Angin malam berhembus membelai surai ungu itu. Manik dibalik kacamata tampak memejam menikmatinya. Meskti terlihat tenang, tak pernah ada yang tahu jika saat ini dia dalam tekanan.
"Besok... adalah hari eksekusi..." gumamnya.
Matanya terbuka. Sorot teduhnya entah kenapa malah menyendu. Ada perasaan tak mengenakan menerpa hatinya, seolah berkata apa yang dilakukannya saat ini adalah sebuah kesalahan. Namun, mau bagaimana lagi? Jika dia menolak, maka nasibnya akan sama dengan kedua orang tuanya.
Ingin rasanya dia menjerit saat itu juga. Mengatakan pada sang kakak untuk menghentikan semua ide gilanya. Membuat perhitungan pada dalang yang menjadikan mereka bonekanya.
"Ayah... aku tahu kau masih hidup. Tolong do'akan agar abang tidak bertindak lebih lagi," lirihnya.
"Fang..."
Suara selembut beludru itu mengalun memanggil namanya. Membuat si empunya namanya menoleh untuk melihat siapa yang menyebut namanya.
Saat itu pula, Fang merasakan suatu perasaan yang tak dapat digambarkan. Dadanya terasa sesak dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Sosok di depannya membuat emosinya melonjak. Apa lagi senyum hangat yang sosok itu sunggingkan.
"Bunda.."
"Fang, kamu harus menghentikan kakakmu. Jangan biarin dia semakin jatuh dalam kubangan dendam yang tidak beralasan. Buat dia mengetahui semua kebenarannya. Jangan sampai orang lain menjadi korban. Bunda percaya sama kamu," ujar Bunda seraya mengelus pipi Fang.
Fang tidak mengatakan apapun. Dia hanya menganggukan kepalanya dengan air mata yang sudah mengalir.
"Bunda sayang kalian."
A BoBoiBoy fanfiction proudly present
"Programmer of Love"
-- Halilintar x Yaya --
-- BOOM --
Terlihat di ruangan dosen milik Halilintar, laki-laki itu tampak sibuk di depan komputer. Jemarinya menari dengan cepat di atas keyboard. Sorot matanya sangat serius saat melihat ke arah monitor. Entah apa yang dilihatnya, tapi sepertinya sangat penting.
Kring!!
"Halo?"
"Halo, bagaimana perkembanganmu?"
"Sudah lebih baik. Kau bagaimana? Apa ada hal yang ingin kau laporkan padaku?"
"Ya. Aku hanya akan memberimu beberapa clue saja. Tapi, aku harap kau langsung paham."
"Apa itu?" tanya Halilintar tenang.
Orang disebrang terdiam sejenak, ia kembali melanjutkan. "Akan ada hal besar yang menggemparkan malam ini."
Halilintar tercenung. Kepalanya mulai berdenyut merasa pusing dengan permasalahan yang malah semakin rumit. Terlebih, sampai saat ini dia belum bisa menyelamatkan Yaya.
Bukannya dia tidak bisa, hanya saja waktunya belum pas saja. Terlebih, Halilintar tahu jika selama ini dia selalu dipantau jika berada di area kampus. Banyak sekali cctv yang mengintai segala kegiatannya. Membuatnya sedikit jengah dan risih. Tapi, ada bagusnya juga karena dirinya juga bisa meretas cctv itu.
Drrt... Drrt...
Jam tangan yang dikenakannya bergetar. Saat melihatnya, ternyata ada sebuah notifikasi. Dengan cepat dia membuka notifikasi dari jam hi-tech itu.
"Hali, saya ingin memberitahumu bahwa Tuan Amato dan Tuan Huang dalam keadaan yang bisa dibilang cukup baik. Tapi, saya harap kamu cepat-cepat menyelamatkan mereka. Kamu hanya punya waktu sampai malam ini. Dan untuk urusan 'Gadis kecil'mu itu, ada seseorang yang akan membantu. Bergerak cepat!" ucap seorang pria berambut blonde dengan mata biru dibalik kacamata itu.
Pets!
Halilintar menghela napas kasar. Entah kenapa dia benci dengan keadaan seperti ini. Tua bangka itu benar-benar ingin mengajaknya 'bermain' dalam 'permainan'nya.
Kepalanya yang tertunduk perlahan terangkat. Menampakan wajah rupawan dengan sebuah seringai yang tampak menyeramkan. Manik delimanya berkilat tajam.
"Jika pria itu ingin bermain, maka dia mencari lawan yang salah. Jangan pikir karena aku masih muda dapat dibohongi dengan cara rendahan seperti ini?" ujarnya dengan tatapan merendahkan.
Setelah itu, Halilintar beranjak dari ruangannya dengan langkah santai seolah tidak apa-apa. Bahkan dia masih bisa mengulas senyum miring ke arah cctv yang dipantau oleh rektor Retak'ka.
.
.
.
.
.
.
.
Ying, Shielda, Gopal, Ice dan dua komting Blaze dan Solar tengah berkumpul di gazebo kampus. Tatapan keempat orang itu menghunus tajam pada Blaze dan Solar yang kini terlihat gugup sampai berkeringat.
Dengan gugup, Solar bertanya. "Kalian itu kenapa si natap kek gitu sama kami? Serem tahu!" tanyanya sedikit ketus.
Shielda tidak perduli. "Kami cuma mau nanya sesuatu sama kalian berdua. Apa kalian tahu sesuatu tentang Yaya? Sudah tiga hari dia menghilang."
Blaze dan Solar saling bertatapan. Mereka seperti berbicara lewat sorot mata, dan semua itu tak luput dari pengelihatan keempat sahabat mereka.
"Jawab! Kenapa malah saling adu tatapan? Kalian tahu, kan? Jawab! Aku cemas tahu!" sergah Ying dengan mata melotot.
Blaze tersentak. Ia berdehem sejenak, "kalau pun kami tahu apa ada urusannya sama kalian?" tanyanya ketus.
Keempat orang itu membelalakan mata tidak percaya. Kenapa Blaze bisa berkata kejam seperti itu?
Karena emosi, Gopal menghampiri laki-laki itu dan langsung mencengkram kerah jaket tanpa lengan milik Blaze. Wajah laki-laki berdarah India itu tampak memerah.
"Kau sadar dengan apa yang bilang barusan!? Kau sadar hah?! Gampang sekali kau tanya apa ada urusannya dengan kami?! Tentu saja bodoh! Kami itu sahabat Yaya juga! Bahkan Ying sudah berteman dengan Yaya sejak SD. Kenapa kalian kayak gitu sama kami?! Hah?!" seru Gopal murka.
Blaze tak berani berujar karena apa yang dikatakan Gopal ada benarnya. Hanya saja, dia juga terpaksa mengatakan hal itu agar mereka tidak terlibat dengan semua kekacauan yang kini terjadi. Juga untuk mencegah agar desas-desus peledakan RIU Fakultas Informatika ketahuan.
Blaze hanya tidak mau semua sahabatnya malah ikut juga. Cukup dirinya dan Solar serta Yaya.
Ying berusaha melepas cengkraman Gopal pada Blaze. Ia tidak ingin ada keributan di pagi hari seperti ini.
"Cukup, Pal. Cukup. Dengan kekerasan gak bakal nyelesain masalah," lerai Ying.
"Tapi, Ying, mereka bilang kita gak ada urusan sama masalah ini! Gimana aku nggak marah coba!?" sergah Gopal masih emosi.
"Aku setuju dengan Gopal. Mereka kayak nggak nganggap kita itu sahabat Yaya, dan aku nggak terima." Shielda melirik Ice yang sejak tadi diam saja, "Ice, gimana menurutmu?"
Laki-laki yang memakai topi hampir menutupi seluruh wajahnya itu menatap dingin dan malas mereka semua. Lalu, pandangannya terarah pada Solar yang tengah membantu Blaze.
Cukup lama dia terdiam sampai akhirnya angkat suara. Namun, apa yang dikatakannya membuat mereka semua terkaget.
"Menurutku mereka ada benarnya. Ini bukan masalah kita adalah sahabat Yaya atau bukan. Tapi, ini masalah apa kita punya urusan yang sama dengan ketiga komting itu? Mereka bukan nggak mau bilang yang sebenarnya sama kita, hanya saja urusan mereka itu memang harus dirahasiakan. Jadi, mau kita maksa kayak gimana pun mereka akan tetap bungkam," jelas Ice yang TUMBEN bicara panjang lebar.
Mereka mencerna apa yang sudah Ice katakan. Solar bertatapan dengan Ice dan mengangguk sekilas. Ice pun membalas dengan hal yang sama.
Blaze mengusap lehernya dan melirik kesal pada semua sahabatnya itu. "Sekarang kalian pahamkan? Aku bukannya gak mau ngasih tahu, cuma ini memang rahasia. Aku hanya berpesan pada kalian untuk hati-hati," katanya.
Shielda mengernyit tak paham. "Kenapa?"
"Ikuti saja apa yang aku katakan. Ini demi keselamatan kalian—tidak keselamatan satu fakultas." Blaze menatap serius pada mereka.
Drrt... Drrt...
Ponsel Solar bergetar, dengan cepat dia menerima sambungan itu.
"Halo?..… Apa? Baiklah, kami akan segera ke sana... Baik. Kami mengerti... Siap!"
Solar meletakan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Ia melirik pada Blaze.
Yang dilirik paham dengan kode itu. Ia menatap pada keempat sahabatnya. "Guys, kayaknya kami berdua harus pergi. Ada hal yang mendesak." Blaze menarik lengan Solar. Tapi, baru satu langkah dia berbalik. "Aku pesankan sekali lagi pada kalian. Hati-hati. Bye," katanya lalu kembali melanjutkan langkah.
Ying dan ketiga lainnya hanya memandang kepergian Solar dan Blaze dengan pandangan tanya. Hanya ada satu pertanyaan dalam kepala mereka.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Pertanyaan itu tak pernah mereka suarakan. Entah kenapa, mereka merasa memang tidak ada urusannya seperti yang dikatakan oleh Blaze. Tapi, tetap saja mereka cemas dengan Yaya.
.
.
.
.
.
.
.
Di tempat Yaya di sekap, gadis itu masih berusaha untuk bisa meloloskan diri. Tapi, ikatan dikedua tangan dan kakinya itu mengganggu sekali. Terlalu kuat. Maka dari itu, Yaya dengan susah payah mengurai ikatan itu dengan menggerak-gerakan tangannya agar ikatan itu sedikit kendor.
Tap... Tap... Tap...
Terdengar suara derap langkah kaki berjalan ke arahnya. Yaya menajamkan pendengarannya.
Ceklek! Kriet...!
Pintu ruangannya terbuka. Yaya melihat sosok yang berjalan menghampirinya. Gadis itu memperhatikan sosok itu.
Dia berhenti di hadapan Yaya dengan sebuah seringai yang bermain di bibirnya. Wajah yang terhalang setengah topeng itu mendekat pada wajah Yaya, membuat gadis itu terpaksa menjauhkan kepalanya.
Sosok itu mendengus. "Kenapa gadis manis? Kau menghindariku? Bukankah kau menyukaiku?" tanyanya dengan nada menggoda.
Yaya memalingkan wajah ke arah sosok itu dan menatapnya tajam. Ingin sekali dia berteriak keras pada sosok didepannya. Tapi, selotip yang membungkam mulutnya sangat mengganggu.
Tahu jika Yaya tidak dapat membalas, sosok dengan topeng kabuki itu mengulurkan tangannya untuk melepas selotip yang menutup mulut Yaya dengan lembut.
Bats!
Akhirnya Yaya dapat bernapas lega setelah selotip itu membuat mulutnya kebas.
"Nah, sekarang kau bisa bicara, jadi kenapa hm?" tanyanya lagi.
Yaya masih menatap tajam sosok itu. "Sialan sekali! Apa tujuanmu menculikku, Kak Kaizo?"
Sosok itu terkekeh kecil. Ia melepas topeng yang menyembunyikan wajahnya. Perlahan wajah itu memperlihat sosok aslinya. Rambut ungu pantat ayam yang khas dengan mata amethyst yang menawan.
Yaya mendengus pelan. Laki-laki didepannya itu sangat menyebalkan. Dia jadi menyesal pernah kagum pada Kaizo. Apa lagi, setelah tahu kalo kakak tingkatnya itu memiliki kelainan DID di mana kepribadian lainnya benar-benar mengesalkan.
Ia melihat pada Kaizo. "Jadi, kapan aku akan dibebasin..." Yaya menelengkan kepalanya ke kanan, "Kak Kassim?"
Kaizo atau Kassim kembali tertawa. Menandakan nama yang disebu Yaya itu memang benar.
"Kau akan aku bebasin kok." Kassim mengelus pipu Yaya singkat. Senyum menawan di bibirnya perlahan memudar. "Tapi, setelah Halilintar dan Fakultas Informatika RIU meledak," sambungnya datar.
"Kenapa kau ingin meledakannya? Dan apa hubungannya denganku?" Yaya menatap bingung.
Kassim mengalihkan pandangannya keluar jendela yang terkunci. Lalu, kembali menatap Yaya hina.
"Tentu saja karena kau adalah 'Gadis kecil' dari Halilintar," ujarnya dengan suara tertahan. Kassim membalikan tubuhnya lalu berjalan meninggalkan Yaya yang termenung.
Yaya menatap punggung tegap yang perlahan menghilang dibalik pintu itu. Lalu, kepalanya tertunduk memikirkan apa yang dikatakan Kassi terakhir.
"Aku?" beonya pelan. Tiba-tiba saja dia merasakan ada seseorang yang melihat ke arahnya.
OwO
Malam hari, sekumpulan orang sudah bersiaga di setiap sudut Fakultas Informatika. Mereka mulai meretas semua cctv yang ada di sana dan meletakan beberapa bom rakitan di setiap sudut.
Sedangkan beberapa mahasiswa dan tenaga kerja lainnya yang masih ada kegiatan di kampus tidak menyadari hal tersebut. Memudahkan para teroris itu melancarkan aksinya.
Seseorang berpakaian gelap yang berada di atap gedung dekan memberi isyarat pada beberapa rekannya untuk melakukan sesuatu yang dapat membuat semua orang panik. Mereka mengangguk paham dan mulai bergerak.
Salah satu dari teroris itu menembakan senapan laras panjangnya ke atas untuk memberi efek kejut.
Dor!!
"Aaaa!!!" Beberapa mahasiswa mulai panik, terutama yang perempuan.
Dor!!
Sekali lagi suara tembakan terdengar mengudara memekakan telinga. Menambah kepanikan semua orang yang masih ada di sana. Begitu pun dengan Ying, Shielda, Gopal dan Ice.
"Sebenarnya ada apa ini?!" tanya Gopal panik.
"Aku gak tahu!" balas Ying juga panik.
"SHIEL!!"
Shielda menoleh cepat saat seseorang memanggil namanya. Tampaklah kakaknya yang berlari menghampirinya dengan raut cemas bersama temannya, Ricky.
"Kak Sai?" beo Shielda.
Sai langsung memeluk Shielda saat sampai di hadapan adik perempuannya. Tubuh kakaknya itu gemetaran saking takutnya jika terjadi sesuatu pada sang adik.
"Kau baik-baik saja? Apa ada yang luka?" tanya Sai beruntun.
"Aku baik-baik saja, Kak," jawab Shielda pelan. Ia membalas pelukan kakaknya untuk menenangkan kepanikan Sai.
Gopal menghampiri dua bersaudara itu bersama Ying dan Ice. "Sebenarnya ada apa, Kak?" tanyanya bingung.
"Aku juga gak tahu. Tapi, yang pasti sekarang kita harus cari tempat aman. Jangan ada disekitaran gedung fakultas. Berbahaya!" Sai menatap serius semua adik tingkatnya.
"Kenapa?" tanya Ice akhirnya.
"Karena ada problem di sini," lirih Sai dengan tatapan teduh.
Dor!!
"Ayo!"
Mereka semua langsung berlari menjauh dari gedung fakultas. Suara tembakan itu membuat mereka kalang kabut berlari mengindar. Tidak perduli saling bertabrakan, yang penting mereka selamat.
.
.
.
.
.
Taufan dan salah satu sepupunya yang bermata kuning kebiruan tengah berjalan mengendap-endap di lorong suatu gedung. Sebuah ear piece terpasang ditelinga mereka. Alat tersebut berguna untuk mendengarkan intruksi dari jarak jauh.
"Psst, Glac, bagaimana?" tanya Taufan berbisik.
Glac alias Glacier menoleh pada Taufan lempeng. Ia memberi isyarat pada kakak sepupunya. "Sabar, Kak. Kita harus ikuti intruksi dari Supra. Jangan sampai gegabah," katanya datar.
Taufan menghela napas lelah, tapi mengangguk juga. Keduanya kembali berjalan menuju suatu ruangan.
Pelan... langkah mereka begitu hening. Lalu, setelah sampai di tempat yang dituju, mereka bersembunyi.
"Tentu saja karena kau 'Gadis kecil' Halilintar."
"Hah?"
"Ada apa?" tanya Glacier heran.
"Bukan apa-apa. Sebaiknya kita bergerak cepat."
"Hm."
.
.
.
.
Halilintar bersama dengan laki-laki yang menghubunginya lewat jam hi-tech itu kini berada di suatu gedung. Keduanya melangkah masuk ke dalam setelah mendapat informasi hasil retasannya selama ini.
"Apa kita akan baik-baik saja? Aku yakin si Tua itu sudah menyiapkan jebakan." Halilintar berujar dingin.
"I know. Tapi, setidaknya kita harus bisa menyeret orang itu agar berhenti melakukan hal menyebalkan yang merugikan oranh lain. Terlebih, sekarang dia menjadikan orang sakit sebagi pionnya. Its so crazy, right?" ujar laki-laki berambut pirang bernama Ochobot.
"Kau benar." Halilintar mengangguk. Tangannya yang tersembunyi dibalik saku jaket merah itu memeganh erat pistol yang akan digunakan olehnya untuk jaga-jaga jika Si Tua Bangka itu bergerak.
Keduanya kembali terdiam. Lalu, Ochobot kembali membuka suara. Namun, belum sempat bersuara, sebuah tembakan hampir saja mengenai keduanya jika mereka telat menghindar.
Prok! Prok! Prok!
Suara tepuk tangan menggema di ruangan itu. Halilintar dan Ochobot segera mengalihkan tatapan mereka pada seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka dengan tangan yang memegang pistol.
"Cukup gesit," pujinya dengan tatapan menghina.
"Kau..." Halilintar mendesis geram. "Mana ayahku?"
"Amato?" Pria itu terkekeh. "Ku pikir kau lupa dengan ayahmu sejak lima tahun. Ternyata kau anak yang berbakti. Aku terkesan."
"Diam kau!" geramnya.
"Ahahahhaha..." Pria itu tertawa."Ayahmu baik-baik saja," katanya.
Pria itu menaruh kembali pistolnya ke dalam jas. Lalu, membenahi jasnya dan menatap ramah pada dua anak muda di hadapannya. "Kalau kau mau menemui mereka, ikuti aku," ajaknya.
Pria itu berjalan meninggalkan keduanya. Halilintar dan Ochobot saling bertatapan dan sepakat mengikuti pria itu. Keduanya tetap waspada.
Akhirnya mereka sampai di tempat yang ditunjukan oleh pria itu. Halilintar dan Ochobot menatap seisi ruangan yang didominasi alat-alat dan tabung-tabung yang besar. Singkatnya mirip sekali dengan laboratorium.
Duk! Duk!
Halilintar menolehkan kepalanya saat mendengar seseorang mengetuk-ngetuk. Sedetik kemudian dia membelalak kaget saat melihat manusia yang berada dalam tabung itu. Wajahnya yang sangat dirindukannya sejak lima tahun lalu.
"Ayah," panggilnya lirih.
"Woah... ada drama yang mengharukan. Setelah lima tahun akhirnya ayah dan anak bertemu jua," ledek pria yanh diketahui bernama Retak'ka. Rektor Rintis Island University.
Halilintar menghampiri dua tabung besar itu. Di sana juga ada ayah dari Fang dan Kaizo. Tuan Huang.
"Ayah.. sabar ya, Ali bakalan bebasin ayah sama Paman Huang," katanya lembut.
Amato dan Huang mengangguk.
"Kau akan membebaskan mereka setelah melihat peledakan fakultas IF yang akan dilakukan oleh Kaizo," ujar Retak'ka. Ia mengambil remot dan menyalakan monitor.
Monitor besar di hadapan mereka menyala. Tampaklah keadaan kacau dan panik di kampus. Para penghuninya berlarian ke sana kemari. Beberapa kali terdengar tembakan yang saling bersahutan.
Retak'kan menoleh pada mereka dengan seringai lebar yang menyeramkan. "Kita akan menyaksikan ledakan hebat sepanjang sejarah Kampus Rintis Island University."
"Apa alasanmu ingin melakukan hal ini?" tanya Ochobot dingin.
"Karena aku benci saat orang lain berada diatas keberhasilanku. Apa lagi dengan keluarga Huang. Aku benar-benar membencinya."
"Kau orang yang bermasalah dengan kejiwaan," ujar Ochobot miris. Retak'ka malah tertawa seram.
"I don't care. Aku hanya senang melihat orang lain menderita."
.
.
.
.
Fang menatap sang kakak yang kini sudah siap dengan laptop di depannya. Kaizo hanya tinggal menekan tombol enter dan bom pun siap meledak. Namun, niatannya tertahan saat Fang menghampirinya.
"Abang, jangan."
Kassim menatap aneh adiknya itu. Kenapa Fang malah melarangnya. "Kenapa kau melarangku?"
"Jangan lakuin itu, bang. Bunda gak suka," kata Fang pelan.
"Jangan halangin aku. Aku harus membalas mereka semua yang udah bikin kita menderita. Mereka harus merasakan apa yang udah terjadi pada kita lima tahun lalu!" sentak Kassim.
"Tapi abang jangan karena hasutan orang jadi kayak gini!" balas Fang.
"Apa perdulimu hah?!"
"Karena aku sayang abang!"
Kassim tersentak. Pupil matanya membesar setelah mendengar ungkapan Fang barusan.
Tiba-tiba saja kepala laki-laki itu terasa pusing sekali. Tangannya memegang sisi kepalanya dan merintih pelan. Kassim berontak saat kepribadian asli ingin mengambil alih kembali.
Fang menatap cemas kakaknya. "Abang kenapa?"
"Sakit...!!!" rintihnya.
"ABANG!"
Karena bergerak random, tanpa sengaja Kakak dari Fang itu menekan tombol enter pada laptop. Fang yang melihat itu kaget luar biasa.
"JANGAN!!"
BOOM!
To be continued
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aloha!
Akhirnya April bisa apdet part baru Programmer of Love. Part ini lumayan panjang juga ya? Wkwkwkw.. btw makasih buat yang selalu nungguin fic ini. April nggak nyangka bakalan ada yang suka sama cerita buatan April. Padahal, awalnya April pesimis. Tapi, karena tekad dan kemauan April nulis, akhirnya dengan nekad April publish fic ini.
Dan... April bersyukur banget lumayan banyak yang baca. Ehe.
Oh ya, kalo ingin silaturahmi dengan April bisa lewat ig April. Zarina_aprilia22 atau lewat WA
0821-2845-3820.. ehe... yuk! banyakin teman.
P.S Tinggal dua sampai tiga part lagi fic ini tamat.. bocoran, chapter depan bakalan ada scene yang agak melow sama bikin gemes..
See you in next part
Love You
*RnR Please*
