Salah Naruto yang memiliki mulut layaknya ember bocor minta ditambal, Sasuke menghela napas berulang kali melihat Sakura terus-menerus menggunakan ponselnya sejak Naruto pulang. Dia tidak marah sih, tapi antisipasinya berlebihan sekali. Sasuke memang tidak pernah menyimpan nomor Hanabi, tapi Sakura sangat hafal nomor cewek itu. Apa pun yang dikirim Hanabi, Sakura langsung tahu dan membacanya. Betapa pun Sasuke mengingatkan, istrinya tetap asyik sendiri mengerjai Hanabi dengan mengiriminya pesan aneh-aneh. Hmm.
"Yang, lebih dekat ke sini deh."
"Kenapa?"
Mereka sedang tiduran di ranjang berdua, jadi mau sedekat apalagi? Sakura yang merasa respon Sasuke terlalu lambat langsung menarik tubuh suaminya itu mendekat, memuluknya, lalu mencium sudut bibirnya. Serius nih Sakura? Kalau begini sih Sasuke mau banget. Meski sekarang bukan malam jumat, maka malam senin pun jadi. Sasuke lantas segera membawa tubuh Sakura ke dekapannya dan berniat melakukan sesuatu. Sayangnya, doi justru ditolak mentah-mentah oleh si istri yang lebih fokus pada hal lain.
"Sebentar yang, aku mau ngirim ini dulu."
"Ngirim apa?"
Sakura tidak menjawab, wajahnya tampak serius namun berubah menjadi tawa membahana. Ini pasti, Sasuke was-was dan langsung merebut ponselnya yang sejak tadi dipegang Sakura. Benar, dugaannya tidak meleset. Di layar ponsel, terlihat isi chat Hanabi dengannya. Parahnya, Sakura mengirim foto intim barusan ke cewek itu. Untung belum dilihat, Sasuke buru-buru menghapusnya sebelum Hanabi menyadari.
"Kamu jangan ngirim hal-hal kayak gini deh."
"Apaan sih? Lebay. Itu kan cuma foto cipokan doang, bukan bokep."
"Ya tetap saja ini nggak etis yang, apalagi si Hanabi itu orang lain."
"Iya orang lain, tapi ketemuannya sering."
Salah lagi.
Hidup Sasuke ini mirip orea sepertinya, tinggal makan saja kok harus repot-repot diputar, dijilat, dicelupin? Jika begini masih mendinglah si Akio yang punya banyak tema. Tema gelap, tema terang, dan tema nan tapi minta diprioritaskan. So sad. Sakura kelihatan gondok sekarang karena dia langsung beranjak ke kamar mandi tanpa mengatakan apa pun. Mampuslah, tidak dapat jatah kalau begini. Sasuke memijat kepalanya yang mulai pusing sambil menata posisi tidurnya. Beberapa menit kemudian, Sakura keluar dari kamar mandi dengan wajah datar.
"Kamu nggak pakai masker yang?"
"Nggak."
"Kenapa? Tumben banget."
"Buat apa maskeran biar cantik tapi punya suami yang nggak jujur." Naruto asw!
"Yang, aku bukannya nggak mau jujur."
"Terus apa?"
"Ya aku begini karena ngertiin kamu lah." Sakura istrinya ini anti dengan Hanabi, Sasuke cukup sadar diri untuk tidak mengatakan apa pun tentangnya. "Kamu masih ingatkan sama sumpahku?"
Sumpah tidak akan menaruh perasaan ke cewek lain, selingkuh, apalagi kawin lagi. Sakura siap sedia melakukan smackdown jika Sasuke terbukti melakukan kesalahan tersebut. Aneh rasanya, akhir-akhir ini istrinya sering mudah emosi. Sudah begitu jika diteliti lebih jelas lagi tubuh Sakura kian membesar di beberapa bagian. Mungkinkah?
"Kamu nggak lagi hamil kan yang?"
"Hamil apanya?! Orang lagi emosi gara-gara kamu malah ngomongin hal lain."
Sasuke menciut seketika, Sakura dalam mode marah sangat persis ibu tiri. Mungkin belum waktunya membahas ini, tapi Sasuke benar-benar penasaran mengenai spekulasinya. Bisa saja istrinya saat ini positif hamil, tapi dia tidak sadar. Sudah pukul sepuluh malam, seharusnya mereka cepat tidur dan saling berbagi kehangatan. Duh Sakura, jahat banget sama suami. Lagian goblok sih, sudah tahu Hanabi begitu masih saja diladeni.
Poor you, Pak Polisi.
- 0 -
Akio kumat lagi, pagi-pagi datang ke rumah kakak ceweknya dengan perasaan dongkol. Kesal setengah mati, kok bisa Abang iparnya itu masih ngotot menjodohkan temannya yang hitam kayak habis maghrib? Padahal di sini ada Akio yang putihnya mengalahi bayclin. Cewek memang inginnya aneh-aneh, ia sendiri pun jengah menghadapinya.
"Gue nggak masak Ki, lo kalau mau sarapan di sini goreng telur mata sapi sana di dapur."
Pada kenapa sih orang-orang ini?
Akio melirik Sasuke yang duduk di meja makan sembari menyendok mi kuahnya yang dicampur dengan nasi, tanpa lauk dan tanpa kerupuk. Sedangkan Yupiter dan Mars duduk di depannya menikmati sereal. Biasanya, kakak ceweknya selalu menyiapkan makanan yang enak. Tapi pagi ini, apa yang dilakukan Sakura membuatnya mengeryit. Wah gila, Ibunya tahu pasti diceramahi tujuh hari tujuh malam. Sasuke ini suaminya loh, yang memberi nafkah lahir batin. Sakura tidak sepatutnya menelantarkannya seperti itu.
"Siapa juga yang mau sarapan di sini." Akio percaya diri menolak. "Nih, Mama nyuruh gue ngebawain ini buat lo."
"Apaan?"
"Nasi goreng seafood."
Tupperware berwarna biru laut yang dibawa Akio sejak tadi rupanya berisi makanan enak, Sasuke mengelus dada lega akhirnya. Mi kuah saja tidak bisa membuatnya kenyang. Maka begitu Sakura meletakkan tupperware yang diberikan Akio di atas meja, Sasuke buru-buru mengambil sendok dan langsung membuka tutup benda kesayangan para bunda itu lalu memakan nasi goreng seafood. Omong-omong, Akio tidak jadi marah sekarang. Marahnya nanti saja ketika dalam mode kumat, tahan Akio.
"Om Kiki, mau berangkat kerja?"
"Iya, kenapa Yupi?"
"Nggak apa-apa, cuma tanya doang."
Dibandingkan yang lain, Sakura sendiri yang paling tidak tertarik dengan pembicaraan Akio. Dia masuk ke kamar mandi yang letaknya di dapur, dan di situasi itu langsung dimanfaatkan Akio untuk mengintrogasi Sasuke. "Eh Bang, gue kan sudah bilang nggak usah nyomblangin teman lo sama Hana?!"
"Ya terus?"
"Kok lo goblok sih? Ini gue lagi berjuang, lo jangan patahin semangat gue cok!"
"Ssttt!" Akio ini apa tidak melihat ada si kembar yang sedang memakan sereal di depan mereka? Sasuke menahan kesal sekaligus niatan pengen ngemplang Akio. Untungnya, Sakura kembali lagi ke dapur dan membuat Sasuke memasang wajah datarnya. "Habis ngapain yang ke kamar mandi?"
"Kepo."
Kok Akio merasa miris ya? Sakura kakak ceweknya duduk di kursi kemudian membuka tudung yang ada di meja, isinya bukan main. Berbeda dari Sasuke yang tadi hanya memakan mi instan kuah, Sakura rupanya dengan enaknya memakan ayam rica-rica. Ya gusti istri macam apa itu?
"Weh kak, kok lo enak banget makannya?"
"Suka-suka guelah, orang gue yang beli."
Di rumah ini, Sakura yang paling berkuasa. Jadi cukup rakib atid saja yang menilai, lambemu jangan. Sasuke dan Akio hanya bisa berbesar hati menerima, takut Sakura semakin gondok. Begitu pula dengan Yupiter dan Mars yang sejak tadi hanya menjadi penonton.
"Papa habis ini yang ngantarin aku sama kakak Yupi ke sekolahkan?"
"Nggak sayang, hari ini Mama yang bakal ngantarin kalian." Duh, Sakura benaran marah.
Sasuke menghela napas berulang kali, kalau sudah begini harus ia terapkan strategi jitu nanti malam. Maklum saja, Sakura hanya bisa dibujuk dengan itu. Sabar, sabar.
To be continue...
