Kereta baru saja bertolak meninggalkan stasiun Weissmuster ketika Lizzy dan Paula mengambil tempat duduk di kursi kelas ekonomi gerbong nomor tiga. Ia tadi mampir sebentar di rumah Grey dan menitipkan surat terakhirnya untuk pemuda itu.

Lizzy memilih tempat di samping jendela di mana ia bisa melihat keluar. Pada pegunungan hijau dan padang rumput, serta sungai-sungai dan danau, Lizzy mengucapkan salam perpisahan. Jantungnya berdebar-debar oleh semangat, dan kebahagiaannya melebur dalam kepedihan meninggalkan kampung halalamn.

Hampir satu tahun lewat setelah pertemuan dengan sosok yang mengubah hidupnya. Kini penghujung musim gugur. Daun-daun di pepohonan sana merontokkan dirinya sebagai bentuk pelepasan mereka terhadap kepergiannya. Lizzy masih tidak percaya ini nyata. Namun, fakta bahwa dirinya betul-betul sedang bertolak menuju Zurich, untuk kemudian menaiki penerbangan menuju London, menghapus seluruh kekhawatirannya.

Di sisinya, Paula usai membenahi tas dan kopernya. Gadis itu lalu duduk di kursi yang sandarannya sudah ditekuk demikian rupa sehingga memudahkan mereka untuk merebahkan kepala dengan lebih nyaman. Salah satu syarat yang diajukan Ayah, Paula harus menemani kepergian Lizzy dan gadis itu tetap menjadi pelayan setia selama di London nanti.

Paula menepuk bahu Lizzy, membuat gadis itu tersadar dari lamunan.

"Anda ingin camilan, Nona? Ini kue lemon yang Anda inginkan."

Paula menyodorkan lunch box berisi kudapan. Lizzy segera mencium aroma manis gula yang lembut begitu box itu dibuka.

"Tuan Edward sungguh kakak yang baik. Lihat, ada layer cake favorit Anda, Nona, juga cokelat dan croissant."

Lizzy terkekeh halus, lalu tangannya meraih sebutir kue lemon dan sepotong layer cake.

"Kau juga, makanlah, Paula. Ambil mana yang kau inginkan. Mari, kita nikmati perjalanan ini bersama."

Paula tersenyum lega. Kemudian, gadis itu ikut menyantap kudapan milik tuannya. Ia tidak perlu khawatir lagi. Mengira Lizzy akan butuh dihibur olehnya sepanjang perjalanan, alih-alih Lizzy lah yang menghiburnya dengan penuh pengertian. Bagaimanapun Paula sangat menyayangi Lizzy. Bahkan bila dirinya diminta ikut serta mendaki gunung tertinggi hingga ke ujung dunia terjauh, Paula akan mengikutinya tanpa mengeluh sama sekali.

Lunch box berisi kue-kue manis itu diletakkan di atas meja kecil di tepi dekat jendela.

Sementara Lizzy menikmati kudapan, ingatannya melayang pada saat-saat terakhir kebersamaannya dengan Kakak dan Ibu.

Barangkali kita baru bisa menghargai waktu dan kebersamaan saat tahu kedua hal itu akan segera lepas dari tangan kita. Lizzy ingat momen terakhirnya dengan sang Kakak. Mereka menghabiskan waktu di dapur, dan melewatkan waktu bersama dengan lomba memasak. Kegiatan favorit mereka semenjak masa kanak-kanak. Edward memilih resep tertentu untuk dimasak, lalu disajikan untuk Lizzy. Begitu pula sebaliknya, Lizzy melakukan hal yang sama. Saat mencicipi masakan masing-masing, mereka diharuskan menilainya. Biasanya akan berakhir dengan kemenangan Edward, seperti yang terjadi kemarin. Lalu Lizzy sebagai pihak yang kalah akan membuatkan sajian spesial untuk kakaknya. Akan tetapi, bahkan Lizzy tidak tahu, apa yang dilakukan kak Edward setelah tanding masak itu, selain ketika ia terbangun keesokan harinya, ia menemukan sekotak besar penuh potongan kue dan irisan roti. Rupanya Edward begadang semalaman, secara diam-diam menyiapkan bekal keberangkatan Lizzy dengan kedua tangannya sendiri.

Lizzy tersenyum mengingat hal itu. Hatinya menghangat. Kenangan tentang keluarga akan selalu terpatri. Mereka akan bertemu kembali, setelah perpisahan yang panjang. Lizzy baru merasakan betapa beratnya meninggalkan rumah, ketika pagi tadi, Kak Edward mendekapnya begitu erat. Pemuda itu melepas kepergiannya tanpa kata-kata.

Lalu ibunya. Lizzy masih ingat wanita itu tampak menahan diri supaya tidak menitikkan air mata. Lizzy menggenggam syal biru yang kini mendekap lehernya hangat. Itu syal pemberian Ibu. Mereka sempat melakukan kegiatan merajut bersama selama minggu-minggu terakhir sebelum ini. Mereka memuaskan diri bercengkrama dan berbagi cerita, tentang desa dan tentang keluarga. Beberapa cerita bahkan baru Lizzy ketahui melalui penuturan ibunya saat itu. Membuat Lizzy sempat meragukan tekadnya untuk meninggalkan rumah. Akan tetapi, bahkan di sela-sela itu, ibu Lizzy sempat menuangkan beberapa petuah mengenai hidup mandiri dan memberinya bekal yang dianggapnya bermanfaat bagi kehidupan putrinya kelak. Ibu lah orang yang sejak awal paling mengerti dirinya dan mendukung apapun keputusannya. Lizzy tak sanggup berbuat apa-apa untuk membalasnya. Namun, ia bertekad kelak akan membanggakan ibunya dengan sesuatu yang harganya melebihi seisi dunia.

"Nona."

Paula menariknya dari lamunan lagi.

"Anda sudah mendengar kabar terakhir dari Tuan Ciel?"

Lizzy tercenung sejenak. Ya. Ciel. Pemuda itu yang telah menariknya hingga sejauh ini. Ia akan bertemu dengannya sebentar lagi. Impian kebebasannya akan terpenuhi sebab ia sudah menggenggam tiket menuju ke sana.

"Belum. Tapi dua bulan lalu surat terakhirnya berasal dari Italia. Aku yakin dia sekarang sudah duduk nyaman dalam wismanya di London. Seperti dalam suratnya."

Senyum Lizzy terkembang membayangkan wajah Ciel. Dalam suratnya yang terakhir, Ciel mengatakan bahwa ia telah memaafkan mereka semua; walaupun maafnya kepada Edward dan Grey diberikan dengan berat hati, namun itu dia lakukan demi Lizzy; ia akan memberikan apapun permintaan gadis itu.

"Aku harap semuanya akan baik-baik saja, Nona."

"Tentu saja, Paula. Harapan kita adalah langkah awal menuju kemenangan. Datang menemui Ciel adalah impianku. Dan aku akan terus menggenggamnya supaya tidak terlepas."

"Saya tahu ke depannya tidak akan mudah. Tapi izinkan saya untuk selalu berada di sisi Anda, Nona. Saya akan hadir kapanpun Anda butuhkan."

"Terima kasih, Paula. Kau adalah sahabatku yang terbaik."