A BoBoiBoy fanfiction proudly present
"Programmer of Love"
-- Halilintar x Yaya --
-- Love Shot --
"Apapun yang terjadi, aku akan tetap melindungimu. Meskipun nantinya nyawaku yang menjadi taruhannya. Asal itu kamu, aku baik"
.
.
.
BOOM!!
Seluruh warga fakultas Informatika terkejut dengan suara ledakan itu. Mereka segera menoleh ke arah sumber suara. Dan saat itulah, terlihat sebuah asap mengepul dibarengi dengan atap bangunan yang mulai runtuh sebagian.
Gopal, Ying, Shielda, Sai, Ricky dan Ice segera berlari menjauh dari sana. Sesekali mereka menatap nanar ke arah gedung fakultas. Gedung itu menyimpan banyak sejarah. Tapi, bukan itu yang mereka takutkan. Justru mereka cemas jika masih ada orang lain yang berada di sana atau tidak.
'Yaya, kau di mana?' batin Ying cemas.
.
.
.
.
Fang menatap nanar keadaan gedung fakultasnya. Ia sangat yakin kejadian ini mungkin akan menimbulkan korban jiwa. Terlebih, saat-saat seperti ini, banyak sekali mahasiswa yang sibuk di dalam gedung. Ia kembali menatap sang kakak yang terkulai lemas. Laki-laki itu pingsan.
"Abang, harusnya abang tahu kalau mereka tidak bersalah. Tapi, dia yang bersalah karena mencuci otak bawahannya untuk mencelakai kita," gumam Fang dengan sorot sendu.
Dulu Kaizo tidak seperti sekarang. Tadinya adalah mahasiswa yang menjadi teladan selama mengenyam pendidikannya di RIU. Dia memiliki sifat yang dingin namun hatinya sangat hangat. Wajah tampan dengan otak encer.
Tapi itu dulu.
Setelah kejadian kelam yang menimpa keluarganya, dia menjadi depresi. Lalu, perlahan mulai terungkap jika Kaizo positif terkena gangguan kejiwaan DID, dan Kassim adalah kepribadiannya yang ramah namun tak berhati. Kassim adalah kepribadian berdarah dingin. Tak segan dia membunuh orang lain untuk menyalurkan hasrat membunuhnya.
Hingga akhirnya, Kassim bertemu dengan orang yang menjadi dalang segala kekacauan di RIU fakultas Informatika. Orang yang juga bertanggung jawab atas kesedihan keluarga Huang dan Boboiboy, Rektor RIU, Retak'ka. Beliau membuat keluarganya menderita karena ulahnya mencemari nama Huang dan juga melakukan pengeboman. Untuk menutupi semua kesalahannya, Retak'ka memanfaatkan Kassim yang ramah, polos namun berdarah dingin untuk meledakan salah satu gedung fakultas di sana. Dan ya, akhirnya Retak'ka mampu.
Fang merasa miris jika mengingat itu semua.
"Kisah hidup yang kelam," bisiknya. Air mata tak terasa sudah mengalir di pipinya. Perlahan tangannya mengusap air mata itu. Ia kembali menatap sang kakak yang jatuh pingsan.
Tap... Tap... Tap..
Derap langkah seseorang yang datang mendekat ke arahnya terdengar oleh telinganya. Fang waspada, takut jika musuh yang mendekat padanya.
"Huang Zi Fang. Anak kedua dari dua bersaudara. Kuliah jurusan Informatika semester satu. Ikut terlibat langsung dengan kasus terorisme meski bukan keinginan sendiri. Melainkan diseret oleh kakaknya, Huang Zi Kaizo," ucap orang itu memaparkan data singkatnya.
Fang yang mendengar itu membulatkan matanya. Ia merasa heran bagaimana orang itu mampu mengetahui data pribadinya, bahkan sampai yang paling rahasia. Mencurigakan.
Dengan gerakan patah-patah, laki-laki berambut ungu itu memutar tubuhnya untuk melihat orang yang baru saja membeberkan hal pribadi itu. Dalam hati, dia bertanya siapa orang itu. Hingga saat sudah penuh melihat ke belakang, manik amethystnya membulat sempurna. Wajah orang yang ada di depannya mengingatkan Fang pada seseorang.
'Mirip sekali... apa jangan-jangan...'
"Halo, saya adalah...
.
.
Yaya memutar sendi pergelangan tangannya yang terasa kaku, sakit dan kebas. Ternyata diikat sekuat itu membuat tangannya sakit. Apa lagi, Yaya selalu bergerak-gerak.
"Uuh... ini sakit sekali," gerutunya sebal.
"Itu salahmu sendiri, Yaya. Sudah tahu ikatan itu kuat, pake sok-sokan mau bebas sendiri," cibir laki-laki bermata biru safir.
"Berisik," sentak Yaya.
"Kalian berdua ini berisik sekali, aku sedang konsentrasi supaya kita sampai di tempat Kak Hali sama Paman Ocho," cetus laki-laki yang lebih muda setahun dari laki-laki bermata safir itu.
"Kamu terlalu serius, Glac," tegur si safir Taufan.
Glacier mendelik pada Taufan yang duduk di sebelahnya. Jika saja tangannya tidak sedang memegang setir, niscaya sebuah jitakan akan mendarat di kepala kembaran kedua dari tiga kembaran itu. Bisa saja Glacier menjitak Taufan, hanya saja nyawa mereka yang ada di dalam mobil terancam.
"Sekarang tujuan kita kemana?" tanya Yaya yang jengah dengan dua sepupuan itu.
"Ke tempat Kak Hali," jawab Glacier serius.
Yaya mengangguk paham. Gadis itu segera mengambil ponselnya dan mulai mengirimkan e-mail pada seseorang. Pikirannya sekarang sedang dipenuhi dengan praduga yang ia harap tak pernah terjadi. Tapi, sepertinya Yaya sudah terlambat karena saat ini RIU sedang dalam keadaan siaga. Terlebih gedung Informatika sudah meledak.
"Gimana keadaan mereka ya? Menyebalkan sekali," keluhnya dengan suara pelan.
Matanya mulai mengabur terhalang oleh selaput bening yang dalam sekali kedip akan terjatuh. Ia berusaha menahannya. Tapi...
Hiks...
Galcier dan Taufan yang berada di depan langsung melirik ke kursi belakang saat terdengar isakan. Di sana, Yaya sedang memandang keluar jendela dengan air mata yang membasahi pipinya. Sorot matanya terlihat menerawang dan penuh pertanyaan. Membuat Taufan maupun Glacier merasa sedih.
Mereka berdua paham apa yang sedang dirasakan oleh gadis itu. Berbagai masalah timbul tiada henti, korban bertebaran, teman yang ternyata musuh. Entah bagaimana gadis yang masih berstatus mahasiswi semester satu itu malah terjebak di semua kondisi itu. Miris sekali bukan.
'Kak Hali... gadis kecilmu...'
Drrt... Drrt...
Ponsel Taufan berdering. Di sana terpampang nama Gempa di ID caller-nya. Segera saja laki-laki itu menerima telpon itu.
"Halo, Gem ada apa?"
"Apa?! Baiklah, aku akan sampaikan sama Kak Hali."
"Iya. Sebentar lagi kami sampai."
"Baik! Kami menyayangi Daun!"
Tuttt...
Taufan mengakhiri percakapan itu. Ia melirik Glacier yang langsung dibalas anggukan paham olehnya. Dengan menambah kecepatan, mobil itu melesat menuju tempat tujuan mereka untuk menemui Halilintar.
Taufan menoleh pada Yaya. "Kita bakalan sampe sebentar lagi. Sabar ya?"
"Iya, Pak." Yaya menyahut dengan dinginnya. Entah kemana sifat pecicilan dan cerianya, yang pasti Taufan merasa tak nyaman dengan sifat Yaya yang sekarang.
Laki-laki itu menoleh pada Glacier yang fokus pada jalanan, lalu menatap ke depan. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Berusaha menenangkan dirinya.
'All will be okay..'
Itulah kata yang disugestikan kepalanya. Ya, semuanya akan baik-baik saja.
Perjalanan mereka hanya memakan waktu satu jam. Sekarang, ketiganya sampai di gedung tempat di mana Halilintar ada di sana. Setelah memarkirkan mobil, mereka dengan cepat masuk ke dalam. Tidak memperdulikan apa yang akan mereka terima selama berada di dalam gedung.
Langkah kaki yang cepat kian surut saat tiba-tiba saja atmosfer di sana terasa berbeda. Seperti ada yang sudah menunggu. Pandangan ketiganya lurus ke depan di mana ada sebuah pintu besar di ujung koridor. Tanpa berpikir dua kali, mereka segera berlari kembali ke sana. Sampai tak sengaja, Yaya menginjak sesuatu.
Krek!
Sring!
Sebuah serbuan panah dan pisau lempar melesat ke arah mereka. Dengan cepat, Yaya menghindar dari serangan tersebut. Begitu juga dengan Taufan dan Glacier.
Setelah di rasa tak ada lagi serangan, mereka mengatur napas yang tersengal. Ternyata cukup mernguras tenaga.
Glacier mengusap keringat yang jatuh di pelipisnya. "Gila! Mereka masang ranjau juga!" cetusnya agak kaget.
"Kalau kita tidak menghindar dengan cepat, aku yakin semua panah dan pisau itu akan menancap." Taufan menarik napas, "kenapa juga aku malah terlibat hak seperti ini? Merepotkan sekali," lanjutnya mengeluh.
Glacier memandang sepupunya lempeng. Taufan yang menyadari itu menampilkan cengirannya. Setelahnya Glacier menoleh pada Yaya. Namun, ternyata gadis itu tak baik-baik saja. Matanya membulat saat melihat sebuah panah menancap sempurna di lengan kanan Yaya. Dia juga dapat mendengar sesekali gadis itu meringis saat akan mencabut panah itu.
"Aw..hss.." ringis Yaya pelan. Tangan kirinya perlahan mencabut anak panah itu. Ia tidak bohong jika mengatakan ini sakit. Karena nyatanya memang terasa ngilu.
Yaya tidak memprediksi jika akan ada anak panah yang menyasar ke lengannya, karena sejak tadi sibuk berkelit menghindar.
"Yaya, kamu gak apa-apa?" tanya Taufan yang menghampirinya. Laki-laki itu terlihat cemas.
Yaya menoleh, "saya baik, Pak. Anda nggak perlu cemas."
"Dia cemas bukan hanya karena kamu terluka. Tapi, dia juga takut kalau ketahuan sama Kak Hali. Bisa-bisa setelah semua ini selesai, Kak Taufan akan mendapatkan sesuatu dari Kak Hali karena nggak becus jaga apa yang menjadi miliknya," jelas Glacier dengan santai. Tidak perduli dengan tatapan Taufan yang tajam dan menusuk padanya.
Yaya mengerutkan keningnya, tak paham. Tapi dia mengangguk saja. Urusan paham tidaknya itu belakangan. Lagi pula, masih ada urusan yang harus dia selesaikan. Dengan cepat Yaya mencabut anak panah itu dan melemparkanya ke sembarang arah. Ia meringis sejenak.
'Anjir. Sakit banget gila!' jeritnya dalam hati. Ia tak menyangka akan sesakit ini jika dicabut dengan cepat. Tapi, ada baiknya juga karena rasa sakitnya cuma sebentar.
Setelah itu, dia berdiri dan kembali berjalan menuju pintu itu. Taufan dan Glacier mengikuitnya di belakang. Mereka berjaga takut terjadi lagi hal yang seperti tadi.
Saat sampai di depan pintu, Yaya meneliti pintu tersebut. Ada yang sedikit berbeda dengannya. Lalu, matanya melirik ke sebelah kanan. Di sana ada sebuah pad angka digital. Iseng, Yaya menekan angka sembarang.
Data no valied. Remove data.
"Seperti yang kuduga," gumamnya.
Yaya mengeluarkan laptopnya dan mulai mengotak-atik alat tersebut. Tangannya bergerak cepat di atas keypadnya. Ia mengaplikasikan apa yang ada di kepalanya dan ilmu yang diterimanya selama menjadi mahasiswa IT.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Yaya selesai mengotak-atiknya.
Data valid. You can enter the room. Thank You, Mr. Retak'ka.
Pintu perlahan terbuka. Yaya memegang grendel pintu melebarkan pintu dengan cepat. Matanya berkedip beberapa kali sebelum menatap polos orang-orang yang ada di sana.
"Ayah..."
OwO
"Lar..."
"Apa?..."
"Kayaknya dulu kita harusnya gak nawarin diri menjadi Komting ya?"
Solar menoleh pada Blaze dengan heran, "kenapa?" tanyanya.
Blaze menghela napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Aku gak nyangka kalo tugasnya seberat ini. Lagian, aku baru tahu ada proker kayak gini," jawab Blaze dengan lesunya.
Iya, Blaze benar-benar tidak menyangka bahwa menjadi komandan tingkat semenyusahkan ini. Awalnya ia senang saja saat katingnya menunju Yaya, Solar dan dirinya menjadi komting. Dalam benaknya mungkin akan terdengar keren menyabet jabatan itu dalam HIMA. Hanya saja, mungkin Blaze menyesali itu sekarang.
Solar yang sedang meretas cctv fakultas menyahut dengan tenang. "Ya lagian itu deritamu. Salah sendiri kamu malah aktif dan paling cerewet saat OSPEK dulu," katanya tenang.
"Kamu juga awalnya gak mau jadi komting. Tapi, malah berubah pikiran saat Yaya ikutan," cibir Blaze cepat. Namun, laki-laki itu langsung menutup mulutnya saat sadar apa yang dia katakan.
Dengan ragu dia menoleh pada Solar. Dia kira Solar akan marah karena berkata seperti itu. Namun, laki-laki serba putih jingga itu tetap tenang. Seolah bukan hal aneh.
"Memang, awalnya aku ikutan karena Yaya memberi pengaruh besar untukku. Jika dibilang aku menyukainya, jawabanku iya. Aku memang menyukai Yaya sejak pertama melihatnya," ujar Solar tenang. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard.
"Solar.."
"Tapi, ternyata dia itu memang tidak peka. Berbagai kode sudah aku lancarkan padanya. Namun, tetap saja dia tidak sadar. Malah, aku tahu kalo gadis itu mengidolakan Kak Kaizo. Aku berniat mundur. Apa lagi saat tahu kalo Pak Hali suka ngerecokin Yaya, makin mundurlah aku. Gila aja, saingannya sama dua orang hebat.
Pada akhirnya aku nyerah buat dapetin Yaya. Aku berpikir, dari pada menjalani hubungan seperti pacaran, belum tentu aku dan Yaya akan akrab. Yang ada nanti bakalan canggung kalo semisalnya kami putus. Makanya, aku milih buat jadi sahabatnya aja. Selalu ada saat dia membutuhkan. Tanpa bikin suasana canggung.
Hingga aku tahu sebuah fakta kalo Yaya memang bukan takdir siapa pun. Dia udah punya happily ever after-nya sendiri. Dan dia itu galak heheheh..." tutur Solar dengan santainya. Namun, karena posisinya membelakangi Blaze, makanya sahabatnya itu tidak sadar bahwa Solar sedang mati-matian menahan tangisnya.
Sebagai sahabat, Blaze hanya dapat memberi semangat lewat tepukan bahu seolah mengatakan 'masih banyak gadis di dunia ini'.Drrt... Drrt...Solar dengan cepat menghapus sedikit air mata yang mengalir di pipinya. Tangannya merogoh saku jaketnya dan mengambil ponselnya. Terpampang nama 'Fang' di sana membuatnya mengernyitkan dahi. Heran.
Dia menggeser layarnya lalu menempelkan ponsel itu pada telinganya.
"Halo?"
Dan terjadilah percakapan keduanya yang membahas sesuatu dengan serius. Blaze melanjutkan pekerjaan Solar selagi sahabatnya itu menerima sambungan. Meski penasaran, Blaze berusaha untuk tidak kepo pada percakapan keduanya. Ia tahu batasannya.
Solar menutup sambungannya. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Setelahnya ia berbalik menghampiri Blaze yang sedang berkutata dengan cctv fakultas.
"Bagaimana? Udah selesai belum?" tanyanya serius.
"Dikit lagi." Blaze menyahut tanpa menoleh. Solar mengangguk.
Blaze menekan tombol enter dan layar pun dipenuhi oleh rekaman cctv di mana Halilintar berada. Mereka melihat di sana bukan hanya ada dosennya saja. Tapi, ada beberapa orang yang tidak terlalu dikenal. Pengecualian untuk Retak'ka. Namun, mereka semakin tidak mengerti kenapa Yaya tampak terkejut saat melihat ke arah dua tabung besar itu.
"Ini sangat rumit. Tapi, saling berkaitan," komentar Solar sambil mengelus dagunya.
"Kamu benar."
Yaya menatap kosong ke arah tabung besar di sana. Tanpa sadar kakinya membawa gadis itu mendekat ke arah tabung. Mengabaikan Halilintar yang beru saja akan memarahinya. Membuat dosennya itu terheran-heran.
"Kenapa dengannya?" tanya Halilintar pada Taufan yang juga melongo.
"Mana kutahu," sahutnya sewot.
"Oh."
"Kakak sialan!" desisnya tanpa suara. Namun, bukan Glacier namanya jika tidak mengadukan hal iu pada Halilintar.
"Kak Hali, Kak Taufan ngumpatin kak Hali," adunya menjadi provokator.
Taufan panik. Ia menatap kakaknya seraya mengibaskan tangannya. "Nggak! Glac itu bohong!" elaknya.
"Nggak, Kak Taufan yang bohong!" Glacier memanasi.
"Kamu!"
Ochobot memandang datar dengan pertikaian para laki-laki yang usianya lebih muda darinya. Disaat genting seperti ini mereka masih bisa bertengkar. Hebat sekali, pikirnya sarkastis.
Retak'ka geram karena diabaikan. Padahal, dia juga salah satu tokoh di sini. Tapi, kenapa terasa seperti pajangan saja.
"Hei! Mau sampai kapan kalian mengabaikan saya?!" seru Retak'ka murka.
Halilintar, Taufan, Glacier da Ochobot mengalihkan atensi mereka ke arah Retak'ka yang mukanya memerah karena emosi. Mereka menampakan wajah paling bodoh yang jarang sekali diperlihatkan.
"Kamu siapa berhak mengatur kami?" Glacier menatap malas pada Retak'ka dengan tangan yang bersidekap.
"Apa?!" Retak'ka sewot.
"Hah..." Glacier menghela napas, "anda itu menyebalkan sekali. Dendam dengan orang lain, tapi fakultas yang kena. Semua orang jadi korban, bahkan yang gak ada sangkut pautnya. Anda itu memang pecundang," ujarnya dengan nada sinis.
"Glac.." Taufan dan Ochobot memberi peringatan pada Glacier untuk tidak memancing kemarahan.
"Berani sekali kamu mengatakan hal itu pada saya! Mau main-main dengan saya?!" ketus Retak'ka.
Glacier membuang muka, "saya udah besar. Tidak mau main-main," balasnya ketus.
Ketiga orang yang lebih tua dari Glacier itu menganga tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki bermata biru emas itu.
Karena kesal, Retak'ka mengambil sebuah pistol dari balik jasnya. Dengan cepat dia mengarahkan pistol itu ke arah sasaran. Mereka yang ada di sana langsung membulatkan mata tak percaya dan kaget.
"Kalian itu berisik. Tujuan saya sudah tercapai, tinggal menyelesaikan satu hal saja," ujar Retak'ka dengan seringai kejamnya. Pria itu bersiap menarik pelatuk yang di arahkan pada titik tujunya.
"Yaya!!"
"Ayah.." panggil Yaya pada pria yabg berada di dalam tabung. Sorot matanya menyiratkan rasa rindu yang mendalam. Setelah sekian lama akhirnya dia dapat bertemu dengan 'ayah'nya.
"Yaya.." ucap pria itu dengan gerakan mulut.
"Yaya rindu ayah. Lihat, Yaya udah jadi mahasiswa Informatika seperti yang dulu Yaya sering katakan sama ayah pas masih SMA kelas 1. Yaya buktiin bahwa ucapan Kak Lin dulu itu gak benar," curhat Yaya dengan air mata menggenang.
Flashback On
Lima tahun yang lalu, seorang gadis berhijab merah muda itu sedang berada di kediam Boboiboy. Ia tampak semangat membaca buku tentang informatika. Padahal, dia masih baru menginjak bangku SMA."Yaya, kamu suka banget sama Informatika?" tanya seorang pria dewasa dengan rambut yanh sedikit putih.Gadis yang dipanggil Yaya itu menoleh sambil tersenyum senang. "Iya. Soalnya Yaya sering lihat Kak Lin suka banget main komputer terus lihat kata-kata yang unik. Setelah Yaya cari tahu, Kak Lin itu programmer. Dia pandai banget main sama bahasa komputer. Kan Yaya jadi penasaran," jelas gadis 15 tahun itu.Pria itu tersenyum seraya mengelus kepala gadis itu. "Ya udah, kamu semangat ya ngejar cita-citanya," ucapnya menyemangati."Kakak gak percaya kamu bakalan bisa masuk fakultas IF nantinya," ledek laki-laki yang entah datang dari mana dan langsung duduk di samping Yaya. Tangannya mengacak kepala gadis itu, membuat hijabnya berantakan."Aaa... Kak Lin!! Jangan acakin hijabnya!" rengek Yaya."Hahaha..."Pria itu mengulas senyum hangat melihat kebersamaan keduanya. Andai saja Yaya menjadi anaknya. Demi Tuhan, dia sangat menyayangi anak sahabatnya itu seperti anak sendiri."Lin, jangan ganggu dia," tegurnya."Ayah kok malah belain dia sih? Yang anak ayah siapa sih. Aku atau Yaya?" Lin merajuk."Kamu anak ayah, tapi dia yang ayah sayang.""Apa?! Ayah jadi pedofil?!" jerit Lin kaget.Pletak!"Wadaw!!" Lin mengelus kepalanya yang beru saja kena jitak."Makanya kalo ngomong itu di jaga.""Iya, iya, maaf."Dan pada akhirnya mereka menonton film dengan tenang.Flashback Off
Pria itu menatap sendu gadis yang ada di depannya. Ingin rasanya dia memeluk gadis yang sudah dianggap anaknya sendiri.
"Ayah, Paman Huang, kalian sabar dulu ya? Yaya dan Kak Lin bakalan cepet-cepet bebasin kalian," lirih Yaya.
Pria itu mengangguk cepat. Namun, matanya membulat tatkala melihat Retak'ka mengarahkan senapan di belakang Yaya.
Duk! Duk!
Pria itu mengetuk-ketuk tabung untuk memperingati Yaya. Namun, gadis itu masih saja belum menyadarinya.
Retak'ka mengulas seringai keji. Ia menarik pelatuk senapan itu.
"Mati kau."
DOR!
"YAYA!!"
Merasa terpanggil Yaya berbalik. Namun dia langsung membulatkan matanya saat sebuah peluru yang melesat ke arahnya. Kakinya tak mampu bergerak untuk menghindar. Makanya dia menutup matanya.
'Mungkin ini akhir dariku..'Yaya merasa ada yang janggal. Rasanya tadi ada peluru yang melesat ke arahnya. Tapi, kenapa dia tidak merasa saki? Ada apa sebenarnya?
Karena penasaran, Yaya membuka perlahan matanya. Gadis melihat ada sebuah tubuh yang menjulang melindunginya. Kepalanya mendongak untuk melihat siapa pemilik tubuh itu.
Degh!
"Yaya, kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan suara serak. Sesekali meringis karena nyeri dibagian punggung. "Uhuk!"
"Kak Lin.." lirih Yaya. Gadis itu memandang tak percaya pada laki-laki itu. Dia melindunginya?
"Kenapa?" tanya Yaya pelan.
Halilintar terkekeh kecil disela ringisannya.
"Kenapa Bapak nyelamatin saya?" tanya Yaya nyaris berbisik.
Halilintar tak langsung menjawab. Dia merengkuh Yaya dalam dekapannya sambil menahan rasa sakit yang menjalar.
"Kamu mau tahu?" Yaya mengangguk, "karena saya mencintai kamu, Yaya."
Dalam dekapan itu, Halilintar tahu jika tubuh Yaya menegang. Namun, tak ada niatan dalam hatinya untuk menguraikan pelukan itu.
"Saya mencintai kamu. Apa pun yang terjadi, saya akan melindungi kamu. Meski nyawa saya jadi taruhannya, asal itu kamu. Saya baik," jelas Halilintar. "Uhuk! Uhuk!"
"Kak Lin... harusnya kakak jangan lakuin itu," kata Yaya pelan.
Yaya menarik napasnya dalam, "karena saya cinta sama kakak," sambungnya.
Halilintar tak menyahut. Yaya merasa bobot Halilintar semakin berat. Ia melihat ke arah laki-laki itu dan ternyata pingsan.
Yaya panik. "Kak Lin!" pekiknya.
Ia menepuk-nepuk pipi Halilintar. "Kak, bangun, Kak. Jangan tidur dulu, ini belum selesai," ujarnya.
Tes..
Taufan, Glacier dan Ochobot menatap sendu pada sepasang sejoli itu. Hingga seakan tersadar sesuatu, Taufan langsung bergegas menghampiri mereka dan membantu Yaya membopong Halilintar.
"Kita harus cepat bawa dia ke rumah sakit!" cetus Taufan.
"Hm. Pergilah dengan Yaya, kami yang akan urus di sini," ujar Ochobot. Taufan mengangguk.
Ketiga orang itu pun segera beranjak menuju rumah sakit meninggalkan gedung tersebut. Mereka harus cepat-cepat menyelamatkan Halilintar.
"Kak, bertahan," bisik Yaya saat mereka sudah ada di dalam mobil.
Taufan melajukam mobil itu dengan kecepatan di atas rata-rata menuju rumah sakit. Sesekali ia melihat dari kaca spion kondisi kakaknya yang sekarat. Dalam hati dia berdoa agar kakaknya selamat.
.
.
.
Fang menatap laki-laki yang kini berkutat dengan laptop milik Kaizo di ruang rawat fakultas Kedokteran. Entah apa yang dikerjakannya, yang jelas Fang tidak tahu.
Ia melirik pada kakaknya yang terbaring lemah di atas bangsal. Selang infus tertancap di tangannya. Singkatnya, kondisi kakaknya sangat memprihatinkan.
"Kamu gak perlu cemas. Dia baik-baik saja," ujar laki-laki tanpa melihatnya.
"Apa yang kamu kerjakan?"
"Menyelesaikan sisa pekerjaan Kak Hali," jawab laki-laki itu.
"Maksudmu?" Fang memiringkan kepalanya tak mengerti.
"Kau akan tahu nanti."
Fang menghela napas panjang sebelum menatap laki-laki serba hitam-merah-putih-jingga itu.
"Supra, kamu tahu sebenarnya apa hubungan Pak Hali sama Yaya?" tanya Fang penasaran.
Supra menghentikan ketikannya, tapi tidak melihat pada Fang. Laki-laki itu seperti mempertimbangkan sesuatu sebelum bicara hal yang membuat Fang nyaris jantungan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mereka..."
To be continued
.
.
.
.
.
Aloha!!
Setelah sekian lama akhirnya April bisa update lagi... Huhuhu... gak terasa tinggal beberapa bulan lagi mau UN terus lulus deh dari SMA. Banyak banget ujian astaga... pening kepala April. Oh ya, btw part depan ending ya! Hore!!!
Oh ya, April mau ngucapin banyak-banyak terima kasih sama yang udah review fic ini dan fav juga... kalian sangat berarti buat April. Peluk onlen yuk *rentangintangan* Aa.. Hayo... ada yang bisa nebak sebenarnya hubungan Yaya sama Pak Halilintar itu apa sih? Kok bikin Fang, Blaze sama Solar kaget? Kalian bakalan tahu di part ending.
See you in next part
Love You *
*RnR Please*
