Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Freezing: Lim Dall-Young and Kim Kwang Hyun

.

.

.

I Need You, Pandora!

By Hikasya

.

.

.

Chapter 17. Epilog

.

.

.

Kalimat terakhir telah tertulis "tamat" di halaman naskah yang dibuat Cassie. Gadis itu tersenyum dengan wajah yang berseri-seri.

"Akhirnya selesai," kata Cassie sambil menghelakan napas lega, "aku akan mengirimnya nanti ke penerbit."

Cassie mematikan laptop yang tergeletak di atas meja. Ia memegang perutnya yang sudah membuncit seperti gunung karena sedang hamil delapan bulan. Sudah memiliki satu orang anak perempuan yang berumur dua tahun, buah cinta dari hasil pernikahannya dengan Naruto.

Sudah enam tahun, Cassie hidup normal setelah berhenti dari pekerjaannya sebagai Pandora. Ia melanjutkan hidup sebagai novelis yang sangat terkenal di Jepang, dan bahkan di seluruh dunia. Sudah banyak novel yang ditulisnya, tidak terhitung berapa jumlahnya.

Cassie memandang jam beker yang terletak di meja. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Ia pun bangkit dari kursi dan bergegas keluar kamar untuk memasak di dapur. Rumah yang ditinggalinya di Tokyo, sepi karena Naruto dan anaknya sedang pergi mengunjungi Kabuto di Gereja. Rumah yang dibelinya setelah menikah dengan Naruto, menjadi tempat terindah memulai kehidupan baru.

Awal menikah waktu itu, Cassie tetap menjalani pendidikan di North Genetic. Naruto pun diminta Mei untuk kembali bersekolah di sana. Naruto dan Cassie menjadi pasangan hebat saat bertempur melawan Nova yang diakui oleh seluruh dunia. Semua orang tidak mengetahui pernikahan mereka, mengira mereka berpacaran.

Saat Cassie hamil usai kelulusan, semua orang baru mengetahui pernikahannya dan Naruto. Lalu mereka memberi selamat atas pernikahan dan kehamilan Cassie. Mengukir senyum bahagia di wajah Naruto dan Cassie di hari kelulusan.

Mengingat masa lalu, Cassie tidak pernah berhenti tersenyum. Ia tetap fokus untuk memasak hingga selesai. Bertepatan ia meletakkan semua makanan yang baru masak di meja di dapur, Naruto dan anaknya pulang.

"Kami pulang!" seru Naruto dan Uzumaki Maiya kompak. Mereka masuk dan disambut Cassie dengan senyum.

"Selamat datang," balas Cassie berdiri berhadapan dengan Naruto yang menggendong Maiya, "kebetulan kalian berdua pulang. Mama sudah memasak untuk makan malam."

"Asyik! Makan malam!" teriak Maiya tersenyum senang. Ia adalah gadis kecil berambut hijau tosca dan bermata biru. Penampilannya mirip dengan Cassie, dan kelakuannya mirip dengan Naruto.

"Ayo, kita makan, sayang!"

Cassie beralih menggendong Maiya. Naruto tersenyum memandang keduanya. Ia sudah menjadi pria dewasa yang sangat gagah dan wibawa. Memiliki pekerjaan sebagai guru di North Genetic dan sekaligus masih berperan sebagai The Knight of Sacred yang melawan Nova.

"Naruto, kenapa bengong? Ayo, kita pergi ke dapur sekarang!" Cassie memanggilnya sehingga lamunan Naruto buyar.

"Ah, ya, Cassie." Naruto mengangguk, lalu menyusul Cassie dan Maiya ke dapur.

Suasana makan malam berlangsung hening. Naruto yang sedang makan, memperhatikan Cassie yang menyuap Maiya. Senyuman pun terukir di wajahnya yang semringah.

"Apa kau sudah menyelesaikan novel barumu, Cassie?" tanya Naruto penasaran.

"Sudah," jawab Cassie tersenyum. Ia duduk berhadapan dengan Naruto.

"Baguslah. Kau produktif sekali menulisnya, ya."

"Selagi ada ide, aku akan bersemangat terus untuk menulis karena menulis itu adalah cita-citaku sejak kecil."

"Kalau begitu, aku juga mau jadi novelis seperti Mama juga," sela Maiya dengan wajah polos yang belepotan makanan.

"Iya, Mama akan mendukungmu, Maiya."

"Papa juga akan mendukungmu."

Naruto tersenyum sambil mengacungkan jempol pada Maiya. Maiya tertawa girang sambil mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi.

"Terima kasih, Mama, Papa," ujar Maiya, "terima kasih juga untuk adik bayi."

Maiya memeluk perut Cassie. Naruto dan Cassie tersenyum melihatnya. Acara makan pun berlanjut dengan tawa dan canda keluarga kecil itu.

.

.

.

Setelah menidurkan Maiya di kamar, Cassie bergegas pergi ke kamar untuk menemui Naruto. Naruto sedang berkutat dengan laptop, mengerjakan sesuatu yang penting di Microsoft Word. Wajahnya serius sekali saat ditatap Cassie dari kejauhan.

"Kau sibuk, ya, Naruto?" tanya Cassie yang menarik perhatian Naruto.

"Ah, tidak," jawab Naruto tersenyum sembari menggeleng, "kau tidurlah, nanti aku menyusulmu."

"Aku akan menunggumu sampai selesai."

"Tapi, pekerjaanku masih banyak."

"Aku akan tetap menunggumu."

Cassie duduk di kursi yang bersisian dengan kursi Naruto. Naruto terpaku, langsung menghelakan napas panjang.

"Aaah, terserah kau saja." Naruto kembali fokus melototi layar laptop. Kesepuluh jari tangannya menari-nari di keyboard digital. Cassie memandangnya lama sekali.

"Oh ya, bagaimana keadaan teman-teman kita sekarang?" Cassie menanyakan itu tiba-tiba.

"Mereka." Naruto berhenti mengetik sebentar. "Arnett-senpai sudah menikah dengan Sasori. Mereka punya satu anak. Julia-senpai juga sudah menikah dengan Limiternya, belum punya anak. Kalau Kazuya, Satellizer-senpai, Rana-senpai, Chiffon-senpai, Elizabeth-senpai, Gaara, dan Andre, aku tidak tahu kabar mereka sekarang."

"Oh. Kalau Amelia-senpai?"

"Dia tetap menjadi Komandan Platoon 13 sekarang. Belum menikah."

Naruto tersenyum sambil membayangkan semua wajah teman-temannya. Cassie terdiam, lalu memegang tangan Naruto.

"Terima kasih, ya," ungkap Cassie dengan nada yang lembut. Wajahnya memerah. Sorot matanya melunak.

"Buat apa?" tanya Naruto mengangkat salah satu alisnya.

"Kau sudah menjadi suami dan ayah yang baik. Kau membuatku bahagia sekali, Naruto."

"Seharusnya aku yang berkata begitu, 'kan?"

Naruto mencium tangan Cassie yang menggenggam tangannya. Lalu ia memegang dagu Cassie dengan tangannya yang satu lagi. Tersenyum lebar.

"Aku memilihmu karena kau ditakdirkan menjadi jodohku atas perintah Tuhan. Kau sudah memberikan dua anak untukku. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari itu," tutur Naruto dengan nada yang sangat lembut, "aku beruntung menikahimu, Cassie-senpai."

"Kau menyebutku Cassie-senpai lagi?" Cassie sedikit cemberut.

"Hanya bercanda."

Naruto tersenyum dan langsung mencium puncak rambut Cassie. Wajah Cassie memerah, memejamkan mata dan merasakan cinta yang diberikan Naruto padanya.

"Sudah cukup. Aku harus menyelesaikan tugasku dulu." Naruto menjauh dari Cassie.

"Biar aku bantu, ya." Cassie tersenyum malu.

"Tidak usah. Sebaiknya kau tidur. Ingat kesehatanmu, Cassie."

"Tapi..."

"Patuhilah perintah suamimu ini."

"Baiklah."

Cassie bangkit dari kursi dengan muka pasrah. Ia berjalan mendekati ranjang dan merebahkan diri di sana. Naruto melihatnya sekilas, kemudian melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Sebelum tengah malam, Naruto sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia pun ikut bergabung dengan Cassie dalam satu selimut.

"Sudah selesai, Naruto?" tanya Cassie tiba-tiba bangun.

"Ya," jawab Naruto seraya terbaring di samping Cassie, "aku sudah mengantuk. Besok harus bertugas sebagai guru lagi."

"Kalau begitu, kita tidur sekarang."

Cassie memegang pipi Naruto. Mereka tersenyum sambil memejamkan mata, tetapi mendadak terusik karena alarm tanda bahaya berteriak nyaring yang menandakan kemunculan makhluk tak diundang.

"Nova," sebut Naruto spontan membuka mata.

"Kau akan pergi melawannya?" Cassie bermuka cemas. Keningnya mengerut.

"Ya. Apa kau mengizinkanku pergi?"

"Pergilah."

Cassie tersenyum. Naruto mengangguk, sempat mencium dahi Cassie. Ia langsung berganti pakaian dengan pakaian serba putih. Tidak lupa memakai masker dan jaket yang berwarna senada. Spear of Destiny yang terletak di bawah kolong ranjang, diambilnya.

"Cassie, lindungi Maiya selama aku pergi!" Naruto menjeling Cassie.

"Iya. Hati-hati, Naruto." Cassie mengangguk. Ia berdiri di dekat ranjang.

"Kau tenang saja. Aku ini sangat kuat."

Usai mengatakan itu, Naruto menghilang karena menggunakan bola teleport. Cassie yang ditinggalkan bergumam, "kau memang ksatria yang diakui terhebat di dunia, Naruto. Tuhan selalu bersamamu selama kau melawan Nova sekarang."

Cassie segera pergi ke kamar Maiya dan membawa Maiya menuju ke shelter terdekat untuk bersembunyi dari serangan Nova yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

.

.

.

Tamat

.

.

.

A/N:

Yuhu, akhirnya selesai juga nih fic-nya. Saya lega sudah menamatkannya. Terima kasih ya buat yang sudah baca dari awal sampai akhir. Saya juga minta maaf jika fic ini masih banyak kekurangannya.

Sampai jumpa lagi di karya berikutnya.

Senin, 3 Februari 2020