Toshiro terbangun pukul 8 lewat di malam hari karena suara telepon masuk. Bagian bawahnya masih terasa sakit. Jadi ia bergerak perlahan-lahan agar bagian tubuhnya yang terluka tidak bertambah sakit. Telepon itu terletak di meja yang ada di koridor menuju ruang tengah. Tanpa pikir panjang Toshiro mengangkatnya.
"Halo" Suara Toshiro serak dan terpecah.
["Halo. Dengan kediaman Hitsugaya?"] Suara wanita yang ramah menyambut dari telepon itu.
"Ya"
["Saya dari kantor perlindungan anak dan wanita, ini mengenai hak asuh atas anak bernama Hitsugaya Toshiro"] Kata Wanita itu langsung pada intinya ["Apa anda sudah menerima surat yang kami kirim?"]
"Surat?" Toshiro menengok ke jendela, melihat kotak surat karatan yang berdiri agak sedikit melenceng di halaman rumahnya. Ia tak pernah membukanya selama beberapa tahun. "Saya, akan mengeceknya" Tohiro menjawab.
["Silahkan anda baca surat itu terlebih dahulu, besok perwakilan dari kantor akan datang bersama Paman anda yang bernama… Gin Ichimaru"]
"M..maaf?" Toshiro mendengar nama pamannya itu tapi ia tak yakin.
["Besok perwakilan dari kantor akan mendatangi rumah anda dan menjelaskan semuanya"]
"Bersama siapa, kata anda?"
["Paman anda, Gin Ichimaru"]
Toshiro mematung mendengar nama itu. Ia menelan air liur karena rasa takut yang tiba-tiba muncul. Dari sekian banyak keluarga Ayahnya, ia tak paham mengapa Gin Ichimaru yang harus datang. Gin Ichimaru yang seringkali menatapnya seperti serigala kelaparan setiap kali ia berkunjung ke rumah pamannya itu. Entah mengapa pamannya itu selalu membuatnya takut. Dan wanita di telepon ini membicarakan tentang 'hak asuh'.
"Maaf, tapi usia saya 17 tahun yang berarti sudah dewasa. Saya juga sudah punya kartu identitas Negara. Saya tidak perlu diasuh lagi" Toshiro berujar. Alisnya mengernyit karena ia mengubah posisi berdirinya, badannya yang memar menjadi sakit seketika.
["Berdasarkan riwayat hidup anda, anda mengalami banyak perlakuan tidak layak oleh Ayah anda. Kami mengindikasikan anda memiliki beberapa masalah dalam menjalin relasi dengan orang-orang sekitar. Dan tidak menutup kemungkinan, anda mengalami trauma. Maka dari itu anda butuh seorang wali yang bisa merawat dan membantu anda"]
"T..tapi saya bisa mengurus diri saya sendiri. Dan saya merasa baik-baik saja" Toshiro bersikeras sekaligus berbohong. Ia tak merasa baik-baik saja. Ia merasa seperti mayat hidup.
["Perihal itu bisa di bicarakan besok dengan perwakilan kami. Terimakasih"] Dengan itu telepon terputus.
Toshiro terdiam kaku. Sudah lebih dari 4 tahun ia tak bertemu Gin Ichimaru. Ia hanya ingat rambut silvernya, senyum rubahnya dan matanya yang selalu menyipit. Ia tak tahu harus mengatakan apa padanya. Tapi ia tak mau memikirkannya lebih jauh. Dengan kesal Ia membanting telepon itu lalu mengernyit karena memar di pergelangan tangannya jadi sakit. Memar itu melingkari pergelangan tangannya, warnanya agak keunguan. Nafas Toshiro menjadi cepat ketika ingat wajah Grimmjow tadi siang di sekolah. Ia mungkin tak sanggup menatap Ichigo setelah apa yang terjadi. Ia merasa malu. Seperti ia telah menghianati Ichigo. Ichigo pasti menganggapnya menjijikan jika tahu kekasihnya melakukan itu dengan Grimmjow.
Toshiro sedang mengambil buku di lokernya ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya. Toshiro yang terkejut langsung menepis tangan itu, memutar tubuhnya sambil menatap pemilik tangan itu ngeri. Jika saja ia tahu itu adalah Ichigo, ia tak akan bersikap seperti itu. Hanya saja Ichigo melakukan hal yang salah. Berkat kejadian kemarin, Toshiro menjadi sangat sensitif dengan kontak fisik. Ia mengalami trauma.
"Toshiro?" Ichigo memanggil Toshiro pelan. Toshiro melihatnya, Ichigo ketakutan juga. Mata cokelatnya memancarkannya dengan jelas.
"A..ada apa?" Toshiro menyadari pertanyaannya begitu bodoh.
"Kau tidak apa-apa? Grimmjow sialan itu tidak melukaimu kan?! Apa yang terjadi kemarin?" Toshiro tak segera menjawab karena sibuk memperhatikan memar dan perban yang memenuhi wajah Ichigo "Toshiro?!" Panggilan panik Ichigo menyadarkannya. Toshiro mengerjapkan matanya berulang-kali.
"Ichigo, aku takut. Grimmjow memperkosaku! Aku mau mati saja rasanya. Aku merasa begitu menjijikan! Aku bahkan tidak bisa melihat diriku sendiri di cermin. Ichigo…Maafkan aku…"
Toshiro membayangkan bisa mengatakan kalimat panjang itu. Tapi bibirnya mengatup erat, seperti dikunci. Mata Turquoisenya yang buram menatap Ichigo lelah.
"Ichigo" Panggil Toshiro dengan suara lirih.
"Ya Toshiro? Katakan saja padaku" Pegangan tangan Ichigo di kedua pundaknya membuat Toshiro gentar.
"Kita putus saja"
Ichigo terdiam mencerna kata-kata itu. Toshiro melepaskan pegangan tangan Ichigo di pundaknya, ia tak tahan lagi dengan sentuhan itu. Ia berjalan pelan meninggalkan Ichigo. Baru saja berapa langkah, tubuhnya mulai gemetaran. Ia tak bisa mengendalikan rasa takutnya seperti dulu lagi. Ia merasa dirinya, pikirannya, terpecah. Seperti bertindak masing-masing. Tepat ketika ia pikir Ichigo berada jauh di belakangnya, sebuah tangan menangkap pundaknya lagi. Toshiro berhenti melangkah, sekali lagi memberontak melepaskan tangan itu.
"Toshiro! Jangan seperti ini. Aku tidak mau putus!" Ichigo bersikeras, kali ini tangannya yang ditepis Toshiro pindah menarik pergelangan tangan Toshiro.
"Hentikan!" Toshiro mengernyit karena Ichigo menyentuh memar di pergelangan tangannya. Sekuat tenaga Toshiro melepaskan cengkeraman Ichigo. Toshiro sekali lagi melihat Grimmjow di depannya, mencengkeram tangannya erat-erat. Meski pada nyatanya itu hanya ingatan yang mempermainkannya, namun Toshiro terlalu takut untuk berpikir menggunakan akal sehatnya.
"Jangan lari dariku. Aku harus tahu alasanmu memutuskan aku!"
"Lepaskan aku!" Toshiro menjadi histeris ketika Ichigo memeluk pinggangnya dari belakang. Ia memberontak sedemikian rupa dengan kalap seolah-olah Ichigo akan membunuhnya saat itu juga. Nafasnya memburu sampai-sampai dadanya menjadi sesak. Mata Toshiro membelalak digenangi air mata. Ichigo yang menyadari kepanikan Toshiro, seketika melepaskan pelukannya, membuat Toshiro jatuh berlutut di lantai. Murid-murid yang ada di sekitar mereka sedari tadi menonton kejadian itu. Kini semakin ramai saja, berkerumun sambil membuat berbagai macam ekspresi wajah. Mengomentari adegan di depan mereka.
"Toshiro..maaf-"
"Jangan sentuh aku!" Toshiro menyentak Ichigo yang hendak membantunya bangkit. Toshiro menunduk, berusaha untuk tidak menangis. Air mata terasa membakar matanya. Ia tahu, Ichigo tak akan paham betapa mengerikan hal yang telah terjadi padanya. Dan ia tak bisa menjelaskannya. Ia terlanjur membenci dirinya sendiri karena tak bisa melindungi tubuhnya. Ia hanya mau sendirian untuk saat ini.
Perlahan-lahan Toshiro memunguti bukunya, kemudian Ia bangun dengan bersandarkan loker. Ia berjalan melewati kerumunan murid yang berbisik-bisik tidak jelas. Melakukan kontak fisik seminim mungkin. Setelah cukup jauh, Toshiro menyeka air matanya. Susah payah menahan senggukan yang muncul. Ia tak mau menangis. Hanya akan merepotkan saja. Karena ia punya kelas yang harus di hadiri. Ia tak boleh bolos lagi jika mau lulus.
Toshiro lupa jika kelas terakhir adalah kelas Biologi. Kini ia berdiri di ambang pintu, menatap satu-satunya kursi yang kosong seperti waktu itu. Kursi itu terletak tepat di belakang kursi Grimmjow. Grimmjow duduk di kursinya sambil tertawa menanggapi salah seorang temannya. Kemudian ia menyadari kehadiran Toshiro. Ia mendelik ke arah Toshiro, semakin tersenyum mendapati ekspresi Toshiro yang tegang.
Toshiro bahkan tanpa sadar, mulai berjalan mundur. Menabrak murid-murid yang lewat di koridor sempit itu. Ia tak memperdulikan rutukan orang yang ia tabrak. Yang ia perdulikan hanyalah 'lari'. Lari ke manapun, asalkan ia tak melihat Grimmjow. Tak masalah jika ia mendapat skors. Meskipun bokongnya semakin sakit ketika ia berlari, tapi ia tak berhenti. Karena Grimmjow kini tepat berada di belakangnya, mengejarnya seperti Harimau mengejar mangsa.
Toshiro hampir sampai koridor paling ujung menuju pintu keluar sekolah ketika Grimmjow menarik syal yang ia kenakan. Syal itu terlepas, menampakkan leher putih Toshiro yang dipenuhi kissmark dan memar keunguan yang hampir melingkari lehernya. Toshiro masih berlari hingga Grimmjow berhasil menangkap tangan Toshiro, memutar tubuh Toshiro lalu menghantamkannya ke dinding terdekat. Memenjarakan Toshiro.
"Lucky…" Grimmjow menyeringai, sementara Toshiro membelalak ketakutan dengan wajah pucat "Kelihatannya kau senang sekali berjumpa denganku? Hm?" Grimmjow mengada-ngada, ia tahu Toshiro sama sekali tak senang melihatnya. Tangan Grimmjow bergerak menyentuh kissmark di leher Toshiro, jejak itu adalah miliknya. Dengan keras, Toshiro menampar tangan Grimmjow sampai tangan itu tak menyentuhnya lagi.
"Kau Brengsek! Jangan pernah menyentuhku seujung rambut sekalipun!" Toshiro menatap Grimmjow penuh dengki. Grimmjow terdiam menatap Toshiro beberapa saat, kemudian ia terkekeh seolah baru saja Toshiro melucu.
"Kau… tak juga jera ya? Astaga.." Toshiro menatap Grimmjow tepat di matanya, rasa takutnya tersembunyi dengan sangat baik.
"Aku lelah terus-terusan dipermainkan oleh orang sinting sepertimu! Jadi, berhentilah menyiksaku!" Toshiro berteriak histeris.
"Tapi.. aku tidak mau berhenti" Grimmjow tersenyum santai "Aku belum bosan denganmu. Dan kau semakin menyenangkan saja" Perkataan Grimmjow membuat Toshiro ngeri.
Toshiro tidak paham, kenapa tubuhnya tak bisa bergerak. Diantara tiga pilihan mekanisme pertahanan diri, Fight (Bertarung), Fly (Kabur) dan Freeze (Membeku). Tubuhnya kali ini memilih Freeze (Membeku). Kakinya sama sekali tak mau bergerak. Ia merasa begitu payahnya. Karena ia menjadi seorang pengecut. Baru kali ini ia benar-benar tak berdaya menghadapi Grimmjow.
Ketika Grimmjow menariknya ke dalam kelas tak terpakai yang kosong. Toshiro berhenti melawan. Lagipula ia juga tahu, ia tak akan pernah bisa menang dari Grimmjow. Yang berbadan besar dipenuhi otot dan tak segan-segan memukulinya ketika ia melawan. Jikapun ia berteriak, ia tahu, tak ada seorangpun yang perduli atau bahkan berani melawan Grimmjow. Dan kelas ini, sangat jauh dengan ruang guru. Sialnya lagi saat ini adalah jam pelajaran sekolah. Hampir semua guru sibuk di kelasnya masing-masing. Percuma. Sia-sia saja semua usahanya untuk kabur.
"Berlutut" Grimmjow menginstruksikan Toshiro yang berdiri di depannya seperti patung. Toshiro tidak menggubris seolah hanya tubuhnya yang hadir di sana. Jiwanya entah ada di mana.
"Berlutut!" Grimmjow menekan pundak Toshiro sampai Toshiro mengernyit dan berlutut di depannya. Tepat di depan kemaluannya.
Grimmjow menyeringai ketika membuka sabuk dan resleting celananya. Toshiro jelas tak melihat ke arah kemaluan Grimmjow, pandangannya menembus seolah Grimmjow adalah kaca tembus pandang. Suara pakaian tergeletak tak membuat Toshiro bergerak se-inci pun. Ia terlalu putus asa.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan" Grimmjow berkata tandas. Toshiro bergeming, kelopak matanya mulai dipenuhi air mata.
Dan itu semua terjadi begitu saja.
Toshiro berjalan seperti robot ke toilet terdekat dengan bersandar ke tembok untuk menyangga tubuhnya yang lunglai. Pandangan matanya begitu kosong, seperti boneka manekin yang dipajang di toko-toko. Ia terpincang-pincang, menahan rasa sakit di bokongnya dan keinginan untuk pingsan. Wajahnya seputih kertas, matanya kemerahan karena menangis terlalu banyak. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya ketika berhasil sampai di ambang pintu toilet. Ia berjalan ke wastafel, memutar keran, menyeka wajahnya dengan terlalu banyak air sampai-sampai kerah bajunya ikutan basah. Kepalanya pusing, pandangannya membayang. Perutnya mual setiap kali ia mengingat apa yang ia telan sebelumnya. Toshiro sempat berkumur beberapa kali sebelum ia memuntahkan segala hal yang dicerna lambungnya. Tak ada yang benar-benar keluar dari sana. Hanya cairan-cairan yang bahkan Toshiro sendiri tidak memperdulikan wujudnya seperti apa. Ia terlalu sibuk menjaga kesadarannya.
Seolah tubuh Toshiro tahu penderitaan yang di tahan oleh Toshiro, seolah tubuh Toshiro mematikan sistem yang menjaga kesadaran Toshiro. Toshiro jatuh pingsan.
Halo pembaca!
Akhirnya chapter 14 lanjut TAT
Setelah hiatus bertahun-tahun, aku harap aku tidak hiatus lagi
Yah setidaknya untuk beberapa saat ini karena aku sedang liburan
Terimakasih ya yang memberi komentar dan menekan tombol favorite untuk cerita ini T^T
Aku dengar katanya Bleach akan ada lanjutan ceritaya lho.. ahhh aku senang sekali
Aku harap Toshiro Hitsugaya banyak muncul ya di cerita lanjutan itu #
Next Chapter nampaknya ada Gin Ichimaru
Hoohoho Toshiro akan semakin tersiksa disini WUAHAHAHA
Lanjut baca terus ya semuanya!
Jaaaa~!
Ohiya jangan lupa folow IG: sindyrizkyprisila
NB: Kalian bisa minta part 13 yang terpotong di email yang tercantum di Profil!
