Setiap ahli waris dari Keluarga Bangsawan pasti memiliki Guru Pribadi. Berbeda dengan guru home schooling atau guru akademisi, Guru Pribadi yang dimaksud di sini adalah mendidik ahli waris mengenai tata etika kebangsawanan dan tata cara mengurus aset keluarga. Tidak ada syarat khusus untuk memilih Guru Pribadi kecuali disetujui oleh orang tua si ahli waris.

Contohnya adalah Xi Luhan, Guru Pribadinya ialah Alexander Willis—seorang Raja Inggris.

Ada pula Raja Woo Kris, Guru Pribadinya adalah Xi Luxian—Kepala Keluarga Bangsawan Xi Keenam.

Lalu Oh Sehun, Guru Pribadinya adalah Tuan Han—Pemilik Black Bar.

Black Bar adalah salah satu bar kecil di pinggir kota Seoul. Disebut kecil karena tempatnya hanya sebesar kafe-kafe biasa. Pengunjung di sini bisa minum-minum, menikmati DJ, bermain judi, atau menyewa wanita bayaran. Untuk judi harus ada taruhan di atas kertas, artinya pertaruhan memiliki legalitas. Sementara pesta atau pengedaran narkoba dilarang di bar ini. Jika aturan dilanggar penjara adalah konsekuensinya, dan para pengunjung paham betapa 'kolot'nya pemikiran Tuan Han.

Usia Tuan Han tahun ini nyaris enam puluhan. Pria itu memiliki surai hitam dan uban-ubannya terlihat bagai semir rambut hasil kerja penata rambut. Wajah bagian kirinya cacat karena kecelakaan. Hal itu juga menyebabkan mata kirinya terluka parah sehingga ditutup layaknya bajak laut.

Sehun bertemu Tuan Han sekitar tujuh tahun lalu, tepatnya setahun sebelum Sehun keluar dari silsilah Keluarga Oh. Mereka bertemu karena Sehun kabur dari istana dan memilih mabuk-mabukan di bar ini. Waktu itu, Tuan Han yang dasarnya mudah akrab pada siapapun menjelma bagai ayah paling ideal untuk Sehun. Lambat laun mereka akrab, hingga saat Sehun bertanya mengenai dirinya atau setidaknya nama aslinya, Tuan Han hanya berkata, "kehidupan lama atau masa laluku bukanlah hal penting untuk dibahas atau diketahui. Termasuk nama lamaku."

Sehun pun menghargai privasi gurunya tersebut.

Hari ini adalah sehari sebelum Chanyeol pulang dari China ke Korea. Pagi ini pula Sehun meluangkan waktu hanya untuk bersilaturahmi dengan Guru Pribadinya, meski Tuan Han sendiri tidak masalah jika Sehun melupakannya.

Tapi, mana bisa pria baik-baik seperti Sehun tidak tahu terima kasih seperti itu?

"Selamat pagi, Han-ahjusshi..."

Kebetulan suasana Black Bar pagi ini sepi karena dibuka pada malam hari. Tuan Han pun sibuk membersihkan fasilitas bar. Ketika ditegur oleh Sehun, dia menggantung kain lap di bahunya dan berkata agak ketus, "bocah sepertimu bisakah datang pada malam hari? Kau lebih mirip calon gigolo kekurangan uang dan sangat membutuhkan pekerjaan."

"Ahjusshi... Apakah tampilanku seburuk itu?"

Tuan Han melirik tampilan muridnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gayanya khas CEO sekali.

Sayangnya, mulut Tuan Han takkan pernah bisa disaring.

"Ganti ganti! Kau mirip penjahat kelamin. Mungkin tanpa dibayar, para pelacur bar akan bersedia mengangkangkan kaki untukmu!"

Sehun speechless. "Han-ahjusshi... ayolah..."

"Oke-oke... Duduklah dulu, aku harus membersihkan rak-rak botol ini dan menata beberapa minuman yang baru saja sampai. Karena kau tidak membayarku hanya untuk curhat, jadi minuman-minumanku lebih diutamakan." Tuan Han mendesis sambil mencondongkan wajah pada Sehun, "mereka lebih berharga darimu, asal kau tahu saja."

Sehun semakin terpana dengan jalan pikiran Tuan Han yang absurd. Dia melirik rak-rak botol minuman alkohol di belakang Tuan Han.

"Nde, maaf mengganggu harimu, Han-ahjusshi."

"No problem, santai saja."

Nyaris setengah jam penuh keheningan, akhirnya Tuan Han menghampiri Sehun yang duduk di depan meja barista.

"Jadi, apa?"

"Bukankah kemarin malam Tuan Han bilang padaku kalau ada tamu dari agensi Lu ent. datang kemari?"

"Oh iya!" Tuan Han menjentikkan jari. "Aku lupa kemarin aku menghubungimu di tengah-tengah kau bercinta dengan istrimu. Desisan dan geramanmu begitu jantan. Mau jadi gigolo barku?"

"Ya Tuhan..." erang Sehun. "Bisa kau fokus, ahjusshi?"

"Itu bisa diatur," Tuan Han menadahkan tangan. "Uang?"

Sehun memberinya sepuluh won.

Meski kecil, tapi Tuan Han memang menginginkan jumlah uang itu di setiap pertanyaan.

Otak bisnisnya memang tak pandang bulu, termasuk pada muridnya sekalipun.

"Kemarin ada salah satu petinggi Lu ent. mabuk-mabukan di sini. Kurasa dia bekerja sebelum AA ent. berubah kepemilikan dari Tuan Cho ke Lady Luhan." Tuan Han menunjukkan sebuah video dari layar ponselnya. "Coba lihat! Tapi bayar dulu!"

Sehun mendengus. Dia membayar gurunya lagi sebesar sepuluh won.

Video itu amatir, menunjukkan seorang pria gemuk berjas hitam setengah teler. Musiknya sedikit mellow karena dari video itu Tuan Han menyuruh DJ-nya merubah genre musik untuk ajang dansa.

"Hei tuan!" Itu suara Tuan Han sambil merekam si pria gemuk. "Kau ini meracaukan apa? Tuan Cho?!"

"Tuan Cho KEPARAT! BAGAIMANA BISA DIA MENJUAL SAHAMNYA PADA WANITA JALANG ITU, HAH?! Dulu dia meremehkanku dan lebih memilih bekerja sama dengan Luxian, sekarang?! Dia masih saja memilih ANAKNYA LUXIAN ketimbang aku?! Hei! Aku sudah mengabdi padanya puluhan tahun. Aku ingin membelinya tapi dia tidak mau menyepakatinya!"

"Memangnya apa hubungan antara Tuan Cho dan Luxian?"

"Mereka dulunya teman satu kampus, beda denganku yang teman se-SHSnya Tuan Cho! Dia dan Luxian mendirikan AA ent bersama-sama. Bahkan Luxian pernah jadi CEO AA ent walaupun tidak lama... Hhh... Sial sial! Aku benci dia dan apapun yang berhubungan dengannya. Sekarang? Anaknya malah melakukan hal sewenang-wenang di agensi!"

"Wah wah... Itu tidak bisa dibiarkan, ya? Parah juga sih!"

"Benar-benar parah kan? Kerjasamaku dengan agensi nyaris putus hanya karena aku memukuli staf! Hei! Stafnya memang bodoh makanya kupukuli!" Pria teler itu kemudian menyadari Tuan Han merekam dirinya. "Hei... Hei... Kau merekamku?!"

Video itu berubah buram dan dipenuhi guncangan.

Lalu mati.

Sehun dan Tuan Han saling berpandangan. Cukup lama. Sampai akhirnya Tuan Han berceletuk,

"Kau jatuh cinta padaku sampai kau tak bisa berpaling pandang dariku?"

"Kau mau mati, Ahjusshi?"

"A-aniyo..." Tuan Han memperbaiki posisi penutup matanya lalu mengusap-usap hidungnya. "Aku tahu kau hanya terpesona pada Lady Luhan. Well, bagaimana? Sudah dapat informasi menarik?"

Sehun tersenyum kecil, "ternyata Luxian, tidak... Tapi Keluarga Bangsawan Xi memang ada hubungannya dengan Lu entertainment. Beberapa benang merah di antara keduanya sudah terhubung."

"Lalu bagaimana dengan ini?" Tuan Han menunjukkan video lain. "Eits! Uangnya?"

Sehun kembali memberinya uang sepuluh won.

"Good boy..."

Tuan Han bekerja sebagai barista, termasuk berakrobatik dengan lempar-lempar botol, karena beberapa alasan.

Salah satu alasannya, bar ini adalah tempat yang sering dikunjungi orang kaya dan mereka yang teler begitu mudah diintrogasi.

Tuan Han memang licik.

Video kedua bukan orang yang sama. Seorang gadis muda, cantik, berpakaian seksi. Latar belakang videonya gelap. Hanya wajahnya yang disiram cahaya ponsel. Dia sesekali terkikik sambil memainkan ponselnya. Tampilannya agak menyeramkan.

Tuan Han, dengan keahlian lainnya sebagai juru kamera otodidak, berhasil merekam video sampai suara kikikannya yang persis penyihir ikut terekam.

"Aku baru dapat informasi! Aku harus share info ini ke masternim lainnya! Dengan ini pasti booming. Aku yakin disfack mau menjual info ini pada agensi atau media kecil..."

Sehun masih fokus pada video itu. Dari karakter si gadis, dia termasuk orang yang suka menulis sambil berbicara seakan mendikte dirinya sendiri. Jadi apa yang dia katakan, dia tulis pula.

"...EXO. Awalnya ada dua belas orang. Menyusut jadi sembilan. Lalu sekarang menjadi enam karena dua anggota wamil dan satunya ada masalah di China. Aku punya beberapa chat antara para manager dan pemilik agensi lama, Tuan Cho. Ini beberapa obrolannya dan aku punya bukti bahwa obrolan ini benar adanya...

...Tuan Cho pernah bertanya, 'bagaimana bisa ada dua belas member yang begitu bertalenta, visualnya luar biasa, ada di satu grup? Aku yakin EXO akan jadi menarik?'" Gadis itu sempat berhenti mengetik lalu bergumam, "ini kan kalimatnya? Coba aku lihat screenshotnya lagi!" Diam lagi namun jarinya terus mengusap-usap layar ponselnya. "Good! Ehm... Lalu tulisan lainnya akan lebih membuat siapapun tercengang, hahaha!"

"Kedua belas member ditanyai satu persatu, yaitu... siapa manager atau pencari bakat yang menuntun mereka ke agensi ini? Seperti yang kita tahu, beberapa agensi pandai menemukan bakat dan aura bintang di diri beberapa orang. Kenyataan itu tidak lepas dari keahlian manager-nim. Bahkan maknae EXO sampai dikejar-kejar. Dan salah satu manager AA ent menunggu Baixian, sang Main Vocal legendaris, pulang sekolah di depan gerbang sekolahnya. Lalu, apa jawaban para member?"

"Para member menjawab hal yang nyaris sama. Intinya, mereka memang bertemu seorang pria. Dia mengaku salah satu manager di AA entertainment. Dia punya keahlian bicara yang membuat siapapun tergoda dan penasaran pada apa yang dibicarakannya. Pria itu juga ramah walau sedikit ambisius jika member EXO ini menolak tawarannya. Pria itu juga memberikan selembar kertas pendaftaran audisi, seminggu sebelum pengumuman jadwal audisi disebarkan. Maka semakin percayalah kedua belas member ini pada pria tersebut."

"Baixian sendiri meneruskan, pria itu memakai masker dan kacamata. Agak mencurigakan karena tak mau menunjukkan wajah. Tapi karena ucapan pria itulah, Baixian percaya diri untuk ikut audisi. Secara pribadi, dia berterima kasih pada pria itu. Tak hanya Baixian, sebelas member lainnya bahkan Tuan Cho juga ingin sekali berterima kasih."

"Lalu apa yang aneh dari cerita ini? Kedua belas member ini awalnya disaring dari 120 trainee, lalu menjadi 60 trainee, 30 trainee, dan akhirnya menjadi 12 trainee siap debut. Akan aneh jadinya jika dua belas member secara kompak mengaku ditemui oleh manager dengan karakter dan pembawaan diri yang serupa. Nama pria yang mereka temui pun sama. Pria itu mengaku bernama 'Mr. Liam'. Belum lagi...

...setelah ditelusuri oleh pihak agensi, pria yang dua belas member ini maksud tidak ada dalam daftar staff atau karyawan agensi. Jadi...

...siapa Mr. Liam ini? Siapa pria yang begitu ahlinya memilih dua belas member berbakat tersebut?"

Sehun dan Tuan Han kembali bersitatap.

"Sepertinya aku harus menemui para member EXO di dorm mereka untuk mengorek sesuatu."

Sehun menemukan benang merah lainnya.

.

.

.

.

.

HUNHAN (GS)

ABAL-ABAL, GS FOR UKE, KINGDOM-AU, MAFIA-AU, RATE-M

NOTE :

Aku kembali...!

WARNING :

Part panjang :)

.

.

.

.

.

Thirteen : X-EXØ feat Xi's Mafia (bag 1)

"Kau tidak perlu menjadi Raja untuk melawan Raja. Kau hanya perlu menjadi Oh Sehun, suami sah Xi Luhan, untuk mengalahkannya."

—Xi Luhan—

.

.

.

.

.

"Perjanjian mereka adalah jika Chanyeol mengucapkan cinta pada Anda...

...Lady Luhan akan memerintahkan Chanyeol agar dia membunuh anda lalu membunuh dirinya sendiri."

Baekhyun tertegun sejenak dari sesaknya tangisan.

Baekhyun mengepalkan tangan sambil meremas kain seragam satpam Namjoon di bagian dada.

"Luhan..." amarah Baekhyun sudah menenggelamkannya dari kelembutan hatinya. "Kau harus mendapat ganjarannya agar kau berhenti bertindak bagai Tuhan...!"

Namjoon tahu kelemahan manusia salah satunya adalah cinta.

Lebih tepatnya, nurani mereka sebagai manusia.

Karena itulah Namjoon tersenyum manis di balik pelukan Baekhyun.

Percayalah, senyumannya sangat tersirat. [Chapter Twelve]

Sehun mendengar percakapan Namjoon dan Baekhyun.

Disertai air mata dan isakan Baekhyun, Namjoon mengultimatum psikis remaja gadis itu dengan kata-kata provokatif.

Ketajaman mata Sehun meredup.

Jelas dia tak mungkin menguarkan rasa marah pada Namjoon karena Baekhyun akan memandang buruk dirinya. Alangkah baiknya dia netral, membimbing remaja labil macam Baekhyun tanpa mendiktenya.

"Baekhyun-ah..."

Baekhyun menguraikan pelukan Namjoon. Ditatapnya Sehun dari posisinya yang ada di depan gerbang Mansion Xi.

Sehun merentangkan tangan untuk Baekhyun, seolah Baekhyun ditawari sebuah pelukan hangat.

"Op-oppa..."

"Aku tahu kau butuh pelukan. Peluk oppa kesayanganmu ini."

Kesedihan dan kelegaan Baekhyun menderaskan air matanya.

"OPPA...!"

Baekhyun seperti anak kecil saat berlari lalu melompat dalam pelukan Sehun. Sepintas mirip drama namun siapa yang peduli pendapat orang lain?

Tangisan gadis remaja itu semakin menjadi. Tangan berjari lentiknya meremas kemeja Sehun bahkan tak segan memukul-mukul. Sehun hanya tersenyum teduh. Mengelus punggung Baekhyun untuk menghantarkan impuls-impuls ketenangan.

"Baekhyun-ah... Mari, kita bicara..."

"JANGAN BELA LUHAN, KUMOHON...! hkkss... Aku tak sanggup mendengar pembelaan apapun tentang dirinya. Dia jahat! LUHAN ITU JAHAT! Dia jalang busuk yang harusnya...hhh...hkkss... Aku benci dia, oppa..."

Baekhyun gelisah.

Sehun melukis segaris teduh di bibirnya. Dia mencium pucuk Baekhyun sambil menatap tajam Namjoon di balik punggung Baekhyun.

Namjoon tersenyum sambil mengangkat sebelah alis seakan berkata, 'ada apa, hm?'

"Kau tidak usah khawatir, adikku yang manis..." Sehun menadahkan kedua pipi Baekhyun dalam tangan kekarnya. Sekilas mereka mirip sepasang kekasih hendak berciuman. Tatapan mereka terlalu intens. "...Sehun-oppa ada di sini untukmu. Untuk keluhan Baekhyun. Apa pernah oppa membenarkan tindakan negatif Luhan selama ini, sampai kau berasumsi oppa mengejarmu untuk membelanya?"

Baekhyun terdiam walau masih sesenggukan.

"Mari bicara, dan tenangkan pikiranmu. Marahi oppa bila perlu agar kemarahanmu terlampiaskan." ucap Sehun kalem.

.

.

.

.

.

Berkebalikan dengan kalemnya Sehun, Luhan berujar dingin.

"Sudah berapa kali aku dikecewakan orang-orang yang kupercayai?"

"My Lady..."

"Sekarang, kau, Chanyeol? Wah... Beruntungnya aku..."

"Mianhae... Jeongmal mianhae... My Lady..."

"Otakmu yang mendadak bodoh oleh cinta itu, tak bisakah berpikir lebih dalam sebelum kau menyetubuhinya?"

Luhan terus mencecarnya dan Chanyeol hanya bisa tertunduk.

"Kau yakin cinta Baekhyun sebesar itu untuk menerimamu dengan lapang dada? Kau yakin bila kau memberinya anak dia akan menerima semua kemalangan ini?"

Chanyeol terdiam pasi.

"Kau tidak ingat hari itu? Itu bisa menghancurkan cinta Baekhyun untukmu apabila dia tahu kebenarannya."

"My Lady..." Chanyeol menjatuhkan lututnya. Dia meremas kaki Luhan. Kulit Luhan bisa merasakan basah dan dinginnya tangan Chanyeol. "...saya mohon maafkan saya."

Bagaimanapun, Luhan adalah pemilik hidup Chanyeol. Fakta itu sudah paten dalam diri Chanyeol.

Pria bermata bulat itu dulunya seorang gelandangan.

Dia dipungut oleh Luhan.

Lima tahun lebih dia merasakan arti dari berguna dan diandalkan orang lain.

Lima tahun lebih Luhan membayar kemalangan Chanyeol melalui kasih sayang dan cinta.

Karena Luhan, Chanyeol memiliki Jongin dan Daniel serta lainnya sebagai sahabat dan keluarganya.

Karena Luhan, Chanyeol paham arti kasih sayang kakak pada adiknya.

Karena Luhan, Chanyeol dikenal sebagai pria tampan paling diincar kaum hawa.

Karena Luhan, Chanyeol menemukan cintanya yaitu Byun Baekhyun.

Luhan memang jalang, sisi penguasanya mendominasi untuk terus menguasai. Egonya pun besar menyangkut kepemilikan. Namun, Chanyeol mestinya paham lima tahun jasa Luhan untuknya takkan bisa dibayar dengan apapun bahkan harga dirinya sendiri.

Maka, ketika Chanyeol membuat Luhan kecewa dan merasa terkhianati, Chanyeol merutuki dirinya sendiri.

Dia rela berlutut bahkan mencium kaki Luhan bila itu bisa mendapatkan maaf Luhan.

"My Lady... Bicaralah, saya mohon.." Ujar pelan Chanyeol. Dia menunduk, lirih memandangi kedua kaki jenjang Luhan.

"Yeolli..."

"Ya, My Lady?"

"Apa kau tahu beberapa aturan tak tertulis mengenai kehidupan? Termasuk cinta?"

Chanyeol dan Baekhyun jelas tak memiliki pengalaman cinta sebanyak Luhan. Bahkan kisah yang dilalui mereka tak separah Luhan di masa lalu.

Dengan semua alasan itu, Luhan mengajarkan salah satu adik angkatnya ini sisi kejam dari 'cinta'.

"Kau mencintai seseorang, itu berarti kau menginginkan jiwa dan raganya, serta hati dan cintanya. Untuk mendapatkan semua itu, kau rela melakukan apa saja untuknya sembari berharap... Ah... 'Kuharap kau membalas cintaku sebesar apa yang kulakukan padamu'. Munafik jika kita mencintai tanpa mengharap balasan. Di nurani terdalam kita, pasti ada secuil harapan yakni cinta kita dibalas..."

Luhan di masa lalu, bahkan lebih muda dari Baekhyun, sudah berkali-kali dikecewakan oleh orang-orang yang dicintai dan disayanginya.

Jelas dia menerima sakitnya cinta lebih dari Chanyeol sendiri.

"...lalu, bagaimana rasa sakitnya jika cintamu dibalas kekecewaan? Bagaimana hm? Padahal kau sudah melakukan apa saja untuknya selama ini."

Chanyeol menengadah pada Luhan. Keduanya tidak menangis. Hanya saja, wajah mereka cukup sekarat untuk menerawangi masa kelam masing-masing.

Entah Luhan sebagai anak dari keluarga rusak.

Atau Chanyeol sebagai gelandangan.

"Pasti sakit. Pasti sakit jika kau sudah melakukan segalanya untuk Baekhyun, tapi dia mengecewakanmu dengan mencela 'kesalahan'mu. Itu pasti sakit, Yeolli."

Chanyeol menunduk kembali. Bahu tegapnya merosot. Dia mulai terpengaruh.

Dia tak tahu, Luhan memiringkan senyumnya.

Luhan sengaja melenakan Chanyeol lewat nasihatnya.

"Kau menyerahkan hatimu padanya, agar dia juga bisa menyerahkan hatinya padamu. Akibatnya? hanya Baekhyun yang benar-benar bisa menyakitimu, karena dialah penggenggam hatimu saat ini."

Chanyeol mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di atas lututnya sendiri.

Luhan meremas bahu Chanyeol, menyuruhnya bangkit, lalu memeluknya hangat.

"Karena itulah, Yeolli, Aku membuat perjanjian itu. Tapi..." Luhan menyembunyikan seringainya di balik bahu Chanyeol. "...jika kau benar-benar mencintainya setulus itu, aku tidak akan melarangmu lagi. Janji laknat itupun dengan ikhlas kurelakan. Pengkhianatanmu padaku, juga aku lupakan."

Tubuh besar Chanyeol terkesiap. Dia balas memeluk Luhan, merengkuhnya hati-hati seakan Luhan adalah barang paling rapuh.

Chanyeol tak segan lagi menenggelamkan wajah tampannya di tengkuk Luhan, meresapi kehangatan wanita yang pernah bergumul dengannya di ranjang sebagai partner seksnya.

"Terima kasih My Lady... Maafkan saya... Maafkan saya yang tidak berguna ini..."

"Hm... Hm.. tidak apa-apa... Yeolli... Kau kan adikku... Aku harus lapang memaaafkanmu."

Bahu Chanyeol masih bergetar, tanda tangisnya belum reda.

"Yeolli..."

"Hm?"

"Aku masih membutuhkanmu."

Satu kalimat itu sudah cukup untuk memenjarakan Chanyeol lebih erat dari sebelumnya. Ya, Luhan akan membuktikan hal itu.

Luhan tahu Chanyeol paling lemah melihatnya terluka.

"Maka dari itu, Yeolli... Fokuslah padaku sampai aku tidak membutuhkanmu lagi. Kau harus ingat kalau kau milikku sebelum aku ikhlas menyerahkanmu pada Baekhyun."

Dibenak Chanyeol, dia paham situasi saat ini.

'Lady Luhan lebih membutuhkanku. Banyak yang menginginkan kehancurannya.' Chanyeol memeluk Luhan lebih erat tanpa menyakiti perut buncit Luhan. 'Nona Muda Baekhyun akan baik-baik saja selama Lady Luhan dan Tuan Muda Sehun di sekitarnya. Nona Muda Baekhyun tidak membutuhkanku saat ini. Nona Muda... Kuharap kau mau bersabar...'

Di masa lalu, Luhan selalu mendengarkan apa yang Chanyeol minta. Termasuk...

...menyisakan Baekhyun sebagai anggota Keluarga Bangsawan Byun satu-satunya.

"My Lady, bisakah kita sisakan si bungsu Byun?"

Waktu itu Chanyeol memakai masker hitam. Dia terlihat bagai monster bagi tubuh mungil Baekhyun.

Luhan melirik sekretarisnya dalam dinginnya tatapan, "apa untungnya untukku?"

"Kita bisa jadikan anda sebagai walinya agar anda bisa mengendalikan aset Keluarga Byun. Kalau dia mati, aset itu akan dipindahtangankan ke Keluarga Bangsawan Inti Oh selaku kerabat mereka."

Luhan melirik Baekhyun. Gadis itu pingsan di gendongan Chanyeol.

"Untukmu, Park Chanyeol... Aku mengizinkan Byun Baekhyun hidup."

"Kau mengerti maksudku, kan? Yeolli?"

Lamunan pria koleksi ketiga belas Luhan terpecah.

Matanya membelalak.

Chanyeol merasakan Luhan mencium bibirnya lumayan rakus. Tak ada cinta di sana, hanya ada rasa ego besar bahwa Chanyeol akan selalu dimiliki Luhan entah sebagai pria koleksi, adik angkat, atau partner seks sekalipun.

Yah, jalang tetaplah jalang.

Chanyeol meresapi ciuman itu. Lidah sepasang kakak adik angkat ini saling mengelus dan memutar, berkelit, mengocok air liur di dalam rongga mulut Luhan.

Hawa semakin memanas, mereka orang dewasa yang normal maka mereka memutuskan ciuman itu. Gairah Chanyeol cukup terpantik saat Luhan terengah-engah dengan bibir merah merona menganga, dan lidah sedikit terjulur keluar.

Chanyeol belum menjawab pertanyaan Luhan tadi.

Jadi bibir basahnya merangkai tiga kata,

"Yes, My Lady..."

.

.

.

.

.

"Aku membenci Luhan-eonni dan akan selalu begitu!"

Rutukan dan umpatan Baekhyun memenuhi taman belakang Mansion Xi. Beruntung posisi mereka tak membuat penghuni bangunan mansion mendengar suara Baekhyun. Kendati demikian, Sehun memaklumi. Dia hanya tersenyum teduh kala Baekhyun terus mencakar lengan bawahnya sebagai pelampiasan.

"Hkkss... Hkkss... Sakit oppa... Sakit sekali. Waktu itu... eomma menangis melihatku. Dia memohon pada Luhan-eonni agar tidak membiarkanku melihat adegan pemerkosaan itu! Tapi dengan kejinya... Dia... Dia..." Cakaran Baekhyun pada lengan bawah Sehun menguat. Sehun meringis tanpa suara, berusaha tersenyum baik-baik saja apabila Baekhyun menatapnya.

"Oppa... Kadang aku merasa tidak ada gunanya bicara denganmu." Baekhyun meracau. Dia setengah menggeram, matanya benar-benar marah pada Sehun. "Kau... Kau belum tahu posisiku dan seberapa sulitnya hubunganku dengan Chanyeol-oppa sekarang. Kau pasti bahagia bersama Luhan-eonni... Kau menikahinya dan tidak berpikir, BAGAIMANA SAKITNYA ADIK GADISMU DISIKSA OLEHNYA SELAMA INI! Oppa... Apa aku harus membencimu juga?"

"Tidak ada larangan kau membenci siapapun."

Ini adalah kalimat pertama Sehun menjawab segala racauan Baekhyun. Dirasa tenang, Sehun kembali melanjutkan, "Luhan juga hidup dengan dibenci banyak orang."

"Itu pantas untuknya!"

"Dan pantas untukku yang tidak bisa melawan pihak Luhan sewaktu kau ada di tangannya."

Baekhyun terpaku.

Dia menelan ludah susah payah.

Raut wajahnya berubah bersalah.

"Baekhyun-ah... kau berkata aku tidak tahu apa yang kau rasakan? Kau salah."

Sehun diam. Dia tau kurang bijak apabila dia membandingkan permasalahanya dengan Baekhyun. Akan tetapi, melihat binar mata penasaran Baekhyun, Sehun pun meneruskan, "kau memiliki Chanyeol sebagai cinta pertamamu. Aku juga punya Luhan sebagai cinta pertamaku. Kisahmu diperumit dengan adanya Luhan, kisahku juga diperumit oleh orang-orang yang ingin menghancurkan Luhan."

"Lalu kenapa oppa diam saja? Katakan sesuatu! Aku seperti bicara pada patung, hks!"

"Baekhyun-ah..." Dengan telaten Sehun menyampirkan helai rambut Baekhyun yang lepek ke telinga. "Oppa paham apa yang kau rasakan tapi oppa memilih diam agar oppa tidak salah bicara terhadapmu. Beginilah cara oppa menyayangimu, sayang... Oppa hanya ingin kau lega melampiaskan segala rasa."

Baekhyun kembali menangis. Amarahnya pada Luhan berimbas pada Sehun. Dia seharusnya bisa mengontrol emosinya karena Sehun tidak bersalah di sini.

"Tenanglah, sayang... Sehun-oppa ada di sini..."

"Oppa!"

Pelukan Baekhyun lebih posesif pada Sehun. Tangisannya deras membasahi bahu lebar Sehun.

Semua isi hati Baekhyun bertahun-tahun pun akhirnya tertumpah, dalam pelukan hangat Psikolog Klinis bernama Oh Sehun.

"AKU SAKIT, OPPA! HATIKU SAKIT...!"

"hm..."

"AKU MENYAYANGI LUHAN-EONNI... SEMALANG APAPUN DIRIKU KARENANYA, AKU TIDAK BISA MEMBENCINYA!" Teriak Baekhyun teredam di bahu Sehun. "Sejak usiaku lima tahun kami bersama seperti saudara... Aku tidak bisa membencinya... Aku harus bagaimana, oppa...?"

Sehun mencium pucuk kepala Baekhyun, "maafkan istriku." Ujarnya tanpa suara.

"Aku memohon padanya... Hkkss.. terus memohon agar dia berhenti menjadi jahat seperti ini... Aku sudah banyak memohon padanya tapi dia bebal, oppa... Luhan-eonni... Sampai kapan kau terus jahat seperti ini pada orang-orang yang menyayangimu...? Hkkss...hkkss..."

"Hmm..." Suara mendamaikan hati dari Sehun merengkuh kekalutan Baekhyun. "Dia memang istriku. Hm... Dia sangat bebal dan jahat."

"Luhan-eonni... Sampai kapan kau terkurung dalam bayang-bayang kegelapan yang diciptakan ayahmu?!" Adu Baekhyun pada Sehun. Tangannya mencakar bahu Sehun. "Eonni... Baekki menyayangi eonni...hhkkss... Kembalilah menjadi Luhan-eonni yang terus menyayangi Baekki seperti waktu Baekki kecil dulu. Kumohon... Luhan-eonni..."

Byun Baekhyun adalah satu-satunya gadis koleksi Luhan yang berkelas bangsawan. Sejak usianya lima tahun, dia sudah akrab pada Luhan. Waktu itu usia Luhan 18 tahun. Usia yang terlalu muda untuk membunuh, membantai, dan 'menghukum' seseorang atau sekelompok.

Semua kenyataan itu memberitahu semua orang bahwa eksistensi Baekhyun amat penting untuk Luhan.

Di dalam bayangan Baekhyun kali ini, dia melihat punggung Luhan sewaktu usianya 20 tahun sedangkan Baekhyun berusia 7 tahun.

Dalam bayangan Baekhyun, terdapat punggung sempit Luhan yang nampak lemah, namun menjadi topangan banyak pihak.

Punggung itu telanjang, dihiasi banyak luka, termasuk luka sayatan pedang yang cukup panjang.

"Baekki..."

Dalam pelukan Sehun, Baekhyun seakan berhalusinasi. Dia melihat Luhan, dengan jubah setengah robeknya, berbalik menghadap Baekhyun. Ada belasan mayat pria bergelimpangan di sekitar kaki telanjang Luhan. Wajah cantiknya pun diliputi memar serta cipratan darah. Rambut coklatnya dicepol berantakan. Tangan langsingnya menggenggam dua pedang.

Xi Luhan memang definisi paling tepat dari wanita terkejam era modern.

"Beginilah cara seorang Xi meladeni para pembelot. Mafia kah... Yakuza kah... Manusia pada dasarnya tak mau menuruti mereka yang lemah. Manusia hanya mau diperbudak oleh mereka yang kuat."

"Maka dari itu, Baekhyun sayang... Kau harus sadar seorang Xi bertahan sampai saat ini karena disekitarnya dipenuhi rasa benci. Juga... Aku seperti saat ini karena didikan ekstrim dari baba-nya eonni."

Baekhyun versi tujuh tahun menangis sesenggukan, kala mendapati eonni kesayangannya mengeksekusi anak buahnya.

Luhan versi dua puluh tahun berlutut di hadapannya, melempar dua pedangnya, kemudian menangkup pipi gemuk Baekhyun tanpa membersihkan darah dan luka di tangannya.

"Aku takut aku akan lebih tidak waras dari ini. Aku takut lebih gila lagi dari yang lalu-lalu. Aku takut... Eonni takut... Jika ketidakwarasan eonni mencelakaimu, tidak... Tapi membuatmu benci pada eonni."

"Eonni bilang apa cih?! Baekki... Baek...hkkss... Baekki tidak paham..."

Luhan merengkuh tubuh mungil Baekhyun versi tujuh tahun, tanpa peduli tubuh atasnya telanjang dan dipenuhi luka serta darah lawannya.

"Jika aku terlalu jahat untukmu, maka, bencilah aku. Karena wanita tidak waras sepertiku tidak pantas disayangi oleh gadis selembut dirimu..."

Baekhyun mematung.

Dia baru ingat. Luhan mengidap dua jenis gangguan psikologis yaitu Gangguan Kepribadian ('Psikopati') dan Gangguan Seksual ('Biseksual' dengan fetishnya yang cukup ekstrim). [Pernah dibahas sama Luhan di chapter one]

Apakah semua kerumitan dan kemalangan Baekhyun hanya karena ketidakwarasan Luhan?

Tangis Baekhyun pun reda.

Tapi tatapan matanya kosong.

"Baekhyun, bisakah kau memberi Luhan dan Chanyeol sedikit waktu?" saran Sehun.

"Oppa..." Binar mata Baekhyun hampa. "Mereka punya banyak waktu sebelum hari ini kan? Kenapa mereka tidak menggunakan kesempatan yang ada? Ah, mereka tidak peduli pada perasaanku karena itulah mereka berdua mempermainkanku."

"Tidak, Baekhyun." Sehun berusaha memberi pengertian pada gadis yang sudah dianggapnya adik. "Kondisi mereka mungkin sama seperti oppa. Kau mungkin tidak mengerti, tapi situasiku saat ini sangat bergantung pada waktu."

Sehun terkekeh pahit, "ada pengkhianat di sekitar Luhan. Istriku terlalu mempercayainya. Bila aku tidak punya bukti, itu akan menimbulkan pertengkaran dan berefek pada Triple Twin kami."

Binar mata Byun Baekhyun kembali hidup walau sedikit.

"Be-benarkah, oppa?"

"Ya. Aku butuh waktu sampai semuanya siap. Sembari menunggu waktu berperan, aku juga harus menahan hati karena dari lubuk hatiku, aku begitu membenci pengkhianat ini ada di sekitar Luhan."

Baekhyun ingin bicara lagi tapi Sehun mengalihkan pembicaraan, "kau pun butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku tahu kau belum siap menemui Luhan. Apa kau mau tinggal di apartemen lama oppa?"

.

.

.

.

.

"Anak-anak panti merindukanmu."

"Aku tahu."

"Sesekali jenguklah mereka."

"Sampaikan salam dan maafku untuk keluarga panti, Irene, aku tidak bisa menjenguk mereka karena beberapa urusan. Luhan juga semakin rewel kalau selama 24 jam eksistensiku tidak dirasakannya."

Dari dalam taksi, Irene tersenyum geli pada Sehun. "Keposesifan ibu hamil pada suaminya sangat berbahaya. Dia akan berpikir yang tidak-tidak karena merasa lebih gemuk dari wanita yang tidak hamil. Lady Luhan hanya tak ingin kau berpaling darinya," Irene menahan tawa hanya karena wajah memerah Sehun.

"Good luck ayah muda!" Ucap Irene lagi. "Aku doakan pernikahan kalian langgeng."

"Hm... Aku juga doakan hubunganmu dan Junmyeon-hyung sampai ke tahap pernikahan."

Bukannya malu-malu kucing, Irene memasang wajah sok garang, "aigoo... Berhenti bergosip. Lihat Nona Baekhyun... dia tertidur..."

Sehun sedikit melongokkan kepala ke taksi. Kemudian senyumnya terbit ketika tahu Baekhyun nyaman tertidur di pelukan Irene.

"Jaga dia, Ren..."

"Tentu."

"Terima kasih."

"Aish! Bicaramu seperti bukan pada sahabatmu saja. Aku pergi dulu, titip salam untuk Lady Luhan dan calon bayi kalian."

Seperginya taksi itu, Sehun melirik Namjoon. Pria itu berjalan menuju pos satpam setelah mengintrogasi nama dan keperluan setiap tamu yang hendak memasuki, bahkan hanya sekedar bertengger di Gerbang Mansion Xi—contohnya supir taksi dan Irene tadi.

Sehun menempelkan ponselnya ke telinga,

"Yeobseyo... Kyungsoo."

Namjoon berhenti melangkah.

Sehun menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum penuh makna.

Simbol loud speaker diusapnya.

Seakan Sehun ingin Namjoon mendengar pembicaraannya dengan Kyungsoo.

["Ne, oppa. Ada apa?"]

"Kau ada di rumahmu kan?"

["Ne. Apa oppa dan Luhan ingin bertamu di sini? Jangan sekarang ya oppa, karena Jongin-oppa masih sibuk padahal ini hari Sabtu."] Kyungsoo mendengus di seberang.

"Tidak, aku ingin menanyakan sesuatu, boleh?"

["Itu juga pertanyaan darimu oppa, apa perlu aku menjawabnya?"]

Sehun balas kejengahan Kyungsoo melalui kekehannya.

"Apakah ada seorang pria yang mendatangimu?"

Dari belakang, Namjoon tampak biasa saja mendengar ucapan Sehun. Dia pun melanjutkan langkahnya ke pos satpam. Tapi bukan Sehun namanya jika dia tak mampu mendeteksi perubahan emosi, sekecil apapun, dari lawannya.

Hanya dengan satu kalimat, Sehun mampu mengobrak-abrik emosi Namjoon.

Beberapa detik hening, Kyungsoo akhirnya menjawab, ["ne."]

"Biar kutebak..."

Satu nama dari ucapan Sehun mengepalkan tangan Namjoon.

"...Chanwoo?"

["Ne, oppa. Hei... Darimana oppa tahu?"]

"Aku tengah berpura-pura menjadi cenayang."

["Ayolah, oppa... Jangan sekonyol itu!"]

"Mian..."

["Ne, oppa... Apakah..."] Kyungsoo seakan berbisik pada Sehun melalui ponselnya. ["apakah oppa mencurigai sesuatu tentang Chanwoo?"]

"Tidak ada." Di seberang, Kyungsoo menghela nafas. Sehun tersenyum geli, "aku ingin bertanya lagi padamu, jika ada yang mengajakmu balas dendam pada istriku, apakah kau akan ikut dengannya?"

Namjoon sudah sampai di posnya. Sayang, suasana sekitar Mansion Xi cukup sepi jadi suara Sehun dan Kyungsoo di seberang masih bisa di dengar Namjoon.

Dari balik posnya, Namjoon mendengar ucapan Sehun walau memunggunginya.

["Tidak."]

Itulah jawaban telak dari Kyungsoo.

"Kenapa?"

Di seberang, tepatnya di tempat tinggal Kim Jongin dan Kim Kyungsoo...

Kyungsoo bersedekap dengan tangan kanan menenteng ponsel tepat di hadapan Chanwoo.

Senyum bibir hati Kyungsoo mengandung kelicikan. Seperti yang diharapkan dari Gadis Koleksi Luhan ke-14.

"Karena aku tidak suka dimanfaatkan. Sesederhana itu."

Kyungsoo menjawab pertanyaan Sehun.

Di sisi Mansion Xi, Sehun bisa menganalisa nada dan suara Kyungsoo menjelaskan kalau gadis itu tak mau bicara banyak. Sehun rasa mood wanita hamil itu buruk. Sehun pun mengakhiri panggilan dengan ucapan terima kasih, sedangkan Kyungsoo hanya menjawab, "ne, oppa..."

Kim Kyungsoo dulunya anak dari Keluarga Konglomerat Non Bangsawan, tepatnya di Keluarga Do. Dia diajari untuk mandiri, tidak mudah dikendalikan, dan punya pemikiran luas serta kritis.

Karakternya inilah yang menjadikan Kyungsoo berani memanggil Luhan tanpa penghormatan macam 'Lady Luhan' atau 'Nyonya Besar Xi'. Selain itu, Kyungsoo adalah istri sah seorang pengacara kondang yang dulunya dimiliki Keluarga Bangsawan Xi. Ditambah, dia adalah mantan mahasiswinya seorang Oh Sehun.

Semua latar belakang itu menghantarkannya pada satu karakter kuat Kyungsoo, yaitu ketegasan sikap.

Tegas untuk bangkit tanpa merenungi masa lalu.

Tegas untuk menghadapi apa yang bukan prinsipnya.

Tegas untuk tidak dikendalikan siapapun. Termasuk Xi Luhan sekalipun.

Tatapan mata doe Kyungsoo mendingin pada Chanwoo. Seolah bisa menurunkan suhu teh hangat suguhannya. Dengan arogansi kental khas wanita konglomerat, dia meletakkan ponselnya di atas meja lalu berkata,

"Karena Luhan-lah aku bertemu dan menjadi istri Jongin-oppa. Karena Luhan pula aku terbebas dari ambisiusme appa untuk menjadikanku istri seorang bangsawan. Walaupun eomma-ku dibunuh dan disiksa oleh Luhan, dendam takkan pernah menghidupkan kembali beliau. Jadi, dengan semua itu? Untuk apa aku mendendam?"

Chanwoo mengerutkan kening.

"Jadi... Bisakah anda pergi dari rumah saya, Tuan Chanwoo?"

Penolakan Kyungsoo masih ada dalam dugaan Chanwoo dan orang-orang di belakangnya. Dia mengibaskan kemejanya dan berkata dengan intonasi menekan, "tidak masalah jika anda sebagai anggota Keluarga Do yang tersisa tidak mau bicara. Tapi demi kerajaan, setelah kasus ini dipublikasikan, saya yakin publik sendiri yang akan menuntut pendalaman kasus ini."

Chanwoo bangkit tanpa ekspresi, "terima kasih atas suguhannya, selamat sore, Nona Muda Do."

Dia pun pergi. Ketukan kakinya pun terdengar bernada.

Kyungsoo membekap bibirnya dengan punggung tangan,

"Peranku hanya sampai di sini, Sehun-oppa, Luhan. Untuk selanjutnya, semua bergantung pada kalian."

'Dan, untuk kerajaan? Sial! Jangan jadikan kematian Keluarga Do sebagai alat politik, Raja Woo brengsek!'

.

.

.

.

.

Malam harinya,

.

.

.

.

.

"Keluarga Bangsawan Byun? Kau ingin menggantikanku sebagai wali Baekhyun sampai usianya 20 tahun?"

"Yup!"

"Kenapa aku harus melakukannya? Apa untungnya bagiku?"

Benar-benar otak bisnis... "aku masih bisa menjaga aktivitas Mafia Xi di bawah naungan Byun Hospital dan jajarannya. Lalu... Ini untuk memberi kalian waktu agar saling meredam amarah masing-masing."

"Walaupun aku walinya, aku tidak perlu bertemu setiap hari dengannya."

"Tapi sayangku, itu memang tugas seorang wali."

"Ya sudahlah... Terserah dirimu. Hubungi Jongin untuk mengurusinya."

"Bagus, sayangku... Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintai diriku sendiri."

Celetukan Xi Luhan dalam pelukan Oh Sehun.

Pasangan suami istri ini tengah bersantai di atas ranjang mereka. Sehun duduk bersandar di kepala ranjang, sedangkan Luhan dipangku sambil kaki memeluk pinggang suaminya. Kali ini dia dalam mode manja. Lihat saja pipinya yang bersandar nyaman di dada telanjang suaminya.

Bidangnya dada Sehun diselimuti suhu tubuh hangat serta aroma maskulinnya yang khas, membuat Luhan terlena. Hingga tanpa sadar dia setengah mengantuk padahal dia masih fokus memainkan ponsel Sehun.

Kebetulan sekali, Luhan tengah memainkan aplikasi Instagram. Nama akunnya Luhan7m. Itu nama akun pribadi Sehun tapi hanya berisi foto Luhan versi candid dan hamil Triple Twin. Postingan di akun Luhan7m ini berupa potret Luhan beraktivitas dari mulai sarapan, yoga, bermain piano, waktu santai alias rebahan, sampai potret dia sibuk membimbing member EXO di hari kedua syuting iklan XiLu Foundation.

Postingan terakhir akun Luhan7m ini adalah Luhan tengah berdiri di depan enam member EXO. Enam pria itu duduk bersila sambil menengadah pada Luhan.

Jumlah komentar di postingan itu mencapai puluhan ribu, sementara 'Like'-nya mencapai dua jutaan.

Padahal akun Luhan7m masih diangka tiga juta pengikut.

Untuk wanita sesibuk Xi Luhan, akun media sosial tidak terlalu dibutuhkan olehnya meskipun jaman sekarang bergantung pada internet. Jadi ini masih baru untuknya.

"Komentar mereka cukup bar-bar ya..." Ibu jari Luhan bergerak scroll ke bawah, untuk melihat komentar apa saja di postingan itu. Sebagian besar memuji ketampanan EXO, disusul kecantikan dan ucapan selamat atas kehamilan Luhan, lainnya spam nama boyband lain agar mau dinotice bangsawan seeklusif Xi Luhan.

Tapi ada beberapa komentar yang agak mengganggu.

Sebagai pebisnis besar, Luhan sudah ahli berbagai bahasa dari China, Korea, Inggris, Thailand, Perancis, Spanyol, bahkan bahasa Indonesia. Jadi dia cukup terkejut atas banyaknya haters yang dengan mudahnya menyuruh seorang idol bunuh diri. Tak hanya Korea, tapi juga luar Korea.

"Kau mau dilacak, bocah?" gumam Luhan kelam.

Dengan cepatnya, jemari lentik Luhan mengetik sesuatu di layar ponsel suaminya.

Luhan7m berkomentar : Kebetulan postinganku kali ini mengikutsertakan EXO, jadi EXO-L tersayang, lindungilah EXO lebih keras lagi, oke? Juga, dimohon para haters untuk tidak menyuruh mereka bunuh diri jika kau saja tidak mau melakukannya. Shut up and go away, trush!

SEND...!

"Good..." Luhan menyeringai.

Sehun melirik tingkah laku istrinya.

Oke... Luhan benar-benar menjelma dari wanita jalang menjadi fangirl sadis.

Bagus sekali.

"Sayang, jika kau sembarangan berkomentar, namamu akan masuk portal KPop."

Bukannya mendengar teguran Sehun, Luhan justru menempelkan keningnya di dada bidang suaminya sambil menunduk memainkan ponsel.

Sehun memutar bola matanya, "aku serius mengenai ancamanku tempo hari. Kalau aku cemburu pada EXO, akan kubuat mereka jadi 'flop'."

"HUNNIE...!"

"Aku serius." Wajah Sehun memucat saat Luhan menggembungkan pipi. "Sayangku..."

"Ne?"

"Jangan pasang wajah merengek! nanti jika aku terangsang, siapa yang akan bertanggung jawab?"

Luhan meniup anak-anak rambutnya.

Sehun mencium bibir istrinya sekilas, "jika kau hanya fangirl dari kalangan biasa, tindak-tandukmu mungkin tidak berpengaruh besar. Tapi lihatlah dirimu... Kau seorang Xi. Satu kalimat darimu akan mempengaruhi puluhan ribu pekerjamu bahkan EXO-mu itu."

Luhan menggaruk pipinya, "aku tidak suka mereka menyuruh orang lain bunuh diri seenaknya. Mengertilah, Hunnie..."

"Lalu apa bedanya denganmu?"

Refleks Luhan memikirkan perjanjiannya dengan Chanyeol mengenai Baekhyun.

"Aku sudah membatalkannya."

Muka sedih Luhan kembali mendapat sikap mengalah dari Sehun.

"Oke, sayangku... Kau boleh berkomentar apapun. Tapi ingat? Jika namamu masuk pemberitaan, aku tidak peduli."

Luhan mengecup bibir Sehun, "aku mencintaimu..."

Luhan memperbaiki posisi duduknya, sampai pantatnya mengusik junior suaminya. Sehun mengerutkan kening, merasa begitu ngilu dan terangsang. Pantat sintal Luhan keterlaluan dalam merayunya.

"Sa-sayang?"

"Hm?"

"Bisakah kau tidak banyak bergerak? Kau tidak kasihan padaku?"

Mata hazel Luhan bergulir untuk menyapu visual Oh Sehun, suami sahnya. Ternyata pria itu memucat, keringat dingin begitu tipis menggerayangi pelipis, leher, bahu lebarnya, lalu dada Sehun yang super seksi. Bahkan nafasnya mulai sedikit kasar, "kau serius, Hun-ah? Terangsang hanya karena ini?"

Luhan menggoyangkan pantatnya, bertingkah layaknya anak TK tak tahu apapun. Padahal dalam hati menyeringai. Junior Sehun semakin gatal dan ngilu, mengeras dan menghangat, tegak dan berdenyut.

"Luhan, berhenti sayang... Aku punya banyak peker—"

"Sehun... Kau benar-benar serius terangsang hanya karena goyangan amatirku?" Luhan menggoyang-goyangkan pinggangnya persis penari perut, kadang loncat-loncat persis anak kecil.

Sehun memelototkan matanya, "Luhan... Ingat kandunganmu, Ya Tuhan apa-apaan dengan tanganmu, Luhan?!"

Luhan tengah nyengir sambil memelintir puting di dada bidang Sehun.

"Choco chips?" Luhan menjulurkan lidah merah mudanya, menjilat puting Sehun dalam sekali sapuan, sambil mata rusanya intens menatap Sehun. "Boleh Hannie mengemutnya, Daddy?"

"Fuck, Luhan!" Geram Sehun kala Luhan semakin semangat menjilati choco chipsnya. "Kau memancing kesabaranku rupanya, heum?!"

"Tidak, Y-YAK! OH SEHUN AKU HANYA BERCANDA...!" Luhan kalang kabut karena Sehun sedikit liar padanya, menindih tubuh seksinya, terburu-buru menyobek piyamanya, dan menurunkan branya untuk menyusu pada payudaranya. "Tidak tidak...ugghh... dua jam lalu kau sudah dapat jatah sore..." Kepalan tangan Luhan menjitak kepala Sehun. "AKU LELAH, OH SEHUN...! BERHENTI MENGHISAPNYA!"

Hisapan Sehun di payudara kanan istrinya berhenti.

"Nope, baby..." Sehun memompa payudara Luhan sambil berbisik dan menggigit-gigit kecil cuping telinga Luhan. "Aku belum dapat jatah petang, lalu malam, lalu dini hari, lalu—"

"Tetap tidak mau, a-ah... Hun-ahhh..."

"Oh... Babyku sayang..." Tangan Sehun kini mengorek-ngorek selangkangan di balik rok piyama Luhan. "Mari bergulat bersama Daddy. sayangku... Kau sudah basah, siap untuk Daddy, siap untuk digempur Daddy..."

Luhan menengadah, dia benar-benar terangsang. Sehun mode seperti ini efeknya keterlaluan.

Kemesraan mereka berlanjut, rencananya sampai bulan bosan menghiasi langit.

Hingga tak sadar ponsel Sehun tergeletak di sudut ranjang.

Layarnya menampilkan banyak balasan untuk komentar Luhan dari para EXO-L.

Kerrieseoul : 'Daebak! Di mana Luhan-eonni kami?! Apa Luhan-eonni tidak membaca pesan kita?'

Xunqiiiii : 'Jesus! aku tersanjung pada balasan Luhan-jiejie'

Erinarara : 'Luhan-eonni mungkin na ena dengan suaminya'

Xunqiiiii membalas Erinarara : 'what do you mean about na ena?'

Erinarara membalas Xunqiiiii : (emot dua mata)

HHSnyasar membalas Erinarara : njir, diri lu nista mulu otaknya, wkwkwk

Dan sekian balasan lainnya...

.

.

.

.

.

Tur konser EXO akan diadakan sebulan lagi.

Comeback EXO pun sudah sampai proses pembuatan teaser per member dan trailer MV. Jika dihitung dari hari ini, sekitar tiga bulan lagi MB comeback tahun ini rilis.

Sebenarnya Luhan bisa saja memaksimalkan potensi yang EXO miliki, tapi terkadang dia harus mengikuti arus tergantung kondisi. EXO sudah terbiasa diperlakukan kurang adil, bakat mereka pun sudah tertuang dalam kegiatan solo atau menjadi YouTubers. Beberapa member juga memiliki studionya sendiri, sehingga mereka bisa menunjukkan bakat walau tanpa promosi agensi.

Artinya, kegiatan solo mereka kebanyakan bergantung pada fandom.

Luhan hanya bisa mendorong mereka untuk lebih survive sampai masa kontrak habis tiga tahun lagi. Itupun jika mereka benar-benar memutus kontrak dengan Lu Entertainment.

"Ohaiyo, baba..."

Ucapan selamat pagi dalam bahasa Jepang meluncur santai dari bibir Luhan. Selama hamil Triple Twin, Luhan rindu sensasi menduduki kursi kebesaran Kepala Keluarga Bangsawan Xi. Ketika dia memutar kursi kerjanya, dia berhadapan dengan dinding kokoh berlatar biru langit. Tujuh pigura besar tergantung di sana. Masing-masing pigura menampilkan wajah-wajah Kepala Keluarga Xi dari generasi ke generasi.

Luhan menatap foto babanya—Xi Luxian—versi dua puluh tahun.

Demi apapun, hanya karena kemiripan wajah, Luhan duga babanya dan Sehun kembar beda generasi.

Luhan memijat pelipisnya, "baik Sehun atau baba tidak pernah bertemu, kan?" Monolognya.

Ketukan pintu menyadarkan Luhan. Kursi diputar perlahan hingga Luhan menghadap pintu ruangan.

"Masuk!"

"Permisi, My Lady, ada paket datang untuk anda." ucap Yuri. Dia memeluk box nyaris seukuran televisi berbadan gemuk.

"Taruh di atas meja."

Usai mendekati meja majikannya, Yuri menaruh box itu di atas meja Luhan.

"Kau boleh pergi."

"Baik, My Lady."

Luhan berhati-hati ketika memeluk box itu agar mendekat ke arahnya. Dengan ganas dia merobek kertas coklat box tersebut, lalu membukanya.

Dia tersenyum simpul melihat isinya.

.

.

.

.

.

"Live ig?"

Sepulangnya Sehun dari perusahaan Oh Group, Sehun dibuat pening oleh Luhan.

Sehun rasa istrinya semakin tenggelam dalam dunia fangirl.

Bahkan notifikasi Instagram di ponselnya membludak hanya karena komentar Luhan. Belum lagi pemberitaan tentang komentarnya sedang hangat diperbincangkan.

Judulnya pun jadi headline media...

"PEMILIK AGENSI LU ENT. MENYIKAPI DENGAN TEGAS PELAKU HATERS EXO."

atau...

"KOMENTAR DARI LADY XI LUHAN MEMUKUL TELAK PARA HATERS EXO."

Dan bisa saja, judul lainnya terdengar aneh.

"BERIKUT ADALAH FAKTA UNIK TENTANG PEMILIK AGENSI LU ENT YANG KETUJUH MEMBUATMU BERGIDIK KAGUM!"

Yah, beginilah akibatnya jika wanita seperti istriku menjadi EXO-L.

Sehun rasa pemberitaan kali ini tidak mengundang spekulasi negatif. Mungkin ada, itupun menyinggung rekam jejak Keluarga Xi. Bisa saja mereka menganggap Luhan panjat sosial, tapi...

Hei! Istriku tidak butuh terkenal untuk seberkuasa sekarang! Berhentilah membual.

Oke, cara berpikir Sehun hampir mirip kecongkakkan Luhan.

"Hunnie!" Seruan Luhan tidak menghancurkan lamunan Sehun. Alhasil dia berteriak, "HUNNIEE... COME BACK TO EARTH...!"

Sehun terkesiap akibat teriakan Luhan. Untung saja suara dasar istrinya lembut, jadi Sehun tidak terlalu mempermasalahkan teriakannya.

"Mian, Hannie. Jadi... Untuk apa live ig?"

Luhan mengacungkan lightstick putih segi enam milik fandom EXOL, lalu lightstick berdasar merah milik fandom Reveluv (fansnya Red Velvet).

"Kita akan promosi...! Yeaay!"

Kedua alis tebal Sehun menukik layaknya kepakan sayap burung, "semacam... Open Pre Order? Kan banyak akun fanbase seperti itu di Instagram."

"Aish! Basic Xi Luhan tidak serendah itu, oke..."

"Yes, My Lady..." Sehun belaga membungkuk hormat pada Luhan. "Lakukan sesuka hatimu, aku akan terus mengawasimu."

.

.

.

.

.

Sehun tidak tahu apakah ada suami sesabar dirinya di luar sana.

Jelasnya, dia harus menghadapi hormon remaja Luhan diumur dan fisik kurang tepat.

Jadi, Luhan sekarang tengah...

Live Instagram.

Menggunakan kamera depan.

Pengambilan video berada di kamar Luhan dan Sehun. Sudut pandang berupa Luhan tengah duduk, dilatar belakangi beberapa bantal dan kepala ranjang. Dari sini saja sudah bisa dilihat betapa luas dan mewahnya kamar utama di Mansion Xi ini.

Sehun harus ekstra bersabar, luar biasa bersabar, menghadapi rencana-rencana nyeleneh Luhan untuk ambisinya.

Kali ini salah satu bagian dari rangkaian rencananya membuat tangannya pegal.

Bagaimana tidak demikian?

Sang istri live ig, sang suami memegangi ponselnya.

"Annyeong, yorobun!"

Salam Luhan mendapat banyak sekali komentar dan tanda love-love. Banyak yang menyukai visual serta suara dan kepribadian Luhan, sehingga mereka menjelma jadi fans Luhan. Hm, Luhan mendadak jadi selebgram.

Sebagian hanya berkunjung karena Luhan adalah pemilik salah satu agensi musik terkenal di Korea Selatan. Ini dimaklumi karena ada salah satu stan fandom yakni agensi-stan, di mana agensi-stan artinya menggemari artis-artis atau segala hal berbau agensi tertentu. Misalnya Lu-stan, artinya mereka yang menggemari artis di bawah naungan Lu Entertainment.

Sebagian komentator atau penonton lainnya adalah EXO-L. Mereka tak sibuk-sibuknya berkomentar penuh emot cinta kala eribong, nama lightstick untuk EXO, sering diacung-acungkan oleh Luhan.

Ada fans, pasti ada haters. Untuk ini Luhan tak mau ambil pusing.

"Oke... Hari ini untuk pertama kalinya akun Luhan7m, yang sebenarnya dikelola oleh suamiku, mengadakan live Instagram. Apa kalian senang? Atau... Bagaimana? Harap dimaklumi karena ini pertama kalinya aku bermain media sosial."

Balasan emot cium serta kata-kata senang dan bahagia mengundang senyum Luhan.

"Oh iya! Aku yakin Lu-stan atau semua fandom artisku, pasti sudah tahu jadwal artis-artis agensi di bawah naunganku, kan?" Luhan mulai menaruh lightstick EXO dan berganti pada lightstick milik hoobae alias junior EXO. "Nah! Sebentar lagi NCT akan mengadakan konser... Ikutan kuy..."

Sontak ponsel Sehun bergetar, otomatis video live ig berguncang. Beberapa komentar mengira lokasi Luhan saat ini gempa, tapi Luhan berkata, "suamiku memegangi ponselnya. Dia tertawa karena tingkahku, karena itulah videonya jadi terguncang."

Komentar mengenai romantisnya 'Suami Lady Luhan' langsung membludak.

Luhan hanya tersenyum memandangi pria di balik ponsel.

Sehun balas tersenyum padanya.

"Oke... Kuharap kalian datang ya! Khususnya NCTzen. Beri kebahagiaan dan buktikan bahwa mereka lebih berhasil dari para sunbae mereka. Ayo! Buat kepercayaan diri mereka semakin bertambah!"

Ucapannya tentu mendapat ribuan komentar, namun ada beberapa yang menarik perhatian Luhan.

Jesungnoonalove : 'Luhan-eonni... Apakah NCT Dream akan jadi sub unit resmi? Kumohon jadikan mereka resmi...!'

Luhan menotice pemilik akun itu dengan satu kalimat semangat, "doakan saja yang terbaik untuk NCT Dream. Bantu mereka lebih keras lagi agar mereka bahagia baik sebelum atau sesudah lulus dari NCT Dream."

Setiap Luhan mempromosikan konser atau project solo dan idolgrup, Luhan pasti mengacungkan dan memainkan lightstick untuk mewakili tiap idol. Terkadang Luhan menotice beberapa komentar, atau hanya menyanyi beberapa part lagu artisnya.

Nyanyiannya pun mengundang banyak pujian.

'Luhan-eonni pantas jadi penyanyi solo!'

'Anda debut saja, jie-jie...'

'Eonni-ku persis rookie... Imut-imut menggemaskan. Wah! Mulai sekarang aku penggemarmu, eonni! (Emot cium)'

'Eonni tidak mau mendebutkan diri sendiri? Eonni kan yang punya agensi! Pasti fandom eonni tak kalah besarnya dari fandom lain.'

Untuk komentar terakhir, Luhan membalas, "aigoo.. aku sih ingin debut, tapi suamiku akan cemburu jika aku punya banyak fanboy..."

Putaran komentar semakin cepat oleh emot tawa dan love-love.

Sampai akhirnya sesi terakhir adalah EXO.

Luhan mengacungkan dua versi lightstick EXO.

"Annyeong, Eris! Boleh aku memanggil kalian Eris?"

Komentar membludak lebih heboh ketika seorang Lady Luhan lebih tahu tentang EXO, ketimbang idol lainnya. Karena perputaran komentar lumayan cepat, Luhan bingung saat membacanya. Jadi dia senyumi saja komentar-komentar itu. Namun ada satu kalimat yang agak membuatnya kesal,

Goaheadyeah : Kenapa Baixian itu tidak mati saja? Dia sudah tak berpihak pada EXO. Dia lebih memilih Super M. Go to hell, please!

Awalnya komentar itu dibalas saat itu juga oleh para Baixian-stan dan EXO-stan, hanya agar Luhan tidak membaca kalimat negatif itu, namun dasarnya Luhan suka cari perkara, dia menotice akun tersebut,

"Hai akun, 'Go-ahead-yeah'? Kita semua tahu Baixian adalah appa-nya para Eris. Untuk apalagi kau meragukan kesetiannya? Wah! Jangan bilang kau bukan ERIS! Dan...

...kenapa kau tidak mati lebih dulu baru menyuruh orang lain mati? Setidaknya, beri contoh lewat praktek jika kau ingin lisanmu didengar dan ketikanmu dibaca."

Sontak balasan Luhan semakin menambah kekaguman fandom EXO serta fandom lainnya padanya. Meski tak sedikit yang risih pada sikap 'bar-bar' Luhan.

Luhan memang bukan publik figur, dia seorang bangsawan dan konglomerat. Sepak terjangnya dikenal buruk karena pendahulunya, Xi Luxian, pernah membunuh Pangeran China. Itupun diperparah dengan rumor-rumor buruk mengenai Keluarga Bangsawan Xi, padahal tak ada yang bisa membuktikan kebenaran rumor-rumor tersebut.

Walau kebenarannya, publik tidak tahu aktivitas jahat Luhan karena dia menutupinya dengan baik dari depan publik.

Sekarang semua orang yang menonton live Instagramnya mulai berpikir, apakah Luhan pantas menerima kesalahan ayahnya? Padahal Luhan sebagai wanita 'sendok emas' tak pernah terkena skandal atau berita miring. Lagipula rumor-rumor tentangnya tidak ada yang benar. Begitulah pikir mereka.

Masih hangat diingatan mereka, bahwa ada anak seorang konglomerat, yang begitu terkenal karena suka menjatuhkan karir beberapa boyband. Kesalahannya sungguh fatal, tapi anak itu bisa leha-leha karena dia adalah konglomerat.

Tapi Luhan?

Dia merupakan pemilik agensi, pebisnis sukses, bangsawan, konglomerat, dan jelas dia benci jika para idol di bawah naungan agensinya diusik-usik. Kebenciannya bisa terlihat dari sikap Luhan terhadap beberapa komentar tadi.

"Para Eris, abaikan haters dan nikmati bagaimana cahaya eribong menemani hari-hari kalian!" Luhan kembali menyalakan eribong. "Mari bersenang-senang bersama EXO di tur konser mereka kali ini. Oh ya, aku lupa memberitahu, pihak kami sudah mendengar beberapa keluhan EXOL internasional. Kami akan memaksimalkan promosi EXO untuk comeback selanjutnya dan juga... mengadakan konser diluar Asia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi akun Twitter schedule EXO..."

Ketika ada komentar yang meremehkan tur konser EXO, Luhan membalasnya,

"...selain itu, kita tak perlu konser di panggung seluas kota. Cukup di panggung atau stage biasanya agar EXO dan EXO-L merasakan kebersaman lebih erat. Hahahaha, aku yakin kalian rugi bayar mahal-mahal hanya untuk lihat idol kalian persis semut di atas panggung."

Sekali lagi ucapan ultimatum Luhan mengencangkan rasa kagum para EXOL dan fandom lain. Seakan sosok Luhan bisa jadi panutan para Fangirl di luar sana.

Beberapa justru meninggalkan komen 'hate' untuknya. Tapi Luhan tetaplah Luhan, dia sudah biasa dibenci jadi dia acuh tak acuh.

Sehun sedari tadi memegangi ponselnya. Hebatnya dia tidak mengeluh pegal. Itu karena dia merasa hangat oleh cerianya Luhan.

Lulu-noona... Inilah Lulu-noona ku yang sebenarnya. Begitu ceria, manis, imut.Batin Sehun senang.

Aku bahagia melihatmu bertingkah layaknya wanita kebanyakan, sayangku...

.

.

.

.

.

Di sisi lain, Mr. Lee selaku CEO Lu Entertainment hanya bisa mendengus. Dia masih berkutat di ruang kerja dalam mansionnya. Berpikir, mungkin saja ada sesuatu yang terjadi di dunia keartisan. Sampai akhirnya, dia menggunakan akun palsu untuk ikut menyaksikan live Instagram 'tuan'nya.

'Tuan'nya, Xi Luhan.

Mr. Lee tahu ada puluhan artis di bawah naungan Lu Entertainment ini. Mereka memiliki nama fandom masing-masing dan Luhan hafal semuanya. Penutupan live Instagram akun Luhan7m diakhiri dengan ucapan sampai jumpa dan mimpi indah, disusul menyebutkan nama-nama fandom para artisnya, hingga berakhir pada...

"...dan pastinya... EXO-L."

Setelah kalimat itu, live benar-benar berakhir.

Jelas itu semua mengundang spekulasi bahwa Luhan sebenarnya lebih membanggakan EXO dibanding artis lain. Kemungkinan buruknya bisa menimbulkan kesenjangan antar fandom artis Lu Ent. Meski begitu, Luhan membiarkan spekulasi itu tanpa jawaban. Toh, tindakannya selama ini sama rata. Luhan tidak benar-benar meng-anakemas-kan EXO, dan bukan berarti dia tidak pernah berinteraksi dengan artisnya yang lain.

Mr. Lee dengan akun Instagram palsunya mulai menjelajahi kolom komentar di postingan Luhan7m, tepatnya postingan foto Luhan dengan EXO. Secara kebetulan Tuhan begitu baik padanya sehingga dia menemukan sesuatu yang menarik. Yaitu komentar salah satu akun dengan ratusan balasan, dan ribuan like. Komentar itu di bawah komentar yang diketik Luhan langsung.

EXOsaranghajaL berkomentar :'Lady Luhan pasti EXO-L sama seperti kita, kyaa! Aku senang sekali ada EXO-L di antara para agenshit! Luhan-eonni, jaga EXO kami dari sana... (Emot senyum, emot cium, dan emot hati)'

Lovevelove membalas EXOsaranghajaL : 'Tidak mungkin! dia pasti hanya panjat sosial pada EXO, aku yakin itu! Hei, Lushit! Jangan sentuh EXO kami karena kau wanita yang begitu buruk!'

Poopsnakeu membalas EXOsaranghajaL : 'Kenapa EXO-L diisi oleh orang-orang yang terlalu percaya diri? Tidakkah aneh boyband flop disukai seorang bangsawan? Tidak etis sekali... Mungkin karena flop, mau tak mau Lady Luhan mempromosikan grup flop itu, hahaha!'

Hania947 berkomentar : 'untuk kalian yang tidak percaya komentar dari akun EXOsaranghajaL, coba lihat postingan di akunku sebulan lalu. Itu adalah foto yang membuktikan kepercayaan diri kami mengenai Lady Luhan. Setelah 'kalian' yang kumaksud ini melihatnya, please jangan berkomentar dilapakku. Kalian lebih baik diam dan PERGILAH!'

Berbeda dari komentar lainnya yang memakai bahasa Korea dan huruf Hangul, komentar Hania947 memakai bahasa Inggris. Mr. Lee pun mendatangi akunnya. Profilnya menjelaskan gamblang dia seorang jurnalis dari media terkenal di Kerajaan Inggris. Dia juga Fujoshi.

"Jurnalis media terkenal di Kerajaan Inggris, bahkan sudah pernah mewawancarai Queen Luna?" Mr. Lee bergumam di keremangan ruang kerjanya. "Dia benar-benar fujoshi yang langka."

Queen Luna yang Mr. Lee maksud adalah Ratu Inggris, istri sah Raja Alexander Willis, bernama Xi Luna. Kemunculannya cukup booming beberapa hari lalu. Wanita itu mengaku kakak kandung Lady Xi Luhan dan Luhan sendiri tidak menyangkalnya.

Padahal, Queen Luna adalah seorang pria tulen nan cantik bernama Oh Luhan—anak sulung Xi Luxian dan kakak laki-laki Lady Luhan. [Agar lebih paham, baca Poisonous Love fact 07.2 dan fact 08.1]. Tapi kenyataan itu hanya diketahui oleh beberapa orang saja.

Mr. Lee langsung scroll postingan Hania947 agar sampai ke foto yang dimaksud. Semua postingannya berupa foto seorang gadis, cantik, lebih sering menggenggam microphone dan kertas, serta tak jarang ada postingan dia mengangkat kamera, piala penghargaan, atau memakai seragam kantoran formal dengan idcard mengalung di lehernya.

Dari postingannya, Mr. Lee semakin percaya pemilik akun Hania947 ini adalah jurnalis. Bahkan Instagramnya centang biru.

Setelah Mr. Lee menemukan postingan yang dimaksud, pria parubaya blasteran itu tersenyum lirih.

Postingan itu berupa dua slide foto. Foto pertama adalah dua buah tanda tangan dengan 'OSH' dan 'LH' di bawahnya, dan fito kedua adalah seorang gadis yang berdiri diapit seorang pria dan wanita hamil.

Caption postingannya tertulis dalam bahasa Inggris yang artinya seperti ini :

Hania947 : Aku berfoto dengan sepasang suami istri. Foto ini diambil setelah aku menonton penampilan EXO di KBS untuk comeback album Tempo. Menurutku mereka sangat imut dan visual mereka agak mirip member EXO, (please jangan hina shipper oke). Mereka sangat baik. Aku juga memberi eonni itu permen kokobob. Kalian tahu tidak, ternyata eonni itu mengidam nonton EXO, wkwkwk... Dari gelagat pasutri ini, sepertinya mereka baru pertama kali menonton sesuatu berbau dunia per-kpop-an.

"Terima kasih. Aku beruntung bertemu penggemar EXO yang baik sepertimu. Maklumi saja, istriku tengah mengidam hal-hal aneh saat ini. Salah satunya menonton comeback idola kalian." — suami si eonni yang kumaksud (pria yang ada di foto kedua).

See?! Banyak orang non KPop terkesan pada fandom kita. Uwaaah!

Edited : daebak! Aku baru tahu oppa di foto (dengan aku di tengahnya ;) adalah Oh Sehun selaku Kepala Keluarga Bangsawan Oh dan suami dari Lady Xi Luhan.

Berarti eonni yang kuberi permen kokobob itu adalah LADY XI LUHAN!

Double DAEBAK! Seharusnya aku tidak memberi sebungkus permen, pada wanita yang bisa membeli bahkan mendirikan ribuan pabrik permen (emot menangis).

Ya Tuhan! Bangsawan saja suka EXO apalagi rakyat biasa sepertiku, unch unch!

#EXO #EXOL #Dontmessupmytempo

Postingan dari Hania947 itu langsung mendapat ribuan komentar dan puluhan ribu like. Dengan postingan itu, tak ada yang berani bermain-main dengan EXO-L karena Luhan bukan sembarang 'lucky fans' atau 'rich fans', tapi Luhan adalah fans yang lebih dari itu.

"Seperti yang kita tahu tentang Lady Luhan," Mr Lee bermonolog. "Wanita itu mengagumkan dengan cara dan pola pikirnya yang nyeleneh. Selalu saja dia membuat gebrakan aneh ditiap tindak-tanduknya..."

Mr. Lee memerosotkan bahunya. Seandainya dia lebih muda dan lebih awal mengenal Luhan, mungkin dia akan mempersunting wanita itu.

"...benar-benar otak pebisnis. Kau cukup live Instagram, tanpa keluar biaya, hanya untuk mempromosikan artismu khususnya EXO. Selain mendapat perhatian, kau juga mendapat nama baik."

Sayang sekali, wanita unik sepertinya sudah dinikahi...

.

.

.

.

.

"Terima kasih. Aku beruntung bertemu penggemar EXO yang baik sepertimu. Maklumi saja, istriku tengah mengidam hal-hal aneh saat ini. Salah satunya menonton comeback idola kalian." [Chapter Seven]

Itu adalah ucapan terima kasih dari Sehun untuk si gadis yang memberikan sebungkus permen pada istrinya. Mau tak mau Sehun berterima kasih pada gadis itu, karena kencannya dengan Luhan lebih bervariasi dalam satu hari. Jujur saja selama kencan pertama mereka berlangsung, Luhan suka mengemut permen kokobob itu.

Sehun tersenyum pada sebuah foto dalam salah satu postingan akun Hania947.

Si gadis tersenyum lima jari sambil mengacungkan tanda cinta ke kamera ponselnya. Di samping kiri kanannya ada Sehun dan Luhan yang tersenyum kecil di depan kamera tanpa pose apapun. [Chapter Seven].

"Hunnie... Ayo tidur..."

Sehun menutup aplikasi Instagram di ponselnya, lalu meletakkan ponselnya ke nakas. Setelah itu dia merebahkan diri sambil memeluk Luhan.

"Kau lelah?"

"Hm...?" Luhan tersenyum simpul di dalam pelukan Sehun yang hangat. "Aniyo... Ini menyenangkan. Sebelumnya hidupku diliputi banyak keseriusan mengenai uang dan anak buah, begitu abu-abu warnanya. Tapi sekarang? Hidupku lebih berwarna," Luhan mendongak sambil mengelus-elus dagu Sehun. "Terima kasih, suamiku..."

Belum Sehun membalas, istrinya sudah terlelap. Sehun membingkai wajah cantik istrinya dalam tangan besarnya. Dia menyatukan dahinya dan dengan mesra berkata,

"Terima kasih kembali, istriku..."

.

.

.

.

.

Empat bulan kemudian...

Beijing, China.

.

.

.

.

.

Tur konser EXO yang awalnya dijadwalkan di beberapa kerajaan Asia, kini juga diadakan di beberapa kerajaan Amerika dan Eropa. Untuk mewujudkan hal itu, Lu Entertainment di bawah komando Luhan dan Mr. Lee sudah bekerja sama dengan berbagai promotor Amerika dan Eropa.

Awalnya member EXO pesimis mengenai penjualan tiket di Amerika dan Eropa, karena basis mereka memang tidak di dua benua tersebut.

Tapi ternyata?

Sold out setelah tiket dijual online beberapa detik.

Luhan sendiri pun speechless.

EXO terbukti mampu menaikkan saham agensi. Walau ada kabar dating dari salah satu artis Lu Ent, EXO membuat harga saham stabil kembali. Luhan akui ini sedikit berbahaya, karena Lu Ent tidak bisa bergantung terus menerus pada EXO.

["Itu bisa dipikirkan nanti..."] ucap Luhan saat ditanya oleh Leader EXO—Kim Suho. ["Yang penting kalian fokus pada hari terakhir tur konser."]

Luhan berada di Korea Selatan, karena jelas dia seorang Xi. Dia dilarang menginjakkan kaki di China.

Sedangkan Suho berada di sini saat ini, tepatnya ibukota Kerajaan China yakni Beijing.

"Baik, noona," jawab Suho. Dia masih mengarahkan ponselnya ke telinga sambil melihat para anggotanya pemanasan sebelum menari dan menyanyi. Sakung gugupnya Baixian saja, dengan suara melengkingnya, sesekali berteriak di telinga Odult atau menggigiti bahu si maknae tersebut.

Suho tersenyum semanis permen kapas.

Di backstage, dia tahu semua baik-baik saja.

Semoga di panggung pun begitu... Doa tulus Suho.

["Nikmati kebersamaan kalian dengan EXO-L dan jangan terlalu memikirkan perkataan suamiku sewaktu dia datang ke dorm kalian."] Di Korea sana, Luhan memperingatkan Suho. ["Aku tahu aku berutang banyak pada kalian dan... Konser ini adalah bayaran dariku."]

"Seharusnya kami yang berterima kasih... Dan secara pribadi, saya bahagia karena Lu Entertainment dipegang oleh anda."

Luhan tersenyum di Korea sana.

Panggilan pun diakhiri, Suho menyerahkan ponselnya pada Shindong.

Setengah jam lagi adalah konser terakhir EXO. Sesuai jadwal, Beijing akan jadi kota terakhir tur konser EXO tahun ini diadakan.

Ini juga akan jadi konser terakhir EXO sebelum boyband ini hiatus sebagai grup.

Odult, si maknae, memikirkan perkataan suami dari Lady Luhan tersebut. Walaupun Baixian menawarkannya pelukan, alisnya masih saja menukik serius.

Ada satu waktu di mana Sehun bertamu di dorm EXO. Obrolan pun terjadi di sana. Sambil mengobrol dan melihat-lihat seisi dorm, Sehun sudah menganalisis karakter tiap member. Mungkin mereka bertindak 'munafik' di beberapa hal. Itu jelas manusiawi. Namun untuk loyalitas pada orang-orang yang berada di sekitar mereka khususnya fans, hal itu tak perlu diragukan.

Sehun berpesan pada mereka, "Ada beberapa alasan istriku memilih kalian, bahkan berani menggunakan kekuasaannya di China disaat dia dideportasi dan dibenci rakyat di sana. Alasannya adalah satu, kepopuleran dan keloyalan fans kalian di China. Apa kalian tahu pencitraan publik? Lewat kalian, istriku akan melakukannya."

"Mungkin bagi kalian istriku adalah wanita yang licik, tapi kami tengah berusaha agar tak ada kebencian untuk 'anak-anak' kami di masa depan. Kami harus memulihkan nama baik Xi karena darah Xi juga mengalir dalam diri anak-anak kami. Lalu bagaimana kami bisa melakukannya lewat kalian? Tanpa perlu kuajari tentang sisi psikologis manusia awam, aku rasa kalian mengerti."

"Aku hanya ingin kalian memberikan yang terbaik bagi fans di sana, karena ini akan menjadi konser K-Pop terakhir di China sampai Korea Selatan dan China meredam pertikaian mereka. Kuingatkan, ini adalah satu-satunya kesempatan."

"Singkat kata, kalian membawa nama Xi juga. Aku harap kalian tidak tertekan dengan kenyataan ini."

Penjelasan dari seorang Kepala Keluarga Bangsawan Inti Oh tersebut seolah menakuti siapapun.

Tapi, saat mereka ingat pesan Luhan untuk jangan merasa terbebani, mereka lega.

Suho mengacungkan tangan ke depan. Komando untuk menggabungkan tangan kelima partner karirnya yang sudah dianggapnya.

"Are you ready, guys?" Suho dengan kesombongannya dalam berbahasa Inggris, membuat Odult memutar bola mata.

"Ne, uri-leader!" Seru kelima member EXO.

"EXO..."

Keenam tangan itu terangkat, menghantarkan semangat dan rasa sebelum mereka menghadapi karir solo masing-masing.

"...SARANGHAJA!"

Suho dan kawan-kawan mulai berdiri di tempat masing-masing. Jubah hitam terpasang apik di tubuh proporsional mereka.

Dalam mata uri-leader kita, ada sebersit harapan para member, staf, dan EXO-L bahagia di hari terakhir konser di China ini.

Cahaya kelap-kelip panggung menyeruak menerpa wajah sang leader kala lantai mengangkat tubuhnya ke panggung.

Fancant EXO, ayunan eribong, dan seruan-seruan para EXO-L, langsung menyambut uri-leader.

Lagu Drop That Korean Version—salah satu lagu di mini album Jepang—mulai diserukan...

Yeah everybody get ready to jump

One two three let's go...!

Segera Suho menyanyi, berseru, bersama semua member lainnya.

Jump jump jump jump jump jump E-X-O...!

Jump jump jump jump we are... EXO...!

Jump jump jump jump jump jump E-X-O...!

Jump jump jump jump we are... EXO...!

Ini adalah hari ketiga. Tidak peduli yang dibawakan bukanlah lagu berbahasa mandarin.

Hari ketiga ini, hari terakhir konser ini, seluruh EXO-L di China ingin menikmati konser idolnya.

Richard Park memainkan keahlian DJ-nya dengan baik di puncak panggung tertinggi, Baixian dengan tingkah konyolnya berlarian untuk menyambut tangan-tangan fansnya, Jongdae melompat-lompat sambil berlari-larian dan tersenyum lebar, Kai menari dengan memukau, Odult langsung mendekati salah satu kerumunan dan memeluk boneka anjing putih.

Suho?

Dia di tengah panggung dan begitu bersinar dengan hentakan musik yang luar biasa.

EXO L basis China sudah lama menantikan ini. Mereka memahami politik di negaranya dan berusaha menjadi warga negara yang baik dengan bersabar tidak bertemu idola secara grup.

Karena itulah, hari ini mereka sangat bahagia hingga tak sedikit menangis terharu ketika idola mereka begitu dekatnya.

Mereka, mulai berseru lagi dengan Eribong terangkat tinggi...

son meori wiro son son meori wiro son meori wiro son son meori wiro son meori wiro son son meori wiro one two three

EXO drop that!

.

.

.

.

.

Jump jump jump jump jump jump E-X-O...!

Jump jump jump jump we are... EXO...!

Jump jump jump jump jump jump E-X-O...!

Jump jump jump jump we are... EXO...!

"Oke..."

Xi Hanbin, Pemimpin Xi Mafia sementara di basis China, memberikan smirk-nya untuk EXO di atas panggung.

Di antara kerumunan penonton, dia berpura-pura sebagai fanboy EXO.

Ada banyak gadis-gadis muda di sekelilingnya.

"Mari bersenang-senang... Tuan Muda Sehun."

Headset bluetooth terpasang di telinga kirinya.

Dia tengah tersambung dengan Oh Sehun yang berada di luar panggung indoor ini.

["ya, Hanbin..."]

.

.

.

.

.

Di luar gedung...

"Waktu kita hanya sampai Drop That selesai dinyanyikan. Kesempatan kita tidak banyak. Penari latar, kalian akan mendampingi solo stage untuk Baixian, dan beberapa lagu yang akan EXO nyanyikan nanti. Saat kalian menari di atas panggung, pastikan penonton terkesima. Dan dari atas panggung, kalian bisa memastikan para Mafia Xi aman di posisi mereka masing-masing. Beri laporannya padaku. Kalian paham?"

["baik, Tuan Muda!"]

Jawab semua Mafioso China di bawah naungan Keluarga Bangsawan Xi.

Sehun mematikan interkom. Dia menunggu laporan dari bawahan istrinya.

Ketampanan Sehun, dengan telinga tersemat headset hitam di telinga kirinya, mulai berjalan keluar dari para penonton di layar besar. Mereka adalah penonton yang tak bisa menonton EXO secara langsung.

.

.

.

.

.

Ketika lagu Drop That dinyanyikan, Mafia Xi diharuskan berada di posisi masing-masing. Ada yang berada di VVIP alias posisi dekat panggung, ada yang sedikit jauh dari panggung, di kursi atas, atau dekat pintu keluar. Mereka menganalisa orang-orang di dalam gedung. Karena semua orang fokus pada penampilan EXO, Mafia Xi jadi bisa memainkan ponselnya dan berpura-pura melihat laman web.

Tidak ada yang spesial dari tindakan mereka.

Tapi akan berbeda kalau yang melakukannya adalah Mafia Xi.

Contohnya Hanbin.

Dia pura-pura menyenggol salah satu bahu gadis. Dalam bahasa China dia menggumam maaf. Karena tampilan dan auranya macam pria baik-baik, si gadis tidak mempermasalahkan. Namun gadis itu langsung terpusat pada apa yang dibuka oleh Hanbin di ponselnya.

Akun YouTube.

Akun pribadi milik Baixian.

Hanbin memutar singkat salah satu video behind the scene pembuatan iklan XiLu Foundation. Selayaknya blogger, Baixian merekam secara 'selfi' bagaimana aktivitasnya bersama para member.

Di video itu pun terekam Xi Luhan.

Baixian dan member EXO lainnya memanggil Luhan, "noona!" Dalam video itu, mereka sangat akrab pada Luhan.

Si gadis di dekat Hanbin mulai penasaran.

"Luhan? Wanita dari Keluarga Terkutuk Xi itu?" Nama Luhan memang buruk di China. Tapi karena si gadis melihat Luhan versi hangat dan ceria di dalam video itu bersama para member EXO, membuatnya terkesima. Sontak dia menyenggol bahu teman-teman di sampingnya. Dalam bahasa China, si gadis berkata pada temannya,

"Kalian tahu Xi Luhan?!" Suaranya dikeraskan karena hebohnya musik. "Dia ternyata begitu baik pada idol kita... Nanti akan kutunjukkan padamu kalau kau tak percaya!"

China memiliki beberapa permasalahan sehingga warganya sulit mengakses akun seperti YouTube, Instagram, dan sebagainya.

Oleh karena itu, Hanbin (dan seluruh Mafia Xi di dalam gedung) dengan kekuatan 'VPN', menarik perhatian EXO-L agar menengok akun YouTube atau beberapa laman pemberitaan hangat tentang Korea khususnya EXO.

Para Mafia Xi melakukan beberapa hal berbeda dengan Hanbin. Masing-masing menggunakan metode mulut ke mulut, atau berteriak seakan-akan berterima kasih pada Xi Luhan. Karena dasarnya sifat manusia penasaran jika ada nama yang disangkutpautkan dengan idolnya, para fans di sekitar Mafioso penasaran tentang apa peran Xi Luhan untuk EXO.

"Xi Luhan?! Seharusnya aku berpikir bijak dulu sebelum membencinya. Bagaimanapun... Ayahnya yang bersalah, bukan dia!"

"Hei! Fokus pada EXO kita. Nanti kita lihat-lihat lagi mengenai wanita itu. Kau tak curiga? Bisa saja ini semacam pencitraan."

"Kau lupa ya? Karena Xi Luhan juga kita bisa menonton EXO secara langsung di tanah kelahiran kita! Bagaimana bisa kita masih menjelekkan-jelekkanya?!"

"HELL...! XI LUHAN ADALAH PEMILIK AGENSI AA ENT. AGENSI ITU GANTI NAMA JADI LU ENTERTAINMENT...?! Buddha! aku begitu mengagumi Luhan-jiejie..."

EXO-L China benar-benar heboh tak hanya tentang bagaimana bisa EXO tampil di China padahal China memboikot KPop, tapi juga dibuat tercengang dengan...

...tindak-tanduk Xi Luhan bagi EXO.

.

.

.

.

.

Masih ingat rencana Luhan mengenai Comeback EXO setelah Tempo?

Konsepnya ialah alter ego milik para member EXO. Ada yang berpendapat konser comeback kali ini semacam kloningan. Versi alter ego para member EXO dinamai X-EXØ.

Jika EXO memperkenalkan diri dengan kalimat, 'We Are EXO', maka X-EXØ dengan pembawaan congkaknya berkata, 'EXØ one are we!'.

Kembali pada Konser,

Drop That pun mulai memasuki part akhir. Para penari latar mulai memasuki panggung dan menari bersama member EXO.

Para penari latar EXO kali ini adalah Mafia Xi lainnya.

Luhan benar-benar totalitas dalam melakukan rencana anehnya.

son meori wiro son son meori wiro son meori wiro son son meori wiro son meori wiro son son meori wiro one two three...!

EXO drop that!

Suho dan kawan-kawan melepas jubah hitam mereka, melemparnya, kemudian memperlihatkan outfit EXO untuk X-EXØ version yang mereka pakai saat ini.

Outfit ini dipakai untuk masa comeback "Obsession" yang adalah judul lagu dan album terbaru EXO.

Lagu Obsession diperuntukkan bagi haters...

...untuk membalas mulut-mulut tak berguna di luaran sana. Itu pendapat Luhan sebagai penentu judul.

Meski dandanan dan tatanan rambut mereka masih EXO, pakaian mereka membuktikan diri mereka adalah X-EXØ.

Ini semua bagian nyeleneh dari pemikiran Luhan.

Jump jump jump jump jump jump X-EX-Ø...!

Jump jump jump jump EXØ... one are we..!

Jump jump jump jump jump jump X-EX-Ø...!

Jump jump jump jump EXØ... one are we...!

Para EXO-L berteriak semakin lantang. Fancant mereka semakin menggema.

Mereka tak menyangka 'Obsession' akan dibawakan di konser terakhir EXO kali ini.

Hey hey hey hey hey hey EXØ...!

Hey hey hey hey EXØ ONE ARE WE...!

Dengan itu...

...'Drop That' berakhir.

Odult, sang maknae EXO, berseru dalam bahasa Mandarin, "APA KALIAN SEMUA TERKEJUT DENGAN KEJUTAN KAMI?!"

Seruan-seruan pun semakin membahana.

Mafia Xi pun hanya tersenyum di tempat mereka masing-masing, sembari mengangkat eribong tinggi-tinggi bersama EXO-L lainnya.

"Berhasil, Tuan Muda." ucap Hanbin.

["Yeah... This is Psychology Instruments..."]

Sehun di luar gedung, menyembunyikan tangannya di saku celananya.

Senyumnya semakin manis diterpa sinar mentari sore.

Sehun mulai menghubungi Luhan. Dia mematikan interkom dari para Mafia Xi. Fokusnya kali ini adalah sang istri.

TUT...TUT...

"Sayang, renca—"

["Tuan Muda! Lady Luhan... Lady Luhan..."]

Tapi...

...yang menerima adalah Yuri.

Senyum Sehun memudar.

"A-ada apa?"

["Lady Luhan akan segera melahirkan. Ketubannya pecah sebelum waktunya!"]

.

.

.

.

.

Seoul, Korea Selatan...

.

.

.

.

.

"Tuan Muda Sehun akan segera kembali ke Korea, Chanyeol-ah..." ucap Yuri sambil mengelus bahu adik angkat Luhan itu, Chanyeol, untuk menenangkannya.

Sangat disayangkan Chanyeol tidak bisa tenang.

Triple Twin resmi lahir ke dunia.

Mereka lahir prematur karena usia kandungan Luhan masih delapan bulan.

Syukurlah fisik mereka sehat, walaupun si bungsu sempat menelan air ketuban. Dokter Hyoyeon dan timnya bekerja sigap, sehingga si bungsu sudah lebih baik. Kini ketiga bayi mungil tersebut masih dirawat di dalam inkubator. Terbaring lelap, menunggu waktu tepat untuk bertemu sang ibu.

"Lady Luhan belum siuman, Yuri-noona." Rupa Chanyeol begitu sekarat saat menengadah pada Yuri. "Padahal, aku tahu sendiri bagaimana antusiasmenya menunggu Triple Twin-nya."

Chanyeol sudah gagal fokus. Pekerjaannya sebagai CEO XiLu Corporation dialihkan pada Jongin untuk sementara waktu. Chanyeol paling tidak bisa membiarkan Luhan dalam masalah. Segudang rasa bersalah menyirami sekujur bulu kuduknya. Kini tubuhnya mendingin pasi, efek terlalu khawatir.

"Lady Luhan, cepatlah siuman. Triple Twin membutuhkan anda. Apa... Apa yang harus saya katakan pada Tuan Muda Sehun saat melihat istrinya terbaring secantik ini... Di sini?"

Kecantikan Luhan nyaris tidak masuk akal dalam kepucatan kondisi di atas ranjang. Tangan kurusnya digenggam Chanyeol. Tangannya terlihat begitu mungil di rengkuhan Chanyeol. Pria itu menempelkan tangannya ke dahi, memejamkan mata berharap Tuhan mau menyadarkan Luhan.

"Ugghh...? Hunnie...?"

Chanyeol tersenyum lebar bersama Yuri.

Mata rusanya mengerjap pelan, kemudian menyipit akibat sinar lampu. Setelah beradaptasi, Luhan melebarkan matanya.

"Anakku?" Luhan mengeratkan genggamannya di tangan Chanyeol. "Anakku bagaimana? Katakan padaku— Argh!"

"My Lady!"

"Kepalaku pusing... Hunnie..."

Refleks Chanyeol dan Yuri menegur pemilik mereka agar mau beristirahat. Setelah memastikan Luhan tenang dan fokus memandangi Chanyeol, Yuri memanggil Dokter Hyoyeon.

"Ketiga anak anda baik-baik saja. Mereka masih terbaring di inkubator..." Ucap Dokter Hyoyeon setelah memeriksa Luhan. "Anda juga sudah stabil."

"Hyo... Kau yakin ketiga anakku sehat?"

"Tunggu pemeriksaan lebih lanjut setiap harinya. Anda harus bersabar, kelahiran mereka lebih cepat dari yang seharusnya jadi mereka perlu dipantau lebih dari bayi-bayi biasanya."

"Apapun kondisi mereka, me...mereka tetap anak-anakku. Mereka hidup dan besar bersamaku dan Sehun saja... sudah membuatku sangat bahagia," ucap lemah Luhan. Kemudian dia mencecar Chanyeol, "Yeolli... Di mana... Sehun?"

"Beliau masih di China. Beberapa jam lagi pasti sampai kemari." Jawab Chanyeol. "Apa perlu saya menghubungi beliau jika anda sangat merindukannya?"

"Sehun! Aku ingin Sehun memelukku sekarang! Badanku sakit semua... Aku butuh dia agar semua kesakitan ini sembuh! Ayo Yeolli... Cepat!"

Chanyeol kewalahan hanya untuk menggunakan ponsel, kala Luhan terus menarik-narik lengan bajunya.

"Yeolli! Kau dengar tidak?!"

"Ya, My Lady... Bersabarlah sebentar..."

Mode rengekan Luhan ternyata belum 'off' walau sudah memiliki tiga bayi mungil milik Oh Sehun.

Panggilan dari Chanyeol tersambung.

["Yeobseyo, Hyung? Apa Luhan—"]

Luhan merebut paksa ponsel Chanyeol dari pemiliknya.

"HUNNIEE... PULANG! PULANG!"

["Oke, aku akan pulang. Jadwal Beijing-Seoul masih setengah jam lagi, kumohon bersabarlah..."] Kentara sekali kalutnya Sehun saat mendengar suara serak Luhan. ["Tidurlah sambil menungguku... Demi Tuhan, sayangku, kau baru saja pasca melahirkan. Kumohon istirahatlah, oke..."]

"Aku tidak bisa tidur nyenyak tanpamu. Jadi pulanglah..." Luhan meringis kepala dan vaginanya sakit pasca melahirkan. "...pulang secepatnya, Oh Sehun! Hubungi Hanbin dan suruh dia menghubungi pilot pribadi Keluarga Xi di China agar menyiapkan jet pribadi untukmu!"

["Tapi, Lu— aku sudah membeli tiket—"]

"SEKARANG!"

["Ya, sayangku. Aku akan melakukannya."]

"Bagus!" nada bicara Luhan melembut. "Hunnie..."

["Ya, sayang?"]

"Aku tahu kekalutanmu saat ini setelah anak kita lahir. Dan aku berharap, kau menghilangkan hal itu."

["tentu saja."]

Luhan memberinya senyum walau Sehun tidak bisa melihatnya. Dia menghela nafas lalu berkata pelan,

"Kau tidak perlu menjadi Raja untuk melawan Raja. Kau hanya perlu menjadi Oh Sehun, suami sah Xi Luhan, untuk mengalahkannya..."

Sehun di seberang sana tersenyum kecut. Luhan melanjutkan,

"...Jadi, jangan pernah berpikir yang tidak-tidak hanya karena aku dan anak-anak kita."

.

.

.

.

.

Di dalam ruang rawat biasa, Luhan tampak mengkhawatirkan Sehun namun ada Chanyeol, Yuri, dan Hyoyeon yang berusaha menenangkannya. Mereka tidak ingin wanita yang mereka sayangi itu stress pasca melahirkan.

Chanyeol adalah objek paling tampan di sana. Dia terus mengelus pucuk kepala Luhan hanya untuk menenangkannya. Kadang mengucap betapa hebatnya Luhan karena berhasil berjuang demi ketiga bayinya.

Sayangnya, Chanyeol tidak tahu ada seorang wanita di luar ruang rawat yang pilu melihat senyumnya untuk Luhan.

"Oppa..."

"Lihatlah, Nona Muda Byun... Chanyeol ada di dekat anda. Mengapa anda tidak menghampirinya?"

Kepala Baekhyun menggeleng cepat sambil kakinya mundur satu langkah. Dia begitu kalut, "aku takut pada Luhan-eonni... A..aku takut dia akan membunuhku..."

"Mengapa dia harus membunuh Anda?"

"Itu karena perjanjian antara dia dengan Chanyeol-oppa!" geram Baekhyun. Mukanya memerah.

"Perjanjian apa?"

"Chanyeol-oppa akan membunuhku setelah dia mengungkapkan perasaannya padaku. Ya... Tidak bisa... Chanyeol-oppa tidak boleh membunuhku karena—"

Hati Baekhyun terasa dicubit hingga berdarah saat melihat Chanyeol begitu menjaga Luhan.

"Saya bahagia atas kelahiran Triple Twin. Mereka lucu-lucu. Saya ingin sekali menggendongnya jika diberi kesempatan..." Ucap Chanyeol pada Luhan dari dalam ruang rawat.

"Oppa juga bisa menggendong anak oppa..hkkss..."

Baekhyun menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Isakannya tertahan hingga dia tersedak. Baekhyun memeluk perutnya yang nampak menggembung.

Kandungannya sudah berusia empat bulan.

"Oppa... Kami butuh Chanyeol-oppa... Tidak hanya Luhan-eonni..."

Air mata menderas tanpa bisa dihapus tangan siapapun. Padahal, diusia semuda Baekhyun, dia butuh penopang untuk setidaknya tidak selemah sekarang.

Baekhyun sangat membutuhkan Chanyeol.

"Anda hamil diusia sangat muda. Parahnya, Chanyeol tidak tahu kehamilan anda. Saya yakin jika dia tahu dia akan memilih anda dibanding Lady Luhan."

"Tidak... Chanyeol-oppa sudah menganggap Luhan-eonni seperti Tuhannya sendiri..."

"Lalu, apa anda akan diam terus seperti ini?" Pria di samping Baekhyun menghapus air mata si remaja cantik tersebut. Tubuh mungil Baekhyun gemetar ketika pria itu berkata, "anda putus pendidikan dan hanya bisa homeschooling diusia terlalu muda, hamil diluar pernikahan, sebatang kara, ayah dari anak anda bahkan tidak tahu dia memiliki anak... Dan anda? Anda hanyalah remaja naif yang belum bisa melindungi diri anda sendiri apalagi anak anda."

"Kau—" Baekhyun menahan diri untuk tidak berteriak. "Aku seorang bangsawan! Aku bisa membahagiakan anakku bahkan tanpa ayahnya."

"Anda yakin?" Pria menoleh lagi pada kemesraan Chanyeol dan Luhan. "Pria itu menginginkan anak wanita lain digendongnya, bukan anak kandungnya sendiri. Tidakkah itu miris?"

"Jika Chanyeol-oppa tahu aku hamil, Luhan-eonni juga akan tahu dan pasti akan segera membunuhku yang otomatis membunuh bayi kami. Aku tidak bisa menemui Chanyeol-oppa..."

Baekhyun yang linglung. Emosi remaja itu terlalu labil untuk disentil.

Dan pria di hadapannya begitu mudah menyentil emosinya.

"Lebih miris lagi. Hidup anak anda akan lebih menyedihkan dari hidup ibunya selama ini."

"Ti...tidak boleh..."

Seringai dari pria di samping Baekhyun terkesan horor. Baekhyun terlalu gelisah untuk mendeteksinya.

"Tidak boleh apa, Nona Muda?"

"Anakku tidak boleh sama menyedihkannya denganku. Anakku berhak bahagia lebih dari ibunya sendiri!"

"Lalu, apa yang akan anda lakukan?"

Baekhyun menghapus air matanya serampangan.

Binar tekad muncul dengan salah sasaran di matanya.

Kedua tangan calon ibu muda itu terkepal.

Sementara pria di sampingnya,

Chanwoo,

tersenyum manis sambil memandang Luhan, yang tertidur sambil dahinya dielus adik angkatnya—Chanyeol.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

NEXT CHAPTER :

Fourteen : X-EXØ feat Xi's Mafia (bag 2)

"Tolong jangan anggap aku berlebihan karena apapun tentangmu membuatku terlalu sensitif!"

—Oh Sehun—

.

.

.

.

.

Author note (tolong dibaca, penting!):

12K WORD AGAIN! (biar kayak jumlah member EXO era overdose).

Penasaran sama jenis kelamin dan nama Triple Twin? Aku berharap kalian terkejut saat membaca chapter selanjutnya... Mwehehe...

Cuplikan di chapter lalu itu adalah kerangka alur. Jadi kerangka alurku bentukannya GAK hanya list-list, tapi juga sesuatu yang random kayak percakapan tokoh, separagraf adegan, atau beberapa kalimat penting biar gak kelupaan.

Jadi cuplikan chapter Thirteen kemarin adalah copast dari kerangka alurku.

Aku benar-benar minta maaf kalau kesannya PHP. Tapi tenang, cuplikan yang di chapter Twelve tuh muncul di chapter fourteen.

Awalnya update MJW setelah bag 2 selesai diketik, tapi gatel banget dan greget (DENDAM POLL sama hilangnya draft), alhasil aku EKSEKUSI bag 1-nya agar sesuai niat awal yakni update tanggal 7-jan-20. Alhamdulillah fisikku mumpuni untuk itu :)

Bagi yang tanya-tanya di kolom review chap 12, kujawab di "AUTHOR NOTE (PENTING)", hehehe... Mian... Wordnya jebol banget, author note di sini gak bisa banyak-banyak :')

Chapter "X-EXØ feat Xi's Mafia" bag 2 nya masih otw pengerjaannya...

Makasih atas dukungannya!

(Aku tengah menggunakan waktu liburanku sebelum aku kembali kuliah dan bakal update slow beut). Kalau aku update sloooww banget, tandanya aku hiatus ya :)

Sekian, terima kasih sudah follow, favorit, dan review...

Surabaya, 07 Januari 2020