BLUE EYES STRIPPER
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Genre: Romance, BL, Crime
Rated: [M]
CHAPTER 16: Unexpected
What should I do about you? I haven't felt this way Up & Down a lot I can't control myself
One thing is for sure I don't play the game.
People say we're so weird, I just like you so much. You know it so well and control me. We're in a very weird and strange relationship, We crush each other (crush) And hug each other (and hug)
You got me feeling like a psycho. People keep telling us as we fight like it's our last but then we get along. -Red Velvet, PSYCHO
ㅡ
Blue Eyes Stripper
ㅡ
Suara jeritan seorang wanita membuat kedua insan yang sedang bercumbu itu berjengkit kaget, reflek dengan sigap Chanyeol menarik tubuh Baekhyun kebelakang tubuhnya, melindunginya.
Tidak hanya Baekhyun, Chanyeol pun dibuat kaget ketika pintu ruang inapnya dibuka oleh Sehun, memperlihatkan lorong yang penuh dengan darah pekat, dengan para bodyguard Chanyeol yang sudah tumbang, saking banyaknya darah tersebut hingga terlihat seperti genangan. Pemandangan mengerikan itu membuat Baekhyun bergidik ngeri, membuatnya teringat dengan kejadian saat di Jepang, orang-orang berlarian menyelamatkan diri mereka dari penembakan yang membabi buta.
Ia memejamkan matanya erat, orang-orang mati sia-sia karena nya.
"Bos, kau tak apa?!" Pandangan Sehun menyelidik di seluruh ruangan tersebut, berjaga-jaga.
Chanyeol mengangguk singkat, Ia merasakan tubuh mungil di belakangnya gemetar. "Tutup pintunya" Perintah Chanyeol, Sehun yang menyadari situasi dengan cepat mengangguk dan menutup pintunya.
Baekhyun hendak berjalan keluar dari belakang punggung lebar Chanyeol, ketika pria itu menahan lengannya, "Kau mau kemana, hm?"
Baekhyun menatap Chanyeol sendu, "Apa mereka mati karenaku juga?", Chanyeol menatap separuh jiwa nya itu dengan sorot mata yang Baekhyun tidak mengerti, "Tidak Baek, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri karena perbuatan bajingan itu, aku akan menghabisinya kau tidak perlu memikirkan hal ini, okay baby?"
Baekhyun tersenyum kecil "baby my ass", melihat mood Baekhyun yang kembali membuat senyum terlukis wajah tampan tersebut, "Kau tidak tahu apa yang sudah kau perbuat terhadapku, Baek"
"Kau juga tidak mengerti apa yang sudah kau perbuat padaku tuan mafia" Baekhyun memeletkan lidahnya, mengejek.
"Menghamilimu?" Alis tebal itu naik satu, membalas menggoda Baekhyun.
Membuat cubitan mendarat di pipi pemuda tampan itu, "Tidak lucu" geram Baekhyun.
"Hey aku ini pria yang sehat, benih hmph-", Telapak tangan halus itu membungkam ucapan vulgar pria sinting berambut merah yang tanpa malu membicarakan hal tabu tersebut, membuat Baekhyun malu setengah mati dibuatnya. "Kau mau mati, hah?" Meskipun Baekhyun menundukkan wajahnya malu namun Chanyeol masih bisa menangkap rona merah di pipi itu, begitu imut, seperti mengambil nafasnya pergi, membuatnya lupa untuk bernafas, seakan jantungnya berhenti berdetak.
Chanyeol bersumpah ia begitu memuja Baekhyun, sang pujaan hati.
.
.
.
Malam berlalu, berganti pagi.
Bulan menghilang, digantikan matahari menyinari kota Seoul. Angin berhembus sepoi, menerbangkan beberapa dedaunan kering. Baekhyun memutuskan untuk lari pagi disekitar sungai hangang bersama Jongin dan Kyungsoo, tentu saja suara bising mereka membuat suasana pagi yang tentram menjadi ricuh, membuat burung-burung terbang terganggu dengan kehadiran ketiga sahabat karib tersebut.
"Yah, aku masih tidak percaya kau meninggalkan ku di Jepang sialan", cecer Jongin sembari mengatur nafasnya, sejujurnya sulit untuk berlari sambil berbicara, namun mereka tidak betah jika tidak berteriak pada satu sama lain.
Baekhyun membuka airpods nya, menoleh pada Jongin bingung, "Aku tidak mendengarmu keparat, berhenti menggangguku aku sedang fokus membakar lemak" sinis Baekhyun, kembali memasang airpodsnya berlari mendahului kedua insan yang berlari beriringan.
Ia bisa mendengar suara Jongin berteriak padanya beberapa langkah di belakang,
shit dia sangat berisik.
"Sudahlah kenapa kau ini sangat pendendam sekali, waktu itu keadaan sangat ricuh, kau tahu Park Chanyeol tertembak, aku tidak ada di tempat kejadian tapi aku yakin dia sangat panik, mana sempat memikirkanmu"
Jongin menatap kekasihnya Kyungsoo dengan pout dibibirnya, "Tapi aku temannya!"
Kyungsoo hanya memutar bola matanya malas, hingga Ia lengah tak melihat jalan di depannya, alhasil ia tersandung sesuatu dan tersungkur.
Bukan sesuatu, lebih tepatnya seseorang.
"Fuck! Kenapa kau jongkok disitu, ouch my arms.." Ringis Kyungsoo memegangi lengannya yang lecet, Jongin yang melihat kecelakaan itu langsung lari menolong kekasihnya untuk bangun.
Baekhyun memegangi kepalanya yang terasa pusing, ia merasa tidak enak badan tiba-tiba.
"aku mual, kepalaku pusing" Ucap Baekhyun lemah ia masih berjongkok, seakan berniat untuk muntah. "Sudah kubilang diet itu menyebalkan, orang-orang lebih menyukai dirimu yang sekarang, untuk apa kau berdiet? Aku tidak mengerti"
"Mana ada yang mau melihat gumpalan lemak menari di tiang poll dance", Kyungsoo menepuk celananya nya yang kotor terkena tanah, hanya bisa menggeleng melihat tingkah temannya.
Baekhyun memuntahkan isi perutnya.
"And that's your breakfast", tujuk Kyungsoo sedangkan Jongin memasang raut wajah jijik, "ew, gross man"
Baekhyun mengelap bibirnya, menatap kedua temannya lelah, "Bantu aku sialan"
.
.
.
Chanyeol menyandarkan tubuh nya di sebuah sofa hitam yang terletak di balkon ruang rawat inapnya, ia baru saja mengganti perban lukanya, dokter bilang lukanya sudah mulai mengering dan jahitannya sudah dapat dibuka dalam beberapa hari kedepan. Harinya begitu membosankan, menurutnya ini hanyalah luka kecil, tidak menyakitkan. Sehun dan Luhan, kedua rekannya tersebut terus memaksanya untuk beristirahat di rumah sakit hingga dokter mengizinkannya untuk pulang.
Sejujurnya ia ingin mulai bekerja kembali, mencari bajingan yang dengan sengaja ingin mencelakai Baekhyun-nya.
Sial, dia benar-benar marah.
Pandangan Chanyeol menyipit ketika mendapati sesosok yang tengah berdiri di taman rumah sakit, ini sudah tengah malam, tidak mungkin pasien atau keluarga pasien rumah sakit berkeliaran di taman pada pukul satu dini hari. Sosok itu tampak menatap balik kearahnya, Chanyeol tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena pencahayaan taman yang remang, namun instingnya mengatakan bahwa pria itu adalah pria yang dicarinya.
Chanyeol melangkahkan kakinya ke dalam, mencoba untuk mengambil senjata miliknya di bawah bantal, ia memang selalu membawa pistolnya kemanapun untuk berjaga-jaga.
Terdengar suara pintu ruangannya terbuka dengan pelan, membuat Chanyeol dengan sigap menodongkan pistolnya, tangannya tak gemetar, ia sudah terbiasa dengan hal ini.
Namun sosok yang dilihatnya membuat mata nya terbelalak kaget, "Shit, Baek, kau mengejutkanku", Chanyeol melempar pistolnya ke ranjang, ia mengusak wajahnya, untung saja ia memiliki reflek yang bagus.
"Aku yang harusnya berkata seperti itu! Bagaimana kau bisa membawa senjata ke rumah sakit? apa kau gila?!" Baekhyun menatap Chanyeol tak percaya, ia baru saja ditodong senjata oleh bos mafia itu, jangan salahkan sikapnya yang panik.
Chanyeol mendesah frustasi, "Maafkan aku karena menodongkan pistol kearahmu" ucapnya sungguh-sungguh, Baekhyun menghembuskan nafasnya kemudian menghampiri pria tinggi itu, berdiri di hadapan Chanyeol terduduk di tempat tidur memegangi wajahnya, "It's okay"
Ia mengusap surai itu, menenangkan sang pria.
"Apa yang kau lakukan tengah malam begini, hm?" Chanyeol meraih jemari lentik itu, menciumnya.
Baekhyun tampak berpikir, "Ini mungkin terdengar gila tapi aku mengkhawatirkan dirimu.. mungkin?", Chanyeol terkekeh kecil mendengarnya, hatinya yang awalnya bergemuruh tidak tenang, seperti sulap dengan kehadiran Baekhyun bisa menghilangkan keresahannya.
"Benarkah?", Goda Chanyeol.
Baekhyun kembali tampak berfikir kemudian menggeleng, "Tidak, aku berubah pikiran, mungkin sebaiknya aku pergi dulu, bye" tutur Baekhyun cepat dan hendak kabur namun kedua lengan kekar yang melingkar di pinggangnya membuat pergerakannya terkunci.
"Terimakasih" Chanyeol mengubur wajahnya di perut Baekhyun, membuat Baekhyun berdehem tidak nyaman dengan posisi mereka yang canggung, "Aku merindukanmu" ucap Chanyeol kemudian.
"Aku tahu" Jawab Baekhyun singkat, membuat Chanyeol tertawa kecil, tanpa pria cantik itu membalasnya ia sudah tahu bahwa si mata biru itu juga merindukannya. "okay"
"hm, okay..."
Chanyeol mengangkat kepalanya, menatap kedalam bola mata biru Baekhyun, kemudian turun ke bibir pink cherry yang membuatnya mengigit bibir, menahan diri. "Bolehkah?" tanya Chanyeol.
Cukup lama tak ada jawaban, akhirnya Baekhyun mengangguk.
Chanyeol mendekatkan wajah mereka, ia menarik tengkuk Baekhyun mendekat, mempersatukan bibir mereka. Manis, bagai mengecap strawberry, dan Baekhyun berfikir Chanyeol terasa seperti mint. Awalnya ciuman mereka begitu pure, namun ketika Baekhyun tidak sengaja mendesah, itu bagai membangunkan iblis yang berada di dalam tubuh Chanyeol, desahan Baekhyun membuat apa yang berada di dalam celananya bersemangat.
Tangan kekar itu mengangkat tubuh ringan Baekhyun, membuatnya berada di bawah kungkungan Chanyeol, bibir mereka masih saling bertautan.
Chanyeol menggeram ketika dengan nakal lutut yang lebih kecil dengan sengaja menekan kejantanannya yang sudah mengeras di pakaian yang dikenakannya, Baekhyun terkekeh melihat ekspresi Chanyeol yang sedang membara menahan nafsu.
"Sangat tidak sabaran, eh?" Chanyeol melepas celana panjang Baekhyun dengan sekali tarikan, memperlihatkan penis mungil Baekhyun yang sudah berdiri dengan imutnya, Kini giliran Chanyeol yang melepas baju nya dan membuangnya sembarangan, ia melepas celana yang dikenakannya, memperlihatkan kejantanannya yang berdiri dengan tegak, dengan urat-urat yang terlihat marah, membuat Baekhyun mengigit bibirnya, tidak hanya tubuhnya yang kekar, bahkan kejantanannya pun kekar.
"Menungging, baby. Ass up face down" kata Chanyeol dengan nada memerintah. Membuat jiwa submissive Baekhyun ingin di kuasai, ia menyukai sisi Chanyeol sebagai dominan.
Smirk terukir di wajah rupawan itu, terlihat puas ketika Baekhyun dengan patuh mengikuti perintahnya, kini bokong sintal Baekhyun terpampang jelas di hadapannya, membuatnya ingin menampar bokong seksi itu, dan ia menamparnya, menimbulkan ringisan dari sang empu.
"Jangan menggodaku Park, cepat- akhh fucking shit!" Baekhyun menarik nafasnya dalam ketika merasakan dua jari panjang sekaligus menerobos masuk kedalam lubangnya, dengan lancangnya bergerak keluar masuk melebarkan lubangnya.
Hebat, bahkan rasanya lubang Baekhyun masih terlalu sempit untuk dua jemarinya bergerak keluar masuk, hal itu membuat penisnya berkedut antusias. Kepala penisnya mengeluarkan pre-cum.
Chanyeol memasukkan satu jarinya lagi, membuat Baekhyun mencengkram sprei dengan erat, Chanyeol bahkan tidak berhenti menggerakan jarinya di bawah sana, membuat Baekhyun menggila.
"Kau siap sayang?" Chanyeol merasa puas melihat wajah Baekhyun dari samping, menahan desahan dengan mengigit bibirnya sendiri.
"Aku akan membuatmu mendesah hingga suaramu habis" ucap terakhir Chanyeol sebelum ia mengeluarkan jemarinya, dengan pelan tetapi mantap penisnya mulai menerobos lubang sempit itu.
Baekhyun menjerit merasakan lubangnya yang melebar dengan paksa, Chanyeol memegang pinggul Baekhyun agar tetap menungguing, memudahkan penisnya masuk lebih dalam, ia terlihat sangat bangga bagaimana pria mungil itu dapat menerima penisnya begitu dalam.
"shit shit shit!" umpat Baekhyun ketika penis Chanyeol sudah masuk dengan sempurna.
Setiap desahan yang dikeluarkan oleh Baekhyun menciptakan getaran yang mengenai penisnya. Chanyeol merasa seperti di langit ke tujuh, seperti di awan.
Chanyeol menggenjot lubang itu dengan tempo cepat dan keras, seakan tak ada hari esok, "nghh ngghh" Baekhyun berusaha meraih ujung tempat tidur namun usahanya sia-sia ia hanya dapat mendesah pasrah, Chanyeol terus menekan penisnya menghantam lubangnya. Tenaga Chanyeol begitu kuat, ia bisa merasakan bagimana penis panjang itu menerobos lubangnya, sangat dalam hingga kepala penisnya mengehentak bagian kenyal di dalam sana berulang kali.
Rasanya ia ingin menangis karena saking nikmatnya.
Chanyeol menyobek paksa kaos yang dikenakan Baekhyun memperlihatkan punggung seputih susu itu, seakan ingin dihiasi tanda kepemilikan darinya, jadi Chanyeol mengecup perpotongan leher Baekhyun, mulai menyesap dan mengigiti leher dan bahu itu. Meninggalkan banyak bekas kissmark yang pastinya tidak akan hilang dalam beberapa hari kedepan, Chanyeol tidak masalah untuk kembali membuatnya jika pudar.
Baekhyun nyaris tersedak ludahnya ketika Chanyeol mengenai prostatnya mutlak, tubuh Baekhyun bergetar, hanya dengan sekali hentakan mengenai prostatnya membuatnya mencapai klimaks.
Baekhyun meremas tangan Chanyeol, tak kuat dengan sensasi yang diberikan oleh pria yang mengagahinya, ia merengek meminta Chanyeol bergerak lebih pelan, ia tak sanggup menahan sodokan demi sodokan yang dengan liarnya menghantam titik prostatnya lebih lama lagi.
"Shhh Chanhh nghh pelanh" rengek Baekhyun, namun Chanyeol menyeringai mendengarnya.
"Pelan?" Chanyeol sengaja menumbuk titik itu lagi dengan keras, Baekhyun menggeram nikmat, tangannya mencengkram tangan Chanyeol erat.
Chanyeol memposisikan kakinya melingkar di kaki mungil Baekhyun yang masih setia menungging, dengan tempo yang kembali cepat menyetubuhi lelaki cantik itu, dengan posisi ini dia bisa bergerak lebih cepat, mencari kenikmatan untuk mereka berdua.
"AHHHHH..HHH" Cairan Baekhyun keluar membasahi sprei ranjang di bawahnya.
Chanyeol mengelus perut datar Baekhyun, mengelusnya dengan gerkan memutar, kemudian sentuhannya naik pada dada berisi itu meremasnya, sesekali memilin kedua puting pink milik si rambut silver, membuatnya mengeraras, "Kau sangat cantik, Baek"
Baekhyun mencoba bersuara namun hanya desahan yang kembali keluar, "ffuuuck Chanhh" Chanyeol mendekatkan tubuh mereka hingga tidak ada jarak diantara keduanya, ia bisa merasakan peluh Chanyeol di punggungnya.
"Ini sangat nikmat" geram Chanyeol dengan pinggul yang masih berkerja keras menusuk Baekhyun, bahkan ketika baekhyun sudah mencapai orgasme yang kedua, Chanyeol masih dengan semangat menggenjot hingga tubuh mungil itu terhempas kedepan dan belakang.
Chanyeol mengigit perpotongan leher Baekhyun, menahan terpaan nikmat dibawah sana yang terus menerus seperti menghisap kejantanannya, uratnya berkedut, ia hampir mencapai klimaksnya. Chanyeol mempercepat tusukannya, benar-benar liar, membuat Baekhyun kewalahan.
Geraman panjang Chanyeol sebagai pertanda bahwa lelaki perkasa itu telah mencapai batasnya menyetubuhi Baekhyun. Spermanya dengan deras membuat rasa mual itu timbul kembali, namun Baekhyun terlalu lelah untuk sekedar bangkit dari posisi mereka bercinta.
Baekhyun memejamkan matanya lelah.
"Kau benar-benar binatang buas Park"
.
.
.
Baekhyun terbangun di pagi hari dengan aroma kopi yang masuk tercium indra nya.
Mata nya berkedip beberapa kali, masih setengah sadar akan kondisi tubuhnya yang mengenaskan.
Hal yang pertama dilihatnya adalah pria yang dikenalnya sedang memandanginya, tangan kanannya memegang secangkir kopi hitam.
"Selamat pagi, baby"
Baekhyun dengan cepat hendak berdiri namun bagian selatan tubuhnya bagai menyetrum dirinya yang langsung tersadar, bokong dan pinggulnya rasanya mati rasa.
"Fuck!" Kutuk Baekhyun, ia mencoba untuk menyandarkan tubuhnya, "Tadi malam-"
"sangat menggairahkan? Aku sudah tahu" potong Chanyeol dengan senyum menyebalkan.
Baekhyun memutar bola matanya malas, ia tak mau berdebat dengan orang bodoh pagi-pagi. Tanpa ia sadari selimut yang menutupi tubuhnya turun dan memperlihatkan dadanya yang terekspos, membuat Chanyeol hampir tersedak kopinya.
"Baek, apa kau ingin menggodaku pagi-pagi? Tentu jika aku tidak memikirkan kondisi mu saat ini, aku akan meletakan penis ini kembali ke sarangnya"
Baekhyun melempar Chanyeol dengan bantal yang berada di sampingnya, namun dengan sialnya ia meleset.
"fucking hell, semua pria pelanggan di club pernah melihatku topless Park Chanyeol" Rupanya ucapan Baekhyun barusan memancing sisi gelap Chanyeol, ia tidak menyukai bagaimana dengan mudahnya Baekhyun mengungkit para pria brengsek itu melihat apa yang menjadi miliknya, hal itu membuat darahnya mendidih. Baekhyun adalah miliknya, dan ia tidak akan segan membunuh siapapun yang menginginkan miliknya.
Chanyeol menatap amber Baekhyun serius, raut wajahnya dingin.
"Kau ingin melihatku membakar tempat itu?"
DEG
Baekhyun bagai orang yang kebakaran jenggot, "maaf".
Chanyeol beranjak dari tempatnya, ia menaruh kopi yang dipegangnya di meja, "Tetap disini, aku akan pergi keluar sebentar", ucapnya dingin.
Setelah pintu tertutup, Baekhyun mengambil tas selempangnya yang berada di maja kecil samping ranjang, "huh, memang aku bisa kemana sialan, bokongku sakit".
Tangannya merogoh sesuatu di dalam sana, setelah menemukannya Baekhyun membuka topless itu mengeluarkan dua pil berwarna abu, dan menelannya bagai minum air.
'Kuharap kaki ini masih bisa berjalan, aku benar-benar lupa sekarang adalah jumat malam..' batin Baekhyun
Chanyeol yang kini sudah berada di lobby rumah sakit menempelkan gadget ke telinganya, menunggu panggilan dijawab dari ujung sana.
"Kau sudah dapat kabar?" Tanya Chanyeol dingin tanpa basa basi.
"Baiklah, nanti malam, pukul 9 kst"
.
.
.
Baekhyun mendekatkan wajahnya kearah cermin, mengecek ulang riasannya, ia hanya ingin tampil sempurna, Byun Baekhyun adalah definisi dari kesempurnaan.
"c'mon bokongku sudah panas menunggu, cepat bersiap naik ke atas panggung jalang"
Baekhyun memberikan death glare pada sosok yang memanggil nya jalang itu, "Joonmyeon-ssi, apa kau tidak memiliki kesibukan lain selain menggangguku?"
Joonmyeon melihat kearah jam tangannya, "Let's go, mereka sudah lama menunggumu untuk tampil", Baekhyun mengangguk kecil, "Aku tahu, kau jalan duluan, aku menyusul"
Setelah beberapa saat kemudian Baekhyun memutuskan untuk saatnya tampil, ia memegang tekstur pakaiannya, "Okay perfect!"
Saat hendak keluar dari ruangannya tubuh nya menabrak punggung seseorang yang berdiri tepat di depan pintunya. Baekhyun hampir terhuyung ke belakang jika saja sosok itu tidak mengkapnya.
.
.
Chanyeol melemparkan amplop coklat berisikan cek dengan nomial angka serta tanda tangan miliknya, sebagai barter informasi yang diperoleh oleh orang suruhannya.
Tikus tikus ini ternyata ada gunanya, Chanyeol tersenyum menyeringai.
"Berikan aku dokumennya, aku telah memberikan apa yang kau minta"
Pria berkepala pelontos itu mengeluarkan folder coklat dari balik jas yang dipakainya, "ini bos, sesuai yang Saya janjikan sebelumnya", ujarnya, memberikan dokumen penting itu langsung ke tangan sang ketua mafia.
"Aku akan mengulitimu jika kau memberikan informasi palsu" ancam Chanyeol, membuat nya makin disegani.
"Saya tidak berani bos" pria itu menundukkan kepalanya.
Chanyeol menganggukan kepalanya, menyuruh pria itu pergi dari tempatnya, agar ia bisa membaca dokumen itu tanpa gangguan.
Terdapat beberapa tulisan mengenai pria itu dan organisasi underground yang dijalaninya, namun tidak ada foto bagaimana rupa si bajingan tersebut.
Disana terdapat nama, Chanyeol meyakini itu adalah julukan yang diberikan oleh orang-orang padanya, dirinya juga punya, yaitu Phoenix.
Alis tebal itu terangkat "Max?"
.
.
Kedua mata biru itu terbelalak kaget dengan siapa yang dilihatnya, ia seperti melihat hantu. tangan yang melingkar di pinggangnya, mengangkuh tubuh Baekhyun dengan erat.
"Oyasuminasai, Byun Baekhyun" sosok itu tersenyum, memperlihatkan wajah tampannya.
"Changmin-ssi?"
.
.
.
.
a/n: 2444 words nih astogeh, sampe nge-lag ms words nya.
ngetiknya balapan takut keburu subuh wkwk ada typo kali, atau ada bagian yang kelewat wkwk nanti aku cek dan buru buru ganti jangan di judge dulu ya manteman wkwkw
sebenernya aku juga post di wattpad, jadi abis ngetik post di wp, lalu post kesini hehe, makasi teruntuk kalian readers yang meninggalkan komen di lapak ffn aku, komen kalian semua aku baca, maaf gabisa aku bales soalnya gada fitur buat bales komen nya :(
