"Ini pertama kalinya sarapan saat Jisoo hyung tidak di rumah." Ucap Seungkwan dengan hembusan nafas.
Seungcheol yang duduk di samping Seungkwan mengacak rambut sang dongsaeng sambil tersenyum.
"Kau akan semakin terbiasa nantinya." Kata Seungcheol.
Saat pulang dari resepsi dan menginjakan kaki di mansion, Seungkwan melongo luar biasa kala menyaksikan barang-barang milik Jisoo sudah bersih tak tersisa. Mulai dari mobil, isi kamar, hingga grand piano yang Jisoo miliki sudah tidak ada.
Di mansion Choi terdapat dua buah grand piano. Karena bagaimana pun, sang nyonya besar sangat menyukai memainkan alat musik itu.
Saat Jisoo berulang tahun pertama kali di mansion ini, Jisoo dihadiahi sebuah grand piano berwarna putih yang diletakan di lantai atas.
Hal-hal yang menghilang itu lah yang menyebabkan culture shock bagi Seungkwan.
"Seungkwanie, kita akan mengunjungi Jisoo saat istirahat makan siang. Kita masih memiliki urusan yang belum selesai dengan si Buseok itu." Kata Kihyun.
Seungkwan dan Seungcheol hanya mengangguk setuju. Begitu pula dengan sang appa, Hyunwoo, yang juga tak akan membantah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di depan sana, Jisoo dengan santainya berjalan bersama Seokmin di antara lorong kampus yang padat. Meninggalkan Chan yang sudah seperti anak hilang untuk berjalan sendiri.
Namun ketidaksantaian berada di sekitar mereka yang mana para mahasiswa dan mahasiswi sangat ricuh.
Berita pernikahan mereka sudah tersebar di pelosok negeri dan itu lah yang menyebabkan para pengagum Seokmin atau pun pecinta Jisoo patah hati.
Dan Chan sebagai adik dari Seokmin mendapat banyak sekali pertanyaan dari seluruh angkatan tentang berita itu.
Chan dan Seungkwan sebenarnya adalah salah dua dari orang-orang yang termasuk pada Quattuor Coronam yang tidak punya barrier menakutkan pada aura mereka. Maka dari itu banyak yang berani untuk berbicara dan berteman dengan kedua sosok ini.
"Ku ingin kabur rasanya." Ucap Chan.
Maka dari itu ia menundukan tubuhnya dan mulai bergerak dengan lincah untuk mencapai kelasnya.
Bruk.
Tuh kan, Chan jadi menabrak seseorang yang ada di depannya.
"Mianhage." Ucap Chan.
Orang yang ditabraknya hanya terdiam sambil menatapnya.
Mata Chan terkunci dan ia ingin berteriak saat itu juga.
"S…s…"
Mata tajam berwarna abu-abu itu memicing seolah memerintah Chan untuk diam.
Tak lama sosok itu melewati Chan dan menghilang di kerumunan mahasiswa yang masih heboh.
Chan menghembuskan nafasnya yang tercekat tadi.
"Apa yang dia lakukan disini?" Tanya Chan dengan pandangan bingung.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam sudah menunjukan pukul satu siang. Seperti yang diminta oleh Nyonya Besar Choi, Seungcheol dan Seungkwan sudah sampai di mansion keluarga Lee terlebih dahulu daripada orang tua mereka.
Di depan pintu sudah ada Buseok yang menyambut kedua tuan muda Choi itu.
"Selamat datang, Choi daepyonim, Choi doryeonim." Sapa Buseok sambil menundukkan sedikit badannya.
"Annyeong, Buseok ajushi." Sapa balik Seungkwan dengan senyuman lebarnya.
Percayalah senyuman Seungkwan itu berjenis senyuman bisnis.
"Seokmin dan Jisoo sudah kembali?" Tanya Seungcheol.
Buseok mengangguk lalu mempersilakan kedua tuan muda itu untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
Begitu masuk, Seungcheol dan Seungkwan dapat melihat grand piano putih milik Jisoo terletak di dekat tangga.
'Baguslah piano itu tidak dihancurkan manusia ini.' Bathin Seungkwan.
Tak lama saat Seungcheol dan Seungkwan mendudukan diri mereka pada sofa, Seokmin, Jisoo, dan Chan muncul dari arah ruang keluarga.
"Hyung!" Kata Seungkwan langsung menerjang Jisoo.
Saat itulah Hyunwoo dan Kihyun datang dengan aura yang mengancam.
Seungkwan langsung terdiam saat itu juga. Begitu pula Chan yang langsung terdiam dengan wajah pucat.
"Buseok-ssi, kita perlu bicara." Ucap Kihyun langsung.
Buseok dengan senyum kecilnya mengangguk mengerti.
Mereka bertujuh akhirnya duduk bersama di sofa ruang tamu.
Berkat aura Hyunwoo dan Kihyun yang mengguar, Seungcheol dan Seokmin jadi ikut terbawa arus. Seungkwan, Jisoo, dan Chan hanya bisa terdiam sedangkan Buseok menatap tajam ke sekelilingnya.
Kihyun melemparkan sebuah berkas ke hadapan Buseok.
"Kau bisa melihatnya sendiri." Ucap Kihyun dengan sinis.
Buseok mengambil berkas itu lalu membukanya. Ia membaca isinya dan menatap terkejut ke berkas itu.
"I..ini?"
Hyunwoo dengan anggunnya duduk di sofa tunggal sambil menyilangkan kedua kakinya dan tanganya yang bertumpu di pinggiran sofa. Sang kepala keluarga Choi itu hanya diam dan membiarkan sang istri yang berbicara.
Seokmin mengenggam erat tangan Jisoo. Jisoo yang melihat Seokmin merasa sangat tegang saat itu hanya mengenggam balik sambil menepuk tangan besar itu.
Seungcheol tak kalah berbeda dengan sang appa, bedanya jika sang appa tak menunjukan ekspresi apa pun di wajahnya, Seungcheol menghiasi wajahnya dengan sebuah seringaian tipis.
Dan disinilah Seungkwan dan Chan yang hanya bisa terdiam sambil berharap keringat dingin tidak meluncur di dahi mereka.
"Kami tahu keterlibatanmu dengan X Clan, Buseok-ssi. Jika kau ingin menghancurkan St. Carat Foundation, kau juga harus menghancurkan RED Corporation, Monteen Stage, dan juga Alligator. Dan itu adalah hal yang sangat mustahil." Ucap Kihyun dengan seringaian lebarnya.
Buseok terlihat panik dengan keringat dingin yang mengalir di dahinya dan wajah yang memerah.
"Eomma, boleh aku yang lanjutkan?" Kata Seungcheol sambil tersenyum manis ke arah sang eomma.
Kihyun mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Kami belum bisa menyentuh X Clan karena minimnya bukti. Namun kami bisa memenjarakan Anda atas segala bukti keterlibatan Anda dalam korupsi saham St. Carat dan pembunuhan Kwon dan Lee abeoji-eomeoni. Maka dari itu, Buseok ajushi, mendekamlah di neraka. "
Bersamaan dengan kalimat terakhir Seungcheol, polisi masuk ke dalam mansion itu dan langsung membatasi gerak Buseok dengan borgol.
"Selamat siang, Lee Buseok. Atas dugaan korupsi saham St. Carat Foundation dan pembunuhan atas Lee Taehyung, Jeon Jiwoo, Kwon Sungjae, dan Park Sooyoung, Anda kami tahan."
"Tidak! Lepaskan aku! Lee Seokmin! Keparat kau! Setelah yang selama ini aku lakukan untukmu ini balasanmu! YAK LEPASKAN AKU!"
Buseok meronta di dekaman dua polisi yang menahannya. Dengan kekuatan ekstra, polisi itu menyeret paksa Buseok yang terus meronta.
Seokmin menatap tajam ke arah sang samchon.
Sejujurnya ia sudah melihat berkas yang dikumpulkan oleh bantuan Alligator itu. Isinya sangat menyakitkan bagi Seokmin karena ternyata kematian orang tuanya dan orang tua Soonyoung dan Mingyu di pesawat adalah andil dari sang samchon juga.
Soonyoung dan Mingyu juga sudah melihat berkas itu lebih dahulu makanya mereka bisa lebih tenang dibandingkan Seokmin dan Chan yang baru membacanya tadi pagi.
"Appa, eomma, aku mengenal mereka. Mereka bukan polisi kan?" Kata Seungkwan kala menyaksikan Buseok dipaksa masuk ke dalam mobil hitam yang terlihat dari ruang tamu ini.
"Kau benar sekali, chagi. X Clan bukan lagi ranah negara. Maka dari itu aliansi Quattuor Coronam lah yang mengurusnya." Kata Kihyun sambil tersenyum manis sedangkan Hyunwoo hanya tersenyum tipis.
"Jadi neraka yang hyung maksud bukanlah penjara normal." Kata Chan sambil menatap Seungcheol.
Seungcheol menganggukan kepalanya sambil ikut tersenyum.
"Setidaknya kematian abeoji dan eomeoni bisa terbalaskan. Jisoo-ya, bagaimana harimu di rumah ini?"
Jisoo yang masih menepuk pundak Seokmin langsung menatap sang hyung dengan senyuman.
"Aku baik-baik saja, hyung. Seokmin dan Chan menjagaku saat Buseok ajushi menyindirku." Jawab Jisoo.
"Kau bahagia, Shua?"
Jisoo terdiam sejenak.
Hanya sang appa yang memanggil ketiga anaknya dengan panggilan kecil. Karena Hyunwoo sangat jarang berbicara, maka sangat jarang sekali nama kecil itu mereka dengar.
Jisoo tersenyum cerah ke arah sang appa.
"Ne appa. Aku sangat bahagia. Appa dan eomma tidak usah mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja." Kata Jisoo.
Lihatlah kedua manik Jisoo yang berkaca-kaca. Ia tak sempat mengucapkan perpisahan kepada orang tua dan saudaranya karena ia menikah secara tiba-tiba.
Entah mengapa Jisoo menjadi melaklonis saat ini.
Hyunwoo bangkit dari duduknya dan memeluk Jisoo dengan erat. Yang lain hanya bisa melihat ayah dan anak itu saling mengutarakan kasih sayang tanpa kata.
Kihyun juga turut bangkit dan memeluk Seokmin.
"Seokmin-ah… Tolong jaga anakku. Ia sangat tenang di luar namun rapuh di dalam, maka dari itu tolong lindungi dia dan jangan sakiti dia. Jadilah kepala keluarga Lee yang hebat, eomma selalu ada untuk kalian."
Seokmin memejamkan matanya dan menikmati pelukan seorang ibu yang lama tidak ia rasakan.
Pelukan Hyunwoo-Jisoo dan Kihyun-Seokmin terlepas dan kini Hyunwoo menuju Seokmin dan Kihyun menuju Jisoo.
Mereka kembali berbagi pelukan hangat.
"Jisoo, anak eomma yang sangat eomma sayangi… Jaga dirimu baik-baik. Jadilah pasangan yang selalu ada di sisi Seokmin. Jika terjadi sesuatu, eomma selalu ada untukmu. Berbahagialah chagi."
"Seokmin, aku percayakan Shua padamu."
Jisoo sudah tak bisa menampung air matanya, ia akhirnya menangis di pelukan sang eomma.
Seungkwan juga terlihat menangis di pelukan Seungcheol. Chan hanya tersenyum haru melihat adegan di depannya.
"Baik, karena appa dan Seungcheol harus kembali ke kantor dan Seungkwan masih ada jam kuliah, kami pergi dulu Jisoo, Seokmin, dan Chan." Kata Kihyun yang terlihat menghapus air mata Jisoo.
"Ne eomma. Hati-hati di jalan." Kata Seokmin.
Seokmin merangkul bahu Jisoo dan mereka berdiri di kanopi bersama Chan.
Lambaian halus Jisoo arahkan ke dua buah mobil yang kini berjalan semakin menjauh.
"Hyung, aku ada project tengah semester. Aku berangkat dulu ne." Kata Chan yang kini ikut berpamitan.
"Ne, Chanie. Usahakan pulang jangan terlalu malam." Pesan Jisoo.
"Siap hyungie."
.
.
.
.
.
.
.
Damanic's Talk
Aku kangen Seungcheol...
:(
See you~
