Berita yang tengah ramai di media masa hari ini, adalah kasus Reynhard Sinaga yang melakukan pelecehan seksual kepada puluhan pria di Inggris. Sasuke yang melihatnya di acara televisi sampai hampir terjungkal karena terlalu fokus pada berita tersebut. Aneh-aneh saja para manusia sekarang. Rudal Amerika Serikat memakan korban sepuluh orang, rudal Iran memakan korban delapan puluh orang, sedang rudal Indonesia memakan korban hampir seratus sembilan puluh orang. Astagfirullah dosa. Sakura yang baru keluar dari kamar si kembar hanya meliriknya melalui ekor mata, berusaha tidak peduli. Tapi melihat acara televisi yang ditonton suaminya, diam-diam Sakura juga ikut mencuri dengar.
"Percuma pendidikan tinggi tapi otaknya nggak dipakai, jadinya ya begitu."
"Dia homo?" Sakura kelepasan bertanya.
Sebenarnya ia mondar-mandir di ruang tengah hanya untuk mencari tisu. Sasuke yang tahu itu segera menoleh pada Sakura. "Kamu belum tidur yang?"
"Belum."
Yupiter dan Mars sudah berada di kamar, mereka tadi sempat mengobrol lalu akhirnya jatuh tertidur. Selagi Sakura menemani kedua anaknya, Sasuke pergi ke dapur dan memasak mi instan kuah. Sakura kini melirik mangkuk di meja depan televisi yang hanya menyisakan sendok dan sumpit, sepertinya enak memakan itu saat hujan begini, sialnya tindakannya langsung disadari Sasuke.
"Kamu mau mi kuah juga?"
"Nggak."
Memang paling susah menghadapi wanita ngambek, auto harus pergi mengarungi seribu purnama baru bisa mengerti apa maunya. Sasuke memijat dahinya pening, memutuskan beranjak setelah mematikan televisi. Membawa Sakura ke kamar akan jauh lebih baik dari pada seperti ini, harus. Ia lantas merangkul istrinya itu tanpa peduli penolakannya, mengajaknya berbaring berdua di ranjang. Sakura segera berbalik membelakangi Sasuke, yang justru karena tindakannya itu malah membuat mereka semakin mesra. Sasuke meletakkan dagunya di atas bahu, sedangkan tangannya dengan bebas memeluk perut rata istrinya itu.
"Kamu akhir-akhir ini makin beda loh."
Gombal terosssss!
"Aku punya feeling kamu hamil lagi yang." Tangannya tidak berhenti mengelus perut rata Sakura, bahkan Sasuke sesekali sengaja menyentuh bagian payudara. "Nenennya juga makin besar gini."
Sakura mendengus, mencoba melepaskan tangan Sasuke di tubuhnya. "Tidur, jangan pegang-pegang."
"Yang ku pegang ini kan istriku, bukan cewek lain. Jadi ya, suka-suka dong."
"Oh, jadi kamu ada niatan megang cewek lain?" Salah lagi. "Oke, kalau gitu tidur di lantai. Nggak usah dekat-dekat aku."
"Eh, bukan gitu yang."
Seluas-luasnya alas, lebih luasan alasanmu.
Jreng. Jreng.
"Benaran, aku ngerasa kamu hamil lagi. Yupi sama Mars bakal punya adik baru, dan aku bakal senang kalau asumsiku ini benar."
Analisis Sasuke tentu saja bukan tanpa sebab, ia cukup tahu bagaimana Sakura ketika hamil atau tidak. Istrinya jauh lebih menyeramkan jika perasaan hatinya dalam kondisi sensitif, itu terjadi saat dia tengah mengandung si kembar dulu. Sasuke tersenyum melihat Sakura mematung, lalu kembali memeluknya erat. Jika mengingat mereka yang dahulu, Sasuke rasanya selalu ingin tertawa sejadi-jadinya. Karena waktu itu ia sangat sibuk dengan akademi dan juga pekerjaannya, Sakura nekat datang ke tempatnya bertugas sembari memakinya yang terlalu mengulur waktu. Katanya, dia tidak mau menjadi perawan tua. Jadi sebelum itu terjadi, atau sebelum Sakura mencari laki-laki lain, Sasuke harus segera menikahinya secepat mungkin. Titik!
"Aku mau anak ketiga kita cewek." Sakura tersenyum disela tidurnya mendengar itu.
- 0 -
Berkat hujan yang turun hampir semalaman, Karin tidak perlu repot-repot menyiram tanamannya di pekarangan. Suami dan anaknya Kaka sudah mulai beraktifitas di luar rumah seperti biasa, jadilah hanya tinggal Karin sendiri duduk di teras sembari membaca koran. Sudah bosan menonton acara infotaiment di televisi yang apa-apa selalu membahas kehidupan para Artis, mulai dari isi rumah hingga isi ATM. Terus maunya apa? Karin sampai jengah memilah mana tontonan sampah dan mana tontonan yang mendidik bagi Kaka. Masa ada begitu Ibu-ibu kecelakaan yang luka di kepala tapi yang diperban rambutnya. Apa iya otak manusia sudah bergeser ke rambut?
"Karinnnn!! I'm so happy!!"
Ini apa pula? Masih pagi berteriak macam tarzan. Sakura mulai setres kali, tiba-tiba muncul dari pagar rumah Karin dan masuk begitu saja dengan wajah sumringah.
"Ada apa Sak?"
"Rin, lo tahu nggak gue kenapa?"
Karin heran. "Nggak."
"Gue hamil." Di depan Sasuke, Sakura gengsi. Jadi ketika suaminya itu pergi bertugas, ia buru-buru memastikan dengan alat tes pack. Sakura pertama mencoba dan hasilnya positif, namun ia masih merasa kurang. Jadilah ia mencoba hingga empat kali, hasilnya pun tetap sama. "Gue hamil Rin."
"Serius?"
"Gue serius."
Ini menjadi kabar baik, bukan untuk Sakura dan keluarganya, Karin sebagai tetangga sekaligus teman dekat pun ikut bahagia.
Tapi...
"Bu Sakura hamil?"
"Wah, benaran? Anak siapa?" Tolol.
Kocheng oren gembrottttt! Tidak sekalipun Sakura bisa tenang jika ada Ibu-ibu satu itu. Tidak masalah, Sakura selow wae. Ia melirik Karin untuk diam, urusan ini menjadi urusannya. "Anak Sasuke dong, suamiku. Memangnya kenapa?"
"Benar nih anak Pak Sasuke? Dengar-dengar katanya kalian mau cerai."
Bajingan! Gosip lagi.
"Heh! Kalau punya mulut tuh dijaga!" Pada akhirnya, Karin tetap kelepasan berbicara.
"Loh, kok Bu Karin jadi nyolot?! Bu Sakura saja biasa-biasa saja, situ ngajakin berantem?!"
Tahu deh, jika ada Ibu-ibu berantem maka yang lainnya lebih baik minggir. Karin bersiap menggampar Shion beserta teman selambe turahnya, tapi Sakura dengan cepat menghalangi. "Sudah pada tua oiii! Jangan berantem, nggak ada yang malu apa?!"
"Biarin saja Sak! Apa-apaan punya mulut digunain nggak benar. Mau gue sobek?!"
"Eh, ukhti! Kerudungmu nggak guna kalau tindakanmu kayak gini!"
"Bodo amat, bacot!"
Sakura tahu seperti apa Karin. Dia memiliki pembawaan yang kalem, namun sewaktu-waktu bisa menjadi kucing betina yang buas jika dipancing seperti barusan. Bahkan Sasuke pernah terkejut mengetahui betapa garangnya Karin ketika memarahi Kaka, Medusa kalah. Waduh, ada Pak RT lewat. Sakura buru-buru menarik Karin masuk ke dalam rumah, sedangkan dua Ibu-ibu tadi yang tadinya nongkrong di pagar mau tidak mau segera pergi. Bahaya jika Pak RT tahu, orang-orang sekompleks pasti heboh. Tidak tahu saja Ibu-ibu itu berhadapan dengan siapa, Karin si mantan atlet Taekwondo.
"Parah lo Rin, nggak ada gunanya tahu nggak lo ngeladeni mereka."
"Sebel banget gue, sekali saja nggak ada senang-senangnya lihat tetangga bahagia."
"Ya maklumin saja, namanya orang kan banyak macamnya. Kalau satu macam, namanya elo Rin." Aneh deh.
"Kok gue?"
"Ya iya elo, ukhti tapi main gampar orang seenak jidat. Gokil abis."
"Gokil ndasmu." Karin sekarang jadi teringat kehamilan Sakura. "Eh Sak, omong-omong suami lo sudah tahu lo isi?"
"Belum sih, tapi dia dari kemarin sudah nerka-nerka gue hamil."
"Wih keren. Selain jadi polisi, suami lo ternyata berbakat juga jadi dukun."
Betul.
To be continue...
