Rasanya baru kemarin, ketika masih kuraba makna atas ikrar yang kita kukuhkan di bawah langit berbintang. Ketika aku memulai hari demi hari, hanya sekedar menemukan jawaban atas pertanyaanmu itu.
Rasanya baru kemarin kita berdebat untuk kali pertama. Ketika langkah demi langkah kita ambil untuk mewujudkan entitas bernama angan.
Kini aku kembali membuka lembaran waktu, memandangi sekuens kisah. Ketika hadirmu selalu hadir menyerta.
Proved Me Wrong
By: Koyuki17
© Boboiboy Monsta Studio
Chapter 15: Kembali
Fang hanya bisa pasrah ketika ia tak bisa menjajal juara pertama pada lomba komposisi lagu, namun tempat kedua tidaklah buruk juga sebenarnya. Lagipula Fang merasa berhutang budi pada rival barunya itu (soal catatan dan juga Cahaya yang sedikit-sedikit membagikan pengalamannya soal komposisi lagu).
Walaupun Fang sedikit kecewa, para suporter nampaknya tak ambil pusing atas hasil yang diraihnya. Halilintar sempat mengirim pesan bahwa ada urusan mendadak jadi ia tak bisa menunggu bubar acara (tak lupa ia mengucapkan selamat).
Sebelum pulang malam harinya, kelima sahabatnya itu mengerubungi Fang di depan gedung pertunjukan.
"Akhirnya dapat juara juga! Udah berapa tahun nih dengan begini? Hehe..." Sindir Gopal, mengingat Fang sebelumnya belum bisa mencetakkan namanya pada titel juara.
"Berisik lah! Ini kan akhirnya bisa dapat juara dua!" Sambar Fang, sempat-sempatnya memang temannya ini menyindir.
"Faang! Selamaat! Penampilanmu bagus, sampai terharu rasanya" Puji Yaya, masih ingat betul kata-kata yang Fang utarakan sebelum mulai memainkan komposisi Aksa.
"Kau memang terbaik lah pokoknya!" Ying pun ikut menimpali sambil mengacungkan jempolnya.
Belum sempat Fang menanggapi lagi sambutan yang didapatnya, tangan Gopal, Api, dan Air tahu-tahu mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi di udara.
"Pokoknya, hore buat jagoan piano kita ini!" Gopal bersorak dengan riangnya.
"Ayo kita arak dulu keliling gedung!" Usul Api, ia pun mengambil ancang-ancang dan berlari di tempat.
"Huss.. bentar lagi kita pulang oi!" Sahut Ying, jari tangannya mengetuk jam tangannya yang menunjukkan hampir jam sepuluh malam.
"Iya, besok kita masuk sekolah loh!" Yaya pun ikut mengingatkan.
"Jangan ingatkan itu lah Ying, Yaya... sekali-kali kita nikmati kemenangan ini dulu..." Protes Gopal, tak ingin rasanya pikirannya tertuju pada rutinitas esok harinya.
"Yasudah, pokoknya yang lima menit nggak kembali ke mobil bakal ditinggalin!" Ujar Ying tanpa banyak kompromi lagi.
"Iya, iya..." Balas Gopal "Tapi sebelum itu..."
Tiba-tiba saja Fang pun dilemparkan ke atas oleh ketiga temannya itu bersama dengan sorak sorai. Hal ini tentunya membuat Fang panik bahkan sampai ia kembali mendarat di tangan Gopal, Api, dan Air sekalipun.
"Sekali lagi, sekali lagi!" Seru Api sambil tertawa-tawa karena senangnya.
"Waaa! udah oi turunin!" Fang, yang punya pengalaman pertama diangkat dalam karung oleh Gopal dan Api (ketika ia diculik ke ruangan musik saat SMP dulu) tentunya merasa waswas.
Melihat kelakuan teman-temannya, Ying dan Yaya hanya bisa menghela napas dan memaklumi kehebohan yang terjadi. Anak laki-laki pasti selalu bersemangat seperti ini ya, begitulah pikir mereka.
"Oh ya, Boboiboy juga pasti senang sekali!" Ying pun teringat satu teman mereka yang sekarang absen.
"Pastinya, besok bagaimana kalau kita tengok Boboiboy?" Yaya pun mengusulkan.
"Setuju!" Jawab keempat orang lainnya dengan semangat.
Boboiboy ya...
Mendengar nama itu, sekilas pikiran Fang termangu.
Tak perlu waktu lama sampai ketiga temannya itu mengembalikan kaki Fang untuk menjejak bumi. Lalu sorak-sorai teman-temannya pun sedikit buyar oleh pemikirannya atas ucapannya di atas panggung barusan. Ketika kelima orang itu akhirnya pamit pulang, Fang hanya melambaikan tangan pelan lalu ia pun berbalik dan hendak kembali ke kamar. Pikiran yang sama masih mengusiknya.
'Saat menyaksikan penampilannya di atas panggung, bagaimana reaksi orang itu ya?''
Tak ada telepon dari Boboiboy sampai Fang tertidur karena kelelahan di tengah malam. Hanyalah Taufan yang mengirimkan ucapan selamat lewat pesan singkat (dan baru dibuka pada pagi keesokan harinya). Fang pun sedikit ragu-ragu ketika ingin memunculkan pertanyaan soal Boboiboy, namun akhirnya ia pun menanyakannya.
'Cepat sini pulang! Kita rayakan bareng-bareng~' Begitulah isi pesan dari Taufan, nampaknya Fang masih harus menunggu sebentar lagi untuk mengetahui bagaimana reaksi sang rival.
.
.
.
Sebuah panggilan dari Halilintar mendistraksi lamunan Fang, membuatnya meletakkan kembali sehelai baju yang belum dimasukkannya ke dalam tas.
"Sudah beres-beres?" Tanya Halilintar dari balik telepon.
"Sebentar lagi selesai, kakak sudah di tempat parkir?" Fang pun memasukkan baju terakhirnya dan segera mengecek barang-barang yang tertinggal di meja.
"Iya, kalau sudah selesai, langsung ke bawah ya".
"Oke, siap kak". Percakapan mereka pun terputus dan Fang kembali mengecek barang-barangnya.
"Sudah mau pulang Fang?" Cahaya, yang telah merapikan barangnya lebih dulu dari Fang pun bertanya. Ia nampaknya masih menunggu sesuatu sebelum pulang.
Fang mengangguk, lalu dibukanya pintu untuk mengeluarkan tas ranselnya dari kamar. Baru saja ia meletakkan tasnya di sebelah pintu, sosok remaja berkaus putih dan rompi hijau muda melirik ke arahnya dengan mata berkaca-kaca dari koridor di sampingnya. Melihat Fang, remaja itu pun langsung menghampiri.
'Anak nyasar siapa pula ini?!' Teriak Fang dalam hati.
"Apa... apa kamu tahu Cahaya ada di mana...?" Tanya anak itu sambil setengah menangis.
Melihat bahwa dia adalah kenalan Cahaya, Fang bisa tahu siapakah anak nyasar ini.
"Loh, ada siapa Fang?" Cahaya pun melongok dari ambang pintu, lalu segera saja anak berompi hijau itu membuatnya sedikit terkejut.
"Cahayaaaa~!" Anak nyasar itu pun langsung berlari ke arah Cahaya sembari memeluknya erat.
"Ini temanmu nyasar." Ujar Fang, ia pun mengambil barang lainnya yang tidak muat dimasukkan ke dalam tas.
"Dasar kau ini Daun... masa berpetualang di hutan sendiri nggak takut tapi kalau di tempat seperti ini nyasar malah takut.." Ujar Cahaya sambil menghela napas panjang.
"Hiks... habisnya... di sana banyak orang-orang yang ngeliatin, sereem..." Ia pun menunjuk deretan kamar peserta lain (yang sedang sibuk-sibuknya membereskan barang dan sedikit terusik karena kehadirannya barusan).
"Ya makannya jangan nyelonong masuk ke sini..." Cahaya menasehati, ia sudah bisa menebak bahwa temannya ini seenaknya masuk. "Oh ya Fang, perkenalkan. Ini temanku, Daun" Cahaya pun akhirnya memperkenalkan anak hilang itu.
"Berarti kau temannya Cahaya kan?" Belum sempat Fang menyahut, Daun langsung menerka demikian. "Maafkan kalau Cahaya suka berkata kasar... tapi, dia orang yang baik kok sebenarnya...!" Ucap Daun dengan sungguh-sungguh.
"Huss, jangan bilang begitu dong..." Cahaya pun menepuk punggung temannya itu "Kau mau pulang sekarang kan Fang? Maaf kalau jadi menahanmu..."
"Eeeeh, sudah mau pulang?" Tanya Daun dengan nada kecewa.
"Kau punya seseorang yang menunggumu sekarang bukan? Cepatlah ke sana..." Sembari tersenyum, Cahaya mengulangi perkataannya. Karena ia tahu bahwa sejak semalam, teman sekamarnya itu sedikit gelisah dan ingin segera pulang.
Fang mengangguk mengiyakan, ia memang ingin cepat-cepat menemui teman bertopi oranyenya itu. "Terimakasih, aku pamit duluan ya."
"Senang bertemu denganmu Fang!" Tangan Cahaya pun terbuka di depan Fang, "Sampaikan salamku pada temanmu ya."
"Iya, akan kusampaikan..." Jawab Fang, tangannya pun menyambut uluran tangan di hadapannya.
"Sampai jumpa lagi di kompetisi yang lain ya!" Tambah Cahaya.
"Pasti! Selanjutnya aku nggak akan kalah!" Jawab Fang sebelum meraih tasnya lalu berbalik pergi.
Fang pun meninggalkan kedua orang itu dan entah mengapa, Fang sempat sekilas interaksi kedua orang itu sebelum berbelok di koridor. Bagaimana figur pandai berpemikiran tajam dapat berdampingan dengan si polos dan kenakan. Ini bukanlah pertama kalinya Fang melihat hal seperti ini, karena Halilintar dan Taufan adalah yang pertama (dalam konteks polar yang berbeda tentunya).
Lalu bagaimana dengan dirinya dan Boboiboy, apa mereka juga terlihat seperti itu pada perspektif seseorang?
Fang menggulung senyum, menerka bahwa mungkin mereka berdua juga memiliki sebuah interaksi aneh seperti itu.
-PmW-
Tak ada percakapan apapun dari kedua orang itu, membuat suara mesin mobil mendominasi perjalanan. Melihat Halilintar yang diam seribu bahasa, Fang semakin ragu untuk bertanya soal Boboiboy. Ingin bertanya pendapat sang wali soal penampilannya kemarin malam pun rasanya segan. Fang akhirnya memutuskan untuk memandangi warna-warna hijau pepohonan di luar sana.
Manik ruby Halilintar sekilas melirik Fang sebelum kembali pada bentangan jalan di hadapannya.
"Fang, kau ingin langsung bertemu dengan Boboiboy bukan?" Sebuah terkaan Halilintar melesat pada fokus benak Fang, membuat remaja berkacamata itu sedikit terkejut.
"Iya kak..." Fang sebenarnya tak ingin langsung pulang, ia tak keberatan mampir ke rumah sakit dan bertemu rivalnya itu.
Setelah malam itu, ingin sekali Fang memastikan bahwa Boboiboy masih ada bersama mereka. Bukan hanya sekedar suara dari balik telepon, namun secara fisik ada dan benar-benar bertemu.
"Boboiboy tadi titip salam juga. Katanya ia ingin segera bertemu denganmu." Lalu untuk yang pertama kalinya, tangan besar Halilintar mengelus surai berantakan Fang, "Penampilanmu kemarin paling hebat, kau tahu?"
"Terimakasih kak..." Fang tahu Halilintar bukanlah orang yang paham betul soal musik, dan inilah pertama kalinya pria itu memujinya seperti ini.
Perjalanan masih cukup panjang, dan Fang pun tertidur karena matanya terasa berat dan istirahat tadi malam masih belum cukup. Jika bukan karena Halilintar yang mengguncang bahunya, ia pasti takkan terbangun. Fang merasa ia hanya tertidur sepuluh sampai dua puluh menit, namun mereka telah sampai karena mobil telah berhenti.
"Yuk turun.." Ajak Halilintar sementara ia membuka pintu mobil dan beranjak menuju bagasi belakang.
Perlu setidaknya setengah menit sebelum Fang berhenti mengerjap-ngerjapkan matanya dan memfokuskan kembali visinya itu. Sebuah pemandangan taman kecil yang begitu akrab, dan rumah mungil di sebrangnya langsung menghentakkan kesadaran Fang pada titik penuh.
Mereka... pulang?
Rasanya Halilintar bilang bahwa mereka akan menjumpai Boboiboy, kenapa sekarang mereka malah pergi ke sini? Dengan sedikit ragu, Fang pun keluar dari mobil dan hendak menyusul Halilintar (yang kini menenteng tas Fang dari bagasi). Belum sempat ia bertanya, suara pintu rumah yang terbuka menarik atensi Fang.
Beberapa hari lalu, yang ditemuinya adalah sosok Boboiboy yang tak sekalipun terbangun, berada di ruangan serba steril yang mengingatkan Fang atas kali terakhir berjumpanya ia dengan sang ibu. Namun panggilan telepon itu menjadi satu-satunya bukti bahwa Boboiboy belum beranjak menuju matra kekal itu. Kini, lebih dari suara, sosok ini berdiri di hadapannya.
Dengan menggunakan jaket tebalnya, Boboiboy berlari ke arah Fang. Langkah yang diambilnya sedikit goyah dan sempat membuat rivalnya itu khawatir. Namun akhirnya kedua tangan itu melingkari bahu Fang, cengkeramannya kuat sekali sampai membuat Fang terheran-heran. Tapi pada akhirnya, tangan Fang pun balas memeluknya walau singkat.
"Bagaimana penampilanku kemarin? Keren bukan?" Fang membuka percakapan, membuat Boboiboy melepaskan pelukannya.
"Paling terbaik!" Boboiboy pun menyeka sudut matanya. "Jadi poin kita seri sekarang!"
Keduanya pun lalu tertawa-tawa. Mungkin mereka takkan mengira bahwa hasil seri akan termasuk hitungan. Baik Halilintar dan Taufan (yang menunggu di ambang pintu) pun tersenyum melihat kelakuan kedua remaja itu.
Fang ingin sekali percaya bahwa Boboiboy pulang dalam keadaan sembuh, penyakit ganasnya itu telah menguap tanpa menyisakan jejak apapun. Namun ketika jemari tangannya merasakan bahwa tubuh itu lebih ringkih dari yang diingatnya, ketika kulit itu lebih dingin dan pucat dari yang biasanya, ia ditarik kembali pada suatu fakta yang masihlah sama seperti sebelumnya.
Fang tahu bahwa waktu yang tersisa mungkin tak lagi banyak...
-PmW-
Liburan awal tahun pun mereka lewati dengan berdiam di depan penghangat ruangan dan menyeduh minuman panas. Hampir sama sebenarnya dengan tahun-tahun lalu, dimana mereka memang jarang berlibur di musim beku ini. Namun kini baik Boboiboy, Fang, Halilintar dan Taufan pun memaknai lebih waktu yang mereka habiskan di rumah mungil itu.
Bagi Fang, bagaimana Halilintar dan Taufan yang semakin sering meluangkan waktu pun adalah sebuah hal yang hampir sulit di antara kesibukan kerja keduanya. Tapi Halilintar hampir tak pernah absen untuk membawa pulang makanan setiap hari kerjanya dan membuat makan malam semakin lengkap karena mereka berempat bisa bersama. Begitupun Taufan yang semakin sering singgah ke rumah saat waktu senggangnya di sore hari (yang sebenarnya tak seberapa lama).
'Keluarga' kecil mereka mungkin tak sedikitpun terpautkan oleh ikatan darah. Namun sekalipun kini mereka harus menghadapi situasi berat dengan sakitnya Boboiboy, kebersamaan mereka justru semakin kentara.
.
.
.
"Pagi Boboiboy. Sekarang hari Sabtu, dua Februari." Suara Fang pun menyapa sadar Boboiboy, diikuti oleh langkah kaki yang mendekatinya dan Fang pun terhenyak di tepi kasur Boboiboy.
Boboiboy pun bangkit dan duduk di kasurnya, pikirannya masih berselimut kabut dan dikerjapkanlah matanya. Ketika semua lebih jelas, ia menoleh pada Fang, lalu pada jendela dan pemandangan serba putih di luar. Perlu sedikit waktu sampai Boboiboy memproses informasi dari segala yang dilihatnya saat ini. Jika sedang parah-parahnya, memang pandangannya begitu kabur dan sulit untuk mendeterminasi apa yang berada di sekelilingnya.
"Di luar masih turun salju.. mungkin tahun ini musim dinginnya bakal agak lama ya..." Komentar Fang sembari ikut menatap tumpukan salju di luar sana. "Mau sarapan? Atau mau cokelat panas?"
"Cokelat panas saja, hehe..." Jawab Boboiboy, ia memang kurang berselera makan pagi itu. "Kau nggak pergi ke sekolah Fang?"
"'Kan hari sabtu..." Ujar Fang sambil bangkit, nada suaranya mengisyaratkan bahwa ia telah terbiasa dengan hal ini.
"Ah... aku lupa..." Belum genap dua menit sejak Fang menyebutkan bahwa hari ini hari libur, namun Boboiboy tak menyadarinya.
Remaja berkacamata itu pun mengangguk dan kembali menghilang di balik pintu. Ia takkan mendebat dan memaklumi apa yang terjadi sekarang.
Boboiboy pun terhenyak kembali di bantal empuknya, memang ia tak memiliki banyak energi dan kantuk lebih sering memandunya untuk terlelap. Lalu setiap pagi ketika ia terbangun, Fang akan mengingatkan tanggal dan hari apa sekarang. Lalu mereka akan sarapan atau sekedar minum cokelat panas sebelum memulai satu lagi hari.
Pagi yang seperti ini, akan sampai kapan berlanjut ya? Begitulah tanya Boboiboy sambil kembali merenungi suasana sepi di sekitarnya.
Menyongsong satu lagi pagi seperti ini tak pernah ia pikirkan setelah ia kembali sakit. Boboiboy bahkan mengira bahwa menuntaskan janjinya akan sedikit mustahil dengan kondisinya sekarang yang sekarang. Namun kembali ia memandangi carik kertas penuh coretan yang disusunnya sebelum kepulangannya dari rumah sakit. Lalu senyumnya kembali merekah. Ia tak boleh menyerah.
Bersama dengan sekelebat ingatan, terungkapkan bagaimana dua orang anak berjanji untuk kembali ke bukit dan pohon beech di belakang rumah. Kala itulah sebuah jawaban dari Fang sudah harus mengemuka, dan Boboiboy akan melunaskan sebuah penantiannya selama ini.
.
.
.
Baru saja Boboiboy merasa lebih baik, namun sore harinya rasa sakitnya kembali kambuh. Membuat remaja itu tak bisa melakukan hal lain selain meringkuk kesakitan. Fang sempat gentar, bingung tentang apa yang harus dilakukannya dalam kondisi seperti ini (setelah membujuk Boboiboy untuk meminum obat pereda nyeri barusan). Tapi Fang tak sekalipun beranjak dari sisi tempat tidur Boboiboy. Karena Boboiboy hanya meminta itu saja, sebisa mungkin ia tak ingin sendirian.
Lalu ketika rasa sakit itu semakin menghilang dan Boboiboy mulai terlelap dengan tenang, Fang pun mulai beranjak pada pianonya dan memainkan nada-nada pelan pengantar tidur. Setelah satu masa sulit kembali mereka lewati, maka jemari Fang akan berhenti dalam gemetar, nada pun lebur dalam keheningan yang kembali asing. Tangan Fang mengepal dengan kencang, mencoba untuk tak sedikitpun mengeluarkan suara yang setara dengan seberapa besar lara yang kian memuncak.
Bagian yang paling berat dari sebuah kisah adalah kala sebuah eksistensi merapuh. Layaknya menyaksikan bagaimana setangkai bunga bersemi, lalu dalam semaraknya mekar dan merekah. Namun akan ada satu titik dimana pada akhirnya ia menjemput layu, perlahan mengering dan sirna dalam hempasan masa. Terlalu pilu, bahkan untuk sekedar dibayangkan. Dan tak semua orang bisa melaluinya dengan perisai keteguhan yang stagnan.
Sekalipun melihat keadaan Boboiboy memunculkan ingatan yang sedari dulu berusaha ia pukul mundur, Fang bersikukuh untuk tetap menemani. Karena ia harus lebih kuat dari sahabatnya itu. Untuk sebuah janji mereka...
-PmW-
Di luar sana, sang surya tak mampu melepaskan seluruh anak panah cahayanya sampai menembus tirai pekat awan. Musim semi belum juga menepi, dan bisa diperkirakan bahwa kristal es masihlah akan mengisi udara di sisa hari itu bahkan hingga malam menjemput sekalipun.
Ketujuh sahabat itu duduk melingkar di atas karpet di ruang tengah rumah. Sebuah kue tart cokelat berada di hadapan Boboiboy, nyala api terpantulkan pada manik hazelnya. Sebuah nyanyian mengiringi tiupan lilin itu, dan sorak sorai pun terdengar setelahnya. Mereka pun tertawa-tawa, menyadari bahwa mereka bertingkah layaknya anak-anak yang baru pertama kali merayakan ulang tahun seperti ini.
"Selamat ulang tahun Boboiboy~" Ucap Yaya.
"Sini! Sini! Aku kasih peluuk~" Ujar Gopal, tangan gempalnya langsung menarik Boboiboy ke dalam pelukannya.
"Aku juga mau peluk kapteeen!" Api berseru tak mau kalah.
"Hei kalian, Boboiboy mulai kedempet ituuu" Ying memperingatkan, namun akhirnya ia pun ikut juga.
Tak ada kado apapun yang Boboiboy harapkan, jadi semua memutuskan untuk membeli makanan sebanyak mungkin untuk pesta kecil mereka itu. Gopal dan Api langsung memecahkan rekor atas porsi makanan dan camilan yang mampu keduanya lahap.
Tak lupa mereka mengambil sebuah foto bersama sebagai kenang-kenangan hari itu. Setelah hampir dua jam kegaduhan malah semakin menjadi, akhirnya ia berangsur surut. Hingga berakhirlah pesta ulang tahun Boboiboy di hari itu.
"Sampai jumpa lagi Boboiboy! Pestanya tadi seru looh!" Gopal berseru sambil menepuk-nepuk bahu kawannya itu.
"Iya, sampai mamanya Yaya ngecek ke sini takutnya kita lagi rusuh! Dasar kalian ini ya..." Ying pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lain kali jangan sampai hura-hura begitu ah, kan nggak baik itu..." Tambah Yaya sambil sedikit cemberut
"Siap ibuuu..." Jawab Gopal dan Api kompak, lalu mereka pun mendapat lirikan tajam dari Yaya "Si... siap, Yayaa!"
Lalu setelah dua-tiga percakapan ribut, maka kelima orang itu pamit untuk pulang. Boboiboy memandangi semua temannya yang berjalan menjauh dari rumahnya, bagaimana Gopal dan Api masih melambai-lambai riang.
"Jadi ke luar kan sekarang?" Sebuah pertanyaan dilontarkan Fang, lalu Boboiboy mengangguk mantap.
.
.
.
"Benar nih nggak apa-apa kalau kakak pulang telat?" Dengan nada ragu, Taufan bertanya di balik telepon.
"Iya, nggak apa-apa kak. Kan ada Fang..." Jawab Boboiboy dengan tenang.
Boboiboy sedang duduk di ruang tamu, mengayunkan kakinya yang telah terbungkus sepatu bot. Begitupun baju tebalnya yang berwarna oranye dengan garis hitam, membuatnya siap untuk menangkal udara beku ketika keluar rumah nanti.
"Mana kak Hali juga hari ini ada perlu. Tadi dia ngasih kabar kan?" Tanya Taufan, ia keheranan kenapa bisa-bisanya baik ia maupun Halilintar tak bisa pulang di saat yang bersamaan seperti sekarang.
"Iya, barusan banget kak. Nggak apa-apa kok..." Ulang Boboiboy, ia merasa bahwa mereka akan baik-baik saja.
"Siplah kalau begitu, tapi kakak nanti langsung pulang kalau sudah selesai" Taufan kini teringat sesuatu lalu lanjut berkata. "Oh ya, Selamat ulang tahun ya Boboiboy! Gimana tadi pestanya?"
"Seru sekali kak, tapi tadi kita dipergok ibunya Yaya... haha..." Boboiboy pun memabayangkan bagaimana keributan barusan.
"Biang rusuh ya kalian ini..." Sembari tertawa kecil, Taufan pun berkata. "Kalau begitu, hati-hati di rumah ya."
"Siap kak... hehe..." Ada jeda sebelum Boboiboy kembali buka suara. "Kak Taufan...?"
"Hmm? Ada apaa? Mau titip sesuatu nggak pas nanti kakak pulang?"
"Nggak, tapi nanti jangan sering bikin kak Hali ngambek ya. Kemarin kak Hali marah betul loh waktu Kak Taufan ngabisin lagi stok kopi kak Hali..."
"Iya iya. Ketahuan deh.. hehe.."
"Janji ya kak?"
"Iya janji, sudah dulu ya. Selamat istirahaat~"
Lalu panggilan itu berakhir dan Boboiboy menatap layar ponselnya. Fang telah memakai jaket hitam dan ungu miliknya, juga sepasang sarung tangan gelap.
"Sudah siap Fang?" Tanya Boboiboy.
"Nih, tinggal pakai sepatu..." Fang mendekati rak sepatu di sebelah pintu depan lalu mulai mengambil sepasang sepatu bot.
"Malam ini masih turun salju nggak ya..." Ujar Boboiboy sembari memandangi absennya bulir es setelah siang tadi terus turun.
"Kayaknya iya, lihat saja langitnya begini..." Jawab Fang.
"Bintangnya jadi nggak kelihatan..."
Lalu mereka sekilas memandangi potongan langit kelabu di luar sana, yang tak memberikan kesempatan bagi satu pelita malam itu untuk mengudara. Padahal sembilan tahun yang lalu, tepat pada hari ini, langit begitu cerahnya sampai Fang bisa menemukan bintang yang mengingatkannya pada sang ibu.
Ketika keduanya saling memandangi bintang dan mengenang sosok yang tak bisa lagi mereka temui. Ketika Fang berjanji untuk menjawab pertanyaan dari Boboiboy pada ulang tahunnya yang keenam belas...
"Boboiboy, aku boleh... menanyakan sesuatu nggak?" Entah mengapa, tiba-tiba saja intuisi Fang ingin bertanya.
"Boleh... kalau aku bisa jawab ya..." Boboiboy pun tersenyum, raut wajahnya sedikit penasaran.
"Aku tahu ini mungkin aneh, tapi kenapa harus sekarang? Ketika umurmu enam belas?" Tanya Fang, memuaskan keingintahuannya sejak mereka berjanji untuk kembali ke sana.
"Kalau soal itu sih... janji nggak akan ketawa ya..."
"Memangnya kenapa...?"
"Karena bagiku dulu, enam belas adalah umur dimana seseorang sudah besar..."
Fang mengerutkan keningnya kebingungan. "Kau dapat persepsi itu dari siapa...?"
"Tahulah... siapa lagi..."
"Kalau begini, pasti kak Taufan. Benar bukan?" Tebak Fang tanpa berpikir dua kali.
"Nah itu tahu... dulu aku pernah dikatai kalau sering sakit-sakitan seperti ini, aku nggak akan bisa tumbuh besar..."
Mendengar itu, sebersit amarah menghantam akal Fang seperti bilah pedang. "Kalau aku tahu siapa mereka, pasti aku akan bikin mereka menyesal bilang begitu..."
"Huss.. itu kan pemahaman anak-anak, lagipula toh aku akhirnya begini lagi..." Seolah tanpa beban, Boboiboy bertutur dengan tenangnya.
"Tapi, tetap saja..." Fang masih tidak puas sebelum setidaknya meneriaki anak kurang pengawasan yang seenaknya mengolok-ngolok keadaan Boboiboy dulu.
Karena bermain dengan kata-kata bukanlah hal yang sepele. Karena tajamnya kata bisa menggurat lama dan tanpa sadar, merasuk ke dalam setiap pemikiran seseorang. Boboiboy pun sempat terkurung dalam anggapan dimana ia hanyalah beban.
"Aku memaafkan mereka kok... jadi nggak usah dibahas lagi ya?" Tak ingin memperpanjang topik, Boboiboy langsung menyela.
"Yasudah, yuk ke luar." Fang hanya bisa menghela napas, toh pasti sulit mencari orang-orang itu.
Baru saja Boboiboy mengangguk dan hendak berdiri, didapatinya Fang telah berjongkok di depannya.
"Cepat naik... jangan sampai kita kena marah siapapun soalnya kau memaksa berjalan kaki" Fang berkata sembari sekilas meliriknya.
"Iya, iya..." Boboiboy sebenarnya ingin berjalan seperti biasa, namun kedua kakinya masih goyah.
Setelah memastikan posisi pangkuannya tepat, Fang pun langsung berjalan dan keduanya menatap punggung bukit dan pohon beech yang meranggas sejak musim gugur berbulan yang lalu.
-PmW-
"Benar-benar nggak ada bintang... waktu itu kita berarti beruntung ya Fang?" Boboiboy masih memandang bentangan langit kelabu di atas mereka berdua, membayangkan bagaimana bentangan langit tepat sembilan tahun yang lalu.
"Kalau begini sih, salju beneran bakalan turun. Kau nggak kedinginan kan Boboiboy?" Tanya Fang, ia sedikit khawatir jikalau Boboiboy merasa tidak nyaman dengan suhu beku seperti ini.
Namun pemuda bersurai gelap itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Walaupun inderanya sedikit menumpul sekarang karena dinginnya udara, tak sekalipun ia ingin beranjak dari sana.
"Karena kita sudah di sini..." Tanpa memperpanjang lagi pembicaraan, kini Boboiboy mengarah pada inti dari keberadaan mereka di sana. "Apa kau sudah tahu... kalau nanti kau sudah besar ingin menjadi apa, Fang?"
Sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang anak berumur tujuh tahun dulu itu kini kembali terdengar. Saat itu, Boboiboy masih berharap sebuah masa depan dimana ia bermimpi menjadi seorang pemain sepakbola. Walaupun ia masih ragu apa tubuhnya bisa sampai pada usia dewasa, ia hanya bisa bertaruh. Fang, yang waktu itu tak terintangi apapun secara fisik, masih kebingungan kemana dirinya akan mengarah.
Namun kini keadaan telah berbalik. Mungkin Fang awalnya hanya memandangi relung kosong setelah kepergian sosok ibunya. Namun perlahan, relung itu terisi seiring dengan berjalannya waktu. Seiring dengan satu demi satu hari yang dilewatinya di rumah kecil itu, di sekolah, dan tempat-tempat yang pernah disinggahi. Begitupun dengan orang-orang yang dijumpai.
Sebuah piano yang diperbaiki hanya untuk Fang menjadi undak pertama bagi Fang untuk mulai merangkai ulang sebuah makna. Atas apa yang kini ingin diraihnya. Maka saat ini, pada waktu yang telah ditentukan oleh mereka, Fang telah menemukan apa jawabannya.
"Aku... ingin menciptakan lebih banyak komposisi lagu." Tutur Fang dengan nada serius. "Dan jika sudah besar nanti, aku ingin terus berada di bidang ini dan memperdengarkannya pada orang banyak..."
Karena sosok dihadapannya ini, Fang bisa mengumpulkan keberanian untuk kembali menggenggam sebuah angan. Karena keseharian mereka bersama, mungkin Fang tak menyadari bahwa ia telah mendapatkan sebuah jawaban sejak lama. Walau persisnya bagaimana baru ia kukuhkan saat ini, pada detik ini.
Mendengar sebuah jawaban yang telah lama ditunggunya, Boboiboy kini bisa menghembuskan napas lega. Pilihannya dulu, untuk tidak membiarkan Fang di luar sana, kini telah terbukti bukanlah hal yang salah. Sebuah rasa cemasnya ketika melihat Fang hanya terdiam, mencoba memainkan piano yang masih rusak itu kini telah sirna sepenuhnya. Yang ada adalah figur teguh yang kembali menantang segala rintang, bersiap untuk menggapai mimpinya.
"Syukurlah... Kalau itu kau Fang... aku yakin kau pasti bisa..." Sahut Boboiboy, benaknya sudah membayangkan bahwa Fang akan terus berkarya, berada di bawah sorot lampu itu. Rivalnya ini memang hebat rupanya, begitulah pikir Boboiboy sembari tersenyum puas.
"Nah, sekarang giliranku... apa kau mau mendengarkan suaraku sebentar Fang?" Sepasang manik violet itu terpaku pada Boboiboy, raut wajahnya sedikit kebingungan "Anggap saja ini hadiah kecil dariku..."
Boboiboy pun menghela napas panjang, lalu dihembuskannya udara berwujud kabut putih. Senandungnya meretas dingin, nada-nada yang langsung Fang kenali persis sebagai lagu Aksa ciptaannya. Kini merdu suara itu membawa sebuah nostalgia, dimana pada waktu tertentu Boboiboy mengiringi permainan pianonya, walau pada awalnya hanyalah senandung pelan. Kata yang bukanlah merangkai makna.
Bagian awal lagu bertempo pelan, Boboiboy kini mulai merangkai kata.
Paruh cakrawala kini membentang
Senja meremang, gulita menjelang
Menunggu buaian bayang
Mungilnya pelita 'kan benderang
.
Di antara sunyi kita bersua
Menutupi lebatnya duka
Sekali lagi menatap masa
Coba melangkah, meretas desah
Hingga masa lalu
Tlah mengharu biru
.
Biarlah angan memeluk rindu
Biarlah luka terbias waktu
Kumandangkan suara, walau tak lagi bisa
Ingatlah padanya, helaian asa
Bisikan janji pengikat arti
Antara kita, gemintanglah saksi
.
Di sini, bersama hadirmu
Menepis sendu yang kini semu
Kulepaskan semua angan milikku
Mengukir kisah, usailah sudah
.
Boboiboy menghentikan senandungnya sejenak untuk mencoba berdiri dengan perlahan, membuat Fang sedikit terkejut. Pasalnya, Boboiboy terakhir kali pun masih harus disangganya untuk sekedar berdiri seperti itu. Kini di sampingnya, Boboiboy menegakkan kakinya dan lanjut bernyanyi. Meneruskan kembali larik-larik lagu yang terputus oleh kilas sunyi.
Ingatkah
Pada dekapan mimpi
Kita menepi
.
Biarlah angan memeluk rindu
Biarlah luka terbias waktu
Kumandangkan suara, walau tak lagi bisa
Ingatlah padanya, helaian asa
Bisikan janji pengikat arti
Antara kita, gemintanglah saksi
.
Di sini, bersama hadirmu
Menepis sendu yang kini semu
Kulepaskan semua angan milikku
Mengukir kisah, usailah sudah
.
Aksa terbilang, hampa tercipta
Namun suara ini
Takkan pernah lekang
.
Lagu telah menemukan nada pamungkasnya, lalu kembali Boboiboy pada senandung yang hanya mengayunkan nada-nada. Walaupun seolah kembali pada bagian awal lagu, namun ada yang berbeda.
Kedua manik hazel itu begitu cemerlang memandang Fang, sedikit basah pada pelupuknya. Helaan napasnya sedikit terengah, namun begitu lapang dadanya terasa. Setelah satu lagu dinyanyikannya sampai akhir. Dengan suara yang tak sekalipun terjeda oleh lelah tubuhnya kini.
Malam itu, Boboiboy telah menyampaikan untaian frasa miliknya. Menggenapi komposisi Aksa yang didengarnya berulang kali. Sebelum banyak pasang mata menyaksikannya di atas panggung kompetisi.
Sebersit rasa kagum Fang seketika berganti, setelah Boboiboy kembali goyah dan tubuhnya jatuh ke arah depan. Fang setengah sadar ketika ia bergerak dengan cekatan dan menghentikan Boboiboy tepat sebelum ia ambruk pada tumpukan salju di bawah mereka.
"Boboiboy... Boboiboy!" Dua kali Fang berseru panik, tangannya mengguncang badan Boboiboy.
Kepala Boboiboy kini bertumpu pada bahu Fang, sementara tubuhnya direngkuh Fang dengan kedua tangan dan bagian depan tubuhnya. Dalam bias pikirannya sekarang, Boboiboy berusaha untuk tetap terjaga. Ia tak memiliki lagi tenaga untuk sekedar bertumpu pada kedua lututnya yang menekuk lesu di atas selimut salju. Untuk mengangkat kepalanya pun ia tak lagi sanggup.
"Hangat.. Fang..." Tangan Boboiboy tak lagi mampu merengkuh sosok sang rival, tapi ia merasakan bagaimana rasa hangat itu menyelimutinya dari gigil angin.
Seolah mengisyaratkan, kalau dirinya enggan untuk pergi...
'Kalau begitu... tetaplah di sini..' Ingin rasanya Fang berkata demikian, namun tak sekalipun aksara terangkai oleh mulutnya.
"Fang.. kau.. tahu..? aku..sangat senang.. kita bisa berjumpa..." Fang mungkin tak bisa melihat bagaimana manik hazel itu berkilat membayangkan sebuah perjalanan panjang yang telah lama ditempuhnya. Namun benaknya hafal betul keseharian mereka selama ini, yang lebih dari cukup mengisi relung keduanya, yang bertahun-tahun lalu begitu hampa.
"Aku.. bersyukur.. bisa bersama... juga dengan Gopal.. Api.. Air.. Yaya.. Ying.. Kak Taufan.. Kak Hali..." Boboiboy pun menyebutkan nama-nama itu, sebelum ia menghela napas dan lanjut berkata.
"Terimakasih.. untuk segalanya.."
Sebuah penggalan terakhir pun terucap dan mengakar pada simpul ingatan Boboiboy. Ia begitu lega ketika semua telah disampaikannya, tanpa setitikpun penyesalan. Semua keraguan, tangis, duka, juga ungkapan bahagia dari kilasan ceritanya, telah tertumpahkan tanpa sisa.
Sebentang gelap kini tak lagi terlihat menakutkan bagi Boboiboy. Karena yang terbayang dalam visinya adalah sosok Fang, serta orang-orang telah memaknai hadirnya selama ini. Seulas senyum mengukuhkan bagaimana kali terakhir benaknya melepaskan entitas yang melekat.
"Boboiboy..?" Suara Fang akhirnya keluar, begitu parau, mencoba menelan baik-baik apa yang terjadi. Atas keheningan yang kini menyambut.
"Padahal.. aku yang..seharusnya... berterima kasih.." Suara Fang bias dalam gemetar, tak kuasa lagi terbendung. "Kau yang pertama bilang... kalau kau... bersyukur... karena.. aku ada..."
Erangan angin menyertai teriakan dan tangis Fang yang pecah, menciptakan sebuah relung dimana hanya dua esensi yang hadir di dalamnya. Lengan Fang semakin erat merengkuh tubuh Boboiboy, walaupun ia sepenuhnya tahu bahwa tak ada lagi yang tersisa selain raga yang hampa. Saat itulah kepingan salju kembali turun, dinginnya seolah membekukan segala sesuatu di sana.
Sulit rasanya bagi Fang untuk sekedar merangkai kata, menyampaikan hal yang seharusnya menyambut saat perpisahan berada di hadapan mata. Mengutarakan sebuah rasa, sebuah frasa yang tak bisa dipungkiri selalu mereka cari di tengah rapuhnya makna dari eksistensi yang mereka punya. Malam itu, Fang membisikkan frasa itu untuk pertama dan terakhir kalinya: tentang seberapa rasa sayang telah tercurah pada sosok yang kini tak bisa lagi berada di sampingnya.
Mereka baru saja bisa melihat satu sama lain dengan begitu jelasnya, tanpa ada lagi enigma ataupun dusta yang mengaburkannya. Hingga pada titik akhir, Fang menyadari bahwa inilah perasaan yang sedikit asing baginya, yang menjelaskan makna dari hadirnya Boboiboy yang selama ini ada di sampingnya.
Fang tak bisa menerka, apakah frasa itu bisa tersampaikan pada Boboiboy, yang kini berada dalam dekapan sunyi. Sambil menahan derai air mata agar tak jatuh kembali, Fang meraih tangan Boboiboy yang terkulai begitu saja di atas salju.
Tangah itulah yang terulur padanya dulu, memberikan satu kesempatan untuk mengubah nasib yang selama ini menjeratnya hingga sulit untuk bernapas sekalipun. Oleh karenanya, biarlah sampai akhir sekalipun, Fang ingin menggenggamnya kembali.
Cukup lama bagi Fang membiarkan Boboiboy dalam rengkuhan tubuhnya, karena egonya masih ingin mendekapnya selama yang ia bisa. Namun pada akhirnya, Fang pun mengalah dan melepaskan dekapannya perlahan. Remaja berkacamata itu mengulurkan tangannya yang satu di punggung Boboiboy, sementara yang satunya menopang di belakang kedua kaki sang rival. Perlahan, Fang mengangkat tubuh Boboiboy dan memangkunya pulang. Meninggalkan gema sebuah lagu, gaung dari perpisahan mereka di bawah pohon beech di puncak bukit itu.
Pada malam bersalju bertahun-tahun yang lalu, Boboiboylah yang menggendong Fang dan mengajaknya untuk pulang. Dan malam ini, Fang membawa Boboiboy untuk kembali ke rumah mereka untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
-PmW-
Kedua manik violet itu memandang sendu sosok yang sudah begitu akrab hadirnya, yang ia baringkan di tempat tidur beberapa saat yang lalu. Fang baru saja menghubungi Taufan maupun Halilintar. Dengan suara yang kacau dan gemetar, cukup sulit rasanya bagi remaja berkacamata itu untuk menyampaikan apa yang baru saja terjadi. Sekarang, Fang tinggal menunggu mereka pulang. Namun setiap menit rasanya semakin menjauh, setiap detiknya seolah enggan untuk bergulir.
Fang pun beranjak ke dekat tempat tidur, lalu meraih tangan Boboiboy, yang kini terasa dingin seperti es. Ingin sekali ia terus menautkan tangannya, berharap bisa memberikan isyarat bahwa ia tetap ada di sini, berada di sampingnya sampai akhir sekalipun. Lalu entah kenapa, sebuah kepingan masa lalu menyeruak dalam benak Fang, ketika dulu mereka tidur bersama saat badai mengamuk di luar.
"Kau ingat Boboiboy...? dulu waktu kau ketakutan karena badai besar malam itu... kau memelukku kencang sekali sampai aku ngga bisa bernapas..."
Fang tahu bahwa suaranya tak akan lagi didengar, tapi setidaknya, untuk terakhir kali, ia ingin tetap berbicara dengannya.
Fang membayangkan malam itu, ketika ia berbaring di samping Boboiboy dan memandanginya lekat. Sosok itu begitu mungil, damai dan terlelap dalam tidurnya. "Setelah aku membolehkanmu untuk menggenggam tanganku.. kamu langsung tertidur pulas..."
Mirip seperti sekarang...
Fang tersenyum pahit, tak melanjutkan perkataanya itu. Lalu terbesit dalam benaknya, kata-kata yang seharusnya ia ucapkan sejak lama.
Sampai saat terakhir pun, Fang tak sanggup untuk mengucapkan 'selamat tinggal' pada Boboiboy. Walaupun ia tahu suatu saat perpisahan ini akan terjadi, namun ia tetap saja belum cukup menyiapkan diri untuk merelakan sahabat sekaligus rivalnya itu pergi untuk selamanya. Setelah hampir sepuluh tahun bersama, bukanlah hal yang mudah bagi Fang untuk mengucapkan kata-kata itu.
Untuk terakhir kalinya, sebuah frasa terucap pelan dari bibir Fang. Ungkapan yang mengantarkan akhir bagi elegi yang semula tak memiliki raga dan kata, yang terus mengalir semenjak ia mendekap tubuh Boboiboy dan merasakan kehangatan samar yang tersisa darinya.
"Selamat tidur, Boboiboy..." Jemari Fang pun mengelus kepala Boboiboy pelan, menyibakkan beberapa surai gelap itu.
'Semoga... kau selalu bermimpi indah...'
Lalu kedua iris violet itu pun kembali terarah pada wajah Boboiboy, menyadari seulas senyum yang hadir di sana. Sebuah ungkapan bahwa tak sekalipun Boboiboy menyesali apapun lagi atas hidup yang telah ia jalani, dan ekspresi yang terakhir mengemuka darinya dan kini dipandangi Fang, seolah menegaskannya. Boboiboy kini seolah tengah tertidur dengan tenang, tanpa merasakan sakit. Ia telah merengkuh mimpi terakhirnya.
Tubuh remaja itu kembali lunglai, terhunyung hingga akhirnya duduk dan bersandar miring pada tempat tidur Boboiboy. Hujan kembali membasahi visinya, namun kali ini tak ada suara yang keluar. Di luar sana, hembusan angin telah pergi membawa gerombolan awan dan salju. Semuanya hening, yang terdengar hanyalah deru pelan dari hembusan napas Fang, begitu berat dan terengah.
-PmW-
Taufan adalah orang yang pertama kali datang, ia langsung menghambur ke dalam rumah, menaiki undak tangga lalu akhirnya berdiri terpaku di depan pintu. Fang, yang kini duduk di atas kasurnya, memandang kosong ke arah Boboiboy, tampak tak terkejut dengan kedatangan Taufan. Sepasang manik safir Taufan memandangi Boboiboy dengan sendu, sebelum akhirnya pria itu beranjak mendekati tubuh adik kecilnya dan memeluknya dengan erat.
Untuk beberapa menit, suara Taufan yang memanggil Boboiboy dengan pelan memecah keheningan di sana. Suara itu begitu kontras dengan sifat Taufan yang periang, namun dengan lembutnya menyampaikan ungkapan sayang sekaligus salam perpisahan untuk sang adik.
"Fang... terimakasih.. sudah menemani Boboiboy..." Sebuah ungkapan itu Taufan katakan setelah ia beranjak dan duduk di samping Fang
Fang tak menyahut, hanya duduk dan memeluk lututnya. Kedua manik violetnya hanya sanggup memandangi Taufan sejenak.
"Boboiboy... dia.. bilang sesuatu... sebelum pergi..?" Taufan kini bertanya dengan perlahan, berusaha untuk tidak membuat remaja berkacamata itu terkejut.
Suara Fang agak serak namun ia akhirnya menyahut, "Di... dia bersyukur.. karena bisa.. berjumpa dengan kakak... juga yang lain..."
Tangan Taufan kini merengkuh tubuh Fang yang masih mematung, mencoba untuk mencairkan bisu yang menguasai Fang sebelumnya. Dan remaja itu pun kembali melanjutkan kata-katanya walau masih terbata.
"Dia.. juga bilang.. terimakasih.. untuk segalanya.."
Sebuah pesan itu mampu membuat Taufan terdiam sejenak sebelum akhirnya menepuk kepala Fang dengan pelan. Mencoba memberikan keteguhan bagi bahu Fang yang kembali gemetar.
Halilintar datang tak lama setelah Taufan, ia pun langsung menghambur ke dalam rumah dan mematung setelah melihat tubuh Boboiboy yang terbaring di kasurnya. Taufan menyambut Halilintar dengan penuturan dari Fang sebelumnya, tentang kata-kata terakhir dari Boboiboy.
Pria bermanik ruby itu menyadari seulas senyum yang tersisa dari Boboiboy, yang hampir sama seperti Tok Aba tunjukkan sebelum tertidur untuk selama-lamanya. Ia pun perlahan mendekati Boboiboy, memberikan kecupan pada kening sang adik sebelum beranjak kembali ke bawah dengan dalih untuk menelpon orang-orang terdekat dan memberikan kabar duka ini.
Untuk pertama kalinya, Fang melihat sosok teguh Halilintar kini seolah luruh untuk sejenak. Fang melihat punggung itu mulai gemetar dan mendengar tangis pelan yang begitu asing baginya. Sementara itu, Taufan tahu bahwa sama seperti dirinya, Halilintar kini sedang berusaha untuk melepaskan sesaknya duka.
Seolah mengulang siklus yang sama dengan Gempa, Boboiboy telah berpulang dalam usia yang belia. Adik mereka yang begitu baik, namun takdir memutuskan keduanya untuk cepat kembali. Namun sampai saat terakhir pun, baik Halilintar maupun Taufan menyaksikan kedua adik mereka berkata bahwa mereka bahagia dengan hidup yang telah mereka jalani selama ini.
-PmW-
Angin menyibakkan tirai awan, menghempaskan guliran salju dan kembali pada sebuah kehampaan. Manik violet itu kini memandangi sepenggal angkasa lewat bingkai jendela kamar, karena sadarnya tak sanggup beranjak menuju mimpi. Fang belum mampu memalingkan benaknya dari sosok Boboiboy.
Yang tersisa di sana mungkin hanyalah raga sahabatnya itu, eksistensi fana yang sebentar lagi akan terhapus oleh waktu. Tak lupa jejak samar tertinggal di punggung bukit, begitupun gaung atas lagu Aksa yang akhirnya merengkuh kata-kata. Sekali lagi Fang mengingat rangkaian frasa itu, senandung terakhir Boboiboy yang mampu mencuri atensinya. Inilah akhir yang dipilih Boboiboy, yang sekuat tenaga diperjuangkannya sampai titik batas dimana helaan napas miliknya masih berada.
Sebuah potret ketujuh sahabat itu kini dipandangi Fang lekat-lekat lewat layar ponselnya. Foto ini tak pernah disangka akan menjadi kali terakhir mereka bersama, mengambil penggalan dimana semuanya tersenyum dan tertawa. Walau melihatnya sekarang memicu sebuah pilu, ia merasa lega bahwa Boboiboy menorehkan kenangan terakhir pada semua sahabat mereka itu.
Fang pun menyimpan poselnya, kembali ia pada lautan gemintang. Dirinya kini mulai merangkai ingatan demi ingatan. Seperti saat itu, ketika mereka memandangi kilat cahaya yang berserakan di kegelapan malam dan memanggil ingatan tentang orang yang paling ingin mereka jumpai namun tak lagi bisa mereka raih.
Sekarang, Fang berdiri di sana. Menyusun kembali makna atas sosok sang rival, yang kini berada jauh di sana, sejauh gemintang pada luasnya semesta.
.
.
.
Pada jantung bintang
Yang detaknya membuyarkan kehampaan
Kan kuukir namamu di sana
.
Dan nanti, pada setiap malam yang menghampiri
Kala kristal itu berpendar di langit
Aku bisa terus mengingatmu
Lalu kembali mensyukuri
Hari-hari dimana kita tertawa bersama
.
Apakah kau bisa mendengarnya?
Lagu yang kucipta dan kumainkan untukmu
Bersama dengan rangkaian nada, kau ada
Bersama dengan ingatan dan makna, kau selalu menyerta
Terimakasih untuk segalanya
Terimakasih telah terlahir di dunia ini
.
~Kala bintang mekar, sebuah jawaban untukmu
Fang
.
.
.
Berlanjut pada epilog: Canon in D
.
.
.
A/N:
Chapter terakhir telah selesaaai~~ Kalau soal baper, saya pun menulisnya sambil baper maksimal T^T,, dan karena saya tak berpengalaman menulis lirik lagu, jika liriknya agak aneh mohon dimaklumi saja :D
Dan dengan ini, maka yang tersisa adalah epilog,, tak menyangka juga memang bisa sampai di sini (setelah lebih dari setahun!)
Proved me Wrong adalah permulaan dimana saya ingin menulis fanfiksi, setelah satu dua tahun menjadi pembaca. Awalnya cerita ini takkan sepanjang ini, dan fokus pada Boboiboy dan Fang saja (dan penuh dengan flashback).
Setelah dipikir kembali, ingin sekali melibatkan karakter lain. Maka muncullah Halilintar dan Taufan, juga Gopal, Ying, dan Yaya. Lalu setelahnya giliran Api dan Air. Terakhir adalah Cahaya dan Daun (yang paling terakhir dimasukkan ke dalam plot cerita). Walaupun menjadi sedikit panjang, senang rasanya bisa menuliskannya (meskipun banyak yang OOC, haha...)
Sebelum menutup fanfiksi ini pada epilog, ingin saya bertanya tentang kesan pembaca sekalian untuk fanfiksi ini, karena jujur saya selalu penasaran ^^
Terimakasih atas setiap review dan juga pembaca yang tetap mengikuti cerita ini (khususnya untuk Fania Wind, SenyumanSenja, Kikikaka, alyakk, StarLove A.N, a l, alienmarz, Samoy, sinarkosmik, Nazira 1, tifzzz dan pembaca lainnya/guest) dan menjadi motivasi bagi saya untuk melanjutkan fanfiksi ini sampai akhir.
Akhir kata, sampai jumpa lagii ^^/
