Heiihoo~
Selamat membaca semua ^^
Sorry for typo
.
.
Because of YOU
Chapter 16 (Last Chapter!)
.
.
"Apa kedekatan kita harus dalam status suatu hubungan?"
Kata-kata itu terus melayang-layang di pikiran Sehun sejak kembali ke rumah. Sudah dua hari juga Luhan tidak menghubunginya ataupun Sehun yang berusaha menghubungi Luhan. Sehun sebenarnya kecewa dengan pertanyaan Luhan tersebut. Ia tulus menyayangi Luhan, tetapi sepertinya Luhan tidak seserius itu dengannya. Sehun sadar bahwa mereka belum pasti menjadi pasangan yang ditakdirkan bersama, tetapi apakah salah jika hanya berpikir ke arah sana? Ke arah yang positif dan optimis?
Sehun duduk di pinggiran ranjang sambil memandangi ponselnya, membuka aplikasi chat dan membuka kontak Luhan, tak lama ia menutupnya kembali. Begitu terus kegiatan yang ia lakukan selama 2 jam terakhir.
"Aku bisa gila!" keluh Sehun, ia melempar ponselnya ke sebelah lalu menutup matanya.
Tok tok tok
"Tuan muda…"
"Masuk…" suara Sehun terdengar malas, maid yang mengetuk pintunya pun masuk.
Sehun masih berbaring di ranjangnya, "ada apa Ajumma?" tanyanya tanpa melihat pada maid tersebut.
"Tuan muda, kekasih Anda ada di ruang tamu?"
Sehun membuka matanya, 'kekasih?' pikir Sehun, lalu ia mendudukkan dirinya dan menatap sang maid bertanya-tanya. "Nona yang waktu itu kemari. Bukankah dia kekasih Tuan muda?"
'Apa Luhan?' pikir Sehun lagi. Tapi sepertinya Sehun masih tidak percaya jika Luhan mengunjunginya. "Kalau begitu aku akan ke bawah. Terima kasih Ajumma," ucap Sehun lalu membiarkan maid-nya keluar. Setidaknya ia harus turun, membuktikan sendiri apa benar Luhan mengunjunginya.
Beberapa menit kemudian, Sehun turun dari kamarnya dengan pakaian yang lebih layak untuk menyambut tamu. Dari tangga, Sehun sudah bisa melihat siapa yang mengunjunginya. "Luhan?" panggil Sehun. Ia terkejut, sungguh, sudah dua hari mereka tidak berkomunikasi dan sekarang tiba-tiba Luhan ada di hadapannya membuat Sehun tak tahu harus bersikap bagaimana. Apalagi terakhir kali, Sehun tidak bisa mengendalikan emosinya hingga bersikap dingin pada Luhan.
Luhan menatap Sehun dengan senyuman tipisnya, "Sehun…"
Sehun duduk di sofa sebelah Luhan, "a-ada apa?" tanya Sehun canggung.
"Maafkan aku…" ucap Luhan tiba-tiba.
"Mwo? Untuk apa?" tanya Sehun heran.
"Kemarin sepertinya aku menyakitimu karena mengatakan pertanyaan yang tidak seharusnya. Mianhae…" jawab Luhan.
"Hm, kau memang keterlaluan." Jawaban Sehun membuat Luhan tersenyum pahit, 'sampai kapan aku menyakitimu seperti itu…' gumam Luhan. "Tapi… apa kau bisa memberitahu alasannya?" tanya Sehun lagi, "setidaknya aku tahu alasanmu menanyakan itu–"
"Aku akan mengatakannya, tapi tidak sekarang." Ucap Luhan sambil menatap Sehun meyakinkan.
"Lalu kapan?" tanya Sehun.
"Beri aku waktu… bolehkah?" pinta Luhan.
Sehun tersenyum lalu mengusak puncak kepala Luhan dengan lembut, "terserah padamu, aku hanya perlu menunggu kan?"
"Gomawo…" ucap Luhan, lalu ia tersenyum.
"Kalau begitu aku juga minta maaf," ucap Sehun. Luhan mengerjapkan matanya sambil menatap Sehun tidak mengerti. Sehun tersenyum dibuatnya, "maaf karena kemarin aku mendiamkanmu."
Luhan masih tidak mengerti, mengapa Sehun harus meminta maaf? Padahal yang membuat Sehun mendiamkannya adalah Luhan sendiri. "Lalu?" tanya Luhan polos.
Sehun mencubit kedua pipi Luhan dengan gemas, membuat Luhan mendelik sebal padanya. "Ya!" pekik Luhan.
"Mau ke kamarku?" tawar Sehun.
Luhan tiba-tiba gugup memikirkan kamar Sehun, padahal sebelumnya ia pernah ke sana. "W-wae?" tanyanya.
Sehun mendekat pada Luhan lalu membisikkan sesuatu, "di sini banyak mata yang memerhatikan." Lalu Sehun kembali ke posisi awalnya, "heran, memangnya mereka tidak ada kerjaan?" kekeh Sehun. Ya, sebenarnya Sehun sadar sedaritadi banyak maid yang mengintip diam-diam dan berbisik-bisik. Bukan dalam maksud buruk, hanya saja mereka takjub tuan muda di rumah mereka benar-benar memiliki kekasih. Yahh, meski sebutan 'kekasih' itu tidak benar. Hahaha.
"Kkajja…" Sehun menggenggam tangan Luhan dan mengajaknya pergi. Benar saja, pekikkan kecil terdengar dari arah pintu luar. Sehun mendengus, "benarkan kataku?" Luhan yang terkejut dengan pekikkan kecil itu lantas mendekatkan dirinya lalu menyembunyikan wajahnya pada lengan Sehun.
..
..
"Kau mau tahu rahasia di kamarku?" tanya Sehun.
"Memangnya apa?" tanya Luhan.
Sehun menuju ke lemari bukunya lalu menarik tuas yang tersembuyi di balik beberapa buku. Seketika, rak buku itu bergeser membuka pintu menuju ke ruangan lainnya.
Mata Luhan membulat seketika, "whoaa… ruang apa ini?" tanya Luhan takjub.
"Masuk saja,"
Keduanya masuk ke ruang lain di sana. Ruangan itu cukup luas dengan 4 rak buku tinggi. Terdapat banyak komik, buku-buku refrensi, dan berbagai CD musik. Di sana juga terdapat banyak pajangan karakter yang Luhan sediri tidak tahu namanya.
"Kau yang mengoleksi semua ini?" tanya Luhan.
Sehun menggeleng, "ani… ini milik Baba,"
"Baba?" tanya Luhan.
"Sebenarnya ayah kandungku adalah orang Cina. Ia bercerai dengan ibu saat umurku 8 tahun, kemudian ibuku menikah lagi dengan ayahku yang sekarang." Jelas Sehun.
Luhan mengangguk, ia tahu prihal orangtua Sehun yang bercerai, tetapi Luhan tidak tahu jika Sehun adalah keturunan Cina-Korea sama sepertinya. "Lalu, mengapa milik Baba-mu ada di sini?"
Sehun tertawa, "aku mengambilnya dari rumah lama di Cina, tapi Eomma tidak menyukainya dan hampir membakar semua ini. Untung saja aku berhasil menyelamatkannya."
"Lalu, apa kau masih berhubungan dengan Baba-mu?" tanya Luhan.
Sehun tersenyum lalu menatap Luhan, "ia sudah tidak ada, Baba sakit tanpa memberitahu siapapun. Mungkin waktu mereka bercerai, aku membencinya, tetapi di saat terakhir, Baba masih juga sendiri. Tidak ada siapapun bersamanya. Karena itu, aku merasa bersalah sudah membencinya, sebagai gantinya aku membawa seluruh koleksinya kemari."
Perlahan Luhan melingkarkan tangannya ke pinggang Sehun lalu menyandarkan kepalanya, "kau melawati hal sulit saat kecil. Kau sudah berusaha…" ucap Luhan. Sehun tersenyum, menyenangkan memiliki seseorang yang bisa diajaknya berbagi.
"Lalu, bagaimana dengan Baba-mu? Aku tidak pernah mendengarmu bercerita mengenai Baba-mu?" tanya Sehun.
"Itu karena aku tidak memiliki kenangan apapun dengannya… Baba, pergi meninggalkan kami tanpa meninggalkan kenangan berarti. Rasanya aku tidak pernah mengenal siapa Baba." Jawab Luhan. Ia mengeratkan pelukkannya pada Sehun. 'Maka itu Sehun… biarkan aku merangkai kenangan berarti denganmu, sebelum aku tak bisa bersamamu lagi.' Gumam Luhan dalam hati.
Sehun memeluk Luhan lalu mengecup puncak kepalanya, "mianhae… aku membuatmu sedih?"
Luhan menggeleng, "aniya, aku juga tidak bisa bersedih lagi karena sudah terbiasa dengan kekosongan itu."
"Hmm… kau mau membaca komik?" tawar Sehun.
"Luhan mendongakkan kepalanya menatap Sehun, "apa ada komik Doraemon?"
Sehun tertawa lalu menyentil hidung Luhan gemas, "kau pikir Baba-ku anak kecil yang mengoleksi seperti itu?"
Luhan mempoutkan bibirnya, "aku kan hanya tau Doraemon."
Sehun kembali tertawa, "kalau begitu aku rekomendasikan cerita yang menarik."
Keduanya pun kini duduk di matras yang tersedia di sana. Sebenarnya di ruangan tersebut terdapat ranjang single dengan tambahan matras di bawahnya. Luhan saat ini sangat serius dengan bacaannya, sedangkan Sehun sedang turun ke dapur untuk mengambilkan minum dan camilan untuk mereka.
Ketika Sehun kembali, Luhan tidak juga berubah sedikitpun dari tempatnya dan masih dengan pose yang sama. Sehun tersenyum, "apa semenarik itu ceritanya?" tanya Sehun.
Luhan tidak menjawabnya, ia mengabaikan Sehun karena asik membaca komiknya yang sudah pada bagian yang seru. "Minum…" Sehun menyodorkan jus jeruk yang ia bawa pada Luhan. Tanpa diduga, Luhan menyambutnya, meminumnya seperti orang kehausan tanpa mengalihkan pandangan dari komiknya.
Sehun tertawa saat Luhan kembali menyodorkan gelasnya, "astaga, apa aku diabaikan?"
"Kau yang membuatku mengabaikanmu," jawab Luhan singkat tanpa tertarik untuk menatap Sehun.
"Yahh, ini memang salahku," kekeh Sehun. Merasa diabaikan, akhirnya Sehun hanya menumpukan wajahnya pada ranjang di sana dan menatap Luhan yang tengah serius membaca. Memandang Luhan dari dekat memang kegemaran terbarunya saat ini. Ia lebih memilih untuk diam, menikmati kesukaannya daripada membaca komik yang jelas-jelas hobi tersembunyinya sejak dulu.
Luhan menutup membalik lembaran terakhir komiknya, akhirnya ia menutup komiknya setelah kira-kira setengah jam membacanya. Ia terkejut ketika menemukan Sehun tertidur di sebelahnya sambil menghadap padanya. "Apa aku terlalu lama mengabaikannya?" tanya Luhan pada dirinya.
Luhan meletakkan komiknya lalu menyandarkan kepalanya ke pinggiran ranjang seperti Sehun. Ia menatap Sehun yang tertidur lelap, mencoba mengingat wajah Sehun dengan baik.
Tak lama, Sehun membuka matanya, ia tersenyum menemukan Luhan yang tengah menatapnya. "Sudah selesai membacanya?" tanya Sehun.
Luhan sedikit memerah karena ketahuan sedang memerhatikan Sehun, "hm, mian."
"Kenapa kau terus-terusan meminta maaf?" kekeh Sehun.
"Mian…" Luhan merutuki dirinya yang tidak bisa mengatakan hal lain. Ia terlalu gugup, tetapi ia tidak mau mengangkat kepalanya.
"Lu…" panggil Sehun.
"Hm?"
"Jangan marah ya setelah ini?"
Luhan mengerutkan keningnya, "hm?"
Sehun memajukan wajahnya, menggapai bibir Luhan yang menggodanya sedaritadi. Luhan membulatkan matanya, bibir tipis Sehun terasa hangat dan menggelitik di bibirnya. Luhan memundurkan kepalanya dan hampir kehilangan keseimbangan karena terkejut dengan serangan Sehun yang tiba-tiba, tetapi Sehun berhasil menahan leher belakangnya.
Sehun membuka sedikit bibirnya, melumat bibir manis yang entah sejak kapan sudah menjadi candunya. Perlahan Luhan menutup matanya, membiarkan Sehun merasakan bibirnya lebih lama. Kini ruang rahasia itu kini terasa lebih panas dan rasanya oksigen di sekitar mereka mulai menipis. Sehun melepaskan bibir Luhan dan tersenyum melihat Luhan membuka matanya dan terengah dengan pipi semerah tomat.
Sehun mengusap pipi merah Luhan dengan tangan lainnya yang bebas. Ia menatap dalam pada mata Luhan yang terlihat mengecil, "aku menyukaimu, Lu. Aku benar-benar menyukaimu." Bisiknya. Luhan menatap mata Sehun, ia menemukan ketulusan di sana, yang membuatnya merasa sangat bersalah.
Luhan menunduk, mencoba menyembunyikan air matanya yang terlanjur jatuh bebas. Sejujurnya Sehun terus menyatakan perasaannya untuk mengetahui perasaan Luhan yang sebenarnya. Berkali-kali ia mengatakannya, tetapi ia tidak pernah mengetahui perasaan Luhan yang sesungguhnya. Luhan selalu terlihat ragu-ragu ketika bersamanya meski senyum dan tingkahnya menutupi itu. Ia tidak butuh Luhan yang seakan-akan baik-baik saja, tetapi ia butuh penjelasan dari gadis yang disayanginya.
Luhan mengusap air matanya dengan cepat lalu mengangkat kepalanya menatap Sehun dengan mata sedikit basahnya. Ia tersenyum lalu dengan tiba-tiba memeluk Sehun tanpa menjawabnya kecuali mengeluarkan kata-kata yang Sehun bukan ingin dengar. "Hm, aku tahu. Terima kasih karena terus menyukaiku, Sehun-ah…"
Sehun mengepalkan tangannya, bahkan Luhan seperti mengalihkan ungkapan perasaannya. Sehun ingin bertanya bagaimana perasaan Luhan untuknya, apakah masih sama? Tetapi ia tidak berani melakukannya, ia takut dengan respon Luhan jika masih mengalihkan pembicaraan. Aroma Luhan menguar dalam penciuman Sehun, aroma yang membuatnya kembali tenang. Sehun mengusak kepala belakang Luhan membuat Luhan mengendurkan pelukannya pada Sehun. Mata keduanya bertemu, Sehun terus menatap mata basah Luhan, mencoba menggali lebih dalam perasaan Luhan. Nihil, Sehun tidak bisa menjangkaunya, Luhan terlalu kuat menutupinya.
"Wae?" tanya Luhan.
Sehun menggeleng, "aniya. Hanya berpikir apakah tindakanku benar." Luhan mengerutkan keningnya pertanda tidak mengerti. 'Apakah aku sudah benar karena tidak menanyakan perasaanmu padaku?' gumam Sehun.
"Sehun-ah, kenapa kau menyukaiku?" tanya Luhan.
Sehun sedikit terkejut dengan pertanyaan Luhan, awalnya Sehun tidak pernah mencari mengapa ia menyukai Luhan, tetapi sepertinya kali ini ia tahu. "Aku menyukaimu karena itu adalah kau. Aku selalu ingin selalu bersamamu, di sampingmu, tertawa bersamamu, berbagi kebahagiaan bersama, dan berbagi kesedihan bersama. Rasanya aku tidak akan pernah tahu rasa menyukai seseorang jika itu bukan dirimu."
"Aku harap aku bisa terus bersamamu," ucap Luhan meski ia tahu itu semua hanya sebuah harapan tanpa masa depan. 'Jika itu alasanmu, maka sangat sulit bagiku untuk membiarkanmu terus menyukaiku, Sehun' gumam Luhan dalam hatinya.
"Aku akan terus bersamamu agar kau bisa terus bersamaku." Respon Sehun.
Luhan tersenyum lalu mengalungkan tangannya ke kedua bahu kokoh Sehun dan mengeratkan kedua tangannya. Sehun balas tersenyum, tangannya memeluk pinggang Luhan dan membawanya ke pangkuannya. Bibir keduanya kembali menyatu, kini banyak rasa di dalamnya. Rasa cinta, ketulusan, kebimbangan, kebahagaiaan, bahkan kesedihan terselip diantara mereka. Hanya saja masing-masing dari mereka yang mengetahuinya. Kali ini Luhan ikut dalam permainan bibir Sehun yang mulai membuatnya hilang akal. Luhan mencoba untuk melumat bibir bawah Sehun dengan Sehun yang terus menyesap bibir bagian atasnya. Sehun dengan sengaja menggigit kecil bibir Luhan.
"Aa!" Luhan mendorong bahu Sehun menjauh darinya, membuat Sehun terheran-heran. "Sakit bodoh!" kesal Luhan. Sehun pikir ia melakukan kesalahan, tetapi kemudian ia tertawa.
"Kau sengaja ya?" Luhan mempoutkan bibirnya. Kemudian tiba-tiba suasana diantara mereka terasa aneh, apalagi kini Luhan menyadari posisinya berada di pangkuan Sehun. "Tu-tunggu…" Luhan ingin pergi dari posisinya saat ini, benar-benar memalukan, pikirnya.
Sehun terlebih dahulu menahan Luhan untuk tidak beranjak dari posisinya. "Jangan bergerak, sebentar…" pinta Sehun.
"W-wae?" tanya Luhan gugup.
"Aku ingin melihatmu lebih dekat, sebentar…"
Luhan merasa udara di sekitarnya memanas, ia dengan gugup melihat Sehun yang masih menatapnya. "Astaga, apa di sini tidak ada AC?" tanya Luhan. Ia mengikat rambut panjangnya dengan ikat rambut yang selalu ada di pergelangannya.
Mata Sehun membulat, jantungnya berdebar saat Luhan membiarkan leher jenjangnya terekspos. 'Sial!' umpat Sehun dalam hati.
"Wae?" tanya Luhan yang baru selesai mengikat rambutnya. Ia melihat mata Sehun yang bergerak gelisah.
"Akhh! Ya!" Luhan mencengkram bahu Sehun ketika dengan tiba-tiba Sehun menyesap lehernya seperti vampir yang haus darah. "Seh– a-ahh!" Sehun memberikan gigitan kecil sebelum melepas leher Luhan yang kini membiru akibat ulahnya. Sehun tersenyum senang melihatnya.
"A-apa yang kau lakukan!" pekik Luhan sambil menutupi bekas yang Sehun gigit.
Sehun tertawa, tidak merasa bersalah sama sekali. Lalu ia menarik lepas ikatan di rambut Luhan hingga rambut itu kembali menutupi leher indah Luhan. "Jangan lakukan lagi, atau aku akan melakukan hal yang sama." Sehun memperingatkan sambil menunjukkan ikat rambut Luhan.
Luhan menatap Sehun dengan kesal, memangnya apa salahnya mengikat rambutnya sendiri? Gerutu Luhan. Sehun menyingkirkan tangan Luhan dari tandanya, ia kembali tersenyum. "Dengan ini kau sudah pasti milikku, kan?" kekeh Sehun.
"Mwo?!" pekik Luhan masih tidak mengerti. Ia memukul dada Sehun, "ya! jika melakukannya lagi, aku akan membunuhmu!" Setelahnya Sehun tertawa keras karena Luhan terlihat begitu menggemaskan.
.
.
[Hari Kelulusan]
Hari kelulusan yang ditunggu akhirnya tiba. Sejak pagi, siswa Bailon High School sudah memenuhi ruang kelas sebelum akhirnya mereka akan diminta untuk ke aula. Beberapa siswa cemas tentang kelulusannya, sebagian kecil cemas mengenai nilai mereka, dan banyak dari mereka yang tidak terlalu memusingkan keduanya karena mereka meyakini akan lulus, jika mereka lulus, nilai berapa pun tidak masalah. Luhan sendiri sedaritadi masuk ke dalam kategori siswa cemas mengenai nilai dan peringkatnya. Ia terus mengecek ponselnya, memastikan berapa menit lagi hingga mereka memulai upacara kelulusan.
"Kau cemas?" tiba-tiba Sehun muncul dari belakang sambil mengusak kepala Luhan.
"Ish! Jangan mengacak rambutku!" kesal Luhan sambil menepis tangan Sehun, sepertinya ia sangat sensitif pagi ini.
"Annyeong Minseok," sapa Sehun.
"Annyeong…" balas Minseok.
"Apa Luhan segalak ini sedaritadi?" tanya Sehun pada Minseok.
Minseok menggeleng, "tepatnya setelah kau datang…"
"Ya! apa salahku?" tanya Sehun. Minseok tertawa seorang diri, sebenarnya ia ingin membuat Luhan tertawa, tapi sepertinya tidak berhasil.
Minseok menghadap pada Luhan dan menyuruh Luhan untuk menatapnya. "Luhan, gwaenchanha… kau sudah berusaha, jadi pasti apa yang akan kau dapatkan sesuai dengan usahamu selama ini."
Luhan menggigit bibir bawahnya, "bagaimana jika–"
"–berhenti berandai, Luhan. Cukup tenang dan terima hasilnya. Apapun itu, itu adalah yang terbaik, aku yakin, kau akan mendapat yang terbaik." Tambah Sehun.
Luhan mendelik pada Sehun, "jika kau yang di peringkat satu…"
"Wae? kau mau apa?" tanya Sehun.
"Maka aku di peringkat dua? Hueee… bagaimana ini," keluh Luhan.
Sehun memegang kedua pundak Luhan, "jika itu masalahnya, aku akan memberikan peringkatku untukmu."
Minseok menarik telinga Sehun hingga membuatnya mengaduh. "Kau mengatakan hal yang tidak mungkin, kau malah membuat Luhan semakin sedih, bodoh!"
"Lalu aku harus apa?" tanya Sehun bingung.
"Baiklah anak-anak! Waktunya ke aula sekarang, upacara akan dimulai." Wali kelas mereka memberitahu dari pintu. Saat itu juga siswa kelas 3-1 berbondong-bondong menuju ke aula.
Sehun menarik tangan Luhan agar menunggu sebentar hingga teman-teman mereka sudah keluar. Sehun merunduk, menyejajarkan dirinya dengan Luhan. "Gwaenchanha, kau sudah berusaha yang terbaik, Luhan. Apapun hasilnya, kau harus mensyukurinya. Janji?" Ucap Sehun sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Luhan menatap Sehun ragu, tetapi kemudian ia tersenyum, dan menyambut jari Sehun. "Janji…"
"Bagus! Kkajja!" ajak Sehun sambil meraih tangan Luhan. Mereka berjalan bersama menuju aula.
..
..
UPACARA KELULUSAN BAILON HIGH SCHOOL
"Dengan ini kami akan mengumumkan lulusan terbaik tahun 2020. Selamat kepada: Kelas 3-1, Lu Han haksaeng, selamat atas prestasi yang telah diraih!"
Tepuk tangan bergema di seluruh aula, sebagian kecil tidak menyangka tetapi sebagian besar dari mereka sudah menduganya. Mereka pikir Luhan lebih baik menjadi yang pertama daripada Sehun yang biasanya meraih peringkat pertama.
Sehun tersenyum dan bertepuk tangan dengan bangga, tentu saja Luhan pantas mendapatkannya. Luhan sudah banyak menderita dan juga selalu berusaha semampunya.
"Kepada Luhan haksaeng disilakan untuk memberikan pidatonya mewakili seluruh siswa sebagai lulusan terbaik."
Luhan naik ke podium setelah mendapatkan bunga dan sertifikatnya. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya membuat teman-teman terdekatnya sangat senang melihat Luhan mendapatkan apa yang diinginkannya. Selesai menyampaikan ucapan terima kasihnya, Luhan kembali ke tempatnya. Setelah itu, deretan nama siswa yang menjadi lulusan terbaik kedua dan ketiga pun diumumkan. Sehun, menerima predikat sebagai lulusan terbaik kedua, dan siswa dari kelas 3-4 mendapatkan predikat lulusan terbaik ketiga.
Upacara berakhir, kini para siswa banyak yang melakukan foto bersama guru-guru dan teman-teman. Banyak juga orangtua mereka yang masuk ke dalam, dan sebagian lagi ada di luar. Mama Luhan belum memberitahu dimana posisinya, sedangkan Sehun tidak yakin apakah kedua orangtuanya datang karena tidak mengabarinya sama sekali. Sehun juga tidak begitu peduli mereka datang atau tidak, ia sudah terbiasa untuk itu.
Tiba-tiba Sehun menarik Luhan ke belakang aula, sesuai perkiraannya, di sana memang tidak ada siapapun. "Ada apa?" tanya Luhan heran.
Awalnya Sehun terlihat gugup karena seperti orang kebingungan untuk meletakkan ijazah dan karangan bunganya. Tetapi kemudian tiba-tiba Sehun bersimpuh di hadapan Luhan dengan memegang tangan Luhan.
"Luhan, kau pasti ingat kan saat aku harus bersembunyi di aula karena dikejar?" Luhan mengangguk, "kau menyelamatkanku dan saat itu aku langsung menyukaimu. Aku bahkan melakukan segala upaya agar bisa sedekat mungkin denganmu. Tapi… maafkan aku karena membawamu dalam masalah besar, aku benar-benar berengsek karena membiarkanmu menangis berkali-kali–"
"–dan kau juga membuatku tertawa berkali-kali." Luhan menambahkan.
Sehun tersenyum, "ya, hanya itu–"
"–kau juga memberi kenangan berarti bagiku." Tambah Luhan lagi.
Sehun tertawa, "bisa kau diam sebentar? Aku jadi melupakan hapalanku." Luhan tertawa, lalu mengangguk. "Jadi… seperti janjiku padamu–"
"–aku juga berjanji padamu" Luhan mengingatkan, ia tertawa setelah melihat reaksi Sehun yang menampilkan wajah datarnya. "Araseo, aku diam."
Sehun berdiri, tangannya tidak lagi menggenggam tangan Luhan, tapi ia mencubit gemas kedua pipi Luhan. "Kau ini, tidak tahu suasana romantis ya? Kalau begitu… maukah kau menjadi kekasihku?" tanya Sehun langsung. Luhan terdiam sebentar sambil memandang Sehun. "Baiklah, aku pasrah jika kau menolakku lagi–"
CUP
Mata Sehun membulat ketika Luhan mengecup pipinya, "aku mau," jawab Luhan. Sehun menatap Luhan dengan tidak percaya, hingga ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.
"M-mwo?" tanya Sehun masih tidak percaya.
Luhan tersenyum, "aku mau menjadi kekasihmu. Aku sudah berjanji kan?"
"Kau serius?" tanya Sehun lagi lalu Luhan mengangguk.
Sehun memeluk Luhan, "astaga aku sangat bahagia. Terima kasih Luhan," ucap Sehun.
Luhan mengangguk dalam dekapan Sehun. 'Ini adalah cara paling jahat yang pernah aku lakukan, Sehun. Mianhae…' ucap Luhan dalam hati.
"Sehun, Luhan! Astaga kalian dari mana saja sih?! Aku mencari kalian… tunggu, sedang apa kalian dari belakang panggung?" tanya Minseok curiga, matanya tiba-tiba membulat melihat Sehun yang menggenggam tangan Luhan dengan terang-terangan. "Kyaa! Kalian jadian?" tebak Minseok.
Sehun mengangkat tangannya yang menggenggam Luhan dengan bangga, "kami sudah resmi." Luhan tersenyum menanggapinya.
"Astaga! Chukhae! Akhirnya…" senang Minseok. "Kalau begitu cepat berdiri di sana! Aku akan memfoto kalian!"
Bersamaan dengan itu, 4 orang datang di belakang Minseok, Luhan menebak mereka adalah keluarga teman sekamarnya itu. "Kelurgaku…" bisik Minseok memberitahu, lalu Luhan dan Sehun mengangguk mengerti.
"Annyeonghaseyo," sapa Luhan dan Sehun bersamaan.
"Annyeong… kau Luhan kan? Selamat sudah menjadi lulusan terbaik," ucap Ibu Minseok.
"Selamat Luhan," ucap ayah Minseok. Kakak perempuan dan kakak laki-laki Minseok juga menyelamati.
"Gamsahamnida eommonim, abonim, eonnie, oppa." Luhan membungkuk.
Ibu Minseok berganti menatap Sehun, "dan kau Sehun? Selamat juga atas peringkat duanya."
"Gamsahamnida…" ucap Sehun.
"Cepat mendekat, kalian!" perintah Minseok.
"Galak sekali sih!" gerutu Sehun yang langsung disambut gelak tawa keluarga Minseok.
Luhan dan Sehun berdiri dengan canggung, entah mengapa di tempat ramai seperti ini rasanya tidak nyaman. Padahal jika sedang berdua, kalian tahu kan mereka sedekat apa? Kkkk.
"Aish! Lebih dekat! Jadi ini yang namaya pasangan kekasih?" ejek Minseok.
"Y-ya!" Luhan memberikan tatapan membunuh pada teman sekamarnya itu. Wajah Luhan sudah memerah karena malu, keluarga Minseok hanya tersenyum melihatnya.
Segera saja Sehun memegang pundak Luhan agar mendekat padanya. Sambil Sehun yang merangkul Luhan, keduanya tersenyum hingga blitz kamera mengarah pada mereka. "Wow, kalian terlihat hebat!" puji Minseok setelahnya.
Setelah foto bersama teman-temannya Luhan dan Sehun keluar dari aula untuk mencari orangtua mereka yang katanya sudah di sekolah. Ya, orangtua Sehun juga datang, bahkan adiknya Mina pun izin dari sekolahnya untuk hadir di acara kelulusan Sehun.
..
..
Yuri memeluk Luhan dengan senang ketika mengetahui putrinya berhasil menjadi lulusan terbaik. "Bagus Luhan! Kau benar-benar membuktikannya pada Mama. Chukhae…" ucap sang Mama.
Luhan tersenyum, "gamsahamnida, Ma."
Mama-nya memegang kedua bahu Luhan sambil menatap anaknya, "kkajja, kita harus merayakannya di rumah. Hmm… kau mau mengundang teman-temanmu?" tawar Mama-nya.
"Ha?" Luhan mengerjapkan matanya, apa ia tidak salah dengar? Tapi ia tidak berniat untuk mengadakan pesta semacam 'pesta perpisahan' baginya. Luhan menggeleng, "bukannya kita harus pergi keesokkan harinya, Ma? Itu terlalu melelahkan." Jawabnya.
"Benarkah?" Mama-nya mengangguk setuju. "Lalu, ada yang kau inginkan?"
"Mama tidak akan ikut campur kehidupan Sehun lagi kan, Ma? Biarkan Sehun menjalani kehidupannya sendiri."
Yuri memeluk Luhan lalu mengusap belakang kepalanya lembut, "Mama tidak akan melakukannya karena kau sudah mengorbankan hal yang paling berharga bagimu dan kau sudah berhasil. Jangan khawatir."
"Kalau begitu… bisakah Luhan benar-benar melepaskan Sehun sekarang?" tanya Luhan.
"Maksudmu?"
"Karena besok kita sudah akan pergi. Luhan ingin mengucapkan selamat tinggal pada Sehun."
Yuri tersenyum, "pergilah. Kau boleh menemuinya untuk terakhir kali."
Luhan mengangguk, "gomawoyo, Ma…"
.
.
Selepas makan malam dengan keluarganya, Sehun bergegas pergi menemui Luhan. Tiba-tiba saja Luhan memintanya untuk bertemu, saat Sehun mengatakan ingin menjemputnya, Luhan juga tidak mau. Mereka bertemu di taman saat keduanya pernah datangi secara tak sengaja.
"Luhan!" panggil Sehun sambil berlari menghampiri Luhan yang duduk di kursi taman. "Mian, kau kau menunggu lama?" tanya Sehun.
Luhan menggeleng, "aniya. Aku juga baru sampai."
"Jadi, ada apa sampai kita harus bertemu malam-malam seperti ini?" tanya Sehun setelah duduk di samping Luhan.
Luhan mengeluarkan sebuah kotak yang sebelumnya Sehun berikan pada Luhan dan gantungan yang mereka beli bersama. Luhan memberikannya pada Sehun, "sepertinya aku tidak bisa menerima ini…" ucap Luhan sambil memandang Sehun, masih dengan senyuman tipisnya. Sehun menangkap sesuatu dari leher Luhan, di sana tidak lagi tergantung kalung darinya.
"A-apa maksudmu?" tanya Sehun tak mengerti.
Luhan menunduk, "aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi…"
Sehun tidak merspon, ia masih tidak mengerti apa yang dikatakan Luhan. Hey, bukankah mereka baru saja menjadi sepasang kekasih? Apa maksud Luhan dengan tidak bisa melanjutkan hubungan ini?
"Mianhae, Sehun…" lanjut Luhan.
"M-mwo?" Sehun tertawa tanpa suara, "kau bercanda? Apa maksudmu sebenarnya, Luhan?" tanya Sehun.
"Sebenarnya, tidak ada lagi perasaan yang tersisa untukmu."
Sehun megusak rambutnya dengan frustasi, "apa sih yang kau bicarakan? Lelucon macam apa ini?" Sehun memegang kedua sisi bahu Luhan, "kali ini siapa yang mengancammu, Luhan? Katakan padaku! Kau hanya terpaksa mengatakan ini kan?!" tanya Sehun sambil mengguncang tubuh Luhan.
Luhan menelan segala kesakitannya, menyembunyikannya dengan tatapan yang berpura-pura tegar. "Kau yang membuatku berjanji, semua perasaan yang aku katakan hanya sebuah balasan tanpa alasan. Kau terlalu lama bersamaku hingga menganggap bahwa aku masih memiliki perasaan yang sama denganmu, tetapi sebenarnya aku tidak lagi memilikinya. Mungkin ini terdengar keterlaluan, tetapi kau sudah mendengar apa yang ingin kau dengar dariku kan? Aku sudah menepati janji untuk menjadi kekasihmu. Sekarang saatnya kau yang harus mengatakan apa yang aku ingin dengar."
"Kau… pembohong, apa sebenarnya yang kau tutupi hingga melakukan ini padaku?" tanya Sehun dingin. "Lalu… apa yang ingin kau dengar? Kita putus?"
Luhan menghirup udara dengan kesulitan, dadanya terasa sesak, ditambah ia harus menahan air matanya yang mendesak ingin keluar. "Ya, kau tidak seegois itu untuk menahan seseorang yang tidak memiliki perasaan lagi padamu kan?"
Sehun mengangguk, "ya… apa kau seegois itu hingga melakukan ini padaku?"
Luhan meremas kotak yang masih di tangannya, "ya, aku seegois itu."
'Pergilah Sehun, jangan mengatakan apapun lagi… aku tidak bisa mengatasinya setelah ini…' mohon Luhan dalm hati.
Sehun tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi. Apa yang diucapkan Luhan benar-benar tidak ada yang masuk akal baginya. Lalu, apa selama ini penilaiannya salah? Luhan terpaksa bersamanya? Lalu senyuman Luhan yang selama ini diperlihatkan padanya adalah palsu? Sehun tidak sepercaya itu dengan kegilaan yang baru saja Luhan lakukan.
Meski Luhan mengatakan hal yang seharusnya membuat Sehun sakit hati, tetapi Sehun tidak merasakan itu sama sekali. Sehun merasa apa yang Luhan katakan adalah untuk membuatnya membenci gadis itu dan Sehun juga berharap bahwa ia bisa dengan pasrahnya tersakiti, tetapi nyatanya ia malah merasa sedih dan tidak berguna untuk gadisnya.
Apa Sehun harus ikut dalam sandiwara yang sudah Luhan tulis?
'Kau adalah pembohong yang kejam Luhan. Kau membiarkan aku membaca kebohonganmu dan juga membuatku mengikuti keinginanmu. Tidak bisakah kau memberiku pilihan selain ikut berbohong?' tanya Sehun dalam hati. Sehun menatap mata Luhan yang terlihat tidak peduli itu, berharap memecah pertahanan Luhan, namun tetap saja gagal.
"Setidaknya, bisakah kau menerima itu meski kau tidak bisa menerima hatiku?" tanya Sehun sambil menatap kotak kecil yang diremas Luhan.
Luhan menyodorkan kotak tersebut pada Sehun, "aku tidak bisa menerima sesuatu yang tidak berguna bagiku."
Sehun mengangkat kedua bahunya, "kau bisa membuangnya kalau begitu. Apa aku harus mengambil kembali kemirisanku itu?"
Luhan mengangguk, "aku harus pergi sekarang…" kemudian Luhan berdiri dan melangkahkan kakinya dengan berat.
"Luhan!" panggil Sehun.
Luhan menghentikan langkahnya refleks, ketika ia hendak berbalik dua buah tangan melingkar melewati pinggangnya. Luhan tersentak begitu kehangatan menjalar dari belakang tubuhnya hingga ke seluruh tubuhnya yang hampir membeku karena katakutannya sendiri. Sehun mengeratkan pelukannya dan meletakkan kepalanya di bahu Luhan. Sehun membisikkan sesuatu yang membuat air mata Luhan tidak bisa lagi ditahan. Setelah kehilangan pertahanan pada matanya, Luhan sekuat tenaga menahan seluruh ketakutannya dan kebenciannya pada diri sendiri agar tidak meluap keluar yang membuatnya ingin mengadu dalam pelukan laki-laki yang disukainya.
Setelah kehangatan itu pergi, tubuh Luhan kembali diterpa dinginnya malam. Tanpa berbalik, dengan perlahan, Luhan melangkah pergi meninggalkan Sehun yang masih senantiasa menatapnya. Melewati sebuah kotak sampah, Luhan begitu saja menjatuhkan apa yang ia harus buang. Tanpa gentar, ia pergi meninggalkan Sehun yang akan ia ingat sebagai kenangan indah terakhirnya karena sudah seharusnya ia memasuki dunia karma buruk yang entah berlanjut sampai kapan.
Sementara itu, Sehun menahan segala penyesalannya yang akhirnya benar-benar melepas Luhan dengan sia-sia. Tanpa mengetahui apapun mengenai Luhan yang sebenarnya dan tanpa tahu alasan betapa bodohnya Sehun kali ini.
'Apa jika aku menahannya sekarang, Luhan akan kembali?' tanya Sehun dalam hatinya. Tiba-tiba ia merasa tidak memiliki arah setelah tidak lagi melihat bayangan Luhan ditelan kegelapan.
Sehun berlari mengejar Luhan yang tak lagi berada di jangkauannya. Semakin menembus kegelapan, semakin ia tersesat. Sehun mencari bagai orang buta, pandangannya hanya ada hitam dan bahkan hatinya tertutup karena ia berlari terlalu jauh untuk mengejar gadis yang telah pergi darinya.
Sehun menutup matanya yang tidak lagi bisa melihat dengan telapak tangannya, air matanya mengalir dengan kekosongan di hatinya.
.
.
END
.
.
Akhirnya, selesai juga chapter terakhir dari LOVE SICK: Because of You! Huhuhu, ini semua berkat kalian para readers dan reviewers hehehe. Tapi rasanya aku bakalan dibully ini, digebukin? *kaburrr~ hahaha. Gimana setelah baca cerita ini dan berakhir seperti ini? *senyumjahat. Eittss tapi jangan serem-serem ya murkanya TT
Yah, beginilah AWAL dari takdir Luhan dan Sehun sesungguhnya. Loh, awal? Ya, jangan lupa bahwa mereka masih memiliki waktu yang panjang untuk meniti masa depan. Jadi... semoga saja takdir mereka berkata lain ^^
So, sesuai janji aku bakalan menghadirkan season 2 dari cerita ini. Kisah mereka masih terus lanjut lohhh ;) siapa yang setuju kalo dibuat season 2? Hayoo yang setuju unjuk pendapat di review yaa hehehe
Terima kasih sudah mengikuti dari tahun 2019 dan akhirnya berakhir juga di tahun 2020!
..
Balasan review
#Phe19920110: sampai akhir pun Luhan tetap...
#AsaHunHan: sehati dong? sama Luhan hehehe
..
Sampai jumpa di BONUS CHAPTER (eh ketauan deh kkkk) minggu depan dan season 2 *kalo ada yang berminat sih :( hehehe. Byee~
Gamsahamnida ^^
*loveforHUNHAN yeayy!
