Bola cahaya yang menuntun mereka bergetar sebelum akhirnya menghilang. Kannan mendorong pintu besar itu dan suara kayu yang bergesekkan dengan lantai terdengar keras. Gyandev menutup telinganya saat mendengar suara keras pintu berat itu.

Cahaya terang menyelinap dari celah pintu yang terbuka. Kannan mengeluarkan aura iblisnya untuk menekan cahaya itu dengan ganas dan melindungi tubuhnya.

Pintu itu terbuka dengan sempurna. Ruangan besar yang dihiasi oleh berlian warna warni bersinar dengan indah. Tumpukan perhiasan mengisi setiap sudut ruangan namun apa yang menjadi perhatian Gyandev dan Kannan saat ini adalah sebuah batu yang melayang-layang di tengah ruangan.

Batu itu berbentuk bulat sempurna dengan warna putih tanpa cacat sedikit pun. Cahaya kuning bersinar redup dan melingkupi batu itu dengan tenang. Di antara gemerlap harta, batu sederhana ini terlihat aneh. Namun, jika kau mengetahui fungsinya, seluruh perhiasan yang ada seperti sampah.

Itu adalah batu spiritual yang tak ternilai harganya.

Orang mengatakan itu berusia seribu tahun namun pada kenyataannya, tidak ada yang tahu pasti berapa lama batu itu telah menyimpan aura spirtual. Yang jelas, seribu tahun yang lalu, seorang dewi mengambilnya dan menyimpannya ke ruangan harta ini.

Kannan memiringkan kepalanya sedikit ke arah Gyandev. "Tetua iblisku pernah bercerita, dulu sekali, sebuah batu dipoles oleh dewa dan iblis. Dewa dan iblis ini bersahabat dan mereka memutuskan untuk membuat kalung yang terdiri dari 15 batu putih. Suatu hari mereka bertengkar dan bertarung habis-habisan. Mereka berdua mati di tangan masing-masing dan batu dari kalung-kalung itu tersebar di seluruh penjuru dunia." Kannan menegapkan tubuhnya. "Ini adalah salah satunya."

"Apa kita akan mencari semuanya?" Tanya Gyandev.

Kannan menggeleng. "Tidak perlu. Satu saja sudah cukup. Oh iya, setelah ini kau benar-benar harus kembali ke rumah."

Gyandev mengerutkan dahinya. "Kenapa lagi?"

"Kau adalah setengah dari setengahnya dewa dan tidak bisa masuk ke surga kecuali kau mati," jawab Kannan santai.

Gyandev menelan ludahnya susah payah dan kembali memfokuskan diri pada batu spiritual di tengah ruangan. "Ambil sekarang?"

Kannan tertawa kecil. Ia baru saja ingin membuka mulutnya saat suara tawa lembut seorang wanita menggema di ruangan itu. Tawa itu begitu lembut dan halus. Mengalun dan terdengar seperti nyanyian merdu. Jantung Gyandev berdetak cepat tanpa sadar. Kannan menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring.

"Keluarlah," ujar Kannan.

Di hadapan mereka, sebuah pintu yang awalnya tertutup terbuka perlahan dan menggeser perhiasan-perhiasan emas yang menutupnya. Seorang wanita bertubuh tinggi dan langsing terlihat perlahan. Pintu itu terbuka sendiri tanpa dorongan dari sang wanita. Orang mana pun tahu ia menggunakan sihir untuk membukanya.

Wanita itu mempunyai mata emas yang indah dan dalam. Rambutnya berwarna coklat muda dan tergerai lurus di punggungnya. Ia mengenakan gaun berwarna putih dan mengenakan perhiasan seperti kalung, anting, dan gelang serta cincin yang terbuat dari emas. Jika diperhatikan lebih jauh, kau akan melihat sebuah cincin melingkar di jari-jari kakinya yang indah.

Ia tidak mengenakan sepatu namun kakinya begitu bersih. Langkah kakinya yang anggun membawa bunyi gemerincing dari lonceng emas di gelang kakinya. Barang-barang yang menghalangi jalannya dengan ajaib berpindah dan membuat jalan untuk wanita itu. Dengan tawa yang lolos dari bibir tipisnya, ia menghampiri Kannan dan Gyandev.

"Masih setampan dulu. Ai, ai," ujar wanita itu.

Kannan tertawa dan turut menghampiri sang wanita. Mereka berhenti di tengah ruangan tepat di bawah batu spiritual yang melayang. "Masih secantik dulu. Ai, ai," tiru Kannan.

"Tentu saja." Wanita itu mengulas senyum. "Kau mau apa, Kannan?"

Kannan membalas senyumnya. "Kau tentu tahu, Shanti."

"Batu ini tidak kusimpan di ruang hartaku untuk diberikan padamu. Kita semua sudah sepakat untuk tidak menyentuh batu spiritual ini dan membiarkannya di tempatnya berada."

"Saat kau membangun ruang harta di gunung ini kau sudah melanggar kesepakatan itu."

"Oh? Kau lupa di sini ada emas kesukaanku?"

"Dewi Emas Shanti," ujar Kannan dingin.

"Raja Neraka Utara," balas Shanti tak kalah dingin.

Mereka berdua saling bertatapan. Aura cahaya dan kegelapan muncul di tubuh dewi dan iblis itu. Gyandev membelalakkan matanya saat ia mendengar kata-kata Shanti.

"Kamu…Raja Neraka Utara?" Gumam Gyandev.

Shanti melirik Gyandev dan melihat tanda iblis di dahinya. "Oh, kau merendahkan dirimu dan menjalin kontrak, Kannan?"

"Bagaimana mungkin Dewi penguasa gunung ini tidak tahu?"

Shanti melunturkan senyum mengejeknya. Ia mengibaskan tangannya dan sebuah kipas emas muncul di tangannya. Kannan mengeluarkan pedang hitamnya. Dalam sekejap mata, mereka berdua saling menyerang. Tulang kipas yang terbuat dari emas bertubrukan dengan pedang hitam.

Kannan mengeluarkan aura kegelapannya dan memaksa Gyandev mundur. Ia lalu melingkupi Gyandev dengan sebuah bola kegelapan untuk memastikan Gyandev aman. Perlahan, ia mencuri aura spiritual dari batu spiritual di tengah ruangan itu. Setelah puas, ia berhenti dan dengan semangat menyerang Shanti.

Shanti mundur dan membuka kipas lipatnya. Ia lalu membuka kipasnya dan mengibaskan sejumlah kekuatan spiritual pada Kannan. Kannan dengan mudah memblokir serangan itu dan membuat kekuatan spiritual itu meledak di tempat lain. Sebuah sayatan raksasa di salah satu dinding terbentuk seiring dengan suara ledakan yang besar. Gyandev membelalakkan matanya dan melihat pertarungan di depannya dengan tubuh yang gemetar.

Kannan dan Shanti terus bertukar serangan. Shanti mengibaskan kipasnya berkali-kali dan Kannan mengelaknya berkali-kali pula. Kannan tidak mau kalah dan mengeluarkan aura kegelapannya. Sebuah tangan berwarna hitam muncul dari lantai dan naik ke atas, berusaha mengikat Shanti yang berdiri di atas tumpukan emasnya.

Shanti melompat dan melayang di udara. Ia melihat tangan kegelapan itu terus mencarinya dan mengibaskan kipasnya. Kali ini, bukan kekuatan spiritual yang dikeluarkan, elemen cahayanya akhirnya ia keluarkan untuk pertama kalinya. Gyandev menyipitkan matanya. Tangan kegelapan itu menahan bola cahaya itu sebelum kedua elemen meledak dan membuat perhiasan di sekitarnya melayang dan tersebar ke segala penjuru.

Kannan maju ke depan dengan ujung pedangnya yang menatap Shanti ganas. Shanti menahan ujung pedang itu dengan tulang kipas emasnya dan mundur beberapa langkah. Shanti lalu mengumpulkan elemen cahayanya dan membutakan Kannan.

Kannan dengan cepat beradaptasi dengan kebutaan itu dan mengalihkan arah tusukannya. Pedangnya berhasil menusuk bahu Shanti. Aura kegelapan dengan tidak sabaran keluar dan masuk ke dalam luka itu. Shanti mendesis dan mundur. Ia menggunakan teleportasi dan berpindah ke sudut lain ruangan itu.

Mata emas Shanti melihat luka pedang di bahunya lalu menggertakkan giginya. Ia menempelkan telapak tangannya dan mengeluarkan cahaya darinya. Aura kegelapan yang belum sempat masuk ke jantung Shanti menghilang dan mengudara.

Shanti mendongak dan mengibaskan kipasnya. Cahaya muncul dan berusaha menangkap Kannan. Kannan yang hampir menyentuh batu spiritual harus mundur dan membalas cahaya itu dengan kegelapannya.

Mereka berdua kembali bertemu dalam pertarungan jarak dekat. Kipas lipat yang harusnya menjadi alat untuk mendinginkan diri berkali-kali menghantam pedang dan menangkis seluruh serangan. Suara nyaring antara pedang dan kipas emas menggema dalam ruangan emas itu. Gyandev menggulum bibirnya dan merasakan detak jantungnya semakin cepat. Ia tidak tahu apakah ini perasaam Kannan atau ini adalah perasaannya sendiri. Yang jelas, kalimat ingin cepat menang terus mengulang di pikirannya.

Di hadapan seorang dewi dan iblis, ia bukanlah apa-apa dan tidak bisa melakukan apa-apa. Gyandev merasa lemah.

Dalam waktu tak sampai sepuluh menit, ruangan yang awalnya indah dan berhiaskan berlian paling berharga jatuh dalam kekacauan. Lubang dan retakan terlihat di seluruh penjuru ruangan itu. Banyak perhiasan yang hancur terkena serangan tanpa henti itu. Jika manusia biasa melihatnya, mungkin mereka sudah mengeluarkan air mata darah dan menangisi perhiasan-perhiasan mahal itu.

Shanti melirik perhiasannya yang hancur dan menggertakkan giginya. Ia mengibaskan kipasnya dan memaksa Kannan berhenti di salah satu sudut ruangan. Kannan memanggil harimau kegelapan. Harimau itu dengan patuh berlari ke arah Shanti dan menyerangnya.

Kannan memanfaatkan kesempatan ini dan pergi menghampiri batu spiritual yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pertarungan di sekitarnya. Ia meraih batu spitritualnya dan menggenggamnya erat-erat. Dalam kecepatan yang tak dapat dilihat oleh mata, Kannan memasukkan batu itu ke dalam kantung sihirnya.

Inti kematian di dalamnya bergetar lalu menerima batu spiritual itu dengan senang. Ia menyerap batu spiritual itu dan mengabaikan inti spiritual Kannan.

Seketika mata iblis Kannan menyala terang dan ia mengulas senyum mengerikan. Harimau kegelapannya meraung keras dan seluruh berlian yang ditanam ke dalam dinding berjatuhan. Tubuh Shanti bergetar takut dan mengibaskan elemen cahaya begitu saja sampai ia tidak tahu berapa banyak yang ia keluarkan.

Kannan tidak menggunakan pedangnya dan hanya melambaikan tangannya pelan. Cahaya itu menghilang begitu saja dan aura kegelapan melaju dengan gesit menyerang Shanti. Mata emas Shanti membola dan ia dengan cepat membuat tameng dari elemen cahayanya.

Suara ledakan yang besar terdengar. Gyandev membuka matanya dan melihat dewi yang beberapa menit lalu masih mulus dan cantik sekarang berada di dalam lubang di dinding dengan luka di tubuhnya. Nafasnya terdengar berat dan pendek. Bibirnya memuntahkan darah dan matanya menatap ke arah lawannya dengan penuh kebencian.

Shanti bangun perlahan. Lukanya mengeluarkan cahaya putih dan menutup perlahan. Ia menyunggingkan senyum mengejek pada Kannan. "Kau kekurangan kekuatan spiritual, huh? Apa kau sudah turun dari takhtamu di Neraka Utara hingga kau tidak boleh menyerap kekuatan spiritual di sana lagi?"

Kannan menatap Shanti dingin. "Apa kau kekurangan kekuatan spiritual hingga harus membuat ruang harta di gua seperti ini dan menyerap kekuatan spiritual dari batu ini, hm?" Ah, kau dikeluarkan dari surga 'kan?"

Shanti menggeram marah. "Sialan kau!"

Ia maju dan menyerang Kannan dengan kekuatan cahayanya bertubi-tubi. Kannan tidak berpindah bahkan tidak menaikkan jarinya sedikit pun. Seluruh serangan itu menghilang setelah menabrak bola pelindung yang terbuat dari elemen kegelapannya.

Serangan Shanti perlahan melemah. Nafasnya semakin pendek dan ia tidak bisa lagi mengeluarkan kekuatan yang sama besar seperti beberapa menit yang lalu. Kannan melihat ini dan mendengus geli. Memerintahkan harimaunya untuk mengurus Shanti dan berjalan mendekati Gyandev.

Bola yang melindungi Gyandev perlahan menghilang. Gyandev berdiri tegap menyambut Kannan dengan gugup. Aura di sekitar tubuh Kannan berubah drastis dan tatapannya mendingin. Ia berjalan dengan angkuh dan setiap langkahnya menyisakan aura kegelapan yang gelap.

"Kannan…"

Kannan menaikkan satu tangannya. "Aku akan mengirimmu pergi sekarang juga."

"Tunggu." Gyandev maju dan meraih tangan Kannan yang terangkat. "Kau adalah Raja Neraka Utara dan aku tidak perlu penjelasan tentang hal itu tapi, Kannan, apa yang ingin kau lakukan di surga?"

Gyandev menanyakan hal ini bukannya tanpa alasan. Ia mungkin tidak bisa melihatnya dengan jelas tapi Kannan jelas-jelas tidak memakan batu spiritual itu atau menghancurkannya untuk mengambil kekuatan spiritualnya. Gyandev yakin ia telah memasukkan batu spiritual itu ke dalam satu-satunya kantung sihir yang dibawa kemana-mana oleh Kannan.

"Aku bukan orang jahat yang akan menyatakan tujuannya di pertengahan drama. Tapi satu hal yang pasti, apa pun kemungkinan terburuk yang ada di pikiranmu adalah apa yang akan kulakukan." Kannan tersenyum tipis. "Tidak ada gunanya kau khawatir. Kontrak kita sudah berakhir."

Gyandev membelalakkan matanya. Ia tanpa sadar menyentuh dahinya dan merabanya. Ekspresinya jatuh saat ia ingat bagaimana rasa panas yang luar biasa muncul di dahinya saat Kannan berhasil mendapatkan batu spiritual dan menyerang Shanti.

"Kenapa?"

"Tubuhmu tidak kuat menahan kotnrak dan kontrak itu menghilang. Sudah, Gyandev. Sampai jumpa."

Dalam satu lambaian tangan, Gyandev ditelan oleh aura kegelapan. Ia tidak mengatakan apa-apa. Bibirya menyatu erat dan matanya menatap lurus pada Kannan.

Sebelum seluruh tubuhnya ditelah oleh kekuatan teleportasi Kannan, Gyandev membuka mulutnya dan berbicara tanpa suara.

'Aku menunggumu.'