Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Freezing: Lim Dall-Young and Kim Kwang Hyun

.

.

.

I Need You, Pandora!

By Hikasya

.

.

.

Chapter 16. Akhir Chevalier

.

.

.

Amelia, gadis berkebangsaan Inggris, memandang Cassie dengan tajam. Wajahnya mengeras.

"Kau masuk jebakan kami, Cassie," ungkap Amelia yang tetap menodongkan tombak pada Cassie.

"Apa? Jebakan?" sahut Cassie seraya membelalakkan mata.

"Ya. Aku diminta atasanku untuk memancing para pengkhianat yang mengetahui rahasia Chevalier. Kalian utusan dari North Genetic harus disingkirkan."

Amelia berlari melesat menuju Cassie. Tombak terayun lurus, mengincar perut Cassie. Cassie sigap melindungi dirinya dengan menyilangkan kedua tangannya. Falchion bertabrakan dengan senjata Amelia hingga menimbulkan suara dentingan yang keras.

"Aku tidak mau melawanmu, Amelia-senpai," kata Cassie dengan wajah serius, "karena kau adalah temanku dan teman North Genetic."

"Aku tidak butuh teman!" seru Amelia melayangkan tendangan berputar ke arah Cassie. Cassie berhasil menghindar dengan cara melompat ke udara dan mendarat ke tempat lain. Amelia mengejarnya dengan tusukan tombak ke depan. Cassie menghindarinya lagi.

Beberapa kali Amelia menyerang, tetapi Cassie tidak mau membalas serangannya. Amelia bersikukuh tidak mau menghentikan serangannya sampai muncul serangan yang tidak terlihat mengenainya.

"Aaah!" teriak Amelia terpental karena terkena serangan gelombang kejut berkecepatan satu mach. Tombak terlepas dari tangannya. Cassie yang berlutut jauh darinya, menyadari kedatangan seseorang.

"Ju ... Julia-senpai," sahut Cassie membelalakkan mata saat melihat Julia yang muncul tiba-tiba di sampingnya. Julia tersenyum padanya.

"Aku tahu kalian akan datang ke tempat ini. Makanya aku berpikir ingin membantu kalian," tukas Julia sambil memegang dua sabit di tangannya, "biar aku yang menghadapi dia, Cassie."

"Jangan serang dia!"

Cassie meraih tangan Julia dengan cepat. Julia melihatnya. Kening gadis berambut indigo itu mengerut.

"Kenapa aku tidak boleh menyerangnya?" tanya Julia penasaran.

"Karena dia itu ... teman baikku," jawab Cassie sembari memandang Amelia dengan iba.

Amelia merasa kesakitan pada perutnya yang terluka cukup parah. Ia tertegun karena mendengar perkataan Cassie. Seketika wajahnya berubah kusam dengan sorot mata yang meredup. Terdiam.

Julia memandang Cassie dengan wajah datar. "Jika dia memang temanmu, kenapa dia menyerangmu?"

Cassie berdiri seraya melepaskan tangannya dari tangan Julia. "Dia menyerangku karena perintah dari atasannya."

"Oh, begitu."

"Aku ... dianggap lemah oleh semua Pandora lain," sela Amelia tiba-tiba yang menarik perhatian Cassie dan Julia tertuju padanya, "apa lagi aku kehilangan adik laki-lakiku karena tewas dibunuh Nova. Aku tidak bisa melakukan apa pun saat itu, hanya berdiam diri ketakutan seperti orang yang pengecut."

Cassie dan Julia terdiam. Kedua netra mereka menyipit iba, tetap setia mendengar Amelia yang terus berbicara.

"Demi adikku, aku bertekad mengikuti proyek E-Pandora itu. Tidak peduli efek sampingnya, yang penting daripada itu, aku bisa memiliki kekuatan untuk melawan Nova," lanjut Amelia dengan nada yang sedih, "terserah kalian menilaiku apa, aku tidak peduli itu lagi."

"Kelemahan bukan menjadi alasan untuk dijadikan hinaan, tetapi harus ditutupi dengan kelebihan," tutur Cassie panjang lebar, "jika kau pikir kelemahan itu menjadikan kau benci terhadap semua Pandora, kau salah. Kau harus menunjukkan kelebihanmu pada semua orang yang menghinamu dengan hasil usaha kerasmu. Jadilah Pandora yang hebat melebihi mereka, Amelia-senpai."

Julia ternganga mendengarkan kalimat Cassie yang lantang. Amelia terpaku, kemudian matanya berkaca-kaca.

"Kau benar, Cassie," ucap Amelia.

"Apa kau tetap mengikuti perintah atasanmu atau keluar dari E-Pandora itu?" tawar Cassie.

Amelia terdiam. Berpikir keras dengan dua pilihan yang ditunjukkan Cassie. Cassie dan Julia menunggu jawabannya dengan sabar.

.

.

.

Rana melayangkan tinju ke arah Chiffon. Chiffon melindungi dirinya dengan tangan mekanik raksasa untuk menghalau serangan Rana. Satu tangannya yang lain, terbungkus tangan mekanik raksasa, sukses memukul Rana hingga Rana terpental.

"Aaah!" Rana berteriak dan terjerembab di lantai yang dingin. Kazuya berlari menghampirinya dan memeluknya erat.

"Rana-senpai, kau tidak apa-apa?" Kazuya berwajah cemas.

"Iya."

Rana mengangguk. Kazuya menghelakan napas lega dan melihat pertarungan yang masih berlangsung. Dari arah belakang, Satellizer muncul dengan sepasang sayap bercahaya di punggungnya. Kekuatannya meningkat drastis seiring kemarahannya meledak pada Chiffon yang berkhianat. Pedang besarnya bercahaya melayang vertikal ke bawah menuju Chiffon.

Chiffon menyadari serangan Satellizer, menahan tebasan senjata Satellizer dengan kedua tangannya. Tapi, kekuatan Satellizer yang jauh lebih besar dari Chiffon, sukses menghancurkan dua tangan mekanik Chiffon. Menimbulkan ledakan besar yang mementalkan Chiffon.

Chiffon jatuh dan terkapar tak jauh dari Satellizer. Bersamaan Kazuya datang menggunakan freezing untuk menahan Chiffon. Chiffon tidak bisa bergerak.

"Kau sudah kalah, Chiffon. Jadi, menyerahlah," kata Satellizer yang mengacungkan pedang ke arah Chiffon, "sadarlah, proyek E-Pandora itu merugikan dan membuat banyak korban yang melayang."

"Benar, pikirkan sekali lagi, Chiffon. Kau itu teman kami, 'kan?" sahut Rana yang berdiri di samping Kazuya.

Chiffon terdiam. Keheningan pun menguasai tempat itu.

.

.

.

Sasori berusaha menahan sebagian gadis half-form Nova dengan freezing. Sementara Arnett menyerang gadis-gadis half-form Nova lain. Kekuatan para anggota E-Pandora itu sangat hebat sehingga Arnett kewalahan.

Setiap senjata meluncur ke arah Arnett, bergabung menjadi satu serangan besar. Arnett menghindari serangan itu dengan cepat. Ledakan mengenai tempat itu. Dhuaar!

Arnett berpindah ke tempat lain. Asap hitam menyelimuti tempat itu, menyerbunya. Penglihatannya terganggu. Kewaspadaan ditingkatkan. Tiba-tiba, cahaya putih menyelimuti tempat itu. Suara nyanyian Truth Idea terdengar menggema seiring asap dan cahaya putih perlahan menghilang.

Semua gadis half-form Nova mendadak tergeletak tak berdaya di lantai. Mereka berubah menjadi manusia lagi. Sasori membelalakkan mata saat melihat sosok berpakaian serba putih berdiri di antara gadis-gadis berpakaian minim hitam.

"I ... itu ... The Knight of Sacred," ucap Sasori terbata-bata.

"Gadis-gadis ini menjadi manusia lagi? Kekuatan apa yang dimilikinya itu?" tanya Arnett bertubi-tubi yang dijawab dengan gelengan dari Sasori.

"Aku tidak tahu, Arnett-senpai."

Naruto di balik sosok The Knight of Sacred, menggunakan bola teleportasi untuk memindahkan semua gadis yang tak sadarkan diri ke tempat lain. Cahaya putih menyelimuti setiap tubuh gadis. Mereka menghilang dalam satu kedipan mata. Fenomena ini membuat Sasori dan Arnett tercengang.

"Hebat!" Sasori kagum.

"Apa dia menggunakan sihir?" Arnett asal menebak.

"Mana ada sihir di tahun 2065 ini?"

"Iya. Kau benar, Sasori."

"Lho, dia mana?"

Sasori kehilangan jejak Naruto. Ia celangak-celinguk seperti orang bodoh. Arnett terpaku seraya berpikir siapakah The Knight of Sacred yang sebenarnya.

.

.

.

Amelia telah memikirkan jawabannya. Ia menengadah untuk memandang Cassie dan Julia.

"Aku memilih ... keluar dari E-Pandora ini," ungkap Amelia.

"Bagus," sahut Cassie tersenyum.

"Keputusanmu tepat sekali," balas Julia mengangguk.

"Kalau begitu, ayo, kita pergi dari sini secepatnya, Amelia-senpai!"

Cassie maju melangkah sambil mengulurkan tangan pada Amelia. Amelia mengangguk, turut mengulurkan tangan untuk meraih tangan Cassie. Tiba-tiba, jantungnya berdetak sangat kencang melebihi normal. Merasakan ada sesuatu yang terjadi pada tubuhnya.

Cassie mengerutkan kening. "Ada apa, Amelia-senpai?"

Amelia memegang kedua sisi kepalanya. "Tubuhku terasa panas. Aaah!"

Amelia berteriak kencang seiring Stigmata yang tertanam di tubuhnya mengalami peningkatan kekuatan otomatis drastis. Efek samping itu mulai bereaksi, Amelia tidak bisa menahan kekuatan Stigmata yang terlampau besar hingga menimbulkan cahaya yang menguar dari tubuhnya. Teriakan Amelia semakin kencang dengan wajah horror yang mirip seperti orang kesurupan. Tubuhnya perlahan membesar.

Cassie terpental karena efek gelombang kejut perubahan Amelia yang sangat kuat. Sebelum ia jatuh ke lantai, Julia menahannya dari belakang. Cahaya terang menyelimuti tempat itu sehingga menyilaukan mata. Cassie dan Julia melindungi mata dari silau dengan tangan.

Cahaya menghilang. Menampilkan sosok raksasa berwarna hijau-kebiruan. Amelia berubah wujud menjadi half-form Nova yang disebut Unknown. Bagian kepala masih berbentuk wajah Amelia yang hampir mirip dengan zombie, sedangkan bagian dada hingga kaki berbentuk enam sayap yang menyerupai sayap capung. Melayang di ketinggian beberapa meter dari Cassie dan Julia.

"Tidak mungkin Amelia-senpai menjadi Nova?" Cassie syok.

"Ini gawat sekali." Julia bergegas maju untuk menyerang. "Kita harus melawannya, Cassie."

Julia hendak menggunakan kekuatannya, tetapi dicegah Cassie. Cassie merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil berhadapan dengan Julia.

"Jangan serang dia!" pekik Cassie dengan wajah serius.

"Tapi, Cassie," sahut Julia mengerutkan keningnya.

"Pasti ada jalan untuk mengembalikan Amelia-senpai menjadi manusia lagi."

Cassie mengatakan itu dengan penuh keyakinan. Julia mencoba memahaminya, lalu membelalakkan mata saat melihat cahaya merah yang keluar dari mulut Amelia. Cahaya merah itu meluncur bagaikan pilar menuju Cassie dan Julia.

"Bahaya!" Julia mendorong Cassie dengan cepat. Ia juga menghindar sebelum laser beam itu mengenainya. Ledakan besar terjadi di tempat mereka berdiri tadi. Menimbulkan getaran yang sangat kuat.

Cassie dan Julia terkapar di tempat yang berbeda. Mereka melihat Amelia yang melayang di atas.

"Tidak ada cara selain menyerangnya," tutur Julia seraya bangkit cepat, "jangan halangi aku lagi, Cassie."

Julia mengeluarkan serangan gelombang kejut berkekuatan tiga mach. Serangan itu mengenai tubuh Amelia hingga menimbulkan ledakan besar. Amelia membalas dengan memunculkan beberapa klon dirinya. Kemudian laser beam ditembakkan dari setiap mulut klon Amelia yang melayang di sekitar Amelia asli.

Cahaya merah menerangi tempat itu, bertepatan Arnett, Sasori, Satellizer, Rana, Kazuya, dan Chiffon datang. Mereka terkejut dengan serangan laser beam berjumlah banyak akan menimpa Cassie dan Julia.

"Cassie!" panggil Arnett dengan suara yang keras. Ia hendak mengejar Cassie, tetapi dicegah Sasori.

"Jangan ke sana, Arnett-senpai!" balas Sasori tegas.

"Tapi..."

Perkataan Arnett terputus saat melihat sosok berpakaian putih tiba-tiba muncul tak jauh dari Cassie dan Julia. Naruto menggunakan Spear of Destiny dengan nyanyian Truth Idea. Suara Naruto yang merdu menggema di tempat itu seiring cahaya putih menguar di kepala Spear of Destiny. Cahaya putih melesat, memakan laser beam hingga mengenai tubuh Amelia.

Sekali lagi, cahaya menyilaukan menutupi pemandangan. Silaunya tidak tertahan. Semua orang tidak tahu apa yang terjadi. Naruto yang bisa melihat dalam cahaya menyilaukan itu, tersenyum di balik masker. Amelia telah kembali ke wujud aslinya, tergeletak tak berdaya di lantai.

Semua orang bisa melihat lagi setelah cahaya putih itu lenyap. Mereka terkesiap dengan apa yang terjadi. Semua mata tertuju pada Naruto.

"Amelia-senpai ... menjadi manusia lagi." Rana terpana.

"The Knight of Sacred memang hebat." Satellizer terkesima.

"Aku tidak menyangka hal itu bisa terjadi." Kazuya juga terkesima.

"Ini di luar ilmu pengetahuan." Chiffon memegang dagu dengan dua tangannya.

Sasori dan Arnett terdiam. Naruto memandang semua wajah yang hadir di tempat itu. Bersuara tegas.

"Sebaiknya kalian pergi dari sini, dan tolong bawa gadis itu juga bersama kalian." Suara Naruto terdengar berbeda karena memakai masker. Ia menunjuk Amelia. "Stigmata di tubuh gadis itu sudah sempurna dan bisa berfungsi seperti Stigmata alami yang kalian miliki, para Pandora. Tolong, katakan itu padanya setelah dia sudah sadar lagi."

"Baiklah." Kazuya yang menuruti perintah Naruto dan langsung menggendong Amelia dengan gaya bridal.

"Ayo, semua! Kita pergi!" Satellizer berjalan terlebih dahulu, diikuti Kazuya dan Rana. Satu persatu dari mereka pergi kecuali Naruto dan Cassie.

Naruto memandang Cassie sebentar. "Kau juga pergilah."

"Tidak," sanggah Cassie dengan wajah serius, "aku ingin bersamamu di sini, The Knight of Sacred."

"Cepatlah pergi!"

Naruto terpaksa melawan Cassie. Ia melayangkan Spear of Destiny secara vertikal ke bawah ke arah Cassie. Gadis berambut hijau tosca itu terkejut dengan tindakan Naruto yang tiba-tiba.

Naruto, apa yang kau lakukan? Batin Cassie syok lagi. Terpaku tanpa melawan. Kedua matanya terbelalak saat Naruto terkena serangan gelombang kejut berkekuatan satu mach dari Julia. Mengakibatkan sang pendeta terseret beberapa meter di lantai dengan luka yang parah di perutnya.

Naruto! Batin Cassie panik. Ia ingin mengejar Naruto, tetapi Naruto sudah bangkit lagi dan menyerangnya serta Julia dengan pilar cahaya putih. Julia menarik Cassie dengan cepat untuk menghindari serangan itu.

"Awas, Cassie!" Julia berteriak. Ia jatuh bersama Cassie. Serangan Naruto tadi mengenai dinding. Ledakan besar tidak terelakkan lagi membuat separuh ruangan yang merupakan laboratorium hancur. Menciptakan reruntuhan kecil yang akan menimpa Cassie dan Julia.

Dhuaaar! Reruntuhan tembok berukuran besar berhasil dihancurkan Arnett. Cassie dan Julia selamat.

"Kalian tidak apa-apa?" tanya Arnett berwajah cemas.

"Ya," jawab Julia tersenyum.

"Terima kasih karena kalian menolongku," sahut Cassie, "lebih baik kalian pergi, biar aku yang menghadapi The Knight of Sacred."

"Tapi, Cassie." Julia bertampang kusut.

"Cepat pergi sebelum terlambat!"

Usai mengatakan itu, Cassie menghilang. Ia berlari dengan kecepatan tinggi menuju Naruto. Naruto mengamuk karena marah pada Chevalier yang telah memanfaatkan gadis-gadis biasa untuk dijadikan bahan percobaan protipe Stigmata. Ia menembakkan cahaya putih berbentuk pilar ke seluruh tempat itu. Ledakan sangat besar terjadi lagi. Puing-puing atap berjatuhan bersama getaran yang kuat.

"Cassie!" Arnett berteriak keras seiring dirinya diseret oleh Julia untuk kabur sebelum tempat itu hancur. Ia tidak mau meninggalkan Cassie.

Cassie hampir mencapai Naruto. Ia memekik, "Naruto, hentikan!"

Tiba-tiba, atap metal berukuran besar jatuh dan akan menghimpit Cassie. Naruto bisa melihat pergerakan Cassie, segera terbang mendekati Cassie. Cassie dipeluknya erat seraya berteleport ke luar. Bersamaan semua yang ada di tempat itu terbakar habis bersama ledakan.

Dhuaaar! Asap hitam membumbung tinggi dari celah pegunungan yang terbuka. Getaran kuat terjadi di sekitarnya seiring kegelapan perlahan tersingkirkan oleh cahaya mentari yang terbit di ufuk timur. Musim dingin berakhir dengan kebahagiaan di hati semua orang.

Naruto membawa Cassie ke tempat kelompok Arnett yang berada jauh dari lokasi ledakan tadi. Ia tersenyum di balik masker sambil menurunkan Cassie di dekat sebuah pohon yang bersalju. Luka di perutnya tadi sudah sembuh sendiri.

"Naruto, tadi kau bersuara." Cassie berhadapan dengan Naruto. "Kau berbeda saat menjadi The Knight of Sacred."

Angin berdesir pelan menerpa Naruto dan Cassie. Rambut dan pakaian mereka melambai-lambai karena dimainkan dersik. Naruto langsung menghilang ketika Arnett dan yang lain, berlari menghampiri Cassie.

"Cassie." Arnett memeluk Cassie erat sambil menangis. "Syukurlah, kau selamat."

"Ya. The Knight of Sacred yang sudah menolongku." Cassie tersenyum dengan wajah berseri-seri.

"Lalu mana The Knight of Sacred itu?" Julia bertanya seraya celangak-celinguk.

"Dia sudah pergi."

"Ah, aku ingin sekali meminta tanda tangannya. Aku sudah menjadi fans beratnya." Sasori menunduk lesu.

"Sayang sekali, ya, Sasori." Rana tersenyum geli. Ia berdiri di samping Sasori.

"Lihat, siang sudah tiba!" Kazuya menunjuk ke matahari yang muncul di balik pegunungan biru. Semua mata melihat ke arah yang ditunjuk Kazuya.

"Hari yang indah. Tanda kemenangan bagi kita." Satellizer bergumam dengan senyuman. Kazuya yang berdiri di sampingnya, turut tersenyum.

Sementara Amelia berdiri tak jauh dari kelompok Arnett, merasa senang karena sudah kembali menjadi manusia. Ia memandang langit biru seraya berkata, "terima kasih semuanya."

.

.

.

Cassie dan semua Pandora sedang membereskan pakaian. Mereka akan pulang ke Jepang besok. Hal itu membuat Cassie teringat sesuatu yang menuntunnya untuk keluar kamar.

"Hei, Cassie, kau mau kemana?" tanya Arnett yang baru saja selesai mandi. Ia menggosok-gosok rambut merahnya yang terurai dengan handuk.

"Aku mau pergi dulu," jawab Cassie sambil membuka pintu, lalu menutup pintu lagi. Meninggalkan semua Pandora yang terpaku.

Cassie berlari menuju lantai enam lewat tangga. Ia tergesa ingin menemui Naruto. Koridor lantai enam yang sepi menyambutnya hingga bertemu dengan Julia di depan kamar Naruto.

"Ah, Julia-senpai," ucap Cassie yang berhenti berlari, "kau juga ingin bertemu Naruto?"

Julia mengangguk dengan wajah tanpa ekspresi. "Ya. Aku ingin menyampaikan sesuatu padanya, tetapi..."

Perkataan Julia terputus sehingga membuat Cassie penasaran. Dahi Cassie mengerut, menunggu jawaban Julia dengan sabar.

"Naruto sudah check out hari ini," sambung Julia yang membuat Cassie membelalakkan mata.

"Apa?" Cassie kebakaran jenggot, "dia sudah pergi sekarang?"

"Ya. Dia sudah berangkat ke Jepang."

Julia mengangguk. Cassie terdiam dengan wajah yang kusam. Menunduk sedih.

"Dia meninggalkan aku lagi. Aku kira dia masih menyimpan rasa cinta untukku dan akan pulang bersamaku ke Jepang. Ya, aku mengerti karena cintanya untuk Tuhan, bukan untukku," tutur Cassie mengangkat kepalanya untuk menatap Julia, "kau juga harus berusaha mencari laki-laki pengganti Naruto. Aku akan berdoa untukmu, Julia-senpai."

"Terima kasih, Cassie," balas Julia mengangguk.

"Kita berteman?"

"Berteman."

Cassie dan Julia berjabat tangan. Mereka saling tersenyum dengan perasaan senang. Seakan muncul bunga-bunga bermekaran di antara mereka.

.

.

.

Amelia ikut dengan kelompok Arnett ke Jepang. Cassie yang memintanya sendiri karena Amelia mendapatkan berkat Stigmata alami dari kekuatan Truth Idea milik Naruto. Amelia bisa merasakannya saat mencoba memanggil senjatanya di kamar hotel, pasca peristiwa ledakan markas Chevalier.

Amelia sekarang berhadapan dengan Mei. Cassie sudah menceritakan semua yang terjadi sehingga Mei tersenyum.

"Baiklah, kau boleh tinggal di sini, Amelia," ucap Mei seraya melipat tangan di meja, "kau akan dilatih keras sampai menjadi Pandora yang kuat."

"Terima kasih, Bu Mei," sahut Amelia mengangguk sambil tersenyum.

"Syukurlah, Amelia-senpai," tukas Cassie turut tersenyum. Wajahnya berbinar terang. Hatinya melonjak senang karena Amelia ikut bersekolah bersamanya. Lalu ia pun terlibat pembicaraan serius dengan Mei dan Amelia di ruang kepala sekolah.

.

.

.

Hari-hari berlalu dengan cepat. Musim semi menyambut Jepang dengan keceriaan, meski pun masih ada Nova yang selalu mengusik. Tapi, sebagian orang tetap menjalani kehidupan normal dengan tenang, dan sebagian yang lainnya berperang melawan Nova.

Cassie sudah naik ke kelas tiga. Ia menjadi Pandora tanpa Limiter, dan sering menjalani misi bersama Sasori dan Arnett. Ketika ada waktu luang, ia juga mengunjungi Naruto yang masih menjadi Pendeta di Gereja.

"Terima kasih atas kunjunganmu hari ini, Cassie," ujar Kabuto saat berhadapan dengan Cassie di depan pintu Gereja yang terbuka lebar.

"Sama-sama, aku permisi pulang dulu, Paman," sahut Cassie tersenyum.

"Ya. Hati-hati di jalan."

Cassie mengangguk, kemudian melangkah meninggalkan Kabuto. Kabuto menyaksikannya pergi sebentar dan langsung masuk ke Gereja.

Sore hari yang cerah menemani Cassie. Pohon-pohon Sakura yang tumbuh di halaman Gereja, berguguran dan menghujaninya. Gadis itu menunduk sedih karena Naruto tetap tidak mau berbicara dengannya.

Kenapa? Waktu itu, Naruto bersuara dalam wujud The Knight of Sacred. Tapi, setelah menjadi dirinya sendiri, dia berubah tetap diam dan hanya tersenyum menanggapi setiap kali aku berbicara.

Cassie membatin di hati. Langkah gontainya mencapai di luar pintu gerbang. Tidak menyadari ada seseorang yang menunggunya di dekat pagar tembok setinggi dua meter. Seorang laki-laki berpakaian kasual serba jingga dan hitam.

Tiba-tiba, Cassie membelalakkan mata saat dipeluk oleh laki-laki berambut pirang itu. Ia terkesiap saat mendengar suara yang dirindukannya.

"Aku ... mencintaimu, Cassie-senpai," ungkap laki-laki itu ke telinga Cassie.

"Hah?" Cassie ternganga. Ia menengadah untuk menatap wajah di depan matanya ketika laki-laki itu melonggarkan pelukan. "Na ... Naruto?"

Senyuman terukir di wajah Naruto yang semringah. Membuat Cassie terpana dengan kedua pipi yang merona merah. Darahnya berdesir cepat. Jantungnya berdebar-debar.

"Kau berbicara denganku, Naruto?" tanya Cassie dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ya," jawab Naruto sambil mengangguk, "aku mencintaimu. Maukah kau menikah denganku, Cassie-senpai?"

"Me ... menikah?"

Cassie terpana dengan mata yang membulat sempurna. Naruto mengangguk sekali lagi.

"Benar. Jawablah sekarang. Aku tidak mau menunggu lagi," kata Naruto berwajah serius.

"A ... aku mau," balas Cassie tersenyum sambil mengangguk.

Hati Naruto dan Cassie berbunga-bunga. Mereka berpelukan erat cukup lama dalam hujan bunga Sakura. Menjalin kasih yang mulai bersemi kembali.

"Naruto, aku harus pulang sekarang." Cassie melepaskan pelukan dari tubuh Naruto.

"Apa aku boleh mengantarkanmu pulang?" Naruto memegang kedua bahu Cassie.

"Ya. Ayo!"

Cassie mengangguk sembari tersenyum. Naruto menggandeng tangannya dan berjalan beriringan dengannya. Berbincang akrab tentang apa saja.

"Apa? Menikah seminggu lagi?" Cassie tercengang dengan wajah yang memerah.

"Iya. Aku tidak mau berpisah denganmu lagi, Cassie-senpai." Naruto berwajah serius.

"Tapi ... Apa tidak kecepatan? Apa lagi aku masih sekolah."

"Tidak. Kau tetap bisa bersekolah meski pun kita sudah menikah."

"Aku mau saja. Tapi, lebih baik aku berhenti menjadi Pandora agar lebih fokus hidup normal bersamamu."

"Itu bagus. Aku mendukungmu, Cassie-senpai."

"Lalu satu lagi, jangan panggil aku Cassie-senpai. Cukup Cassie saja, ya."

Cassie tersenyum dengan semburat merah tipis di dua pipinya. Naruto mengangguk semangat.

"Baiklah, Cassie." Senyum semringah merekah di paras Naruto.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N:

Satu chapter lagi. Nantikan, ya.

Terima kasih.

Minggu, 2 Februari 2020