun lagi "Kalau kamu takut di tolak, kamu tenang aja! sepertinya si Miyuki menunjukan respon yang positif kepadamu"
Kenapa pula si Kuramochi Youichi ini malah bertingkah seperti dokter cinta? Kenapa dengan Sotoy-ya dia mengatakan hal itu?
"Gak mungkinlah! Kazuya kan sukanya cewek" dan lagi-lagi, Eijun sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Nah..nah! kamu panggil dia apa barusan?" Seringaian di bibir Youichi sama sekali tidak enak di padang mata "Kami yang kenal dia sejak remaja aja selalu panggil dia dengan nama bapaknya. nah, kamu?"
"Itu karena.. waktu itu lagi ada papanya. Kalau aku sebut nama papanya, nanti malah papanya yang nengok"
"Alasan macam apa itu?" Cibir Nabe.
"Beneran tau! Dan dia juga panggil namaku, makanya aku juga panggil namanya"
"Itu lebih aneh lagi malahan. Seumur-umur kami kenal dia, dia selalu manggil kami dengan nama bapak kami"
"Dia benci bapakku. Katanya bapakku brengsek. Dia benci manggil nama orang brengsek"
"Ngarang banget alasannya" Nabe cekikikan.
"Mantan-mantan Miyuki emang cewek, tapi kamu harus tahu satu hal" Bisik Youichi sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Eijun "Dia itu bucin sejati. Kalau kamu niat, gak susah buat dia falling head over heels kepadamu"
"Aku gak punya niat buat itu"
"Masa?"
"Iya, Mochi-mochi!"
Tiba-tiba tawa Youichi meledak. Ingin rasanya Eijun pura-pura gak kenal sama manusia di sebelahnya ini biar gak ikut-ikutan dilihatin orang-orang. "Kamu tahu, Miyuki juga sering panggil aku Mochi-mochi. Fix deh, kalian memang di takdirkan ber... hyaa ittai! Bakamura, ngapain kamu"
"Gak usah sok-sokan jadi peramal! Namamu emang enak di plesetin begitu" Eijun mencubit gemas pinggang Youichi .
"Tapi aku penasaran, gimana ceritanya kalian bisa ketemu?" Tanya Nabe lagi
"Waktu itu aku lagi makan es krim, lalu aku melihatnya mengambil fotoku diam-diam. Aku nyaris menembaknya karena mengira dia stalker"
"Kenapa Miyuki gak pernah cerita padaku kalau dia nyaris di bunuh? Dimana kalian bertemu?" Tambah Youichi
"Sumida River"
"Hah? Apa itu sekitar seminggu yang lalu"
"Kenapa?"
Lagi-lagi Youichi terbahak-bahak, bahkan sampai kakinya naik-naik ke atas bangku panjang tempat mereka duduk "Astaga! Si kampret it bohongin aku. Dia bilang waktu itu dia gak ketemu siapa-siapa, Padahal jelas-jelas dia lagi nungguin seseorang. Dia melototin HP-nya terus kayak orang sakau"
Huh? Di hari yang sama dengan pertemuan mereka, Eijun berangkat ke Paris. Waktu itu dia bilang akan menghubungi Kazuya lagi. Eijun berencana untuk melarikan diri ke tempat Kazuya karena dia tidak punya tempat untuk berlari. Apa itu artinya Kazuya menunggunya? Kenapa kepala Eijun serasa ringan sekali? Kenapa wajahnya memanas? Kenapa dadanya berisik?
"Ternyata dari awal dia udah bucin denganmu" Apa Eijun punya sayap? Kenapa dia ingin sekali terbang ke udara? "Sepertinya perjalanan cintamu akan mulus"
"Yah.. dia senyam-senyum. Lagi ngehalu kamu?" Nabe mencolek pipinya
Senyum? Eijun senyum? Kok gak nyadar? Apa dia terlihat konyol sekarang?
"Kenapa emang kalau aku senyum?" Eijun berusaha membuat suaranya senormal mungkin "Ah, dasar kalian bapak-bapak sotoy! Diam gih! Kalian berisik banget"
Youichi dan Nabe masih cekikikan ketika tiba-tiba ponsel Youichi berbunyi. Bukannya kepo atau gimana, hanya saja posisi Eijun yang terlalu dekat dengan Youichi memungkinkannya untuk melihat Caller ID yang tertulis 'ibu' di layar ponselnya.
Ekspresi Youichi berubah gusar. Senyum cerianya menghilang. Dia meng-slide layar ponselnya untuk me-reject panggilan, kemudian dengan tanpa dosa, ponsel itu kembali masuk ke saku mantelnya.
"Kenapa kamu reject ibumu sendiri? Tega amat!" Komentar Eijun
"Heh, kamu lihat-lihat layar HP orang ya?"
"Habis kelihatan. Kamu kan disebelahku"
Youichi mengangkat bahu "Bukan hal penting kok"
"Dari mana kamu tahu penting apa enggaknya? Ngomong aja belum" Nabe menanggapi.
"Pokoknya gak penting. Terserah kalian anggap aku anak durhaka atau apa" Youichi berujar santai kemudian bangkit dari duduknya "Ayo cari makan! Aku masih laper. Makanan orang sakit emang rasanya gak karuan"
"Sawamura, kamu ikut?" Nabe ikut bangkit dan menawarkan
"Aku gak terlalu lapar. Kebanyakan minum cola tadi" Tolak Eijun
"Mau dibelikan sesuatu?"
"Es krim!" Jawab Eijun cepat
"Berapa sih umurmu?" celetuk Youichi
Eijun nyengir "Aku disini aja. Mau cari angin juga deket-deket sini!"
"Jangan jauh-jauh!" Pesan Nabe "Kalo kamu tiba-tiba hilang lagi, nanti Miyuki ngamuknya ke kami"
"Apa sih?" Eijun tergelak "Aku aman disini, kok. Lagi pula, aku gak akan keluar dari rumah sakit ini"
Eijun berdiri di koridor, setelah Nabe dan Youichi pamit kepadanya. Menunggui Kazuya disini sepertinya bukan pilihan tepat karena mereka pasti lama. Eijun akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan.
Eijun menaiki lift menuju lantai teratas, kemudian menaiki tangga yang mengarah ke rooftop. Angin dingin langsung menyambut Eijun begitu kakinya menginjak tembol rooftop. Dia berdiri di pagar pembatas, membiarkan pandangannya lepas ke luar sana.
Membiarkan pikirannya kosong begini membuat Eijun teringat ucapan Nabe dan Youichi lagi. Padahal cuaca lagi dingin-dinginnya, tapi Eijun merasakan kehangatan. Dia membiarkan rambutnya diterbangkan angin. Untungnya disini cuma ada dia. Jadi Eijun bisa senyam-senyum sendirian tanpa takut dikira gak waras.
Jatuh cinta apa memang semudah yang di bilang Youichi dan Nabe? Eijun tak ingat dia pernah jatuh cinta. Kata Tetsuya, dia dan Chris memang tidak bisa di pisahkan. Eijun mengenal Chris bahkan ketika dia masih belum pandai bicara. Baginya Chris hanya seorang remaja yang sering mengunjunginya dan menghabiskan waktu bermain dengannya disaat orang tuanya sibuk. Eijun akan mengamuk dan meraung-raung, menghancurkan barang-barang dan membuat semua pekerja di rumahnya kewalahan kalau Chris tidak mengunjunginya sehari saja. Waktu itu dia bahkan belum tau siapa Chris. Yang Eijun tahu, Chris itu teman, saudara dan sosok yang menggantikan orang tuanya.
Sampai akhirnya Chris melanjutkan kuliah keluar negri, kehilangan kontak selama bertahun-tahun, lalu kembali lagi menjadi sosok berbeda, yang nyaris tidak dikenalinya. Tapi Eijun senang melihatnya lagi. Lalu kemudian, situasi berubah perlahan.
Eijun merindukan Chris. EIjun merindukan dirinya yang penuh kasih sayang seperti dulu. Eijun merindukannya ketika Eijun mengenal sosok Chris sebagai orang biasa. Bukan pewaris perusahaan konglomerat yang membuatnya berurusan dengan Mafia.
Okay! Stop the fashback already! Eijun gak mau bergalau-galau ria dulu. Sekarang dia hanya ingin memikirkan bagaimana caranya agar Kazuya cepat pulih. Sebenarnya, itu tugas dokter sih. Tapi dokter bilang mereka sebaiknya bekerja sama untuk menciptakan kondisi yang menyenangkan untuk Kazuya. Bagi Eijun, semua terlihat menyenangkan. Teman-teman Kazuya sangat berisik dan seru. Yang berisik dimaksudkan disini, mereka sangat aktif berbicara dan membuat suasana seringan mungkin. Yah, beda lagi ceritanya kalau Koushu dan Haruichi mulai main lempar-lemparan barang.
Eijun menggigil ketika angin bertiup lagi. Sebuah topi melayang kearahnya. Topi yang bertuliskan nama club baseball itu mendarat di bawah kaki Eijun. Eijun celingukan. Gak mungkinkan ada topi jatuh dari surga. Padahal Eijun mengira dia sendirian di rooftop ini, sampai dia melihat sesosok tubuh sedang tidur menyamping menghadap dinding pembatas rooftop. Orang itu tidur dengan menjadikan lengannya sebagai bantalan. Rambut pirang keperakan itu sepertinya Eijun kenal. Setelah membungkuk dan memungut topi, Eijun melangkah mendekati sosok itu.
Eijun terpekik ketika dia menyadari siapa yang di lihatnya. Mata kebiruan terbuka dan menatap sayu pada Eijun. Koushu duduk, lalu menguap sebelum menyandarkan punggungnya ke dinding pembatas rooftop.
"Ngapain kamu teriak-teriak?" Kata Koushu pelan.
"A-aku kagetlah kamu tidur disini" Jawab Eijun.
Koushu hanya ber 'oh' saja.
Eijun mengulurkan topi yang dipegangnya kepada Koushu "ini punyamu?"
Tanpa berkata apapun, Koushu mengambil topinya dari tangan Eijun.
Eijun ikut duduk di tembok rooftop. Mereka hanya diam-diaman beberapa menit. Lagi-lagi Eijun merasa Koushu melempar tatapan kepadanya berkali-kali. Tapi dia takut ngomong. Kalau salah nanti malah kelihatan bego lagi.
"Tumben gak ngebucin"
Eh?
"Maaf, kamu ngomong denganku?" Tanya Eijun. Dia menoleh kearah Koushu dan menunjuk ke wajahnya sendiri.
"Ngomong sama tembok"
Belum pernah nelan peluru nih anak!
Eijun cemberut "Apa yang kamu maksud dengan ngebucin?"
"Apalagi kalau bukan menempeli si Miyuki itu siang malam dan nanya-nanya 'kamu mau apa?' atau 'kamu butuh apa?'" Walaupun dikatakan tanpa nada tinggi rendah atau tanda titik koma yang jelas, tetap saja omongan Koushu membuat Eijun ingin mencongkel keluar kedua mata birunya, dan menjadikannya gantungan kunci. Tapi tubuhnya justru bereaksi dengan mengeluarkan suhu panas yang membuat wajahnya terbakar.
"Emang salah ya ngurusin orang sakit? Kamu ini gak punya hati atau gimana?" Kesal Eijun.
"Yah, ngomong aja sesukamu. Kamu pikir siapa yang kamu bodohi disini?"
Apa Koushu termasuk anggota kelompok dokter cintanya Youichi dan Nabe?
Oke! Daripada capek jiwa dan raga, lebih baik Eijun alihkan saja pembicaraan "Kamu sendiri ngapain disini? Kamu bilang kemarin hari ini bakal masuk kuliah. Mana ada kuliah di rooftop rumah sakit?"
"Aku mengubah rencana"
"Santai banget kamu ngomong" Geram Eijun "Kenapa sih kamu gak belajar yang bener aja? padahal udah dikasih kesempatan buat kuliah"
"Kalau aku mau belajar, aku akan belajar. Tapi kalau disuruh jadi dokter, beda lagi ceritanya"
Eijun menoleh, sudah siap-siap pasang telinga kalau saja Koushu mau curhat. Dia jadi mengerti apa yang dimaksudkan Koushu. Tapi setelah beberapa menit, Koushu malah diam saja. Eijun sudah merasa kalau Koushu tidak akan membahasnya lagi.
"Kamu sendiri kenapa gak kuliah? Apa kamu sebodoh itu?"
Eijun mengerjap. Dia senang Koushu mengajaknya bicara lagi, tapi kenapa omongannya harus bikin sakit hati begitu? "Ya, aku emang bodoh. Saking bodohnya, aku cuma sekolah sampai SMP"
Harusnya Koushu kaget, kan? Mana ada manusia jaman sekarang yang cuma sekolah sampai SMP? Yah, di negara lain mungkin ada. Tapi di Jepang? Bahkan semiskin apapun orang tua, pasti rela banting tulang demi menyekolahkan anak mereka setinggi mungkin. Punya anak pintar itu lebih penting dari pada beli beras buat makan. Tapi bocah di sampingnya malah tidak menujukan tanda-tanda keheranan sama sekali.
"Tapi bukan itu alasanku gak sekolah. Bagi orang tuaku, pendidikan di sekolah itu hanya untuk kepentingan formal. Mereka mau memenuhi semua yang kuinginkan tanpa aku harus repot-repot mengejar ijazah, tapi aku harus menurut. Udah, itu aja! Bosan banget kan hidupku?"
Koushu mengangkat bahu "Yah, kalo begitu buat apa lagi kamu sekolah? Orang tuamu udah baik begitu"
"Baik apanya?" Eijun terkikik. Koushu menoleh kepadanya "Gara-gara mereka hidupku jadi gak tentu arah. Aku gak punya keinginan, gak punya cita-cita, gak punya tujuan hidup, bahkan gak punya teman"
"Lalu sekarang, apa yang mau kamu lakukan?"
Eijun terdiam. Justru disaat-saat seperti ini hidupnya jadi semakin tidak memiliki tujuan. Yang dia tahu saat ini bebannya menguap perlahan. Apa salah kalau dia ingin terjebak selamanya di momen ini? Momen dimana tak ada yang menyakitinya?
"Take your time! Yang terpenting kamu merasa baik-baik saja dulu. Setelah semua membaik, dengan sendirinya nanti kamu juga akan tahu apa yang kamu mau setelah itu" Koushu berkata perlahan. Dia seperti habis membaca pikiran Eijun.
"Kamu bisa bijak juga. Hihi" Eijun cekikikan. Dia mendapat delikan galak dari Koushu "Tapi aku ngerasa.. bego aja. Disaat orang seusiaku udah punya gambaran tentang masa depannya, nah aku? Buat hidup besok hari aja aku gak tahu gimana"
"Gak usah mengukur dirimu dengan orang lain! Mereka gak mengalami apa yang kamu alami dan kamu gak mengalami apa yang mereka alami. Kamu lihat aku? Orang-orang bilang aku calon dokter. Masa depanku nyaris dipastikan cerah, tapi mereka gak tahu apa yang ku alami sampai memutuskan untuk tiduran di rooftop ini di banding medengar ceramah dosen di kelasku. Kalo orang yang gak mengenalku, mungkin mereka akan bilang aku anak gak tahu diuntung"
"Apa yang terjadi?"
"Dasar kepo!"
Eijun meninju bahu Koushu "Kalau cerita jangan nanggung-nanggung dong!" Kesal Eijun
"Ini semua kerjaan ayahku. Tau-tau aku udah terdaftar di fakultas kedokteran, padahal aku gak pernah merasa mengikuti ujian masuk. Gak tau deh, mungkin ayahku menyimpan cloning-an ku dengan otak yang lebih cerdas"
"Kamu kuliah dimana?"
"Kohaku University"
Ini aneh. Kampus itu adalah kampus swasta yang dijalankan oleh yayasan pendidikan milik kakeknya. Dan ajaibnya, Koushu bisa kuliah disana tanpa mengikuti ujian masuk. Hal itu bisa terjadi kalau ayah Koushu mengenal, atau cukup dekat dengan orang sakti di lingkungan universitas itu. Atau ayah Koushu sendiri adalah orang sakti di sana.
"Kenapa?"
"Aku cuma bingung kenapa kamu bisa masuk. Ayahmu nyogok?"
"Gak tahu, dan aku juga gak kepo. Aku cuma ingin dia tahu berapapun uang yang dikeluarkannya agar namaku terdaftar disana, itu akan sia-sia. Dia mengharap aku jadi dokter? Aku bahkan gak ingat satupun materi yang diajarkan dosenku"
Eijun terkikik. Sementara Koushu masih memasang wajah kalem "Kalo kamu belajar dengan baik, mungkin kamu bisa"
"Ada orang bilang, 'jangan lakukan apa yang kamu cintai, tapi cintai apa yang kamu lakukan' Itu sama sekali gak logis bagiku. Ada berapa banyak pekerja diluar sana yang stress karena dipaksa melakukan pekerjaan yang gak mereka sukai? Tapi kenapa mereka masih melakukannya? Tentu saja karena kebutuhan hidup. Mereka mempertaruhkan kewarasan mereka untuk menerima gaji bulanan agar hari kehari mereka bisa hidup. Memang gak semua orang bisa bekerja sesuai dengan passion mereka, tapi menyuruh orang untuk mencintai apa yang gak mungkin mereka cintai justru lebih ngaco lagi. Pada akhirnya kita sendiri yang tahu apa yang membuat kita bahagia. Bukan apa kata orang, apalagi quote gak jelas di internet . Dan lihat aku! Dia mengharapkanku untuk mencintai proses belajarku menjadi dokter? Yang benar saja! Orang sepertiku gak akan pernah bisa jadi dokter" Koushu menguap setelah mengatakan itu, seolah berbicara panjang lebar begitu membuat tenaganya terkuras
"Kamu bisa ngomong banyak juga" Cengir Eijun
"Ya iyalah! Aku punya mulut"
"Kamu bener, sih. Tapi kenapa kamu gak berusaha bicara dengan ayahmu? Kasian kan uangnya dipakai buat nguliahin kamu yang gak minat jadi dokter"
"Percayalah, kalau dia mau mendengarku aku gak harus seperti ini"
Eijun jadi teringat dengan dirinya sendiri. Kalau saja orang tua Eijun mau mendengarkannya, mungkin saja dia tak harus kabur-kaburan begini. Mungkin saja dia tak harus membunuh orang atau di perkosa mafia. Banyak orang diluar sana memiliki kemampuan bicara yang baik, tapi tak banyak orang yang memiliki kemampuan mendengarkan yang baik.
"Kalau kamu gak jadi dokter, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku dulu bermain baseball. Tapi karier baseball-ku tamat ketika sekolahku gagal masuk ke Koushien di tahun terakhirku. Kami memang bukan sekolah besar yang sudah bolak-balik masuk Koushien. Tapi aku mendapat satu tawaran dari klub besar. Sayangnya entah apa yang terjadi, tawaran untukku menghilang. Tapi ya sudahlah! Aku gak mau terlalu lama memikirkan apa yang gak bisa ku miliki. Sekarang aku seorang barista, and i love doing that"
"Oh iya! Kopi yang kamu bawakan waktu itu buatanmu? Enak banget lho!" Puji Eijun tulus
"Thanks" Sudut bibir Koushu tertarik, walau sangat sedikit dan kalau gak jeli-jeli amat gak bakalan kelihatan juga.
Eijun dan Koushu ngobrol seru sampai lupa waktu. Eijun bercerita tentang masa SMP-nya yang dulunya juga pemain baseball. Dia bahkan ditunjuk jadi kapten. Tapi Eijun disuruh keluar oleh orang tuanya karena Eijun kebanyakan kena matahari. Yup, benar sodara-sodara! Orang tua Eijun gak mau anaknya gosong. Bahkan manager klub mereka yang berkulit putih licin saja gak di misuhin orang tuanya gara-gara kebanyakan berjemur. Dari Koushu, Eijun juga baru tahu ada beberapa orang yang percaya bumi itu datar. Kata Koushu kalau Eijun mau percaya bumi itu bulat sampai mati, lebih baik gak usah mencari tahu tentang teori bumi datar. Obrolan mereka bahkan sampai tentang para ilmuan yang pernah mencoba 'memanggil' alien. Eijun merasa aneh saja kenapa mereka terobsesi mencari tahu sesuatu yang belum pasti, sementara di bumi ini masih banyak misteri yang belum ditelusuri. Lagian kalau sampai aliennya datang dengan niat buruk, yang repot siapa?
Youichi tiba-tiba mengirim pesan kepada Eijun. Dia dan Nabe sudah kembali dan es krim pesanan Eijun sudah datang.
"Hei, kamu mau ikut ke bawah?" Tawar Eijun sambil berdiri dari duduknya
Koushu menatapnya sejenak, kemudian mengangkat bahu "Karena acara bolosku sudah ketahuan, sepertinya aku terpaksa ikut"
Eijun dan Koushu kemudian berjalan bersama ke tangga untuk turun dari rooftop. Lagi-lagi Koushu berjalan di belakang Eijun. Eijun menekan tombol untuk membuka pintu lift. Tak butuh waktu lama, pintu lift terbuka. Kemudian Eijun menekan tombol ke lantai empat, lantai tempat kamar rawat Kazuya.
Berada berdua saja dengan Koushu di dalam lift rasanya aneh. Dari lantai lima belas ke lantai empat tidak terlalu jauh, kan? kenapa waktu terasa lama sekali? Padahal tadi pas mereka ngobrol seru aja. Atau cuma Eijun saja yang merasa canggung?
Eijun bersandar di dinding kaca lift, kali ini membiarkan Koushu berdiri di depannya. Tiba-tiba lift berhenti di lantai delapan. Empat orang laki-laki bersetelan formal masuk ke lift. Lift baru akan tertutup lagi, tapi kemudian sebuah tangan menghambat pintu.
Kaki Eijun gemetar. Seluruh tubuhnya gemetar. Nafasnya sesak. Ketakutan mengalir diseluruh tubuhnya. Eijun tidak mungkin salah mengenali jambul itu. laki-laki yang mengawali semua mimpi buruknya.
Satu sisi dirinya ingin menerjang dan menghajar ayahnya sendiri, yang saat ini sedang bicara dengan seseorang melalui ponsel. Tapi kewarasannya menginginkan Eijun untuk menghilang dari tempat ini.
Bagaimana bisa Eijun tidak kepikiran? Tentu saja ayahnya pasti kepikiran mencarinya kesini.
Tangan Eijun yang berkeringat mencengkram mantel bagian belakang Koushu. Dia merapatkan tubuhnya pada bocah itu. Koushu berbalik, dan memasangkan topinya ke kepala Eijun. Bahkan Eijun tak sempat berpikir apapun ketika tiba-tiba Koushu menyudutkannya di dinding lift. Tubuh mereka menempel tanpa jarak. Wajah Eijun tersembunyi di bahu Koushu dan bibir Koushu menempel di pipinya. Kepalanya miring sedikit. Lengan Koushu melingkari lehernya.
Eijun masih gemetar. Tangannya menemukan pinggang Koushu untuk di cengkram. Dia berusaha menahan suara sampai ada seseorang berdehem.
"Sialan! Bocah jaman sekarang gak tahu malu" Lift berdeting, kemudian terbuka. Para laki-laki bersetelan itu keluar bersama ayah Eijun "Cari kamar sana!" Maki seseorang kepada mereka.
Pintu lift tertutup. Eijun terjatuh di lantai lift. Dia mengambil udara sebanyak mungkin. Tubuhnya masih gemetar, tapi Eijun memaksa untuk menatap Koushu.
Koushu masih menatapnya tanpa ekspresi. Tatapan Koushu kepadanya masih seperti biasa. Tak ada emosi apapun yang bisa di baca Eijun. Dia menggumamkan kata 'maaf' yang nyaris tak terdengar. Otak Eijun dipaksa berpikir dengan cepat. Ada sesuatu yang salah disini.
"Kamu..."
...
...
Plis jangan tabok saya karena keseringan update! Part ini sebenarnya bagian dari chapter kemarin, tapi part yang ini tadinya masih di tulis di hape. Saya menulisnya ketika sedang berada diambang batas antara sadar dan tidak, makanya banyak typo yang bikin mata saya sakit, jadi gak saya masukin deh ke chapter kemarin. Nulis di komputer aja saya masih typo, apalagi di hape yang keyboard-nya gak lebih gede dari ujung jari kelingking saya.
Daan... apakah akan ada adegan tikung menikung? Saya sih merestui sepenuhnya kalau Koushu mau gerak cepat, soalnya Kazuya masih.. ya begitulah!
Pokoknya semoga Kazuya cepet sehat! Bisa gawat kalau sampai Eijun mencari belaian dari lelaki lain. Hahaha!
