SEMOGA SUKA. DITUNGGU FAVORITE, FOLLOW AND REVIEWNYA. JANGAN LUPA BACA NOTE AUTHOR!
Find Me On Wattpad & Instagram - Aybaekxing
.
.
.
~ Noona ~
Happy Reading Guys...
~Percayalah Typo Merupakan Karya Terindah~
"Noona kemari lah!" Chanyeol melambai, meminta Baekhyun mendekat, sementara wanita itu hanya diam duduk di Sofa kamar rawat VIP tempat Chanyeol di rawat.
Baekhyun menggeleng. Dia sengaja duduk di sana, menjauh dari Chanyeol karena masih malu dengan kejadian yang sebelumnya terjadi. Terlebih, Kyungsoo terus mengolok-ngolok nya. Wajah Baekhyun semerah tomat, meski begitu- tatapannya tak pernah lepas dari Chanyeol. Di ruangan rawat itu, hanya ada dia dan Chanyeol. Kris mengurus Administrasi, Jongin dan Kyungsoo pergi berbelanja, sedangkan Luhan pulang di antar Sehun.
Luhan yang menangis bersama Jongin, berhenti menangis ketika melihat Baekhyun yang salah mengira jika Pasien yang meninggal adalah Chanyeol. Tangis mereka terhenti saat itu juga. Padahal sebelumnya, Sehun sangat ingin membungkam keduanya karena menangis seperti anak kecil.
Sehun malu? Jelas. Tangisan Luhan dan Jongin sangat mengganggu. Beruntungnya mereka tahu kalau Luhan anak dari pemilik rumah sakit itu, jadi mereka tidak akan berani membentak dan memarahi Luhan.
Luhan hanya sedih dan kaget. Ia khawatir terjadi apa-apa pada Chanyeol yang bercucuran darah setelah jatuh dari atas Pohon.
Tolong jangan hujat dia dan Jongin karena terlalu berlebihan. Mereka yang tak tahu harus bertindak bagaimana, memilih menangis dibanding menelpon rumah sakit atau membawa Chanyeol ke rumah sakit.
"Noona..." Lagi, Chanyeol memanggil Baekhyun yang masih duduk manis. "Aku merindukan Noona, tidakkah Noona merindukan ku?"
Baekhyun masih diam. Ia ragu untuk mendekat. Ia malu karena berteriak mencintai Pemuda itu seraya menangis tersedu-sedu. Ia enggan mendekat meski Chanyeol masih memaksa untuknya mendekati Pemuda itu. Ia juga sama rindu-nya pada Chanyeol. Ia sangat ingin memeluk Pemuda itu, ia ingin mengatakan jika ia sangat... Sangat... Sangat... merindukan Chanyeol.
Meskipun kemarin, mereka baru saja bertemu. Bucin.
Chanyeol menunggu-nya. Menunggu Baekhyun untuk mendekat padanya.
Baekhyun semakin tak bisa berlama-lama bersikap acuh pada Chanyeol, terlebih saat ucapan Sehun sebelumnya, kembali teringat di otak nya.
'Noona, hari ini ulang tahun Chanyeol. Berikan Chanyeol hadiah yang istimewa ya. Kasian Noona, dia nyaris mati hari ini.'
Jangan di hiraukan kata-kata terakhirnya. Sehun memang tak jauh berbeda dengan Jongin dan Luhan yang terkadang selalu berlebihan menyikapi sesuatu, dan mulutnya tak pernah di saring kala berkata sesuatu.
Baekhyun akhirnya mengurai langkah pelam mendekat pada Chanyeol dan duduk di kursi samping tempat Chanyeol berbaring. Chanyeol tersenyum begitu tampan. Tanpa peringatan, Pemuda itu menarik Baekhyun menggunakan tangan kanannya, Baekhyun yang tak siap sontak terbaring di samping Chanyeol yang langsung memeluknya begitu erat.
"Begini lebih baik!" Chanyeol tersenyum, memeluk Baekhyun yang berteriak setelah sadar atas perlakuan pemuda itu padanya.
"Yakk!" Baekhyun berteriak, namun tak berusaha berontak mungkin ia juga merasa nyaman dengan posisi mereka saat ini.
Tawa kecil terdengar dari Chanyeol yang memeluk Baekhyun menggunakan sebelah tangannya. Baekhyun tenggelam dalam pelukan hangat Chanyeol.
"... Kau berulang tahun hari ini. Kenapa tak memberitahuku?" Baekhyun masih menyenderkan wajahnya pada dada bidang Chanyeol.
"Noona tahu dari mana?" Chanyeol cukup terkejut, seingatnya ia tidak memberitahu Baekhyun perihal ulang tahun nya hari ini.
Ah! Pasti teman-temannya. Sehun mungkin? Mengingat Luhan dan Jongin sebelumnya menangis seperti anak kecil, tak mungkin kedua orang itu yang memberitahu Baekhyun.
"... Sehun?" Baekhyun mengangguk sebagai jawaban "Lalu... Mana hadiahku?" Chanyeol menagih hadiahnya.
Ia hanya bercanda sebenarnya, namun ucapan Chanyeol membuat Baekhyun terdiam kaku. Baekhyun tak bersuara, ia memilih bungkam dan diam. Sedang otaknya tengah berpikir, apa yang harus ia berikan pada Chanyeol di hari spesial Pemuda itu.
".. Aku hanya bercanda Noona. Ucapkan selamat untukku, maka itu akan menjadi hadiah spesial untuk..." Chanyeol tak selesai berbicara, karena ia sudah lebih dulu dibuat terkejut oleh tindakan Baekhyun.
Chanyeol sama sekali tak menyangka jika akan mendapat serangan dadakan dari Baekhyun Noona-nya itu.
Selama ia mengenal Baekhyun beberapa bulan ini, ia lah yang kerap melakukan skinship terlebih dahulu pada Baekhyun. Ia yang selalu memeluk dan mencium Baekhyun terlebih dahulu.
Dan kejadian saat ini, benar-benar membuat Chanyeol terkejut.
Ciuman... atau mungkin lebih baik di sebut kecupan karena kedua belah bibir berbeda ukuran itu hanya menempel sebentar.
Kecupan yang Baekhyun berikan pada Chanyeol.
Dan Chanyeol kembali nyaris dibuat terkena serangan Jantung kala Baekhyun berkata...
"Aku menerima pernyataan cintamu. Mulai hari ini kau kekasihku, dan aku kekasihmu. Dan satu lagi, kau harus ingat ini! Aku tak suka berbagi, jadi jangan pernah berpikir untuk selingkuh dariku."
Chanyeol tak berkedip. Ia berusaha mencerna perkataan Baekhyun satu demi satu. Dan senyum tampannya terukir setelah Chanyeol memahami maksud dari semua ucapan Baekhyun barusan.
"Panjang sekali..." Tawa Chanyeol kembali terdengar saat cubitan manis Baekhyun berikan pada perutnya.
Chanyeol semakin memeluk Baekhyun begitu erat, ia masih tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
Oh tuhan, rasanya ia tengah bermimpi. Mimpi indah tepatnya.
"Jadi... Kita sepasang kekasih sekarang?" Chanyeol memainkan jari-jari tangan Baekhyun yang bertautan dengan jari-jari miliknya.
Mendadak, luka di tangan sebelah kirinya tak terasa sakit seperti sebelumnya.
Baekhyun seakan menjadi obat yang lebih manjur di banding obat mahal yang di berikan oleh Dokter. Baekhyun adalah obat, dan sumber kebahagiaan nya saat ini. Chanyeol bahagia, masa remaja nya kini akan di warnai dengan kisah cinta dirinya dan Baekhyun.
Cinta pertamanya memang kandas, tapi Baekhyun akan menjadi cinta terakhirnya. Yeah Chanyeol berjanji dalam hati-nya, Baekhyun akan menjadi cinta terakhirnya.
"Itupun jika kau masih mau denganku." Baekhyun bangkit, duduk di samping Chanyeol yang setengah terbaring "Kau jangan main-main denganku. Orang tua ku bisa saja memenggal kepalamu jika kau mempermainkan aku." Cukup seram ancamannya.
Tapi Chanyeol sama sekali tak takut.
Dulu, Anjing tetangga rumahnya yang galak saja Chanyeol kejar balik saat dia di kejar anjing itu. Sampai Anjing tetangganya itu sekarang takut kalau melihat Chanyeol yang hanya sekedar lewat.
Jadi, kenapa ia harus takut kehilangan kepalanya jika ia sama sekali tak berniat main-main dengan Baekhyun.
"Kau bisa memenggal kepalaku, jika aku bermain-main dengan hubungan ini, Noona."
Chanyeol menarik dagu Baekhyun, menyelami iris mata Baekhyun yang membuatnya merasa tenang, damai dan nyaman. Chanyeol mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan hendak meraup bibir tipis Baekhyun yang sedari tadi bibir bagian bawahnya itu terus-terusan di gigit oleh pemiliknya.
"Tak boleh bermesraan di rumah sakit, wahai anak muda." Kris menyela kegiatan mereka.
Lelaki itu menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja ia pergoki ketika masuk kedalam ruang rawat Chanyeol.
Baekhyun yang mendengar suara Bos-nya, segera beranjak turun dari atas tempat tidur tempat Chanyeol berbaring.
Lagi, ia merasa malu karena kelakuannya sendiri.
"Kau tahu, kau benar-benar seperti Setan. Mengganggu orang yang tengah bahagia." Komentar kejam Chanyeol tak Kris hiraukan.
Lelaki yang lebih tua dari Chanyeol itu melangkah mendekat pada Chanyeol yang kemudian menatap Baekhyun yang hanya bisa menunduk. Ia kembali ber-sitatap dengan Chanyeol, hendak mengatakan sesuatu yang sekiranya cukup penting untuk Chanyeol ketahui.
"Paman tak bisa pulang, pekerjaan-nya di Eropa tak bisa di gantikan. Jadi, kau harus jadi anak mandiri selama di rawat di sini. Dokter bilang, Lusa kau sudah boleh pulang jika luka di tanganmu itu sudah mengering." Kris memberikan beberapa obat yang baru saja ia tebus di Apotek "Baekhyun..."
Baekhyun mendongkak ketika Kris memanggilnya.
"Ya, Bos!"
Dulu, awal-awal Baekhyun bekerja, Kris selalu berkomentar ketika Baekhyun memanggilnya dengan panggilan Bos. Kris bahkan sampai pernah membentak Baekhyun karena terus-terusan memanggilnya dengan panggilan Bos alih alih memanggil Sajangnim.
Kris tidak suka dipanggil Bos, karena ia merasa seperti seorang Bos Mafia kejam ketika di panggil Bos oleh Baekhyun.
Tapi, Baekhyun yang terbiasa memanggil Kris dengan panggilan Bos, akhirnya berhasil membuat Kris menjadi terbiasa dipanggil Bos olehnya.
"Besok, kau tidak boleh bolos bekerja hanya untuk menemani anak Manja ini. Kau boleh kesini, jika memang sudah waktunya Jam pulang bekerja." Kris melihat Chanyeol menatapnya begitu tajam "Apa? Kau mau protes?" Kris melambaikan tangannya, membuat gestur jika ia tak perduli dengan tatapan kesal Chanyeol.
"Aku melarang Baekhyun membolos, karena aku tidak bisa bekerja tanpa Sekretaris. Pekerjaan Perusahaan terlalu banyak, dan aku butuh Baekhyun, kekasih pendek mu ini."
"Aku tidak pendek!" Baekhyun tak suka panggilan itu. Ia hanya mungil, bukan pendek.
"Lalu apa? Mungil?" Kris menggeleng "Mungil dan pendek sama saja."
Kris menyeringai dengan wajah yang terlihat menyebalkan, menurut Chanyeol "Ingat kata-kataku. Awas kalau kau melanggarnya!"
Baekhyun menelan saliva nya sedikit kesusahan.
Sial! Padahal besok ia berniat membolos untuk menemani Chanyeol di rumah sakit.
"Tidak akan Bos. Aku tidak akan membolos. Bos tenang saja." Baekhyun memberi gestur OK pada Kris.
Ia malas berdebat dengan Kris. Bos-nya itu akan menghalalkan segala cara untuk membuat ia tersiksa dengan tumpukan pekerjaan nantinya.
Kris memberi nya jempol sebagai tanda jika pilihan Baekhyun sangatlah bagus.
Chanyeol semakin membenci Kris yang ia rasa sudah meracuni pikiran Baekhyun. Ia pewaris dari pemilik Perusahaan tempat Baekhyun bekerja, bukankah ia juga mempunyai wewenang?
Yeah walaupun Chanyeol memang belum menjadi seorang CEO di Perusahaan itu.
"Kau pulang saja sana!" Chanyeol terang-terangan mengusir Kris dari sana.
Keberadaan Kris di rasa sangat mengganggu untuk dirinya dan Baekhyun. Kris muncul di saat yang tidak tepat. Lelaki itu membuat ia harus menunda ciuman panas yang hendak ia lakukan bersama Baekhyun.
Baekhyun yang sedari tadi berdiri, memilih untuk duduk di samping tempat Chanyeol berbaring karena merasa pegal. Kris masih berada disana, tak menghiraukan Chanyeol yang mengusirnya.
Lelaki itu duduk di sofa dan membuka ponselnya. Mengabaikan Chanyeol yang kesal, dan Baekhyun yang hanya duduk diam karena masih merasa canggung dengan keadaan saat ini.
"Lanjutkan saja jika kalian ingin bermesraan. Aku akan menganggap jika aku sedang menonton Drama secara Live."
Menyebalkan bukan?
Sebelumnya ia mengacaukan kedua anak Adam dan Hawa itu saat hendak berciuman, sekarang ia menyuruh keduanya untuk bermesraan
Jika tidak sedang di rawat, Chanyeol ingin menendang Kris saat ini.
Chanyeol hanya bisa menghela nafas, beralih menatap Baekhyun yang ternyata juga tengah menatapnya. Baekhyun mendekatkan kursi yang ia duduki semakin dekat dengan Chanyeol, berbisik sangat pelan pada Chanyeol.
"Apa kau pernah berpikiran ingin menukarkan Kris di tempat tukar tambah?" bisik Baekhyun pelan, Chanyeol tertawa pelan dan balas berbisik pada Baekhyun.
"Noona, aku malah ingin membuangnya ke hutan Amazone."
Keduanya tertawa pelan, sampa tak sadar jika Kris melemparkan bantal sofa pada Chanyeol dan mengenai kepala Pemuda itu.
"Yakkk!"
"Aku mendengar mu bodoh!" Kris berdiri dari duduknya "Aku pulang saja, nanti malam aku kemari." Kris beralih pada Baekhyun "Hari ini kau boleh bolos Baek, tapi besok awas kalau kau bolos... Aku akan memotong gaji-mu." Kris berlalu setelah mengancam Baekhyun.
Chanyeol berdecak. Ancaman tak berguna sebenarnya menurut Chanyeol.
"Tenang saja Noona, aku yang akan mengganti Gaji Noona jika di potong oleh si Botak itu." Chanyeol kembali menarik Baekhyun untuk berbaring di sebelahnya.
Baekhyun tersenyum dan naik untuk berbaring di samping Chanyeol. Lantas menyender nyaman di dada bidang Chanyeol. Balas memeluk Chanyeol yang memeluknya sebelah tangan.
Tempat ternyaman untuk bersender, memang dada kekar Chanyeol. Dan hanya Baekhyun yang bisa merasakannya.
Catat. Tolong bagi yang berhalusinasi bisa bersender disana, segeralah mundur.
"Ini hadiah terindah untukku Noona!" Chanyeol mengecupi puncak kepala Baekhyun dengan gemas, sesekali mengelus punggung Baekhyun dengan lembut.
Mereka berdua terlarut dala éuforia kebahagian setelah mengklaim satu sama lain bahwa mereka kini sepasang kekasih, terhitung mulai hari ini 27 November 2019.
Chanyeol berkali-kali lebih bahagia karena hadiah yang di berikan Baekhyun. Bahkan uang yang di transfer Ayah-nya saja tidak sebanding dengan hadiah yang di berikan Baekhyun.
Ia sudah menunggu Baekhyun menerima pernyataan cinta-nya. Dan tak sia-sia ia telah sabar menunggu karena pada akhirnya, Baekhyun tak menolak pernyataan cintanya.
Cinta semanis itu.. walau kadang menyakitkan.
Ah, Chanyeol tak akan membuat cinta mereka menyakitkan, ia akan membuat kisah cintanya semanis madu.
Sementara Chanyeol dan Baekhyun bermesraan, di tempar lain ada yang berjuang untuk cinta-nya.
Dua orang yang selesai berbelanja, Kyungsoo dan Jongin- yang hendak kembali menemui Chanyeol, harus menunggu sebentar di taman rumah sakit. Mereka bertemu dengan Kris sebelumnya, dan Kris meminta mereka untuk jangan dulu masuk kedalam ruang rawat Chanyeol.
'Sebaiknya, kalian jangan dulu menemui Chanyeol dan Baekhyun di dalam. Saat ini, mereka seperti ular yang tengah kawin. Saling menempel satu sama lain, dan tak mau lepas dari salah satunya.'
Ucapan Kris membuat Kyungsoo sempat mengeryit bingung. Namun saat kembali memikirkannya, Kyungsoo mengerti maksud dari ucapan Kris.
Chanyeol dan Baekhyun tengah bermesraan. Itu yang ada di pikiran orang waras seperti Kyungsoo.
Berbeda dengan Jongin yang berpikir 'Apa mereka melakukan seks di rumah sakit?' -... Emang dasar otak mesum.
"Noona..." Kyungsoo menoleh, Jongin menatapnya tanpa berkedip.
Hidung Pemuda itu memerah karena sehabis menangisi Chanyeol. Kedua matanya juga memerah.
Lucu sih sebenarnya. Kyungsoo bahkan ingin tertawa jika saja ia tidak lupa kalau dirinya dulu begitu jutek pada Pemuda itu.
"Aku tadi menangis karena hawatir pada Chanyeol, aku tidak cengeng sama sekali. Itu.. Mmmmm... Aku hanya kaget ketika melihat Chanyeol jatuh dari atas Pohon." Jongin menggaruk dagu-nya "Aku takut dia mati. Kalau dia mati, tidak akan ada yang mentraktir aku, Sehun dan Luhan." Ia salah tingkah karena gugup "Jadi... ya aku begitu hawatir sampai menangis seperti anak kecil." Deretan gigi putih Jongin terlihat setelahnya.
Senyumnya terlihat cukup canggung. Ia berkata seperti itu agar Kyungsoo tak menjauhinya.
Oh tidak, Kyungsoo tak boleh menjauh darinya. Jongin baru saja mulai mendapat Lampu Hijau dari Kyungsoo, jangan sampai ia kalah sebelum berjuang.
Kyungsoo yang sudah tak bisa menahan tawa-nya, terbahak begitu saja. Beberapa Pasien atau petugas medis yang kebetulan tengah berada di Taman, sampai memperhatikan Kyungsoo yang tertawa cukup kencang.
Jongin yang sekarang di buat kebingungan, ia melihat kesana kemari seraya tersenyum canggung karena diperhatikan. Mereka jadi pusat perhatian sekarang, dan dengan sigap ia menutup mulut Kyungsoo menggunakan tangannya agar tawa itu berhenti.
"Noona, semua orang memperhatikan kita!" Jongin dan Kyungsoo saling tatap.
Kyungsoo pun menghentikan tawa-nya dan berdehem cukup keras setelah Jongin melepaskan tangannya yang semula membekapnya. Hancur sudah Imagine jutek yang selama ini ia pertahankan pada Jongin.
Ia kalah juga pada akhirnya. Kalah tak bisa berlama-lama terus mengabaikan Pemuda itu. Lagipula, Jongin cukup tampan dan anak dari kalangan orang terpandang. Hehe
"Kau berkata seperti itu, takut aku menjauh darimu kan?" Jongin mengangguk cepat "Tenang saja, aku tidak akan menjauh darimu. Sebenarnya kau.." Kyungsoo menggantung kata-katanya "Kau lucu." Kyungsoo mengatakannya seraya pergi membawa belanjaan yang sebelumnya mereka beli.
Meninggalkan Jongin yang hanya bisa mengerjapkan kedua matanya, dan tatapan kaget yang begitu kentara.
"Oh my good!" Seru Jongin seraya berlari mengejar Kyungsoo dengan tersenyum lebar di wajahnya.
Bahagia. Jongin benar-benar bahagia.
Mereka terlihat saling beradu mulut selama perjalanan menuju kamar Chanyeol di rawat. Jongin yang tak pernah melepaskan senyuman manisnya, dan Kyungsoo yang berusaha kembali bersifat jutek namun gagal. Karena akhirnya ia tertawa bersama Jongin.
Mereka seperti anak remaja yang tengah jatuh cinta. Kyungsoo bahkan lupa pada umurnya ketika ia bersama dengan Jongin.
Sepertinya, Kyungsoo termakan omongannya sendiri.
Ingat saat ia berdebat dengan Baekhyun, dan berakhir dengan ia yang di sumpahi Baekhyun akan mengalami seperti apa yang Baekhyun alami?
Nah, Kyungsoo merasakannya saat ini. Di dekati oleh Jongin yang umurnya dibawah dia, dan sepertinya ia juga mulai tertarik pada Pemuda itu.
Karma itu ada...
Aybaekxing is watching. Jangan sombong Kyungsoo.
-o0o-
"Ya Hyung, ini aku sudah di rumah sakit." Lucas berjalan di koridor rumah sakit, setelah sebelumnya bertanya pada respsionis rumah sakit dimana ruangan tempat Park Chanyeol di rawat.
Ia mendapat telepon dari Jongin yang meminta ia untuk mengantarkan baju ganti ke rumah sakit. Sepertinya Jongin akan menginap dan menemani Chanyeol selama di rawat di rumah sakit.
Jongin, Chanyeol dan Sehun, mereka bertiga merupakan sahabat sejak mereka masih mengompol di celana. Jika salah satu dari mereka ada yang sakit, mereka akan dengan setia ikut menemani selama sahabat mereka sakit. Setidaknya, menemani saat malam- seperti yang akan Jongin lakukan.
Tapi dari kasus yang sudah-sudah, kalau salah satu dari mereka tak masuk sekolah, maka ketiga-nya tak akan masuk sekolah. Setia kawan katanya, susah senang bersama.
Sehun juga akan ikut menginap setelah mengambil pakaian dan kebutuhan miliknya. Luhan sendiri tak di izinkan ikut menginap karena... menurut Sehun, Luhan itu sedikit agak ribet. Tidak seperti ia dan Jongin yang bisa tidur dimana saja selama ada bantal dan selimut, Luhan tak suka jika tempat tidur yang ia tempati kurang nyaman.
Memang sih, itu rumah sakit milik Ayah Luhan, ia bisa meminta salah satu kamar VIP untuk mereka tidur jika Luhan mau. Tapi saat ini mereka akan menemani orang sakit, bukan berlibur di hotel.
Jadi, Luhan juga tak mau se-enaknya begitu saja. Terlebih Sehun melarang Luhan ikut menginap. Biarkan para Lelaki saja yang menemani Chanyeol di rawat.
"Hyung aku sudah..."
Bruk
Lucas yang tak memperhatikan jalan, nyaris ikut terjatuh kala tubuhnya menabrak seseorang.
"Maaf.. saya.." ucapan maafnya terhenti saat kedua matanya menangkap sosok seseorang yang menurut Lucas "Wow so beautiful." Ucapnya spontan saat memandangi seorang wanita mungil yang terjatuh karena bertabrakan dengannya.
"Maaf, biar aku bantu." Lucas membantu wanita itu berdiri, dan setelahnya mengatakan maaf berkali-kali.
"Tak apa-apa." Wanita mungil itu merapikan barang bawaan yang ia bawa.
"Kau tidak apa-apa kan?" Sepertinya Lucas berpikir jika wanita yang ia tabrak seumuran dengannya.
"Aku tidak kenapa-kenapa." Wanita itu menatap Lucas dan tersenyum "Kalau begitu aku permisi." Wanita itu berlalu pergi, Lucas hanya tersenyum seraya memegangi dada-nya.
Lucas hanya tak pernah melihat seorang wanita secantik itu. Tubuh mungil, bibir tipis, kulit yang mulus... Lucas jadi ingin bertemu lagi dengan Wanita itu.
"Astaga, apa dia malaikat? Kupikir malaikat pencabut nyawa tak mungkin secantik itu." Lucas dengan segala pemikiran gila-nya "Kalau iya, mungkin ia malaikat pelindung. Tidak semua malaikat yang ada dirumah sakit itu malaikat pencabut nyawa, kan?" gerutu nya seraya kembali mencari ruangan Chanyeol di rawat.
Lucas l, anak itu pindah ke Korea untuk bersekolah di sekolah yang sama dengan Jongin. Namun sejak ia berada di Korea, anak itu belum bisa langsung bersekolah karena keluarganya belum selesai mengurus kepindahannya ke Korea.
Dua hari yang lalu, anak itu bahkan harus pulang pergi ke Luar Negeri untuk mengurus semuanya. Mungkin mulai minggu depan ia bisa mulai bersekolah di sekolah yang sama dengan Jongin.
Hari ini, saat ia tengah bersantai dirumah Jongin, Jongin menelpon dan di minta untuk mengantarkan pakaian Sepupu-nya itu.
"Akhirnya ketemu juga!" Lucas mendorong pintu VIP yang bertuliskan nama Mr. Chanyeol Park di depan pintu-nya.
Saat pintu itu terbuka, Lucas bisa bernafas lega karena Jongin ada disana tengah menunggu kedatangannya.
"Hyung!" panggil Lucas pada Jongin.
Jongin dan Chanyeol menoleh ke arah pintu dimana Lucas masih berdiri disana. Jongin menyambutnya, mendekat pada Lucas dan menyuruh anak itu duduk di sofa tempat semula ia duduki.
"Kau tidak tersesat kan?" Jongin mengambil tas yang dibawa Lucas "Chan, kenalkan.. ini Lucas, sepupuku."
Chanyeol mengangguk, Lucas membungkuk sebentar ke arah Chanyeol.
"Hyung... pewaris Park Group, kan?" celoteh Lucas yang di angguki oleh Chanyeol "Oh astaga. Aku senang sekali bisa bertemu Hyung." Ujarnya begitu antusias "Ibu-ku akan senang jika dia tahu aku bertemu dengan Hyung."
Chanyeol mengeryit. Ia bukanlah selebritis, lantas kenapa Ibu anak itu akan senang jika anaknya bertemu dengan dia?
"Ibu-ku penggemar Ayah-mu Hyung. Dia bahkan menyetok Mie yang di Iklan kan oleh Ayah Hyung." Lucas tersenyum sampai deretan gigi putihnya terlihat.
"Oh..." Chanyeol mengangguk mengerti.
Seterkenal itukah Ayah-nya?
Chanyeol pikir, Ayahnya tidak akan terkenal hanya karena membintangi sebuah Iklan dari salah satu produk Mie Instan asal Indonesia itu. Yeah, Ayahnya lebih terkenal di Dunia Bisnis.
Chanyeol tidak tahu saja, jika Mie Instan yang di Iklan-kan Ayahnya, bahkan mendapat julukan Mie Siwon. Orang-orang bahkan lebih tahu Mie Siwon, di banding merek dari Mie Instan tersebut.
Suasana dalam kamar VIP itu sedikit ramai karena kedatangan Lucas. Terlebih saat Lucas mulai berdebat dengan Jongin. Sementara Chanyeol hanya jadi penonton ketika dua orang itu mulai saling meledek dan mengeluh satu sama lain. Jongin yang mengeluh karena Lucas salah membawa pakaian, dan Lucas yang tak terima karena niat baiknya tak di hargai.
"Sudah untung aku bawakan!" Lucas merotasi kan kedua bola matanya dengan malas karena Jongin terus-terus komplain padanya karena ia salah membawa pakaian.
"Ya Ya Ya. Makasih!" Jongin terpaksa memakai pakaian yang dibawakan Lucas, walau sebenarnya sedikit enggan memakainya.
Tempat dan waktunya tidak tepat.
Bagaimana bisa Lucas membawakan Piyama Teddy Bear kesukaannya ke rumah sakit.
Kalau ada Kyungsoo, mau di taruh dimana wajahnya?
Lucas membawa Piyama itu, karena ia pikir Jongin memerlukannya untuk tidur. Tidak akan nyaman tidur dengan memakai celana Jeans.
Chanyeol hanya menggeleng melihat kedua Sepupu yang masih berdebat itu. Untung saja perbedebatan Jongin dan Lucas tak berlanjut sampai baku hantam.
Lucas tak langsung pulang. Ia duduk disana dulu mengobrol bersama Jongin dan Chanyeol. Untuk ukuran seorang anak lelaki, Lucas terlalu cerewet menurut Chanyeol.
Anak muda itu terus berceloteh panjang lebar, Chanyeol sampai pusing mendengarnya. Dan perutnya yang kelaparan menambah pusing.
Baekhyun yang membeli makanan untuknya belum juga kembali. Katanya, wanita itu hendak membeli makan malam untuk mereka di Restoran depan Rumah Sakit.
Kyungsoo sendiri sudah pulang. Tak berlama-lama disana karena Kyungsoo harus kembali ke perusahaan untuk mengambil Tas miliknya. Kalau Tas milik Baekhyun sih, katanya akan di bawakan Kris nanti malam saat lelaki itu ke rumah sakit lagi.
Itu juga Chanyeol yang meminta, Baekhyun mana berani menyuruh Bos-nya untuk melakukan itu. Bisa-bisa Kris murka padanya.
"Ah, aku butuh toilet." Lucas berlari ke dalam toilet setelah banyak berceloteh tentang ini dan itu, yang menurut Chanyeol dan Jongin benar-benar tak penting.
Ceklek.
Pintu kamar VIP yang Chanyeol tempati terbuka, dan Chanyeol tersenyum lebar saat Baekhyun datang dengan menenteng dua kantong yang pastinya berisi makan malam mereka.
"Akhirnya Noona datang juga!" Chanyeol yang semula bersender santai kini setengah terduduk di atas tempat tidurnya, ia seperti anak kecil yang kegirangan kala menunggu makanan.
Dengan senyum bahagia, Chanyeol menunggu Baekhyun membukakan makan malamnya.
Baekhyun juga membelikan makan malam untuk Jongin.
Ia kemudian duduk disamping tempat tidur Chanyeol, mulai membuka makan malam untuk Pemuda itu dan ia juga ikut makan bersama Chanyeol.
Tangan Chanyeol yang terluka itu yang sebelah kiri, ia cukup bersyukur karena tangan sebelah kanan nya tak kenapa-kenapa. Jadi ia tak akan kesulitan untuk makan.
Sebenarnya bisa saja ia meminta Baekhyun yang sekarang sudah berstatus sebagai 'Kekasih' nya, menyuapi makan malam nya. Tapi, Chanyeol tak mau bersikap manja ketika tangannya masih bisa ia gunakan. Ia tak boleh membuat Baekhyun kesal. Nanti juga saat Baekhyun ingin, wanita itu suka menyuapinya makan.
Jadi, ia mulai menyumpit kan makan malam itu kedalam mulutnya dan mulai memakannya.
10 menit pertama, mereka makan dengan semestinya di iringi obrolan kecil seperti Jongin yang menanyakan kapan hari ulang tahun Kyungsoo, atau apa yang Kyungsoo sukai.
"Berikan saja ia peralatan memasak yang bagus. Aku yakin Kyungsoo akan senang." Saran Baekhyun ketika Jongin bertanya hadiah apa yang sekiranya bisa ia berikan pada Kyungsoo saat Kyungsoo berulang tahun nanti.
"Benarkah?" Jongin mengangguk "Apa masakannya enak?"
"Kau akan ketagihan jika sudah merasakan masakan Kyungsoo." Baekhyun tak berbohong, masakan Kyungsoo memang benar-benar patut di acungi jempol.
Jika dibandingkan, masakan tak ada apa-apa nya dengan masakan Kyungsoo. Sahabatnya itu sudah seperti seorang Chef. Kyungsoo bahkan mempunyai Sertifikat Lisensi memasak di Korea bersama dengan Ibu-nya. Hebat bukan?
Mereka makan dengan lancar, sampai kemudian Lucas keluar dari toilet- saat itulah Chanyeol rasanya ingin mengajak anak itu untuk bergulat.
"Astaga kau!" Tunjuk Lucas pada Baekhyun yang baru selesai membereskan bekas makan malamnya, "Kau sedang apa disini? Kau ingat aku? Aku yang tadi menabrak mu." Lucas memegang tangan Baekhyun, berucap riang seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen, Lucas bahkan menghiraukan perubahan wajah Chanyeol "Sepertinya kita berjodoh, kita bertemu lagi. Hehe."
Dan saat itulah, terdengar bunyi 'Kretek' dari sumpit Kayu yang berhasil Chanyeol patahkan oleh sebelah tangannya.
Untung Chanyeol tak sampai melempar makan malamnya pada Lucas.
Jongin yang mendengar ucapan Lucas, langsung menepuk jidatnya.
'Astaga anak ini!' - Jongin mengumpat dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Short Story
"Kenapa kita harus keluar Hyung?" Lucas masih tak terima ketika Jongin menyeretnya keluar dari kamar VIP yang Chanyeol tempati.
"Kau pulang saja, ini sudah malam!" Jongin mengecek ponselnya, mencoba menelpon taxi untuk Lucas pulamh nanti.
"Tunggu sebentar Hyung, aku ingin berbicara dengan Nona cantik itu." Lucas hendak kembali masuk kedalam kamar itu, namun Jongin menarik anak itu menjauh.
"Jangan membahayakan dirimu sendiri, kau pulang hari ini dan besok akan keberitahukan semuanya." Jongin kembali menyeret Lucas menjauh.
"Yakk Hyung kau kenapa sih?" Lucas hanya tak terima Jongin menyeretnya seperti anak Anjing.
Jongin menyeret kerah baju-nya dari belakang. Jelas Lucas berusaha memberontak tak terima.
"Kau terlalu banyak bertanya!" Jongin tak memperdulikan Lucas yang terus memprotesnya.
Lucas hanya bisa pasrah ketika ia di seret menjauh dari Nona Cantik yang ia yakini adalah Jodohnya itu. Lucas akan bertemu dengan Nona itu, Lucas yakin.
Jongin tak lagi menyeret kerah kemeja Lucas, kini ia memegangi tangan anak itu. Memegangnya begitu erat agar Lucas dan bisa melepaskannya. Ia harus menjauhkan Lucas dari Chanyeol, sebelum sahabatnya itu menelan Lucas hidup-hidup.
Bukan bermaksud berlebihan, tapi tatapan mata Chanyeol memang seolah mengatakan itu.
Lucas menahan tawa kala baru sadar penampilam Jongin saat ini.
Sebelumnya, Jongin memaki Lucas karena membawakan Piyama Teddy Bear nya. Jongin mungkin malu memakai Piyama itu di Rumah Sakit.
Tapi sekarang, Jongin bahkan tak malu ketika ia menyeret Lucas keluar dari kamar Chanyeol di rawat dengan memakai Piyama tidurnya. Jonyin tak sadar karena sibuk menyeret Lucas keluar dari Zona bahaya Chanyeol.
Beberapa petugas medis yang berpapasan dengannya sampai menahan tawa. Dan Lucas yang melihat mereka menertawakan Jongin, ikut menahan tawa-nya sendiri.
Oke. Impas.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Maaf baru di update hari ini. Sebenarnya ini udah di update hari minggu di wattpad, tapi karena aku lupa jadi baru hari ini bisa update.
Kemarin aku cuti kerja, jadi pas dirumah kelupaan deh hehee. Sawryyy ya…
Nah, silahkan di Favorite kalau suka dan di komentari.
Kalau ada salah salah kata, maaf ya.
