Aksa bukanlah pemisah, jika hari demi hari yang selama ini kita lalui menautkan beragam makna. Mungkin suatu saat, kita akan menjumpai satu titik dimana genggaman tangan ini harus kulepaskan. Biarlah kini aku mengungkapkan, seberapa berartinya pertemuan dan ingatan yang kita torehkan bersama.
Proved Me Wrong
By: Koyuki17
© Boboiboy Monsta Studio
Chapter 14: Aksa
Remaja beriris violet itu memandangi panggung yang telah siap sepenuhnya untuk acara besok malam. Dan karena hari ini adalah kali terakhir gladi, suasana kompetisi pun mulai memekat. Bukan hal yang aneh jika ia merasakan gugup seperti ini. Saatnya untuk menarik napas panjang dan menenangkan dirinya sebisa mungkin.
Kegiatan di hari itu selesai, dan para peserta mendapat waktu bebas. Sebagian besar memilih untuk kembali ke kamar atau sekedar berjalan-jalan sebelum waktu makan malam tiba. Fang pun sebenarnya ingin kembali ke kamar, tapi ia memutuskan untuk membeli dua kaleng minuman sebelumnya.
Fang pun mendorong pintu hingga terbuka, lalu ia pun disambut sosok Cahaya yang seperti biasa duduk di depan meja dengan atensi penuh pada laptopnya.
"Nih, anggap saja terima kasih untuk buku catatan waktu itu..." Fang meletakkan espresso dalam kemasan kaleng itu di atas meja, tepat di samping tangan Cahaya.
"Terima kasih. Baru saja aku mau keluar untuk beli ini. Hehe.." Sambil tersenyum, Cahaya pun mulai membuka tutup kaleng itu.
"Kamu doyan banget kopi seperti itu ya..." Jujur Fang masih bingung jika orang-orang menyukai rasa pahit minuman itu.
"Tentu, aroma dan rasanya beda. Aku nggak begitu suka yang banyak krimernya..." Cahaya pun menyeruput kopinya. "Oh ya, walimu yang kemarin bakal datang ya Fang? Kalau teman-temanmu bagaimana?"
"Kak Hali bakal datang. Dan temanku juga..." Fang pun berhenti sejenak sebelum lanjut berkata, "Padahal nggak usah juga nggak apa-apa..."
"Loh, memangnya kenapa?" Tanya Cahaya sedikit bingung.
"Nggak sih, semoga mereka nggak bikin gaduh di sini..." Fang pun membuka kaleng jusnya dan meminumnya seteguk.
"Ahahaha... tapi lebih banyak yang mendukung lebih bagus bukan?" Ujar Cahaya.
"Iya sih... kalau kamu bagaimana? Apa temanmu juga datang?" Kini Fang balik bertanya.
Cahaya pun mengangguk pelan, "Ada, teman yang kuceritakan kemarin."
"Yang ngasih kaktus itu?" Tebak Fang. "Hm.. aku jadi ingin tahu dia anak seperti apa..."
"Dia agak kekanakan sih. Dan.. agak bikin repot." Cahaya pun tertawa kecil setelahnya.
"Kalau soal itu sih, temanku satu ada yang nggak kalah bikin gaduh terus. Dan dia besok mungkin saja datang..." Mengingat itu, Fang merasa sedikit suram.
"Pokoknya, besok ayo kita tampilkan yang terbaik!" Cahaya pun mengulurkan kopi kalengnya, lalu Fang pun melakukan hal yan sama dan kedua kaleng minuman mereka pun beradu pelan.
-PmW-
Boboiboy melihat matahari yang mulai merangkak turun dari puncak langit. Bisa dibayangkan bagaimana atmosfer stadion, yang sudah begitu lama dihadapinya bersama kawan-kawannya itu dulu. Namun sekarang, rangkaian laporan pertandingan final lewat pesan-pesan singkat menjadi perantara bagi presensinya di sana.
Pintu kamar rawat pun terbuka, membuat Boboiboy melirik Taufan yang baru saja kembali dari kamar kecil.
"Kak Hali sudah berangkat kak?" Tanya Boboiboy, ia sedari tadi memantau pertandingan dan belum sempat menghubungi kakaknya itu.
"Sudah dong. Tadi ia minta izin untuk pulang lebih cepat. Kapan lagi coba!" Sembari nyegir, Taufan pun duduk di kursi di sebelah ranjang. "Padahal dulu Fang paling nggak mau kalau Halilintar datang ke lombanya. Tapi baguslah..."
Boboiboy pun tertawa kecil, membayangkan bagaimana interaksi Fang dan Halilintar selama ini.
"Wah, ada laporan lagi tuh!" Manik Taufan pun kini tertuju pada layar ponsel dalam pangkuan Boboiboy.
"Oh, iya. Dari tadi belum ada yang cetak gol." Boboiboy pun meraih ponselnya dan mengecek pesan yang masuk.
"Hmm.. bukan gol ya sekarang juga?" Tanya Taufan.
"Iya, pemain lawan ada yang driving di kotak penalti... tunggu, kenapa driving?" Boboiboy sedikit bingung membaca pesan itu.
"Pfttt... ini yang ngetik siapa?" Taufan pun tak bisa menahan tawanya.
.
.
.
Sementara itu, dari kelompok suporter nun jauh di stadion.
"Ying, driving itu apa?" Setelah mengirim pesan, barulah Air bertanya dengan kebingungan.
"Ya ampun Air, yang barusan namanya diving bukan driving!" Sahut Ying, tak percaya bahwa anak laki-laki seperti Air tak mengerti istilah sepak bola barusan.
"Mereka menyelam...?" Tanya Air kembali, ia hanya melihat pemain lawan jatuh dan tak mengerti apa masalahnya dengan hal itu.
"Bukan, itu artinya ada pemain yang menjatuhkan diri tanpa alasan yang jelas." Yaya pun menjelaskan dengan sabar.
"Iya, biasanya mereka berharap dapat tendangan penalti. Untung saja wasit melihat hal tadi dengan jeli!" Tutur Ying, agak kesal ia dengan hal seperti itu.
"Oh, jadi mereka mengharapkan keuntungan dari wasit ya..." Air pun mengangguk-angguk pelan. Apa boleh buat memang, Api hanya memberitahu Air bahwa sepakbola adalah memasukkan bola ke gawang lawan. Tak kurang dan tak lebih dari itu.
"Wooh, lihat itu! Api memulai serangan balik! Cepat laporkan lagi Air!" Melihat perubahan di lapangan, Ying langsung meminta teman mereka yang kebagian tugas menyampaikan live report pada Boboiboy.
Dan di lapangan, baik Gopal maupun Api tampil dengan penuh percaya diri. Barusan, Gopal berhasil dengan gesitnya memetik bola lambung yang mengarah ke gawang. Ia langsung mengumpankan bola pada Api, yang sudah maju sampai tepat di belakang garis tengah lapangan.
"Hebatnya Api, dia bisa berlari secepat itu sampai nggak ada pemain lawan yang bisa mengejar..." Puji Yaya, memang cepat sekali pergerakan Api barusan.
"Sarapan apa ya itu anak...?" Tanya Ying penasaran, memang si hiperaktif itu tak pernah kehabisan tenaga.
Di lapangan sana, Api mendribble bola dengan sekuat tenaga dan meninggalkan pemain lawan dengan kecepatan yang luar biasa. Dengan lincahnya ia menerobos daerah pertahanan dan sampai pada kotak penalti.
"AYO! SEDIKIT LAGI API!" Teriak Ying dengan penuh semangat, membuat Air nyaris menutup sebelah telinga sementara tangannya yang lain kembali mengacungkan poster -berisi ancaman- yang tak pernah lupa mereka bawa sejak babak delapan besar kemarin.
.
.
.
"Wah! Gol Kak!" Seru Boboiboy setelah satu lagi pesan masuk.
"Siapa yang masukin?" Taufan pun kembali melirik ponsel Boboiboy.
"Api! Pasti dia langsung menyerang... dengan formasi tim yang sekarang pasti taktiknya begitu sih..." Jawab Boboiboy dengan semangat.
"Yaya sempat merekam detik-detik golnya, jadi penasaran..." Timpal Taufan dengan gembira.
Boboiboy pun mengiyakan, senang sekali temannya menepati janji mereka dan membuatnya tetap bisa mengetahui kondisi di lapangan. Dengan gol pertama ini, ia yakin bahwa teman-temannya bisa semakin mengukuhkan sebuah kemenangan.
"Bwahaha! si Api kesurupan apa sampai larinya cepet gitu? Gila lah..." Taufan pun melihat tayangan video yang tak lama dikirimkan pada Boboiboy.
"Ish.. Kak Taufan.." Boboiboy menyiku kakaknya itu.
-PmW-
Fang mendapat sebuah pesan singkat dari Taufan ketika ia tengah bersiap-siap dan mengancingkan kemaja putih berlengan panjangnya. Tim sepakbola telah memenangkan pertandingan final dengan skor 2-0. Hal ini berarti Gopal dan Api telah melunaskan janji mereka, walau tanpa kehadiran kapten mereka itu. Dengan ini, ia pun harus tampil dengan semaksimal mungkin.
.
.
.
"Fang sudah dikabarin, biar dia semakin semangat di sana!" Seru Taufan sembari mengacungkan jempolnya. "Ah, ponselmu bunyi lagi tuh..."
Boboiboy pun menyadari bahwa sebuah panggilan video masuk dari Ying. Dengan sedikit kaget, ia pun mengangkat panggilan itu.
"Boboiboy! Sekarang kita ada di dekat lapangan!" Ying awalnya muncul di layar, lalu kamera ponselnya pun menyorot ke arah lapangan. Di bawah sana, tim sepakbola sekolah mereka telah mengacungkan piala berwarna keperakan tinggi-tinggi.
"Terimakasih Ying..." Boboiboy pun tersenyum senang.
"Eits.. tunggu dulu Boboiboy!" Ying pun kembali pada kamera depan ponselnya sembari meminta Boboiboy untuk tetap di sana "Hei kalian! Katanya ada pesan buat Boboiboy, ayo cepat!"
Setelah beberapa gambar kabur dan sahutan yang kurang jelas, akhirnya Boboiboy melihat kembali keadaan di lapangan. Dari sana, pemain kelas satu atau yang seangkatan dengan Boboiboy kini membawa piala mendekati posisi Ying di bangku penonton.
"Kapten! Kapten! Kau di sana kan?" Suara teman-temannya itu memanggil Boboiboy.
"Kita menang! Kita menang Boboiboy!" Gopal pun berteriak lantang, ia seperti hampir menangis saking terharunya.
"Yuk, bentangin spanduknya!" Sebuah aba-aba pun disambut oleh sebentang spanduk tepat di atas Gopal dan Api yang memegang piala.
'Ini pialamu juga Kapten Boboiboy!
Terimakasih untuk kerja kerasnya!
Kami selalu mendukungmu dari sini!'
"Kapteeeen! Jadi tetap ceria yaaaa!" Seru Api, lalu tanpa sengaja jarinya tergelincir dari piala yang dipenganginya dan membuat semua orang di sana panik.
"Pialanya woi pialanya!" Teriakan panik pun terdengar.
"Api, pegang lagi yang beneer!" Teriak Yaya.
Suasana semakin riuh di lapangan, membuat Taufan tertawa karena tingkah laku anak-anak muda itu. Lalu diliriknya Boboiboy, yang sama-sama terpaku dan menatap layar ponsel.
Boboiboy berusaha untuk tetap berada di sana, dan tidak menurunkan ponselnya itu. Manik hazelnya terbasuh oleh air matanya, tapi sebuah senyumnya semakin jelas di bibirnya. Ia merasa begitu bersyukur, lega sekali melihat bahwa apa yang dikhawatirkannya selama ini tak terbuktikan.
"Sekian laporan dari lapangan, kapten!" Ujar Ying sembari memberikan hormat. Di belakangnya Yaya dan Air terlihat melambaikan tangan dan mengacungkan poster.
"Sehabis ini, kami langsung ke tempat Fang!" Ujar Ying kembali.
"Kami pasti juga akan mendukung Fang!" Timbal Yaya.
Padahal saat ini, tak sekalipun Boboiboy bisa berdiri dan menemani mereka di lapangan, mengingat ia bukanlah lagi anggota tim sepakbola. Tapi semua temannya itu bersikeras mengatakan bahwa ia tetaplah kapten mereka. Pertengkarannya dulu dengan Api cukup membuat Boboiboy gentar, mengingat seberapa beban kapten yang akan ditinggalkannya. Kini ia tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.
-PmW-
Halilintar kadang masih belum terbiasa dengan suasana sekarang, karena berada di sebuah aula pertunjukan adalah hal yang langka untuknya. Ia masih lebih sering berada di stadion dimana tempat terbuka dan lebih akrab walaupun seringkali berisik bukan main. Jika bukan karena ajakan Fang dan kedatangan teman-teman Fang dan Boboiboy, mungkin ia takkan bersungguh-sungguh untuk datang.
Lagipula, anggap saja kedatangannya ini melunaskan janjinya pada Boboiboy dan memastikan Fang membawakan lagu yang dikomposisikannya pada lomba ini.
"Kak Hali!" Sebuah panggilan dari Yaya dan Ying dikenal baik oleh Halilintar.
Nah, itu dia mereka, gumam Halilintar. Manik rubinya pun kini tertuju pada sebaris anak remaja yang menuruni tangga samping dan dengan sedikit tergesa.
"WOAH! Kakak galak juga dateng!" Seruan dari Api dan telunjuknya yang mengarah pada pria itu sukses membuat Halilintar harus menahan amarahnya.
Tenang, ini anak orang. Kalau Taufan sih tampol aja...
"Sstt.. berisik lah Api!" Gopal memperingatkan Api sembari setengah berbisik.
"Cepat! Kamu duduk di sini..." Ying pun menunjuk kursi ditengah (antara tempat duduknya dan Gopal).
"Hee.. aku padahal pengen duduk di sebelah Air..." Protes Api sambil cemberut, tapi pada akhirnya ia duduk pada tempat yang ditunjuk Ying.
"Biarin, pokoknya aku nggak kenal kamu." Air pun memalingkan pandangannya dan memilih duduk di pojok di samping Gopal.
Sudah banyak atensi tertuju pada mereka sebelum Api berseru barusan, dan sampai sekarang pun masih banyak mata yang melirik ke barisan kursi yang kini mereka tempati.
"Kak Hali udah lama datangnya?" Sapa Yaya kembali sementara ia mengambil tempat duduk di sebelah Halilintar.
"Nggak lama. Syukurlah kalian datang cepat." Balas Halilintar. "Selamat buat kemenangan kalian di turnamen. Boboiboy pasti senang mendengarnya bukan?"
"Makasih kak.. hehehe..." Ujar Gopal sembari menggaruk kepalanya dengan canggung.
"Yosh, sekarang ayo kita dukung Fang habis-habisan!" Seru Api dan kembali, lirikan penonton lain kembali tertuju padanya.
"Sssttt... suara kamu di sini menggema tahu, kecilkan suaramu!"
.
.
.
Tak perlu waktu lama bagi Fang untuk mengidentifikasi kehadiran teman-temannya yang gaduh itu. Ketika ada bisik-bisik di antara peserta dan panitia lomba bahwa terdapat penonton yang memakai kaus tim sepakbola dan bersuara lantang, ia yakin sepenuhnya bahwa itu adalah Api dan yang lain. Barulah Fang menyadari bahwa inilah pertama kalinya semua temannya (terkecuali Boboiboy) itu hadir dan menyaksikannya langsung di panggung lomba.
Setelah penampilan Cahaya yang cukup membuat decak kagum penonton, maka tibalah giliran Fang. Melihat atmosfer yang ada di antara para penonton, Fang berusaha untuk tidak terbawa dan tetap mengumpulkan kepercayaan dirinya. Karena ia ingin membawakan sebuah lagu, yang sekiranya melampaui penampilannya pada acara perpisahan sekolah pada bulan April lalu.
Sembari melangkah ke atas panggung, ia sempat berpapasan dengan Cahaya (dan Fang mendapatkan ungkapan 'semoga beruntung' melalui sebuah tepukan pada bahunya). Sebelum menampilkan lagu yang dikomposisikan, pembawa acara selalu mengajak bicara peserta terlebih dahulu. Tentang bagaimana lagu yang mereka komposisikan, atau tentang motivasi dalam menciptakan komposisi lagu.
Fang mendapatkan sebuah pertanyaan mengenai untuk siapa lagu ini ingin diperdengarkannya. Ia pun lekas menjawab, "untuk teman-temanku..."
Sebuah seruan lantang membuat Fang sedikit terlonjak, kupingnya sedikit memerah ketika namanya dipanggil oleh suara cempreng itu.
"FANG! SE...mmmph?!" Sebelum Api menyelesaikan kalimat selanjutnya, Ying dan Gopal membungkam mulutnya dan memaksa teman mereka itu duduk kembali di kursi.
"Apa... untuk teman-teman yang ada di sana?" Tanya pembawa acara sembari tersenyum. Untunglah ia memaklumi semangat para suporter di sana dan tak mengomentari apapun.
"Ya, tapi ada seorang lagi yang tidak bisa datang hari ini." Ucap Fang sambil menatap lurus ke arah kamera dan penonton. "Kuharap dengan penampilanku malam ini, dia bisa kembali menjadi rivalku yang paling tangguh."
Sebelum penampilannya, Fang memang telah berniat untuk mengungkapkannya. Semua orang bebas untuk menafsirkan itu, tapi ia hanya berharap bahwa suaranya sampai pada Boboiboy. Sebuah determinasi telah tercipta, selaras dengan keiginannya untuk membuktikan bahwa keberadaan remaja bertopi oranye itu begitu berarti baginya. Sekalipun masa lalu menjeratnya dalam-dalam. Sekalipun penyakit yang dulu merenggut ibunya kini mulai merenggut senyumannya itu.
Lalu Fang pun mengambil posisi di depan piano hitam megah itu, dan mulai merangkai nada-nada miliknya. Aksa, judul dari komposisi ini mungkinlah terdengar seperti melodi minor yang seringkali dimainkannya. Namun makna yang menyelinap selama ia merangkaikan nada demi nada ini, kini mulai bisa dipanggilnya kembali.
Komposisi lagu ini bukanlah sebuah pelampiasan atas bentangan jarak yang selalu menjauhkannya dengan orang-orang yang paling ingin dijumpainya. Mereka yang hadirnya selalu mampu menjadi poros baginya untuk melangkah. Layaknya gemintang yang hadirnya tak bisa tersentuh oleh jemari miliknya, namun mereka tetaplah ada. Seperti sepenggal nasihat sang ibu, yang dulu diceritakan Fang pada Boboiboy di ulang tahunnya yang ketujuh. Saat mereka membuat sebuah janji di bawah gugusan bintang.
.
.
Kedua manik Hazel itu menatap layar laptop yang sengaja Taufan bawa khusus untuk hari itu. Melalui live streaming dari internet, mereka masih bisa mengikuti perlombaan Fang dari rumah sakit. Selama ini, Boboiboy biasanya ada di turnamen dan tak memiliki kesempatan untuk menyaksikan bagaimana aksi rivalnya itu di atas panggung.
Sebuah penuturan Fang tepat sebelum tampil kembali membuat Boboiboy termangu. Setelah tim sepakbola, kini giliran Fang yang kembali membuatnya berpikir ulang. Untuk menggerakkan kembali detik sukmanya yang terhenti bertahun-tahun lamanya di malam badai itu. Titik-titik air itu telah membeku, menjadi kepingan es yang turun malam ini. Berakhir, mimpi buruknya sejak lama telah tersimpul dan tak terbuktikan sampai detik ini.
Di sampingnya, Taufan memeluk Boboiboy dengan erat. "Lihat, tuan muda kita sudah jadi keren rupanya... Iya kan Boboiboy?"
Jika dulu baik tangannya dan Halilintar tak mampu meraih Boboiboy, maka Fang-lah yang berhasil membuat adik mereka ini menyudahi pemikirannya itu. Bersama dengan Gopal, Api, Yaya, Ying, dan juga Air, mereka menunjukkan sebuah bukti persahabatan mereka, yang takkan lekang oleh keadaan Boboiboy sekarang.
Boboiboy pun mengangguk pelan, tak sekalipun ia menyela derai air matanya kali ini. Rasanya begitu banyak hal yang didapatkannya sekarang. Tentang bagaimana sahabatnya itu menyampaikan dengan segenap hati atas jawaban dari keraguannya saat bersama dengan mereka.
Koridor khayal yang kita lintasi bersama dalam mimpi, sedikit demi sedikit terwujudkan. Tentang bagaimana lantunan nada milikmu bisa membawaku kembali, menjemput sebuah hari esok walau tak sekalipun ada kepastian padanya. Kini aku mendengarnya kembali, begitu jelas, gaungnya sampai pada kekosongan dalam diri ini dan menggenapinya.
Dalam gelap gulita suaramu sampai padaku. Memanggilku berulangkali, untuk menggapai tempatmu berada. Sekali lagi.
Berlanjut pada chapter 15: Kembali
.
.
.
Masih menggema di dalam benak Boboiboy, bagaimana lagu yang dikomposisikan oleh Fang menjadi persembahan terbaiknya pada malam itu. Walaupun ia telah sering mendengarkannya sebelum keberangkatan Fang, penampilan rivalnya di atas panggung tetaplah berbeda. Apakah karena kali ini ia membawakannya di depan banyak pasang mata? Mungkin saja...
Boboiboy mungkin tak pandai dalam menyusun kata-kata, tapi sejak penampilan Fang kemarin, senandungnya mulai mengecap kata-kata. Ia pun tersenyum, diambilnya secarik kertas dan pulpen. Sebelum frasa itu menghilang, ia ingin menuliskannya.
.
.
.
Teruntuk Pewaris Senja
Kaulah sang cahaya
Perak halus yang rembulan tuangkan pada netra
Hadirnya dirimu
Terangi jalan yang terkubur dalam bayang ragu
Suaramu memanggilku 'tuk kembali
Tuntun diri ini membuka gerbang mimpi
.
Hidup ini begitu berarti
Dalam sepi kita bersama mencari
Dirimu yang memandangi detil dunia dalam bisu
Lalu kau rangkai semuanya menjadi nada-nada
Membuat untaian lagu tanpa kata
.
Walaupun apa yang kuucapkan adalah kata-kata perpisahan
Namun hati ini tak bisa berhenti berkata:
'Andaikan kita bisa selalu bersama'
.
~Perintis Fajar
.
A/N:
Chapter 14 akhirnya selesai~~, terimakasih bagi semua yang sempat mampir ^^
Apakah ada yang mengingat pada prolog terdapat sebuah puisi dengan judul teruntuk perintis fajar? Mungkin sekarang bisa ditebak sang 'pewaris senja' dan 'perintis fajar' merupakan sudut pandang milik siapa dalam cerita ini.
Chapter depan adalah pamungkas dari ff ini, jadi mohon ditunggu saja. Saya pun ingin menuliskannya dengan maksimal.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya ^^
