Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Freezing: Lim Dall-Young and Kim Kwang Hyun

.

.

.

I Need You, Pandora!

By Hikasya

.

.

.

Chapter 15. Cassie vs Julia

.

.

.

Naruto masuk ke kamarnya. Ia melepaskan baju kaos putihnya yang terkena bercak-bercak darah akibat luka di punggungnya akibat serangan gelombang kejut dari Julia. Rasanya sakit sekali, tidak tertahan lagi sehingga Naruto mengambil Spear of Destiny yang terletak di kolong ranjang.

Baju yang terkena darah, tergeletak tak berdaya di dekat Naruto. Naruto melepaskan kain putih pembungkus Spear of Destiny. Tujuh bola hitam berukuran sama muncul di belakang Naruto. Salah satu bola terpasang di kepala tombak, cahaya putih menguar di sekujur tubuh Naruto. Luka-luka di punggung Naruto pun sembuh sendiri. Rasa sakit itu hilang sekejap mata. Naruto melihat punggungnya di cermin datar yang bersatu dengan lemari pakaian setelah cahaya putih lenyap.

"Syukurlah. Lukanya sudah hilang," kata Naruto seraya menghelakan napas lega. Ia menghilangkan tujuh bola hitam itu dan melilitkan Spear of Destiny dengan kain putih lagi. Kemudian Spear of Destiny diletakkan lagi ke kolong ranjang.

Sesaat Naruto teringat tentang kakeknya yang memberikan tombak itu. Perkataan kakeknya sebelum Nova menyerang kota kelahirannya yang ada di Jepang.

.

.

.

"Naruto, nama senjata ini adalah Spear of Destiny. Dia adalah senjata yang disebut bisa membunuh Tuhan. Juga senjata yang pernah melenyapkan Ratu Nova, Maria, karena Kakek sendiri yang menggunakannya," ucap Jiraiya saat berhadapan dengan Naruto yang berumur enam tahun di depan rumah, "gunakanlah senjata ini untuk kebaikan dan melawan Nova yang kini menyerang manusia. Jangan gunakan untuk kejahatan. Lalu jadilah ksatria yang mampu melindungi dunia."

Naruto mengangguk seraya menerima Spear of Destiny dari tangan Jiraiya. "Ya, Kakek."

"Satu lagi pesan Kakek."

"Apa itu?"

"Carilah istri cantik yang baik dan lembut. Jangan seperti Nenekmu yang galak itu, Naruto."

Jiraiya melirik wanita berambut krem yang berdiri di sampingnya. Wajahnya yang semula serius, berubah menjadi wajah sewot. Senju Tsunade atau Uzumaki Tsunade - ibu dari Uzumaki Minato - langsung meninju bahu suaminya dengan keras. Mengakibatkan Jiraiya terlempar cukup jauh.

"Aaah, Kakek!" seru Naruto panik setengah mati sambil memeluk Spear of Destiny yang lebih tinggi darinya.

"A ... aku tidak apa-apa, Naruto," balas Jiraiya yang terkapar tidak elit di tanah. Minato dan Uzumaki Kushina tersenyum geli melihatnya.

"Dasar, suami yang menyebalkan! Bagaimana bisa aku menyukai orang sepertimu, Jiraiya?" omel Tsunade dengan wajah yang menyeramkan.

"Maaf, Tsunade."

Jiraiya menyengir. Naruto tertawa lepas menyaksikan kekonyolan sang kakek dan kegarangan sang nenek. Menjadi momen terakhir baginya dan menjadi kenangan yang tidak terlupakan di sepanjang hidupnya.

.

.

.

Naruto tersenyum dengan kedua mata yang melembut. Hatinya yang semula sedih perlahan terhibur saat mengingat kejadian itu. Menuntunnya untuk berusaha memegang amanah sang kakek.

Kakek, aku akan melakukan apa yang kakek katakan, batin Naruto. Lalu laki-laki berambut pirang itu, segera merebahkan diri di ranjang. Ingin beristirahat untuk memulihkan tubuhnya agar kembali segar sedia kala. Perlahan kedua matanya terpejam, terlelap terbawa ke alam mimpi.

Malam tetap berlangsung meski pun waktu sudah menunjukkan jam delapan pagi. Waktu semua orang yang ada di hotel untuk sarapan bersama. Hanya satu orang yang belum terbangun yaitu Naruto. Pemuda berambut pirang itu tertelengkup dengan bantal yang menyanggah kepalanya. Dengkuran halus terdengar darinya.

Waktu terus berputar. Jam pun menunjukkan pukul sembilan. Terdengar langkah yang tergesa-gesa di koridor lantai enam. Cassie yang berpakaian seragam North Genetic, membawa sebuah nasi kotak yang dibungkus plastik. Barusan ia meminta pegawai hotel membungkus makanan yang diasingkannya untuk Naruto. Hal itu dilakukannya karena khawatir dengan keadaan Naruto.

"Naruto, buka! Ini aku, Cassie!" panggil Cassie seraya mengetuk pintu Naruto dengan keras beberapa kali. Naruto tersentak bangun, dan langsung turun dari tempat tidur. Berjalan gontai dengan wajah kantuk yang kusut. Pintu yang tidak terkunci, dibuka oleh laki-laki berambut pirang itu.

"Naruto, bagaimana keada..."

Perkataan Cassie terputus saat melihat penampilan Naruto. Wajahnya memerah padam karena terfokus pada tubuh bagian atas Naruto yang tegap dan atletis, tidak tertutup, sedangkan tubuh bagian bawah Naruto ditutupi dengan celana panjang putih. Naruto mengerutkan keningnya karena menyadari perubahan wajah Cassie, langsung sadar dengan apa yang terjadi.

Gawat, batin Naruto kalang kabut dengan netra yang membulat. Ia langsung menutup pintu dengan cepat dan segera memakai baju kaos dan Collar T-shirt putih. Ketika keluar lagi, Naruto tersenyum dengan kedua pipi yang sedikit memerah.

Cassie yang mematung, lamunannya pun buyar. Ia menyodorkan kotak nasi ke depan dengan kepala yang tertunduk.

"Ini untukmu, Naruto. Kau belum sarapan, 'kan? Aku memintanya langsung dari dapur hotel," ungkap Cassie dengan jantung yang berdebar-debar. Perasaannya naik-turun karena teringat dengan penampilan Naruto tadi.

Naruto tersenyum dan mengambil kotak nasi dari kedua tangan Cassie. Cassie tidak berani menatap Naruto, merasakan tubuhnya panas-dingin. Entah apa yang terjadi.

"Ka ... kalau begitu, aku mau pergi dulu." Cassie gugup, bergegas berlari meninggalkan Naruto. Naruto tetap tersenyum saat menyaksikannya pergi.

Cassie-senpai, kau baik sekali. Kebetulan sekali aku sedang lapar sekarang, batin Naruto lagi. Ia menutup pintu dan makan sebelum mandi.

.

.

.

Naruto keluar kamar. Ia sudah selesai mandi. Fokusnya sekarang adalah mencari tahu di manakah letak markas Chevalier agar bisa menyelamatkan para gadis yang terlibat dalam proyek E-Pandora. Langkahnya terayun santai saat menyusuri koridor yang sepi karena semua penghuni kamar sedang bepergian. Ia memilih naik tangga untuk turun supaya bisa mendengar percakapan para Pandora yang juga melintas berlawanan darinya.

"Anggota-anggota E-Pandora mendadak hilang dari sini. Chevalier juga tidak terlihat lagi."

"Lalu untuk apa kita masih bertahan di sini? Tidak ada acara lain, 'kan?"

"Ya. Waktu kita berlibur di sini sekitar dua minggu saja."

"Tinggal tiga hari lagi, baru kita pulang ke sekolah."

"Aaah. Aku tidak sabar ingin memburu Nova lagi."

Dua Pandora itu sempat melihat Naruto sekilas. Naruto melemparkan senyum yang sukses membuat wajah mereka memerah. Dua gadis itu terpaku dengan mata yang membentuk tanda hati merah.

"Wah, Pendeta itu tampan sekali!"

"Iya, senyumnya itu. Aaah!"

Dua Pandora terpesona dengan tingkah yang gila. Naruto tidak mempedulikan mereka, justru melanjutkan perjalanan menuju lantai lima. Tiba di lantai lima, Naruto turun dari tangga, melihat Cassie yang berhadapan dengan Julia. Ia mengintip di balik dinding.

"Kau harus menyerahkan Naruto padaku, Cassie," ucap Julia dengan nada tenang.

"Tidak. Sampai kapan pun aku tidak akan menyerahkan Naruto padamu," sahut Cassie bermuka mengeras.

"Kita sama-sama mencintainya, tetapi apakah Naruto juga mencintaimu?"

Perkataan Julia membuat Cassie terkesiap. Kedua mata gadis berambut hijau tosca itu membulat sempurna, lalu meredup sayu. Julia tersenyum sinis.

"Kenapa kau diam? Kau tidak bisa menjawabnya, 'kan? Naruto saja tidak mau berbicara denganmu atau pun aku. Kita tidak akan tahu bagaimana perasaan Naruto terhadap kita berdua," ujar Julia berkacak pinggang.

Cassie tetap terdiam, menunduk. Kedua tangannya mengepal kuat. Terbayang dengan sosok Naruto yang berpakaian seragam North Genetic. Lantas gadis itu menengadah untuk memandang Julia dengan tajam.

"Aku tidak mau memikirkan itu dulu. Ada yang penting dari ini. Urusan Naruto, nanti kita bicarakan lagi. Permisi!" Cassie bergegas pergi memunggungi Julia.

"Apa? Hei, tunggu!" Julia berlari mengejar Cassie.

"Jangan ikuti aku!"

"Cassie!"

Julia berhasil mendahului Cassie. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menghalau langkah Cassie. Cassie menggeram kesal.

"Sudah kubilang, jangan ikuti aku!" hardik Cassie dengan suara keras yang memecahkan kesunyian yang sempat melanda beberapa detik lalu.

"Ayo, lawan aku sekarang!" pinta Julia dengan sikap yang serius.

"Jika itu maumu, aku akan melawanmu!"

"Baiklah. Kita bertarung bukan di sini, tetapi di atap hotel ini."

Netra Julia menyipit tajam. Cassie mengangguk. Naruto yang menyaksikan mereka, merasa khawatir.

.

.

.

Angin malam bertiup kencang sehingga menerbangkan apa saja yang dilaluinya. Ia menyaksikan dua gadis berhadapan sangat jauh. Rambut dan pakaian dua Pandora cantik itu bergoyang-goyang karena dimainkan dersik.

Antara Cassie dan Julia telah dibakar dengan api permusuhan. Tujuan pertarungan mereka adalah menentukan siapa yang terbaik untuk menjadi pasangan Naruto.

"Apa kau ingat tentang kesepakatan kita dulu itu, Cassie?" tanya Julia berkacak pinggang.

"Aku ingat," jawab Cassie mengangguk cepat, "aku yang akan mengalahkanmu, Julia-senpai."

"Kita buktikan itu sekarang! Pertarungan dimulai!"

Julia mengangkat kedua tangannya lebih lebar dari bahu. Dari atas kedua telapak tangannya, muncul senjata yang menyerupai sabit - Dimension Wave. Cassie juga memunculkan senjatanya yang berupa sepasang bilah, langsung terpasang di lengannya. Senjata itu bernama Falchion.

Cassie yang maju terlebih dahulu. Tubuhnya sedikit membungkuk, memposisi seperti orang yang akan siap berlari. Mendadak ia menghilang, bertepatan Julia melakukan gerakan seperti tangan orang yang berenang. Muncul serangan gelombang kejut yang berkekuatan sangat besar. Cassie yang bergerak secepat cahaya, tampak seperti cahaya merah muda, mampu menghindari setiap serangan Julia.

Syaaat! Cassie berhasil mencapai Julia. Ia melesatkan tinju ke dada Julia. Julia menghindar dan melompat ke arah lain, sempat menembakkan serangan gelombang kejut lagi. Cassie berusaha menghindar, tetapi saat ia berhenti mengerem kecepatan, luka gores tercetak di pipi kirinya. Darah menetes dari luka itu, dan Cassie menjilat darahnya sendiri.

Cassie berlutut dengan siku yang menekuk ke belakang. "Kau hebat juga. Tidak salah kau diakui sebagai Pandora nomor satu di dunia."

Julia berdiri tegap seraya memunculkan kedua sabit yang melayang di telapak tangannya. "Mudah saja. Aku menggunakan senjataku untuk pertahanan dan menyerang lawan tanpa menyentuhnya."

"Oh, begitu rupanya."

"Ya. Kau tidak akan bisa mengalahkan aku, Cassie."

"Aku percaya," tutur Cassie sambil bangkit berdiri dengan tubuh yang dipenuhi cahaya merah muda karena kekuatan Stigmata meningkat drastis seiring dirinya meledak marah, "aku bisa mengalahkanmu demi Naruto yang kucintai!"

Cassie melompat seraya menunjukkan muka garang. Cahaya berwarna-warni menguar dari tubuhnya seiring kecepatan Cassie bertambah. Julia tidak tinggal diam, langsung memutar-mutar dua sabit di pergelangan tangannya. Kemudian ia menjulurkan kedua tangannya ke depan, melakukan serangan gelombang kejut yang berkekuatan kecepatan yang lebih dahsyat dari sebelumnya.

Cassie bertabrakan dengan gelombang kejut itu, kedua tangannya menyilang untuk melindungi dirinya. Fatalnya, serangan Julia memotong bagian bahunya sehingga mencipratkan darah segar yang membuat Cassie berteriak.

"Aaah!" Cassie tumbang dan terduduk di lantai yang dipenuhi salju. Ia memegangi bahu kirinya yang terluka. Tapi, senyuman terukir di wajahnya. "Kau juga kena, Julia-senpai," sambung Cassie.

Julia terdiam membelakangi Cassie. Pipi kanannya terluka akibat tebasan bilah Falchion. Ia membelalakkan mata.

Tidak mungkin, dia berhasil melukaiku, batin Julia yang melompat ke arah lain dan mendarat mulus. Memandang Cassie dengan tajam.

Cassie berputar seraya berlutut berhadapan dengan Julia. Kedua matanya sayu dengan napas yang tersengal-sengal. Menahan rasa sakit di bahu kirinya.

"Aku mendengar kau tidak pernah dilukai, 'kan? Kini aku orang yang pertama melukaimu, Julia-senpai," kata Cassie dengan senyum sinis.

"Kau jangan senang dulu, Cassie! Aku akan menghabisimu!" tandas Julia langsung menyerang Cassie dengan serangan gelombang kejut yang lebih kuat.

Cassie mampu menghindari gelombang kejut berkecepatan tiga mach. Stigmata yang dimilikinya meningkat lagi menjadi kecepatan empat mach sehingga mampu menandingi kecepatan serangan Julia. Cassie tidak terlihat bagaikan berteleportasi, tiba-tiba langsung meninju Julia dari bawah. Dagu Julia terkena tinju yang sangat keras mengakibatkan dirinya terlempar ke atas, lalu jatuh ke lantai dengan keras.

Dua sabit Julia menghilang. Julia terkapar dengan dagu yang terluka. Cassie berdiri di dekatnya, memandangnya serius.

"Kau kalah, Julia-senpai. Aku yang berhak memiliki Naruto. Jadi, kau harus merelakan Naruto untukku."

"Aku ... Ya. Aku mengaku kalah. Kau hebat bisa menandingiku. Lalu, sekarang Naruto adalah milikmu."

Senyuman terukir di wajah Cassie. Julia memandangnya dengan tatapan tanpa emosi. Terpaksa menerima kenyataan bahwa Naruto diserahkan kepada Cassie. Satu saingan telah disingkirkan, tidak ada yang bisa menghalangi Cassie untuk mendapatkan Naruto lagi.

"Terima kasih, Julia-senpai." Cassie tersenyum lagi sembari mengulurkan tangannya pada Julia. "Ayo, aku akan mengantarkanmu sampai ke kamarmu!"

Julia mengangguk sembari menyambut tangan Cassie. Falchion sudah menghilang dari kedua tangan Cassie. Cassie membantu Julia berdiri. Mereka pun pergi meninggalkan atap itu. Naruto yang menyaksikan pertarungan mereka dari awal sampai akhir, turut bahagia. Ia bersembunyi di balik bangunan berbentuk kubus.

Akhirnya aku terbebas juga dari Julia-senpai. Aaah, rasanya lega sekali.

Naruto membatin. Ia menengadah untuk memandang langit yang remang-remang. Tidak ada sinar matahari yang menerangi. Hanya salju ringan yang turun, menimpa Pendeta itu.

.

.

.

Cassie sudah mengantarkan Julia ke kamar yang masih satu lantai dengan kamarnya. Ia bertemu dengan Naruto di koridor lantai lima di dekat pintu kamarnya. Koridor tetap sepi dan sunyi karena semua orang belum kembali ke kamar masing-masing.

"Naruto," ucap Cassie dengan muka yang memerah. Benaknya masih terbayang kejadian saat mengantarkan makanan untuk Naruto.

Naruto terdiam seraya mendekati Cassie. Ia langsung menempelkan plester ke pipi kiri Cassie yang terluka. Wajah Cassie memerah lagi saat dipandangi Naruto lekat-lekat dari jarak yang cukup dekat. Naruto tersenyum.

"Te ... terima kasih," kata Cassie terbata-bata sambil menunduk, "oh ya, bagaimana keadaan punggungmu yang terluka kemarin, Naruto?"

Tidak ada jawaban. Cassie menengadah untuk menatap Naruto. Naruto tetap tersenyum. Cassie mengerti itu.

"Lukamu pasti sembuh, ya." Cassie tersenyum. "Syukurlah. Aku tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi."

Cassie ingin masuk ke kamar, tetapi tiba-tiba, muncul Arnett, Rana, Satellizer, Sasori, dan Kazuya. Mereka berlari menghampiri Naruto dan Cassie.

"Cassie, ini gawat!" seru Arnett kelabakan dengan kedua mata yang membulat.

"Gawat bagaimana, Arnett-senpai?" Cassie mengerutkan kening.

"Naruto, kau ada di sini juga. Lalu pakaianmu itu ... kau jadi pendeta?" Kazuya menunjuk Naruto dengan mulu yang ternganga. Karena perkataannya membuat Arnett menggeram kesal.

"Bukan saatnya bertanya begitu, Kazuya!" bentak Arnett, "kita harus menyelamatkan Amelia-senpai sekarang!"

"Hah? Kenapa dengan Amelia-senpai?" Giliran Cassie yang menganga.

"Amelia-senpai diculik Chevalier dan dihukum karena dianggap mengkhianati Chevalier. Dia membeberkan keganjalan yang terjadi di Chevalier di depan semua orang di lobi tadi pagi," ungkap Arnett dengan muka serius, "aku telah memasang alat penyadap di pakaian Amelia-senpai supaya bisa merekam suara-suara yang terjadi di sana."

"Amelia-senpai dalam bahaya! Kita harus menyelamatkannya sekarang!"

"Tapi, Cassie. Elizabeth belum sembuh. Tidak mungkin kita meninggalkannya." Rana khawatir.

"Tidak apa-apa. Ada Andre yang menjaganya. Ayo, kita tidak ada waktu lagi!" Satellizer yang bergegas pergi meninggalkan teman-temannya.

"Satela-senpai, tunggu!" Kazuya kewalahan mengejar Satellizer dan diikuti Rana dari belakang.

Sasori dan Arnett memandang kepergian Kazuya bersama dua Pandora itu. Mereka pun menjeling Naruto dan Cassie.

"Ayo, kita berangkat juga, Cassie!" ajak Arnett tersenyum, "jika perlu, ajak juga Naruto supaya dia melindungimu sebagai Limiter-mu."

Usai mengatakan itu, Arnett pergi bersama Sasori. Cassie menoleh pada Naruto, menunjukkan muka kusut.

"Kau dengar, 'kan, Naruto. Aku harus pergi ke markas Chevalier untuk menyelamatkan Amelia-senpai, teman baruku yang merupakan anggota E-Pandora. Apa kau ingin ikut denganku dan menjadi Limiter-ku untuk kesempatan kali ini?" Cassie memandang kedua mata biru Naruto dengan penuh harapan. Naruto bergeming, tidak menunjukkan reaksi apa pun. Cassie terpaku dengan muka sedih. "Baiklah. Aku mengerti. Aku pergi dulu!" lanjut Cassie berlari ke ujung koridor.

Naruto yang ditinggalkan, terdiam. Senyuman terukir di wajahnya yang semringah.

.

.

.

Kelompok Arnett pergi ke markas Chevalier dengan menggunakan taksi. Mereka tiba di dekat pegunungan yang sangat jauh dari hotel. Markas Chevalier ada di dalam pegunungan tersebut. Tidak ada penjagaan di luar, memberi kesempatan untuk kelompok Arnett menyusup ke tempat itu.

Tiba di dalam, mereka menemukan ruangan yang sangat luas. Remang-remang karena sedikit cahaya yang menerangi. Arnett dan semua temannya waspada terhadap keadaan sekitar saat berjalan.

"Kita harus pergi kemana?" tanya Rana sambil celangak-celinguk.

"Ssst, diam, Rana-senpai," jawab Kazuya menempelkan telunjuknya ke bibir.

"Iya, Kazuya."

Rana mengatupkan mulut rapat-rapat. Semua orang terdiam, tiba-tiba mendengar suara langkah yang menggema, mendekati mereka. Dari kegelapan, terdengar bunyi pintu yang terbuka. Seorang gadis bermata sipit berpakaian seragam North Genetic datang dari kegelapan. Semua mata membelalak ketika tahu siapa dia.

"Chiffon!" seru semua orang kecuali Chiffon.

"Sudah kuduga, kalian akan datang ke sini juga," sahut Chiffon.

"Chiffon, kenapa kau ada di sini?" Arnett yang bertanya.

"Aku adalah salah satu pendukung E-Pandora yang diundang Chevalier. Proyek ini adalah kegiatan baik yang bertujuan menciptakan evolusi Pandora-Pandora yang lebih kuat dan tidak mudah gugur dalam perang melawan Nova. Coba kalian pikirkan, berapa banyak Pandora dan Limiter yang gugur di setiap tahunnya? Itu mengurangi jumlah manusia yang ada di dunia ini. Jika dibiarkan terus begitu, Nova yang berhasil memusnahkan kita," jelas Chiffon yang berdiri berhadapan dengan kelompok Arnett, "kalian harus mendukung Chevalier juga."

"Itu tidak akan terjadi. Kami menentang Chevalier karena protipe Stigmata yang mereka ciptakan berbahaya untuk gadis-gadis biasa. Itu justru akan mengancam umat manusia!" Satellizer maju dengan muka yang garang.

"Kalau itu keinginan kalian. Tidak ada pilihan lagi. Aku harus menghentikan kalian sekarang juga."

"Aku yang akan melawanmu, Chiffon."

"Aku juga." Rana juga ikut maju dan berdiri di samping Satellizer.

Chiffon tersenyum sembari memunculkan senjata menyerupai tangan mesin bercakar yang berukuran sangat besar. Satellizer dan Rana bersiap dengan mengeluarkan senjata masing-masing. Sebuah senjata mirip pedang besar muncul di tangan Satellizer, sedangkan sarung tangan besi terpasang di dua tangan Rana. Kazuya yang bertindak sebagai Limiter, juga bersiap di belakang Satellizer dan Rana.

"Arnett, kau pergilah bersama Cassie dan Sasori. Cepat selamatkan Amelia!" seru Satellizer.

"Oke!" Arnett menilik Sasori dan Cassie. "Ayo, semuanya!"

Sasori dan Cassie mengangguk. Arnett berlari beriringan dengan mereka berdua. Chiffon balik menyerang ketiga orang itu. Ia berlari sembari melompat.

Trang! Pukulan Chiffon yang hendak mengenai Arnett, ditangkis dengan bilah senjata Satellizer. Wajah Satellizer menyeramkan dengan sorot mata yang tajam. Rambut pirang panjangnya terayun lambat di udara.

"Lawanmu adalah aku, Chiffon!" Satellizer mendorong Chiffon dengan senjatanya sehingga Chiffon terlempar. Chiffon sempat melompat salto dan berhasil mendarat di tempat lain.

"Kau akan menyesal jika melawanku, Satellizer!" Chiffon bergerak melesat menuju Satellizer. Melayang tinju dan berhasil ditangkis dengan senjata Satellizer. Suara dua senjata yang bertabrakan, berdenting keras menggema di kegelapan.

Sementara Arnett, Cassie, dan Sasori dihadang oleh beberapa Pandora yang telah berubah menjadi half-form Nova, tetapi masih seukuran manusia. Sepasang sayap menyerupai sayap pesawat, tumbuh di punggung para gadis half-form Nova. Mata mereka kosong, tak bernyawa. Tubuh mereka dipenuhi kristal berduri berwarna hijau. Mengepung kelompok Arnett dan bersiap akan menyerang.

"Biar aku yang menghadapi mereka, Arnett-senpai. Kau pergilah bersama Sasori," pinta Cassie sambil mengeluarkan Falchion yang terpasang di dua lengannya.

"Tidak. Biar aku dan Sasori yang menghadapinya," tukas Arnett yang membelakangi Cassie, "kau tidak memiliki Limiter dan akan susah menghadapi mereka semua sendirian. Jadi, cepatlah pergi sekarang juga!"

"Tapi, Arnett-senpai..."

"Cepatlah!"

Arnett sudah mengeluarkan senjatanya yang menyerupai tombak sabit bermata satu. Sasori menggunakan freezing untuk menghambat pergerakan para gadis half-form Nova. Cassie mundur dan bergegas berlari meninggalkan mereka. Perasaannya yang tidak tega, terpaksa melakukan ini.

Amelia-senpai, tunggulah aku. Aku akan menyelamatkanmu.

Cassie berlari secepat kilat. Muncul beberapa gadis half-form Nova yang menghadangnya. Ia membungkuk seraya melebarkan kedua tangannya. Melesat bagaikan pilar cahaya yang menebas semua musuh.

Slash! Semua gadis half-form Nova terlempar ke sisi-sisi lorong. Cassie tidak berniat menyakiti mereka, justru kabur untuk menghindari pertarungan. Ada cahaya kecil di ujung lorong, Cassie membulatkan mata.

"Pasti itu tempat Amelia disekap," bisik Cassie. Ia mempercepat larinya hingga mencapai cahaya putih terang itu.

Tiba-tiba, sebuah senjata melayang ke arah Cassie. Gadis berambut hijau tosca itu membelalakkan mata, langsung menghindar. Serangan senjata nyaris mengenai bahu dan lewat di sisi kanan kepalanya.

Cassie berhenti berlari. Ia berlutut dan melihat seorang gadis berpakaian minim serba hitam seperti pakaian renang, berdiri tak jauh darinya. Senjata berupa tombak teracung di dua tangan gadis berambut putih-merah. Cassie membelalakkan mata karena terkesiap.

"A ... Amelia-senpai!" Cassie tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N:

Beberapa chapter lagi, fic ini akan tamat. Terima kasih karena sudah membacanya.

Sabtu, 1 Februari 2020