[ photos ]

liked by kancutterminator and 5680 others

modelanmumirippeju shining shimmering splendid

Bosan deh yang muncul di beranda foto Akio mulu, tapi kali ini doi tidak sendirian. Sasuke mengeryitkan dahi heran melihat postingan terbaru iparnya bersama Hanabi. Tumben? Gegayaan foto berdua, padahal aslinya cintanya terbelah dua. Sad boy. Selesai dari bertugas, Sasuke tidak langsung pulang ke rumah. Ada janji dengan Naruto sejak jam empat, tapi hingga setengah lima temannya itu tidak juga datang. Ya sudah dari pada gabut, main Instagram sekalian stalking postingan orang-orang. Ketemu dong dia sama postingan Akio. Sejujurnya jika dilihat dari segi manapun, mereka berdua sangat cocok. Akio tipikal laki-laki matang yang bisa mengayomi, sekali pun senewennya terkadang bikin dongkol setengah mati.

"Pak Polisi." Ini apa sih ganggu banget? Sasuke yang lagi asyik stalking terpaksa mendongak ingin tahu. "Mohon maaf Pak mengganggu, boleh minta waktunya sebentar?"

Memang dasar turunan Chittapon!

"Lo mau gue bedil Nar? Ngaret banget." Satu jam itu sebenarnya bisa Sasuke manfaatkan untuk mandi, makan, bahkan kelon sama Sakura. Tahu begini, lebih baik ia membiarkan Naruto kebingungan sendiri mencari alamat rumahnya. "Ke mana saja lo?"

"Nyokap gue minta diantarin ke Swalayan bentar." Alasan. "Ya sudah yuk, cabut."

"Beliin gue es kopi dulu, baru kita cabut."

Serius? Sasuke seperti tengah mengajak baku hantam. Jelas-jelas di mejanya telah tersaji bootleg brulee yang tinggal setengah gelas. "Lah lo kan sudah beli sendiri?"

"Gue maunya lo teraktir Nar." Khintil! "Sudahlah cuma es kopi doang juga."

Ini teman? Atau rentenir? Ngeselin deh.

Konsekuensi karena sudah membuat bapak polisi menunggu cukup lama, Naruto dengan ogah-ogahan mengikuti Sasuke berjalan menuju Mbak-mbak kasir. Jika dipikir-pikir, seharusnya mereka bertemu di warkop saja. Lebih murah meriah dan gratis wifi, bukan malah nongkrong di cafe sekelas Starbucks begini. Asw! Namanya juga Sasuke, suka gila kadang-kadang. Terpaksa, selembar uang kertas berwarna merah harus ia relakan ke lain tangan. Naruto menghela napas, sedangkan Sasuke tetap memasang wajah tenangnya. Sejak dia masuk ke sini, orang-orang banyak yang sibuk mencuri pandang. Pak polisi ganteng sore-sore nongkrong di Starbucks, lumayan jadi objek cuci mata.

"Yang ikhlas Nar, jangan cemberut."

"Ikhlas gue, lahir batin."

Begitu kan enak, Mbak-mbak kasir sampai tertawa kecil melihat interaksi keduanya. Sasuke sih tetap kalem menunggu pesanan di counter, tidak sadar justru tingkahnya itu membuat beberapa cewek terpesona. Biasalah, orang ganteng diperlakukan seperti ini. Lah Naruro, upik abu berdebu tidak ada enak-enaknya dipandang. Jahat! Beberapa menit setelahnya nama Sasuke baru disebut, Naruto lagi-lagi harus bertindak mengambil minuman. Seusai itu, mereka berdua melangkah keluar menuju parkir area. Eitss, inilah awal dari kejadian menjengkelkan hari ini. Sasuke menghela napas, berpaling pada motornya sebelum cewek muda yang baru-baru ini seringkali merusak harinya menyadari. Hanabi, ada di sini dan baru turun dari motor besar warna hitam milik Akio.

"Eh Sas, itu bukannya cewek yang mau lo kenalin sama gue nggak sih?"

Ampun, Sasuke lupa. "Bukan Nar, mata lo kebanyakan nge-live streaming bokep makanya jadi ngawur."

"Lah?"

"Pulang ayo, keburu istri gue di rumah ngamuk karena kelamaan nunggu."

"Seriuslah, itu kayak siapa sih namanya?" Akan lebih baik jika Naruto tidak perlu mengingat-ingat. "Hana? Hina? Hinu?"

"Hanabi goblok!"

Macam mana pula Sasuke jadi tolol begini?

Terang saja Hanabi menoleh bersama Akio, mereka kompak menaikkan alis. "Sasuke Oniichan?"

Dan ya, Sasuke ketahuan.

Hmm.

- 0 -

Sudah sesore ini namun suaminya tidak kunjung tiba di rumah bersama Naruto, Sakura sampai bosan menunggu. Mars dan Yupiter pun tampak lebih asyik dengan dunianya, mereka membangun perumahan mini dari lego di ruangan yang berseberangan dengan ruang tengah. Lalu, lima menit setelahnya pintu depan terbuka. Jika seperti itu, maka jelas Sasuke yang datang. Sakura sejak tadi sudah tampil cantik, siap sedia menampar ujaran kebencian yang selalu Naruto lontarkan sejak mereka duduk di bangku sekolah. Wajarlah, Naruto itu seperti admin lambe turah, sering julid ke siapa pun.

"Gue tanya, ngaku lo?! Kenapa lo malah mau nyomblangin gue ke cewek yang sudah ada cowoknya?"

"Ya karena gue bangsat saja."

Tadi itu, seumur-umur baru pertama kali dialami Naruto. Salahnya sendiri tiba-tiba langsung mendatangi Hanabi tanpa mendengarkan larangan Sasuke, alhasil dia jadi adu mulut sama Akio karena dikira Om-om mesum yang mengaku-ngaku mengenal Hanabi. Naruto bahkan disumpahi semoga memiliki istri brewokan, rumbuk kayak barongan. Apa pula itu? Beruntung ada Sasuke, runyam masalahnya jika sampai kedua orang itu adu jotos di tempat umum.

"Mana masih kelihatan bocah banget lagi, entar dikira gue pedofil Tol!"

"Siapa itu yang pedofil?"

Mereka baru masuk ke rumah dan juga sedang melepas sepatu masing-masing, seharusnya kata-kata kotor seperti barusan tidak terlontar. Pfft, Sasuke mendadak tertunduk kaku melihat kemunculan Sakura dari ruang tengah. Dia bersendekap santai, tetapi matanya mengatakan lain.

"Eh Sakura, tambah cantik saja kau."

Sakura tidak berminat membalas ucapan Naruto, melainkan lebih terfokus pada si suami. "Kamu ini yang, sudah lupa jalan pulang?! Jam segini baru sampai rumah."

Tuh kan.

Gayanya saja menjadi pak polisi, giliran di rumah malah menjadi suami takut istri. "Ini nih, Naruto lama banget tadi."

"Yaelah Sak, biarin kita masuk dulu kenapa sih? Ngomelnya nanti saja di kamar kalian noh sekalian anu." Naruto si tolol.

Sakura memutar mata jengah, kemudian berlalu ke ruang tengah terlebih dulu. Hal itu rupanya langsung dimanfaatkan Sasuke untuk menggeplak kepala Naruto. "Awas lo, jangan cerita apa pun ke Sakura tentang tadi."

Lah? Si anjing berani ngancam.

Niatnya bertamu baik-baik malah menjadi kambing hitam begini. Naruto mau tidak mau memilih legowo wae, pusing dia dari tadi serba salah terus. Untung saja, suasa hati Nyonya rumah dengan mudah berubah. Tadinya doi sempat nyolot, sekarang berubah ramah dan sangat baik. Terbukti dari senyum manisnya yang senantiasa mengembang sejak mereka berada di ruang makan untuk makan malam bersama. Anak kembar Sasuke dan Sakura manis sekali, Naruto jadi pengen punya satu jika sudah menikah nanti. Iya nanti, sekarang santai dulu di ruang tengah sembari menonton televisi. Hitung-hitung sekalian bernostalgia. Sakura duduk di sofa panjang dengan Sasuke yang tiduran di pahanya tanpa malu, sedangkan Naruto always solo player duduk di sofa single.

"Maaf ya soal tadi? Emosi Ibu-ibu kayak gue gini memang kadang suka labil."

"Iya, tahu gue." Mulai deh, Naruto uji nyali. "Dari dulu elo memang sudah labil kali."

"Makasih loh ya Nar, makasih banget." Mau dosa tapi takut ngakak. "Omong-omong, lo sampai sekarang masih saja bujang nih?"

"Kenapa?"

"Nggak mau punya istri?"

"Ya maulah." Tidak ada resolusi yang lebih baik selain menikah di tahun ini. "Lo kalau ada calon yang sekiranya oke, kasih ke gue."

Hilih, nyari calon istri dikiranya seperti memancing upil dalam lubang hidung.

"Lo perawatan dikit dong, biar kelihatan kinclong." Lah? "Sasuke yang ganteng begini saja gue paksa pakai masker wajah seminggu sekali, masa' lo yang kumal mirip tai nggak ada upaya apa pun untuk merubah diri?"

Aib itu cok! Aib!

Sebenarnya Sasuke mendengar semuanya, ia hanya pura-pura tertidur di paha Sakura. Aduh.

"Laki kok maskeran, laki apaan tuh?"

Bahaya jika diteruskan. "Buktinya, suami gue ganteng gini berkat maskeran." Asw!

"Yang terpenting, laki tuh harus punya kejujuran. Bisa terbuka sama istri, nggak kayak suami lo. Percuma punya wajah ganteng tapi tukang bo'ong." Sepertinya Naruto sudah tersulut ucapan Sakura.

"Maksud lo?"

"Gue sama Sasuke tadi di Starbucks ketemu Hana Hina Hinu, cewek yang mau dikenalin ke gue."

"H-hah?!"

Sasuke ingin mengumpat sekarang.

Bajingan si Naruto!


To be continue...