AN: Bagi yang lupa alurnya, direkomendasikan membaca ulang ya.
Arc II: Pandora's Box
Chapter 15: Truth
~Opening Song: Toumei Datta Sekai by Motohiro Hata~
Kratos melihat dalam diam ke gubuk yang sudah tua. Tidak salah lagi, gubuk itu dulunya adalah rumahnya. Sudah ribuan tahun berlalu, gubuk ini masih berdiri dengan gagah meski di beberapa bagian sudah hancur.
Ingatan masa lalu tentang kesehariannya bersama anak dan istrinya berputar di otak Kratos dan berubah menjadi halusinasi saat ia memandang halaman rumah itu. Hingga sampailah ia pada pandangan masa lalu saat proses kremasi istrinya. Kratos menutup mata, ia berusaha mengusir kenangan masa lalu.
"Apa ada sesuatu yang mengingatkanmu pada tempat ini, Paman Kratos?" tanya Naruto.
"Hn. Hanya kenangan masa lalu," jawab Kratos lalu berjalan menyusuri halaman rumahnya.
Benar-benar nostalgia. Ia menyentuh lembut kayu yang menjadi dinding rumahnya. Dingin. Seperti tidak ada tanda-tanda kehangatan makhluk hidup. Naruto mengabaikan Kratos yang sepertinya sedang mengenang masa lalu. Ia memilih untuk lebih mengenali lingkungannya sekarang.
Bisa dibilang saat pertama ia menginjakkan kaki di dunia para dewa ini Naruto sudah merasakan hawa yang berat, tidak seperti saat ia hidup di dunianya. Hawa di sini sangat terasa kekuatannya.
"Boy!"
Naruto menoleh ke arah Kratos yang memanggilnya dengan sebuatan 'boy'.
"Sebelum melakukan perjalanan, aku ingin melihat kekuatanmu. Apakah kau sudah siap untuk menjelajahi dunia para dewa ini atau tidak," kata Kratos dengan raut wajah serius.
"Baiklah tidak masalah. Jadi apa yang harus aku lakukan?"
"Berburu."
"Hm?" Naruto menaikan sebelah alisnya.
"Kita akan berburu beberapa hewan untuk makan malam. Gunakan kekuatanmu untuk mendapatkan mangsa. Aku tidak akan membantumu, hanya mengawasi," kata Kratos.
Naruto mengangguk mengerti. Berburu di tempat asing dengan salju yang turun perlahan dari langit. Ia mendongkak ke atas, melihat pohon-pohon yang menjulang tinggi. Remaja pirang itu memfokuskan Mana-nya di kedua kaki. Dengan satu hentakkan ia melompat tinggi hingga mencapai salah satu batang pohon di atas sana.
Kratos yang melihat itu sedikit terkejut. Rupanya manusia di zaman sekarang telah berkembang menjadi lebih kuat. Sekilas ia kembali mengingat saat dirinya masih sebagai prajurit Sparta.
Naruto melihat dengan takjub pemandangan yang tersaji di dunia ini. Hamparan hutan yang luas dengan gunung-gunung sebagai latar belakangnya. Sungguh indah. [Eagle Eye] telah aktif. Saatnya mencari buruan. Beberapa hewan telah ia temukan seperti babi hutan, kelompok kelinci, dan rusa yang sedang mencari makanan.
"Paman Kratos! Aku sudah menemukan buruanku. Ada rusa yang sedang mencari makanan di arah jam dua, sekitar 150 meter dari sini. Aku akan pergi memburunya!" Naruto sedikit berteriak agar suaranya dapat didengar oleh Kratos.
"Good. Kau sudah bisa mencari buruan dengan mudah."
Naruto mulai melakukan perburuannya. Ia memangkas jarak dengan cara melompat dari pohon satu ke pohon lainnya. Kratos mengikuti dari bawah dengan jalanan yang sulit untuk dilewati. Sampai ia sudah cukup dekat dengan sang mangsa, Naruto berhenti.
Kratos penasaran dengan apa yang selanjutnya akan dilakukan pemuda itu. Titik ini adalah penentu apakah Naruto layak melakukan perjalanan yang pastinya akan sangat berbahaya di depan sana atau tidak. Orang yang dijuluki God of War itu menyipitkan mata saat Naruto mengarahkan telunjuknya ke rusa.
[Golden Bullet]
Satu buah peluru emas meluncur indah memotong semua udara yang ada di jalur lintasnya hingga tepat mengenai badan rusa itu sampai menembus ke tanah. Rusa itu meraung kesakitan lalu jatuh tak berdaya. Ia mengalami apa yang dinamakan sekarat.
Naruto tersenyum puas. Kemampuan untuk menyembunyikan hawa keberadaan semakin dikuasai dengan baik olehnya. Melihat rusa itu sudah tidak bergerak lantas membuat Naruto memutuskan untuk menghampirinya. Ia melompat, mendarat tepat 10 meter di depan rusa itu.
Saat setelah berjalan beberapa langkah ke depan, instingnya tiba-tiba meneriaki bahaya dan benar saja, monster muncul dari semak-semak di sebelah kiri sambil menebaskan pedang. Naruto menghindar dengan cara melompat ke belakang. Ia langsung masuk ke mode siaga.
Monster yang baru saja menyerangnya memiliki perawakan seperti manusia. Namun, seluruh tubuhnya terbuat seperti akar dan kepalanya berwarna orange, seperti akar yang terkena api. Di tangannya sebuah pedang usang terlihat.
'Aku tidak pernah melihat monster seperti itu,' ucap Naruto dalam hati. Sepasang matanya membulat saat satu demi satu monster bermunculan dari semak-semak. Total ada 6 monster yang berhadapan dengan Naruto.
'Gawat! Dalam kondisiku yang seperti ini pasti akan susah menghadapi mereka!'
Monster itu meraung kencang. Berlari ke arah Naruto. menyerang dengan membabi buta. Kepalan tangan itu kini terselimuti oleh emas keras. Naruto menghindar saat ayunan pedang hendak menebas dirinya, lalu melakukan serangan balasan dengan memukul seluruh tubuh menggunakan tangan berlapis emas.
Hal itu terus ia lakukan. Ia menyadari jika monster ini hanya bisa melakukan serangan tebasan pedang saja. Cukup mudah untuk membaca serangan mereka. Namun, nampaknya monster ini memiliki ketahanan tubuh kuat. Naruto yang sudah menjatuhkan musuhnya beberapa kali belum bisa membuat mereka mati. Para monster itu terus bangkit dan kembali menyerangnya.
Napasnya kian memberat seiring berjalannya pertarungan ini. Konsentrasinya hampir runtuh dan bayangan masa lalu mulai menghantui dirinya. Ia benci seperti ini, tapi ia tak bisa melepaskannya.
Satu monster menyerang Naruto. Mengayunkan pedang tepat di hadapan wajahnya. Ia tak bisa menghindar karena waktunya yang tak cukup. Akhirnya Naruto menahan ayunan pedang kuat itu dengan tangan yang terlapisi emas. Ia sukses menahan serangannya tapi sedikit demi sedikit tubuhnya kian merendah. Tenaga yang dimiliki para monster berada di atas monster yang ada di dunia Naruto.
Level dunia para dewa memang beda.
Tidak jauh dari sana Kratos sudah tak tahan diam berdiri di sini. Melihat Naruto yang kesulitan menahan serangan selagi para monster yang lain mulai mengerubungi remaja itu membuatnya keluar dari tempat persembunyian. Berlali cepat dan menyerang mereka secara membabi buta dengan tangan kosong.
Naruto yang melihat hal tersebut sontak terkejut. Tenaga yang dikeluarkan Kratos benar-benar dahsyat. Hanya dengan kepalan tangan saja ia dapat memisahkan sebuah kepala dari badannya. Memukul apa pun hingga terpental jauh dan menabrak pepohonan, hingga terakhir Kratos meninju monster yang sedang menyudutkan Naruto.
Remaja pirang itu bernapas lega. Membungkuk. Mengatur pernapasannya. "Terima kasih," ucap Naruto di tengah-tengah napas yang tak beraturan.
Kratos melirik Naruto dari ekor matanya. Sebagai orang yang telah banyak mengalami berbagai pertarungan dan bertemu dengan beragam macam orang. Ia tahu ada yang tak beres dalam diri anak itu. Pertama, Naruto terlihat percaya diri saat mencari buruan, kemudian ia tiba-tiba seperti menjadi orang lain saat dihadapi pada sebuah pertarungan.
Kratos ingin berbalik badan dan bertanya akan hal itu, tapi ia urungkan. Masih ada beberapa serpihan puzzle yang belum Kratos dapat.
Setelah menunggu beberapa menit Kratos bertanya, "Kau sudah baikan, Boy?"
"Ya. Aku sudah tenang. Napasku telah normal," jawab Naruto.
"Good. Sekarang kita dekati rusa itu."
"Baiklah, ah … sebenarnya siapa para monster itu? Levelnya berbeda jauh dengan yang ada di tempat tinggalku."
"Draugr, para monster yang menghuni hutan ini. Mereka sebelumnya tak pernah menjelajah sampai sejauh ini," jawab Kratos.
Mereka sudah berada di hadapan rusa yang terkapar itu. hembusan napas berat dapat mereka dengar saat rusa tersebut dalam keadaan sekarat. Naruto merendahkan tubuhnya, mengelus lembut bulu rusa berwarna putih itu. Berusaha menenangkan, seakan ia menyuruh rusa itu untuk mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.
Tidak lama kemudian ia membuat pisau dari elemen emasnya. Bersiap menusuk leher rusa itu hingga mati. Naruto melakukan hal itu dengan lancar, ia sudah terbiasa berburu bersama ayahnya saat masih kecil. Kemampuan Panca Indera bernama [Eagle Eye] miliknya sedikit lebih ia dapatkan karena sering berburu dan konsentrasi penuh pada matanya.
Darah keluar dari bekas tusukan pisau, mengotori bulu yang seputih sutra itu. Naruto menahan napas sesaat. Menghilangkan pisau emas menjadi butiran kecil yang terbang terbawa angin.
Ia menghembuskan napas yang tertahan tadi tengan pelan. Dalam keheningan yang sekejap itu kulitnya merasakan hawa dingin yang menusuk. Pikirannya berkecambuk, entah apa yang terjadi.
"Apa ada masalah?" tanya Kratos yang melihat lawan bicaranya terus terdiam.
Naruto menggeleng pelan. Memberi isarat bahwa ia tak apa-apa. "Jadi mau kita apakan hewan buruan ini? makan malam?"
Kratos mengangguk. "Ya. Kita akan bermalam di tempat aman sambil membicarakan strategi untuk ke depannya."
"Apa Paman tahu tempat yang aman di mana?"
"Tentu. Aku sudah hidup cukup lama di sini."
Mereka berdua pergi dari tempat itu. Rusa yang menjadi buruan Naruto bawa dengan cara menyeret tubuh itu menggunakan tali. Ukuran rusa itu terbilang besar. Dua kali lipat dari ukuran rusa pada umumnya. Naruto tak bisa mengangkat rusa yang berukuran besar itu. Kratos mungkin bisa, tapi ia bilang 'akhiri jika kau sudah memulainya' itu artinya ia harus menyelesaikan sampai tuntas apa yang ia awali.
Suara derap langkah yang berara di atas timbunan salju menjadi satu-satunya pemecah keheningan antara mereka. Kratos berjalan di depan sedangkan Naruto di belakang. Mantan Dewa Perang itu tak sedikit pun berniat melirik ke belakang, ke arah Naruto.
"Jadi … bagaimana masa lalu Paman di dunia ini?" Naruto membuka pembicaraan. Ini adalah salah satu dari hal yang ingin ia ketahui.
"Long story. Sebelumnya aku berasal dari negara yang jauh. Teramat jauh sampai buta bahwa dunia ini amat luas. Sebenarnya aku bukan berasal dari dunia ini, tempat ini. Aku adalah pengembara," jawab Kratos.
Naruto mangut mengerti.
"Lalu aku bertemu dengan seorang wanita. Menikah. Mempunyai anak bernama Loki, tapi aku selalu memanggilnya dengan nama Atreus. Yah, kenangan itu berjalan dengan sangat cepat sampai istriku meninggal … dan tidak lama aku menyusulnya. Entah apa yang terjadi setelah aku mati, nampaknya Atreus berbuat sesuatu sampai ia memiliki anak bernama Fenrir, makhluk yang ada di tubuhmu."
"Hm, itu rumit dan butuh penjelasan panjang lebar untuk memahaminya. Bagaimana bisa orang menikah dengan Magical Beast? Alam semesta ini ternyata menyimpan banyak misteri," ungkap Naruto. Memandang awan mendung yang menjatuhkan butiran salju.
Fenrir hanya tersenyum ketika mendengar itu.
"Lalu, kenapa Paman bisa ma–"
Perkataan Naruto terhenti saat mereka berjalan di samping lereng. Dari bawah sana keluar sebuah tangan besar yang langsung mengambil rusa itu. hasilnya Naruto ikut terseret ke bawah. Kratos berteriak, menyerang monster yang hendak memukul dirinya lalu melompat ke bawah. Mendekat pada Naruto.
Monster raksasa itu mengambil sebuah bongkahan pilar besar sebagai senjatanya. Monster yang ukurannya tiga kali lebih besar dari Kratos dengan sepasang tanduk mirip kambing di wajahnya.
"Sial, itu Daudi Kaupmadr."
"Daudi apa?"
"Monster menjengkelkan yang sering memangsa buruan di hutan ini. Boy, kau tidak apa-apa?" Kratos mengalihkan perhatiannya pada Naruto.
Remaja pirang itu mengangguk. "Aku baik-baik saja."
"Good. Aku akan melawannya. Kau cari tempat yang aman untuk bersembunyi," ucap Kratos yang tidak lama kemudian muncul kabut es dingin di sekitar tangannya. Kabut itu perlahan berubah menjadi sebuah kapak. Itu adalah senjata Kratos, [Leviathan Axe].
"Tidak! Aku akan membantumu, Paman." Naruto sudah bersiap dengan mengaktifkan [Eagle Eye].
"Kau yakin?"
"Ya."
"Oke. Bantu aku membuat celah untuk menyerang."
"Aku mengerti."
Monster bernama Daudi itu meraung keras. Mengalahkan raungan serigala pada malam bulan purnama. Bahkan saking kerasnya telinga Naruto yang tak biasa mendengar hal itu menjadi sakit. Atmosfir di sekitar area pertarungan menjadi berat. Banyak hawa negatif bertebaran tak menentu arah. Inilah yang Naruto belum terbiasa.
Naruto menggunakan peluru emasnya untuk menyerang wajah monster itu berharap perhatiannya akan teralihkan. Itu terbukti berhasil. Daudi membatalkan serangannya pada Kratos dan beralih menghampiri Naruto. Ia mengayunkan bongkahan pilar batu tersebut, tapi Naruto dapat menghindari itu.
Kratos dengan kapaknya menyerang Daudi secara membabi buta. Meninggalkan beberapa luka gores di sekitar kaki monster itu. Ia meraung. Amarah memuncak. Lantas menghantamkan pilar itu ke tanah hingga menciptakan getaran yang cukup hebat.
"RRRAAAAAUGHHHH!"
'Kalau dilihat dari cara bertarungnya monster ini tak memiliki banyak gerakan variasi. Sudah tiga kali ia melakukan gerakan yang sama.'
Naruto menganalisis dari pojokan sana. Mengamati setiap gerakan yang dilakukan oleh monster itu tatkala ia menyerang Kratos. Jantungnya mulai berpacu dengan cepat. Perasaan gelisah menyebar ke segala tubuhnya. Ini yang sangat ia khawatirkan. Traumanya.
Momen saat posisi monster itu tepat membelakangi Naruto, remaja pirang itu langsung membuat tombak emas dan melemparkannya tepat ke punggung Daudi.
Suara tusukan bersamaan dengan cipratan darah terdengar sangat jelas. Tidak lama setelahnya dilanjut oleh raungan kesakitan yang memilukan. Daudi Kaupmadr mundur beberapa langkah sembari mencabut tombak di punggungnya. Tombak itu ia lemparkan balik pada Naruto yang nyaris saja mengenai jurus sendiri.
Tubuh monster itu menegang. Berubah menjadi hitam lalu muncul warna orange mirip lahar di sepanjang jalur pembulu darahnya. Mungkin ini yang dimaksud mode marah yang dimiliki beberapa monster.
Daudi tidak menyerang Kratos. Ia tiba-tiba berlari menuju arah Naruto dengan ujung pilar yang siap menghancurkan tubuh lemah manusia itu.
"Naruto!"
'Apa … lari? Itu gerakan yang sama sekali tidak aku prediksi!' panik Naruto dalam hati.
Ia ingin menghindar dengan melompat agak jauh ke belakang. Namun, saat kakinya hendak melompat hal yang tidak diinginkan terjadi. Tubuhnya bergejolak. Perutnya bergoyang. Perasaan mual seketika memenuhi tenggorokannya. Naruto yang semula berdiri tegak tiba-tiba jatuh berlutut sambil menutup mulutnya.
'Sial!'
Daudi Kaupmadr menusukkan ujung pilar batu tersebut. Sudah bisa dipastikan jika Naruto terkena serangan ini tubuhnya akan hancur terbelah dua. Sesuatu muncul dari belakang yang melesat menuju pilar batu itu.
Sesuatu yang melesat itu adalah [Leviathan Axe] milik Kratos. Ia melemparkannya seperti bumerang. Sesaat sebelum ujung pilar itu mengenai Naruto, [Leviathan Axe] berhasil mengubah arah serangan Daudi dengan menghantamkannya langsung ke pilar tersebut. Hasilnya Daudi menghancurkan bongkahan batu besar di belakang Naruto.
Serangan Kratos belum berakhir sampai di sana. Tangan yang ia gunakan untuk melemparkan kapak tadi berubah posisi menjadi seperti sedang menggenggam sesuatu. Sementara di tempat Naruto, dari balik kepulan debu muncul kapak Kratos yang melesat kembali pada pemiliknya. Hal tersebut membuat sebagian leher Daudi terkena sabetan kapak yang menyebabkan dirinya secara otomatis melepaskan pilar baru.
Kedua tangannya menggenggam leher yang bercucuran darah. Ia jatuh tertunduk. Kratos yang melihat itu segera melesat. Menyimpan kapaknya di punggung. Kratos dengan kekuatan dewanya memukul dagu Daudi. Menghancurkan sebagian tanduk keras itu lalu berdiri di bahu monster tersebut. Ia menyarangkan beberapa pukulan telak yang sudah pasti membuat kepala Daudi pusing.
Kratos mengakhiri nyawa Daudi Kaupmadr dengan cara menghancurkan lehernya. Naruto yang melihat musuh mereka telah kalah bernapas lega. Ia mendongkak dan menatap Kratos dengan seulas senyum.
"Terima–"
Perkataan Naruto terhenti saat tiba-tiba Kratos menarik kerah bajunya yang membuat ia terangkat. Raut wajah mantan dewa perang itu terlihat marah.
"Apa kau tidak berpikir bahwa yang kau lakukan tadi itu sangat berbahaya?"
"Maaf, aku hanya ingin membantumu."
"Sudah kubilang kau hanya cukup membuat celah untukku menyerang saja. Bukan menyerang seperti tadi!"
"Baiklah, aku tak akan melakukan hal seperti tadi lagi."
Kratos melepaskan cengkramannya. Ia menatap serius Naruto. "Sudah lama aku menyimpan pertanyaan ini … Naruto, apa yang terjadi padamu?"
"Apa maksud Paman?"
"Kau sudah tahu melebihi diriku, Boy. Katakan!"
Naruto terdiam. Arah pandang matanya merendah. "Aku memiliki trauma pada pertarungan. Setiap dihadapkan dengan pertarungan seperti ini aku selalu gelisah, perutku selalu mual … hingga aku tak bisa berkonsentrasi."
"Sudah aku duga … trauma pertarungan. Kalau begitu kau belum siap untuk menjelajahi dunia para dewa Nordik ini."
"Apa kau serius? Aku sudah jauh-jauh datang ke sini dan mempersiapkan segalanya lalu Paman bilang aku belum siap?" Naruto sedikit kesal setelah mendengar keputusan Kratos.
"Kita akan kembali."
"Tunggu Paman Kratos! Ini adalah hal yang penting untukku. Aku tidak bisa kembali begitu saja setelah semuanya dimulai!"
"You are NOT ready."
Itulah keputusan Kratos. Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke gubuk yang dahulu menjadi rumah Kratos sambil membawa rusa hasil buruan tadi.
Malam yang dingin di dunia para dewa Nordik. Di tengah hutan yang tertutupi salju ini Naruto dan Kratos membuat api unggun untuk memanggang rusa. Mereka saling berhadapan. Melihat satu sama lain melewati api yang berkobar membakar daging di atasnya.
Naruto masih kesal atas perkataan Kratos yang mengatakannya bahwa ia tang sanggup untuk menjalankan perjalanan ini. Namun, setelah dipikir-pikir perkataan mantan dewa perang tersebut benar. Baru saja melawan monster yang notabennya musuh kecil sudah hampir mati bagaimana jika ia melawan last boss seperti para dewa yang namanya tercatat di buku?
Meski begitu Naruto tetap ingin melanjutkan perjalanan ini meski resiko yang akan dihadapi sangat besar. Mungkin tak akan terbayangkan oleh dirinya.
"Trauma. Satu kata mendasar yang menjadikan kau tidak siap melewati rintangan di dunia ini. Trauma pasti memiliki sebab yang jelas. Boy, aku ingin tahu apa yang menyebabkanmu sampai memiliki trauma akan pertarungan." Kratos membuka pembicaraan setelah sekian lama hening.
Tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga dulu memiliki trauma. Trauma yang lebih menjurus ke kutukan. Penyebab utamanya berasal dari dewa perang yang asli dari Olympus. Dahulu, setiap kali ia membunuh Kratos selalu dihantui oleh bayang-bayang masa lalunya saat membunuh anak dan istrinya.
Naruto diam bergeming. Perkataan pria paruh baya di hadapannya membuat otaknya kembali mengingat saat-saat paling buruk dalam hidupnya. Kejadian yang menjadi penyebab kenapa ia bisa trauma pada pertarungan.
Naruto mendengus pelan. Sedikit mencuri lirikan pada Kratos yang menunggu jawaban dari mulutnya. Ia lalu menghela napas pelan.
Butiran salju yang turun dari langit secara perlahan itu mengenai daging yang Naruto makan. Meleleh menjadi air. Ia mendongkak, melihat ribuan bintang indah di langit gelap.
Tekadnya sudah bulat untuk menceritakan semua yang terjadi. Kebenaran dibalik trauma yang ia miliki. Dengan satu tarikan napas pelan, Naruto mulai berbicara.
"Aku … membunuh adik dan ibuku."
Kebenaran telah terungkap! Lantas hal kelam apa yang ia alami?
Flashback On
Rumah besar berdiri di kaki bukit. Rumah dengan halaman yang nyaman untuk bermain. Terdapat keluarga kecil yang terdiri dari empat orang sedang sarapan bersama dengan ceria. Penuh kebahagiaan. Salah satu dari empat orang itu bernama Namikaze Naruto.
Sementara itu … jauh dari hiruk-piruk perkotaan, di sebuah desa kecil terdapat bangunan yang dijadikan panti asuhan. Beberapa anak sedang bermain di halaman depan. Ada satu anak yang diam menyendiri tidak jauh dari sana. Ia terlihat sedang mengamati sesuatu yang menarik perhatiannya. Namanya Gabriel.
Dua kehidupan berbeda namun memiliki benar merah … lalu apakah benar merah itu?
Bersambung
~Ending Song: Silent Solitude by OxT~
AN: Hallo jumpa lagi dengan saya di fic Golden Magic kali ini. Ah akhirnya bisa up fic yang menjadi fic utama saya dan mohon maaf karena words-nya belum banyak.
Pertama-sama saya ucapkan selamat tahun baru! Semoga di tahun 2020 ini FFN semakin ramai! Para readers jangan lupa untuk selalu men-support semua author yang meng-update fic mereka agar FFN ini tidak makin sepi!
Lanjut ke pembahasan yang kedua. Oke, masa lalu yang menjadi akar muasal trauma Naruto saya buat sangat kelam. Sekelam-kelamnya kalau bisa. Di balik akibat pasti ada sebab yang pasti. Penyebab trauma Naruto bukanlah hal yang sepele.
Terakhir, terima kasih untuk kalian yang setia menunggu fic ini lanjut. Thanks untuk review, favs, dan foll yang telah kalian berikan. Mari kita buat FFN di tahun ini kembali berjaya, terutama FFN Indonesia.
Untuk yang berminat gabung bersama komunitas kami sesama Author dan Reader FFN Indo bisa taruh nomor WA kalian di review atau langsung lewat PM saja. Ingat! Khusus untuk yang sudah memiliki akun FFn ya.
#RAMAIKANFFN2020
[5/1/2020]
