Epilog
Sebulan berlalu semenjak Lizzy tiba di London. Tanpa disangka, dengan cepat ia menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Ia berhasil memperoleh kursi eksklusif di London College of Fashion, mewujudkan langkah awal impiannya menjadi desainer dunia.
Apabila musim dingin tahun lalu adalah pertemuan pertamanya dengan Ciel, maka musim dingin tahun ini menjadi babak baru hubungan mereka berdua. Lizzy ingin mempersepsikan itu sesuai dengan pemahamannya yang paling halus dan tulus. Mereka jauh lebih dekat dari seorang teman, tetapi juga belum mencapai tahap kekasih. Lizzy ingin, ikatan di antara mereka berjalan mengalir apa adanya. Tidak perlu tergesa-gesa. Toh, berada dekat dengan Ciel saja sudah cukup baginya. Lizzy tidak ingin menuntut lebih. Sebab jasa-jasa pemuda itu tidak akan pernah terbayar walaupun dengan beribu ucapan terima kasih.
Tanggal 14 Desember. Lizzy diundang menghadiri pesta ulang tahun Ciel. Itu menjadi pengalaman pertamanya berkunjung ke mansion Phantomhive. Ia diperkenalkan dengan keluarga besar Phantomhive. Yang membuatnya terkejut malu sekaligus, ialah betapa hangatnya sambutan keluarga Ciel terhadapnya. Ia tidak ingin berharap lebih, tetapi melihat bagaimana Bibi Rachel (ibu Ciel) membanggakan dirinya di hadapan tamu-tamu lain, itu membuat perasaannya berdebar dan (ia takut) akan jadi besar kepala.
Lizzy juga berkenalan dengan kakak kembar Ciel. Dan mereka langsung berkawan akrab. Ia dibuat terkagum melihat betapa identiknya kemiripan mereka berdua, sehingga hampir tidak dapat dibedakan. Sempat terjadi sedikit kericuhan kecil di antara mereka berdua yang melibatkan dirinya. Tetapi rupanya itu hanya candaan belaka. Sepertinya Ciel digoda habis-habisan oleh si kakak, dan beberapa kali pemuda itu memperlihatkan sikap protektif terhadapnya.
Bersama Ciel, Lizzy menyusuri kawasan Queens Walk. Di tepi sungai Thames, mereka berjalan di bawah kanopi pepohonan yang ranting dan dedaunannya menjulur hingga tepian sungai. Di seberang sungai, menara Big-Ben berdiri menantang langit malam. Lizzy bisa merasakan kehangatan menjalar ketika matanya menyapu seluruh panorama kota. Gemerlap lampu━di sini jauh lebih ramai dan lebih terang dari yang ada di desa. Ketika ia mendongak, sekeping salju turun dan hinggap di tangannya.
"Ini salju pertama kita." Ciel berkata.
Pemuda itu juga menangkap keping salju lain yang melayang jatuh di tangannya.
"Indah sekali," katanya.
"Bagaimana hari-harimu di sini, Lizzy? Bagaimana London di matamu?"
Lizzy merapatkan syal. Ia sudah merasa cukup, sungguh.
"Semuanya terlalu indah. Aku berhasil menggapai mimpi, dan bebas dari hal-hal yang paling kubenci. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini."
"Jangan terlena dulu, Lizzy. Ini baru permulaan. Perjuangan yang sesungguhnya ialah saat impian sudah ada di tangan. Kita harus menjaganya supaya tidak terlepas."
"Aku tahu, Ciel. Tapi entah bagaimana, London seperti sudah mengenaliku sejak lama. Aku merasa begitu dekat dan akrab dengan kota ini."
"Betulkah seperti itu?"
Ciel menoleh untuk memeriksa apakah itu ucapan yang jujur. Ia tertegun saat mendapati wajah lapang dan senyum tulus gadis itu terkembang seolah tak pernah pudar.
Lizzy mengangguk. Ia membalas tatapan Ciel dengan senyum terkulum.
Ciel berdebar-debar. Ini jenis debaran yang tidak biasanya ia rasakan. Sesungguhnya Ciel tidak begitu menyukai romantisasi suasana dengan cara apapun. Namun, Lizzy selalu mampu mengarahkannya agar membongkar ulang perspektifnya sendiri, untuk kemudian meleburkannya dalam makna baru.
Tanpa sadar, Ciel meraih tangan Lizzy lalu menyejajarkan langkah mereka.
Mulanya Lizzy terkejut, tetapi kemudian ia membiarkan tangannya digenggam. Rasa hangat menyelimuti relung hatinya dan menjalar hingga sekujur tubuh. Sarung tangan merah yang dikenakannya tampak serasi dengan sarung tangan biru yang dipakai Ciel. Keping-keping salju terus berguguran, hinggap di atas topi dan mantel mereka.
Tapak demi tapak jalan di Queens Walk itu sudah jadi milik mereka berdua.
"Ternyata kakakmu seperti itu ya. Kau mirip sekali dengannya."
"Hei. Bukan aku yang mirip dengannya, tapi dia yang mirip denganku."
Lizzy terkekeh. "Loh, bukannya sama saja?"
"Tidak. Pokoknya wajah ini milikku pertama kali."
"Aha ha ha … kalian benar-benar saudara. Dia juga lucu dan menyenangkan."
"Ugh, kau ingin bilang kalau kau menyukainya?"
"Tentu saja. Ya. Aku menyukainya."
Lizzy melirik dari sudut mata. Wajah Ciel yang cemberut dengan pipi menggembung itu sungguh menggemaskan. Kemudian ia berbisik, "Tapi, aku lebih menyukaimu daripada dia."
Ciel berjengit kaget merasakan napas hangat menerpa telinganya. "Lizzy. Itu terlalu dekat."
"Maaf. Aku memang bermaksud begitu."
Ciel mengerjap, kemudian terpesona. Bukan hal yang aneh kalau terkadang, tindakan Lizzy itu terhitung 'berani' dan tidak terduga.
"Aku senang bersamamu di sini. Semoga London membuatmu betah dan nyaman."
"Terima kasih, Ciel. Aku yang lebih senang bersamamu di sini. Yah. Walaupun ini tidak seberapa, tapi aku akan terus mengucap terima kasih."
"Ya. Ya. Aku memang pantas untuk itu. Tapi kau harus berterima kasih juga pada dirimu sendiri."
"Ciel, boleh aku mengatakan sesuatu?"
"Mengatakan apa?"
"Begini, sebetulnya. Aku sudah lama memikirkannya, semenjak masih di desa, bahkan. Aku tidak ingin hak kebebasanku jadi tersia-siakan."
"Apa lagi yang kauinginkan?"
"Tidak muluk-muluk kok. Aku hanya ingin jadi manusia yang berguna untuk sesamanya. Aku ingin mendaftar jadi relawan organisasi perempuan untuk memperjuangkan hak-hak wanita."
"Wow! Interesting. Kau selalu di luar dugaan ya."
"Ah, tidak juga. Aku ini orangnya sederhana."
"Kalau begitu, aku juga ingin berbagi kabar gembira."
"Apa itu? Aku ingin tahu."
"Tahun depan, aku akan mendaftar jadi relawan kemanusiaan PBB. Ada kemungkinan aku termasuk peserta pengabdian yang dikirim ke wilayah darurat bantuan."
"Wah! Kau akan tur keliling dunia lagi?"
"Yah. Seperti itulah. Bedanya kali ini akan lebih terorganisir, dan bukan semata bersenang-senang seperti dulu."
Lizzy tercenung menyadarinya.
"Maaf ya. Kita akan berpisah lagi," ucap Ciel merasa bersalah.
"Loh, kenapa minta maaf? Yang penting kita pasti bertemu lagi kan? Itu impian yang luar biasa, Ciel. Aku akan selalu menemanimu di manapun kau berada."
"Tentu. Kita akan selalu bertemu. Kita akan selalu beriringan bersama di manapun dan kapanpun."
[]
END
