16 : Putus?

.

.

Setelah upacara pelantikan Hanabi, semua orang mengira Hinata akan berubah menjadi murung dan sedih.

Tapi nyatanya tidak.

Hinata terlihat… baik-baik saja. Dia tetap seperti Hinata yang riang dan murah senyum. Situasi ini membuat orang-orang mengerutkan kening. Kalimat penghibur untuk Hinata yang sudah mereka persiapkan jauh-jauh hari menjadi tidak berguna.

Benarkah Hinata memang riang dan tidak memiliki beban?

Ataukah jangan-jangan…. Sikap riang itu hanyalah topeng yang digunakan untuk menutupi kesedihannya? Apakah Hinata sedang berpura-pura tegar dan kuat meskipun sebenarnya dia sangat terluka?

Kesimpulan itu membuat banyak orang merasa iba dan kasihan…

Namun jika diperhatikan dengan detail, Hinata tidak sedang berpura-pura. Dia memang riang dan ceria, tidak ada sandiwara dan kepura-puraan. Bahkan sesekali dia bersenandung dan tersenyum manis! Jika ada yang bertanya mengapa Hinata jadi seperti itu, Hinata akan menjawab jika dia tidak tahu. Pokoknya dia hanya merasa… gembira.

Masalah klan Hyuuga dan posisi baru Hanabi dia singkirkan jauh-jauh. Kini Hinata lebih memilih membeli bingkai baru untuk foto festival kembang api kemarin lalu menggosok kaca bingkai –terutama di wajah Sasuke— dengan begitu detail dan cermat sehingga kaca tersebut menjadi mengkilap dan berkilau. Ah, dia juga tidak lupa membeli sampul plastik untuk buku novel –hasil curian Sasuke— yang belum sempat ia baca.

"Apapun yang terjadi, kau akan selalu diterima disini. Pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu."

Mengingat perkataan itu, Hinata tertawa. Meskipun dia berusaha menyembunyikan tawanya dengan cara menutupinya dengan bantal, suara tawa yang merdu itu tetap terdengar. Hinata benar-benar terlihat gembira, pipinya bersemu merah sementara bibirnya tidak berhenti melengkung karena tersenyum.

Dua orang pelayan yang sedang membersihkan lantai di luar kamar Hinata tanpa sengaja mendengar tawa itu. Si perempuan yang lebih muda melemparkan tatapan penuh tanya dan penuh rasa heran pada si perempuan yang lebih tua seakan bertanya mengapa nona muda mereka menjadi seperti itu. Si perempuan yang lebih tua hanya bisa tersenyum prihatin sambil menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri seakan mengatakan nona mereka kini menjadi tidak waras lagi. Mengetahui itu, si perempuan muda mencoba menahan tangisnya. Nona muda yang malang… dia menjadi tidak waras akibat stress dan tertekan.

Sambil tetap tersenyum, Hinata meraih buku novel yang kini telah diberi sampul dan mulai membacanya. Buku itu memiliki sampul berwarna biru dan berjudul 'Benang Merah'. Namun baru satu halaman Hinata membacanya, dia kembali menutup buku itu sambil berpikir.

Dia sudah menerima kebaikan hati Sasuke… mungkin ini saat yang tepat bagi Hinata untuk membalasnya.

Pemikiran itu membuat Hinata kembali tersenyum. Dengan riang dia pergi ke dapur dan tidak memperhatikan tatapan iba dua pelayan yang sedang mengepel lantai ataupun tatapan kasihan para juru masak yang sedang bekerja di dapur. Dulu Hinata pernah memberikan kari untuk Sasuke, bagaimana jika kali ini dia membuatkan kari yang sama? Sasuke tidak keberatan kan?

Sambil bersenandung lirih, Hinata mulai mengupas wortel dan kentang. Ia mengupas dengan begitu seksama, tidak ada sedikitpun kulit sayuran yang tertinggal. Setelah mencuci sayuran hingga bersih, Hinata mulai memotong-motong sayuran itu dengan sangat detail.

Hanabi dan Neji yang mengintip dari pintu dapur bisa merasakan hati mereka menjadi sakit melihat Hinata mencoba mengalihkan rasa sedihnya dengan memasak. Kedua orang itu kemudian saling berpandangan dan mencoba berkomunikasi, entah apa yang mereka rencanakan kali ini.

.

.

Uchiha Sasuke tidak memiliki pengalaman dalam hal romantis ataupun cara mengejar wanita.

Itu adalah fakta.

Masa kecilnya begitu kelam dan suram, balas dendam menjadi tujuan utamanya. Saat ia mulai beranjak remaja, anak-anak seusianya mulai memiliki ketertarikan pada lawan jenis dan mulai terjun dalam dunia percintaan –termasuk pula sip ayah Naruto— sedangkan dia masih sibuk mengejar balas dendam. Sasuke tahu dia memiliki fisik yang menarik, banyak gadis tertarik padanya –bahkan juga pria— namun Sasuke tidak pernah sudi melirik mereka. Dia memang sering memikirkan cara meneruskan klan Uchiha, namun strategi yang ada dibenaknya adalah memilih salah satu wanita yang menyukainya lalu mengajaknya menikah. Atau jika memang tidak ada wanita yang menyukainya, toh masih ada Sakura. Sederhana dan mudah kan?

Sayangnya pemikiran itu dia buang jauh-jauh karena kehadiran Hyuuga Hinata.

Lalu apa yang perlu ia lakukan selanjutnya?

Beberapa jam kemudian, Sasuke mendapati dirinya diseret oleh Naruto menuju salah satu bar yang ramai pengunjung. Sebenarnya Sasuke tidak menyukai keramaian, namun demi melancarkan aksinya mau tidak mau dia harus menahan rasa jengkelnya.

"Aku tidak tahu mengapa kau tiba-tiba ingin berkumpul bersama teman-teman. Kau bahkan selalu menghilang saat aku hendak mengajakmu!" Cengkeraman tangan Naruto di lengan Sasuke menguat, seakan tidak mau si teme tiba-tiba menghilang. "Tapi tidak masalah!"

"Hn."

Saat mereka berdua memasuki kedai, kehadiran mereka nampak diabaikan oleh pengujung. Ah, mungkin tepatnya bukan diabaikan namun orang-orang sudah terbiasa melihat dua ninja hebat itu bersama-sama sehingga keberadaan mereka bukan hal yang luar biasa.

Ino nampak terkejut melihat Naruto menyeret Sasuke, namun rasa terkejut itu langsung menghilang dan berganti tatapan jahil saat Ino mulai menyikut Sakura yang duduk di sebelahnya. Sementara itu Sakura membelalakkan mata, seolah tidak percaya Sasuke ada disini. Choji yang sedang menikmati keripiknya berhenti mengunyah sementara Shikamaru terlihat bosan seperti biasa.

Dengan riang Naruto menyapa teman-temannya dan menanyakan misi yang baru saja mereka jalani. Nampaknya Ino-Shika-Cho pergi ke kedai setelah menjalankan misi lalu mengajak Sakura yang baru saja selesai bekerja di rumah sakit untuk pergi makan.

Ino tertawa sambil menyenggol Sakura untuk menggodanya. "Ne Sakura, Sasuke ada disini. Mengapa kalian berdua hanya diam tanpa mengobrol?"

Sakura tertawa malu-malu. "Ino! Kau ini kenapa sih…"

"Aku dan Sakura sudah putus."

Perkataan yang baru saja diucapkan Sasuke memang singkat namun dampaknya sungguh luar biasa, terutama untuk Sakura.

Seisi meja itu terdiam. Naruto yang mengetahui jika sebenarnya Sasuke dan Sakura tidak berpacaran kini mengerutkan dahinya sebagai pertanda bingung sementara mata birunya bergantian menatap Sakura dan Sasuke.

Sakura mematung untuk beberapa saat. Setelah berhasil mengendalikan diri, mata hijaunya menatap Sasuke, seakan meminta penjelasan.

Dengan tenang Sasuke menuang sebotol sake yang ada di meja lalu menuangkannya ke gelas. Alasan mengapa Sasuke memilih mengeluarkan pernyataan saat ini karena ini adalah tempat umum, terlebih lagi saat ini ada Yamanaka Ino yang siap menyebarkan gosip tanpa perlu diminta. "Aku dan Sakura sudah putus." Sasuke mengulangi perkataannya, kali ini dengan nada yang lebih serius.

Tangan Sakura yang berada di bawah meja terkepal erat. Ia tidak tahu alasan Sasuke membawa-bawa sandiwara yang ia ciptakan. Namun apapun itu, seharusnya Sasuke tidak mengatakan apapun saat berada di tempat umum. "Sasuke-kun…"

Sasuke meraih gelasnya yang kini sudah terisi sake. "Itu memang benar. Bukankah begitu, Sakura?"

Tangan Sakura semakin terkepal erat saat Sasuke berusaha menutupi seringaian licik di bibirnya dengan mulai minum. Mata hitam Sasuke menyiratkan provokasi. Uchiha Sasuke yang selama ini hanya diam meskipun rumor hubungannya dengan Sakura berhembus kencang kini mulai mengambil sikap.

Dan Sakura tidak siap saat ini.

Bukankah begitu, Sakura?

Itu adalah ancaman sekaligus tantangan.

Ino membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu. Akan tetapi dia kembali menutupnya saat Shikamaru menyenggol kakinya. Shikamaru bisa merasakan peperangan yang sedang terjadi diantara Sasuke dan Sakura dan akan lebih baik jika mereka tidak ikut campur. Ikut campur dalam drama itu sangat merepotkan.

Sakura berusaha tersenyum untuk mencairkan ketegangan. "Sasuke-kun, mungkin akan lebih baik jika kita tidak membawa-bawa masalah pribadi dalam tempat umum seperti ini."

Sakura begitu membenci senyuman arogan di bibir Sasuke saat ini. "Tapi itu adalah kenyataannya. Mengapa harus ditutup-tutupi?"

Dan Sakura menyadari sesuatu…

Alasan mengapa Sasuke selalu diam selama ini… alasan mengapa Sasuke tidak pernah membantah atau mengklarifikasi rumor yang dihembuskan Sakura…

Ternyata Sasuke menggunakan kebohongan yang dihembuskan Sakura untuk menggali sebuah lubang.

Dan kini Sasuke menunggu Sakura terjun dalam lubang itu.

Jika Sakura tidak terjun ke dalamnya, maka Sasuke sendiri yang akan mendorongnya.

Sasuke diam karena menunggu momen yang tepat untuk mendorong Sakura untuk terjatuh dalam lubang itu.

Sasuke membiarkan Sakura menghembuskan rumor dan kebohongan karena dia tahu suatu saat nanti akan muncul saat yang tepat dimana dia bisa menggunakan kebohongan Sakura untuk menguburnya hidup-hidup.

Sakura dengan naifnya berpikir Sasuke diam karena merasa tidak keberatan. Oleh karena itu dengan senang hati Sakura membiarkan rumor berhembus kencang dan menjadi fakta yang diterima masyarakat Konoha. Sakura berpikir Sasuke tidak akan membantah kabar itu karena dia tidak ingin menyakiti Sakura.

Dan kini… Sasuke bisa dengan mudahnya menghancurkan Sakura hanya dengan satu pernyataan saja. Sasuke bisa dengan mudah mengubur Sakura dengan cacian dan komentar miring seandainya semua masyarakat Konoha tahu kebohongan yang telah Sakura sebarkan.

Saat Sakura melihat Sasuke melirik ke arah Naruto, Sakura tahu Sasuke bermaksud melibatkan Naruto. Seandainya Sasuke mengatakan apa yang dikatakan oleh Sakura selama ini adalah kebohongan, warga Konoha tidak banyak yang percaya. Namun jika pernyataan itu keluar dari mulut Naruto, mereka akan percaya karena Naruto begitu murni dan jujur dan hanya akan menjunjung kebenaran. Dan itu memang benar, jika kedua sahabatnya berkonflik, Naruto akan memilih kejujuran.

Sasuke bisa dengan mudah mengatakan jika Sakura berbohong. Namun dia memilih mengatakan jika mereka berdua putus.

Mengapa?

Apakah karena Sasuke masih merasa kasihan pada Sakura?

Dan kini nama baik Sakura dipertaruhkan.

Seandainya Sakura menjawab 'kami tidak putus' otomatis Sasuke akan membeberkan semua kebohongan Sakura dengan mudahnya dan membuat nama baiknya tercemar. Reputasi yang diperoleh Sakura dengan susah payah sebagai kunoichi terbaik Konoha dan ninja medis yang hebat akan berganti menjadi si perempuan pembohong. Namun jika Sakura menjawab 'Ya. kami putus' maka…

Maka…. Sakura tidak bisa lagi mengharapkan Sasuke karena di mata warga Konoha kisah mereka telah berakhir.

Dan pada akhirnya banyak perempuan bisa mendekati Sasuke.

Namun Sakura tidak menginginkan itu. Sakura tahu banyak perempuan merasa tertarik pada Sasuke, namun mereka mundur karena rumor itu. Jika sampai kabar 'putus' tersebar, maka mereka akan berbondong-bondong mendekati Sasuke tanpa bisa dicegah.

Namun Sakura juga mencintai reputasinya.

"Sasuke-kun, kau benar-benar tega." Mata Sakura berubah berkaca-kaca. Ia memang ninja yang kuat, namun dalam hal perasaan cinta ia bisa berubah lemah.

Sasuke mengamati gelasnya, berpura-pura tidak mengamati ekspresi Sakura yang begitu sedih dan pilu. "Aku menunggumu mundur, namun kau tidak mau. Jangan salahkan aku jika harus mendorongmu."

"Aku pikir kau…" Tenggorokan Sakura terasa tercekat. Aku pikir kau menganggapku istimewa. Aku pikir kau menempatkanku di hatimu. Aku pikir hanya aku satu-satunya perempuan yang ada di hatimu. Aku pikir kau menyayangiku…

Naruto dan yang lainnya masih terdiam.

"Kau tidak memberikanku banyak pilihan." Sasuke kembali meminum sakenya hingga tandas. Rumor yang telah dihembuskan Sakura tidak akan bisa berhenti sekalipun Sasuke memintanya untuk berhenti. Rumor tersebut telah meresap di benak warga Konoha dan diterima sebagai fakta sehingga tidak mudah dibantah lagi. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah melawan rumor dengan rumor. Membuat rumor tentang 'putus' jauh lebih cepat, efektif dan mudah daripada harus menjelaskan dan mengklarifikasi 'hubungan palsu' secara panjang lebar.

Dan juga Sakura bisa menyelamatkan nama baiknya. Sasuke berhutang banyak pada Sakura, ia tidak mau Sakura tenggelam dalam cacian.

Sakura bangkit berdiri dengan tangan terkepal erat. "Kau memang benar, kita sudah putus."

Ino membelalakkan mata. Apa… yang baru saja ia dengar ini.

Sasuke kembali menuangkan sake ke gelasnya. Ia sudah memutuskan untuk mengejar Hinata. Langkah pertama yang harus dia lakukan adalah membersihkan rumor mengenai dirinya dan Sakura.

Semoga saja ini berhasil.

.

.

Ketika Sasuke tiba di rumah, hal yang pertama kali ia lihat adalah sosok Hyuuga Hinata sedang duduk di serambi rumahnya.

Menunggu kepulangan Sasuke.

Sasuke menghentikan langkahnya. Ia lupa kapan terakhir kali seseorang menunggunya pulang.

Melihat kedatangan Sasuke, Hinata bangkit dari duduknya sambil tersenyum. "Um… a-aku membawakan sesuatu untukmu."

Seharusnya Sasuke mengatakan sesuatu. Seharusnya dia bertanya sudah berapa lama Hinata menunggu disana dan berbagai pertanyaan lainnya. Namun yang terjadi adalah lidahnya tiba-tiba terasa kelu karena… ia merasa gugup.

Namun kegugupan itu perlahan-lahan mencair saat mereka berdua pergi ke dapur dan menyantap kari buatan Hinata. Mereka berdua saling bercerita dan bercengkerama seolah-olah kedekatan mereka adalah hal yang biasa dan wajar.

Sambil duduk di kursi makan yang baru saja dibeli, Hinata tertawa lembut saat mendengarkan kekonyolah tim 7 saat menjalankan misi dulu. Cangkir berwarna ungu dengan gambar bunga matahari berada di tangannya dan berisi teh hijau yang masih mengepul. Mungkin ini efek dari sinar matahari sore yang menerobos jendela, namun kebersamaan mereka terlihat hangat. Sinar matahari yang berwarna keemasan juga membuat sepasang mata Hinata terlihat lembut dan senyum di bibirnya semakin manis.

"Aku tidak menyangka kau membeli ini." Ujar Hinata sambil mengamati cangkir berwarna ungu di tangannya.

"Pemilik toko memberikan cangkir itu sebagai bonus." Meskipun Sasuke berbohong, dia masih terlihat lugu dan tidak bersalah. Ha! Mana mungkin dia mau mengakui jika cangkir itu dia beli demi Hinata.

"Benarkah?"

"Hm."

"Cangkir ini cantik sekali. Terutama gambar bunga mataharinya."

Tentu saja cangkir itu cantik. Jika jelek, Sasuke tidak mungkin membelinya. "Kau menyukai bunga matahari?"

"Mm." Hinata mengangguk. "Aku sangat menyukainya. Menurutku bunga matahari sangat cantik. Dia tidak harum namun dia selalu berdiri kokoh dan selalu menghadap matahari tanpa kenal lelah."

Sasuke mencatat perkataan Hinata dalam hati. Bunga favorit: bunga matahari.

"Bagaimana rasanya tinggal di rumah sebesar ini sendirian?" Setelah mengatakan itu Hinata berubah panik. Dia tidak bermaksud mengingatkan Sasuke jika saat ini dia sendirian dan tidak memiliki keluarga. "Ah! Maaf! A-aku ti-tidak bermaksud—"

"Tidak apa-apa. Aku sudah tinggal sendirian sejak lama."

"Oh…" Kini Hinata merasa bersalah karena membuat Sasuke mengingat tragedi yang menimpa keluarganya.

Melihat Hinata berubah murung, Sasuke mengalihkan topik pembicaraan. "Dan bagaimana rasanya tinggal di rumah besar dipenuhi orang-orang yang bisa melihat menembus tembok? Privasi hal yang langka bukan?"

Hinata memutar bola matanya. Meski begitu, senyum di bibirnya kembali muncul. "Mengaktifkan byakugan di dalam kediaman Hyuuga adalah hal yang dilarang."

"Hn."

"Itu memang benar!"

"Sulit mempercayainya."

"Tapi itu memang benar."

"Apakah ada Hyuuga mesum yang menggunakan byakugan miliknya untuk mengintip seseorang?"

Tatapan Hinata berubah horror. "Tentu saja tidak ada!"

"…sungguh?"

"Ah! Mengapa banyak orang menganggap Hyuuga itu mesum hanya kerena memiliki byakugan?!"

Mereka berbicara… berbicara… berbicara… hingga mereka tidak sadar matahari hampir tenggelam.

Dan saat Sasuke melihat Hinata yang sedang mencuci piring di dapurnya, Sasuke menyadari satu hal. Ia menginginkan kebersamaan dengan Hinata seperti saat ini untuk seterusnya.

.

.

Tbc…