Fang as Kannan

Gempa as Gyandev


Kannan segera menghampiri Gyandev. Matanya penuh dengan kekhawatiran. Tangannya bergetar saat ia menyentuh nadi di pergelangan tangan Gyandev dan merasakan denyutnya yang lemah.

Tubuh Gyandev sudah kehilangan tenaganya dan darah mengalir di sudut bibirnya dan mulai mengering. Kannan ingin mengirim kekuatan spiritualnya namun ia sadar bahwa ia sendiri baru saja menggunakan terlalu banyak energi dan kekuatannya melemah. Inti kematian terus menyerap kekuatan spiritualnya dan ia takut ia tidak akan bertahan lama jika ia memberikan kekukatan spiritualnya.

Ia ingin mengambil obat-obatan di kantung sihir Gyandev tapi ia tidak mempunyai hak untuk membukanya. Kannan terus berpikir sampai tato Javas dan Heryawan melewati pikirannya.

"Kontrak iblis…" Gumam Kannan.

Ia menyentuhkan dahinya dengan dahi Gyandev. Dalam membuat kontrak kedua belah pihak harus sadar dan saling berbagi kekuatan spiritual namun karena Gyandev tidak sadar, ia hanya bisa menyatukan pikiran mereka dengan paksa.

Bagian dimana dahi mereka bersentuhan menjadi panas. Cahaya hitam dari aura kegelapannya mengelilingi kepala mereka dan melayang perlahan dan diserap oleh dahi Gyandev. Cahaya berwara coklat terang lalu keluar dari dahi Gyandev dan diserap oleh Kannan.

"Aku, Kannan, iblis penguasa neraka utara membuat kontrak dengan Gyandev dan rela berbagi kekuatan spititual, berbagi perasaan, berbagi pikiran, dan berbagi kesulitan. Setiap tuanku Gyandev membutuhkanku maka aku akan datang dan setiap tuanku Gyandev berada dalam kesulitan atau bahaya aku akan ada untuk membantunya dan rela mati untuknya."

Rasa panas di dahi mereka semakin menjadi. Sebuah gambar mulai terbentuk di dahi mereka. Simbol api berwarna ungu tua tergambar perlahan. Proses itu berakhir selama sepuluh menit dan saat mereka selesai, Kannan segera melihat wajah Gyandev yang perlahan mendapatkan warna kembali.

Mempunyai kontrak dengan iblis berarti berbagi kekuatan spiritual. Kannan jauh lebih kuat dari Gyandev dan kemampuannya menahan sakit dibagikan pada Gyandev. Kannan lalu mengambil kantung sihir Gyandev karena dengan adanya kontrak, mereka mempunyai hak satu sama lain.

Kannan mengeluarkan beberapa guci dan tanaman-tanaman obat. Ia membaca tulisannya satu-satu dan menggunakan dua guci untuk diberikan padanya. Tanaman obatnya ia campur dan langsung dimasukkan ke dalam mulut Gyandev.

Malam begitu dingin dan jantung Kannan berdetak cepat. Ia tidak bisa berkeringat namun jika ia bisa, seluruh tubuhnya telah dipenuhi keringat. Tangannya tidak bergetar sama sekali dan ia dengan teliti memilah tanaman-tanaman obat yang dibawa Gyandev.

Ia selesai memasukkan seluruh obat yang ada pada mulut Gyandev setelah satu jam berlalu. Ia menghela nafas berat dan terus memegang nadi Gyandev. Ia duduk dan terus memegang pergelangan tangan Gyandev hingga matahari terbit.

Matahari telah tenggelam saat alis Gyandev menyatu. Gyandev memeras matanya dan perlahan menunjukkan mata emasnya. Ia melihat ke sekelilingnya dan melihat wajah khawatir Kannan.

Kannan dengan segera memeriksa luka di tubuh Gyandev dan memberinya air untuk minum. Setelahnya Kannan memberikan sebuah buah air mata surga. Gyandev menerima seluruh hal yang dimasukkan ke mulutnya dalam diam. Kannan memberikannya minuman terakhir dan Gyandev akhirnya bisa bernafas lega.

"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Kannan.

"Baik," jawab Gyandev serak. Ia merasakan sesuatu seperti tali menghubungkan dirinya dengan Kannan. Ia menyentuh dahinya dan merasakan rasa panas di sana. "Aku demam?"

Kannan mengangguk lalu menggeleng. "Kau demam tapi sumber utama panas itu adalah kontrak iblis kita."

Gyandev membelalakkan matanya. "Kontrak?"

"En. Maafkan aku tapi kalau aku tidak membuat kontrak, kau tidak bisa hidup."

Mata Gyandev terasa panas. Warna merah mewarnai ujungnya dan air mata menggenang. Ia tidak mengerti apa yang ia rasakan sekarang tapi rasa senang yang tak terhitung jumlahnya memenuhi hatinya.

Kannan seketika panik. "Kenapa? Apa ada yang sakit?"

Gyandev menggeleng. "Aku sangat senang…hiks…Kannan—hiks. Aku pikir—a-aku akan mati…"

Kannan tertegun dan bingung. Ia sering melihat manusia menangis tapi iblis tidak pernah menangis. Ia tidak mengerti kenapa manusia bisa menangis karena senang atau sedih atau bahkan marah. Kannan mengangkat tangannya kikuk dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Ia mencari di memorinya. Ratusan gambar manusia menangis melewati pikirannya. Ia berhenti pada sebuah ingatan dimana seorang pria memeluk anaknya yang mendapatkan juara satu dalam sebuah pertandingan. Air mata memenuhi wajah anak kecil itu dan ayahnya memeluk anaknya dengan senyum di wajahnya.

Kannan mengulurkan tangannya pada Gyandev dan perlahan melingkarkan tangannya pada tubuh Gyandev. Gyandev terkejut akan perlakukan tiba-tiba Kannan namun dengan segera mengubur wajahnya di bahu Kannan yang lebar.

Di malam yang diisi oleh suara burung hantu itu, seorang manusia menangis sementara seorang iblis memeluknya untuk menenangkannya. Kontrak yang terjalin membuat mereka berbagi perasaan. Perasaan itu adalah memiliki seorang teman yang peduli satu sama lain.