"Maaf, kalian mau main pelototan sampai kalian saling membunuh atau gimana?" Youichi berkata sambil meringis, sementara Eijun sama sekali tidak ada niat untuk mendengarkan. Kalau saja dia bisa membunuh bocah pirang didepannya melalui tatapan matanya, mungkin Koushu sudah tercincang menjadi beberapa bagian.
Eijun mendengar suara Nabe cekikikan. Dia berusaha acuh. Manik keemasan Eijun menelisik setiap inci wajah Koushu. Berusaha mencari tahu apa yang sedang di pikirkan bocah itu. Tapi yang di hadapinya hanya tatapan dingin seperti biasa.
Kedua mata berbeda warna itu bertemu. Setelah mempelajari cara Koushu berdebat dengan Haruichi selama ini, Eijun tahu kalau Koushu adalah orang yang pantang mundur. Dia memiliki caranya sendiri dalam menaklukan lawannya.
"Eijun-kun" Wajah Haruichi terpampang jelas di depannya. Eijun tersentak. Dia sama sekali tak menyadari kehadiran Haruichi karena asyik main pelototan dengan Koushu "Kamu kenapa melotot begitu? Kenapa kamu serem banget pakai-pakai Hoodie begitu?"
"Harucchi, kapan kamu datang?"
"Barusan. Sama Furuya juga" Haruichi menoleh kearah Satoru yang berdiri di depan pintu kamar rawat Kazuya. Pandangannya tertuju kedalam ruangan melalui celah kaca kecil di pintu. Eijun gak salah lihat, kan? itu ditangan Satoru beneran ada sebuket bunga Peony, kan? Masa itu buat Kazuya?
"Oy, Furuya!" Satoru menoleh kepada Eijun "Itu buat apa? Kamu mau kasih itu ke Kazuya?"
Satoru mengangguk.
Eijun terpekik.
"Jangan salah paham, Eijun-kun!" Lanjut Haruichi sambil terkekeh geli "Tadinya dia mau kasih itu ke Haruno, tapi dia baru ingat kalau Haruno alergi bunga"
Terdengar suara tawa Youichi yang menertawakan ke-begoan Satoru.
Satoru cemberut "Berisik!"
"Haruno siapa?"
"Pacarnya Furuya. Dia juga kerja bareng kami, tapi lagi dirawat di sini juga karena Hepatitis" Terang Haruichi
"Furuya punya pacar?" Tanya Eijun antusias
"Kamu meremehkanku?" Desis Satoru
Eijun tertawa tanpa dosa. Dia lalu tak sengaja dia menoleh kearah Koushu dan mendapati mata kebiruan Koushu menatapnya lagi. Bibirnya berdecak kesal. Eijun mengalihkan pandangan kemanapun asal tak ke arah Koushu.
"Hei, kalian ribut?" Tiba-tiba saja Haruichi duduk di sampingnya. Kepala merah mudanya menoleh penasaran kepada Eijun "Tapi kenapa kamu pakai topinya Okumura?" Eijun tidak menjawab. Isi otaknya memutar ulang kejadian sebelumnya.
...
...
Eijun terkejut bagaimana bisa Koushu tahu dia sedang ketakutan melihat sosok ayahnya di dalam lift. Koushu bahkan berusaha melindunginya dengan membuat adegan pura-pura ciuman itu agar semua orang segera turun dari lift, begitu juga dengan ayahnya.
"Kamu... kenapa?"
Sebelum pintu lift tertutup lagi, Koushu menarik Eijun keluar.
"Tunggu, Okumura!" Eijun berontak. Tak ada yang memarahi Eijun karena dia lantai delapan yang terlihat sepi. Koushu terus menariknya menuju toilet.
Lutut bagian belakang Koushu di tendang oleh Eijun. Bocah itu tersungkur di lantai. Ketika Eijun hendak mengeluarkan pisau pemotong buah yang di curinya dari kamar Kazuya, Koushu berputar degan cepat dan menendang lengannya. Dia menerjang Eijun hingga posisinya kini berada di atas Eijun. Serangan telak di selangkangan Koushu membuat kesunyian di koridor rumah sakit itu terpecah. Eijun menggunakan kesempatan ini untuk berlari
"Fuck!" Pekik Koushu. Seorang perawat berlari menghampirinya dan menanyakan keadaan Koushu. Koushu hanya menjawab dengan membuka telapak tangannya kearah perawat itu dan memilih mengejar Eijun. "Hei!" Panggil Koushu. Dia terlihat kepayahan mengejar Eijun dengan jalan mengangkang seperti itu "SAWAMURA EIJUN!"
Eijun terus berlari. Koushu menyusulnya lebih cepat dari perkiraannya. Tubuhnya menabrak seorang anak kecil yang datang entah dari mana. Anak itu terjatuh di lantai sambil menangis. Orang tuanya menyusul dan memaki-maki Eijun. Tiba-tiba saja lengannya sudah dicengkram erat oleh telapak tangan Koushu.
"LEPASKAN AKU!" Eijun berteriak.
"Hei, jangan teriak-teriak! Kalian pikir ini dimana?" seseorang menegurnya.
"Diamlah sebentar!" Koushu berdesis.
Tangan Eijun yang bebas mencengkram pergelangan tangan Koushu dan memuntirnya. Koushu mendesis tertahan. Sebelum Eijun menyerang selangkangannya lagi, Koushu menarik topinya yang dipakai Eijun ke bawah sampai menutup mata Eijun. Ketika Eijun lengah, Koushu menarik pinggang Eijun dan mengangkatnya.
Eijun menjambaki rambutnya. Koushu bertahan hingga mereka sampai di Toilet. Eijun memekik ketika Koushu menghempaskan pantatnya di dekat wastafel. Mungkin dia mau balas dendam untuk selangkangannya tadi. Satu tendangan mendarat di dada Koushu. Si pirang itu terdorong ke belakang. Eijun sudah turun dan hendak melarikan diri lagi, tapi lagi-lagi dia kalah cepat.
Koushu menahan kedua tangan Eijun di balik punggungnya, dan tubuhnya di sudutkan ke wastafel "Diam sebentar!"
Eijun menatap wajahnya di cermin. Dia tidak bisa memberontak dari Koushu lagi. Tenaga bocah pirang itu lebih kuat dari perkiraannya. Air mata meluncur dari kelopak mata EIjun. Ya Tuhan, apa dia akan diperkosa lagi? Oleh Koushu? Koushu kan temannya Kazuya. Masa sih temannya Kazuya menyakitinya?
"Astaga, kenapa kamu malah nangis?"
Eijun gemetar sambil terisak. Koushu melepasnya. Dia menjauh dari Eijun dan mendesah pasrah. Eijun meringkuk di lantai toilet. Wajahnya tersembunyi diantara lututnya. Tangisannya tidak bisa di tahan lagi. Apa ini takdirnya? Apa selamanya Eijun hanya akan menjadi pemuas nafsu orang lain?
"Hei!" Eijun menepis tangan Koushu yang menyentuh bahunya. "Boleh aku bicara sebentar?"
"Pergi!" Isak Eijun masih tak sudi menatap Koushu.
"Aku diminta seseorang untuk mengawasimu" Eijun mendongak. Sekarang Koushu ikut-ikutan duduk di lantai menghadapnya. Koushu hendak meraih wajah Eijun, tapi Eijun spontan menjauh "Jangan takut! Aku bukan orang jahat" Koushu mengusap air mata Eijun dengan lengan bajunya "Kamu ingat pak tua bernama Okumura yang bekerja di rumah orang tuamu?"
Kakek Okumura. Tentu Eijun mengenalnya. Pak tua itu sangat baik padanya. Dia yang selalu membantu menipu orang tua Eijun kalau Eijun bosan dan ingin jalan-jalan. Tapi Eijun tidak pernah tau nama aslinya. Dia hanya mengenalnya dengan nama Kakek Okumura. Dia yang mengajari Eijun cara menggunakan senjata dan tekhnik bela diri.
"Dia kakekku" Terang Koushu lagi "Dia memintaku mengawasimu setiap kali kamu keluar sendirian"
"Kamu yang mengikuti selama ini?"
"Karena kakekku mengkhawatirkanmu"
"Lalu kenapa kamu selalu kabur waktu aku memergokimu?"
"Karena kamu selalu teriak-teriak dan itu memalukan"
"BANGSAT!"
Koushu menahan tawa
"Apa yang lucu?"
"Bukan apa-apa" Koushu mengangkat bahu "Kakekku sebenarnya menyuruhku mencarimu, tapi tiba-tiba kamu muncul bersama Miyuki. Sekarang aku bisa melapor ke kakek kalau kamu baik-baik saja dan gak bersama orang jahat agar dia bisa tenang"
"Apa kakek gak menyuruhmu membawaku pulang?"
"Dia gak memaksamu kalau kamu gak mau. Yang penting baginya kamu baik-baik saja" Koushu tiba-tiba bangkit dan mengulurkan tangan padanya "Sudah, ya! Ayo ke bawah! katanya kamu mau makan es krim"
"Bagaimana aku tau kalau kamu gak bohong?"
Koushu memicingkan mata. Dia menghela nafas lalu meraih ponselnya. Terlihat seperti Koushu menghubungi seseorang. Beberapa detik kemudian dia bicara "Halo, kek! Ada yang mau bicara denganmu"
Eijun menerima ponsel Koushu dan menempelkan ke telinganya "Halo"
"Siapa ini?" suara pria tua yang sangat di kenal Eijun di seberang sana menyahut.
"Kakek Okumura!" Seru Eijun girang. Rasanya menyenangkan bisa mendengar suara pak tua itu lagi "Ini aku"
"Ei-chan?" Kakek Okumura mengecilkan suaranya. Tapi Eijun bisa merasakan dia gembira mendengar suara Eijun "Kamu bertemu Koushu?
"iya, kek! Dia bersamaku sekarang"
"Kamu baik-baik saja? Gimana keadaanmu? Kakek khawatir sekali. Ada video-mu yang tersebar di internet. Apa yang terjadi?"
"Itu.." Eijun tertawa sendiri "..salah paham kek. Aku dan Kazuya gak seperti yang mereka beritakan"
"Kakek percaya" lanjut kakek Okumura "Apa temanmu itu baik padamu?"
"iya, Kazuya orang baik kek"
"Syukurlah" Suara kakek Okumura terdengar lega "Kakek cuma berharap kamu bersama orang yang baik. Gak papa kalau kamu gak mau pulang. Tenangkan dulu dirimu!"
Eijun mulai terisak lagi. Dia merindukan kakek Okumura "Aku kangen kakek"
"Kakek juga" Eijun sedang membayangkan kakek Okumura sedang tersenyum di seberang sana "Nanti kita ketemu kalau kamu udah baikan, ya! Maaf kakek gak bisa lama-lama ngobrol, Ei-chan. Kamu baik-baik, ya! Kalau butuh apa-apa bilang aja sama Koushu"
Eijun melirik Koushu. Seperti biasa, dia masih berwajah lempeng "Iya, kek!"
Setelah panggilan itu diakhiri, Eijun mengembalikan ponsel Koushu. Dia kaget ketika tiba-tiba Koushu menarik tangannya untuk berdiri.
"Apa?" Bentak Eijun
"Mau apa lama-lama disini?"
Eijun menggeram, lalu menghempaskan kasar tangan Koushu.
"Cuci mukamu, tuh!"
Wajah Eijun panas. Dia melotot kepada Koushu yang hanya di balas seringaian nyaris tak kasat mata itu. Setelah mencuci wajahnya dengan cepat di wastafel, Eijun pergi meninggalkan kamar mandi dan berjalan cepat mendahului Koushu. Seperti biasa, dia merasa tatapan Koushu menelanjangi punggungnya "Apa sih lihat-lihat? Dasar stalker!" Maki Eijun.
"Makanya jangan berdiri di depanku!"
Eijun mendengus dan menatap kesal pada bocah pirang dibelakangnya. Ketika Eijun hendak mempercepat langkahnya, Koushu menarik pergelangan tangannya hingga tubuh Eijun dipaksa memutar menghadap Koushu.
"APA SI.. MMPH!" Belum puas Eijun berteriak, telapak tangan Koushu membekap mulutnya
"Meskipun kamu cucu pemilik rumah sakit ini, kamu akan tetap di tendang kalau teriak-teriak begitu"
Eijun terpaksa diam, walau dia sangat gemas ingin mencongkel lubang hidung Koushu. Tangan Koushu terulur ke belakang lehernya, dia menaikkan hoodie mantel Eijun dan memperbaiki sedikit letak topinya. Lalu koushu menarik Eijun kearah lift.
"Aku akan memeriksa apakah ayahmu masih disini. Seharusnya keberadaanmu disini disembunyikan" Koushu berkata lagi ketika mereka berada di dalam lift.
"Gimana caranya?"
"Ayahmu itu gak akan kemana-mana tanpa Rolls Royce- nya, kan?"
Eijun menoleh "Kamu beneran stalker sejati" sinisnya.
...
I never knew i'd love this world
they've let me into
(Taylor swift – beautiful ghosts)
...
Siapa yang menyangka kalau pertemuan Eijun dengan Kazuya justru membawa Eijun sedekat ini kepada Stalker-nya? Dan tentu saja, Eijun gak kepikiran kalau Koushu itu cucunya kakek Okumura. Nama Okumura kan lumayan pasaran.
Koushu baru saja kembali beberapa menit yang lalu. Jika dilihat dari gayanya yang lumayan santai, sepertinya dia sudah memastikan ayah Eijun sudah pergi. Eijun sih percaya saja, kalau dia memang cucunya kakek Okumura.
"Hei, ngapain sih lirik-lirikan terus sama Okumura?" Haruichi berbisik kepada Eijun.
"Aku gak main lirik-lirikan. Dia aja yang ngeliatin aku terus dari tadi"
Haruichi menoleh ke arah Koushu "Dia emang suka cari gara-gara"
"Mereka ngobrolin apa, ya? Kok kelihatannya seru banget" Kata Satoru tiba-tiba. Matanya masih melihat ke arah kamar Kazuya
Youichi ikut-ikutan mengintip, lalu dia menggerutu "Itu orang beneran sakit atau cuma mau genit-genitan sama dokter sih?"
Sekarang malah Nabe dan Haruichi yang ikut-ikutan kepo.
"Duh, giliran berduaan sama cewek cantik aja langsung nyambung deh tuh otaknya" Haruichi ikut menambahkan.
"Justru itu karena dokternya tahu cara melakukan pendekatan agar pasiennya bisa bicara relax dan terbuka. Memang konsultasi yang baik suasana harus senyaman mungkin" Nabe yang otaknya agak beres berkata.
Eijun mau gak mau juga jadi penasaran. Dia ikut-ikutan menengokkan kepalanya melalui celah kaca di pintu.
"Kalau gak kuat jangan di lihat!" Goda Youichi. Dia mengeluarkan ketawa hyena andalannya.
Kazuya terlihat sedang menceritakan sesuatu, lalu dokter Minami tertawa kecil. Kazuya juga ikut-ikutan tertawa. Dada Eijun serasa di hantam batu besar. Harusnya Eijun senang karena Kazuya terlihat menunjukan emosi yang lebih banyak dibanding kemarin-kemarin. Tapi harusnya membuat Kazuya tertawa seperti itu saja bisa dilakukannya. Eijun menggigit bibirnya. Youichi benar, dia gak kuat.
"Hei, jangan dengerin si Mochi!" Seolah pikirannya terbaca dengan jelas, Nabe berkata kepada Eijun "Dia dokter, Sawamura! Membuat pasien merasa nyaman adalah tugasnya. Semua yang dilakukannya untuk kesembuhan pasiennya"
"Iya, aku tahu! Aku cuma penasaran aja. Dan aku gak dengerin omongannya Mochi-san, kok" Eijun hanya berharap ekspresi wajahnya sejalan dengan apa yang dikatakannya sekarang.
Tapi tampaknya tidak demikian ketika seringaian Nabe tertuju padanya "Gini, ya. Kalau kamu cemburu, itu emosi yang gak bisa kamu kendalikan. Tapi jangan memasukan sugesti aneh-aneh ke dalam otakmu yang justru akan menyakiti dirimu sendiri!"
"Ce-cemburu?" Suara Eijun yang keras membuat lima pasang mata lain yang ada di sana menoleh ke arahnya.
"Cie.. Eijun-kun cemburu" Haruichi cekikikan
"HARUCCHI, JANGAN IKUT-IKUTAN!"
"Aku turut berbahagia"
"KAMU JUGA FURUYA!"
"Lihat, kami semua mendukungmu. Jadi kamu santai aja! Jangan merasa insecure dengan situasimu sekarang! Kalo ada yang ngomongin jelek tentangmu, bilang ke aku!" Harusnya Youichi menggodanya sekarang, tapi entah kenapa omongannya barusan membuat Eijun lega.
"Kalau dia bilang ke kamu, emang mau kamu apain?" Nabe bertanya
"Aku sodorin ke Haruichi. Biar dia mati jantungan kena serangan verbal-nya Haruichi"
"Tapi Haruichi udah janji gak mau mengumpat lagi" Celetuk Satoru
"Kalau untuk Eijun-kun, janji apapun akan ku langgar" Harichi enyeringai
Mereka kompak tertawa. Wajah Eijun semakin memanas, tapi karena suasananya lagi gak mendukung untuk dirinya malu-malu meong, dia ikut-ikutan tertawa juga. Bahkan ketika Eijun melirik ke arah Koushu, bocah itu tampang menyunggingkan senyum tipis.
Padahal Eijun tak melakukan apapun untuk mereka. Mereka bahkan tidak tahu siapa Eijun. Dia hanya orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan Kazuya, dan mereka berkenalan hanya karena suatu kondisi. Tapi mereka memperlakukan Eijun sebaik ini.
Eijun tidak pernah tau rasanya menertawakan hal-hal receh bersama teman-teman. Kalau hari itu Eijun tak bertemu Kazuya, mungkin Eijun tak akan pernah merasakan kehangatan seperti ini.
Apakah lebay kalau Eijun terharu sekarang?
...
...
"Kenapa kamu malah mengikutiku?" Eijun berputar menghadap Koushu dan berdiri sambil melipat dada di hadapannya.
"Aku mau ke bawah"
"Aku juga mau ke bawah. kenapa kamu ke bawah disaat aku juga mau ke bawah?" Eijun bersungut-sungut. Eijun heran kenapa Koushu betah sekali memasang wajah datar itu. Apa dia takut keriputan di usia muda? Apa kulit wajahnya terbuat dari semen sampai sulit sekali untuk menampilkan ekspresi?
"Aku mau kerja. Kominato dan Furuya-san udah sampai di sini"
"Kenapa kamu pakai 'san' buat Furuya sementara Harucchi cuma kamu panggil nama bapaknya doang?"
"Terserahku, lah!"
Bangke!
"Lagipula kamu sendiri memanggil Kominato 'Harucchi' sementara kamu panggil Furuya-san dengan nama bapakya?"
"Terserahku, lah!" Eijun menyeringai.
"Yah, terserahmu sih. Mulut-mulutmu!"
Sabar, Sawamura EIjun! Sabar! Kamu anak setrong! Kamu anak tangguh!
"Tau ah! Ngomong sama kamu cuma bikin pendek umur"
Koushu mendengus, kemudian berjalan mendahului Eijun. Eijun mati-matian menahan tawa melihat cara jalan Koushu yang agak gak beres. Bukannya gak prihatin, tapi ya lucu aja. Eijun tahu Koushu menahan rasa sakitnya ketika mereka tadi bersama dengan yang lain. dan kali ini sepertinya Koushu udah gak kuat
"Ano.." Eijun berkata ketika mereka di lift berdua "Aku minta maaf"
"Soal?" Koushu melirik kepadanya.
"Itu"
"Apaan?"
"Itutuh"
"Kalo ngomong yang jelas!"
"Itu mu!" Seru Eijun gondok sambil menunjuk selangkangan Koushu.
"Apa gunanya kamu minta maaf sekarang?"
Eijun meringis "Gimana kalau kita periksa.."
"Gak usah" Tolak Koushu cepat.
"Aku takutnya kenapa-napa"
"Apa pedulimu?" Ketus Koushu.
"Ya iyalah aku peduli, bego! Kalo itumu gak bisa dipake lagi, itu artinya aku yang menghancurkan masa depanmu" Seru Eijun kesal.
Koushu menghela nafas sambil mengusap keningnya "Gak usah khawatirkan itu!"
"Gimana caranya aku gak khawatir, coba?"
"Kalau aku bilang gak usah khawatir, ya gak usah khawatir! Kenapa di bikin ribet?" Sengit Koushu.
"Ya udah, terserah!" Eijun bersidekap.
Lift berdenting setelah sampai di lobby bawah.
Eijun menangkap sosok remaja perempuan yang duduk di sofa dengan headphone menempel di kepalanya. Pandangannya tampak fokus kearah layar ponselnya. Eijun menghampiri gadis itu. dia mendongak kearah Eijun, segera melepas headphone-nya, dan membiarkan benda itu tergantung di leher
"Yo.." Sapanya santai.
"Eh.. ano, kamu.."
"Panggil Mika aja!" Mika menepuk-nepuk sofa, seperti membuat gesture menyuruh Eijun duduk di sebelahnya.
Eijun duduk tidak terlalu berjarak dengan Mika, sementara Koushu bukannya langsung pergi, malah berdiri di samping mereka. Eijun ingin mengusirnya, tapi gak enak berantem sama Koushu di depan Mika "Kenapa kamu tau nomorku?"
"Aku ke kantor polisi. Aku ingin menyerahkan ini sendiri kepadamu" Mika mengambil sesuatu dari dalam saku mantelnya, lalu menyerahkan sebuah kotak berwarna Tiffany blue kepadanya "Mereka memberi ku nomor ponselmu"
Mata Eijun melotot sempurna. Dia memekik dan meraih kotak perhiasan itu dengan tangan gemetar "Ka-kamu.. repot-repot mengembalikan ini?"
"Dengan resiko aku akan diamuk oleh ibu tiriku dan dad tentu saja. Tapi gak masalah" Balas Mika santai.
"Mika.." Mata Eijun mulai berkaca-kaca "Makasih lho"
"Umurmu berapa, sih?"
Eijun mengusap matanya sebelum dia menangis dengan memalukan "Bener-bener gak papa, nih?"
"Kamu ngomong apa, sih?" Mika tergelak "Itu punya temanmu. Tentu saja aku mengembalikannya. Dan, aku mau minta maaf karena ibu tiriku membuat kalian kena masalah. Dia melakukan hal yang benar-benar brengsek kepada kalian. Tapi yang lebih menyebalkannya lagi, dad malah melindunginya dengan membawa-bawa nama uncle. That's really stupid! And I feel really sorry for you, guys!"
Eijun menggeleng sambil tersenyum "It's over. We're good now"
"Ngomong-ngomong sedang apa kamu disini?" Tanya Mika lagi
"Temanku mengalami kecelakaan sedikit"
Mika menatap Eijun "Apa ada hubungannya dengan.. semua ini?"
Secara tidak langsung, memang ada. Tapi Eijun hanya menggeleng saja "Gak kok"
Ponsel Mika tiba-tiba berdering. Kemudian gadis itu terkekeh.
"Ada apa?" Tanya Eijun
"My dad" Dia menyeringai. Mika membiarkan ponselnya tetap berdering dan memilih untuk tidak menjawab panggilan "I guess finally found out that i left"
"Kamu kesini gak ngomong sama dad-mu?"
"Aku kemaren cuma bilang mau menginap di tempat teman baruku melalui pesan, tapi aku diam-diam ke Jepang"
"Huh?"
"Aku dari New York. Baru sampai pagi ini"
"HEEH?" Pekik Eijun kaget. Mika tertawa dan Koushu yang masih berdiri di sampingnya melirik kearahnya.
"I'm graduating soon, you know! Gak mungkin aku meninggalkan sekolah begitu saja disaat kelulusanku hanya tinggal beberapa bulan lagi" Terang Mika sambil masih cekikikan.
"Ta-tapi kenapa.."
Mika menghela nafas. bibirnya masih tersenyum geli "My family is broke. Dad's money is gone. Rumah kami di sita bank, dan perusahaan ayahku tamat. Then, we moved to New York. But i wanna finish my school first. That's why i came back here" Sepertinya Mika menyadari wajah prihatin yang buat Eijun. Dia justru semakin cekikikan "Don't make that face! I know it's gonna happen soon, so i'm mentally prepared for this. So.. just don't make that face"
"I'm sorry, i didn't mean to.."
"no.. it's okay!" Mika mengangkat bahu
"Dimana kamu tinggal sekarang?"
"Temanku bersedia menampungku untuk sementara di apartemennya. Until i find a job to rent a house"
"Your uncle?"
"Nah!" Mika mencibir "He never really give a damn about us. Dia membantu dad waktu itu hanya agar nama baiknya tidak ikut terbawa-bawa"
"Bagaimana kamu membayar sekolah dan.. kuliah?" Setelah menanyakan itu, Eijun tersadar mungkin dia terlalu jauh ingin tau "i'm sorry. I shouldn't have asked you that"
"No problem" Mika melambaikan tangan "Untuk sekolah, aku masih punya tabungan yang cukup sampai aku lulus. But college.. i guess i just have to forget that" Ponsel Mika berdering lagi. Gadis itu terbahak-bahak melihat caller id di layar ponselnya.
"Your dad again?"
"Well, he maybe freaking out right now" Mika meng-slide layar ponselnya, lalu memasang kembali Headphone-nya "Hi, dad... Aku di Tokyo... of course i'm in Tokyo. I have classes tommorow. Memangnya dad pikir sudah berapa lama aku libur?" Senyum geli di wajah gadis itu terukir lagi. "no, dad! i'm graduating. You hear me, I'm not dropping out!... don't be so ridiculous, dad! mana ada orang yang berhenti sekolah di saat-saat begini?... Aku membawa gelangnya. Aku mengembalikan itu kepada yang punya ... why are you mad? Gelang itu bukan punyamu atau punya wanita itu... i'm not asking for money... what do you mean?... no! I don't wanna meet that Dhaniels guy... i don't care, dad... don't you dare to think about that!... omong kosong macam apa itu?" Gadis itu tampak marah. Wajahnya yang memang sudah kemerahan semakin memerah. Ekspresinya sama sekali tidak enak di pandang mata "Forget it, dad! ... Dad, i swear, if you ever talk that shit again, i'm not gonna talk with you for the rest of my life... why are you being so selfish?" Mika berteriak marah. Dia mengejutkan Eijun, Koushu dan seseorang yang melewati mereka "I don't wanna clean up the mess you've made... Bye dad! Good bye! Jika dad masih berpikir untuk menjodohkanku dengan laki-laki itu, jangan coba-coba menghubungiku!" Panggilan telepon di akhiri. Mika melepas headphone-nya lagi lalu menghela nafas "That old man is so fucked up" dia geleng-geleng kepala.
"You okay?" Eijun bertanya khawatir. Kurang lebih dia menangkap isi pembicaraan Mika dengan Dad-nya. Eijun bisa mengerti konsidi Mika. Gadis itu pasti sangat marah dan kecewa dengan keputusan egois orang tuanya.
"I'm okay.. and yeah, you heard that all" Gadis itu tersenyum. Tapi jelas sekali kalau senyum itu dipaksakan "That Dhaniels guy, is a guy from neighborhood. He told my dad that he's in love with me since the first time he saw me. And turns out.. keluarganya adalah pemilik perusahaan properti terbesar di New York. Tentu saja dad-ku yang sudah miskin tidak mau membuang kesempatan ini"
"You're pretty. No wonder" Canda Eijun.
Mika terkekeh "Well, thanks!" dia mengibaskan rambut kemerahannya.
Eijun bersumpah dia mendengar Koushu mendengus. Dengan sengaja Eijun melotot kepadanya.
"Cowok yang dari tadi cuma berdiri ini bersamamu?" Mika menatap Koushu.
"Oh, iya! Ini Okumura Koushu. Okumura, ini Mika. Yah, meskipun aku gak yakin bocah itu mau kenalan denganmu, sih"
"It's okay! Ku pikir dia semacam penjagamu"
"Gak lah! Ngapain aku di jaga-jaga?"
"Lalu kenapa dari tadi dia cuma berdiri disana?"
"Katanya dia mau pergi kerja sih.." Eijun batuk-batuk. Tapi tampaknya Koushu tidak peduli dengan kodenya "Yah, abaikan saja dia!"
"Well, actually.." Mika tiba-tiba tersenyum geli lagi "Dad berencana menjual gelang itu karena dia kehabisan uang, dan aku malah menyerahkannya padamu. Dia berdebat dengan istrinya yang gak mau melepas gelang itu. but here i am, gave it to you, so you can give it back to your friend. Dad sangat marah padaku, tentu saja. Tapi aku gak bisa membiarkannya jadi pencuri juga, kan?"
"You sure this is okay?"
"Tentu saja, lah!" Mika menepuk bahu Eijun "Ku rasa aku harus pergi sekarang. Temanku mau membantuku mencari pekerjaan setelah ini"
"Thank a lot, Mika!"
"Santai! Aku cuma melakukan apa yang harus kulakukan. Dan harusnya aku yang berterimakasih padamu"
"For?"
"Menjadi teman bicaraku" Kali ini, senyuman di bibir gadis itu lebih tulus. Bukan senyum geli seperti yang di buatnya sedari tadi.
"Aku gak melakukan apapun untukmu"
"But i feel so much better now. Maybe i didn't make a wrong decision after all"
"So, you're leaving?"
"Yup"
"Tunggu sebentar!" Tiba-tiba saja otak Eijun mendapatkan ide. Dia berlari kearah meja administrasi, meminta sehelai kertas dan meminjam pulpen, lalu kembali ke tempat Mika. "Hey, kamu mau foto denganku?"
Mika menatapnya heran "Boleh, sih"
"Pake HP-mu tapi"
"Okay..okay!" Kata Mika sambil terkikik. Gadis itu mengeluarkan ponselnya, lalu menyalakan kamera. Eijun tersenyum lebar sambil jarinya membentuk pose 'peace' sementara Mika hanya tersenyum seadanya.
"Siapa nama lengkapmu?"
"Mikaela Adams" Jawab Mika dengan seringaian dan sebelah alis terangkat
Eijun mengeluarkan kertas dan pulpennya, meletakkannya di permukaan sofa yang lunak, dan mulai menulis dengan tulisan nyaris sejelek anak SD yang baru belajar menulis.
"Hai, kakekku sayang. Ini cucumu. Mohon maaf karena berbicara melalui surat ini saja, tapi aku harap kakek mau mengabulkan permintaan egosiku. Gadis ini bernama Mikaela Adams. Dia butuh bantuan. Orang tuanya kehabisan uang. Dia nyaris putus sekolah dan gak bisa kuliah. Dia temanku, dan aku sangat berharap kakek mau membantu temanku ini memiliki masa depan yang lebih baik. Aku gak punya kontak kakek lagi karena ayah menghilangkannya. Tapi aku akan menemui kakek secepatnya. Sekali lagi aku memohon kemurahan hati kakek agar mau membantu temanku. Terimakasih kakek!
With love : Cucumu yang paling ganteng sedunia"
Kemudian Eijun membuat gambar kecil wajahnya dan wajah kakeknya di bagian bawah surat.
Eijun menyerahkan surat itu kepada Mika "Hari rabu, datanglah ke perpustakaan Kohaku University. Kalau pak tua itu kebiasaannya masih belum berubah, dia selalu membaca disana seharian pada hari itu. Cari laki-laki tua bernama Sawamura Eitoku. Model rambutnya aneh. Semoga saja dia gak mengubah model rambutnya. Itupun kalau dia masih punya rambut. Pokoknya, gak akan susah menemukan seorang kakek tua di ruangan perpustakaan yang dipenuhi anak muda lagi belajar. Lalu serahkan surat itu padanya! Kalau dia gak percaya, perlihatkan foto tadi! Tapi ku rasa dia akan percaya melihat tulisanku yang hancur itu. Mungkin dia akan mengomelimu sedikit, tapi aku yakin dia mau membantumu. Dia gak akan pernah menolak permintaanku. Nanti kakekku akan membawamu ke orang yang akan memberimu beasiswa"
Mika membaca sejenak surat yang ditulis Eijun. "Well, this is.."
"Kamu ragu?"
"No" Mata Mika masih menelusuri setiap huruf di dalam surat itu. "Mungkin kamu memang bisa membantuku dengan ini, tapi aku gak tau apa aku pantas mendapatkannya. Kamu tahu, orang-orang harus bersaing dan belajar mati-matian untuk beasiswa, sementara aku hanya berbekal surat saja"
"Aku tahu putus sekolah itu rasanya gak enak. Dan kalau kamu merasa gak pantas, buktikan kamu pantas dengan belajar yang rajin dan mendapat nilai yang bagus!"
Mika terkekeh "Aku gak punya alasan untuk menolak ini sebenarnya" kemudian dia memeluk Eijun "Thank you! Thank god i decided to meet you here. Aku berhutang padamu, Sawamura Eijun" lanjutnya lagi penuh haru.
"Aku cuma mau kamu punya masa depan cerah dan gak hidup luntang-lantung"
Mika dan Eijun tertawa bersama.
"I really have to go now" Lanjut Mika agak panik ketika dia melihat jam tangannya. Mika tiba-tiba mengecup pipi Eijun. Eijun melongo. Terlalu kaget dengan tindakan Mika. Apa begini juga yang dirasakan Kazuya setiap kali Eijun menciumnya tiba-tiba? "Aku harap aku bisa bertemu denganmu lagi secepatnya" Mika bangkit dan melambai kepada Eijun "Bye, Sawamura"
"Bye, Mikaela" Eijun membalas lambaian Mika yang mulai berjalan ke arah pintu masuk rumah sakit.
Koushu tiba-tiba berdehem setelah Mika menghilang dari pandangan Eijun.
"Apa?" Desis Eijun galak
"Aku kaget kamu bisa ngerti omongannya yang campur aduk itu" Koushu berkata santai.
Eijun menggeram "Hidupmu punya masalah apa sih sebenarnya? Mumpung kita lagi di rumah sakit, kamu gak mau periksa kesehatan jiwamu sekalian?"
Koushu menatap kearah kotak yang diletakkan Eijun di atas sofa "Jadi itu yang menyebabkan kamu dan Miyuki terkena masalah?"
"Oh, ini" Eijun memangku kotak itu "Aku masih gak nyangka benda ini akhirnya bisa kembali ke pemilik aslinya"
"Yah, syukurlah!"
Eijun kaget. barusan beneran Koushu, kan? kok Eijun gak percaya? Biarpun Eijun terheran, tapi dia memilih untuk tidak membahasnya dan malah senyum-senyum sendiri.
"Sepertinya yang butuh memeriksa kesehatan jiwa itu kamu, bukan aku" dan.. tiba-tiba Koushu kembali ke perangai aslinya.
"Duh, berisik! pergi sana!" Usir Eijun sambil bangkit dari sofa.
"Ya udah!"
"Ya udah! Kenapa masih disana?"
Koushu merentangkan telapak tangannya kepada Eijun "Bawa sini HP dan ATM-mu!"
Eijun bergidik "Mau apa kamu?"
"Kamu tahu gak keberadaanmu itu bisa dilacak melalui sinyal HP?"
Oh. Ya Tuhan! Kenapa selama ini Eijun gak kepikiran? Dia mengutuk dirinya sendiri yang terlalu bodoh.
"Tapi ATM buat apa?"
"Aku akan membuatkan rekening baru untukmu. Nanti semua uangmu akan ku pindahkan. Kalau mau menghilang, sekalian jangan tinggalkan jejak apapun!" Koushu berkata sedingin biasa
Eijun terdiam. Kepalanya berkecamuk lagi. Dia menggigit bibirnya. Berbagai ketakutan mulai muncul di dalam pikirannya. Apa benar dia ingin menghilang? Benarkah dia ingin menjauh dari semuanya? Benarkah dia ingin memulai hidup baru?. Apakah dia bisa hidup sendiri tanpa bantuan siapun?
Helaan nafas panjang di ambil oleh Eijun. Seluruh tubuh dan pikirannya membentuk tekad yang bulat. Dengan satu hembusan nafas, Eijun membuat keputusan. Dia mengambil ponsel dan ATM-nya, lalu menyerahkannya kepada Koushu.
"Aku akan butuh nomor pin-mu" Ucap Koushu lagi.
"Nol enam kali"
Dan sekarang Koushu malah menatap Eijun dengan tatapan yang.. gak enak banget
"Apa, sih?"
"Sebodoh-bodonya manusia pasti setidaknya memilih tanggal lahirnya untuk dijadikan Pin ATM. Apa-apaan nol enam kali itu?"
"ATM.. ATM-KU! DUIT..DUITKU! KENAPA KAMU YANG RIBET!" sekarang Eijun mengerti kenapa Haruichi selalu kehabisan kesabaran karena Koushu
"Ya, deh! Terserah" Koushu memutar bola mata, kemudia berbalik untuk meninggalkan Eijun.
Sabar, Eijun! Sabar! Hidupmu udah banyak masalah. Jangan tambahin lagi masalahmu!
...
...
Jadi, apakah ada yang kapalnya oleng? Apakah di rumah tangga mereka akan ada gonjang-ganjing? Apakah lautan asmara mereka sedang di landa badai, dan akhirnya pair di cerita ini akan berubah? Sepertinya Kazuya lagi nge-lap baseball batt buat mentung kepala saya. Hihihi.. ampun, Zuya! Saya hanya ingin bergibah ria saja.
Hiyahiyahiya..
Dan untuk satu dan lain alasan, saya hanya bisa membuat chapter yang pendek-pendek. Yak, sebenarnya cuma karena ketikan saya berantakan aja sih, ada yang di HP, ada yang di komputer. Saya jadi puyeng sendiri
Okelah! Sepertinya saya harus menyadarkan Eijun biar gak keseringan tebar pesona. *ambil cambuk
See you next chapter, guys!
