Author : Yuta Uke
Chapter: Fifteen – Beside You
Genre : Angst, Tragedy, Hurt/Comfort, Romance, Fantasy
Warning: Unbetaed fic, Semi-Canon, OOC (maybe), repetitive, rushed, LONGG!
Words : 18,697
FFXV fanfiction for my bestie...
Senyuman demi senyuman kembali merekah,
Menghiasi cantik dan tampan wajah-wajah mereka yang berhasil memertahankan nyawa...
Gelak tawa semakin terdengar mengiringi hari-hari,
Bersanding harmoni dengan kicau yang telah kembali...
Kepala-kepala tersebut terangkat,
Menengadah ke hampar biru sembari bermandikan terik yang telah lama hilang...
Kerja keras tetap dipertahankan,
Memberi aman agar tetap berada di dunia tercinta...
Demi cahaya,
Pelindungnya rela terus menerus berkelukur saat memurnikan...
Demi cahaya,
Utusan maha agung rela terus menerus menjerit saat membersihkan...
Tak dipedulikan dirinya, tak dipedulikan kesakitannya...
Demi cahaya,
Yang tak satupun orang tahu apakah akan tetap berada di sana,
Atau...
"Wahai bintang yang memelihara hidup, lindungilah kami dari kegelapan..."
Doa tersebut mengalun lembut, diterbangkan oleh udara dingin. Hembusannya menerpa helai demi helai surai milik beberapa orang insan bumi yang berada di bawah naungan satu tenda berwarna hijau keruh. Berpasang-pasang mata milik orang-orang itu tertumbuk pada sosok gadis bersurai merah muda dan juga pria paruh baya yang tengah beradu dahi. Kening mereka melekat erat, mengisyaratkan bahwa ritual pemurnian tengah berlangsung.
Di antara biru cakrawala yang membentang luas di atas sana, ada emas dan merah muda yang berpendar cerah. Warnanya semakin benderang, berkilau cantik setiap kali gadis keturunan Fleuret dan Lucis Caelum tersebut memindahkan, menyerap noda ke dalam tubuhnya.
Bibir yang tadi sempat bergerak menghembuskan doa penyucian kembali terkatup rapat. Kedua kelopak miliknyapun turut terjatuh, menyembunyikan kedua permata berwarna merah muda itu. Gestur tersebut adalah penanda bahwa sang gadis tengah memusatkan seluruh fokus terhadap tanggung jawab yang telah ia emban selama kurang lebih hampir satu tahun lamanya—terhitung sejak ia kembali ke Lucis.
Ya, kurang lebihnya sepuluh bulan telah berlalu sejak sang Leonis merah muda benar-benar menyandang gelar oracle dan sepenuhnya mengabdi pada tugasnya.
Pertama-tama, kewajiban utamanya adalah terus menerus memantau perkembangan langit. Kedua permatanya akan memandangi kanvas Eos lekat-lekat guna memastikan bahwa miasma tidak lagi menumpuk dan menutupi terik rawi—mencegah malam kembali panjang.
Kedua, untuk mencegah hal pertama, oracle yang kekuatannya berbeda seperti pendahulu-pendahulunya itu akan turut turun ke medan pemburuan makhluk-makhluk malam untuk menyerap miasma yang menguar jika mereka berhasil dikalahkan. Salah satu penyebab kotor berada di cakrawala adalah karena kabut kotor tersebut naik dan sedikit demi sedikit bertumpuk di atas sana. Maka, gadis itu memutuskan untuk ikut andil dalam pemburuan daemon.
Dan yang terakhir, tentu saja menyembuhkan penduduk yang terjangkiti wabah terkutuk. Sesuatu yang akan tetap hadir dan menyebar sampai pria Lucis Caelum terbuang mati di tangan raja cahaya. Tugasnya adalah melindungi orang-orang itu dan ia bersama ketiga rekannya pergi mengelilingi Eos demi mengunjungi mereka yang tak beruntung karena terjangkiti starscourge.
Starscourge...
Adalah satu nama wabah yang menjangkiti Eos selama ribuan tahun silam. Ia adalah sesuatu yang kotor, menyebar, menjangkiti populasi manusia dan juga makhluk hidup lain, menghilangkan akal sehat dan kemudian mengubah bentuk kehidupan menjadi makhluk malam atau disebut juga sebagai daemon di dalam tahap terakhir.
Tak hanya itu saja, secara perlahan-lahan wabah tersebut juga melahap sampai habis cahaya dari dunia, menjadikan malam semakin panjang dan membuat para daemon merajalela—makhluk hina yang dahulu manusia, yang kehilangan kesadaran dan terlantung-lantung dalam kegelapan malam karena kutukan salah seorang maha agung pelingung Eos.
Ya...Starscourge adalah cacat yang hadir dikarenakan murka dewa yang dahulu bermurah hati menurunkan karunia kepada golongan-golongan yang disayanginya.
Jauh sekali, sebelum segala petaka terjadi, ada satu era yang diliputi kemakmuran, terhiasi kemurnian, tercatat sebagai emas dan juga puncak segalanya. Berkat dewa terus menerus diturunkan, memberi senyum tersungging di bibir para insan yang menjadi golongan yang beruntung. Keberkahan sangatlah tak terhingga, menuntun mereka pada masa jaya.
Itu adalah zaman permulaan, di mana segalanya masihlah bersih, masihlah segar belum ternodai oleh belang kemurkaan. Kotor belum nampak dan menjangkiti, hembus napas Eos belum kumuh dan menyesakkan rongga dada masing-masing yang menghirup. Dan...belum adanya pula garis-garis keturunan yang diberi kisah menyedihkan, penuh pengorbanan dan jerit pilu.
Sampai, para penduduk itu mengotori segalanya dengan ketamakan. Mereka menodai masa emas mereka sendiri dengan kesombongan serta arogansi. Hasrat menggelapkan akal, mereka yang diberi berkat memandang rendah, menistakan berkah, rahmat, dan pertolongan milik salah seorang Astral agung.
Mereka menjelma menjadi satu kaum yang tidak tahu terima kasih kepada siapa yang telah menuntun mereka hingga puncak masa jaya. Bahkan, mereka yang semakin terbutakan oleh keangkuhan merancang sebuah rencana yang begitu keji tanpa adanya hati nurani di dalamnya—mereka berniat membunuh para dewa.
Itu adalah bentuk pengkhianatan serta pelecehan, memberi murka sang maha agung yang telah berbaik hati menurunkan karunia kepada golongan itu. Amarah tak dapat teredam, dibumi hanguskan seluruh lahan subur nan gembur, dihancurkan menjadi puing-puing beberapa bangunan tinggi gagah yang telah susah payah dibangun. Warna cakrawala memekat, tertutupi oleh kelam, dipenuhi guntur penanda emosi dan kemudian meneteskan kepedihan karena orang-orang itu.
Kecewa tak mampu terbendung, sulit untuk ditekan karena tergelapkan emosi begitu besar. Salah seorang yang seharusnya menjadi pelindung menjelma menjadi makhluk keji pembawa petaka. Ia membuat kepul napas Eos yang dahulu bersih terjamah oleh kotor karena murkanya. Wabah itu hadir, terbawa oleh benda langit—meteor—yang diturunkan sosok tersebut dengan tujuan meluluhlantakkan dunia.
Bongkah tersebut jatuh ke Eos, membawa kotor, membuat kutukan tercipta di bumi tercinta.
Tak lagi segar dibawa oleh tiupan alam sebab tiap hembusannya telah diliputi oleh kenegatifan. Tak lagi angin yang terhirup membawa nyaman dan tentram ketika memasuki rongga paru. Bahagia terganti oleh sengsara, gelak tawa terganti oleh jerit putus asa.
Segala tentram yang menghiasi sekeliling lenyap begitu saja tanpa mampu untuk dicegah. Bahkan, lima dari enam pelindung tersisa yang seharusnya menjaga tak jua mampu untuk menghilangkannya. Berbagai upaya dilakukan, seluruh tenaga dikerahkan. Tetapi, bunga-bunga tetaplah layu dan gugur tak kuasa dihalau.
Masa jaya itu hilang, terganti oleh era yang tercoreng tulah karena arogansi tak tertahankan para golongan tersebut. Wabah itulah bentuk petaka dari rasa serakah serta bongak mereka yang diberi rahmat. Berkat perbuatan sosok-sosok itu, tiap kehidupan baru yang terhembus ke dalam raga-raga kosong haruslah menanggung kepahitan di bumi yang telah terkutuk.
Mereka yang terlahir setelah era emas tersebut adalah makhluk tak beruntung. Golongan yang haruslah menanggung seluruh keburukan karena leluhur-leluhur mereka.
Itu adalah permulaan...dari segala kepedihan yang mengiringi generasi penerus...
"Ignis, pria itu benar pasien terakhir Crystal, kan?"
Pemuda Scientia yang sejak tadi termenung sembari menatap lekat-lekat sang merah muda melalui salah satu hijaunya terkesiap ketika mendengar Argentum di sebelahnya bertanya dengan nada yang teramat sangat pelan. Hijau itu bergerak, bertemu pandang dengan biru yang melihatnya dengan pandang cemas.
"Ya."
Hanya itu saja yang mampu diucapkan sang penasihat raja yang tengah bersidekap. Bola kacanya dikembalikan ke pusat fokus awalnya, memandangi gadis merah muda yang tengah berjuang menahan pedih saat memindahkan kotor di tubuh pria paruh baya—pasien sang gadis—ke raga kurus itu.
Hijaunya sedikit bergulir pelan tatkala melihat belang yang berhasil terserap bergerak, mengalir di bawah kulit putih sosok tersebut. Remasan di lengannya semakin kuat ketika ia dapati bagaimana hitam itu terus menerus merambat, memasuki tubuh sang gadis.
Sekalipun saat ini sahabat perempuannya tengah memakai jubah hitam yang dihiasi dengan ornamen emas di berbagai sisi dan juga sarung tangan berwarna senada—sengaja agar siapapun tak dapat melihat perpindahan kotor ke raga itu—pemuda tampan tersebut tetap bisa menyaksikan wabah berpindah dari celah kulit jari yang memang tak tertutupi selembar kain.
Pemandangan ini merupakan satu hal yang sering sekali menghimpit hatinya dan hati kedua teman lelakinya yang lain juga. Dalam diam ia dan kedua temannya akan berdiri kaku sembari memandangi bagaimana Crystal berusaha sekuat tenaga memertahankan wajah tenang agar siapapun yang berada di sana tak menyadari bahwa dirinya tengah merasa sakit.
Ignis mengetahui dengan baik bahwa sang gadis sedang memertahankan agar dahi itu tak mengerut, dibiarkan tetap tak berkurat sekalipun lara melanda tanpa belas kasih. Penasihat raja tersebut sangat tahu bahwa oracle-nya tengah mengupayakan diri agar tetap bisa berkonsentrasi, berusaha sekuat tenaga agar ritual yang dilakukan tidak berujung pada kegagalan dan berakhir celaka.
Inginnya ia dan kedua temannya melakukan sesuatu untuk meringankan beban gadis tersebut. Tetapi ia tahu, ia dan rekan-rekannya tak dapat melakukan apapun selain berada di sisi Crystal dan menguatkan sosok itu setelah proses pemurnian ini selesai.
"Dengan ini, Anda sudah baik-baik saja."
Sang gadis yang sejak beberapa puluh menit tadi berjuang pada akhirnya kembali membuka katup bibirnya. Alunan suaranya terdengar begitu lembut dan lemah selayaknya hembusan napas tanpa tenaga di dalamnya—yang jika didengarkan dengan seksama dihiasi oleh perih juga.
"Terima kasih, nona Crystalcrown..."
Sang gadis yang diberikan kata terima kasih mengangguk, menampilkan senyuman terbaik guna membalas perkataan pria paruh baya itu. Ditarik tubuhnya menjauh dan ia memiringkan posisi sedikit guna memberi ruang agar pasiennya dapat beranjak dari duduk untuk bertolak, kembali ke rumah tempat berlindung.
Netranya bergulir simpul, mengikuti pergerakan pendamping sang pria paruh baya yang dengan sigap mengambil tongkat yang tak lagi diperlukan untuk membantu berjalan. Masih menampilkan senyum palsunya, Crystal tetap berada di sana, mengiringi kepergian pasiennya—pria berusia sekitar enam puluh tahun yang tak lagi berjalan tertatih-tatih karena kotor yang sempat melumpuhkan sebelah kaki telah diserap.
"Ayah, kau benar sudah baik-baik saja?"
"Tentu saja. Aku merasa sangat baik. Bahkan aku sudah bisa berjalan kembali!"
"Syukurlah nona Crystalcrown datang ke Niflheim. Aku dengar efek dari penyembuhannya lebih cepat daripada mendiang putri Lunafreya."
Tanpa disadari kedua ayah dan anak yang berjalan semakin menjauh, gadis yang menjadi topik pembicaraan mereka mengepalkan tangan di belakang sana.
Efek yang dirasakan para pasien bisa dirasakan cepat dibandingkan saat disembuhkan Lunafreya…
Senyum yang dipertahankan sang merah muda memudar begitu saja setelah indera pendengarannya menangkap percakapan kedua orang yang telah berjalan semakin menjauh—sebuah runtut kalimat yang terus menerus ia dengar setiap kali pasien ataupun pendamping mereka berkata-kata mengenai dirinya setelah disembuhkan.
Tanpa diundang, perasaan tak nyaman seketika itu pula hadir menyelimuti hati gadis tersebut. Gemuruh dalam dadanya teramat sangat tak mengenakkan jiwa acap kali mendengar komentar dari para pasiennya—walau tak diucapkan di depannya.
Perkataan itulah yang menjadi penyebab rasa yang berusaha dipertahankan Crystal agar tak melesak keluar semakin menyebar ke seluruh raga ringkihnya tanpa ampun. Bulir-bulir dingin yang bersusah payah dihalaunya mulai menampakkan wujud, pertanda bahwa ia benar semakin sulit menahan kesakitan yang teramat sangat.
Setelah menunggu selama beberapa menit dan memastikan bahwa pasien terakhirnya benar telah pergi, Leonis merah muda tersebut segera membalikkan badan, berlari, melangkahkan kaki lebar-lebar menuju satu tenda besar yang dibangun sebagai tempat ia dan rekan-rekannya berlindung dari dingin malam.
Dengan kasar ia bertolak, tak menghiraukan bahwa ia sempat menabrak tubuh pemuda Argentum dan Scientia yang menghalangi langkahnya. Disibak pintu masuk tenda dengan cepat dan gadis itu kembali menutupnya kasar sebelum jatuh meringkuk. Tubuhnya bergetar begitu hebat dan kedua tangannya yang tadi masih memegangi kain pemisah dunia luar dan tempatnya berlindung terjatuh ke bawah, terkepal meredam perih.
Gadis tersebut merasakan napasnya tercekat luar biasa. Ia meremas helaian surai merah mudanya, berharap bahwa sakit yang melanda seluruh tubuhnya bisa terpusatkan ke satu titik yang tengah ia kasari ini—sayangnya apa yang dilakukannya tak membuahkan hasil dan ia harus merelakan kotor itu memberi sakit di raganya tanpa ampun.
Bersusah payah ia menghirup udara kuat-kuat agar memenuhi rongga dada, berharap cara tersebut sedikit membuat perih yang melanda sedikit tersamarkan. Tetapi, saat ia membuka celah mulutnya, sebuah pekik tertahan malah meluncur bebas dari sana ketika ia menyadari bahwa cahayanya semakin berkilau kuat.
Dahi sang gadis yang dipenuhi peluh semakin terhiasi oleh kerut-kerut menyeramkan seiring dengan tertutupnya kedua kelopak matanya. Erangannya lolos begitu saja saat ia sadari bahwa sekarang ini borok dalam dirinya tengah berperang dengan cahaya murni milik ibundanya.
"Kau baik-baik saja?!"
Crystal terkesiap saat menyadari sahabat Argentumnya mendadak masuk ke dalam tempat persembunyiannya. Kepalanya terangkat, menatap lekat pemuda cerah yang memandangnya dengan tatapan begitu khawatir.
"Jangan masuk, Prompto!"
Ia menaikkan sedikit nada bicaranya, berusaha meneriaki Prompto yang bukannya berhenti malah semakin mendekatinya. Hatinya kembali dilanda cemas saat ia tahu pemuda tersebut tak mengindahkan larangannya untuk memasuki tempat ini setiap kali ia selesai melakukan proses penyembuhan.
Ya, sebelumnya ia sempat menitah kepada ketiga rekannya agar tak mengganggunya saat ia sedang berada dalam kondisi 'kotor' seperti ini. Sayangnya, para pemuda itu—khususnya Prompto—akan selalu berlari masuk, memosisikan diri di hadapannya karena sepertinya terlalu takut saat mendengar dirinya menjerit-jerit.
"Bagaimana bisa aku mengikuti kemauanmu kalau kau seperti ini!?"
"Keluar, Pom!"
Crystal ingin merutuki mulutnya yang berteriak lantang ke pemuda tersebut. Ia tahu, ia memahami bahwa sahabat-sahabatnya hanya mencemaskannya dan tak akan memerdulikan bagaimana kondisinya saat ini—kotor masih nampak jelas di bawah kulitnya—, tetapi tetap saja ia tak ingin siapapun melihat dirinya yang seperti ini. Khususnya...untuk sang Scientia.
"Tidak."
"Prompto—"
"Crystal, kami akan ada di sini."
Protes yang hendak dilantangkan gadis itu terputus setelah ia mendengar kata-kata lembut yang dituturkan oleh sang Amicitia yang ternyata juga telah memosisikan diri di dekat pemuda pirang cerah tersebut. Alih-alih pergi, kedua pemuda itu malah meraih tangannya yang masih bergetar menahan kesakitan, menautkan jemari mereka.
Secara refleks Crystal berjengit kaget dan ia hendak meneriakkan kalimat perlawanan, namun yang meluncur dari sana bukanlah penolakan melainkan jerit pilunya saat ia sadar bahwa cahayanya tiba-tiba saja meredup dan kotor itu kembali menyembul, menampakkan wujud.
Cemas sekali lagi tercetak jelas di wajah pemuda-pemuda tersebut dan mereka harus merasakan hati mereka terhimpit setiap kali mendapati salah seorang anggota keluarga mereka tersiksa begitu hebat seperti sekarang ini.
Ini adalah keseharian yang menurut ketiga sekawan tersebut menyiksa batin mereka. Mereka yang telah memutuskan untuk kembali berjalan berdampingan setelah kepulangan sang gadis harus rela mengetahui kenyataan bahwa oracle mereka akan terus menerus menerima konsekuensi setiap kali menyerap kotor. Crystal akan tetap menjerit-jerit karena perih yang hadir setiap kali ritual dilaksanakan walau telah dilakukan berpuluh-puluh bahkan ratusan kali sekalipun.
Gadis itu akan berlari, menyembunyikan diri seolah-olah terlalu takut memerlihatkan sosok menyedihkan itu ke depan mereka. Di dalam persembunyian itu sang merah muda akan memekik, meracaukan rintih keras yang tak mampu dikendalikan, memberi perih di hati mereka yang mendengar.
Pada awalnya ketiga pemuda tersebut berusaha menghormati keinginan Crystal—mereka tahu gadis tersebut tak ingin dilihat siapapun saat hitam masih hadir di bawah tubuhnya—tetapi pada akhirnya mereka menyerah karena tak kuasa menghentikan darah yang mengucur karena mendengar laung pilu Leonis merah muda itu.
Mereka memutuskan untuk mendobrak masuk, menghancurkan seluruh benteng yang bangun sang gadis untuk menghalau mereka terlibat lebih jauh. Mereka mendekat, mereka menggenggam tangan ringkih itu, mereka berikan kata-kata sokongan kepada salah satu orang terpenting mereka.
Mereka...hanya tak bisa meredam kembali ketakutan mereka...
Mereka telah melihat banyak orang yang pergi karena starscourge...
Karenanya mereka tak ingin sesuatu terjadi pada salah seorang keluarga mereka...
Mereka bersumpah akan melindungi...
Mereka berikrar akan menjaga...
"Tenanglah, Gentiana. Crystal pasti bisa menekannya."
Helai merah muda yang telah acak karena diremas-remas kuat oleh pemiliknya berayun kasar saat sosok cantik tersebut tersentak setelah indera pendengarannya mendapati kalimat yang diluncurkan oleh pemuda Scientia kepada wanita anggun yang memang ia ketahui berada di belakangnya. Merah muda dan kelabunya bergerak ke samping, tertumbuk ke sosok tampan yang telah berjongkok di sampingnya seraya menyentuh lembut punggungnya.
Seluruh perlawanan yang tadi ingin ia lakukan hilang begitu saja ketika ia dapati teduh hijau milik salah seorang sahabatnya tersebut. Seketika hatinya diselimuti oleh sesuatu yang hangat dan menenangkan. Di dalam seluruh kesakitan yang tadi melanda, tiba-tiba saja ia merasakan adanya kelembutan yang didapatkan dari orang-orang terkasihnya.
Di luar kesadaran Crystal, ia meremas jemari dua orang pemuda yang masih menggenggam tangannya. Bentuk pelafalan tanpa kata bahwa sesungguhnya ia tertolong dengan kehadiran mereka. Mereka adalah tiga pemuda yang berbaik hati selalu berada di sisinya, menyentuhnya untuk memberi kekuatan, melafal untuk memantapkan hati yang selalu dipenuhi oleh codet tak kasat mata.
Walau wujudnya tengah buruk rupa, ketiga orang itu akan tetap berada di sana, tidak meragukan kekuatannya dan terus memberikan kalimat-kalimat dukungan.
Dadanya terasa sesak. Ia memang selalu merasa sesak setiap kali selesai menelan kotor yang menjangkiti Eos, akan tetapi, untuk kali ini sesaknya berbeda. Bukanlah sesuatu yang memberi degup menyeramkan di hatinya, melainkan memanggil manis dan hangat untuk merengkuhnya.
Tanpa disadari gadis tersebut, ia telah mengeluarkan kembali sinar emas dan merah mudanya, semakin kuat dan benderang sampai-sampai menembus keluar dari pori-pori tenda.
Tautan tangan sang gadis dengan tangan sang Amicitia dan Argentum belum juga terlepas, malahan makin menguat. Cahaya murninya terus berkilau terang, menjadi pembuktian bahwa sang oracle berhasil melakukan pemurnian wabah yang mengalir di dalam darahnya.
Surai panjang milik gadis itu jatuh turun menutupi wajah cantik yang penuh gurat kesakitan ketika sang pemilik memerdalam tundukkan kepalanya. Sekalipun hatinya diliputi oleh kekuatan berkat orang-orang terkasihnya, tetap saja pedih melanda.
Padahal ia telah menjalankan tugasnya ini berkali-kali, padahal ia telah berhasil melakukan penyerapan dan pembersihan di dalam diri tanpa harus merasakan es milik Glacian lagi. Tetapi, walau begitu, kelukur tak kasat mata tetap saja muncul menyakiti dirinya lagi dan lagi. Sepertinya hendak terus memberitahu bahwa itu semua ada dikarenakan metode penyembuhannya berbeda seperti mendiang oracle yang sudah-sudah.
Memang ia berbeda. Tak seperti Lunafreya yang memberikan cahaya suci ke dalam tubuh pasien—penyembuhan berlangsung di dalam tubuh pasien itu sendiri—, ia melakukannya dengan cara memindahkan borok tersebut ke dalam dirinya sebab ia tak mampu untuk mengeluarkan cahaya oracle-nya—karena melakukan ritual dengan metode itulah efek yang dirasakan penderita starscourge segera terasa.
Apa yang dilakukannya serupa dengan pria Lucis Caelum yang dahulu sempat hampir diutus menjadi raja pertama. Pria itu juga dikaruniai kekuatan untuk menyerap wabah ke dalam tubuhnya, sesuatu yang malah mencoreng kesucian di dalam dirinya karena tidak bisa melakukan proses pemurnian.
Crystal sebagai keturunan pria tersebut turut mendapatkan kekuatan serupa. Ia dapat menyerap, mengambil kotor untuk dimasukkan ke dalam tubuhnya. Tetapi, tidak seperti sang pria, karena di dalam tubuhnya juga mengalir darah suci oracle, darah Fleuret, setelah menyerap, wabah itu akan dimurnikan di dalam dirinya sendiri.
Dan...ia selalu tersiksa setiap kali melakukannya.
"tal...Crystal?"
Gadis itu terkesiap, memandangi Scientia yang tadi memanggil namanya sembari menatap khawatir. Ia mengerjap selama beberapa kali dan turut menyapukan pandangnya ke dua pasang permata lain yang juga menatapnya cemas. Katup bibirnya bercelah, menandakan bahwa ia tengah dilanda kebingungan.
...apakah ia sempat kehilangan kesadaran?
"Kami menghawatirkanmu, tapi kau malah tertidur dengan mata terbuka!" Sang Argentum melantang, meremas jemarinya yang masih bertautan dengan jemari kurus Leonis merah muda itu. "Apakah karena di dalam dirimu tak hanya mengalir darah Lucis Caelum tapi juga darah Fleuret?"
Crystal, yang tak lagi menguarkan cahaya emas dan merah mudanya—ia ternyata telah berhasil menekan borok—melepaskan tangannya dari tangan Gladiolus dan Prompto dan kemudian mendudukkan tubuh di lantai tenda yang kasar. Napasnya masih tersengal tetapi kedua sudut bibirnya yang berangsur-angsur mendapatkan kembali warna merahnya diupayakan menaik.
"Lucis Caelum selalu tertidur dan Fleuret berusaha tetap terjaga jadi karena aku campuran, aku akan tidur dengan mata terbuka maksudmu?"
Gadis itu membalas celoteh sang Argentum sembari sedikit mendengus geli. Netranya diangkat untuk memandangi teman-temannya itu, memberitahukan tanpa kata-kata bahwa ia telah baik-baik saja dan berusaha kmbali menjadi Crystal seperti biasanya.
Mendapati gadis tersebut telah kembali ke pribadinya yang biasa, ketiga pemuda yang berada di sana menghela napas lega—walau air muka gadis cantik itu masih menunjukkan sisa-sisa kesakitan.
Ignis yang berada di samping Crystal melepaskan tangannya segera dari punggung gadis tersebut. Ia terdiam, memerhatikan baik-baik wajah dan juga tubuh sahabatnya yang tak lagi dihiasi oleh coreng-coreng hitam di bawah kulit selama beberapa menit.
Crystal sekali lagi berhasil menekan kotor...
"Kau baik-baik saja?"
Itulah yang tiba-tiba meluncur dari sela-sela katup bibir sang penasihat raja, menanyakan satu hal yang masih membuat hatinya diliputi oleh resah. Ia tahu bahwa gadis tersebut akan menjawab bahwa 'baik-baik saja', namun entah mengapa mulutnya tetap ingin melontarkan pertanyaan yang telah ia ketahui jawabannya.
Di sisi lain, Crystal yang dilempari pertanyaan seperti itu menoleh lagi, membiarkan mahkotanya yang acak menari simpul saat kepalanya digerakkan. Gadis itu menatap Ignis selama sepersekian detik dan mengangguk lemah.
"Aku tidak apa-apa, Ignis."
Mendapatkan jawaban yang telah diantisipasi membuat Ignis terdiam selama beberapa detik. Ia perhatikan baik-baik lawan tuturnya sebelum kemudian menghela napas kecil dan memutuskan untuk menerima jawaban tadi.
"Kita akan kembali ke Lucis besok pagi dengan pesawat Aranea." Ucap pemuda tersebut lagi sembari membetulkan letak kacamatanya yang telah sempurna. "Biggs dan Wedge sedang memersiapkannya."
"Kalau kau masih membutuhkan istirahat, kita bisa menunda kepulangan kita." Prompto menambahkan. "Aku akan menginfokan ke Aranea. Loqi juga tidak memberitahukan secara spesifik kapan kita harus pergi dari sini."
Loqi dan Aranea. Nama-nama dari dua orang yang dahulu menjadi musuh pangerannya. Mereka adalah keturunan Niflheim yang akhirnya memutuskan untuk menerima keberadaan mereka di sini, di Niflheim.
Ya. Oracle dan para kawannya memang tengah berada di dalam teritori musuh. Itu adalah satu keistimewaan yang dimiliki oleh sang gadis merah muda sebagai penyelamat dunia dari kegelapan panjang.
Tak seperti mendiang putri Tenebrae, gadis tersebut memiliki kebebasan untuk pergi ke sana ke mari. Ia akan pergi ke benua manapun untuk menyembuhkan, bahkan ke teritori musuh sekalipun.
Sebenarnya, sebelum diterima di negara ini, mereka harus melewati satu proses negosiasi terlebih dahulu. Sang penasihat raja yang telah bekerjasama dengan wanita Highwind diberikan akses untuk menghadap brigadir jenderal Loqi Tummelt. Di depan pemuda berusia dua puluh tahunan tersebut, Scientia melakukan penawaran, menjelaskan mengenai cara kerja kekuatan calon ratu mereka dan berkata bahwa jika mereka tak diberi akses untuk mendirikan pos pemurnian wabah, maka kemungkinan besar kepul kotor akan terbentuk kembali menutupi langit Niflheim.
Ignispun juga meminta kepada Loqi untuk diberikan keleluasaan dalam melakukan pemburuan makhluk malam yang meresahkan di negara tersebut. Ia menginformasikan bahwa miasma yang menguap dari tubuh makhluk itu adalah faktor utama penyebab mentari tertutupi oleh belang sehingga malam menjadi panjang dan hanya oracle mereka yang bisa menyerap sebelum kotor mengepul di udara.
Mendengar runtut penjelasan dari penasihat raja Lucis membuat sang jenderal yang sempat merasa putus asa karena nasib tanah airnya yang jatuh ke tangan daemon saat dunia menggelap berpikir keras. Selama beberapa hari ia menimbang-nimbang, memikirkan keputusan terbaik yang dapat ia berikan kepada keempat orang yang tidak meminta hal lain selain diberikan ijin khusus untuk bergerak leluasa di dalam negaranya—kurang lebihnya hanya meminta akses untuk melakukan kewajiban demi dunia.
Pada akhirnya, setelah memikirkan selama hampir tiga hari, Loqi memberikan persetujuan dan menyediakan tempat di sudut kota terpencil yang dijaga ketat oleh pasukannya kepada gerombolan yang dahulu ia kejar-kejar untuk ditangkap. Walau apa yang ia lakukan terhitung sebagai penghianatan—bagaimanapun ia adalah jenderal pasukan Niflheim—, hati nuraninya mengatakan bahwa mereka sebenarnya memang membutuhkan gadis yang ternyata memiliki darah Fleuret itu.
Dan di sinilah mereka, menetap selama hampir satu bulan lamanya di Niflheim untuk memantau pergerakan starscourge yang menjadi lebih pesat akhir-akhir ini.
"Tidak, kita bisa pulang besok pagi. Aku benar baik-baik saja." Crystal membalas perkataan Prompto sembari mengangguk-angguk seraya menatap ketiga temannya bergantian.
"Jangan memaksakan dirimu, ya." Pemuda cerah tersebut mengacungkan ibu jarinya dan memamerkan senyuman cerahnya, menjadikan sang gadis sedikit turut mengulum senyum.
"Tapi—" Tiba-tiba saja putri jenderal Crownsguardtersebut membuka mulutnya kembali. Ia menatap lekat-lekat sang Argentum di hadapannya sambil menaikkan sebelah sudut bibir. "Aku bisa berpura-pura tidak baik-baik saja dan menunda kepulangan kita jika kau masih ingin bersama Aranea, Pom."
Prompto, yang tak mengantisipasi godaan gadis di hadapannya nanap karena Crystal tiba-tiba saja menggoda dirinya. Alih-alih memberi jawaban serius, gadis itu malah mengatakan sesuatu yang membuat pipi sang pemuda bersemu; sudah menjadi rahasia umum bahwa Prompto memiliki kedekatan khusus dengan wanita seksi itu.
"Crystal!"
"Aku mengatakan ini karena memikirkanmu, Prompto. Kau harus lebih gigih lagi!" Gadis itu menampilkan wajah seriusnya. "Jika tidak, Aranea bisa direbut Gladio seperti dia merebut Cidney!"
Gladiolus yang memang berada di dekat sang gadis mengerutkan dahi. Pasalnya ia baru saja mendengar kekasih raja Lucis mengatakan sesuatu yang menyinggung dirinya. Pemuda maskulin tersebut menyipitkan mata, menatap putri kristal dalam-dalam.
"Hei! Kau membuatku terdengar seperti pria yang gemar menaklukkan hati wanita."
"Bukannya memang seperti itu?" Crystal memamerkan senyuman jahilnya.
"Asal kalian tahu saja aku serius dengan Cidney."
"Kau berani mengatakannya di depanku?!"
Kalimat terakhir yang dipekikkan pemuda Argentum sambil menampakkan wajah memelas pura-puranya membuat gelak tawa hadir menghiasi tenda tersebut. Mereka tertawa bersama, membiarkan kesenangan hadir menyelimuti diri mereka yang kini telah kembali bersatu tak lagi tercerai berai.
"Maafkan aku, Prompto."
Gladioluslah yang pertama kali membuka mulut, mengucapkan permintaan maaf kepada kawan cerahnya yang kemudian terkesiap karena kata-katanya.
"Aaa! Aku tidak mau dengaar!" Pirang cerah itu melantang, mengangkat tangan dan menutup kedua telinganya. "Semua yang kusukai direbut!"
Perkataan Prompto tadi menghentikan tawa gadis merah muda. Ia mengerutkan dahi, merasa baru saja mendengar satu kenyataan yang sama sekali tidak pernah diketahuinya.
"Selain Cidney memang ada lagi yang kau sukai, Pom?"
Itu adalah untai kata yang sanggup membuat tawa yang sempat hadir, menghilang begitu saja. Ketiga pemuda yang tadi terkekeh seketika merapatkan mulut saat salah seorang teman mereka malah menanyakan hal yang membuat mereka ingin menepuk dahi.
"Crystal..."
"Eh? Apa? Ada yang salah? Kenapa kalian memandangku seperti itu?"
Putri kristal di sana mengerutkan dahi dalam-dalam saat melihat perubahan air muka para rekannya. Ia mengerjap beberapa kali, merasa kebingungan dengan reaksi orang-orang itu. Bahkan, Ignis yang biasanya selalu terlihat tak berekspresi juga turut menatapnya dengan sorot yang tak ia mengerti.
Apakah pertanyaannya salah?
"Kau...memang Lucis Caelum."
Prompto mengangguk-angguk, menyetujui pendapat yang baru saja dilafalkannya tadi. Gadis di depannya memanglah seorang keturunan Lucis Caelum yang tidak peka terhadap suatu bentuk bernama 'cinta'. Sudut bibirnya berkedut, ingin tertawa karena tiba-tiba saja ia teringat reaksi sahabat sekelam malamnya yang terkejut ketika mengetahui bahwa ia menyukai Leonis merah muda itu.
Dua orang Lucis Caelum tersebut tidak menyadarinya...
Di sisi lain, sang pemuda Scientia yang telah mengalihkan pandang mendadak merasakan iba hinggap di dalam dadanya. Tanpa permisi, sentimen tersebut datang, menumbuhkan simpati terhadap temannya. Pasalnya, sampai detik inipun ternyata Crystal tidak pernah menyadari perasaan Prompto yang secara gamblang diperlihatkan.
Tanpa berhasil dikendalikannya, tiba-tiba saja benaknya berkata, memberitahukan bahwa nyatanya ada yang lebih menyedihkan dari dirinya. Apakah...ia boleh merasa lega?
"Apa sih?" Gadis itu semakin mengerutkan dahi. "Apa hubungannya pertanyaanku dengan Lucis Caelum?"
Melihat Crystal masih meneruskan topik menyedihkan tadi membuat Ignis sekali lagi membetulkan letak kacamatanya yang tak cacat. Ia menutup kedua matanya sejenak dan kemudian berdeham untuk mengalihkan fokus para teman-temannya.
"Kalau begitu, sebelum pulang aku akan mengecek sekali lagi untuk memastikan bahwa tidak ada lagi daemon membahayakan di sini—kau mau apa?"
Pemuda cerdas tersebut mengerutkan dahi saat melihat gadis merah muda di sampingnya juga turut bangkit dari duduknya, merapatkan kembali jubah panjang yang menutupi, bersiap untuk pergi.
Sedang, yang diberi pertanyaan ikut menampakkan kurat di dahinya. Menatap penasihat raja itu selama beberapa detik dengan tatapan bingung.
"Tentu saja aku ikut."
Ignis tiba-tiba saja menghela napas panjang setelah mendengar pernyataan gadis yang hanya setinggi dadanya tersebut.
"Tidak. Kau diam di sini." Ucap Scientia yang kembali bersidekap, memberi titah absolut yang tak bisa dibantah. "Beristirahatlah. Kau tadi habis menyembuhkan delapan belas orang dalam satu hari."
"Tapi, Ignis. Bagaimana jika kau menemukan Ardyn?"
Pemuda tampan tersebut sedikit bereaksi ketika indera pendengarannya menangkap nama seorang pria yang ternyata merupakan dalang di balik segala petaka yang terjadi. Pria yang sebenarnya menjadi tujuan utama mereka memasuki teritori musuh.
Menyembunyikan kenyataan ini dari Loqi dan juga Aranea, sesungguhnya keempat sekawan tersebut memiliki tujuan lain, yaitu, mencari keberadaan Ardyn yang menghilang begitu saja. Mereka memutuskan untuk pergi mengunjungi orang-orang yang terjangkiti starscourge berharap mereka akan mendapatkan jejak sang pria terkutuk.
Crystal tahu bahwa yang bisa menghentikan pria yang berbagi darah dengannya itu hanyalah sang raja cahaya. Ia tahu tidak akan banyak yang bisa ia perbuat jika bertemu dengan Ardyn. Tetapi, melihat perkembangan starscourge yang begitu menggila dalam kurun waktu dua bulan belakangan ini membuat gadis itu diliputi oleh resah tak tertahankan.
Penduduk-penduduk dalam satu kota yang awalnya hanya satu atau dua orang saja yang terjangkiti tiba-tiba jumlahnya meningkat menjadi belasan bahkan puluhan. Daemon-daemon yang sempat terkendali tiba-tiba saja menjadi merajalela kembali.
Karenanya, sang oracle memutuskan untuk pergi mengunjungi kota-kota yang terjangkiti untuk mengejar keberadaan penyebar kotor itu.
"Kita sudah mencari-cari Ardyn selama hampir satu bulan dan tidak menemukan jejak apapun selain starscourge yang berkembang pesat. Pria itu tidak ada di sini."
"Tapi—"
"Nona Crystalcrown, aku tahu kecemasanmu tapi aku sudah pastikan Ardyn tidak ada di sini."
Bahu sang gadis yang tadi menegang mendadak terkulai setelah Ignis menyelesaikan kalimat terakhir tadi. Ia mengepalkan tangan, menunduk kecil dan menutup mulutnya, tak lagi berkata apapun. Pemuda itu benar dan seharusnya ia tidak diliputi emosi kembali sehingga kepalanya tertutupi kabut yang menggelapkan akalnya.
"Tenang saja, Crystal. Aku akan ikut bersama Ignis. Jika ada apa-apa, aku yang akan menyeretnya lari kembali ke sini."
"Beristirahatlah. Kami tidak akan lama."
Crystal mau tak mau menyunggingkan senyum kecil setelah mendengar Prompto berusaha meyakinkannya. Ia menengadah untuk melihat Ignis yang tengah menepuk pelan pucuk kepalanya. Dianggukkan kepala itu, tak lagi membuka mulut untuk melayangkan debat.
Helaan kecilnya terdengar setelah ia dapati kedua teman bersurai pirang kontras tersebut pergi dari tenda tempat mereka tinggal. Hatinya masih belum juga diliputi oleh rasa tenang sebab ia tidak ikut berada di samping kedua sosok tersebut. Ia ingin ikut, ia ingin memastikan keselamatan mereka dengan mata kepalanya sendiri.
"Ignis menyuruhmu untuk beristirahat bukannya berpikir dengan wajah menyeramkan."
"Perasaanku tidak tenang, Gladio."
Crystal mengepalkan tangan, memertemukan merah muda dan kelabunya dengan coklat keemasan milik pria maskulin yang masih setia berada di sisinya. Tak ada yang ditutup-tutupi oracle itu. Ia biarkan Gladiolus melihat seluruh kecemasan yang menguar menyelimuti hatinya saat ini.
Kemudian netranya bergerak simpul mengikuti pergerakan sang perisai yang tiba-tiba berjalan ke atas meja untuk mengambil buku bersampul hijau dan mendudukkan diri di atas matras lembut salah satu sudut tenda.
"Kemarilah."
Crystal mengerjap, memerhatikan putra Clarus yang memandangnya dari sana sembari menepuk-nepuk sebelah lengan. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk menyadari maksud salah seorang kawannya itu sehingga ia menanggalkan jubah, sarung tangan, sepatu serta kaus kakinya dan duduk di samping pemuda tersebut.
Dibawa tubuhnya yang terasa lelah mendekati sahabat kekarnya yang kini tengah sibuk membaca buku di tangan kiri. Detik berikutnya sang gadis hampir tertawa saat merasakan pemuda tertua di antara keluarga kecilnya ini mengangkat sebelah tangan, menggerakkan kepalanya ke lengan yang tak tertutupi sehelai benangpun, menyuruh tanpa kata agar ia bersandar di sana.
"Tidurlah."
Perintah itu bernada lembut dan dalam, menjadikan Crystal merasakan hatinya diliputi oleh rasa hangat yang datang tiba-tiba. Ketenangan datang menghampiri raganya yang capai, menyelimutinya dengan kemewahan yang selalu didamba-dambanya. Ia pejamkan matanya, berusaha semakin membuat tubuhnya rileks. Bahkan, ia tidak melontarkan protes saat sang pemuda di sampingnya mengacak surainya hingga kusut.
"Dongeng."
Pemuda dua puluh enam tahun yang sejak tadi memusatkan perhatiannya ke tinta-tinta hitam yang membentuk kalimat dalam halaman buku kesukaaannya menaikkan sebelah alisnya. Emas cantiknya melirik sedikit ke sosok gadis yang telah bersandar kepadanya. Sambil terpejam, sahabat perempuannya tadi tiba-tiba saja memberikan perintah kepadanya untuk mendongengkan sesuatu.
Mengalihkan kembali pandangnya ke halaman usang buku yang tengah dibacanya, Gladiolus mengerutkan dahi sedikit. Terlihat sekali bahwa sosok tersebut tengah berpikir mengenai bahan cerita apa yang bisa ia dongengkan agar Crystal bisa tertidur.
Awalnya. Karena tiba-tiba saja otaknya yang jahil berkata lain.
"Beberapa tahun lalu, lahirlah seorang bayi perempuan dari dalam kristal—"
"Jangan kisahku. Terlalu suram."
Gladiolus mendengus geli saat mendengar respon yang diberikan sang gadis tadi. Ia memang sangat senang menggoda temannya ini karena reaksi yang diberikan selalu sesuai dengan apa yang ia harapkan. Perisai raja tersebut mengangguk, menuruti kemauan Crystal.
Selama sepersekian detik ia terdiam, mencari-cari hal lain yang bisa membuat gadis itu menampakkan ekspresi untuk menghiburnya. Kemudian ia membuka mulutnya kembali sembari menyeringai, hatinya semakin diliputi rasa tak sabar dengan reaksi apa yang akan diberi calon ratunya dengan cerita ini.
"Di sebuah gedung suram yang menjulang tinggi, seorang perisai pangeran terlihat berusaha bersabar menunggu calon rajanya yang tak kunjung kembali." Gladiolus semakin menaikkan kedua sudut bibirnya saat merasakan gadis itu mengerutkan dahi—dahi Crystal menyentuh kulit lengannya sehingga ia bisa mengetahuinya. "Sayangnya, pemuda tersebut ternyata tidak panjang hati sehingga ia memutuskan untuk menghampiri setelah beberapa puluh menit berlalu."
"Ini cerita apa? Aku seperti tahu—"
Kalimat gadis itu terputus saat sang pemuda menekan kepalanya yang tadi sempat terlepas untuk kembali bersandar ke lengannya, mengatakan tanpa kata agar ia diam saja dan mendengarkan.
"Sesampainya di tempat pangerannya, pemuda tersebut membeku. Ia terdiam sembari menatap pangeran dan juga calon putri di masa depan. Katup bibirnya yang tadi bercelah seketika kembali rapat saat melihat ada semburat merah di kedua pipi orang-orang yang disusulnya. Matanya memerhatikan dengan baik kedua orang tersebut dan segera menyadari bahwa kedua orang itu baru saja melakukan sesuatu yang membuat kedua bibir mereka memerah—"
"HENTIKAN!"
Amicitia tersebut tertawa terbahak ketika mengetahui Crystal menegakkan-diri tak lagi bersandar-, mengarahkan tubuh ke arahnya dengan wajah yang teramat sangat memerah. Merah muda dan kelabu itu terkilau oleh sorot ingin membunuh tetapi ia tidak bisa bergidik karena kentara sekali sahabatnya tengah dilanda malu bukan main.
"Teringat kembali kehangatan, Noctis-ouji?"
"Gladiolus Amicitia!"
"Gladiolus Amicitia ini masih mengingat wajah sang putri yang terbuai saat itu."
"Demi Astral,hentikan!"
"Kau yang meminta didongengkan, kan?"
"Itu bukan cerita untuk didongengkan, bodoh!"
"Hm? Kan kisah pangeran dan putri. Oh! Ataukah ingin dongeng mengenai sang putri yang jatuh tertidur karena terserang satu penyakit dan membutuhkan kehangatan pahlawan berkacamata?"
"GLADIOOOOO!"
Sekali lagi tawa pemuda tersebut memenuhi seluruh tenda karena pelafalnya tak mampu lagi menahan rasa geli saat melihat temannya itu telah sangat-sangat memerah karena godaannya tadi. Betapa ia sangat menyenangi momen ketika ia mampu membuat darah Caelum menjerit malu. Reaksi yang diberikan gadis tersebut selalu sesuai dengan harapannya menjadikannya candu.
"Maafkan aku tuan putri, aku mengharapkan reaksi itu."
"Kau!"
"Baik, ayo tidurlah lagi." Gladiolus menarik kembali bahu gadis itu untuk mendekat kepadanya. Menyandarkan kepala Crystal sekali lagi ke kulit lengannya yang tak tertutupi sehelai kainpun. Ia usap-usap kepala gadis di sampingnya, berusaha membuat calon ratunya kembali mendapatkan ketenangan. "Jadi...ingin dongeng apa?" Tambahnya sembari berusaha meredam geli.
"Tidak butuh! Kau membeku saja di situ sampai aku bangun!"
Pemuda tersebut sekali lagi tertawa namun tetap mengusap-usap pucuk kepala sang gadis—masih berusaha membuat rekannya tenang.
"Dengan senang hati. Amicitia ini akan menjadi perisai yang bisa disandari oleh nona Crystalcrown Leonis Rosea Lucis Caelum—" Pemuda tersebut terhenti. "Apakah Fleuretnya juga perlu dimasukkan?"
Bukannya tertidur, sang Leonis malah terkekeh geli di atas kalimat pemuda kekar tersebut. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang tak lagi tertutupi sarung tangan hitam. Tawanya berderai, membuat sang pemuda tertua tak lagi mengusap melainkan mengacak surai itu. Betapa pemuda itu sangat menyenangi tawa yang diluncurkan oleh sang merah muda. Setelah perjalanan penuh duri yang membuat gadis itu kehilangan senyuman, akhirnya Crystal dapat kembali kepada pribadinya semula.
"Namaku panjang sekali." Ucap gadis itu.
"Makanya mintalah pada Noct untuk menjadikanmu Crystalcrown Lucis Caelum segera."
"Tak akan kuminta. Biar dia yang memiliki pemikiran sendiri."
"Salah satu quest tersulit yang kudengar."
Crystal semakin terkikik. Hangat di dalam hatinya menyebar dan ia rasakan bagaimana seluruh raganya terengkuh oleh kemewahan damai. Godaan pemuda tinggi tersebut membuat nyaman hadir menemaninya. Ia menutup kelopaknya kembali, memejamkan mata guna menyesapi tenteram ini.
"Aku tidak menyangka akhirnya kau bersama Noct."
"Begitupun aku."
"Sejak dulu aku tahu hubungan kalian bertiga—"
"Kau tahu?"
Crystal membuka matanya kembali. Menatap ujung kakinya tak percaya dengan kata-kata pemuda tersebut.
"Tentu saja. Semua orang tahu kalau trio Noctis, Ignis, dan Crystalcrown terjerat dalam hubungan yang pelik." Gladiolus tertawa kecil bersama gadis merah muda itu. "Aku tahu Noctis menyukaimu, aku tahu kau mencintai Ignis dan...aku tahu Ignis juga mencintaimu."
"Ternyata hanya kami saja yang tidak tahu."
"Sejak awal Ignis berniat untuk merelakanmu."
Crystal merapatkan bibirnya. Menutup mulut itu erat-erat dan memutuskan untuk kembali terpejam tak menghiraukan rasa memuakkan itu hadir lagi dalam hatinya setelah Gladiolus mengatakan kenyataan yang telah ia ketahui.
"Dan aku sudah memutuskan untuk bersama si bodoh itu. Aku akan mencintai Noctis melebihi cintaku pada Ignis."
"Kami mengharapkan kebahagiaan kalian."
Tanpa disadari Amicitia tersebut, sang gadis menggigit bibirnya kuat-kuat ketika kalimat terakhir itu diluncurkan. Diupayakan sekuat tenaga agar dahi yang menyentuh lengan kekar tersebut tak mengerut. Betapa kalimat pengharapan tulus dari orang-orang tersayangnya selalu memberi pedih di hatinya yang tak lagi berbentuk sempurna.
"Gladio...aku tidak akan tidur jika terus kau ajak bicara..."
"Tapi aku masih ingin mengganggumu."
"Kau yang menyuruhku tidur!"
"Baiklah putri, silahkan tidur."
Crystal mengulum senyumnya saat merasakan tangan besar tersebut semakin mengacak pucuk kepalanya. Ia menghirup napas dalam-dalam guna menguasai dirinya kembali. Kelopaknya yang telah terjatuh semakin menyembunyikan kelabu dan merah muda erat-erat. Posisi duduknya semakin dibuat senyaman mungkin, menikmati seluruh ketenangan yang kembali hadir berkat salah seorang sahabatnya.
Ia melemaskan otot-ototnya, berusaha menyesapi kenyamanan yang pada akhirnya bisa ia kecap. Perlahan kaku di dalam tubuhnya hilang, terbawa pergi terhembus oleh semilir angin yang dibiarkan masuk melalui celah kecil jendela tenda.
Bibirnya yang telah kembali terhiaskan oleh merah kehidupan masih sedikit membentuk senyuman simpul. Dibiarkan utas manis itu tetap berada di sana menandakan betapa bahagianya sang oracle saat ini. Ia tepis segala kenegatifan yang hadir menggerogoti dirinya—penyebab ia terlalu banyak menyerap starscourge.
Ia akan menerima kemewahan ini...karena ia tak tahu sampai kapan ia bisa mengecapnya.
"Crystal!"
Benar kan tidak berlangsung lama...
"Aku sedang mencoba untuk tertidur, Prompto."
Crystal memiringkan tubuh, semakin menyembunyikan wajahnya ke lengan kekar Gladiolus. Sinar mentari yang masuk melalui celah pintu masuk tenda membuat gadis itu mengerang—belum lagi Prompto meneriakkan namanya begitu lantang.
"Talcott menghubungi katanya adikmu sudah lahir!"
"Adik?"
Membuka mata dengan enggan, putri kristal tersebut mengerutkan dahi, menyipitkan mata seraya mencerna pernyataan sang Argentum.
"Eira sudah melahirkan. Ternyata lebih cepat satu minggu dari prediksi."
Setelah alunan suara Scientia merambati indera pendengarannya, merah muda itu terjaga sepenuhnya. Ia yang tadi masih melingkar memeluk lengan Gladiolus segera saja menyentak, bangkit sembari memasang wajah tercengang.
"ADIK!" Gadis itu memekik, otaknya telah berhasil mencerna seluruh perkataan kedua temannya yang kembali begitu cepat. Tak kuasa menahan rasa keterkejutannya saat mendengar kabar bahagia itu, Crystal segera berlari, mengemasi barang-barangnya. "Kita harus pulang sekarang!"
"Aku sudah meminta ke Aranea. Kita akan pulang satu jam lagi. Berkemaslah."
"Tidak jadi tidur, putri?" Perisai rajanya yang telah bangkit dan meletakkan bukunya mengerling jahil.
"Bagaimana bisa aku tidur!"
Ya. Bagaimana bisa ia tertidur setelah Ignis mengatakan bahwa mereka hanya memiliki waktu satu jam untuk membenahi seluruh barang bawaan mereka. Selain itu, degup jantungnya sejak tadi juga bertabuh begitu kencang dan rasa suka cita hadir tak tertahankan menjadikan kantuknya hilang tanpa sisa.
Apakah perasaan tak nyamannya tadi adalah karena wanita yang telah resmi menjadi ibundanya tengah berjuang di antara hidup dan mati untuk melahirkan adik-adiknya?
"Crystal, daemon di area Niflheim sudah terkendali. Yang kemarin kita buru adalah yang terakhir masuk ke dalam kategori membahayakan. Sisanya tidak begitu banyak mengepulkan miasma dan bisa ditangani oleh pasukan Aranea dan juga Loqi."
Pergerakan sang gadis terhenti begitu saja saat Ignis membacakan laporan kepada dirinya. Ia berbalik, memandang pemuda itu dan menghela napas lega.
"Rune-rune milikmu juga masih menguarkan cahaya seperti biasa. Jadi, kita bisa meninggalkan Niflheim dengan tenang!"
Merah muda itu menangkap binar di biru cantik milik sahabat pirangnya. Senyuman menghiasi wajah manis pemuda tersebut dan menghadirkan kelegaan teramat sangat di dalam rongga dada Crystal. Ia mengangguk, menggesturkan terima kasih atas berita yang disampaikan.
"Terima kasih atas informasinya Ignis, Prompto."
"Sama-sama!" Prompto menjawab dengan lantang dan tentu saja masih memamerkan deretan gigi putihnya. "Aahh...kembali lagi ke soal adikmu, aku tidak sabar ingin bertemu! Kira-kira shogun memberi nama siapa, ya?"
Crystal menengadah, mengerutkan dahi dan kemudian sedikit melemaskan bahunya.
"Kuharap yang memberi nama adalah Eira bukannya papa. Nanti namanya seperti aku...Crystalcrown. Aku ingin mereka mendapatkan nama yang keren!"
Kedua pemuda Argentum dan Amicitia mendadak tertawa mendengar komentar putri jenderal Crownsguard tersebut—sedang Ignis hanya mengulum senyum, berusaha tidak terkekeh seperti kedua temannya yang lain.
"Kalau tidak salah arti namamu adalah mahkota jiwa dari kristal, kan? Itu nama yang keren!" Prompto berkata disela-sela tawanya.
"Shogun sudah memikirkan nama itu susah-susah untukmu, Crystal." Ignis menambahi.
"Nama yang bahkan tidak bisa Noctis-ouji dan aku sebut saat masih kecil."
Ignis yang sejak tadi berusaha tetap tenang mendadak meloloskan tawa tertahannya begitu saja. Pemuda itu menutup mulutnya ketika kenangan saat usianya delapan tahun tiba-tiba saja hadir terproyeksikan dalam benaknya. Kekehannya berderai, mengundang sang merah muda yang menyadari memajukan bibirnya tanda kesal—serta memberi rasa penasaran di dalam hati Prompto dan Gladiolus.
"Ignis sampai tertawa seperti itu. Memangnya kau memanggil namamu siapa saat itu?"
Pemuda yang sedang memiliki kedekatan khusus dengan wanita Highwind tersebut benar-benar sangat merasa ingin tahu. Pasalnya, penasihat raja yang selalu tenang tiba-tiba saja terkikik geli. Pastilah hal tersebut teramat sangat bodoh.
"...Kurikon...Onis..." Dengan enggan sang oracle menjawab pertanyaan Prompto, menyebabkan Ignis semakin tidak lagi bisa menyembunyikan tawa—pemuda itu semakin menutup mulutnya. "Ignis! Kau terlalu heboh tertawa!" Gadis itu bersungut kesal.
"Hahahaha siapa itu Kurikon Onis!"
"Pantas pangeran kita memanggilmu Kuri."
Benar saja. Kedua temannya yang lain juga turut menertawakan dirinya dengan gaduh. Wajah cantik itu dipenuhi warna merah muda manis, mengisyaratkan rasa malu yang membuncah di dalam diri.
"Itu karena dia saja yang bodoh!" Crystal berusaha membela diri.
"Tapi sampai umur lima tahun kau juga memanggil Noct dengan Noji." Ignis yang telah berusaha menormalkan dirinya kembali mendadak membuka mulut.
"Eh? Apa itu Noji?" Tanya Prompto semakin penasaran.
"Noctis-ouji."
"Aaaa tidak perlu ditambahkan, Ignis!"
Crystal menaikkan sedikit nada suaranya sembari mendelik ke arah Ignis yang masih juga mengulum senyum, masih berusaha meredam rasa geli akibat kejadian beberapa belas tahun silam yang tidak pernah gagal menggelitik perut pemuda tersebut lagi dan lagi.
"Apakah genetik? Genetik Lucis Caelum tidak bisa menyebutkan nama orang dengan benar?" Prompto tertawa terbahak.
"Crystal berhati-hatilah. Anakmu dan Noct nanti pasti akan lebih parah."
"Gladiolus! Sejak tadi kau selalu saja!"
"Aku hanya mengatakan kenyataan."
Pemuda tinggi itu menggendikkan bahu, mengerling jahil melihat sahabat perempuannya kembali menampakkan wajah merahnya seperti saat tadi ia menggodanya. Cantik wajah itu dipenuhi emosi kesal dan juga malu, memberikan rasa senang menghampiri putra Clarus tersebut.
Sedang yang dijahili menghela napas dan berusaha untuk tidak menghiraukan lagi karena menyadari bahwa jika ia kembali membuka mulut untuk membalas kata-kata sang perisai, maka ia pasti akan kembali digoda habis-habisan. Karenanya, gadis tersebut bungkam beribu bahasa, kembali mengemas barang-barang secepat yang ia mampu.
Detik demi detik itu pergi, menimbulkan bunyi untuk memecah gemuruh kencang yang ada di dalam rongga dada sang merah muda. Gadis itu terus memfokuskan diri membenahi seluruh perlengkapan miliknya dan ketiga kawannya sampai tiba waktu mereka pulang.
Ketiga kawan lelakinya tak lagi mengganggu. Gladiolus memilih untuk menjatuhkan perhatiannya ke buku sampul hijau yang belum selesai dibaca, Prompto yang biasanya berisik terlihat sibuk dengan kameranya, dan Ignis, pemuda tersebut lebih memilih untuk memandangi senja dari balik jendela pesawat hitam yang mengantarkan mereka kembali ke Lucis.
Berada di dalam pesawat milik Aranea dan mendengar deru mesin yang melaju menjadikan gadis merah muda di sana semakin tenggelam dalam pemikirannya. Benak milik sang oracle melayang-layang, terlihat termenung dengan bibir yang tetap memerlihatkan senyuman manis.
Degup jantungnya sejak beberapa jam lalu tak berhenti memainkan melodi suka cita, membuat sorot matanya melembut. Telinganya berdenging ketika ia terus menerus mengulang berita bahagia yang tadi disampaikan kedua sahabat pirangnya.
Ayahandanya berhasil membangun keluarga seutuhnya...
Di luar kendalinya, sang gadis mengepalkan sebelah tangan, merasakan ada satu sentimen manis datang menghimpit hatinya. Senyuman belum juga pudar dari bibir ranumnya, malah, mungkin semakin terlihat jelas.
Degup yang tadi bergemuruh gaduh kini memainkan melodi kegembiraan yang lembut, terasa manis sampai mungkin saja dapat ia kecap oleh indera perasanya. Saat ini ia direngkuhi oleh afeksi hangat setelah mengetahui seorang pria yang menyayanginya begitu tulus menemukan kebahagiaan.
Pria itu adalah pria yang memberikan seluruh kasih kepadanya tanpa syarat, yang suka rela memberikan cinta bertubi-tubi tanpa memerdulikan hubungan darah. Pria tersebut adalah pria yang selama ini selalu hidup dalam kesendirian, terlalu takut untuk menggapai kebahagiaan karena dibayang-bayangi oleh kematian.
Pria itu adalah sosok yang sejak kecil ia anggap sebagai ayahandanya, yang ia sayangi tanpa mengetahui bahwa mereka tak berbagi darah. Pria tersebut adalah salah satu orang yang sangat dicintainya, yang selalu ia doakan kebahagiaannya dari lubuk hati yang terdalam.
Dan...di hari ini doanya seperti utuh sempurna, dikabulkan oleh dewa karena ayahandanya telah benar-benar berhasil dilimpahi suka cita. Wanita yang telah menjadi ibundanya melahirkan, memberikan keluarga sebenarnya kepada sosok pria nomor satu di hidupnya.
Keluarga sebenarnya...
Pria Leonis tersebut akhirnya mendapatkan keluarga sesungguhnya, yang diikat oleh hubungan darah dan bukan lagi kepalsuan belaka. Sang pria dapat merasakan rasanya menjadi ayah yang sebenarnya. Hubungan itu adalah hubungan yang nyata, bukanlah lagi kepura-puraan yang awalnya ada karena perintah seseorang.
"Crystal..."
Gadis tersebut nanap, menoleh ke arah pemuda Scientia yang tadi memanggil namanya dengan pelan. Ia memandangi pemuda tersebut selama beberapa menit dan sekali lagi terkesiap saat menyadari ada kilau pedih yang mengalir membasahi pipinya—tadi Ignis menunjuk pipi itu.
Ia tersenyum simpul, berusaha memberitahukan sahabat cerdasnya bahwa ia baik-baik saja. Padahal ia diliputi oleh kebahagiaan luar biasa, tetapi tetap saja ada negatif yang hadir menodainya. Apakah ini efek tercemar starscourge?
Menghela napas perlahan, Crystal yang telah menyeka air matanya menghirup udara dalam-dalam. Berusaha menguasai dirinya kembali guna menghilangkan rasa pedih yang tiba-tiba saja datang mengetuk pintu hatinya.
Ia tidak ingin keluarganya itu melihat dirinya menangis di hari bahagia ini. Ia harus bisa memberikan senyuman terindahnya, menyambut dengan sosok Crystal yang riang gembira.
Dalam diam gadis tersebut melangkah, menuruni pesawat yang baru saja mendarat di dekat Cauthess of the Disc, tepatnya di kawasan Coernix Station. Melambaikan tangan kepada Biggs dan Wedge yang berbaik hati mengantarkan ia dan kawan-kawannya kembali ke rumah mereka, ia segera mengikuti pemuda pirang kusam menuju mobil yang terparkir di outpost itu.
Ia biarkan Ignis memegang kendali kendaraannya sedangkan ia sendiri duduk di belakang pemuda tersebut. Laju kendaraan yang memecah sunyi malam hari menjadi satu-satunya yang memecah keheningan empat sekawan tersebut. Perjalanan mereka menuju ke Lestallum tidak dihiasi oleh gelak tawa seperti seharusnya. Semuanya karena ketiga kawan mereka tahu bahwa sebenarnya Crystal tengah dirundungi satu sentimen negatif dan mereka memilih untuk bungkam, menghargai gadis itu.
Satu jam yang dihabiskan dari outpost tersebut menuju Lestallum terasa sangat singkat dan Crystal merasa kakinya semakin terasa berat terhitung sejak ia menginjakkan kaki di lahan parkir kota tropis tersebut.
"Iris mengabarkan bahwa Eira sudah berada di rumah."
Itulah kata yang mendorong dirinya untuk tetap melanjutkan langkah menuju rumah bertingkat yang berada di sisi kanan Lestallum—jika dilihat dari arah parkir. Ia telah kembali menginjakkan kakinya di sini dan seketika rasa degup suka cita di dalam hatinya berganti oleh denyut pedih.
Mengepalkan tangan dan merapatkan jubah panjangnya, ia mantapkan hati untuk membuka pintu dan masuk ke rumah keluarga Leonis—rumahnya.
"Crystal, selamat datang kembali. Eira ada di atas bersama dengan shogun."
Crystal mengangguk mendengar informasi Iris. Ia membuka jubahnya dan ia gantungkan di rak mantel dekat pintu masuk. Beberapa kali ia terlihat menghirup udara dalam-dalam sebelum membuangnya kasar. Sungguh, berada di rumah ini semakin membuat hatinya terasa mengganjal.
Tetapi ia telah berikrar untuk menjadi seorang Crystalcrown Leonis seperti dahulu kala. Maka, ia paksakan kedua sudut bibirnya tertarik membentuk lengkung penanda kebahagiaan. Ia melangkah, meninggalkan ketiga teman lelakinya yang memutuskan untuk menunggu di bawah.
Bunyi derit lantai kayu yang telah lama tak didengarnya seolah menusuk-nusuk hatinya dan semakin ia mendekati kamar milik ayahanda dan ibundanya, semakin sulit pula ia melangkah. Namun ia tetap memaksakan diri. Ia harus menyambut, ia harus melihat calon penerus Leonis baru yang telah didamba-damba oleh kedua orang tua angkatnya.
"A-aku pulang."
Ia membuka mulut dan mendapati hitam dan biru memandangnya dengan tatapan sedikit terkejut sebelum kemudian melembut.
"Selamat datang kembali, Crystal. Masuklah."
Gadis itu mengangguk, semakin melangkah ke dalam ruangan luas tersebut. Sekali lagi, ia harus merasakan langkah kakinya semakin memberat ketika indera penciumannya menangkap bau lembut asing yang belum pernah dihirupnya.
"Mereka ada di sana, sedang tertidur."
Napas sang gadis seketika tercekat ketika satu merah mudanya menangkap dua sosok bayi bersurai coklat seperti milik ayahandanya. Katup bibirnya sedikit terbuka, menampilkan cerah karena sosok itu terlihat begitu takjub melihat putra dan putri kembar orang tua angkatnya.
"Mereka...lucu sekali…"
Suara itu mengalun lemah dan bergetar. Crystal semakin mendekat, berusaha untuk melihat kedua makhluk tak berdosa yang tengah tertidur dalam kedamaian. Tanpa disadari gadis merah muda itu, tubuhnya bergetar dan sentimen-sentimen perih semakin menggerogoti hatinya.
"Kau mau menggendong adik-adikmu?"
Merah muda tersebut terkesiap ketika ia dengar suara lembut wanita bersurai hitam legam yang tengah terduduk di atas ranjang. Dengan segera ia berbalik, menggeleng sebagai bentuk penolakan. Ia...terlalu takut untuk menyentuh bayi yang masih suci tersebut dengan kedua tangannya yang kotor.
"Tidak. Aku tidak bisa."
"Kenapa? Padahal mereka pasti senang digendong oleh kakak perempuan mereka."
"Eira, aku bukan—"
"Kau...sudah tumbuh besar, Crystal."
Gadis merah muda itu sedikit bereaksi ketika suara berat pria empat puluh tujuh tahun itu menggelitik indera pendengarannya. Tanpa diinginkan gadis tersebut, sesuatu hadir jatuh dari sebelah matanya. Mengalir turun, terkilau oleh cahaya lampu di dalam ruang itu.
Netranya bergulir, mengikuti pergerakan lambat sang pria yang meraih salah seorang bayi yang terbalut selimut berwarna biru. Netra pria itu tertambat selama beberapa detik ke sosok mungil dalam dekapannya sebelum kemudian beralih untuk bersirobok dengan merah muda dan kelabu yang dipenuhi oleh emosi-emosi pilu.
"Kenapa kau mengatakan itu, papa?"
"Karena saat melihat mereka, aku teringat dirimu. Saat aku menggendong mereka seperti ini, aku ingat bagaimana mungilnya dirimu dulu." Cor berkata, melafal dengan begitu tegas namun dipenuhi oleh kelembutan ditiap hembusannya. "Terima kasih telah hadir di dalam hidupku."
Tak kuasa mengendalikan seluruh perasaannya, Crystal harus merelakan sudut bibirnya yang tadi ia paksakan tertarik, memudar dalam sekejap mata. Kelopaknya turun, menyembunyikan permatanya yang diliputi oleh kepedihan luar biasa. Bibir gadis tersebut bergetar, meloloskan isak kecil yang hadir karena kata-kata terakhir milik ayahandanya.
"Cor, kau membuat Crystal-nee menangis."
Alih-alih berhenti menangis, sosok merah muda tersebut malah semakin terisak ketika ia rasakan tangan lembut Eira menyentuh punggungnya. Tubuhnya bergetar, tak kuasa menahan rasa haru dan bahagia saat mendengar kata demi kata yang diluncur kedua orang berharga dalam hidupnya.
"Putriku...jadi gampang menangis."
"Sejak ia mengenal rasa cinta."
"Eira..."
Eira sedikit tertawa melihat gadis yang telah menjadi putrinya ini tertawa kecil di sela-sela isak tangis karena ucapannya tadi. Ia semakin mengelus punggung sosok rapuh itu, berusaha berkata kepada Crystal bahwa seluruh kegundahan yang dirasakan sosok tersebut tidak diperlukan. Sekalipun sang gadis tidak memiliki darah dengan mereka, merah muda tersebut tetap merupakan anak mereka. Sosok terpenting yang kehadirannya tidak dapat digantikan oleh siapapun di dunia ini.
Heallint dua puluh tiga tahun di sana melirik suaminya, mengangguk kecil untuk mengisyaratkan agar pria itu mendekat dan menyerahkan bayi dalam dekapannya ke putri mereka.
"Crystal, berikan nama untuk mereka."
Gadis yang telah menggendong salah satu adiknya tersentak. Surainya yang terikat satu menari kasar saat ia menoleh untuk bertemu pandang dengan wanita yang telah menjadi ibundanya. Tatapan memancarkan ketidakpercayaan teramat sangat.
Ia tidak salah dengar?
"Aku? Tidak."
"Tapi aku dan Cor sudah setuju kau yang menamakan."
"Aku tidak bisa melakukannya."
"Kenapa? Kau kakak mereka. Mereka pasti senang mendapat nama darimu."
"Ini anak pertama kalian, aku tidak bisa."
"Crystalcrown, Eira dan aku ingin kau yang menamai mereka."
Crystal mengerjap, tak tahu harus menampakkan raut wajah seperti apa saat ini. Ini adalah kemewahan bertubi-tubi. Ia yang selama beberapa tahun ini selalu diberikan kesialan yang meremukkan jiwa tak lagi paham harus bereaksi seperti apa di atas kebahagiaan ini.
Ia...merasa tidak pantas menerima segalanya. Ia bahkan merasa takut jika apa yang telah dipertahankan hatinya remuk karena ia kembali mengecap suka cita.
Ia...telah memutuskan untuk berjalan dalam kesakitan...
"Aku tidak sabar mendengar nama mereka."
"Aku—aku boleh memberikannya?"
Gadis merah muda itu bertanya dengan nada kecil, sepertinya masih belum percaya dan ingin memastikan sekali lagi bahwa ia layak memberikan nama bagi makhluk-makhluk tak berdosa ini.
"Tentu saja! Kami akan sangat senang." Eira tersenyum manis sekali. "Ya kan, Cor?"
"Betul."
Merah muda dan kelabunya terjatuh, menatap sosok lucu di pelukannya lekat-lekat tanpa berkedip. Ada beribu-ribu sentimen yang hadir merengkuhnya saat melihat salah seorang adik kembarnya yang masih tertidur damai dalam dekapannya. Tanpa diinginkannya, mendadak seluruh runtut kisah hidupnya terproyeksikan secara cepat dalam benaknya.
"Rei dan Reira."
Setelah terdiam selama beberapa menit, putri kristal tersebut membuka mulutnya, melafalkan nama yang terbesit dalam benaknya sembari tersenyum simpul. Detik berikutnya indera pendengarannya menangkap ada tawa simpul dari wanita Heallint di sebelahnya.
"Gabungan namaku dan Cor?"
Mau tak mau Crystal ikut tertawa kecil setelah mengetahui Eira menyadari asal usul nama pemberiannya. Padahal ia ingin adik-adiknya mendapatkan nama yang keren, tetapi sepertinya ia sama seperti ayahandanya; hanya bisa memikirkan nama simpel dan sederhana.
"Benar." Crystal mengangguk. "Rei akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan Reira akan tumbuh menjadi bunga yang cantik."
"Seperti Ignis dan Crystal?" Goda wanita itu.
"Eira, berhentilah menggodaku—Rei baru saja menggenggam jemariku!"
Kalimat pertama sang oracle terabaikan begitu saja ketika ia rasakan jari telunjuknya digenggam kuat oleh bayi yang baru saja ia berikan nama. Ia hampir memekik, memberitahukan kepada kedua orang terpentingnya bahwa salah seorang adiknya yang lain menunjukkan reaksi terhadap nama yang diberi.
Tanpa disadari, leleh haru kembali hadir membasahi wajah cantik itu. Ia menunduk, menempelkan hidungnya ke dahi sang bayi lelaki yang masih tertidur.
Betapa ia sangat bahagia hari ini, betapa ia sangat menikmati kedamaian dan kemewahan yang hadir ini. Ia sesungguhnya tahu bahwa ketenteraman ini tak akan berlangsung lama, tetapi, untuk saat ini saja...ia ingin agar waktu berhenti.
Ia ingin agar hari-hari indah ini terus bergulir. Walau ia tahu...kebahagiaannya akan terenggut sebentar lagi.
xXxCrystallo FiliaxXx
Merah muda dan kelabu diarahkan lurus ke atap bumi yang tercoreng oleh belang. Kedua bola kaca tersebut memerhatikan baik-baik kapas langit berwarna putih yang sekali lagi harus ternodai oleh pekat.
Kedua permata milik sang gadis merah muda itu terkilau oleh kemurkaan yang teramat sangat dalam. Sosok tersebut menguarkan aura menyeramkan karena mendapati apa yang dipertahankannya selama setahun lebih ini luluhlantak tanpa berhasil ia cegah.
"Crystal..."
Sang gadis yang disebutkan namanya tadi tak bergeming. Ia tetap berdiri kaku di tempatnya berpijak, menautkan jemari erat sembari menyerap kotor di tempat yang menjadi tempat singgah pertama ia dan keluarga kecilnya beberapa tahun silam, Hammerhead.
Pemuda berkepala cerah yang tadi memanggil gadis tersebut merasakan cemas luar biasa. Ia hendak mendekat, tetapi langkahnya terhenti karena ia tahu ritual penyucian tersebut tak boleh diinterupsi oleh siapapun. Biru cantiknya bergulir, menatapi penasihat dan perisai raja yang hanya berdiri kaku beberapa langkah di belakangnya.
Ia melekatkan pandang, berusaha meminta pertolongan agar kedua pemuda tersebut menghentikan Crystal yang telah dua malam tidak tertidur demi membersihkan langit Eos yang mulai terjamah oleh kepul kotor lagi. Akan tetapi, kedua temannya tidak melakukan apapun melainkan hanya terdiam kaku, tak bergerak sama sekali, menjadikan diri sang Argentum mendesah kasar dan mengacak surainya.
Jika dilihat secara sekilas, gadis dua puluh dua tahun tersebut seperti sedang menjalankan kewajibannya seperti biasa. Berdiri di tengah-tengah Hammerhead yang tak lagi berpenghuni karena seluruhnya telah diungsikan ke outpost terdekat, menyerap kotor yang mengepul di cakrawala.
Sayangnya, mereka yang mengetahui kebenarannya tidak bisa mengatakan bahwa ritual ini seperti biasanya. Gadis yang masih berdiri di sana nampak panik, tak sabaran dan kehilangan tenangnya untuk menyucikan langit.
Enam bulan telah berlalu setelah mereka kembali ke Lucis, menemani sang oracle pulang dan menemui adik-adik sang gadis yang baru saja dilahirkan ke dunia. Hari-hari yang mereka jalani terasa begitu damai dan singkat. Sekalipun starscourge memang masih merajai Eos, bulan demi bulan yang dilalui masihlah dipenuhi oleh senda gurau dan tawa yang berderai.
Tetapi, tiba-tiba saja seluruh kedamaian itu terenggut sangat cepat ketika kabar mengenai menggelapnya langit Insomnia terdengar. Mereka yang memang diperintahkan untuk terus memantau perkembangan Eos memberitakan bahwa tempat kelahiran sang oracle dan rekan-rekannya tak lagi tertembus oleh terik rawi.
Bahkan, akibat menghilangnya kemilau surya dari kota yang tak pernah tertidur itu, Hammerhead yang hanya berjarak sekitar enam jam juga turut terkena borok. Satu persatu para penghuni tempat tersebut berjatuhan, tumbang terkena kotor milik pria yang terus menerus dicari oleh empat sekawan tersebut.
Mendengar laporan salah satu hunter itu menjadikan murka hadir menggerogoti hati sang gadis Leonis—semakin menjadi-jadi setelah mengetahui bahwa Cidney dan Cid turut terkena wabah tersebut. Tanpa menunggu lebih lama, oracle merah muda segera saja melesat ke Hammerhead dan menyembuhkan orang-orang malang yang terjangkiti.
Setelah melakukan tugasnya, ia menitahkan mereka yang berada di sana untuk mengungsi terlebih dahulu ke outpost terdekat sampai ia berhasil membersihkan kotor yang turut mencoreng langit tempat itu.
Maka di sinilah ia sekarang, memaksakan diri terus menerus menyerap miasma yang mengepul di atas sana tanpa sedikitpun beristirahat. Tak sekalipun ia hiraukan kelukur yang hadir menyayat raganya, tak sekalipun ia indahkan rasa letih yang menghantui dirinya. Fokusnya hanyalah satu. Ia ingin segera mengembalikan ketenteraman di dalam tempat ini.
Namun sayangnya keinginannya tak berbanding selaras dengan kenyataan. Semakin ia serap kotor tersebut, semakin parah pula kepul yang hadir menutupi langit. Tubuhnya yang dipaksakan melakukan ritual tanpa beristirahat mulai terasa kebas. Rasa letihnya kian lama memberatkan raganya dan di hari kedua inilah Crystal memutuskan untuk menghentikan kegiatannya.
"Sial!"
Ia menjatuhkan tubuh ke atas tanah berdebu Hammerhead. Berdecak sembari tetap menatap langit yang masih terkotori oleh kepul kelabu yang membuatnya muak. Amarah hadir merengkuhi jiwanya. Ia merasa kesal, geram karena pria yang berbagi darah dengannya berhasil menguasai Insomnia dan membuat kotor itu turut merambat pula ke daerah Leide.
Menggertakkan gigi karena semakin terbutakan oleh emosi, gadis itu merentangkan tangan kanannya, memanggil bilah panjang pemberian Draconian. Ia bangkit secara kasar dan kemudian menghirup napas dalam-dalam sebelum menggenggam pangkal pedangnya dengan kedua tangan dan menancapkan benda tajam tersebut di tanah Hammerhead.
"Emaslah yang dapat menyucikan. Keluarlah dan berikan cahayamu."
Ia menuturkan rangkai kata doa yang terbesit begitu saja dalam benaknya dan memandangi dalam-dalam pedang panjang yang tengah mengeluarkan sinar keemasan di hadapannya. Surainya yang terikat satu berayun pelan ketika ia tengadahkan kepala, memerhatikan bagaimana cahaya oracle yang memang ia pindahkan ke pedang tersebut menghalau kelabu di atas sana.
Ia tahu cara ini hanyalah bersifat sementara karena cahaya tersebut terbatas—ia tidak bisa mengeluarkan cahaya sendiri sehingga sinar oracle yang dikumpulkannya memiliki keterbatasan—, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain. Daripada melihat Lucis kembali hancur karena starscourge melahap cahaya mentari tanpa melakukan apapun, lebih baik ia melakukan hal ini.
"Kita akan ke Insomnia."
Berpasang-pasang mata di sana seketika nanap saat mendengar perkataan sang merah muda. Mereka menunjukkan raut keberatan...tentu saja.
"Kau tidak dalam kondisi baik-baik saja, Crystal."
Scientialah orang pertama yang meluncurkan penolakan ke gadis itu. Ia mendekat, berusaha meyakinkan Crystal bahwa langkah yang ditempuh ini sangat tergesa-gesa.
"Ardyn telah berhasil menggelapkan Insomnia, Ignis. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak sampai kotor itu hilang dari rumah kita."
"Tapi kau baru saja selesai menyucikan Leide."
"Aku belum membersihkannya dan tidak akan bisa bersih sampai Insomnia kumurnikan."
Gadis itu menghela napas, menepuk-nepuk lutut dan juga bagian belakang tubuhnya yang kotor. Sembari membetulkan ikatan surainya yang sedikit longgar, gadis itu menatap hijau sang pemuda yang memandanginya dengan tatapan cemas. Tetapi ia tidak menghiraukan. Keputusannya telah bulat dan ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan tangki pengisian bahan bakar kota tersebut.
"Kau mau ke mana?"
Gladiolus dengan sigap menahan lengan gadis yang tiba-tiba saja berjalan meninggalkan Ignis. Emas dan merah muda beradu, saling berkata melalui sorot yang muncul.
"Insomnia. Kalau kalian tidak ingin ikut, aku akan pergi sendiri."
"Kau tahu kau tidak sedang menjadi dirimu yang biasanya?"
"Bagaimana bisa aku tenang jika yang kulakukan selama ini bisa dihancurkan dengan mudah oleh pria itu?!"
"Tapi kau akan mencelakakan dirimu!"
"Crystalcrown, starscourge sedang menguasai dirimu."
Mendengar perkataan pembimbing yang sejak awal memang selalu berada di sampingnya, membuat Crystal menegang. Berliannya yang tertutupi kabut bergerak ke sosok wanita yang telah berdiri di samping Gladiolus. Seketika itu pula sang gadis mendecih dan dengan cepat menyentak tangan perisai raja yang masih memeganginya.
Kakinya yang tak jenjang segera dibawa berlari menuju kendaraan pribadinya. Tangannya yang terbalut sarung tangan berwarna hitam menyentuh handel pintu, membukanya cepat dan menutup pintu itu kencang-kencang.
Crystal yang telah mendudukkan diri di kursi pengemudi meremas kendali mobil kuat-kuat. Bibirnya tergigiti kencang dan sosok tersebut menjatuhkan dahinya ke sudut benda melingkar di hadapannya. Degup jantung miliknya semakin tak beraturan dan ia tahu cahayanya belum sepenuhnya meredup. Diangkat sedikit kepalanya dan nanar menyelimuti sebelah mutiaranya kala mendapati hitam yang terlihat jelas di bawah kulit pucatnya.
Gigitan di bibirnya semakin menguat, dibiarkan perlakuannya itu membuat luka dan menciptakan rasa perih agar ia bisa kembali menguasai dirinya yang digelapkan oleh emosi. Hatinya menjerit, tersakiti karena satu kenyataan pahit lain yang baru saja dilantangkan Gentiana tadi.
Di dalam tubuhnya sekarang, starscourge yang diserapnya lama-lama menumpuk sehingga ia menjadi pribadi yang mulai tak mampu mengontrol emosinya kembali.
Remasan di kemudi tersebut semakin kencang dan ia hantamkan dahinya ke benda keras tersebut. Ternyata, proses pemurnian yang selama ini ia banggakan hanyalah sesuatu untuk menekan, bukan menyucikan. Hitam yang ia pindahkan ke dalam tubuhnya tidak sepenuhnya menghilang. Sinar oracle milik ibunda kandungnya nyatanya hanya bertugas untuk membenamkan, bukan menghilangkan.
Inikah maksud Bahamut ketika ia sempat mengatakan ingin mengorbankan diri demi menyelamatkan Noctis?
Inikah maksud Bahamut yang menyuruhnya untuk tetap memenuhi panggilan tanpa melakukan penentangan agar petaka lain tak datang?
Petaka...yaitu adalah ia yang semakin lama akan menjadi seperti Ardyn…
"Crystal."
Tiba-tiba saja pintu mobil itu terbuka dan Crystal mendapati adanya hijau teduh yang menatapnya lekat-lekat. Sang gadis segera mengalihkan pandang, menjatuhkan kembali penglihatannya ke kemudi kendaraan di hadapannya. Rasa bersalah hadir merengkuh raganya...kesadarannya mulai kembali setelah ia menenangkan diri sendiri.
"Maafkan aku."
Hanya itulah yang dapat diucapkan oleh sang gadis ke teman sepermainannya yang masih berdiri di sana. Untai kata itu dihembuskan begitu pelan, mungkin terdengar sebagai cicitan yang ditujukan untuk penuturnya seorang.
Ignis yang masih berdiri di samping gadis itu menghela napas. Ia yang tadi bersidekap membetulkan kembali letak kacamatanya yang sedikit turun.
"Aku tahu kecemasanmu. Tapi apakah kau tahu ini akan membahayakanmu?"
"Aku sepenuhnya paham ini akan berbahaya. Tapi aku tidak bisa berpangku tangan, Igg. Cepat atau lambat aku harus menghadapinya." Gadis itu semakin menundukkan kepala. "Aku harus ke Insomnia."
Scientia tersebut sekali lagi menghela napasnya dan kali ini terdengar begitu panjang. Ia tahu jika oracle-nya ini telah mengambil satu keputusan, tidak akan ada yang bisa mengubahnya—bahkan ia tidak bisa lagi membujuk gadis itu. Karenanya ia menyerah. Ia akan menuruti keinginan calon ratunya ini.
Melirikkan sedikit hijaunya kepada dua orang rekannya yang masih berdiam diri cukup jauh, mengisyaratkan kepada mereka untuk segera memasuki mobil, Ignis betulkan lagi posisi kacamatanya.
"Berjanjilah untuk tidak memaksakan diri." Pirang kusam itu akhirnya membuka mulutnya. "Aku yang akan mengemudi. Tidurlah, kumpulkan tenagamu."
Tundukan kepala sang gadis terangkat cepat dan penasihat raja itu melihat ada kilau tidak percaya yang hadir di merah muda tersebut. Detik berikutnya, sorot itu dipenuhi oleh binar kelegaan dan pemiliknya mengangguk mantap sebelum kemudian memindahkan tubuh ke kursi penumpang.
"Terima kasih, Ignis."
"Ignis kau terlalu memanjakan Crystal."
Pemuda Argentum yang telah mendudukkan tubuh di kursi belakang bersamaan dengan sang Amicitia melayangkan protes. Bibir pemuda manis itu sedikit dimajukan, merasa tak suka karena pemuda cerdas tersebut semudah itu menuruti kemauan Crystal yang membahayakan.
"Sudah mendarah daging." Jawab Scientia sembari menekan pedal gas. "Kebiasaan selama puluhan tahun bersamanya sulit dihilangkan."
Di samping pemuda pirang kusam itu, sang gadis merah muda yang tadi ingin terpejam sedikit meloloskan tawa. Ia melirik ke arah Ignis yang entah sudah keberapa kalinya membetulkan letak kacamatanya dan kemudian menoleh ke belakang, memertemukan pandangnya dengan emas dan biru rekannya yang lain.
Sudut bibirnya yang tadi tertarik pudar ketika ia lihat wajah kedua pemuda tersebut. Sekali lagi rasa tak enak datang mengetuk pintu hatinya yang telah berhasil ia kuasai. Bagaimanapun, ia baru saja melakukan sesuatu yang menyakiti kedua orang itu tadi.
"Maafkan aku, Gladio, Prompto. Aku—"
"Tunjukkan kau bersalah dengan tertidur dan mengumpulkan tenaga."
Gladiolus memotong perkataan tersebut. Emas cantiknya telah ia jatuhkan ke rentetan kalimat demi kalimat dari buku yang memang selalu dibawanya.
"Satu detik berharga untuk pemulihanmu, Crystal. Silahkan tidur dengan nyenyak."
Senyuman milik Leonis merah muda yang tadi sempat memudar kembali hadir setelah gadis itu mendengar jawaban kedua rekannya yang lain. Malu datang menghampiri dirinya karena tahu bagaimanapun ia menyakiti dan meracaukan sesuatu yang tak rasional, mereka akan tetap berada di sana dan menyokongnya.
Crystal mengangguk, kembali ke posisinya semula dan segera menutup kedua matanya. Sekuat tenaga ia mencoba untuk terlelap, tak menghiraukan bunyi-bunyi pertarungan milik ketiga kawannya yang kini tengah melawan blokade Niflheim—untuk mencapai Insomnia, mereka harus membersihkan pasukan itu terlebih dahulu.
Otot-otot di tubuhnya yang masih mengeluarkan cahaya berusaha ia lemaskan. Disandarkan kepalanya ke daun pintu mobil, ia rebahkan sedikit sandaran kursi di belakang tubuhnya. Ia harus tertidur, ia harus mengumpulkan tenaga sampai tiba di Insomnia nanti.
Napasnya diupayakan tertarik dan terhembus dalam ritme yang sewajarnya. Benaknya dibiarkan mengosong agar ia bisa sepenuhnya menikmati lelapnya. Akan tetapi, seluruh usahanya akan selalu berujung kepada kegagalan karena walau ia telah berhasil menuju ke alam tidur, ketenangan tidak mengiringi tiap hembus napasnya.
Dahi gadis tersebut berkerut, bulir dingin terlihat menghiasi pelipisnya yang tertutupi poni. Penggalan demi penggalan kejadian yang telah lama tak dilihatnya datang ke dalam bunga tidurnya. Itu adalah cuplikan skenario mengenai masa depan yang menunggunya.
Tetapi, bukanlah wajah sang raja cahaya yang akan menjemput ajal yang terproyeksikan di sana. Kali ini mimpi masa depan itu menampilkan wajah putra sulung keluarga Amicitia, sahabat pirang kusamnya, sang pria culas, dan juga dirinya.
Di luar kesadaran sang gadis, tangan kurus itu telah terkepal dan napasnya tak lagi berada dalam ketukan irama yang tenang. Mimpi yang menghampiri tidur singkatnya ini membuatnya dibanjiri oleh peluh, menjadikan beban semakin memberatkan kedua bahunya yang ringkih.
Di alam sana, Crystal melihat merah membanjiri sang perisai rajahitam menjangkiti diri sang pemuda Scientia, menggerogoti wajah tampan tersebut dan membuat temannya sedikit tumbang. Belum lagi ia dapati seluruh kulitnya dipenuhi oleh borok yang selalu ditakutkannya.
Tangan itu bergetar, dingin menghampiri sosok kurus tersebut dan mendekap kuat enggan melepaskan. Di dalam tidurnya, oracle merah muda semakin digerogoti oleh kecemasan luar biasa. Bahkan ia tidak menyadari bahwa telah ada leleh kesakitan yang mengalir dari sebelah matanya.
"Crystal!"
Ia terkesiap. Ruh yang tadi melayang-layang segera kembali ke dalam raganya saat gadis itu tersentak. Ia mengerjap, mendapati tiga pasang mata tengah menatapnya dengan tatapan khawatir. Napas itu masih tersengal dan Crystal merasakan kerongkongannya terasa begitu kering.
Penglihatan masa depan yang terbagi dari sang Draconian yang telah lama tak dilihatnya hadir kembali. Menjadikan rasa takut benar-benar mengaburkan ketenangan dalam dirinya.
"Kau mimpi sesuatu?"
Tak dapat gadis itu membuka mulut sebab tenggorokannya sangatlah kering. Karenanya gadis merah muda tersebut hanya bisa menjawab sembari mengangguk dan kemudian mengusap wajahnya untuk membuat dirinya sedikit lebih baik...sangat-sangat sedikit.
"Kita sudah sampai, Crystal. Kau baik-baik saja?"
Merah muda itu bergerak lambat dan menyapu lansekap familiar yang tersaji di depannya. Gedung-gedung yang koyak, jalanan yang dipenuhi oleh debu dan juga sisa-sisa kehancuran, kelam pekat yang menyelimuti menjadikan kota ini benar-benar seperti kota mati.
Membuka bibirnya yang tadi melekat rapat, Crystal menghirup udara dalam-dalam. Memasok oksigen untuk memenuhi dadanya yang masih bergemuruh tak tenang. Beberapa kali ia mengambil udara dan melepaskannya kembali, berusaha membuat ketakutannya melunak karena mimpi tadi.
Ia yang meminta untuk datang kembali ke tempat ini, ia yang memutuskan untuk menyerap kotor di langit kota kelahirannya ini, karenanya, ia harus menerima konsekuensi apapun yang akan menghadangnya nanti. Demi melindungi khalayak banyak, ia rela menanggung apapun yang akan melandanya...demi meringankan beban pemuda yang disayanginya.
Masih tak membuka mulut, Crystal turun dari mobilnya dan mulai melangkah ke jantung kota di mana beberapa belas bulan lalu pernah ia datangi. Kepalanya ditengadahkan, menatap gedung pencakar langit berwarna kelam yang melebur satu dalam gelap malam. Tangannya mengepal kuat, berupaya agar pertahanan hatinya tetap kukuh, tak lagi jatuh berserak—bagaimanapun, ia selalu merasa lemah tiap kali melihat tempat yang pernah menjadi rumahnya itu.
Langkah kakinya terhenti di tengah-tengah lingkaran yang berada tak begitu jauh dari tangga tinggi Citadel. Ia sekali lagi menghirup udara kumuh di sana sebelum menautkan jemari-jemari kurusnya. Tubuhnya menegak dan ia menengadah sembari menatap kelam langit yang diselimuti oleh kotor milik pria yang berbagi darah dengannya.
Sekali lagi gadis itu mencoba untuk menarik hitam yang berada di atas kepalanya, membersihkan agar noda itu tak kembali menyebar menggelapkan langit Eos dan memberi ketakutan tanpa dasar di hati orang-orang yang berhasil bertahan hidup.
Bibirnya kembali bergetar kala didapatinya wabah yang mengalir dalam dirinya ini terasa begitu perih tak seperti biasanya. Kelopaknya yang memang terjatuh untuk menyembunyikan berliannya semakin dipejamkan erat. Rintih kecil meluncur bebas tak berhasil diredam oleh gadis itu. Raganya terasa tersayat-sayat, seolah tertikam beribu belati yang sanggup membuatnya meringkuk karena kesakitan luar biasa.
Ia tak pernah merasakan perih sehebat ini. Apakah karena kotor milik pria itu benar-benar sangat pekat di langit ini?
"Oh...jadi begitu cara kerja kekuatanmu!"
Lantang nada suara milik seorang pria berwajah culas yang selalu mereka cari-cari keberadaannya menjadikan ketiga pemuda yang berada tak jauh dari gadis tersebut nanap. Jarak pandang mereka yang tadi lurus ke sang oracle menaik, mendapati calon raja gagal berdiri di anak tangga depan Citadel.
"Ardyn..."
Prompto mendesis, mengeluarkan senjata apinya setelah mendapati pria yang berdiri jauh di sana menyeringai menyeramkan ke arah mereka. Tetapi pergerakannya tertahan ketika Gladiolus merentangkan tangan, mengisyaratkan agar ia tidak melakukan sesuatu yang gegabah.
Biru cantik tersebut bertemu pandang dengan emas Amicitia sebelum kemudian dialihkan kembali ke sahabat merah mudanya yang masih menautkan jemari, tak menggubris pria tersebut.
"Apakah cahaya itu merupakan milik Aera?"
Detik berikutnya, napas sang pemuda bersurai pirang cerah tercekat ketika mendapati bahwa pria yang tadi berada di anak tangga Citadel mendadak telah berada di depan sang merah muda. Pria itu melakukan warp, mendekati calon ratu mereka dalam satu kedipan mata.
"Crystal!"
Prompto memekik sembari mengacungkan moncong senjatanya ke Ardyn. Bunyi letusan memecah keheningan sekitar Insomnia saat pemuda tersebut menarik pelatuk.
Gadis merah muda yang masih berdiri di tempatnya berpijak membuka kedua kelopaknya, menampakkan netranya yang menari simpul mengikuti arah terjatuhnya sang pria terkutuk. Sorot mata gadis tersebut begitu dingin dan wajah cantiknya sama sekali tak menampakkan satu ekspresi sedikitpun.
"Rosea, kau jahat sekali diam begitu saja melihat ayahmu ini terkena peluru."
Pemuda yang tadi meluncurkan serangan terbelalak saat melihat pria yang tadi ia yakini tertembak di kepala bangkit kembali. Wajah manisnya tercoreng oleh ngeri yang teramat sangat dan ia mundur sedikit ke belakang. Pria itu...benar tak bisa mati...
"Halo~ Rosea?" Ardyn membuka mulutnya kembali, melambai-lambaikan tangannya di depan wajah putrinya yang tak bergeming. "Kenapa kau diam saja? Ohh..." Tiba-tiba sudut bibirnya semakin tertarik ke atas, membuatnya terlihat mengerikan karena menyeringai. "...kau tidak suka dengan kejutanku?"
Tak mampu mengendalikan diri lagi, Crystal tiba-tiba saja melayangkan tinjunya. Air mukanya yang tadi dingin telah berubah, diliputi oleh amarah yang meletup-letup karena perkataan pria tadi. Dalam hitungan detik ia memanggil katana-nya, menghunuskan cepat ke arah pria Lucis Caelum yang secara refleks mundur dan tertawa.
"Aku hebat kan, bisa menyebarkan starscourge selama enam bulan ini dengan cepat..."
"Aku akan membunuhmu!"
Gadis Lucis Caelum itu semakin murka mendengar pernyataan pria di hadapannya tadi. Ia berteriak, menghantam tubuh pria tersebut dengan bilah panjangnya.
Sedang yang menjadi lawan bertarungnya semakin terbahak.
"Membunuhku? Kau tahu skenarionya tidak seperti itu!" Ardyn merentangkan tangan, mencekik leher putrinya yang masih menatap nyalang. "Hanya Noctis yang bisa membunuhku. Sekalipun kau bisa menyerap kotorku, kau tidak bisa membunuhku—argh!"
Secara refleks sang gadis yang tercekik menendang dada pria yang berbagi darah dengannya. Ia memundurkan tubuh menjauh, memberi jarak agar dirinya yang kini terbatuk-batuk bisa memenuhi rongga dadanya dengan oksigen kembali.
"Jangan mendekat! Kalian diam saja di sana!"
Mendadak ia menjerit, merentangkan tangan tanpa menoleh ke ketiga kawannya yang membeku karena perintahnya. Detak jantungnya memainkan melodi menyeramkan karena benaknya mendadak memutarkan kembali mimpi yang tadi datang menghantuinya.
Pedangnya berderak saat ia genggam erat senjata tajam tersebut. Ia tak ingin ada sesuatu menimpa kedua temannya seperti yang terlihat di dalam mimpinya. Karenanya, ia yang akan melawan pria kotor ini walau harus seorang diri.
"Segitu inginnya kau membunuhku, Rosea?" Ardyn menatap putrinya dari balik bola kaca emasnya yang kini terkilau oleh beribu sentimen yang hadir tak terelakkan. Ia perhatikan lekat-lekat sosok yang tak ia lihat pertumbuhannya, yang kini menatap nyalang ke arahnya. "...yang akan mati adalah kau karena Lucis Caelum akan punah demi melawanku."
Crystal berdecih. Sekali lagi ia melesat, mengayunkan pedang untuk menebas leher pria bersurai merah kusam tersebut. Tarian kematiannya diperlihatkan, secara membabi buta menyerang oponennya tanpa ampun.
Bunyi denting demi denting pedang yang beradu menjadi pertanda bahwa sang pria juga tidak ingin kalah. Kedua insan yang berbagi darah di sana saling melayangkan serangan, mengadu pedang mereka dan saling menendang satu sama lain.
Napas sang gadis terengah karena ia tahu bahwa kondisinya ternyata belum sepenuhnya sempurna. Meludahkan darah yang memenuhi mulutnya—ia terkena tendangan di perutnya—, Crystal sekali lagi menajamkan netra cantiknya. Gadis tersebut merendahkan tubuh, menghindari serangan Ardyn yang hampir mengenai bahunya. Saat berada di depan pria tersebut, ia mengangkat tubuh, menggasak oponennya dan menancapkan bilah panjangnya.
Tetapi, lawannya ini adalah seseorang yang abadi. Ia hampir memekik saat menyadari bahwa Ardyn semakin mendekat ke arahnya, tak sedikitpun memerlihatkan wajah kesakitan walaupun pedang yang tertancap di dada kian mendalam.
"Argh!"
Crystal memekik, harus merelakan tubuhnya terjerembab ke bawah. Menahan pedih di punggungnya, ia memegang tangan sang pria yang tengah mencekiknya lagi. Dengan sisa-sisa tenaganya ia mencoba untuk menyerap, membawa kotor pria itu ke dalam dirinya untuk dimurnikan.
Untuk dimurnikan...
Yang ia lupakan bahwa sebenarnya ia tak menyucikan apapun...
"Crystal!"
Ignis yang sejak tadi berjuang untuk tak melesat ke arah gadis tersebut tak lagi mampu menahan diri. Melihat gadis yang disayanginya berada dalam kondisi berbahaya membuat amarah seketika membuncah dan menggelapkan hati serta akal sehatnya. Kaki jenjangnya dibawa untuk melangkah, melesat mendekati ayah kandung gadis tersebut. Ia berteriak, menendang pria yang tak sempat menahan serangannya sebelum menancapkan senjatanya ke tubuh sang terkutuk.
Ardyn menengadah, mengerutkan dahinya sedikit saat melihat perubahan yang ditampakkan pemuda Scientia yang ia ketahui biasanya selalu tenang. Emas itu kemudian sedikit membulat ketika mendapati satu kenyataan lain yang membuat hatinya diliputi kesenangan. Detik berikutnya bibirnya melengkung sempurna, memerlihatkan seringai kejamnya entah sudah yang keberapa kalinya.
"Oh." Matanya menyipit sedikit. "Yang ini juga ternyata terkena juga walau sedikit."
Berpasang-pasang mata di sana membulat kaget ketika mendengar penjabaran yang diberi Ardyn. Dengan cepat gadis merah muda itu bangkit, menampilkan wajah tercengang luar biasa saat mengetahui bahwa Ignis ternyata terkena starscourge. Air mukanya menegang kala dilihatnya ada hitam samar yang muncul di bawah permukaan kulit teman sepermainannya.
Gadis itu merasakan napasnya tercekat dan kepalanya terasa pening. Ia yang selalu berada di dekat sosok tersebut tidak menyadari bahwa ada kotor menjangkiti diri sahabatnya. Mendadak benaknya memutarkan kembali runtut kejadian masa lalu, mencari-cari sejak kapan pemuda pirang kusam tersebut terkena wabah itu.
Detik berikutnya, tubuh kurus sang gadis membeku ketika keping kenangan saat ia berada di kota air beberapa tahun lalu terputarkan kembali tanpa cela. Wajahnya menampakkan raut tidak percaya, gemuruh dalam dadanya semakin kencang bertabuh.
Ia...pernah meniupkan sedikit ruhnya untuk menyelamatkan Ignis yang sekarat setelah memakai ring of Lucii...
Ia...yang memberikan kotor itu kepada sang Scientia...
Jadi...alasan pemuda itu juga pernah melakukan sesuatu tidak sesuai dengan akal sehat adalah karena ada kotor di dalam tubuhnya...?
"Ignis!"
Crystal terkesiap dari lamunannya saat pekik pemuda Amicitia terdengar memekakkan telinga. Mulutnya terbuka, nanap kala melihat pemuda yang tadi diteriakkan namanya tiba-tiba saja terpental jauh ke belakang.
"Gladio! Awas!"
Detik berikutnya, raga gadis itu seolah kehilangan seluruh tenaganya saat mendengar jeritan Prompto. Apa yang tadi hadir di dalam mimpinya sekali lagi menjadi nyata dan untuk kesekian kalinya ia tak bisa mencegah.
Di hadapannya, Gladiolus mengerang penuh kesakitan karena mendapatkan luka melintang di dadanya yang terekspos. Tubuh kekar tersebut dilumuri darah, membuat sang gadis semakin membeku tak mampu bergerak.
Ia...gagal lagi...
"Hahahahaha! Menarik! Kalian menarik sekali!" Pria merah anggur telah menghilangkan armiger-nya terbahak-bahak melihat pemandangan yang tersaji di depan kedua netranya. "Draconian! Skenariomu ini sangat menarik!"
Tiba-tiba saja pria itu melantang, berkata-kata kepada udara kosong di atas sana. Gelaknya semakin terdengar mengerikan, bahkan sang Argentum yang telah membidik pria tersebut hanya mampu terdiam sembari menahan rasa takut.
"Tapi, biarkan aku bertindak sesuai keinginanku satu kali ini saja—" Perkataan pria tersebut terhenti. Ia menoleh ke arah putrinya yang tengah menyerap kotor Ignis. Langkahnya sangatlah lambat, dibuat begitu mengintimidasi. Kemudian tubuhnya ia rendahkan, tangan kirinya membawa wajah itu menghadap ke arahnya. "Aku ingin putriku ini merasakan rasanya menjadi diriku. Silahkan, Rosea. Kau sangat menginginkan kotorku, kan? Tenang saja. Akan ayah berikan kepadamu."
Selepas pria tersebut menerbangkan kalimatnya, udara dingin yang mengepul di sana terpecahkan oleh laung sang gadis merah muda. Oracle tersebut terbelalak, menjerit-jerit begitu pilu setelah merasakan hitam merambat, mengalir dalam darahnya.
"Crystal! Sial!"
Prompto yang memang menjadi satu-satunya pemuda yang masih berdiri tegak segera menarik pelatuknya, menembaki sang pria yang tadi menyentuh dan mengalirkan hitam ke tubuh sahabat perempuannya. Tetapi usahanya tak membuahkan hasil apapun. Bahkan sampai pelurunya habis, pria tersebut hanya berdiri di sana sembari menampilkan senyum kemenangan.
"Aku tidak akan membunuhmu sekarang. Kau dan Noctis akan mati nanti. Sampai jumpa."
Dan itu adalah kata-kata terakhir yang didengar Prompto sebelum sang pria menghilang dari hadapannya.
xXxCrystallo FiliaxXx
Emas adalah satu warna agung yang hilang sebab bias cahaya indah tersebut terhalangi oleh kepul kotor. Noda yang menggulung-gulung di atas sana menutupi, menghilangkan kemilau milik rawi yang seharusnya menyapa permukaan bumi...lagi...
Biru yang dulu menghampar di atap dunia yang membentang tanpa batas pun sama, turut hilang karena coreng milik pria terkutuk. Cantik warnanya yang dahulu kerap terhiasi oleh emas dan putih menggelap, terhalangi kepul tak suci, memberi lagi ketakutan luar biasa pada masing-masing mereka yang berhasil bertahan hidup...lagi...
Terik yang sempat muncul tak lagi datang untuk menghilangkan gelita malam, biru tak lagi hadir menghiasi cakrawala. Warna-warna indah tersebut hilang seolah terserap noda yang merajalela, menjadikan waktu terhenti di keabadian malam...lagi...
Sesosok pria bersurai kusam menutup pintu begitu perlahan, berharap tak ada bunyi yang tercipta karena perlakuannya dan membangunkan sosok merah muda yang tengah terlelap di atas ranjang. Ia bawa dirinya mendekat, memandangi gadis yang tengah memejamkan mata di hadapannya. Sebelah tangannya ia angkat, ia bawa untuk mengelus pucuk kepala sahabatnya.
Dalam diam ia memandangi wajah cantik yang terlihat begitu damai dalam tidurnya. Hatinya sedikit terhimpit ketika melihat ketenteraman yang meliputi sosok tersebut, seseorang yang hanya bisa mendapatkan ketenangan ketika sedang memejamkan mata.
Scientia itu menghela napasnya, beranjak dari sisi sang gadis untuk berjalan menuju dapur kecil di dalam ruangan tersebut. Ia keluarkan bahan-bahan yang tadi dibawanya dan tangannya dengan cekatan meracik bahan mentah itu menjadi satu sajian hangat yang diperuntukkan untuk sang gadis...gadis yang pada akhirnya tak lagi mampu menghalau gelita, karena telah terkena borok milik pria terkutuk sepenuhnya enam tahun lalu.
Ya...tahun demi tahun telah berlalu dan menyisakan rasa pahit yang teramat sangat di dalam rongga mulut.
Pada enam bulan pertama setelah insiden Insomnia tersebut, sang gadis masih menjalankan tugasnya sebagai oracle. Sosok tersebut tetap menyembuhkan banyak orang yang terkena starscourge, tetap memertahankan agar miasma tak sepenuhnya menjamah langit. Akan tetapi, segalanya tak berjalan mulus seperti biasa.
Proses penyerapan gadis tersebut sangatlah lambat. Hitam yang diserap ke dalam tubuh kurus tersebut lama kelamaan menjadi tak mampu tertekan maupun terkontrol. Bahkan, akibat memaksakan diri, sosok yang seharusnya memindahkan wabah ke dalam dirinya malah memberi starscourge ke pasiennya.
Dan itu adalah awal mula gadis tersebut kembali 'rusak'.
Crystal tak lagi mampu untuk melakukan pemindahan wabah ke dalam dirinya karena cahaya oracle-nya benar-benar bekerja begitu lambat. Bahkan, setiap kali melakukan pemurnian, ia akan kembali menekan kotor itu dengan tubuh yang dibekukan oleh dewi es. Segalanya kembali ke titik awal, terjatuh kembali ke nol seperti awal mula gadis itu mencoba membangkitkan kekuatan.
Ada pula waktu ketika gadis itu tak lagi bisa mengeluarkan cahayanya. Ia yang terkena kontak dengan starscourge akan menjerit-jerit, menjambaki helaian mahkota panjangnya yang dibiarkan terurai begitu saja. Gadis tersebut sepenuhnya diliputi oleh kotor dan terkadang bertindak di luar kendali.
Ya...acap kali gadis itu melakukan sesuatu yang mampu membuat jantung ketiga teman lelakinya yang tetap setia berada di sisi gadis tersebut berhenti berdetak selama beberapa detik. Pertama adalah Crystal sering melukai dirinya sendiri untuk mendapatkan ketenangan. Gadis itu berkata bahwa dengan melihat darah merah yang mengalir dari tubuhnya ia merasa dirinya masihlah suci—membuktikan ia masih manusia, tidak seperti Ardyn.
Kedua, terkadang gadis itu akan berlari ke luar jika hujan turun. Selama langit menangis ia akan membeku di tempatnya berpijak, memandangi cakrawala yang mulai menggelap karena ketidakmampuannya untuk membersihkan. Gadis merah muda tersebut akan termenung di sana dan enggan beranjak sampai air mata bumi berhenti mengalir. Sosok tersebut berkata bahwa hujan seperti bisa menyucikan dirinya dan ia akan kembali 'bersih' karena terbasuh oleh leleh kepedihan atap bumi yang terjatuh begitu deras.
Dan yang terakhir adalah...tepat dua tahun lalu Crystal menusuk dirinya sendiri dengan pedang pemberian Draconian, pedang yang membantu menghalau kelam selama empat tahun silam di langit Hammerhead, benda yang tak dapat digenggam oleh sang gadis karena dirinya telah dipenuhi oleh kotor.
Dua puluh empat bulan yang lalu, putri kristal yang tak lagi mampu menjalankan kewajibannya mendekati pedang yang sudah meredup kehilangan cahaya suci. Kemilau emas cantik di pedang tersebut semakin melemah dan cepat atau lambat akan menghilang selama-lamanya.
Gadis itu menatap nanar bilah tajam yang selalu menolak untuk disentuh olehnya, seolah berkata bahwa ia tak lagi bersih dan terlalu hina untuk menggenggam benda tersebut. Dalam diam ia terus menerus melekatkan pandang ke benda pemberian maha agung kepadanya, benda yang menemani dirinya mengumpulkan cahaya-cahaya suci para oracle pendahulu.
Menghirup napas dalam-dalam dan membuangnya dengan teramat pelan, gadis tersebut tiba-tiba saja mengangkat tangannya, berusaha sekuat tenaga mengggenggam gagang bilah tajam. Laungnya terdengar, membahana mengotori udara kosong Hammerhead. Ia menjerit-jerit, merasakan hitam di tubuhnya bereaksi saat bertemu kontak dengan cahaya murni di dalam pedang tersebut.
Dan mendadak ia menancapkan pedang itu ke perutnya.
Kedua lelaki pirang yang baru saja kembali dari rapat bersama para segelintir hunter yang memang tengah berkunjung ke tempat tersebut segera menghambur, mencabut pedang tersebut dan menekan pendarahan sang gadis yang masih menjerit-jerit.
Denting bilah yang beradu dengan tanah kasar Hammerhead bersanding dengan teriakan beberapa orang di sana. Mereka menjauh saat melihat ada miasma yang sangat pekat menguar dari tubuh oracle mereka. Gadis itu dipenuhi oleh hitam yang mengalir mengotori diri, berubah menjadi sosok menyeramkan seperti pria yang berbagi darah dengannya. Bahkan luka menganga yang tadi ada di perutnya hilang, tertutup sendiri karena ia telah sepenuhnya terkontaminasi oleh wabah yang dahulu dibersihkannya.
Scientia dan Argentum yang melihat seluruh runtut kejadian tersebut merasakan lidah mereka kelu. Mereka tahu gadis itu berusaha melakukan apapun untuk membersihkan kotor di dalam tubuhnya—Crystal menancapkan pedang yang masih mengeluarkan cahaya oracle dengan harapan kotor dalam tubuhnya bisa ditekan kembali dan ia bisa menjalankan tugasnya lagi—, tetapi, alih-alih mendapatkan kekuatan itu lagi, Crystal malah berubah menjadi sosok yang menyeramkan.
Mereka yang jatuh terduduk merentangkan tangan, berusaha mendekap untuk mengembalikan kembali kesadaran merah muda yang terus meracau. Mereka berikan seluruh kekuatan mereka kepada gadis itu, mereka bahkan tak peduli jikalau mereka terkena wabah tersebut. Mereka hanya ingin sahabat mereka kembali, mereka hanya ingin sahabat mereka tak dikalahkan oleh kotor yang menjangkiti.
"Noctis...ouji..."
Pria Scientia yang tengah menata hidangan yang baru saja ia selesaikan terkesiap saat mendapati gadis merah muda di sana mengigau dalam tidurnya. Seluruh lamunan masa lalunya sirna dan ia dengan segera melepaskan celemeknya dan menaruh di kursi makan usang di sampingnya.
Ia melangkah cepat, menuju gadis yang kini kembali pucat dalam tidurnya. Selama sebulan di tahun ke sepuluh ini, gadis itu terus menerus meracau, menangis dan terengah dalam lelapnya. Gentiana pernah mengatakan bahwa itu adalah efek yang hadir karena sang gadis tengah melihat proyeksi masa depan yang sebentar lagi akan tiba.
Ya...akhirnya sebentar lagi raja akan kembali kepada mereka...
"Crystal, bangunlah."
Pria itu membuka mulutnya, menepuk lembut pipi pucat sang gadis yang telah basah oleh air mata. Itu adalah kesehariannya, datang ke tempat yang terletak di sisi pagar besi Hammerhead dan mengurusi gadis tersebut. Perlakuannya ini juga merupakan salah satu upaya yang biasa ia lakukan agar teman kecilnya tak semakin tenggelam dalam mimpi mengerikan yang datang menghampiri.
Dalam hitungan detik gadis itu membuka mata, menampilkan kilau merah muda yang semakin meredup dan memberi pahit tersebar di hati sang Scientia.
"Ignis..."
"Kau...bermimpi buruk lagi?"
Alunan suara berat pria tampan itu membuat sang gadis yang tengah menoleh mengigit bibir bawahnya. Crystal mencengkeram selimut putih yang menutupi tubuhnya sebelum memberi anggukkan lemah untuk menjawab pertanyaan sosok yang selalu ada di sisinya.
Melihat gadis itu mengangguk membuat Ignis menyunggingkan senyuman simpul. Ia bantu gadis tersebut bangkit dari tidurnya, sebelah tangannya mengambil syal hitam kesayangan sang gadis dan menyampirkan ke bahu kurus itu.
"Ignis—"
"Kau belum makan dari kemarin, kan? Aku sudah menyiapkannya."
Ignis dapat melihat ada kilau ragu di sebelah netra sang gadis ketika ia merentangkan tangan, mengisyaratkan bahwa ia akan membantu gadis itu berjalan. Selama sepersekian detik sahabatnya terdiam sembari memandangi tangannya dan ia akhirnya memutuskan untuk mengepal kembali tangannya dan berjongkok untuk menyiapkan alas kaki agar dingin lantai tak langsung menyentuh kulit pucat itu.
Didirikan kembali tubuhnya, berjalan lebih dulu, menarik kursi makan dan menunggu sang gadis tiba—langkah kaki teman perempuannya sedikit lambat. Dipersilahkan oracle -nya untuk duduk di atas sana dan ia dorong kembali benda kayu itu mendekat ke meja makan.
"Prompto dan Gladio akan terlambat—"
"Ignis." Gadis itu menggenggam erat sendok dingin di tangan kanannya. Hijau dan merah muda yang kehilangan pasangannya saling bersitatap, dibiarkan bersirobok selama beberapa menit. "Jangan menghabiskan waktumu untukku."
Crystal dapat melihat ada reaksi samar yang hadir di diri pria tiga puluh dua tahun yang duduk di hadapannya. Ia tahu perkataannya ini melukai sosok itu, tetapi ia tetap harus dan akan terus mengatakannya karena sesungguhnya ia sangat tak ingin melihat Ignis dan juga kedua temannya yang lain menghabiskan waktu mereka demi mengurusi dirinya yang lemah.
"Sampai Noct kembali, aku—" Scientia tersebut mengepalkan tangan, merasakan bahwa perkataan yang akan ia ucapkan ini akan berujung ke satu hal yang membuat hubungan mereka retak kembali. "—aku, Prompto dan Gladio akan berada di sisimu. Kami akan menjagamu. Kau adalah calon ratu kami dan kami sebagai pelindung raja akan menjagamu."
Merah muda itu terjatuh, menatap makanan masih mengepulkan asap hangat di bawah sana. Ia terdiam, tak lagi membantah maupun membuka mulutnya. Ia tahu apa yang diucapkan Ignis tadi memang ada benarnya, ia tahu sahabatnya berkata seperti tadi karena memang karena memang itulah kenyataannya.
Kenyataan...
Sampai Noctis kembali...
"Sampai ouji kembali..." Gadis itu mencicit. "Ia...tidak seharusnya kembali...tidak..."
"Crystal?"
"Noctis tidak boleh terjaga!" Tiba-tiba saja merah muda tersebut menaikkan suaranya, menatap Ignis dengan tatapan penuh ketakutan dan menjadikan pria itu bangkit dari duduknya. "Jika Noctis bangun, takdir itu akan terwujud! Aku tidak bisa mengubahnya!"
"Crystal, tenanglah."
Penasihat raja itu telah memosisikan diri di depan sang gadis, berlutut untuk memegangi tangan yang bergetar hebat. Raut wajahnya tak diliputi oleh kecemasan...sebab...ini adalah keseharian yang biasa datang menghampirinya.
Crystal...sering meracau seperti ini...
"Aku harus membunuh Ardyn! Aku akan menyerap kotornya! Tapi dia tidak mau menemuiku, Ignis! Noctis tidak boleh kembali! Ardyn akan membunuhku di depan Noctis. Dia akan membunuh Noctis! Tidak! Noctiis!"
"Crystal..."
"Lepaskan aku, Igg! Aku harus mencari Ardyn dan membunuhnya! Aku akan melenyapkan starscourge dari dunia untuk membantu Noctis! Tapi aku bukan raja cahaya, aku tidak bisa melakukannya! Tapi aku harus melakukannya! Bunuh aku jika terjadi sesuatu denganku, Ignis. Bunuhlah dengan pedang yang diberi Bahamut kepadaku!"
...dan ia tidak pernah bisa menenangkannya...
"Tenanglah, Crystal!"
"Lepas! Aku harus pergi! Aku akan membersihkan dunia ini seperti dulu!"
...hanya Noctislah yang bisa...
"Kuri, tenanglah."
Leonis merah muda yang tadi telah beranjak dari duduknya tiba-tiba saja nanap. Satu berliannya menari, melihat raut wajah terluka yang ditampakkan teman kecilnya itu. Seluruh tenaganya seolah menguap pergi dan ia kembali jatuh di atas kursi makan yang tadi ditempatinya.
Leleh kepedihan tiba-tiba lolos tak terbendung, membuat gadis itu terisak sembari meremas jemari panjang sang Scientia.
"Aku sudah gagal, Igg. Aku tidak bisa bertemu dengan ouji...Aku kotor..."
"Kau tahu Noct tidak akan memerdulikan hal itu."
"Tapi aku peduli!" Gadis itu melantang. "Bahkan aku tidak seharusnya berada di hadapanmu. Aku tidak pantas bertemu denganmu, dengan Prompto dan Gladio...dengan papa...dengan semuanya...aku sudah gagal! Dunia menggelap sempurna dan ramalan itu tetap berjalan dalam kisah yang telah ditentukan!"
Ignis tak tahu sudah keberapa kalinya ia mengulangi percakapan ini dengan sang merah muda. Hijaunya terkilau oleh cahaya kepedihan bahkan ia kini tengah mengigiti bibirnya kuat-kuat untuk memertahankan dirinya.
Gadis di hadapannya sekali lagi kembali terjatuh, terjerembab karena tak mampu menerima kenyataan yang terus menerus memermainkan hidup. Teman kecilnya yang selalu menjadi fokus utama hidupnya hancur, luluh lantak dikarenakan hitam yang berada di dalam tubuh dan menggerogoti hati.
Apapun yang dilakukannya tak akan bisa membuat sosok yang selalu ingin ia lindungi ini menjadi kembali seperti semula. Ia tak dapat melakukan apapun...karena bukan dirinya lagi yang mampu menenangkan hati itu.
...Noct...cepatlah kembali—
"Ignis! Crystal!"
Kedua sosok tersebut terkejut ketika mendapati pria bersurai pirang cerah mendadak membuka paksa pintu ruang yang menjadi tempat tinggal sang merah muda selama beberapa tahun silam ini. Ignis dan juga Crystal merasakan jantung mereka bertabuh begitu cepat ketika melihat raut wajah Argentum tiga puluh satu itu dipenuhi oleh beribu sentimen.
"Ada apa, Prompto?"
"Noct—" Suara pria itu bergetar. "Noct sedang dalam perjalan ke Hammerhead bersama Talcott."
Crystal seolah merasakan degup jantungnya berhenti selama sepersekian detik setelah indera pendengarannya mencerna tiap runtut kata yang diluncurkan salah seorang rekannya. Merah muda itu menatap sang Argentum yang kini tengah bersusah payah menahan sentimen pedihnya. Ia termenung, memandangi pria itu terus menerus seolah berusaha meyakinkan diri bahwa Prompto tidaklah sedang membual.
Noctis...kembali?
"Crystal. Noct kembali."
Ia berjengit saat merasakan tangan hangat Prompto menyentuh tangannya. Ia menaikkan jarak pandangnya, menatap pria yang memandangnya dengan biru yang berkaca-kaca. Detik berikutnya ia segera menyadari bahwa kekasih Aranea ini bersungguh-sungguh.
Gadis itu tak berkata apapun, ia hanya terdiam beribu bahasa dengan tubuh yang bergetar. Seluruh tenaganya bak hilang, lenyap karena berita itu datang begitu mendadak.
Bahkan ia biarkan Prompto menyeret tubuhnya ke luar tempat persembunyiannya. Ia tak meracau, tak menampik. Ia hanya memandang kosong ke tanah tempatnya berpijak. Otaknya seperti berhenti berputar dan ia tak tahu apa yang harus dilakukannya.
Ia terus menerus terdiam, membisu tak membuka katup bibirnya. Bahkan ia tak mendengar godaan yang dilontarkan oleh Gladiolus yang baru sampai. Ia seakan kehilangan kemampuan untuk berkata-kata. Bahkan suara sekelilingnya terasa begitu menjauh, sangatlah jauh.
Noctis kembali...
Ia sudah mengetahui takdirnya...
Raga kurus tersebut seketika menegang tatkala indera pendengaran pemiliknya menangkap suara deru mobil yang dikenali gadis tersebut. Itu adalah bunyi kendaraan yang beberapa tahun belakangan ini menjadi kendaraan pemuda Hester.
Napas yang sejak tadi tak beraturan sekali lagi tercekat ketika sebelah netranya menangkap sosok seseorang yang telah berubah.
Rajanya...telah kembali...
"Yo."
Pria bersurai kelam itu menarik sudut bibirnya, berjalan menuju keempat temannya yang juga turut mendekatinya.
"Apanya yang yo. Kau lama sekali."
Ada derai tawa simpul yang hadir ketika perisai raja mendorong bahu pria Caelum yang baru saja kembali dari tidur panjangnya.
"Noct! Kau benar-benar sudah kembali?!"
Kali ini, Promptolah yang melantang, menampilkan raut penuh kebahagiaan karena ia dapat bertemu kembali dengan sahabatnya setelah sekian lama.
"Kami lelah menunggu."
Noctis mengepalkan tangan sedikit ketika mendapati teman kecilnya berdiri di hadapannya. Menatapnya dengan satu hijau yang telah kembali—yang tadi ia ketahui kenyataannya dari Talcott saat dalam perjalanan menuju Hammerhead.
Sang raja mendekat, mengangkat tangan kanannya untuk menepuk bahu kiri pria pirang kusam yang memandangnya dengan tatapan yang begitu sulit ditafsirkan. Ia menunduk selama beberapa detik dan kemudian mengangkat wajahnya untuk memandang penasihatnya.
"Maaf."
Hanya itulah yang mampu diucapkan sang pria Caelum. Ia remas bahu sahabat kecilnya itu seolah sentuhannya melantangkan beribu kata yang tak mampu ia ucapkan dalam kata-kata.
Ignis menyadarinya dan tanpa ia sadari bibirnya menyunggingkan senyuman simpul. Ia mengangguk, memberitahukan kepada rajanya bahwa tak ada yang perlu dimaafkan.
Menghirup napas dalam-dalam, pria sekelam malam tersebut melirikkan netranya, menatap sesosok gadis yang sangat ia rindukan. Selama sepersekian menit ia dan gadis yang disayanginya saling bersitatap, saling berkata melalui sorot mata.
Noctis mengepalkan tangannya lagi dan ia beranikan diri melangkah, menuju sosok tersebut.
"Ah! Hei! Kuri!"
Namun langkahnya terhenti ketika ia dapati gadis yang telah lama sekali tak dijumpainya tiba-tiba saja berlari menuju tempat yang dahulu ia ketahui sebagai gudang penyimpanan milik Takka. Bunyi berdebam kasar pintu terdengar dan hal tersebut membuatnya kaku dalam pijakannya.
"Mungkin Crystal tidak ingin bertemu denganmu karena kau belum mandi selama sepuluh tahun, raja?"
Noctis menoleh untuk melihat Gladiolus yang mengerling jahil kepadanya. Ia jatuhkan kembali tangannya yang tadi terkepal di udara dan ia hela napas kuat-kuat. Sekalipun perisainya menutupi, putra Regis tersebut tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
...dan itu ada hubungannya dengan menggelapnya dunia ini.
Sang putri kristal menyandarkan punggungnya di depan pintu merah yang ia tutup kencang-kencang. Gadis itu merasakan napasnya memburu dan terasa sesak karena kini jantungnya benar-benar berdetak begitu kencang. Lututnya terasa lemas dan ia biarkan tubuhnya jatuh ke lantai dingin di bawah pijakannya.
Surai merah mudanya yang tak terikat satu bergerak, jatuh turun menutupi sebagian wajahnya yang kini tertunduk dalam. Benaknya memutarkan rangkai proyeksi tadi. Wajah yang dahulu kekanakan telah berubah menjadi dewasa dan tegas, surai yang dulu pendek memanjang dan tak beraturan.
Ia meremas kedua bahunya yang bergetar, berusaha meredam rasa rindu yang mendadak datang membuncah tak mampu dikendalikannya. Afeksi itu melaung-laung di dalam rongga dadanya sehingga menjadikannya semakin sesak karena tak kuasa menahan.
Melihat sosok tersebut membuatnya kembali tersadar betapa ia selalu merindukan sosok yang meninggalkannya selama sepuluh tahun. Betapa ia ingin bertemu pria itu dan memanggil namanya. Tetapi ia tidak bisa melakukannya. Ia malu, ia merasa dirinya hina karena gagal menjalankan tugasnya. Belum lagi ia menodai dirinya dengan starscourge yang seharusnya dibasminya.
Padahal mendiang Lunafreya telah memercayakan segalanya kepadanya, tapi ia malah kalah oleh wabah terkutuk itu dan menjadi seperti ini.
Ia tidak bisa bertemu dengan Noctis...ia tidak ingin bertemu dengan pria itu...
Gadis itu semakin meringkuk, memeluk lututnya yang bergetar dengan lengannya yang kurus. Tanpa mampu dikendalikannya leleh kepedihan jatuh berderai menghiasi pipinya yang tirus. Bibirnya bergetar dan ia tak bisa menahan isak tangisnya.
"Noctis-ouji..."
Di sela-sela tangisnya Crystal melafal, memanggil nama seseorang yang telah terukir di dalam hatinya. Ia semakin menenggelamkan kepalanya, meremas surainya seperti yang sering ia lakukan ketika perih menghantam hatinya.
Ia merindukan pria itu...
Ia sangat ingin bertemu dengan pria itu...
Padahal ia telah berjanji akan melindungi orang-orang terkasihnya...
Padahal ia telah berikrar untuk menyambut dengan senyuman...
Tapi sekali lagi ia gagal...ia kembali menjadi sosok yang lemah...
"Jika kau segitu inginnya bertemu denganku, kenapa kau harus melarikan diri?"
Kepala gadis itu terangkat kasar dan seketika itu pula ia merasakan jantungnya sekali lagi berhenti berdetak. Dengan cepat ia menoleh ke belakang, menemukan sosok yang tadi dipanggilnya tengah menatapnya dalam-dalam.
Katup bibirnya yang tadi rapat bercelah dan ia segera bangkit dari duduknya.
"Kenapa kau kesini?!"
"Karena aku ingin bertemu denganmu dan pintu ini tidak terkunci."
Pria itu melangkahkan kaki, masuk ke dalam ruang yang telah menjelma menjadi rumah kecil milik sang Leonis merah muda. Biru keruhnya masih belum dialihkan dari teman kecilnya yang tak lagi memandangnya. Noctis menutup pintu merah tersebut, menguncinya agar sang gadis tidak bisa melarikan diri lagi seperti tadi.
"Jangan masuk!"
"Crystal—"
"Aku tidak pantas bertemu denganmu!"
Itu menjadi satu kalimat bernada tinggi yang diteriakan sang gadis kepada rajanya. Seperti mendapatkan kesadarannya kembali, gadis itu memandangi pria yang kini menunjukkan raut wajah yang sedikit terluka. Hatinya seketika terasa perih dan ia tahu ada sayatan besar tak kasat mata melintang di sana.
Crystal mengigit bibir, memundurkan tubuhnya sedikit sebelum berbalik, hendak berlari dan menyembunyikan diri di dalam kamar mandi. Akan tetapi, kakinya yang tak jenjang kalah cepat dan ia harus rela seluruh pergerakannya dihentikan oleh pria yang telah berada di belakangnya.
Tubuhnya menegang ketika pria Caelum tersebut merapatkan tubuhnya. Dada bidang pria tersebut ditempelkan ke punggungnya. Pergerakannya terkunci sepenuhnya karena Noctis memojokkan dirinya ke daun pintu, membuat aroma sampo dan sabun dari pria tersebut menggelitik indera pendengarannya.
"Beginikah sikapmu setelah lama tak bertemu denganku?"
Bisikkan parau sang Caelum di telinga kirinya membuat gadis itu mengigit bagian dalam pipinya kuat-kuat. Ini bagaikan dejavu yaitu ketika ia hendak pergi melarikan diri dari sang putra mahkota di kota air beberapa tahun lalu.
Gigitan pada bagian dalam pipinya semakin kuat ketika ia merasakan pria di belakangnya merendahkan kepala, membuat lehernya diselimuti dingin karena surai-surai kelam sang pria yang masih lembap.
"Aku gagal...aku tidak pantas bertemu denganmu."
"Aku tidak peduli. Aku merindukanmu..." Suara pria tersebut semakin merendah dan Crystal dapat merasakan genggamannya di handel pintu kian menguat. Tubuhnya sedikit berjengit saat ia dapati Noctis membelai lembut pipi kirinya yang terdapat codet karena mengobati luka Lunafreya dulu. "Hadaplah sini."
Crystal tak lagi melawan ketika kepala dan tubuhnya perlahan-lahan dibalikkan sosok tersebut, menjadikan kedua permatanya yang tak lagi memiliki warna yang sama bersirobok dengan milik pria yang masih merapatkan tubuhnya.
Selama sepersekian detik kedua Caelum tersebut saling menyelami bola kaca mereka satu sama lain dan Crystal bereaksi saat pria itu membelai sudut matanya yang memiliki luka bakar samar—luka milik sang Scientia yang diserapnya.
"Maaf...aku—"
Kalimatnya terhenti ketika ia rasakan hangat menyapu sudut matanya yang terluka.
...Noctis menciumnya...
"Terima kasih sudah mengembalikan penglihatan Ignis."
Tanpa mampu dipertahankan gadis itu, tiba-tiba saja hangat terjatuh dari pelupuk matanya. Gadis itu tidak menyangka bahwa rajanya akan mengatakan hal tersebut kepadanya. Ia tidak mengantisipasi kalimat itu sehingga kini, seluruh kelembutan merengkuhi tubuhnya dan ia tak mampu menahan buncah afeksi manis ini.
"Ouji, aku—"
Sang gadis sekali lagi harus merelakan kalimatnya terputus ketika merasakan kehangatan menyapu bibir, memenuhi mulutnya yang tadi bercelah. Bola kacanya membulat, terbelalak saat menyadari bahwa rajanya memertemukan bibir mereka.
Ciuman itu begitu lembut, teramat sangat lembut dan begitu pelan. Tiap kecupan yang diberikan sang pria menjeritkan rasa rindu yang begitu besar, tiap kecapnya menandakan afeksi yang terus menerus digamblangkan. Noctis menciumnya dan perlakuan itu begitu perlahan tak tergesa-gesa seperti ciuman pertama mereka.
Gadis dalam dekapan pria tersebut mengarahkan kedua tangannya yang sedikit bergetar ke dada kekasihnya itu. Perlakuan pria tiga puluh satu tahun ini membuat suhu tubuhnya menaik dan ia secara tak sadar meremas kaus hitam yang dikenakan sang pria.
"Noct—mm—"
Crystal hendak melepaskan kecupan mereka saat menyadari bahwa lumatan yang tadi melembut tiba-tiba saja berganti ke dalam tempo yang memabukkan. Pria itu semakin memerdalam ciumannya, begitu dalam, teramat sangat dalam dan mengecap setiap inci mulutnya dengan lembap yang diadukan dengannya.
Bunyi manis kecupan sedikit memenuhi ruangan tersebut ketika Noctis menyudahi perlakuannya. Ia bawa biru keruhnya untuk bersirobok kembali dengan merah muda dan kelabu yang menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca. Pria itu menaikkan satu sudut bibirnya, mengatakan tanpa kata bahwa ia sangat menyenangi ekspresi yang diberikan gadis itu kepadanya.
Di sisi lain, sang gadis merasakan kuduknya meremang kala melihat ada gairah yang menggelapkan kilau permata sang raja yang kini menyelaminya. Itu adalah sebuah hasrat yang pernah ditunjukkan pria itu kepadanya, keinginan untuk memiliki dirinya.
Desahan kecil mengudara ketika Crystal merasakan ada lembap yang bermain di indera pendengar sebelah kanannya. Pada awalnya pria itu mengecup, namun kemudian membuka mulut dan melumat daun telinga. Jantungnya semakin berdetak begitu kencang ketika ia tahu ada dua rasa yang datang menghampirinya. Yaitu adalah rasa terbakar di wajahnya karena napas sosok yang mendekapnya itu telah memberat, menandakan kedewasaanya. Dan satunya lagi adalah hasrat yang juga muncul karena iapun juga menginginkan kekasihnya itu.
Gadis itu sedikit menengadah saat Noctis bernapas di telinganya dan tanpa disadarinya, ia semakin memiringkan kepalanya ke arah kiri, memberi peluang lebih kepada Caelum sekelam malam untuk semakin memabukkannya.
Sang raja meremas mahkota halus yang berada di tangan kanannya, ia bawa gadisnya kian mendekat. Desah napas milik sosok yang didekapnya ini menjadikan pikirnya melayang dan semakin membuat benaknya menggelap.
Kepalanya hanya dipenuhi oleh sosok itu...
Ia menginginkan gadis ini...
Melepaskan godaannya di telinga sang gadis, Noctis membawa bibirnya mengecup dahi, sudut mata, pipi, dan kemudian kembali melumat bibir ranum yang memerah karena perlakuannya itu. Tanpa melepaskan pagutan mereka, perlahan-lahan ia bawa tubuh kurus kekasihnya menuju ranjang yang berada di sudut ruangan.
Dengan gerakan yang begitu lembut ia dorong raga yang didekapnya ke atas matras lembut itu dan ia posisikan dirinya di atas sang gadis yang masih membalas kecupannya. Tangannya bergerak perlahan, menjamah punggung sang gadis untuk menemukan sesuatu yang dicari-carinya.
Pria tersebut semakin memerdalam permainannya ketika menyadari bahwa gadis itu bereaksi karena pergerakan jemarinya. Tetapi pergerakannya terhenti ketika ia menjumpai apa yang tadi dicarinya. Sekali hentak, ia turunkan zip gaun hitam yang membalut tubuh gadisnya.
Bunyi kecil kecupan terdengar saat ia melepas paksa pagutan itu untuk memandangi sang gadis yang masih terengah-engah. Napasnya seolah terhenti ketika ia dapati lansekap yang dahulu tak pernah sekalipun terpikirkan akan bisa ia nikmati.
Ia meneguk ludah, merasakan hasrat itu semakin kuat dan tak bisa lagi untuk dihentikannya.
"Crystal..."
Suaranya parau, teramat sangat serak saat melafalkan nama sosok yang telah memenuhi seluruh hatinya. Biru itu menatap lurus ke arah merah muda yang juga membalas tatapannya dan bola kacanya sedikit bergerak saat melihat gadis itu bangkit, membelai kulit lengannya sebelum kemudian mendekapnya. Ia tahu bahwa gadis tersebut menyadari maksudnya walau ia tak menyelesaikan kalimatnya.
"Aku anggap itu jawabanmu."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Noctis mengecup singkat bibir ranum itu sebelum ia bergerak turun, merasai dagu, rahang, dan bermain di leher gadis tersebut. Sekali lagi ia merasakan dorongan untuk menjamahi gadisnya saat mendengar sosok tersebut mengeluarkan desah kecil yang membangkitkan hasratnya.
Jemari pria itu menari dan ia tak tahu bahwa perlakuan itu meninggalkan rasa terbakar di kulit sang gadis yang terekspos. Warna khasnya—merah muda—semakin terlihat jelas saat ia dapati prianya baru saja menanggalkan satu pakaian atasnya.
Ia mencengkeram bahu rajanya saat bibir yang tadi masih bermain di lehernya turun ke tulang selangkanya dan semakin jatuh ke bagian sensitif tubuhnya.
Crystal menunduk dan memejamkan mata saat merasakan sesuatu yang baru pertama kali ia kecap. Perlakuan Noctis membuatnya tak lagi mampu diam dan ia biarkan katup bibirnya semakin terbuka karena desau tak kuasa diredamnya.
Ia meracau, meremas surai kelam milik prianya yang lembap. Tubuhnya bergetar karena tak bisa lagi menahan stimulasi yang diberi sang pria. Rasa lemas hadir memeluk raganya dan ia biarkan Caelum tersebut mendorong tubuhnya, menjatuhkannya kembali ke atas ranjangnya.
Napasnya semakin tersengal saat pria itu mengecup tiap lekuk tubuhnya. Crystal mengigit pangkal jemarinya saat mendapati Noctis beberapa kali bermain di luka koyak perutnya—luka yang ia dapatkan karena melindungi Lunafreya.
"!"
Gadis itu mendadak menengadah, membuka matanya saat ia rasakan hangat bibir prianya tiba-tiba saja telah berada di bagian paling sensitif tubuhnya—yang tak ia ketahui kapan kain terakhir yang melekat di tubuhnya telah teronggok di lantai. Gigitan pada jarinya terlepas dan ia arahkan tangannya untuk mengacak surai panjang prianya itu.
Ia meracau, terus menerus mengeluarkan desah setiap kali Noctis bermain di bagian bawah tubuhnya. Air mata milik sang merah muda jatuh turun karena degup jantungnya begitu menyesakkan. Tabuh di dalam rongga dadanya begitu kencang, begitu kuat—bahkan menurutnya Noctispun dapat mendengar.
Pergerakan jemarinya semakin kacau ketika gadis cantik itu merasakan sesuatu hendak hadir menggelapkan pikirannya. Detik berikutnya ia menjerit, meneriakkan nama pria yang masih menempatkan kepala di antara pahanya.
Napas gadis itu tersengal dan ia tak sadar bahwa tadi ia menjambak rambut lembap sang Caelum. Tenaganya seolah terbang, pergi meninggalkan raga setelah ia merasakan sesuatu yang begitu istimewa.
Di antara napasnya yang terputus-putus, gadis tersebut merendahkan pandang, menatap rajanya yang tengah menanggalkan kaus hitam yang membalut tubuh bidang itu. Tubuhnya kembali menegang dan ia melemparkan pandangnya ke arah manapun saat melihat Noctis mulai menurunkan kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Gemuruh dalam jantungnya semakin tak terkendali karena ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
"Crystal..." Crystal bereaksi saat pria itu kembali memosisikan tubuh di atasnya. Degup di rongga dadanya kian memuakkan. "Aku menginginkanmu..."
Biru dan merah muda itu kembali bersitatap. Mereka saling berpandang-pandang untuk mengutarakan afeksi mereka yang meletup-letup. Sang gadis mengangkat sebelah tangannya, menyentuh wajah yang telah kehilangan gurat kekanakkannya. Bibir merah itu tertarik dan sang gadis mengangguk, memberi ijin prianya.
Mendapatkan persetujuan dari gadis di bawahnya, raja Lucis tersebut dengan perlahan merendah, menyelami tubuh gadis yang dicintainya.
Noctis mengeram saat merasakan gadis itu menancapkan kuku-kuku di punggungnya. Ia menjatuhan pandangnya ke gadis yang terlihat bersusah payah menahan perih karena perlakuannya tadi. Dibelainya pipi gadis itu dan dilumatnya kembali bibir yang mengeluarkan rintihan tertahan.
Pria itu terdiam, membiarkan kekasihnya menyesuaikan diri dengannya. Ia tak bergerak, ia tak melakukan apapun. Ia hanya terus menerus menghujani sosok di bawahnya dengan kecupan, membuai agar sang gadis tak lagi merasa kesakitan.
"Kau baik-baik saja?"
Noctis dapat merasakan gadis itu bereaksi terhadap pertanyaannya yang bernada begitu rendah. Ia sedikit mengigit bibir bawahnya, menguasai diri agar tidak melakukan sesuatu yang dapat menyakiti orang terkasihnya.
Sampai akhirnya ia melihat gadis itu mengangguk dan mengisyaratkannya untuk menyelaminya lebih lagi.
Pria tersebut sekali lagi memagut bibir kekasihnya dan ia mulai bergerak untuk merasakan gadisnya.
Ruangan kecil tersebut dipenuhi oleh deru napas milik pria dan gadis Caelum. Mereka saling meracaukan nama masing-masing, memadati ruang itu dengan desah yang tak mampu lagi mereka redam.
Noctis mengangkat tubuhnya, mendapati sang gadis memejamkan mata sembari mengigit bibir kuat-kuat guna menahan pekikkan yang sewaktu-waktu akan pecah. Surai hitamnya yang memanjang menari seiring dengan semakin cepatnya ia memenuhi gadis itu setelah ia tahu sang gadis tak lagi merasa sakit.
Ia rendahkan kembali kepalanya, mengecap manis bibir sosok yang dicintainya. Ia biarkan dirinya menguarkan emosi, ia curahkan gadis itu dengan segala yang dapat ia berikan seolah mencoba mengisi celah yang ia biarkan menganga selama sepuluh tahun ini.
Jemarinya yang bebas ia arahkan ke gadis itu, menyeka surai merah muda yang telah basah oleh peluh ke belakang, membuat wajah memerah sang gadis nampak dan membuatnya semakin bereaksi.
Biru keruh dan merah muda itu sekali lagi saling menyelami satu sama lain, bertutur kata tanpa vokal mengenai perasaan mereka masing-masing.
Gadis ini adalah gadis yang dulu tak pernah sekalipun ia pandang sebagai wanita...
Pria ini adalah pria yang dulu tak pernah dipandangnya sebagai pria...
Gadis ini adalah gadis yang selalu berada disisinya...
Pria ini adalah pria yang selalu menemaninya...
Gadis ini tak pernah sedikitpun ia ketahui akan menjadi sosok yang begitu berharga...
Pria ini adalah pria yang tak sedikitpun ia ketahui akan menjadi sosok yang tak tergantikan...
"Crystal..."
Gadis tersebut memekik tertahan saat menyadari pria yang tengah memeluknya semakin menyelaminya dalam. Kelopak matanya terbuka, menampilkan mutiara merah muda yang kini berkaca-kaca oleh air mata, satu penanda bahwa dirinya tak mampu lagi menahan seluruh perasaannya.
Ada rasa malu, adapula kebahagiaan...dan ada pedih yang datang menghampiri. Segala buncah afeksi tersebut melebur menjadi satu, memenuhi rongga dadanya dan membuat sang gadis tak sadar bahwa ia telah memeluk rajanya kuat-kuat.
Mendapati gadisnya melakukan sesuatu di luar antisipasinya menjadikan Noctis menggeram tertahan. Biru keruhnya hampir tersembunyi dibalik kelopaknya saat pria itu merasakan stimulasi yang diberi gadisnya. Ia merendah, membiarkan hembusan napasnya menerpa telinga sang gadis, memberitahukan bagaimana perasaannya saat ini.
Tetapi perlakuannya ini tak begitu lama karena ia angkat kembali tubuhnya saat menyadari bahwa gadis di bawahnya semakin berisik. Ia bawa kembali mulutnya untuk bertemu dengan bibir ranum tersebut. Ia kunci mulut sang gadis dengan miliknya. Ia mengulum, mengecap rasa manis yang ada di sana, memainkan indra pengecapnya, membuat gadis itu semakin terbuai.
Perbuatannya tak mampu lagi ia kendalikan sehingga kini ia terlihat seperti sedang melahap gadis itu tanpa ampun.
Yang diberikan afeksi secara bertubi-tubi berusaha untuk tetap membuka matanya. Walau tak berlangsung lama sebab apa yang tengah diterimanya saat ini membuatnya begitu melayang. Sang gadis dapat merasakan adanya ketidaksabaran dan keinginan untuk memonopoli di setiap perlakuan pria itu. Dan ia...semakin terhanyut di dalamnya...
"Mmmm..."
Noctis menyadari bahwa gadisnya mencoba melepas karena perlakuannya tadi begitu dalam. Dengan cepat ia kembali menyudahinya dan membiarkan napas mereka saling menerpa wajah satu sama lain. Dua Caelum tersebut kembali saling menatap, seolah-olah tak pernah lelah untuk saling menyelami perasaan satu sama lain.
Pergerakan sang pria terhenti karena ia ingin menilik baik-baik sang gadis—yang tak pernah ia sadari akan benar-benar mencuri seluruh hatinya. Ia belai wajah cantik yang telah dipenuhi peluh itu, ia sentuh lembut untuk memberitahukan bagaimana ia sangat mencintainya.
Detik berikutnya tubuhnya sedikit menegang saat menyadari gadis yang tadi dibelainya menyentuh lengannya, memainkan jemari kurus itu ke bahu, ke leher, ke dagu, dan terhenti di pipinya. Senyum di bibir merah milik sang merah muda merekah dan napasnya tercekat saat menyadari ada leleh indah yang lolos begitu saja dari sebelah permata di bawahnya.
Noctis terdiam, memandangi gadis yang dipeluknya dalam-dalam. Tatapan sang gadis begitu kaya akan perasaan. Dari balik bola kaca tersebut terlafalkan seluruh luapan yang tertahan selama sepuluh tahun.
Crystal masih membelai wajahnya, seakan-akan mencoba meyakinkan bahwa ia benar nyata dan bukanlah hayal semata. Pria itu kemudian meraih tangan sang gadis, mengecupnya dengan lembut sembari terus menatap merah muda indah itu—membuat yang ditatap bereaksi karena tiba-tiba saja rasa malu datang menghampiri.
Jemari tersebut dikecupnya satu persatu sebelum kemudian ia goda sedikit dengan gigitan pelan. Senyumnya nampak saat menyadari gadisnya membeku dan kikuk. Tetapi kemudian ia meringis karena sang gadis bereaksi.
Tanpa meminta persetujuan, ia kembali menyelami gadisnya. Mahkota merah muda di bawah sana menari acak tatkala sang pemilik menengadah terkejut. Katupan kedua bibir ranum tersebut kembali terbuka, menghembuskan nafas berat karena prianya memenuhinya dengan cepat, membuat tubuhnya bergetar tak kuat menahan seluruh yang ada.
"Noctis..."
Noctis, pria tersebut mendadak terhenti. Nada penuh permohonan yang mengalun saat gadis itu melafalkan namanya membuatnya membeku begitu saja. Ia tumbukkan biru keruhnya ke gadis yang masih mendesah di bawah tubuhnya.
Crystal baru saja memanggil namanya...
Nama yang tak pernah dilafalkan gadis itu...
Crystal yang menyadari bahwa rajanya terhenti membulat terkejut. Ia segera bangkit untuk menyentuh prianya yang mendadak meloloskan air mata.
"Tidak...tidak apa-apa."
Noctis melafal, berusaha menenangkan gadisnya yang kini sibuk menyeka air matanya yang jatuh berderai. Ia menghirup udara dalam-dalam, berusaha menguasai dirinya yang direngkuh oleh sentimen kepedihan.
Pria tersebut meraih tangan sang gadis, menghentikan pergerakannya. Ia dekatkan wajahnya ke wajah cantik itu dan ia lekatkan bibir mereka. Dikulumnya bibir sang kekasih, semakin dalam dan sangat dalam sampai sang gadis tak mampu lagi menopang tubuhnya dan kembali terjatuh.
Pagutan itu terlepas kembali. Bibir sang pria teralih, mengecup pipi, bermain di leher membuat sang gadis mendesah tertahan sebelum kemudian ia arahkan kepada telinga gadis itu.
"Crystal..."
Untuk yang kesekian kalinya gadis itu menegang. Sekujur tubuhnya terasa panas saat pria itu memanggil namanya dengan begitu rendah, begitu kuat, dipenuhi oleh emosi yang tak mampu ditahannya.
"N-Noctis...Ahh!"
Crystal memekik tatkala Noctis kembali menenggelamkan tubuhnya, begitu dalam hingga ia menjerit tak mampu lagi meredam laungnya.
Pergerakan milik prianya tak lagi sama seperti sebelumnya. Kali ini terasa semakin dalam, kacau, melantangkan bagaimana pria itu menginginkannya. Dan ia juga tak mampu lagi menahan perasaannya karena deru nafas berat milik Noctis terus menerus menggelitik telinganya.
Ia tak mampu lagi.
"Crystal..."
Noctis tak mampu mengucapkan apapun selain memanggil nama gadisnya. Pergerakannya semakin tak terkendali karena ia tak lagi bisa menahannya. Gadis dalam dekapannya ini membuatnya melayang, membuatnya tak mampu untuk menguasai dirinya.
Derit kasur semakin terdengar memenuhi ruang tersebut kala sang pria semakin lama semakin kasar. Erangan keduanya pun tak terelakkan. Mereka semakin meracau, semakin melantangkan nama masing-masing.
Crystal merasakan air matanya tak mampu terbendung lagi dan ia semakin membuka mulutnya, memerdengarkan desahan, berkali-kali ia meracau, berulang kali melantangkan nama rajanya.
Ia tak tahu bahwa perlakuannya ini semakin membuat prianya senang, semakin membuat rajanya ingin memiliki dirinya seutuhnya yang ditandai dengan semakin cepat pria itu memenuhi tubuhnya.
Merah muda tersebut semakin meracau, ia tancapkan kuku-kuku pendeknya di bahu sang pria. Sebelum kemudian cengkeraman di bahu itu berpindah ke punggung saat sang gadis menjerit. Nama milik pria tersebut terlafal panjang dari gadis tersebut karena ia lepaskan segala yang tak mampu dibendungnya lagi.
Sedangkan, pria yang namanya tadi diteriakkan terpejam, mengigit leher kekasihnya saat tak mampu lagi menerima stimulasi yang diberikan sang gadis. Pergerakan tubuhnya pun semakin kacau, begitu kacau ketika ia sadari bahwa inilah batasnya.
Menit berikutnya pria tersebut menggeram di indra pendengaran sang gadis sembari terpejam, merasakan pekatnya mewarnai sosok tercintanya sepenuhnya. Nafasnya tersengal, bersahutan dengan milik sang gadis.
Ia bawa tubuhnya yang telah basah oleh peluh terangkat. Ia pandangi gadis yang kacau karena permainannya. Jemari kokohnya menyentuh wajah gadis itu lagi dan kemudian ia kecap kembali bibir merah itu.
Ia sangat mencintai gadis itu...
Sangat...
"Noct—!"
Crystal mendadak memekik di dalam mulut sang pria. Netranya membulat, terkejut karena menyadari bahwa pria yang masih mengulum bibirnya tersebut tiba-tiba saja kembali kembali memenuhinya.
Pria tersebut kembali bergerak, mulai mengulang kembali surganya.
Hati sang Caelum menjeritkan seluruh perasaannya dan ia tahu, sekali tak akan sanggup menjelaskan betapa ia sangat menginginkan gadisnya saat ini.
"Aku mencintaimu, Crystal..." Pria tersebut berkata disela kecupannya. "Teruslah berada di sisiku..."
※End of Chapter - Beside You※
Author sudah meninggal. Tidak bisa membuat A/N
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA I'M DEAD
