Pohon-pohon yang tumbuh di pegunungan itu adalah jenis pohon yang tidak Gyandev kenali. Pohon itu memiliki tubuh yang ramping dan tinggi. Ranting-rantingnya kuat dan tidak bercabang banyak. Daunnya berbentuk bulat berwarna hijau dengan sedikit warna kuning di batang daunnya. Akarnya yang kuat menancap di tanah dengan sombong.
Kannan dan Gyandev memulai perjalanan mereka keesokan harinya. Kannan telah mencarikan beberapa buah liar untuk Gyandev makan sebagai sarapan. Saat ini, tidak satu pun dari mereka yang kelaparan.
Aura spiritual di gunung itu—tepatnya di area belakang kuil sangat tinggi. Hal ini dapat dibuktikan dengan kehidupan para monster iblis dan dewa yang ada. Puluhan bahkan ratusan jenis monster tinggal di sini untuk alasan yang tidak jelas.
Gyandev berpikir tempat ini dibuat oleh dewa dan wajar untuk ada banyak monster di sekitar sini. Mungkin saja mereka adalah peliharaan dewa itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Kannan.
"Aku ingin mencari sebuah batu spiritual," jawab Gyandev.
"Eh?" Kannan menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa? Aku sudah bilang jalan di belakang kuil sangat berbahaya tapi kamu…"
"Aku mencarinya untukmu," potong Gyandev. "Heryawan memberi tahuku bahwa apa yang dicari oleh oang-orang selama ini adalah sebuah batu spiritual yang sangat kaya."
Kannan menggaruk pipinya kikuk. "Kau tidak perlu mencarinya. Sebenarnya aku ke sini untuk alasan itu juga."
Gyandev membelalakkan matanya. "Kenapa kau tidak memberi tahu aku?"
"Aku tidak mau kau ikut. Kau adalah orang yang mudah tertantang dan suka petualangan."
"Tetap saja!" Kedua alis Gyandev menyatu kesal. "Aku peduli padamu tapi kau malah…Ah! Ah! Aku kesal!"
Kannan terkekeh kecil. Ia mengangkat tangannya dan mengusap tanda kontrak mereka di dahi Gyandev lembut. "Jangan marah lagi. Aku tidak akan melepaskanmu setelah ini."
Gyandev tertegun dan mengangguk kecil. "En. Tapi, tahu dari mana kau batu itu?"
Mata merah Kannan menyipit dan senyum jenaka terulas. "Aku kenal pemiliknya."
Mereka berjalan sekitar dua jam sebelum akhirnya berhenti. Perasaan Gyandev terus tenggelam ke lautan hitam karena semakin jauh mereka berjalan, semakin banyak tengkorak manusia terlihat.
Orang-orang percaya akan rumor monster di belakang kuil karena tidak ada yang pernah kembali setelah naik ke atas sana. Banyak penantang yang akan mendeklarasikan keinginan mereka terlebih dahulu sebelum mendaki. Masyarakat menunggu dan menunggu hingga tidak ada lagi yang bisa mereka tunggu. Mereka perlahan melupakan orang-orang itu. Jika ada penantang baru, warga yang berminat akan membuat taruhan.
Dari luar tidak ada yang mencurigakan dan tidak ada satu pun aktivitas binatang terlihat namun. setelah kau masuk, ratusan suara aneh para monster berlomba-lomba menunjukkan suara siapa yang paling menakutkan dan keras.
Gyandev telah melihat beberapa namun, setelah ia berjalan bersama Kannan tidak satu pun bayangan monster terlihat.
Gyandev mendongakkan kepalanya dan melihat mulut gua besar yang menyambut mereka. Ia menelan ludahnya dengan penuh semangat saat melihat kegelapan di dalamnya. Ia berjalan masuk mengikuti Kannan.
Saat mereka berjalan, satu per satu obor di dinding gua menyala. Api itu berwarna putih dan aneh. Gyandev merasa ada ribuan pasang mata yang mengikuti gerak geriknya. Setiap kali mereka selesai melewati sebuah obor, obor itu akan mati dan obor di depannya akan menyala.
"Ini adalah api surga," ujar Kannan.
"Api surga? Ah…" Mata Gyandev membola saat ia menyadari sesuatu. "Pemilik gunung ini adalah dewa?"
Kanna mengulas senyum. "Iya."
Gyandev melihat senyum mengerikan Kannan dan memutuskan untuk menutup mulut. Untuk pertama kalinya, Gyandev merasa takut pada Kannan. Biasanya, meski Kannan sedang menyerang sesuatu, ia tidak akan menunjukkan banyak emosi namun kali ini, senyum yang diulas Kannan benar-benar mengerikan.
Gyandev menelan ludahnya susah payah. Ia menenangkan diri dan memberi tahu dirinya sendiri kalau ia dan Kannan telah membuat kontrak. Kannan tidak akan melakukan apa pun padanya atau kehilangan kontrol pada dirinya.
Gua yang mereka masuki seperti jalan tanpa ujung. Mereka terus berjalan dan menemui beberapa kelelawar dengan mata emas pucat. Beberapa stalaktik meneteskan air tanpa henti. Suara tetesan airnya menggema di dalam gua bersamaan dengan langkah kaki mereka berdua.
Saat mereka berjalan, tiba-tiba mata Gyandev membola. Ia segera membuka mulutnya. "Kannan! Pergi!" Teriak Gyandev seraya melompat ke belakang beberapa meter.
Kannan sudah menyadari ada yang salah sebelum Gyandev memberi tahunya dan sudah siap melayang. Ia baru saja mengulurkan tangannya untuk menangkap pinggang Gyandev dan membawanya terbang namun Gyandev sudah lebih dulu melompat ke belakang.
Kannan membelalakkan matanya. "Gyandev, awas!"
"Ah!"
Sebuah lubang muncul di bawah kaki Gyandev dan menelannya jatuh. Gyandev mengutuk dalam hati. Ia jelas merasakan getaran di depan dan tidak menyangka bahwa lubang itu malah muncul di tempat ia menjauh.
Kannan tidak membuang-baung waktu untuk berpikir dan langsung meluncu masuk ke dalam lubang dan mengulurkan tangannya. Ia memanggil aura kegelapannya. Elemen kegelapannya muncul memanjang seperti tali dan melaju menuju Gyandev. Tali-tali itu berhasil menangkap Gyandev dan melingkar di pinggang rampingnya. Kannan ingin kembali ke atas namun, saat ia mendongak, lubang itu sudah menutup.
Ia mendekatkan Gyandev pada dirinya sendiri dan mendaratkan diri dengan mulus di dasar lubang. Kannan merasakan kelembaban yang tinggi dan tanah basah yang ia injak. Gyandev tidak bisa melihat apa-apa dan reflek menggenggam tali-tali kegelapan milik Kannan untuk perlindungan.
"Kannan," panggil Gyandev pelan.
"Aku di sini." Kannan mengaktifkan mata iblisnya dan melihat sosok Gyandev yang menunjukkan ekspresi ketakutan dan semangat. Ia menghampiri Gyandev dan berbisik di telinga Gyandev. "Aku di sini."
Gyandev meraba-raba udara dan berhasil menemukan tangan Kannan. Ia menggenggamnya erat. "En. Kau di sini."
Kannan mengendus dan mencium bau tikus yang sangat bau. Ia menajamkan pendengarannya dan berhasil mendengar pergerakan dari belakangnya.
Suara langkah kaki berat terdengar dari belakang mereka berdua. Gyandev mendengarkan langkah kaki itu dengan cermat dan berhasil menemukan arah suara itu.
"Hahahaha. Manusia mana lagi yang berhasil sampai di sini? Akhirnya aku bisa makan manusia lagi."
Suara itu keras dan nyaring. Tergolong cempreng dan menyakitkan telinga. Kannan menatap montser neraka di hadapannya dengan sengit dan tanpa sadar tertawa. "Manusia? Yakin?"
Monster tikus raksasa itu tertawa kecil. "Aku hanya tertarik pada manusia. Tapi kalau bisa memakan iblis sepertimu juga tidak masalah."
"Ooh…"
Tikut itu bercicit keras dan berlari ke arah Kannan. Kannan tersenyum dan bergeser ke samping untuk menghindari tikus bau itu. Tikus itu tertawa dan kembali berlari ke arah Kannan. Kali ini Kannan melompat dan mendarat di atas kepala tikus itu. Tikus itu menggeram lalu mendongak untuk menjatuhkan Kannan dan Gyandev yang berada di bawah perlindungan elemen kegelapan.
Kannan melompat dan mendarat di depan tikus itu. "Ah. Tidak sabaran," ujar Kannan.
Tikus itu menggeram dan membuka mulutnya lebar-lebar, siap untuk menelan manusia dan iblis tersebut. Ia menutup mulutnya dengan keras dan siap untuk mengunyah saat makhluk beda ras itu menghilang dan ia hanya bisa menahan nyeri dari gigi tajamnya yang saling bertabrakan.
Ketika tikus itu menoleh marah, Kannan sudah berada di belakang tikus itu. "Dimana dewimu?" Tanya Kannan,
"Dewi? Hah! Dewi apa? Gua ini adalah milkku seorang! Tidak ada dewi di sini!" Jawab tikus itu.
"Tidak ada dewi? Sayang sekali. Kalau begitu aku harus membunuhmu."
Kannan mengeluarkan aura kegelapannya di bawah monster itu. Sang monster membelalakkan matanya dan berusaha kabur namun aura itu dengan lincah mengikutinya. Perlahan, aura kegelapan itu menelan sang tikus. Tikus itu terus mencicit nyaring hingga akhirnya berhenti untuk selamanya.
Kannan mengusap perutnya dan menjilat bibirnya tanpa sadar. "Cukup enak."
Gyandev yang tidak tahu apa-apa mendengar hal ini dan terkejut. "Kau memakannya? Bagaimana?"
"Jangan dipikirkan. Ayo keluar."
Kannan berusaha membuka lubang di atas mereka namun gagal. Ia meminta tolong Gyandev namun Gyandev tidak bisa melihat dan Kannan tidak mengizinkan Gyandev menempelkan telinganya ke tanah. Pada akhirnya, Kannan mengikuti jalan di bawah tanah.
Mereka terus berjalan hingga cahaya kecil muncul di hadapan mereka. Kannan mengedutkan bibirnya dan berusaha mengusir cahaya itu namun cahaya itu malah melawan Kannan seperti ia memiliki kesadarannya sendiri.
Gyandev yang akhirnya bisa melihat cahaya mengerjapkan matanya beberapa kali untuk beradaptasi. Ia memerhatikan cahaya itu dan merasakan rasa hangat di sekitarnya. "Apa ini api surga juga?"
Bola kecil itu bergetar lalu bergoyang-goyang seperti sedang menggeleng.
"Kalau bukan lalu apa?" Tanya Gyandev.
Kannan menjawab dengan nada jijik. "Dia ini cahaya dewa. Kau tahu, elemen cahaya."
Gyandev memebalalakkan matanya. "Ini pertama kalinya aku melihat elemen cahaya secara langsung…"
Kannan tidak membalas Gyandev dan membairkannya memperhatikan bola cahaya itu. Ia menunggu dengan sabar dan saat kesabarannya telah habis, ia berbicara. "Dimana dewimu?" Tanyanya pada bola itu.
Bola cahaya itu sepertinya mengenali Kannan dan mengeluarkan suara desisan. Cahayanya menerang dan menunjukkan ketidak sukaannya pada Kannan.
Kannan mendengus. "Kalau tidak mau jawab ya sudah. Aku bisa cari sendiri."
Gyandev melihat interaksi mereka berdua dan tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. "Sekarang sudah ada cahaya. Aku akan membuat lubang di atas."
Bola cahaya itu menggeleng dan menghalangi Gyandev.
"Aku tidak boleh membuat lubang?"
Bola cahaya itu mengangguk.
"Tapi kamu sedang mencari batu spiritual."
Bola cahaya itu diam sebentar sebelum melayang-layang mengitari tubuh Gyandev. Bola cahaya itu lalu berhenti sebentar dan maju ke arah tenggara.
Kannan menaikkan sebelah alisnya dan Gyandev dengan senang mengikuti bola cahaya itu. Satu-satunya alasan Kannan tidak bisa menemukan arah adalah ini bukan teritorinya sama sekali. Saat mereka masih berada di luar Kannan masih tahu jalan namun, begitu masuk ke dalam gua, aura tanda daerah kuasa seorang dewi begitu kuat hingga ia tidak bisa menemukan jalan.
Mereka berdua mengikuti bola cahaya itu masuk lebih jauh ke dalam gua. Bola itu menuntun mereka berdua dan berhenti setelah setengah jam berlalu. Di hadapan mereka, sebuah tanggga melingkar ke atas dengan indah. Gyandev mendongak dan tak sabar untuk segera naik.
Kannan berjalan di depan. Mereka menaiki tangga perlahan dan mendengarkan pergerakan di sekitar mereka. Bola cahaya itu dengan senang menuntun mereka.
Entah sudah berapa ratus atau bahkan ribu anak tangga yang telah mereka naiki. Gyandev sudah mulai kehabisan tenaga dan nafasnya memberat. Kannan sendiri merasakan aura spiritual dewa yang begitu kuat dan senyum mengerikan terulas di wajahnya.
Nafas Gyandev sudah pendek saat ia sampai di ujung tangga. Di hadapannya, sebuah pintu raksasa dengan ukiran yang indah dan menyala terang memasuki penglihatannya. Perasaannya campur aduk. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengucapkan kata 'wah' dengan penuh penghargaan.
Di sampingnya, mata iblis Kannan aktif dan tanduknya keluar. Ekor iblisnya mengayun tidak sabar dan gigi taringnya memanjang.
Tak lama lagi, ia akan mencapai surga.
