MARI kita sudahi kisah lara yang runyam tiada akhir ini. Lisan tak berani berucapbahwa ia sesungguhnya telah lama lelah dengan perjalanan cinta yang memang seharusnya tak pernah ada. Jiwa ini betah bersarang pada sunyinya gelap, membiarkan tubuh ringkih dalam dinginnya malam hingga perlahan tubuh ini hancur sudah bercampur dengan darah.

MARI kita tutup perjalanan singkat sebelum ia berlabuh pada akhir yang tak berarti. Pena seharusnya lekas di letakkan, jangan ada lagi hitam di atas putih yang kembali tertoreh.

NAMUN biarlah yang ada tetap ada, barangkali kau ingin kembali menyelami memori singkat tentang 'kita'. Biarlah yang ada tetap ada, barang kali itu bisa jadi saksi bisu bahwa kita pernah saling mencinta dan saling berbagi kebahagiaan. Biarlah yang ada tetap ada sehingga ia dapat menjadi bukti bahwa dua adam ini pernah saling berbagi suka dan duka bersama.

NAMUN kisah sehebat apapun itu, pasti akan ada akhirnya. Seberapa hebat penulis menuliskan kisah di novel, mereka pasti akan memutuskan pada titik mana akan muncul kalimat 'THE END'. Tak terkecuali dengan manusia. Setiap manusia pasti akan mengalami satu fase dimana mereka menemukan titik henti yang membuat mereka menyerah lalu berpikir bahwa 'ini adalah saat yang tepat untuk menyudahi segalanya.'

BEGITUPULA dengan kita−yang selalu dikuasai oleh ego dan tak pernah mengenal akan arti cinta dalam arti sungguhan.

OLEH karenanya mari kita berhenti agar sayatan luka tak lagi menganga. Sebab nyatanya mencintai tak selalu perihal saling berjumpa, namun juga bersedia untuk saling melepas merelakan hati masing-masing agar tak ada lagi yang saling terluka.


BLACK CODE

...

Written by. Ciellalee


Tak ada yang bersuara selama perjalanan. Masing-masing insan saling tenggelam dalam lamunan mereka sendiri. Yang satu hanya sedang memandang keluar jendela pesawat sedang yang satu sibuk membaca sambil sesekali meneguh segelas kopi di pagi hari.

Sesuai rencana pesawat lepas landas keesokan hari, meninggalkan Paris menuju London. Sudah cukup untuk liburan sesaat di tengah kesibukan keduanya. Bill−pilot pada hari ini menyapa ramah Baekhyun dan Chanyeol dari speaker. Ia menyampaikan beberapa info mengenai cuaca, jarak perjalanan, dan beberapa informasi lainnya−sesuai dengan SOP yang telah ditentukan.

Begitu pesawat telah mengudara, Baekhyun merogoh tas laptop yang selalu ia bawa kemudian memutuskan meraih salah satu buku novel kesukaannya lalu menenggelamkan diri dalam bacaan. Sedang Chanyeol sedang tidak mood untuk melakukan apapun jadi ia memutuskan hanya ingin melihat pemandangan langit. Mungkin dalam waktu beberapa menit ia akan jatuh tertidur setelahnya.

Setelah pernyataan tak terduga Baekhyun semalam yang secara tiba-tiba memutuskan ingin bercerai, keduanya sama sekali belum berinteraksi hingga pagi ini. Mungkin hanya beberapa kalimat sapaan seperti biasa−tak ingin terlihat canggung di hadapan bawahan mereka meski pada akhirnya mereka juga menyadari bahwa ada yang tidak baik-baik saja dengan 'Tuan Muda' mereka.

Tidak ada pertengkaran begitu Baekhyun mendeklarasikan dengan gamblang bahwa ia ingin berpisah. Begitu mendengarnya Chanyeol hanya bungkam, lalu menyeret Baekhyun kembali ke hotel. Ia terlalu syok untuk menanggapi Baekhyun. Bisa saja ia marah besar setelah mendengarnya tapi untuk apa? Dengan dirinya marah, bukan berarti masalah akan selesai.

Jadi lelaki itu memutuskan untuk membawa Baekhyun kembali ke hotel guna menenangkan pikiran. Sebab Chanyeol tahu persis, dalam keadaan emosional seperti ini dirinya tak boleh terbawa suasana dan harus mengedepankan akal sehatnya. Ia harus menyusun kalimat yang cukup baik untuk menanyakan alasan mengapa Baekhyun sampai memutuskan ingin berpisah dan memikirkan solusinya.

Alhasil sepanjang malam lelaki itu sama sekali tak tertidur. Kalimat Baekhyun terngiang-ngiang di kepalanya. Sebenarnya ia bisa saja melarikan diri dari kalimat menyebalkan itu dengan minum beberapa gelas whiski lalu jatuh tertidur. Namun entah mengapa Chanyeol merasa bahwa memutuskan suatu permasalahan tentang cinta tak seharusnya dilakukan dengan melarikan diri ke minuman keras. Itu tidak etis.

Sebenarnya semalam mereka hampir bertengkar karena Baekhyun yang bersikeras ingin tidur pisah kamar dengan suaminya. Namun Chanyeol dengan kepala dingin mampu menenangkan lelaki mungil itu dan akhirnya mereka tidur di atas ranjang yang sama meski kejadian punggung bertemu punggung harus kembali terulang.

Chanyeol kembali menghembuskan napas panjang−entah ini sudah keberapa kalinya. Kalimat Baekhyun kembali terngiang di kepalanya. Ia sadar betul bahwa keluarganya dengan keluarga Baekhyun memiliki dendam yang sudah berakar dari generasi ke generasi. Dan alasan mengapa ia dijodohkan dengan Baekhyun adalah untuk mempermudah balas dendam tersebut. Karena dengan ia menikahi Baekhyun maka otomatis ia akan selalu bersama dengannya dan hal itu akan membuatnya lebih mudah mempelajari kelemahan-kelemahan Baekhyun beserta keluarganya.

Dan Chanyeol yakin seratus persen, Baekhyun pun memiliki pemikiran yang sama pula. Dan pada awalnya baik Baekhyun maupun Chanyeol, mereka berdua sama-sama mengetahui bahwa tujuan mereka dinikahkan adalah untuk dapat saling membunuh satu sama lain.

Tapi ternyata dugaan itu meleset. Karena tanpa disadari, perasaan cinta muncul ditengah-tengah keduanya. Sehingga rencana ketika mereka seharusnya sudah saling membunuh satu sama lain, malah gagal karena keduanya saling mencintai satu sama lain.

Chanyeol menggigit bibir dalamnya, kepalanya terasa sangat pening saat ini. Ia butuh tidur tapi tubuhnya menolak untuk itu. Segala hal kini menjadi sangat rumit dan dia tidak punya solusi yang cukup baik untuk menyelesaikannya.

Perlahan mata bulat Chanyeol kembali melirik ke arah Baekhyun. Lelaki mungil itu ternyata sudah terlelap dengan buku yang berada di pangkuannya. Chanyeol tersenyum kecil lalu bangkit dari kursinya perlahan ia coba menyingkirkan buku itu, lalu meraih selimut dari kabin untuk menutupi tubuh ringkih itu.

Sejenak Chanyeol memandangi wajah tertidur pulas itu. Dengan lembut Chanyeol mengusap rambut halus Baekhyun, lalu turun ke mata, pipi, dan berhenti di bibir mungilnya yang merah merekah. Tanpa ragu Chanyeol mengecup bibir itu ringan, tak ingin mengganggu tidur suaminya.

Ia kemudian berbisik pelan, "I love you."

...

Chanyeol menegakkan kursinya tepat setelah mendengar lampu mengenakan safety belt dinyalakan. Sebelum memasangkan pada dirinya sendiri, ia berjalan menuju Baekhyun lantas dengan perlahan menegakkan kursi lelaki itu pelan kemudian memasangkan sabuk padanya.

Baekhyun terbangun ketika bunyi 'klik' pada sabuknya terdengar sedikit terkejut melihat Chanyeol yang berada begitu dekat dengannya. Refleks ia sedikit memundurkan badan−berusaha menjauhi lelaki itu. Chanyeol segera menyingkirkan tangannya begitu melihat Baekhyun membuka mata lalu dengan canggung menjauh perlahan dari Baekhyun.

"Ah, maaf aku membangunkanmu. Aku tadi ingin memasangkan sabuk karena kita akan mendarat, tolong jangan salah paham." Jelas Chanyeol.

"Hn." Baekhyun menjawab singkat.

Chanyeol kemudian kembali ke kursinya lalu memasangkan sabuk pada dirinya sendiri. Lantas membuang muka menatap jendela.

Pesawat mendarat dengan mulus dan mendarat di bandara dua puluh menit kemudian. Pesawat itu langsung menuju parkiran pesawat pribadi. Chanyeol melepas sabuknya lalu bersiap untuk turun. Ia juga tak lupa menunggu Baekhyun berbenah mengajaknya untuk turun bersama.

Sudah ada enam mobil limousine yang telah menunggu dengan setia kedatangan Baekhyun beserta Chanyeol. Beberapa penjaga pun telah menutup ruas jalan utama demi menjaga keamanan kedatangan mereka. Persis di depan pintu keluar pesawat, tiga orang tukang pukul dan dua orang letnan menunggu kehadiran mereka berdua.

Begitu mendarat dari pesawat, Chanyeol dan Baekhyun segera diarahkan menuju salah satu mobil. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil tersebut, rombangan itu segera melaju meninggalkan bandara lalu para penjaga pun dibubarkan.

Chanyeol menghembus napas lega karena dapat mendarat dengan selamat. Setelah ini, ia dan Baekhyun akan kembali ke mansionnya dan pembicaraan mengenai keinginan Baekhyun untuk bercerai pasti tak akan terhindarkan.

Sepanjang perjalanan menuju London, Chanyeol sudah memikirkan apa saja yang harus ia katakan dan berharap jika Baekhyun turut merasakan apa yang ia inginkan.

Hati-hati Chanyeol melirik ke arah suaminya itu. Masih seperti tadi, Baekhyun hanya bungkam tak ingin mengucap sepatah kata pun. Matanya masih menerawang ke luar dengan pandangan lelah. Meski begitu tak ada yang bisa diperbuat. Chanyeol juga memutuskan untuk tidak mengusiknya, ia juga ingin memberikan ruang bagi Baekhyun agar dapat berpikir.

Setelah melewati perjalanan yang panjang, rombongan mobil itu akhirnya memasuki perkarangan mansion Chanyeol. Para pelayan nampak begitu sigap menyambut kedatangan keduanya. Tanpa menunggu perintah, para pelayan segera menurunkan barang dan mempersilahkan kedua tuannya itu untuk memasuki rumah.

Tak ingin membuang kesempatan, Chanyeol segera meraih tangan Baekhyun lalu menuntun lelaki itu menuju ruang kerjanya. Baekhyun hanya diam menurut. Dirinya sudah terlalu lelah dan ia sedang tidak mood untuk bertengkar dengan Chanyeol.

Chanyeol menuntun Baekhyun untuk duduk di sofa lalu mengunci pintu. Lelaki itu kemudian duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Baekhyun.

"Aku tidak ingin kita bercerai." Chanyeol membuka percakapan.

Baekhyun hanya menatap datar lalu berdecih. "Lantas apa kau pikir jika kau tidak ingin bercerai, aku akan dengan mudahnya mematuhi keinginanmu?" Ucap Baekhyun dengan nada mengejek.

"Tentu tidak, aku tahu kau pasti akan teguh pada keinginanmu. Tapi alasanku membawamu kemari, mengajakmu untuk berbicara adalah supaya kau tidak memutus segalanya secara sepihak. Aku juga memiliki hak untuk didengarkan olehmu." Ucap Chanyeol.

Baekhyun menyandarkan tubuhnya lalu melipat tangan di depan dada. "Kalau begitu cepat katakan apa yang kau inginkan dariku!"

"Aku tidak ingin kita bercerai karena hal ini akan menimbulkan pertanyaan besar di publik. Aku dan kau memiliki pengaruh cukup besar dalam politik dan ekonomi, jika kita bercerai maka kestabilan itu bisa terganggu selain itu pandang publik pada keluarga kita juga akan memburuk. Tapi yang lebih penting−"

Baekhyun menggebrak meja lalu menatap Chanyeol penuh amarah. "Selalu seperti itu! Kau takut berpisah denganku karena takut kehilangan semua kekuasaanmu, Bajingan!" Urat amarah tercetak jelas di leher Baekhyun.

Namun Chanyeol tidak bergeming, matanya tetap menatap dalam pada Baekhyun. Sebenarnya mulutnya saat ini sudah gatal ingin balas sumpah serapah tapi ia tahu bahwa bertengkar bukanlah jalan keluar terbaik dalam kasus ini.

Setelah melihat keadaan bahwa nampaknya Baekhyun sudah selesai dengan amarahnya, Chanyeol melanjutkan kalimatnya yang baru saja terputus. "Tapi yang lebih penting alasan kenapa aku tidak ingin bercerai adalah karena aku mencintaimu."

Bola mata sabit itu melebar, terkejut dengan kalimat yang barusan dilontarkan oleh Chanyeol. Tubuhnya seketika terasa kaku dan bibirnya seperti kelu. Bagai disengat listrik, Baekhyun membeku ditempatnya.

"A-apa kau bilang?" Ucap Baekhyun terbata.

"Aku bilang aku tidak ingin bercerai denganmu karena aku mencintaimu." Chanyeol mengulang kalimatnya dengan mantap.

Baekhyun mengigit bibir dalamnya kuat. Tangannya sudah membentuk kepalan kuat dan seluruh tubuhnya bergetar.

"Cinta kau bilang?"

Baekhyun mendengus. "Kau bilang cinta!? Apa kau tidak tahu pesakitan seperti apa yang aku peroleh, hah!?"

Wajah Baekhyun memerah sepenuhnya, sedang matanya melotot tajam pada Chanyeol. Saat ini ia benar-benar telah naik pitam dan takkan segan mengirim bogeman mentah pada Chanyeol.

"Kau pikir aku bisa balas mencintaimu setelah tahu kau dari keluarga yang menculik dan menyiksaku ketika kecil!? Apa kau tahu Chanyeol Armens, bagaimana dahulu ayahmu menjadikan aku sandera lantas menyiksaku dengan tiada ampun!? Apa kau tahu apa saja yang telah keluarga Armens lakukan pada kami, apa kau tahu!?"

"Aku tahu!" Potong Chanyeol. Nada bicaranya juga ikut meninggi.

Lagi-lagi sorot mata menyedihkan itu, lagi-lagi ia menunjukkannya di depanku.

Baekhyun tersentak, ia mengernyit tak mengerti pada Chanyeol.

"Aku tahu bagaimana rasa sakit yang kau rasakan Baekhyun. Oleh karena itu, aku tidak ingin kita berpisah dan mari mengakhiri semua kekonyolan yang dilakukan oleh pendahulu kita agar kejadian itu tidak terulang. Maka untuk melaluinya, kita harus bersama agar bisa saling berbagi rasa sakit. Itu keinginanku Baekhyun." Chanyeol mengucapkan itu dengan senyum getir. Ia masih menatap Baekhyun lekat-lekat.

Lantas Baekhyun bangkit dari tempat duduknya lalu menarik kuat kerah kemeja Chanyeol. Membuat lelaki itu bangun dari tempat duduknya.

"Jangan sok mengerti tentangku! Bagaimana mungkin kita mau berbagi rasa sakit kalau kau bahkan tidak mengalami apa yang aku alami!? Kau juga seseorang yang berdarah dingin dan tidak pantas untuk berbicara tentang cinta. Tutup mulutmu bajingan. Luka dibalas luka, darah dibalas darah, dan nyawa dibalas nyawa. Kau terlalu naif Chanyeol." Tanpa ragu Baekhyun meninju wajah Chanyeol. Chanyeol terdorong ke belakang lalu terjatuh ke lantai. Bibirnya robek dan darah segar pun mengalir dari bibirnya. Baekhyun terengah-engah, emosi sudah menguasai dirinya.

Tangan Chanyeol terangkat untuk menyeka bibirnya yang berdarah. Akan tetapi Chanyeol tidak tersulut amarah, ia justru kembali bangkit dan kembali berdiri menghadap Baekhyun.

"Lantas bagaimana denganku?" Ucap Chanyeol lirih.

"Lantas bagaimana denganku yang melihat dengan mata kepala sendiri ketika adikku dibunuh oleh ayahmu!?" Suara Chanyeol menggelegar menggema dalam ruangan.

Baekhyun melangkah mundur, menatap tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. "A-apa? B-bukannya Sehun adalah adikmu?"

"Sehun adalah anak yang diadopsi oleh keluargaku. Kami mengadopsinya karena tak kuat menahan kesedihan ditinggal oleh Guanlin−adikku dan anak bungsu dari keluarga Armens. Ketika itu aku melihat ayahmu membunuhnya, lalu apakah kau masih bisa bilang aku tidak mengalami pesakitan yang sama!?"

Baekhyun terdiam, matanya menatap lantai merenungi perkataan Chanyeol barusan. Ia sudah kehabisan kata-kata. Chanyeol yang melihat Baekhyun dalam keadaan terguncang, memutuskan berjalan menuju lelaki mungil itu lalu mendekapnya dalam pelukan. Baekhyun tidak menolak, ia bahkan membiarkan Chanyeol membawa kepalanya menyender pada dada bidang Chanyeol.

"Tapi aku sudah berdamai dengan perasaan itu. Kini aku sudah menerima kesedihan itu dan kini aku sadar bahwa rantai balas dendam di antara keluarga kita tidak akan pernah terputus jika dari generasi ke generasi kita terus menanamkan rasa benci. Oleh karena itu mari Baekhyun, mari kita mengakhiri pesakitan dalam diri kita. Mari kita berdamai dan mulai belajar untuk mencintai serta memahami satu sama lain seperti janji suci yang kita ucapkan ketika upacara pernikahan kita."

...

Meski ketegangan antara Baekhyun dan Chanyeol sudah mulai surut, keduanya masih sama-sama belum berani untuk menatap satu sama lain. Yang mereka lakukan hanyalah duduk saling berpelukan di sofa tanpa mengucap sepatah kata.

Begitu jam menunjuk pukul satu siang, Baekhyun dijemput oleh Jongin. Lelaki itu mengatakan jika Baekhyun sudah memiliki jadwal rapat penting dan menyuruhnya untuk segera bergegas ke kantor. Chanyeol mengerti dengan keadaan Baekhyun lalu membiarkan suaminya itu pergi.

Selain itu Baekhyun juga berkata bahwa malam ini ia akan tidur di mansion pribadinya dan tidak akan pulang. Chanyeol mengangguk paham. Ia tahu Baekhyun butuh waktu untuk merenung oleh karena itu Chanyeol tidak memaksa kehendaknya.

Ini hampir selesai jam makan siang, maka tak heran jika jalanan cukup padat membuat mobil tak bisa melaju dengan kecepatan lebih dari empat puluh kilometer per jam. Baekhyun memandang ramainya jalanan melalui kaca. Meski begitu sebenarnya tak ada yang benar-benar ia lihat. Pandangannya juga tidak fokus dan otaknya terasa kosong. Tubuhnya terasa begitu letih−mungkin efek perjalanan dari Paris ke London.

Namun setelah melihat jalanan yang sepertinya bukan mengarah ke kantornya, Baekhyun mulai membuka suara.

"Kita ke mana Jongin?" Baekhyun bertanya pada Jongin yang duduk di sebelahnya.

Jongin mengangkat wajahnya mengalihkan pandangan dari berkas-berkas dokumen lalu menatap Baekhyun. "Kita akan ke markas." Jawab Jongin.

"Ke markas? Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Jongin memutar matanya malas, lalu menutup dokumen-dokumen yang tadi ia baca.

"Apa kau lupa sebelum keberangkatanmu ke Paris, kau menyuruhku untuk menghubungi Lee Shang dan menyuruh anak-anak untuk berkumpul di markas. Jangan-jangan kau sudah melupakan tugasmu sebagai anjing penjaga Ratu." Jongin mengomel.

Ah iya benar juga, Baekhyun mengangguk mengerti lalu kembali menyenderkan tubuhnya ke tempat duduk. Matanya kembali menerawang dan Jongin yang melihatnya cukup terganggu dengan itu.

"Apa.. apa kau bertengkar lagi dengan Chanyeol?" Jongin bertanya dengan hati-hati.

Baekhyun meliriknya dari ekor mata lantas menghembuskan napas lelah. "Entahlah, aku tidak yakin kondisi kami bisa dikatakan sebagai bertengkar."

Jongin menghela napas kecil. Ia memutar badannya lalu menatap sepupunya itu lekat-lekat. "Bagaimana pun itu keadaannya, hal yang aku harapkan hanyalah kebahagiaanmu Baekhyun. Meski orang-orang di sana bilang kau adalah penjahat, tidak punya hati, tapi kau juga berhak untuk mendapat kebahagiaan." Jongin berkata dengan bersungguh-sungguh.

Baekhyun terkekeh pelan kemudian mengusak kepala Jongin. Lelaki mungil itu kemudian tersenyum kecil. "Terima kasih, Jongin."

...

Setengah jam kemudian, mobil langsung meluncur menuju lobi markas besar. Beberapa bodyguard serta kepala letnan telah berdiri di depan pintu masuk, membukakan pintu untuk Baekhyun dan Jongin. Mereka memberi hormat pada keduanya. Baekhyun mengangguk kecil membalas salam kemudian melenggang masuk.

Bodyguard yang terdiri dari empat orang tersebut mengapit Baekhyun dan Jongin di dalam lift. Sudah menjadi tugas mereka untuk mengawal Baekhyun hingga ke ruang pertemuan. Meski mereka takkan sampai ke lantai ruang pertemuan karena lantai itu hanya bisa diakses orang-orang tertentu.

Ketika bunyi lift berdenting menunjuk pada angka empat, para bodyguard tersebut menunduk sopan pada Baekhyun kemudian keluar dari lift. Lantas Jongin memencet beberapa tombol yang berada di samping pintu lift kemudian alat sensor mata terbuka−menyensor mata Jongin dan Baekhyun. Setelah memastikan data akurat, lift kembali bergerak membuka akses menuju lantai teratas gedung itu.

Begitu pintu lift terbuka, Baekhyun membawa langkah kakinya cepat kemudian pintu ruang pertemuan terbuka dengan otomatis. Para peserta rapat langsung berdiri begitu melihat Baekhyun memasuki ruangan.

"Lagi-lagi kau terlambat Baekhyun." Suho menyambut kedatangan Baekhyun dengan berdecih kesal.

Baekhyun melepas kancing jasnya, duduk di kursi yang selanjutnya diikuti oleh peserta rapat. "Aku sibuk, Suho."

Lampu dengan otomatis meredup lalu layar proyektor dinyalakan. Jongin menyerahkan tablet yang berisi informasi-informasi penting dan beberapa berkas dokumen kepadanya. Para pelayan juga tak lupa menyajikan teh darjeeling di atas meja Baekhyun.

"Jadi, apa kemajuan yang bisa kudapatkan?" Baekhyun membuka rapat.

Layar proyektor kemudian menampilkan beberapa potongan foto kejadian saat di kediaman Baroness Charles. Foto itu diperbesar kemudian menampilkan wajah yang begitu familiar dalam ingatan Baekhyun.

Di foto pertama terdapat seorang pria yang terlihat tengah menarik keluar dengan paksa salah satu anak dari dalam kandang kurungan. Kemudian di foto kedua lelaki itu nampak seperti menerima cek atau uang−entah Baekhyun tidak yakin tetapi yang jelas lelaki itu seperti tengah melakukan transaksi dengan seorang pria bertubuh gempal.

"Aku telah menonton berulang kali rekaman dari kamera penyadap yang aku pasangkan. Lalu ternyata terdapat beberapa penampakan menarik yang tentu langsung mengarah pada siapa pelakunya." Xiumin menjadi orang pertama yang melapor.

Xiumin mengetuk layar gadgetnya lalu memperbesar foto seorang lelaki yang sudah dilingkari warna merah. Wajahnya nampak menyeramkan. Tangannya menggenggam seorang anak perempuan mungkin berusia sembilan tahun yang nampak ketakutan. Anak itu nampak seperti tengah diserahkan kepada lelaki gempal yang menjadi pelanggan dari pelelangan ini.

"Orang yang kutandai itu adalah Kris, sedangkan yah lelaki gempal itu adalah Baroness Charles. Menurut informanku dia adalah anggota tetap acara pelelangan ini. Dan di dokumen yang ada di mejamu sudah kuberikan data-data para pelanggan yang gemar mengikuti acara pelelangan anak-anak di bawah umur." Xiumin menjelaskan.

Baekhyun kemudian meraih dokumen dari atas meja, lalu membolak-balik lembaran kertas itu. Matanya membaca satu per satu data dengan hati-hati.

"Lalu bagaimana anak-anak itu bisa diculik? Apa mereka mempunyai strategi tersendiri sampai bau mereka bahkan tak bisa dicium oleh kepolisian?" Tanya Jongin.

Suho kemudian mengambil alih. Ia membuka beberapa data di gadgetnya lalu ia tampilkan di proyektor. Semua mata kembali tertuju ke layar.

"Itu mudah saja. Kalau kalian tidak lupa Kris adalah kakak kandung Baekhyun−notabenenya ia adalah seorang Baldev. Maka ia menggunakan seluruh koneksinya untuk berafiliasi dengan kepala Kepolisian."

Foto-foto dimana Kris tengah bertemu dengan kepala kepolisian, lalu dimana kepala kepolisian tersebut turut hadir di acara pelelangan. Semuanya ditampilkan di layar proyektor. Membuat Baekhyun terdiam kehabisan kata-kata.

"Tentu saja ia dapat dengan mudah memanipulasi rekaman CCTV, menghapuskan jejak penculikan dengan mudah." Suho menjelaskan.

"Aku juga baru saja mendapat informasi." Kini giliran Mark yang berbicara.

"Sepertinya anak-anak itu akan kembali dilelangkan di salah satu restoran terbaik di London dalam waktu seminggu ke depan. Katanya itu akan menjadi pelelangan terakhir yang dilaksanakan di London sebelum anak-anak itu kemudian dijual ke daerah Timur Tengah."

Jongdae terlonjak dari tempat duduknya. "Timur Tengah!? Wah, yang benar saja. Lalu bagaimana dengan kerabat Ratu, apa kau tahu bagaimana kondisinya saat ini?" Tanya Jongdae.

Mark menunduk lalu menggeleng pelan. "Aku tidak yakin bagaimana kondisi kerabat ratu saat ini. Selain itu aku juga tidak menemukan anak itu ketika pelelangan di kediaman Baroness Charles kemarin. Sepertinya ia tidak dilelang sembarangan. Tapi aku yakin anak itu pasti akan dilelang saat acara besok karena mengingat daftar tamu undangan nampaknya berisikan bangsawan kelas atas, bahkan mafia-mafia kelas atas pun turut diundang."

"Lalu apa yang akan kita lakukan, Baekhyun?" Tanya Jongin.

Baekhyun menghela napas kasar. Dia harus berpikir cepat sekarang, fokusnya sekarang bukan hanya bagaimana bisa menangkap semua orang yang terlibat dalam pelelangan ini namun juga disertai rencana penyelamatan anak-anak. Ia harus bisa memikirkan cara tercepat menyingkirkan mereka.

"Apakah aku juga akan mendapat undangan, Mark?" Tanya Baekhyun.

Lelaki itu buru-buru kembali membuka gadgetnya mengetik di laman pencarian mencari informasi apakah Baekhyun akan diundang atau tidak.

"Ah, iya kau dan Chanyeol juga akan mendapat undangan. Mengingat keluarga kalian adalah bangsawan gelap."

Baekhyun mengusap dagu, lalu mengangguk-angguk pelan.

"Baiklah, kalau begitu bocorkan informasi secara sengaja kalau aku akan datang ke acara itu. Aku ingin semua orang yang terlibat dalam kasus ini juga muncul di sana. Sebarkan informasi bahwa aku siap bertanding dengan mereka dan akan menyiapkan jutaan dolar untuk bersaing."

"Apa yang kau rencanakan, Baekhyun? Itu terlalu beresiko. Tidak menutup kemungkinan mereka juga bisa menyerangmu mengingat mereka tahu kau berasal dari keluarga kesatria dan kedudukan keluargamu masihlah abu-abu di dunia bawah tanah." Irene menatapku serius.

"Tentu saja menghabisi mereka semua." Jawab Baekhyun tegas.

Irene menatapku frustasi. "Tetapi tidak dengan seperti itu Baekhyun. Kita harus mengatur ulang pasukan kita, mengubah jadwal, lalu menentukan pola penyerangan, lantas mencari jalan untuk mengevakuasikan anak-anak, kita akan berkonfrontasi dengan para kelompok kuat dari underground−"

"Oh ya? Benarkah?" Baekhyun berseru memotong kalimat Irene.

"Lantas kau akan membiarkan mereka semua mengintimidasi kita? Aku sudah punya rencana Irene. Kita akan mengepung semua bejat itu di dalam satu ruangan untuk membatasi ruang gerak mereka lalu kita hancurkan mereka tiada ampun. Dan untuk anak-anak tenang saja, aku sudah memikirkan tentang itu. Lagipula Ratu akan sedih kalau mendapati mereka terluka barang seinchi pun. Jongin, sekali lagi bocorkan informasi itu lakukan sebaik mungkin dan jangan timbulkan kecurigaan. Orang-orang itu tentu akan sangat tertarik untuk bersaing dengan keluarga Baldev demi menaikkan pamor. Dan yang terpenting, musuh terbesar kita adalah Kris. Dia adalah kakakku dan aku yang paling mengenal bagaimana dia dibanding kalian."

Para peserta rapat mengangguk.

"Lalu Mark, siapkan pasukan terbaik. Selain itu aku juga ingin mereka dilengkapi dengan persenjataan terbaik. Ah, dan jangan lupa siapkan pedangku."

Mark mengangguk paham.

"Kemudian untuk detail rencana akan aku rilis beberapa saat lagi. Pertemuan dibubarkan."

Baekhyun menutup rapat kemudian melenggang pergi diikuti Jongin−keluar dari ruangan rapat. Para peserta rapat menunduk hormat pada Baekhyun kemudian mengikuti langkahnya dari belakang.

Kris, tunggu aku.

...

Sudah empat hari Baekhyun memutuskan untuk tidak kembali ke mansion Chanyeol. Mereka juga tidak mengabari satu sama lain. Terlalu gengsi untuk memulai pembicaraan, terlalu tinggi ego mereka untuk saling bertanya. Ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan mengenai kelanjutan hubungan mereka.

Hal tersebut tentu membuat keduanya frustasi. Tekanan dalam pikiran mereka terasa terlalu berat dan perasaan rindu tidak dapat benar-benar tersampaikan melalui lisan dan emosi.

Chanyeol bangkit dari sofa, berjalan ke arah lemari tempatnya menyimpan minuman alkohol. Dia mengeluarkan botol vodka dari lemari lalu menuangkannya ke dalam gelas, lantas kembali ke sofa sambil memegang gelas itu. Kemudian ia kembali duduk sambil menekan pelipisnya selama beberapa saat.

Matanya terpejam, berusaha mengendalikan emosi dalam diri yang meluap-luap. Tidak, mempertahankan hubungan dengan Baekhyun tidak akan ada gunanya. Kita berdua jelas berbeda dan usahaku untuk rujuk kembali dengannya hanya akan berbuah sia-sia. Semua hal menjadi sulit karena masalah yang ia hadapi adalah perihal perasaan. Dimana ketika kita ingin menyelesaikan permasalahan tersebut maka logika dan strategi tidak akan pernah menjadi jalan keluar yang baik.

Dia tak pernah dididik untuk mampu menyelesaikan permasalahan seperti ini. Jujur jika boleh memilih maka Chanyeol lebih baik menyelesaikan ratusan soal tentang kalkulus dibanding harus memikirkan cara yang cukup baik agar hubungannya dengan Baekhyun dapat kembali seperti sedia kala.

Chanyeol kembali menuangkan vodka ke dalam gelasnya yang kosong. Ia mengangkat gelas itu kemudian menegaknya habis dalam sekali minum. Diletakkannya kasar gelas itu ke atas meja lalu terkekeh pelan.

Tak ada yang lucu memang, tetapi jika mengingat kembali kondisi dirinya yang saat ini sudah setengah mabuk karena tekanan yang membebani pikirannya, lalu minum sendiri di tengah malam seperti ini hanya untuk memikirkan masalah 'percintaan' bagi Chanyeol hal itu sangat konyol baginya.

Sekali pun tidak pernah Chanyeol membayangkan ia akan menghadapi masa-masa seperti ini. Toh sejak dulu ia juga tidak pernah punya permasalahan dalam percintaan. Baginya hubungan cinta hanyalah seperti permainan. Ia tidak pernah menjadi begitu depresi hanya karena putus cinta atau patah hati. Bahkan dulu ketika ia memutuskan untuk berhenti berpacaran dengan Hyejin−yang dulu sangat ia agung-agungkan dan sudah ia klaim kelak akan menjadi istrinya pun, Chanyeol dapat dengan mudahnya berkata mari kita akhiri hubungan ini tanpa ada beban sedikit pun.

Namun kenapa harus Baekhyun?

Kenapa harus Baekhyun yang mengobrak-abrik isi hatinya. Chanyeol adalah orang yang tenang dan berkepala dingin, ia selalu punya cara tersendiri untuk menjalani hidup dan tak pernah sekali pun ia tergila-gila dalam hubungan percintaan.

Tapi kenapa Baekhyun dapat membuatnya demikian?

Kenapa laki-laki yang seharusnya sudah ia bunuh sejak lama, menjadi seseorang yang pada akhirnya menempati lubang kosong dalam hatinya?

Entah kenapa setiap kali ia menatap wajah Baekhyun, seolah-olah hatinya menjadi lega dan tanpa sadar ia sudah memaafkan hal-hal buruk yang pernah keluarga Baldev lakukan pada keluarganya. Setiap kali dia menatap Baekhyun, ia seperti melihat bayangan sesosok lemah yang bahkan tak dapat membuat cangkang untuk melindungi dirinya sendiri.

Sorot mata itu memang dingin, tetapi entah kenapa setiap kali ia menatap Baekhyun lelaki itu seperti menyiratkan sebuah kesepian dan mengundang Chanyeol untuk menetap di sana. Barangkali rantai kebencian antara Baldev dan Armens memang sudah ditakdirkan untuk terputus melalui pernikahan mereka berdua.

Mungkin kakek mereka berdua juga sudah lelah melihat para generasi penerusnya saling membenci, saling berusaha untuk membunuh satu sama lain sehingga mereka menuliskan garis takdir bahwa senyatanya Baekhyun dan Chanyeol harus dipertemukan untuk saling mencintai dan saling melindungi.

...

Chanyeol yang sudah hampir sepenuhnya mabuk berjalan dengan gontai berusaha untuk meraih gagang telpon lalu tanpa pikir panjang ia segera memencet tombol panggilan cepat untuk menelpon Baekhyun.

Perasaan rindu itu sungguh membuncah dan ia ingin Baekhyun ada di dalam dekapannya saat ini juga. Tak apa meskipun dia nantinya akan kembali menatapnya dengan sorot mata dingin itu lagi, yang terpenting saat ini Chanyeol benar-benar membutuhkan Baekhyun.

Tangannya menggenggam erat gagang telpon itu sambil menunggu dengan sabar dering demi dering, berharap dalam hati agar Baekhyun mau mengangkat telponnya. Meski ia tahu tindakannya cukup gila karena menelpon seseorang tengah malam seperti ini dan menyuruhnya untuk datang saat ini juga. Chanyeol sadar mungkin otaknya sudah miring atau bergeser. Walau demikian ia sungguh ingin mendengar suara Baekhyun dan melihat wajahnya. Dorongan hati itu meluap dan gejolaknya tak tertahankan.

Sudah deringan yang keempat dan Baekhyun tak kunjung mengangkatnya. Posisi duduk lelaki jangkung itu perlahan merosot dan tangannya melemas. Ia sudah kehilangan harapan. Mungkin Baekhyun sudah terlanjur membencinya. Jadi mana mungkin ia sudi mengangkat telpon dari lelaki yang sudah ingin ia ceraikan. Chanyeol merutuki dirinya yang begitu bodoh.

Lagipula esok hari ia sudah ada rencana untuk pergi ke mansion guna berbicara empat mata, sehingga untuk apa ia menelpon Baekhyun begitu larut. Ia seharusnya menunggu dengan sabar hingga esok pagi.

Lantas Chanyeol dengan berat hati hendak menutup telponnya dengan perlahan. Namun suara lembut itu terdengar. Suara yang begitu ia dambakan.

"Halo?"

Chanyeol dengan tergesa memperbaiki posisi duduknya. Hanya dengan kalimat sapaan dan Chanyeol sudah berdebar-debar tak karuan. Tiba-tiba tangannya berkeringat dingin dan bibirnya terasa begitu kelu untuk berbicara.

"Halo? Chanyeol ada apa? Mengapa menelponku malam-malam?" Nada keheranan terdengar dari Baekhyun.

Namun Chanyeol masih tergugu di tempatnya. Jantungnya masih berdebar-debar masih merasa takjub dengan kenyataan Baekhyun masih mau berbaik hati mengangkat telponnya di tengah malam seperti ini.

"Kalau kau tidak menjawabku. Akan kututup." Baekhyun mendesah kesal.

"A-aku ingin kau." Chanyeol mencicit pelan.

"Apa?"

"Baekhyun Baldev, aku menginginkan dirimu sekarang." Ucap Chanyeol. Meski kalimat yang dilontarkan Chanyeol nampak seperti perintah, namun ada nada putus asa di sana. Nada bicara penuh intimidasi yang biasanya ia lontarkan pada Baekhyun, terdengar lemah dan ringkih.

"Kau sedang mabuk?" Tanya Baekhyun.

Chanyeol terkekeh pelan, lalu menatap gelas bekas vodkanya tadi. "Yah, kira-kira begitu."

Setelahnya mereka berdua terdiam sesaat. Hanya hembusan napas masing-masing yang terdengar dan suara cegukan khas orang mabuk dari Chanyeol.

"Maafkan aku menelponmu begitu larut. Aku tahu aku pasti mengganggu tidurmu. Aku sungguh menyesal. Maafkan aku, lupakan saja kata-kataku barusan." Chanyeol menghela napas kasar, menyesali kebodohan yang ia lakukan.

Namun di sebrang sana Baekhyun hanya diam tak kunjung menutup telpon.

"Aku akan datang dalam lima belas menit menit."

Lalu sambungan telpon terputus.

...

Seperti orang kesurupan, Baekhyun segera menyambar mantel tebalnya, meraih handphone lalu dompet dan tak lupa kunci mobil. Ia berlari menuruni tangga segera menuju garasi menghidupkan mobil.

Ia tidak memedulikan penampilannya saat ini. Ia tak peduli jika bahkan saat ini ia hanya mengenakan piyama dengan rambut yang berantakan ke sana kemari. Entah kenapa begitu mendengar suara Chanyeol, Baekhyun merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan lelaki itu oleh karenanya ia segera memutuskan untuk pergi ke mansionnya.

Maureen−kepala pelayan Baekhyun, turut terbangun mendengar suara gaduh yang dihasilkan oleh tuan mudanya tersebut. Wanita tua itu segera mengikuti tuan mudanya begitu melihat ia berlarian seperti orang kesetanan, mengikutinya hingga ke garasi.

"Tuan muda!? Ingin kemana anda tengah malam begini?" Tanya Maureen.

Baekhyun menurunkan kaca mobil lalu menatap Maureen dengan wajah memelas. "Maafkan aku Maureen, aku benar-benar harus pergi saat ini. Ada.. ada sesuatu yang terjadi. Aku akan mengabari esok hari."

"Apa ada masalah di perusahaan? Kalau ada masalah di perusahaan kau bisa meminta Jongin untuk menanganinya." Mauren kembali berucap.

Baekhyun menatap setir kemudinya. "Ini bukan tentang perusahaan. Kau tidak perlu khawatir, aku membawa pistol kalau terjadi apa-apa aku bisa melindungi diriku sendiri."

Baekhyun menatap dalam Maureen berusaha memperoleh keyakinan dari wanita tua itu. Tentu Baekhyun paham bahwa Maureen begitu peduli terhadap dirinya. Namun Chanyeol membutuhkannya dan ia harus pergi.

Tidak mau berdebat dengan tuan mudanya, Maureen pun memutuskan untuk mundur selangkah lalu menghela napas pelan. Wanita tua itu pun menampilkan senyum bijaksana seperti yang selalu ia lakukan.

"Baiklah. Hati-hati ketika menyetir tuan muda."

Baekhyun mengangguk, lalu segera mengemudikan mobilnya.

...

Sejujurnya Baekhyun tidak begitu mengerti mengapa begitu mendengar suara Chanyeol merintih menginginkan dirinya, ia bisa dengan mudahnya melunak lalu segera pergi untuk menemui lelaki itu. Dimana seharusnya saat ini ia dalam posisi tidak menggubris apapun perkataan lelaki itu, dalam keadaan apapun, dalam bentuk apapun.

Di luar nalarnya, begitu mendengar nada putus asa dari Chanyeol, tubuh Baekhyun langsung bereaksi dan kekhawatiran langsung menyergap dadanya. Sepanjang jalan dadanya berdebar dengan begitu cepat, persis seperti yang ia alami ketika dulu mendengar berita bahwa ibunya jatuh sakit.

Memang tak bisa Baekhyun pungkiri bahwa perasaan khawatir itu masih hinggap di sana. Perasaan peduli, perasaan menyayangi, perasaan cinta itu masih bersarang di sudut hati Baekhyun. Dan perasaan itu dapat membuncah kapan pun tanpa aba-aba. Namun Baekhyun terlalu takut untuk menerima semua perasaan itu.

Dengan napas berderu Baekhyun menginjak pedal gas begitu melihat lampu hijau menyala. Mobilnya menderu halus membelah jalanan sepi. Setelah melewati tiga blok, Baekhyun memutar setir dengan tangkas lalu berbelok ke kanan menuju kompleks mansion Chanyeol.

Begitu sampai di depan gerbang hitam menjulang yang menjadi penjaga mansion Chanyeol, Baekhyun berbicara beberapa kata di interkom lalu gerbang terbuka dengan otomatis. Empat orang bodyguard ditemani dua anjing penjaga menyambut kedatangan Baekhyun.

Setelah menyerahkan kunci mobil pada pelayan dan membiarkannya memarkirkan mobilnya, Baekhyun lari tergopoh-gopoh menuju kamar Chanyeol. Ia sama sekali tak menggubris sambutan pelayan yang terdengar lirih mengingat ini sudah terlalu larut malam.

"Tuan muda Chanyeol ada di kamarnya, Lord Baldev." Salah satu pelayan memberitahu.

"Aku tahu."

Baekhyun bergegas mengarahkan langkah ke kamar Chanyeol. Ia kemudian berdiri di depan pintu besar menjulang dimana disana terdapat dua orang penjaga.

"Tuan muda Baekhyun!" Buru-buru mereka menunduk menyambut kedatangan Baekhyun.

"Kalian bisa kembali ke kamar, aku akan menjaga Chanyeol." Ucap Baekhyun.

Kedua penjaga itu menunduk kembali mengucap terima kasih lalu meninggalkan Baekhyun. Perlahan Baekhyun mendorong pintu besar itu, setelah sebelumnya mengetuk pintu dan seperti dugaannya−tak ada jawaban.

Bau alkohol yang begitu kuat menusuk hidung Baekhyun. Ia melangkah dengan hati-hati masuk ke dalam kamar Chanyeol. "Chanyeol?" Baekhyun memanggil lelaki itu. Matanya tak bisa melihat dengan jelas karena penerangan yang begitu remang-remang. Hanya ada satu lampu tidur yang menyala.

"B-Baekhyun?" Suara serak milik Chanyeol terdengar.

Baekhyun mengedarkan pandangannya kemudian menemukan Chanyeol yang tengah berdiri dari kursi sofa−menatapnya dengan tatapan tak fokus, masih belum percaya bahwa orang yang sangat ia rindukan itu kini sedang berdiri di hadapannya.

Baekhyun berdiri di sudut kamar Chanyeol yang gelap, hanya memandangi Chanyeol yang berjalan dengan sempoyongan menuju dirinya. Yang bergerak halus hanyalah bulu matanya, ia nyaris tidak menggerakkan ototnya sedikit pun dalam waktu lama.

Tidak pernah sebelumnya Baekhyun melihat Chanyeol dalam keadaan yang begitu menyedihkan. Dibanding terkejut Baekhyun justru lebih memilih kata 'menyedihkan' untuk menginterpretasikan keadaan Chanyeol sekarang.

Yang bisa dilakukan Baekhyun saat ini hanya terdiam−membeku, hingga tak sadar bahwa Chanyeol kini sudah berdiri menjulang di hadapannya lalu menarik Baekhyun pelan membawanya ke dalam sebuah pelukan.

"Ah~ Baekhyunku yang manis sudah di sini rupanya." Ujar Chanyeol sambil mengusap-usap bagian atas kepala Baekhyun lembut.

Lelaki jangkung itu membenamkan wajahnya di perpotongan leher Baekhyun. Wangi harum dan manis menyerbak menggoda penciuman Chanyeol.

Bau khas Baekhyun yang akan selalu menjadi favoritnya.

Tidak ada kata balasan dari mulut Baekhyun. Bibirnya terasa kelu hanya untuk mengucap sepatah kata. Jantungnya berdebar begitu kencang dan Baekhyun merasa kesal ketika menyadari bahwa perasaan menyebalkan itu kembali membuncah di dalam dadanya.

Chanyeol mengangkat wajahnya kemudian berbisik pelan di telinga Baekhyun−menghantarkan rasa gelitik baginya.

"Baekhyun, aku merindukanmu."

Setelah itu waktu terasa berjalan dengan begitu lambat. Chanyeol dengan lembut menarik Baekhyun untuk berbaring di atas ranjangnya. Mereka berada di atas tempat tidur seperti saat mereka dilahirkan ke dunia. Masing-masing saling merapatkan diri dan saling menghangatkan diri melalui pelukan.

Chanyeol menarik diri dari pelukan itu kemudian menatap Baekhyun dalam-dalam. Tidak ada yang bersuara, hanya hembusan napas masing-masing yang terdengar. Iris hitam legam milik Chanyeol bertemu dengan hazel milik Baekhyun. Meski keadaan begitu hening, namun keduanya sama sekali tidak merasa canggung dan begitu menikmati keterdiaman mereka.

"Baekhyun." Chanyeol membuka suara.

"Kau tahukan, aku sangat mencintaimu."

Anggukan kecil menjadi jawaban. Chanyeol kemudian tersenyum kecil. Lalu membelai pipi Baekhyun dengan perlahan. Dengan telaten ia singkirkan poni yang menutupi mata bulan sabit itu, kemudian dengan berani mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.

Entah sudah berapa lama ia tidak melihat suaminya itu membuat ia merasa begitu merindukan Baekhyun.

Kemudian Chanyeol menautkan jemari mereka ke dalam genggaman. Diciumnya punggung tangan Baekhyun lalu diusapnya halus. Baekhyun memejamkan matanya, turut tebuai dengan perlakuan lembut Chanyeol.

Oh, Tuhan. Begitu rindunya aku pada sentuhan-sentuhan itu.

Kemudian dengan suara lirih Chanyeol kembali berbisik. "Baekhyun aku menginginkanmu. Izinkan aku memilikimu lagi malam ini." Matanya menatap manik Baekhyun bersungguh-sungguh. Ketika Baekhyun berusaha untuk mencari celah ketidakfokusan di sana. Ia gagal menemukannya. Ia takut jika nyatanya Chanyeol hanya terbawa suasana karena mabuk tapi ternyata tidak. Lelaki itu sadar terhadap apa yang tengah ia lakukan.

Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun erat seolah memaksa dirinya untuk segera mengiyakan permohonannya−meski begitu Baekhyun tidak merasa terganggu dengan hal itu. Ia justru menyukai sifat Chanyeol yang seperti itu. Kemudian tanpa ragu Baekhyun mengangguk kecil.

Tanpa ragu Chanyeol kemudian menyibak helaian poni Baekhyun−mencium dahinya lembut. Ia kemudian berpindah mencium pipi. Pipi Baekhyun berubah merah merona. Ciuman itu lantas menjalar ke pelipis, halus mengusap rahang, kemudian dengan elok turun ke bibir.

Baekhyun menahan napas saat bibir mereka besentuhan, matanya terpejam karena gugup. Chanyeol lantas mengusap punggung si mungil lembut berusaha membuatnya tenang. Baekhyun dapat merasakan Chanyeol tersenyum dalam ciumannya. Begitu napas keduanya habis pangutan mereka terlepas.

Baekhyun nampak terengah-engah mukanya sudah memerah. Chanyeol kemudian bangkit dari posisinya, kini ia telungkup di atas si mungil. Ia tidak ingin tergesa-gesa dan menunggu bibir itu kembali terbuka di saat sudah tenang. Kemudian saat itulah Chanyeol menjulurkan lidah kembali saling berpangutan.

Dalam kegelapan, Chanyeol dan Baekhyun saling meraba. Si jangkung dengan sengaja merapatkan tubuh lalu menggesek bagian tubuhnya yang sudah mengeras ke milik Baekhyun. Baekhyun menggelinjang hebat, erangan pun tak tertahankan keluar dari bibirnya.

Baekhyun mencengkram tangan Chanyeol yang tengah sibuk mengeksplorasi dirinya sambil terengah. Bukannya ia menolak namun sejujurnya dia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Seolah-olah mengerti Chanyeol kembali mengecup bibir tipis itu kemudian berbisik bahwa ia bisa percaya pada dirinya.

Lantas dengan terbata melalui bibir, Baekhyun mengucap bahwa ia ingin menyerahkan diri pada Chanyeol meski itu terasa agak canggung. Si jangkung terkekeh kecil lalu mengusap kepalanya pelan sambil mengucap kata-kata cinta.

Perlahan Chanyeol membuka satu demi satu kancing piyama Baekhyun lalu menyibaknya pelan. Jarinya mengusap dada Baekhyun menjelajahi seluruh tubuhnya tanpa sisa dan merangsangnya. Puting Baekhyun telah meneras serta lubangnya sudah basah lembab menginkan Chanyeol. Napas mereka saling bertautan hingga saling menyatu.

Jemari tangan Chanyeol seperti tremor−bergetar begitu hebat. Baekhyun pun akhirnya berinisiatif meraih tangan itu lalu mengecup jemari suaminya yang begitu panjang. Ia kemudian sedikit bangkit dari posisinya lalu berbisik agar ia tenang.

Bahkan Chanyeol menutup matanya saat menarik pelan celana Baekhyun. Ia baru membuka matanya saat Baekhyun sudah telanjang sepenuhnya. Si mungil terkekeh kecil mengingat betapa gugupnya Chanyeol. Ia teringat bahkan di saat malam pertamanya ia tidak sampai segugup itu.

Ternyata dia juga bisa gugup.

Tak lama kemudian pakaian keduanya telah saling berjatuhan bertumpuk di pinggiran ranjang. Titik-titik keringat mulai bermunculan serta jantung berpacu begitu cepat. Chanyeol terhenti sebentar menatap mata hazel Baekhyun, menyelaminya dalam. Jemari mereka saling bertautan. Chanyeol kembali mencium bibir Baekhyun dan penyatuan mereka dilakukan.

Chanyeol membimbing miliknya yang sudah mengeras dan menegak untuk masuk ke dalam Baekhyun. Begitu merasa milik Chanyeol meringsek masuk ke dalam dirinya, Baekhyun menahan napas−guna menahan jeritannya lalu meremas seprai begitu kuat.

Seolah tersedot ke dalam ruang hampa udara, kemaluan Chanyeol masuk tanpa adanya perlawanan sedikit pun. Ia membiarkan miliknya masuk ke dalam bagian Baekhyun yang terdalam tetap seperti itu tanpa bergerak dan hanya memeluk Baekhyun erat. Mereka bersatu dalam napas yang selaras.

Setelah merasa Baekhyun cukup tenang, Chanyeol bergerak perlahan. Naik turun dengan begitu indah. Ia menggoyangkan pinggangngnya dengan begitu tangkas. Ranjang turut berderit, suara Baekhyun desahan terdengar begitu menyegarkan membuat Chanyeol begitu bersemangat.

Baekhyun memeluk tubuh Chanyeol erat sambil membelai tubuh itu lembut. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Chanyeol lalu sesekali mencuri ciuman dari bibir tebal itu.

Baekhyun bergetar hebat. Tubuhnya seketika terasa hangat. Lalu ketika gerakan Chanyeol kian memburu, semakin berani ia pun ejakulasi. Ia bahkan semakin mengeratkan pelukannya sambil menjerit. Jeritan orgasme penuh kepuasan yang pernah Chanyeol dengar. Tak lama kemudian hasrat dalam tubuh Chanyeol ibarat ombak besar yang melanda lalu datang tanpa pemberitahuan. Ia menumpahkan semuanya di dalam Baekhyun.

Ia memosisikan tubuh Baekhyun agar sedikit naik ke atas sehingga air mani yang ditumpahkannya tidak mengotori seprai. Ejakulasi yang begitu dahsyat dan ada banyak sekali air mani yang disemburkan. Baekhyun menatap sayu. Menerima dengan sabar semua milik Chanyeol hingga reda.

Tanpa mencabut kesejatiannya dari dalam tubuh Baekhyun, Chanyeol menjatuhkan tubuhnya ke sisian ranjang yang lain. Mereka berbaring saling menghadap satu sama lain. Lalu merapatkan tubuh agar tak saling kedinginan dan juga agar penyatuan mereka juga tak terlepas.

"Aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya Chanyeol." Ujar Baekhyun sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya Baekhyun menatap Chanyeol dengan begitu tulus.

"Kalau begitu mari kita berbagi kebahagiaan bersama hingga akhir hidup." Chanyeol mengusap kepala Baekhyun dengan penuh sayang.

Baekhyun kembali tersenyum lalu memejamkan mata. Setetes air mata lolos dari matanya. Mereka pun akhirnya jatuh tertidur sambil berpelukan begitu erat.

Tuhan, kumohon berikanlah kebahagiaan tiada akhir untuk kami.

...

TBC!

A/N :

Haii, Ciellalee kembalii! Akhirnya setelah sekian lama aku balik ya hehehe. Maaf untuk keterlambatan update ini huhu. Sebenernya aku udah niat bulan Desember lalu mau update tapi malah kehambat dengan masalah ini-itu. Semoga kalian memaklumi.

Oh iya, katanya daerah Jabodetabek lagi banjir yaa, kalian pada kena banjir gaa? Bagi yang terkena banjir hati-hati yaa semoga cepat surut dan semoga keluarga kalian sehat semuanya. Terus mengingat ini lagi musim penghujan, jangan lupa minum vitamin dan pakai baju yang hangat supaya ga sakitt.

Gimana nih update-an kali ini hehe. Semoga kalian suka yaa. Oh iya kalau misalnya ada dari kalian yang masih bingung dengan ff ini, kalian boleh kok menyampaikan pertanyaan di kolom review atau langsung PM ke aku nanti akan aku jawab.

Mohon tinggalkan review untuk mendukung aku supaya lebih semangat jadi author yaa. I love you guysss makasih untuk semua supportnyaaa