BLUE EYES STRIPPER
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Genre: Romance, BL, Crime
Multi chapter
Rated: [M]
Chapter 15: NEVER BE THE SAME
Preview from last Chapter:
Dengan secepat kilat, entah datang darimana sesosok bertubuh tegap tinggi mengenakan jaket kulit hitam menghalangi pandangannya, pria itu berdiri tepat di depannya bagai tameng.
Menghalau peluru.
Melindunginya.
Dengan tubuh gemetar ia menggenggam jaket itu hingga menimbulkan kerutan. Hatinya mencelos melihat sosok yang baru saja menerima peluru untuknya.
"Chㅡchanyeol?"
I held you with sweaty palms and shaky hands,
I was so afraid of breaking you.
I tend to ruin everything I love, only because I'm convinced I don't deserve it, i don't deserve you.
ㅡ
Blue Eyes Stripper
ㅡ
Baekhyun berjalan tertatih mencoba mengimbangi beberapa anak buah Chanyeol yang dengan sigap membawa tubuh bos nya untuk di bawa ke rumah sakit menggunakan helikopter.
Jantungnya berdegup dengan sangat keras, sehingga ia tidak lagi mendengar orang-orang yang mencoba untuk menghentikan langkahnya. Pikirannya kosong, ia merasa semua ini tidak akan pernah terjadi jika saja ia tidak terlibat dengan Chanyeol, dengan begitu Chanyeol tidak akan tertembak hanya karena melindungi dirinya yang tidak berharga ini. Bagaimana orang-orang yang dekat dengannya terluka oleh kehadirannya.
"B..Baek" Suara Chanyeol terdengar samar terbawa oleh angin malam, namun Baekhyun masih dapat mendengarnya dengan jelas. Jemari lentik itu meraih tangan Chanyeol yang menjulur kearahnya, matanya memanas melihat darah pekat menyelimuti telapak tangan itu.
"shhh.. tidak apa, semua akan baik-baik saja"
Baekhyun mengangguk mengerti, ia terisak ketika mata itu terpejam, tubuhnya di bawa menaiki helikopter. Sejujurnya ia takut namun ia akan percaya bahwa semua akan baik-baik saja seperti yang dikatakan oleh Chanyeol.
.
.
.
"Tugasmu hanya menarik pelatuknya, satu peluru menembus jantungnya, apa begitu saja kau tidak mampu?" Pria itu menendang tubuh anak buahnya hingga terpelanting ke belakang dengan keras.
"m..maaf bos tapi.. kami berhasil melumpukan phoenix"
Pria itu mendengus mendengarnya, ia berjongkok menyamakan tinggi mereka, "kau pikir dia akan mati semudah itu? hanya dalam sekali tembakan meleset itu? dia masih bernafas sialan! SUDAH KUKATAKAN UNTUK MENEMBAK BYUN BAEKHYUN"
orang-orang berbadan kekar disana gemetar takut ketika bosnya mengeluarkan handgun miliknya dari balik jubah yang dikenakannya. Dengan pasti mengarahkan senjatanya itu kearah botol wine yang berada di atas meja bar.
DOR
tembakan itu mengenai botol wine tersebut hingga pecah berkeping-keping. membuat semua mata yang ada di ruangan tersebut terkagum melihatnya sekaligus takut setengah mati.
"one shot one kill. lain kali jika kau membuat kesalahan, maka kepalamu yang akan berada disana" ucap pria tersebut dingin, tidak terdengar jawaban namun semuanya menunduk memberikan hormat.
.
.
.
Luhan melirik pria yang terlihat seperti anak sekolah menengah pertama sedang duduk memandangi lantai ruang tunggu rumah sakit. Wajahnya begitu suram, sekilas jika ia tidak berpikiran logis, ia akan mengira bahwa itu adalah hantu karena wajahnya sangat pucat.
Merutuki pikirannya sendiri Luhan mengusap tengkuknya yang terasa pegal menunggu dokter keluar dari ruang operasi. Sebenarnya ia tidak berada di tempat kejadian ketika Chanyeol tertembak, ia sedang bersama dengan Sehun, sedangkan Chanyeol berangkat bersama Kasper dan team alpha lainnya.
"Sebenarnya apa yang dilakukan si bodoh itu sampai tertembak seperti ini" Luhan mengumpat kesal.
Tak lama kemudian ruang operasi terbuka dan pria berbaju putih yang ia yakini sebagai dokter keluar, "Keluarga Park Chanyeol-ssi?" pria tua itu melihat ke kiri dan ke kanan.
Luhan dan Baekhyun mengangkat tangannya. Keduanya tampak saling bertukar pandangan, bingung akan kehadiran masing-masing.
"Apa diantara kalian ada yang bernama Baekhyun?" Dokter itu melihat kedua pria cantik itu bergantian. Baekhyun angkat suara, membuat raut bingung berubah menjadi keterkejutan. "Oh?! Kau Byun Baekhyun yang itu? Yang semua orang bicarakan?" Luhan melihat pria mungil di hadapannya dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Apa Chanyeol itu gila memacari anak SMP?" Luhan berdecak sembari menggelengkan kepalanya.
Baekhyun nampak tidak mengerti, ia mencoba tidak menghiraukan pria bermata rusa di depannya dan kembali melanjutkan langkahnya memasukki ruang operasi dimana Chanyeol berada.
"Oh my god, sombong sekali. Sifatnya benar-benar seperti kekasihnya"
Sehun yang entah dari kapan disana menepuk punggung ramping itu, membuat si mata rusa hampir melompat kaget namun dengan cepat ia menyembunyikan rasa terkejutannya.
"Bagaimana dengan bos? apa operasinya berjalan dengan baik?"
Luhan mengangguk, "Tentu, sebuah peluru tak bisa membunuhnya, kau tahu?", Kini Sehun yang berganti menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Luhan tentang bos mereka yang seperti abadi, tak terkalahkan.
"Kau harus melihat manian baru Chanyeol, tak kusangka ia akan menggoda anak sekolahan, cih"
Sehun tertawa kecil, "Jangan tertipu oleh wajahnya, yang kau sebut anak sekolahan itu adalah seorang penari stripper"
Lantas Luhan menutup mulut dengan kedua tangannya tidak percaya, "Astaga, aku merinding"
.
.
.
Baekhyun berdiri termangu, di depan pintu, ia bisa melihat dengan jelas sosok Chanyeol yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan perban membalut bagian bahu nya. Meski dokter berulang kali mengatakan bahwa luka yang didapat mafia itu tidaklah fatal, namun tetap saja Chanyeol bisa mati jika peluru itu sedikit meleset dari bahu kirinya.
baekhyun mengepalkan tangannya erat, tidak yakin apa yang harus ia lakukan.
Apakah ia harus masuk ke dalam atau sebaiknya ia pergi saja?
"Kenapa melamun disitu?" Suara bass yang mirip dengan Chanyeol membuat pria mungil itu menolehkan pandangannya, tepat di belakangnya sesosok pria tinggi berambut blonde sedang memincingkan matanya menatap Baekhyun curiga.
"Apa yang anak kecil sepertimu lakukan di sini, huh?", Baekhyun menundukkan kepalanya menghindari orang menyebalkan itu, hendak berjalan pergi namun lengan nya di tahan dengan lancang oleh pria tersebut. "Mau kemana, eh?" Kekehnya ketika Baekhyun menatapnya dengan pandangan seolah akan memukul dirinya yang dengan lancang menyentuh lengannya.
"Lepaskan atau aku akan memanggil security!"
"Aku tidak takut dengan security. Apa kau tahu? pria yang terbaring di dalam sana jauh lebih menakutkan dibanding dengan para security,manis"
Baekhyun mendengus kesal, ia sedang tidak mood untuk berkelahi dengan siapapun saat ini, perasaannya sedang kacau balau.
"Ma-maaf Bos, dia Byun Baekhyun kekasih tuan Park", bisik salah satu bodyguard milik pria blonde itu.
Kris tampak menunjukkan ekspresi yang sama dengan Luhan sebelumnya. "Fuck, kenapa kau tidak memberitahuku dari awal sialan" Bisik Kris sembari memberikan death glare pada body guardnya.
"Saya minta maaf bos, Saya tadi masih mengingat-ingat wajahnya, pada awalnya Saya tidak yakin" Body guard berbadan besar itu menundukkan kepala nya. Kris mengusap wajahnya kasar.
Shit, Chanyeol akan membunuhku.
"Maaf, aku tidak tahu kau adalah kekasih sepupuku", Kris menelan ego nya, ia membungkuk dengan tulus meminta maaf. Baekhyun menatap Kris dari kaki hingga kepala, berfikir bahwa kedua sepupu itu tidak hanya memiliki paras yang serupa namun juga tingkah yang serupa, yaitu menyebalkan.
Baekhyun mengangguk tidak masalah akan hal yang baru saja terjadi, "Kalau begitu aku pamit"
"Kau tidak masuk untuk bertemu Chanyeol?"
Pertanyaan Kris membuat langkah Baekhyun kembali terhenti. "Kau masuklah, Aku akan kembali nanti, kupikir Chanyeol lebih mengharapkan kehadiranmu disisi nya, kata suster yang merawatnya mengatakan dia terus menyebut namamu dalam situasi setengah sadar"
Baekhyun masih tidak bersuara, membuat Kris melanjutkan ucapannya, "Temani Chanyeol, sekarang kau adalah hal yang paling dibutuhkan olehnya saat ini"
.
.
.
Baekhyun perlahan berjalan mendekati Chanyeol yang terlihat masih terlelap karena obat tidur yang diberikan ketika menjalani operasi.
Ia menautkan jemarinya diantara jemari Chanyeol.
"Nyawaku ini tak seberapa dibading nyawamu sialan, dasar bodoh" Isak Baekhyun merasa frustasi.
Baekhyun tidak menyadari bahwa Chanyeol sebenarnya sudah sadar ketika Baekhyun menautkan jemari mereka, ia tersenyum mendengar penuturan pria cantik yang kini sedang menangis tersedu memegangi tangannya. Dengan perlahan ia mengelus surai rambut silver itu yang halus seperti rambut bayi. Membuat Baekhyun yang sedang menangis mendongak, hingga membuat kedua manik mata mereka bertemu.
"Lihat bagaimana si keras kepala Byun Baekhyun menangis sesegukkan karena melihatku terbaring disini" Chanyeol tersenyum mengejek.
"Aku benci padamu!" Alih-alih mengucapkannya dengan nada marah, ia malah kembali menangis sambil memaki nya.
Chanyeol terkekeh melihatnya, ia senang dapat melihat sisi lain dari pria manis itu. "Bagaimana denganmu? Kau tidak terluka kan?"
Baekhyun menggeleng, mengusap kasar air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Banyak pertanyaan yang melintas di kepala nya saat itu, mmun dirinya tidak ingin membuat pria itu terlalu stress dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, menurut dokter, Chanyeol tidak boleh terlalu stress dan melakukan hal berat sampai lukanya benar-benar sembuh total.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Chanyeol menyelipkan rambut Baekhyun kebelakang telinganya, hingga wajah cantik itu kini terlihat dengan jelas, "Satu ciuman untuk satu pertanyaan"
Alis Baekhyun menukik tajam, persyaratan macam apa itu. "Fuck no"
"Akhh.." Chanyeol meringis memegangi luka yang ditutupi perban itu berpura-pura seolah ia sedang kesakitan.
Jackpot!
Baekhyun masuk ke dalam perangkapnya, apakah ia kejam jika ia merasa senang melihat puppy nya itu panik melihat dirinya yang berpura-pura kesakitan?
"Baiklah-baiklah"
Chanyeol menatap Baekhyun, memberi isyarat untuk pria mungil itu mendekatkan wajahnya dan menyatukan kedua belah bibir mereka, karena Chanyeol masih belum bisa mengangkat tubuh bagian atasnya.
Baekhyun dengan ragu-ragu mendekatkan wajahnya, pipinya sudah semerah tomat. Melakukan hal tidak senonoh di rumah sakit, sungguh gila.
Senyuman terlukis di wajah tampan itu ketika perlahan ia bisa merasakan terpaan kenyal bibir Baekhyun, serta pasta stroberi yang digunakannya. Membuatnya kecanduan.
Tidak ada nafsu disana, hanya pure kissyang terbentuk dari rasa rindu yang membuncah diantara keduanya, Baekhyun menahan bobot tubuhnya agar tidak menidih tubuh Chanyeol.
Tautan itu terlepas, menyisahkan Chanyeol yang tersenyum lembut menatap wajah cantik pria di atasnya, seakan ia tak pernah bosan menatap wajah itu.
"Jangan menatapku seperti itu sialan" Baekhyun menutup wajahnya malu, tak berani menatap ke dalam mata itu. Chanyeol terkekeh melihatnya, "Nah, apa yang ingin kau tanyakan baby?"
Baekhyun berdehem, kupingnya memanas mendengar embel-embel panggilan yang diberikan.
"Kenapa kau bisa berada di Jepang? Bagaimana kau tahu aku berada di pesta itu? Bagaimana caranya kau bisa masuk?" Tanya Baekhyun kembali dengan wajah serius.
"Kubilang satu pertanyaan satu ciuman sayang"
Baekhyun menatap Chanyeol kesal. Chanyeol mencubit pipi berisi itu gemas. "Jika kau terus bertanya seperti ini kau akan memiliki banyak hutang ciuman padaku"
Baekhyun memutar bola matanya malas, "Nanti, sekarang jawab pertanyaanku dulu"
Chanyeol meninggikan kepala kasurnya sehingga posisinya sejajar dengan Baekhyun yang terduduk di samping ranjangnya. "Bagaimana aku tahu kau di jepang? Mudah, kau tahu aku selalu tahu keberadaanmu meskipun kau selalu berusaha untuk kabur.."
Chanyeol menekankan kata terakhirnya, membuat Baekhyun mengigit bibirnya merasa bersalah.
"..Sehun memberitahu bahwa kau menerima undangan spesial dari orang jepang untuk menari disana, kupikir kau masih berakal sehat untuk tidak menerimanya, demi Tuhan kau harusnya menyadari dari awal bahwa undangan itu sangat mencurigakan! Maka dari itu aku mencoba menahanmu namun kau pergi tanpa mengucapkan apapun, serius Baek? Ku kira ada sesuatu yang spesial di antara kita"
Baekhyun hanya bisa menunduk mendengar penuturan Chanyeol.
Chanyeol mendesah kecewa namun tetap kembali melanjutkan, "Ternyata firasatku benar, seseorang berusaha untuk memasang perangkap yang menempatkanmu dalam bahaya. Setelah mendapatkan informasi tersebut aku langsung pergi bersama tim untuk menjemputmu, namun ketika aku sampai keadaan sudah kacau. Aku begitu panik, bagaimana jika suatu hal buruk terjadi padamu? Bagaimana jika aku terlambat datang? Dan disana aku melihat kau hampir tertembak.. Bagaimana jika aku terlambat Baek..? Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika melihat dirimu tertembak dengan mata kepalaku sendiri.." Mata yang semula bersinar itu kini menatap manik Baekhyun sendu. Chanyeol mengusap wajahnya kasar, memikirkan hal itu membuat hatinya beremuruh tidak karuan.
"Jangan pernah mengatakan hal seperti nyawaku lebih berharga dibanding dengan nyawamu, karena kau adalah segalanya untukku baek, milikku yang paling berharga. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirimu disisiku"
Air mata kembali membasahi pipi Baekhyun, jemari lentiknya menyentuh rahang tegas Chanyeol "Maafkan aku Chanyeol.."
Chanyeol mengusap air mata itu, "Air mata tidak cocok denganmu, kau jauh terlihat cantik jika tersenyum"
"Semua kata-kata manismu akan membuatku terkena gula" kekeh Baekhyun sembari menjulurkan lidahnya mengejek.
"Berani mengejekku? Kau berhutang banyak ciuman padaku, kau ingat?" Sindir Chanyeol.
"Aku tidak-", Sebelum Baekhyun selesai berbicara, Chanyeol dengan capat meraih tengkuk Baekhyun, kembali membawa bibir mereka kedalam sebuah ciuman, berbeda dengan yang pertama, kini ciuman Chanyeol lebih menuntut, Baekhyun yang awalnya menolak mulai terbuai. Mereka saling berpanggutan, lidah Chanyeol yang dengan lihai mengesplor mulut Baekhyun, mengajaknya untuk saling beradu lidah.
"Nghh.."
Desahan tak sengaja lolos dari bibir seksi itu, dengan lancangnya jemari panjang Chanyeol menyelinap masuk dan memilin puting nya di balik baju yang dikenakannya. Baekhyun dibuat kewalahan, ia berusaha menarik turun tangan nakal pria-nya, namun Chanyeol dengan sengaja mengapit puting itu diantara kedua jarinya. Membuat Baekhyun memejamkan matanya, menjerit nikmat hingga melepas tautan bibirnya, Chanyeol menatap Baekhyun bergairah, ia bisa merasakan penisnya mengeluarkan pre-cum hanya dengan pemandangan di depannya, baekhyun yang memejamkan mata dengan mulut terbuka, medesahkan namanya. Untung saja kamar rumah sakit Chanyeol jauh dan kedap suara dibandingkan kamar rawat inap biasa.
Chanyeol menjilat bibirnya seksi, "fuck you're so hot baby".
Baekhyun pikir ia sudah kehilangan akal nya, mereka sedang berada di rumah sakit. Dokter atau suster bisa masuk kapanpun dan menangkap mereka sedang melakukan tindakan tidak senonoh.
"Akhh.. yeol kau sudah gila" Jerit Baekhyun ketika tangan Chanyeol yang satunya beralih meremas bokong sintal yang sudah lama ia rindukan itu.
"Shhh.. aku merindukanmu baby" Ciuman Chanyeol kini berpindah ke leher jenjang Baekhyun, memberikan beberapa kecupan disana, Baekhyun hanya bisa melampiaskan nya pada surai rambut Chanyeol, membuat keadaan rambut sang bos mafia itu berantakan.
"Jangan disini Yeolhh ahh ahh" ucapannya terhenti saat bibir tebal itu mulai menghisap kulit putihnya, bermaksud meninggalkan tanda kepemilikan.
Tanpa mereka sadari seseorang berdiri di depan pintu ruang rawat inap Chanyeol dengan hati yang membara, tangannya memegang erat benda tajam di tangan nya. Dengan pandangan dingin ia menatap tubuh dua body guard Chanyeol sudah bersimbah darah.
"Aku akan menghancurkanmu berkeping-keping"
.
.
.
.
ㅡㅅㅡ
Ihh udah setaun dari terakhir apdet, kelamaan hiatus ya hehe. Maaf kalo kurang memuaskan, maaf tengah malem banget. aku sadar banget kalian nunggu lama, aku minta beban ekpetasi buat chap ini jadi menggunung, sebenernya apdet ini alu takut takut, takut ga sesuai ekspetasi kalian, kalian kecewa aku sedihㅠㅠ
comment kalian aku baca semua, yang promote ff aku di twitter ato ig makasi banget, aku liat di search twt eh mski uda 1taun masi ada yg ngomongin, seneng bangett, maaci💕
Kritik membangun sangat diperbolehkan, kalo ada kurang kurang bisa aku add, ato perbaikan untuk chapter depannya. ga disscont kok ini blue eyes, santuy hehe.
M nya dikit dulu ya? di chap depan aja wkwk ga tepat timing nya ada cockblocker.
