"Maaf." Aku mencicit pelan.

"Tapi kau sudah melakukan 'hal' lain bukan?"

Aku menggeleng.

"Yatuhan Baekhyun, mengapa kau tak memberi tahuku?" protesnya.

"Topiknya tak pernah muncul dalam obrolan kita. Dan aku bukan orang yang akan memberitahu status seksualku pada semua orang yang aku temui. Maksudku, kita bahkan hampir tak mengenal satu sama lain Chanyeol." Aku menatap tanganku, merasa bersalah.

"Setidaknya kau seharusnya memberi tahuku setelah semua pembicaraan mengenai seks yang aku bicarakan Baek." Bentaknya. "Aku memakluminya jika kau tidak berpengalaman, tapi kau perawan! Benar-benar perawan!" Katanya dengan dahi mengernyit. lalu menghela nafas. "Itu artinya aku sudah menodaimu bukan?" ia melembut, mungkin merasa bersalah. "Pernahkah kau dicium, selain olehku?"Lanjutnya.

"Ya, em.. oleh ayahku dan ibuku." Jawabku.

Chanyeol mendesah kasar, lagi. "Umurmu hampir dua puluh satu tahun, kau cantik, tapi tak seorangpun pernah membuatmu jatuh cinta? Aku tak mengerti." Dia menatapku dengan lembut. "Dan kau dengan serius membahas hal-hal mengenai seks, padahal kau belum memiliki pengalaman." Kedua alisnya menyambung.

Aku mengangkat bahu. "Mengapa kau begitu marah padaku?" Bisikku.

"Aku tak marah padamu, aku marah pada diriku sendiri." Dia mendesah. "Apakah kau ingin pergi?" Tanyanya, suaranya melembut.

Aku menatap wajahnya. "Tidak, kecuali kau ingin aku pergi." bisikku.

"Tentu saja tidak. Aku suka kau di sini." Dia mengernyit saat ia mengatakan ini, lalu kemudian melirik jam tangannya. "Ini sudah terlalu malam." Katanya lalu menoleh ke arahku. "Mengapa kau sangat suka menggigit bibirmu, Tuan Byun?"

"A—ah, Maaf." Kataku pelan.

"Jangan meminta maaf. Hanya saja aku ingin menggigitnya juga."

Aku terkesiap. Hey! Bagaimana bisa dia mengatakan hal-hal seperti itu dengan tenang? Aku benar-benar tidak mengerti.

"Ayo." Suaranya menghentikan lamunanku.

"Huh?"

"Kita akan meluruskan situasi sekarang." Katanya serius.

"Situasi apa?"

"Situasi ini Baekhyun. Aku akan bercinta denganmu, sekarang."

Aku menjatuhkan rahang. Bercinta katanya? Apa aku tidak salah dengar?

"Jika kau bersedia melakukannya tentu saja. Maksudku, aku tidak memaksa." Jelasnya.

"B—bukan kah kau tidak melakukan hal yang namanya b—bercinta? Ku pikir k—kau hanya melakukan sex dengan keras," Aku menelan ludah, tenggorokan ku tiba-tiba terasa kering.

Chanyeol menyeringai.

"Aku bisa membuat perkecualian untuk kali ini. Atau mungkin menggabungkan keduanya. Aku benar-benar ingin melakukannya denganmu. Ayo ke kamarku. Aku ingin perjanjian kita berjalan, anggap saja ini latihan untukmu."

Aku memerah. Apakah ini artinya keinginanku akan menjadi kenyataan? Ya tuhan, aku tidak bisa mengendalikan detak jantungku.

"Tapi, peraturan—"

"Lupakan peraturannya. Lupakan semua peraturan itu untuk kali ini. Aku menginginkanmu. Aku sangat menginginkanmu sejak kau datang ke kantorku. Kumohon Baek, aku sangat menginginkan mu." Dia menatap mataku.

"B—baiklah." Ucapku gugup. Dan saat itu juga, Chanyeol tersenyum lalu menarik ku ke dalam pelukannya.

"Kau tahu, kau merupakan satu-satunya pria yang membuatku sangat menginginkan mu." Ia membelai pipiku pelan. Lalu menarik daguku dan mencium bibirku dengan lembut. Dia mengakhirinya dengan gigitan pelan dan menyesap bibir bawahku. Lalu membawaku menuju kamarnya.

Kamar tidurnya sangat luas. Dindingnya berwarna putih, dan kebanyakan furniture nya berwarna biru pucat. Dan, Ranjangnya sangat besar.

Aku menjadi sangat gugup, kakiku terasa seperti jelly dan aku merasa bisa jatuh kapan saja. Karena... inilah akhirnya. Setelah dua puluh satu tahun hidupku, aku akan melakukannya, dengan seseorang yang bahkan tidak pernah kubayangkan aku akan melakukan ini dengannya. Orang yang sama yang telah mengambil ciuman pertamaku, Richard Park.

Aku benar-benar sangat gugup sekarang! Dan tidak tahu harus melakukan apa. Jadi aku hanya memperhatikan setiap pergerakan yang dilakukan Chanyeol.

Dia melepaskan jam tangan dan meletakkannya di atas sebuah nakas disamping ranjang lalu membuka jaketnya, menempatkannya di kursi.

Dia melirik kearahku sebentar. "Apakah kau ingin tirainya ditutup?" tanyanya lembut.

Aku mengangkat bahu. "Terserah."

Dia mengangguk dan membiarkan tirainya terbuka, lalu berjalan ke arahku. "Buka jaketmu, Okay?" Katanya lembut sambil melepas jaketku dan meletakkannya di kursi.

Jari-jarinya lalu beralih menyentuh wajahku dengan lembut. "Apakah kau tahu apa yang akan kulakukan padamu?" Jari-jari nya turun membelai daguku. Rasanya seperti ada puluhan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku saat ini. Terlebih saat mata abu-abu nya menatapku tajam— Aku benar-benar terhipnotis olehnya.

Chanyeol mengangkat wajahku dan mendekatkan wajahnya, lalu bibir kami bersentuhan. Ciumannya sedikit menuntut, namun terasa lembut secara bersamaan. Tangannya membuka kancing kemejaku dan cumbuannya berpindah pada rahang hingga leher ku.

Kancing terakhir terbuka, dan ia melepas kemejaku, membiarkannya jatuh ke lantai. Ia lalu sedikit menjauhkan tubuhnya dan menatap kearahku.

"J—jangan menatapku seperti itu!" Protes ku menahan malu. Aku hanya memakai kaus dalam tipis saat ini, itu sangat memalukan.

Dia menyeringai "Kau memiliki tubuh yang sangai indah kau tahu? Dan aku ingin sekali mencium setiap inci tubuhmu." Dia menyingkirkan poni panjang yang menutupi setengah mataku. "Aku suka rambutmu, tapi aku lebih suka melihat matamu tanpa terhalangi apapun." bisiknya. Tangannya membelai rambutku, memegang tengkukku dan mencium ku dengan lembut. Lalu ciumannya terasa lebih menuntut saat ia menggigit bibirku dan melesakkan lidahnya. Aku mengerang pelan dan mencoba untuk mengimbangi permainannya.

Dia menarikku lebih dekat dengan tubuhnya. Tangannya yang lain menyusuri punggung hingga ke bokongku, meremasnya pelan. Tubuh kami bersentuhan tanpa adanya jarak, dan aku bisa merasakan ereksinya sekarang.

Aku kembali mengerang saat ia menggigit bibirku kasar. Panas menjalari seluruh tubuhku, terutama dibawah sana. Dan sepertinya Chanyeol tidak ingin mengakhiri ciuman ini dengan segera. Aku benar-benar gila dibuatnya. Dengan ragu-ragu, aku menggerakkan tanganku pada wajah dan lalu rambutnya.

Setelah beberapa menit bertahan dengan posisi itu, Chanyeol mendorongku pelan ke arah ranjangnya tanpa melepas pagutan kami. Saat kakiku menyentuh ujung ranjang, kufikir ia akan mendorongku ke tempat tidur, tapi ternyata tidak. Ia sedikit menjauh lalu tangannya menjangkau dan mencoba melepas jeansku. Dengan perlahan, ia membuka ritsletingnya dan menarik celanaku kebawah, dan yang tersisa

Pada tubuhku hanyalah kaus dalam tipis dan celana dalam biru muda.

Aku menahan nafas saat hidung mancung nya mengenai sesuatu di pangkal pahaku, Dan dia terlihat menyeringai setelahnya. Apakah ia sengaja melakukan itu?

"your fragrance so fucking intoxicate Baekhyun." Ia menggeram, kembali mensejajarkan tubuhnya lalu mendorongku keatas ranjangnya.

Aku mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang dia lakukan. Dan yang dia lakukan adalah menatapku.

"Kau sangat cantik, Baekhyun." Katanya pelan. Ya, aku sudah sering mendengar orang lain mengatakannya. Tapi mengapa saat Chanyeol yang mengatakannya, itu terasa... Berbeda?

"Tunjukkan bagaimana kau memuaskan dirimu sendiri." Lanjutnya.

Aku mengerutkan kening. Bagaimana aku melakukannya? Aku bahkan belum pernah mencobanya! Aku belum pernah menyentuh tubuhku!

"Tidak perlu malu, Tunjukkan." bisiknya.

Aku menggelengkan kepala. "A—aku tidak pernah melakukannya Chanyeol. Aku sudah memberi tahumu tadi." Jawabku ragu.

"Tidak, bukan menyentuh bagian belakangmu. Maksudku, lakukan hal yang dapat membuatmu orgasme."

Aku menggelengkan kepala, lagi. "Aku.. Aku tidak tahu." gumamku. Chanyey mengangkat alisnya heran. Lalu menggeleng tidak percaya.

"Bagaimana kau menuntaskan hormonmu selama dua puluh satu tahun hidupmu Baekhyun?"

"Aku hanya mendiaminya." Singkatku.

Ia mendesah kasar. "Baiklah." Katanya sambil menaiki ranjang dan mendekat kearahku. "Mari kita lihat apa yang akan membuatmu mencapai orgasme." Lanjutnya.

Chanyeol membuka kancing celananya dan sedikit menariknya ke bawah, tapi tidak sampai melepasnya. Dia lalu memegang kedua pergelangan kakiku dan menariknya berlawanan arah.

"Jangan bergerak." bisiknya, lalu ia membungkuk dan mencium bagian paha dalamku. Ciumannya berjalan keatas dan berhenti di depan celana dalam biru muda ku.

Aku menggeliat saat deru nafasnya menerpa penis ku yang masih terbalut selembar kain tipis.

"Jangan bergerak Baekhyun." Geramnya lalu melanjutkan cumbuannya pada perut dan seluruh tubuhku.

Aku mencengkram sprei dibawahku, mencoba untuk tidak bergerak seperti yang diperintahkan Chanyeol.

Kemudian tangannya meraba naik dari pinggulku dan menarik kain atasan terkahir yang melekat pada tubuhku. Ia menarik kedua tanganku keatas, dan membiarkan kaus itu melingkari tanganku sehingga aku tidak bisa menggerakkannya.

Chanyeol menyeringai. "Jangan pindahkan tanganmu dari sana." Katanya lalu meremas dadaku kuat, Membuatku mendongakkan kepala karenanya. Dan anehnya itu terasa nikmat, padahal ia meremasnya dengan sangat kuat.

"Aku benar-benar meragukanmu sebagai pria Baekhyun."Gumanya lalu kembali meremas kuat dadaku.

Aku menggeliat tak karuan saat Chanyeol menggoda puting ku dengan meniup keduanya. Lalu kedua ibu jarinya menyentuh dadaku tanpa berniat untuk menyentuh puting menegangku.

Kufikir ia masih setia untuk menggodaku hingga tiba-tiba, "A—ah Chanyeol!" Kurasakan hisapan kuat pada putingku.

Ia tidak memperdulikan pekikanku dan melanjutkan hisapannya pada puting yang lain sementara tangannya bermain pada yang satunya. Aku merintih, merasakan sensasi aneh yang menjalar ke pangkal pahaku. Aku benar-benar akan menangis jika saja Chanyeol tidak melepaskan hisapannya pada puting ku.

"Kau sudah sangat basah Baekhyun. Aku bahkan belum menyentuhmu disini." Ia membelai penisku pelan dari luar celana.

"H—hentikan.. Kumohon." Aku merengek saat tangannya mulai mencengkram penisku dengan kuat.

"Tidak Baekhyun, aku tidak akan berhenti." Jawabnya sambil menaik turunkan tangannya perlahan. Ia lalu kembali menghisap puting ku tanpa menghentikan gerakan tangannya dibawah sana.

"A—ah Chanyeol," Aku menggeliat. Ini berlebihan, Chanyeol memberikan kenikmatan bertubi-tubi pada tubuhku, aku tidak bisa menahannya.

"Ya sayang?" Ia menatapku.

"Aku— ingin"

"Apa?" Katanya, menambah kecepatan tangannya.

Aku menggeleng, tidak sanggup untuk berbicara. Tubuhku menengang saat merasa sesuatu akan segera keluar dari penisku. Chanyeol yang menyadarinya langsung meremas penisku kuat, tangannya bergerak semakin cepat. Hingga—

"Chan— Ahhh!" Sperma ku menyembur membasahi tangan Chanyeol, tubuhku bergetar saat mencapai orgasmeku yang begitu hebat.

Ia tersenyum saat aku mencapai pelepasan.

"Kau sangat berisik." Ia menjeda. "Dan kau harus belajar untuk mengendalikan orgasme mu." Lanjutnya sambil mendekatkan wajahnya. "Juga, kau adalab satu-satunya orang yang berani memanggil namaku seperti tadi." katanya lalu menjauhkan tubuhnya.

Aku mendengar ucapannya, tapi kepalaku terlalu berkabut untuk mencernanya. Nafasku masih tak teratur semenjak pelepasan tadi.

Chanyeol menggerakkan tangannya menuju bokong ku. Lalu menyelinap masuk ke celana dalam dan meremas bokong ku kuat. Ia bahkan tidak memberikan ku jeda untuk bernafas. Aku menggeliat tidak nyaman, Remasan itu membuatku kembali merasa terangsang, padahal aku baru saja mencapai orgasme beberapa menit sebelumnya.

Lalu tiba-tiba Chanyeol melepaskan celana dalamku dan melemparkannya ke lantai. Ia juga melepas Jeans dan boxer nya. Dan itu berhasil membuatku membulatkan mata, karena penis nya benar-benar sangat besar, aku tidak tahu apakah itu bisa masuk kedalam lubangku atau tidak. Aku juga tidak tahu bahwa pria bisa memiliki penis sebesar itu, beda sekali dengan penis kecilku.

Aku menelan ludah gugup. Penisnya sangat besar, pasti akan terasa sangat sakit jika dia memasukkannya pada lubang ku. Ya tuhan, aku menyesalinya sekarang, rasanya aku ingin pulang saja dan berpura-pura bahwa semua ini tidak pernah terjadi.

"Jangan khawatir." Chanyeol membungkuk sambil menatapku. Tangannya berada di kedua sisi kepalaku, rahangnya terkatup, dan matanya berapi-api, namun terlihat melembut disaat yang sama.

"Apa mau benar-benar tidak keberatan untuk melakukan ini?" Tanyanya lembut.

Aku berfikir sejenak, karena di satu sisi, diriku menginginkannya, dan sisi lainnya merasa ragu. Tapi saat melihat tatapannya padaku, rasa ragu itu terpatahkan begitu saja.

Aku tersenyum sambil menatapnya. "Y—ya." Jawabku. Dan tolong lakukan dengan pelan... Batinku dalam hati tanpa berani mengatakannya langsung. Karena aku tahu, itu akan menjadi permintaan yang sangat sulit dilakukan mengingat bagaimana sifat Chanyeol.

"Biasanya aku tidak melakukan foreplay. tapi apa kau mau melakukannya terlebih dahulu?"

Aku menggeleng. "Tidak perlu." kataku dengan suara serak.

"Baiklah." Gumamnya sambil mengoleskan lube yang diambilnya dari laci nakas pada lubang ku. Ia lalu memposisikan kepala penisnya pada lubangku.

Tanpa aba-aba, ia melesakkan penisnya dengan kasar.

"ARRGHH!" Teriakku saat sesuatu terasa dirobek dengan paksa didalam sana, dan darah merembes keluar. Air mataku jatuh begitu saja saat aku tak bisa lagi membendungnya. Bibirku bergetar saat rasa sakit itu terasa menjalar pada seluruh tubuhku.

Chanyeol menatapku dalam diam, dan matanya menunjukan kemenangan yang meluap-luap. Ia sedikit menggeram sebelum ia mulai berbicara. "Kau sangat ketat. Susah sekali untuk mengendalikan tubuhku, maafkan aku."

Aku mengangguk pelan, tapi air mataku seperti tidak mau berhenti. Aku merasa begitu penuh di bawah sana. Dan Chanyeol belum bergerak, membiarkanku menyesuaikan diri dengan ukurannya.

"Aku akan bergerak." Katanya setelah beberapa saat. Aku mengangguk, mencoba untuk mempersiapkan diri.

Gerakan pertama terasa sangat menyakitkan, terlebih saat Chanyeol menarik penisnya keluar dan hanya menyisakan kepalanya saja lalu menghentakkannya dengan kasar. Ia melakukannya beberapa kali hingga lubang ku terbiasa dengan penisnya. Setelahnya ia mulai bergerak dengan cepat dan menusukku sangat dalam.

Bibirnya menghisap puting ku dengan kuat, lalu berpindah pada tulang selangka ku dan membuat tanda merah disekitar leher hingga dadaku.

"Ah!" Aku menjerit saat penis Chanyeol menumbuk sesuatu di dalam sana, Rasanya seperti aku tersengat dan tubuhku dilanda kenikmatan.

"Got it." Chanyeol menyeringai lalu kembali menumbuk titik yang sama berulang kali membuatku memejamkan mata karena kenikmatan yang kuterima.

"Ahh, Chanyeol d—disana"

"Disini?" Katanya sambil menumbuk titik itu dengan keras.

"Y—ya.. Uh, kumohon"

"Seperti ini, Baekhyun?" Ia mempercepat tempo tumbukannya.

Aku mengangguk frustasi. Tanganku terikat diatas dan itu membuatku tidak bisa melampiaskan kenikmatan ini.

"Lagi?" Dia berbisik.

"Y—ya" Aku mendesah. Ia melakukannya sekali lagi, lalu kemudian berhenti.

Aku mengerang kesal, lalu membuka mataku dan menatapnya. "C—chanyeol, bergeraklah." aku merengek.

"Memohonlah." singkatnya.

"U—uh, Chanyeol kumohon.. Bergeraklah."

...

Tidak ada gerakan, Chanyeol hanya diam memandangiku.

"Lagi." Katanya.

"Tuan Park, U—uh bergeraklah.. Kumohon." Suaraku memelas.

Dia bergerak, tapi kali ini sangat cepat dan kuat. Membuatku kewalahan karena ia terus menumbuk titik didalam sana.

"Arrgh, Kau sangat ketat Baek." Ia menggeram. Mempercepat gerakannya. Aku mengerang, dan Chanyeol terus menambah kecepatannya.

"Chan—" Desahanku terhenti saat Chanyeol mencium bibirku kasar. Dia menggigit bibir bawahku dan mengulumnya. Aku menggelengkan kepalaku saat merasa aku akan menemui pelepasanku.

"U—uh chanhh" Aku berusaha melepaskan pagutannya. Tapi ia malah memegangi kepalaku agar tidak bisa bergerak, satu tangannya beralih ke arah penis ku. Ia lalu meremasnya dengan kuat.

"Humhh—p!" Aku menggeliat tidak karuan saat ia menggerakkan tangannya pada penis ku. Ia lalu melepaskan pagutan kami dan memandang kearahku.

"Menyukainya, Baekhyun?" Ia menyeringai dan menambah kecepatan penisnya didalamku, tanpa menghentikan gerakan tangannya.

Aku membusungkan dadaku dan Chanyeol langsung menghisap kuat puting ku.

"Ah Chanyeol j—jangan berhenti" Aku merengek saat merasa spermaku akan menyembur keluar sebentar lagi.

Dan— "Akhh!"

Bukan kenikmatan yang kurasakan, melainkan rasa ngilu pada penis ku karena Chanyeol menutup lubang kencingku dan menahan spermaku keluar. itu benar-benar menyakitkan.

"Chanyeol uh, l—lepashh" Aku mengangkat tanganku, mencoba menggapai tangannya pada penis ku. Tapi sebelum aku bisa menyentuh tangannya, satu tangannya yang lain menahan tanganku dan meletakkannya kembali, lalu menahannya.

Chanyeol benar-benar tidak membiarkan ku merasakan orgasmeku yang tertahan. Ia tetap bergerak tanpa menghiraukan rengekanku.

"Kumohon Chanyeol." Aku merengek, air mataku jatuh begitu saja, tubuhku terasa ngilu karena pelepasan yang tertahan. "K—kau berjanji untuk tidak menyakitiku." aku bersuara.

Chanyeol tiba-tiba menghentikan gerakannya, menatap kearahku dan mengecup bibirku sekilas. "Maafkan aku." Katanya lembut. Ia lalu melepaskan jarinya dan spermaku yang tertahan menyembur keluar, membasahi perutku dan perutnya. Aku memejamkan mata, Tubuhku terasa lega, tadi itu benar-benar menyakitkan.

Aku membuka mataku saat merasakan usapan lembut pada mataku yang berair.

Chanyeol menghapus jejak air mataku. "Aku belum selesai." Katanya dengan suara serak. "Berbaliklah."

Aku menuruti perintahnya. Walau tubuhku sangat lelah, aku tidak ingin egois dengan mengabaikan Chanyeol yang belum mendapatkan pelepasannya. Ia membantuku berbalik lalu mengangkat pinggulku. Aku menungging di depannya sekarang.

Tangannya mengelus wajahku yang menempel pada seprei lalu berjalan menuju punggung hingga ke bokongku.

"Kau memiliki kulit yang sangat indah." bisiknya. Dia sedikit membungkuk untuk menciumi bahuku, membuat punggung ku bersentuhan dengan bagian depan kemejanya yang masih ia pakai.

"Chanyeol, mengapa kau masih memakai bajumu?" Tanyaku. Dan dia diam.

Seperti mengalah, ia membuka kemejanya dan kembali menciumi bahuku. Aku dapat merasakan dada dan perut bidangnya sekarang. "Kau sangat cantik saat pelepasanmu tadi." Ia berbisik di telinga ku. Tangannya bergerak ke bawah, membelai pinggangku.

"Aku akan melakukannya dari belakang." bisiknya, dan dengan tangannya yang lain, ia mengangkat daguku hingga aku mendongak. "Kau milikku," katanya serak. "Hanya milikku. Jangan lupakan itu." tambahnya. Sungguh, kata-kata yang dia ucapkan sangat Sassy.

Saat ia bergerak, aku merasakan ereksinya dipahaku. Jari panjangnya mulai bermain dengan lubang berkerutku, berputar dan menggoda dengan menekan-nekan jarinya. Nafas beratnya kurasakan di tengkuk leher ku.

"Aromamu memabukkan." dia mengulum telingaku. Tangannya masih setia menggoda lubang berkerutku, dan aku menggeliat karenanya.

"Jangan bergerak." Ia bersuara.

Perlahan-lahan, ia memasukkan satu jarinya pada lubang ku. Menggerakannya perlahan dengan gerakan memutar.

Aku mengerang pelan saat jari panjangnya menemukan titik nikmatku didalam sana.

"Kau menyukainya bukan?" Tanyanya lembut, lidahnya bermain pada belakang telingaku, memberikan sensasi geli saat ia melakukannya.

Aku memejamkan mata, mencoba mengontrol deru nafasku saat Chanyeol menggerakkan jarinya cepat. Aku menikmatinya hingga tiba-tiba ia berhenti.

"Buka mulutmu." Perintahnya lalu menyodorkan jarinya kearah mulutku.

Aku berkedip cepat saat ia memasukkan jarinya. "Hisap." Ia berbisik ditelingaku dan menekan jari telunjuknya pada lidahku. Aku merasakan rasa asin dan bau samar dari darah. Rasanya aneh sekali, tapi sepertinya Chanyeol menikmati ini.

"Even your mouth have a good taste Baekhyun. I wanna fuck your mouth, hard." Dia mengerang, nafasnya terdengar berat.

Wajahku memanas mendengar ucapannya. Astaga, kenapa ia pandai sekali merangkai kata-kata erotis seperti itu.

Saat ia menggigit telingaku keras, aku menggeram dan secara tidak sengaja menggigit jarinya. Ia lalu menarik rambutku kasar agar aku mendongak, itu menyakitkan. Dan aku berhenti mengukum jarinya karena itu.

"Hey, siapa bilang kau boleh menghentikannya." katanya lalu kembali menekan lidahku dengan jarinya.

"Aku akan memulainya sekarang. I'll do it slowly, very slowly. Until you beg me to fuck you, hard." Bisiknya diakhir.

Dan dia melesakkan penisnya perlahan. Sangat pelan, hingga masuk sepenuhnya. Mengisi ruang kosong dalam diriku. Dan rasanya menjadi lebih nikmat sekarang. Aku merintih pelan, kenikmatan benar-benar menghantam tubuhku.

Chanyeol menarik penisnya lalu kembali mendorong masuk perlahan. Dia mengulangi gerakan ini lagi dan lagi. Dan itu membuatku gila, dia sengaja memperlambat gerakannya.

"C—chanhh" Aku merengek frustasi. Aku menginginkan lebih dari ini, lubangku berkedut panas karena tempo lambat yang Chanyeol lakukan.

"Argh, Baekhyun." ia menggeram, masih tidak mengubah tempo kecepatannya. Tubuhku merinding mendengarnya.

"L—lebih cepat, p—please." Aku memohon.

"Belum waktunya." bisiknya sambil melesakkan penisnya pada titik yang sama.

"U—uh, kumohon Chanyeol" Aku merengek, benar-benar tidak tahan dengan gerakan lambat ini.

Ia menghiraukan ucapan ku, lidahnya bermain pada garis bahu dan tengkuk leherku. "Setiap kali kau bergerak besok, kau akan ingat bahwa aku sudah pernah berada disini. Hanya aku. Dan kau adalah milikku." Suaranya serak.

Aku mengerang.

"Kumohon.. Le—bih cepat" bisikku.

"Apa yang kau inginkan? Katakan dengan jelas."

Aku merintih lagi. Ku yakin prostatku sudah membengkak didalam sana.

"Katakan Baekhyun." bisiknya.

"U—uh, aku menginginkan mu Park Chanyeol! Aku ingin kau bergerak dengan cepat." Aku berteriak frustasi. Aku tidak bisa melihat wajahnya sekarang, tapi sepertinya ia marah karena aku memanggilnya begitu.

Chanyeol mengubah temponya menjadi amat sangat pelan, dan nafasnya terasa sangat berat di tengkuk leher ku. Ia kemudian meningkatkan gerakannya menjadi sangat cepat, menumbuk prostatku berkali-kali, tanpa jeda dan tanpa henti.

"A—ah, Chanhhh, uhh" Aku terlonjak saat gerakannya menjadi tidak terkendali.

"Katakan lagi." Geramnya.

"A—apa? Uhh" Aku berusaha menahan tubuhku karena Chanyeol bergerak seperti orang kesetanan.

"Sebut namaku." Ia bersuara serak, nafasnya memburu. Penisnya bekerja seperti mesin dibawah sana.

"Parkh Chanyeol—uhh"

Ia menggeram, membawa tangannya pada penisku dan menggerakkannya dengan cepat. "Kau.Milikku."

Aku menggeleng. Tubuhku merasakan nikmat yang tak tertandingi. Hingga beberapa hentakan kerasnya, aku berteriak memanggil namanya, tubuhku bergetar hebat. Spermaku menyembur keluar mengotori sprei putih dibawahku. Chanyeol mengikuti setelah lima hentakan terakhir, ia menggeram keras, menumpahkan cairannya kedalam tubuhku.

Yang kuingat, cairannya seakan tak berhenti keluar dan terus memenuhi tubuhku. Setelahnya, aku tertidur karena tubuhku terasa sangat lelah setelah pelepasan. Dan hal terakhir yang kuingat adalah suara Chanyeol memanggil namaku dengan nada khawatir.

*

Aku terbangun secara tiba-tiba. Langit masih gelap, dan Chanyeol tidak ada samping ku maupun di kamar ini. Aku tak tahu sudah berapa lama aku tertidur. Aku mendudukkan diriku diatas kasur. Tubuhku terasa sakit sekali, tulangku seakan bisa remuk kapan saja. Saat aku menatap pemandangan gedung-gedung pencakar langit didepanku, Aku mendengar suara musik dari ruang depan. Mungkin Chanyeol ada disana, jadi aku membungkus tubuhku dengan selimut dan berjalan dalam diam menyusuri koridor.

Saat aku sampai di ruang depan, aku melihat Chanyeol sedang duduk didepan piano, tenggelam dalam musik yang ia mainkan. Wajahnya terlihat sangat tampan dibawah redupnya cahaya, ekspresi kesepian terpancar diwajahnya. Ia hanya memakai celana panjang tanpa atasan, tubuh atletisnya bermandikan cahaya hangat yang redup.

Aku bersandar pada dinding tidak jauh dari sana. Aku terpesona oleh musik yang ia mainkan. Bagaimana jari jari panjangnya nya menari pada tuts piano membuatku terpukau.

Aku berjalan ke arahnya, berusaha untuk meminimalisir suara yang mungkin akan mengganggunya. Tapi tiba-tiba saja ia menoleh dan menghentikan jarinya. ia terlihat terkejut saat menyadari kehadiranku.

"A—ah, maaf." Bisikku pelan. "Aku tidak bermaksud untuk menganggumu."

Sebuah kerutan terlihat di wajahnya.

"Tidak, maafkan aku. Aku membangunkan mu." Chanyeol mendesah lalu berjalan kearahku. Aku bisa melihat tubuh atletisnya dengan jelas sekarang.

"Kau seharusnya tetap berada di tempat tidur." katanya pelan.

"Aku suka musik yang kau mainkan." Kataku menghiraukan ucapannya tadi.

"Itu sangat indah. Tapi juga terdengar sedih. Mengapa kau memainkannya?" Aku bertanya.

Bibirnya tersenyum tipis. "Tidurlah. Kau akan kelelahan besok pagi." Perintahnya.

"Aku terbangun dan kau tak ada." Aku merengek pelan.

"Aku kesulitan tidur. Aku tak terbiasa tidur dengan siapa pun." bisiknya lalu melingkarkan tangannya di tubuhku dan dengan lembut mengantarku kembali ke kamarnya.

"Sejak kapan kau mulai bermain piano Chanyeol? Kau terlihat berpengalaman." Aku mendongak untuk menatapnya.

"Sejak aku berusia enam tahun." Singkatnya.

Hmm... Chanyeol sebagai seorang anak enam tahun.. Fikiranku memunculkan gambaran seorang anak lelaki tampan, berambut tembaga dengan mata abu-abu, dengan senyum manisnya. Hatiku menghangat saat gambaran itu muncul.

"Bagaimana perasaanmu?" Tanyanya saat kita kembali berada di kamar.

"Aku baik." Kataku saat Chanyeol menyalakan lampu disamping ranjang.

Kami berdua melirik kearah ranjangnya pada saat yang sama. Ada darah pada sprei putih itu, bukti hilangnya kevirginan–ku.

Wajahku memerah malu.

"Naiklah ke tempat tidur. Aku akan menemanimu." katanya sambil berjalan kearah lemari kecil dan mengambil kaos dari sana. Ia juga langsung mengenakannya.

Aku memajukan bibirku kesal. Kufikir ia akan menemaniku tidur tanpa atasan seperti tadi.

"Tidurlah." Perintahnya lagi.

Aku naik ke tempat tidur, mencoba untuk tak memikirkan darah itu.

Chanyeol merangkak di sampingku dan menarikku ke dalam pelukannya, melingkarkan tangannya di tubuhku, sehingga aku berhadapan dengan dada bidangnya sekarang. Dia mencium rambutku, menghirupnya dalam-dalam.

Sial, jantungku berdebar tidak karuan hanya karena ia mencium rambutku.

"Tidurlah Baekhyun."Bisiknya sambil mengusak rambutku pelan.

Aku memejamkan mata saat ia mengelus rambutku dan tertidur setelahnya.

TBC