~ Noona ~

Happy Reading Guys...

~Percayalah Typo Merupakan Karya Terindah~

"Kupikir kau menghilang!" Baekhyun bernafas lega ketika melihat Chanyeol.

Ia lantas membantu Chanyeol yang baru habis dari Toilet.

Dia baru saja datang ke Rumah Sakit untuk menjenguk Pemuda itu. Dan Baekhyun kebingungan ketika tak menemukan Chanyeol di kamar VIP tempat Pemuda itu di rawat. Kekhawatirannya hilang ketika ia mendengar suara pintu Toilet yang dibuka dari dalam, dan Chanyeol keluar dari sana dengan wajah yang terlihat lebih segar.

Sepertinya Pemuda itu habis mencuci muka. Dengan senyum tampannya, Pemuda itu tersenyum pada Baekhyun yang datang menjenguknya.

"Noona baru pulang dan langsung kesini?" Chanyeol duduk diatas tempat tidur rawatnya, memperhatikan dengan seksama Baekhyun yang sudah mulai sibuk sendiri.

"Tidak. Aku sempat pulang dulu ke Apartemen." Baekhyun mengambil paper bags yang sebelumnya ia bawa.

"Kau sudah makan?" Chanyeol menggeleng "Bagus. Kau makan dulu kalau begitu." Ujar Baekhyun senang.

Baekhyun rupanya memasak sesuatu untuk Chanyeol. Dia sengaja pulang dulu ke Apartemennya untuk memasak. Hanya makanan sederhana, namun Baekhyun tahu jika Chanyeol akan menyukainya. Mereka sudah sering makan bersama, jika bukan Baekhyun yang memasak, maka Chanyeol lah yang memasak. Jadi, Baekhyun sudah hapal selera makanan Chanyeol karena ia kerap memasak untuk Pemuda itu. Begitupun sebaliknya.

Untung saja Chanyeol tak sakit parah, jadi Pemuda itu bisa memakan makanan apapun selama itu sehat. Pemuda itu hanya membutuhkan perawatan karena pingsan dan tangan nya yang harus di jahit akibat tergores ranting pohon.

Dan Chanyeol terlihat semakin mengembangkan senyumnya kala melihat apa yang di masak Baekhyun. Menu kesukaan nya yang kerap di masak Chanyeol masakan Baekhyun sangat pas di lidahnya. Tidak terlalu banyak bumbu namun tetap terasa enak.

"Jongin dan Sehun kemana?" Baekhyun bertanya selagi menyiapkan makanan untuk Chanyeol.

"Mereka bilang ingin mencari udara segar. Bosan mungkin terus-terusan diam disini. Padahal aku tidak menyuruh mereka membolos hanya untuk menemaniku disini." Gerutu Chanyeol.

Yeah, Jongin dan Sehun saja yang memanfaatkan dirinya agar bisa ikut-ikutan bolos sekolah. Padahal, tanpa mereka berdua pun Chanyeol tidak akan menangis hanya karena tak ada yang menemani ia selama di Rumah Sakit.

Baekhyun tersenyum. Persahabatan para Pemuda itu memang patut di acungi jempol dan bogem sekaligus. Senang bersama, susah bersama, bolos bersama, dan bodohnya pun bersama-sama.

"Makanlah! Aku sudah makan sebelum kesini." Baekhyun duduk disamping Chanyeol. Menemani Pemuda itu memakan masakannya.

Chanyeol mulai memakannya dengan lahap. Sesekali ia menyuapi Baekhyun.

"Nanti pulang di antar Jongin saja. Tunggu sampai anak itu kembali." Chanyeol memulai makan dengan lahap.

Sudah dua hari dia di rawat, dan besok kata Dokter ia sudah boleh pulang. Luka di tangannya memang belum kering, tapi ia sudah boleh pulang karena luka itu bisa di obati sendiri di Rumah. Chanyeol hanya tinggal mengganti perbannya secara rutin, serta mengobatinya.

"Besok pulang?" Baekhyun memberikan minum untuk Chanyeol. Pemuda itu mengangguk sebagai jawaban.

"Haruskah aku bolos bekerja?" Baekhyun bertanya seraya memangku wajahnya, dan Chanyeol menggeleng sebagai penolakan.

"Aku akan meminta Kris mengurus semuanya. Noona tak perlu bolos bekerja." Chanyeol menyuapi Baekhyun, dan di terima Baekhyun tanpa ragu.

Baekhyun mengangguk. Lantas mengecek kamar rawat VIP itu, mengecek barang-barang milik Chanyeol yang sekiranya butuh ia rapihkan.

Chanyeol tersenyum memperhatikan Baekhyun yang sibuk berlalu lalang merapihkan yang sekiranya perlu Baekhyun rapihkan. Bahkan barang-barang milik Jongin dan Sehun juga ikut Baekhyun rapihkan. Kamar itu terlihat sedikit sempit karena ada tempat tidur tambahan.

Sepertinya Luhan meminta petugas rumah sakit menambah tempat tidur tambahan di ruangan itu, agar Jongin dan Sehun tak kesakitan karena harus tidur di Sofa.

Baekhyun sibuk berbenah, dan Chanyeol sendiri sibuk memandangi Baekhyun seperti orang gila seraya tersenyum-senyum sendiri.

Chanyeol membayangkan tentang, suatu saat nanti saat mereka sudah menikah.

Saat ia sakit, ada Baekhyun yang mengurusnya. Saat ia butuh diperhatikan, ada Baekhyun yang menemaninya dan memperhatikannya. Chanyeol semakin tersenyum mengingat mereka sekarang sepasang kekasih. Sudah tak terhitung berapa kali ia tersenyum seperti orang gila kala mengingat status hubungan mereka berdua.

"Kenapa berhenti? Apa tidak enak?" Baekhyun selesai berbenah dan kembali mendekat pada Chanyeol yang diam memperhatikannya.

"Ini enak. Sangat enak." Chanyeol menarik Baekhyun untuk duduk disampingnya "Tapi lebih enak jika Noona menyuapiku?" Lesung pipi Chanyeol terlihat kala Pemuda itu tersenyum tampan pada Baekhyun.

Baekhyun tertawa pelan dan mendaratkan ciuman manis di pipi Pemuda itu tanpa malu. Membuat Chanyeol semakin tersenyum lebar dan balas mencium pipi Baekhyun yang mulus dan berisi itu.

Sementara mereka berdua bermesraan, kedua sahabat Chanyeol justru tengah sibuk berdebat di Kantin Rumah sakit.

Jongin dan Sehun tengah sibuk menggoda perawat-perawat cantik yang ada di kantin rumah sakit.

"Yang itu cantik Hun!" Jongin dan Sehun tengah menunggu makanan pesanan mereka di kantin Rumah sakit.

Sehun mengikuti arah pandang Jongin, disana ada seorang perawat yang tengah sibuk dengan ponselnya.

"Biasa saja! Cantikan Lulu kemana-mana." Sehun tak lagi memandang perawat itu.

Jujur saja, wanita itu memang kalah cantik jika dibandingkan dengan Luhan, kekasihnya.

"Tapi Luhan kalah sexy dengan yang disana!" Kali ini Jongin menunjuk salah satu perawat yang berpakaian cukup ketat.

Seragam perawat itu di buat menyempit agar lekuk tubuhnya terlihat.

"Aku yakin dia sudah sering di remas disana sini. Jadi badannya seperti itu." Sehun kembali tak mengiyakan ucapan Jongin.

Jongin sampai dibuat jengah dan harus mendesah kesal karena Sehun. Memang sangat sulit untuk membawa Sehun pada jalan yang salah jika soal wanita. Sehun tak pernah bisa berpaling dari Rusa China-nya, Luhan.

"Ya ya terserah kau saja, Bucin." Jongin mulai sibuk dengan ponselnya. Karena percuma saja mengajak Sehun menggoda para perawat itu. Sehun tak akan pernah tergoda selain pada Luhan.

"Seperti kau tidak Bucin saja pada Kyungsoo Noona." Sehun membalasnya, dan Jongin tertawa pelan karena ucapan Sehun. Sangat tepat sekali.

Mereka berdua mulai sibuk dengan ponsel masing-masing. Sehun yang tengah bertukar pesan dengan Luhan yang katanya akan ke Rumah Sakit, dan Jongin yang juga tengah mengirimi pesan pada Kyungsoo. Menanyakan kabar wanita yang tengah ia dekati itu.

Sejak hari itu, mereka semakin dekat saja. Kyungsoo yang tak lagi jutek seperti sebelumnya, dan Jongin yang mulai tak lagi bertingkah aneh agar tak membuat Kyungsoo benci padanya.

Mungkin, Jongin sedang berusaha bersikap dewasa agar Kyungsoo tak merasa malu ketika bersama dengannya.

"Sekarang, mereka memperhatikan kita Jong." Sehun mulai sedikit risih kala beberapa orang memperhatikan ia dan Jongin.

"Mungkin karena aku tampan." Jongin sengaja menyisir rambutnya menggunakan tangannya dengan gerakan menggoda.

Beberapa perawat yang memperhatikan keduanya memekik pelan kala Jongin bertingkah seperti lelaki dewasa yang banyak uang. Padahal, mereka makan di kantin saja menggunakan Black Card milik Chanyeol.

Jongin dan Sehun juga memang anak orang kaya, namun keduanya tak sebebas Chanyeol yang diberi Black Card oleh Ayah-nya. Jongin dan Sehun masih dikasih uang jajan bulanan yang tak boleh mereka habiskan sekaligus. Karena orang tua mereka tak akan memberi mereka uang jajan lebih jika uang jajan bulanan mereka habis.

Berteman dengan Chanyeol, tentu saja memberi keuntungan bagi mereka. Wkwkwk.

"Hai!" Jongin melambai pada salah segerombolan perawat yang tengah memperhatikannya. Para perawat itu memekik seraya melambai pada Jongin.

Sehun memutar bola matanya dengan malas melihat tingkah Jongin yang sedang tebar pesona. Ia membuka ponselnya, menyalakan aplikasi kamera dan mulai merekam apa yang tengah di lakukan Jongin.

Jongin tak sadar jika Sehun tengah merekam tingkah menjijikan nya itu. Jongin justru kembali melambai seraya memberikan flying kiss pada perawat yang sebelumnya Jongin itu sapa.

Mati-matian Sehun menahan tawa. Ia akan mengirimkan rekaman itu pada Kyungsoo. Biar saja, Jongin harus mulai berhenti menebar pesona jika ingin serius pada Kyungsoo.

Kegiatan keduanya berhenti kala pesanan mereka sudah datang. Kantin rumah sakit memang besar, semua menu yang ada di sana seperti menu di cafe dan restoran. Jelas saja, rumah sakit tempat Chanyeol di rawat itu Rumah Sakit terbesar di Seoul. Dan pemiliknya merupakan Ayah Luhan, paman Chanyeol sendiri.

"Bawakan untuk Chanyeol, jangan?" Tanya Jongin ketika menyantap makanannya.

"Tak perlu. Baekhyun Noona sudah datang dan membawakan makanan untuk Chanyeol." Sehun memberikan sebuah foto pada Jongin, foto dimana Baekhyun yang tengah mencuci piring. Foto itu di unggah Chanyeol melalui Story Line akun Chanyeol.

"Ah... Ok." Jongin mengangguk. Dan mereka berdua pun kembali sibuk menyantap makan mereka.

Sekejap, Jongin lupa untuk tak menebar pesona ketika mereka tengah makan. Ia kelaparan dan juga tengah menikmati hidangan. Jadi, lupakan sebentar pekikan beberapa perawat sebenarnya cukup berisik.

-o0o-

"Kekasihku dimana?" Luhan sudah duduk di sofa ruang rawat VIP Chanyeol. Gadis remaja itu tampak sedikit kesal kala tak mendapati Sehun kekasihnya, ada di ruangan itu.

"Pergi bersama Jongin. Mungkin ke kantin, atau ke taman rumah sakit. Mereka bilang ingin mencari udara segar sekaligus mengisi perut mereka." Chanyeol setengah terduduk dengan tangan kanannya yang sedang Baekhyun pegang.

Baekhyun tengah memotong kuku jari Chanyeol yang mulai memanjang.

Luhan bangkit dari duduknya untuk mencari keberadaan Sehun dan Jongin. Gadis remaja itu tersenyum sesekali kala beberapa orang menyapanya.

Langkahnya ia bawa ke kantin rumah sakit. Dan Luhan tersenyum lebar kala melihat Sehun tengah menyeruput buble tea kesukaan Pemuda itu.

"Sehun-ie!" Pekikan Luhan membuat beberapa perawat yang semula memandang Sehun, menoleh ke arahnya.

Dan mereka yang semula bergumam membicarakan Sehun, mulai diam kala tahu siapa yang memanggil Sehun dengan begitu manisnya.

Itu Luhan, anak pemilik Rumah Sakit. Nyali mereka menciut melihat Luhan yang datang dan langsung mencium pipi Sehun.

"Kenapa disini?" Luhan duduk disamping Sehun.

"Mengisi perut kami yang kelaparan." Jongin menjawabnya yang kemudian di angguki Sehun.

"Kupikir kau sedang menggoda perawat disini!" Komentar Luhan mendapat cengiran dari Sehun dan tawa pelan Pemuda itu.

Jongin menghela nafas. Yeah, Luhan tak sepenuhnya salah. Ia memang menggoda perawat cantik sebelum Luhan datang.

"Cepat makannya. Aku ingin mengajak kau dan Sehun-ie keluar. Chanyeol sudah ada yang menemani, jadi kita pergi ke Mall sebentar." Luhan bergelayut mesra di tangan Sehun.

Jongin menghiraukan itu, ia dan Sehun kembali makan dengan lahap. Menyelesaikan makan mereka agar bisa segera pergi dan ikut dengan Luhan.

Walau dalam hati Jongin, ia enggan ikut dengan Luhan. Tapi jika suasana hati Luhan sedang bagus, itu keuntungan sendiri untuk Jongin. Luhan biasanya akan mentraktirnya ia sepuasnya. Tak apa ia menjadi pemeran pembantu diantara Sehun dan Luhan, yang penting ia mendapatkan apa yang ia mau.

"Oh iya Jong, kemarin kau membawa siapa? Kenapa Chanyeol terlihat sangat marah saat aku datang. Dia terus-terusan menggerutu akan menguliti 'Sepupu mu'." Sehun, Jongin dan Luhan sudah berada di dalam mobil sekarang.

Jongin tak menyetir karena Luhan datang diantar supir pribadinya.

"Lucas. Kau tahu kan, Sepupuku yang mau pindah sekolah disini." Sehun mengangguk "Dia menggoda Baekhyun Noona, jelas saja Chanyeol murka."

Sehun dan Luhan tertawa. Chanyeol dengan sikap overprotektif nya, tentu saja akan marah. Terlebih itu menyangkut Baekhyun, pujaan hati nya.

"Anak itu bersikukuh ingin mengenal Baekhyun Noona. Dan aku tidak tahu bagaimana nanti, jika Lucas bertemu dengan Chanyeol di sekolah." Dan ucapan Jongin kembali membuat Luhan dan Sehun tertawa. Sementara Pemuda itu mulai sibuk dengan ponsel dan Earphone nya.

Sepertinya akan menyenangkan, jika Chanyeol di ganggu Lucas. Jarang-jarang Chanyeol mendapat lawan yang setimpal. Sedikit Sehun tahu, Lucas itu anaknya tak pernah bisa diam dan selalu ingin tahu apapun yang tidak diketahui nya. Lucas itu sebenarnya mengasyikan orangnya, hanya saja... Anak itu terlalu percaya diri dan kadang menjengkelkan.

Jongin saja sampai kesal jika Lucas sudah mengoceh ini dan itu.

"Hunie.. besok masuk sekolah kan? Lulu bosan disekolah tak ada Sehun-ie." Luhan memeluk sehun manja, mengabaikan keberadaan Jongin yang duduk disebelahnya.

Lagipula, Jongin kini sudah sibuk menonton video di ponselnya. Telinganya saja sudah tertutupi Earphone, jadi jelas Pemuda itu dak akan mendengar suara lain selain suara dari video yang tengah ia tonton saat ini.

Telepon dari Chanyeol saja dia abaikan. Jongin tengah berkonsentrasi, ikut mendalami video yang tengah ia tonton. Menghayati si pemeran utama yang ada dalam video tersebut.

"Uhhh shit!" Jongin mengumpat, membuat Luhan yang sedang bermanja-manja pada Sehun- menoleh sebentar untuk memastikan jika Jongin tak mengumpat padanya.

"Kalau Jongin masuk, aku juga akan masuk!" Sehun mengusak rambut Luhan yang menutupi sebagian wajah kekasihnya itu.

"Kenapa harus mengikuti Jongin? Kan ada Lulu di sekolah nanti, Hunie..." Luhan merajuk, wajahnya ia buat sesedih mungkin meski dalam hati ia sedikit kesal mendengar jawaban Sehun.

Luhan sedikit marah karena Sehun memilih mengikuti Jongin dan Chanyeol dibanding ia yang kekasihnya sendiri.

Sehun hanya tersenyum menanggapi sikap Luhan yang tengah merajuk. Ia menatap Luhan dan memegang pipi kekasihnya dengan kedua tangannya. Lalu Sehun mengusap pelan pipi Luhan sambil berbicara dengan nada lembut. Bermaksud membuat Luhan tak marah lagi padanya.

"Lulu sayang, Lulu tahu kan aku dan Jongin memang terbiasa begini jika salah satu dari kita ada yang sakit." Sehun mengecup pipi Luhan "Saat Lulu sakit, kita juga membolos untuk menemani Lulu. Sekarang, Chanyeol sakit, kita bolos sekolah juga untuk menemani Chanyeol. Sabar ya sayang, kalau Chanyeol sudah pulang dari Rumah sakit, kita pasti akan masuk sekolah."

Agak sinting memang. Yang sakit Chanyeol, yang bolos sekolah mereka berdua.

"Lulu hanya rindu.." Luhan mendekatkan wajahnya pada Sehun, hendak mencium Sehun jika saja Jongin tak menjerit sampai mengagetkannya.

"Yeahhh! Kalian kalah!" serunya sambil bersorak senang.

Luhan yang kesal karena teriakan Jongin, memukul kepala belakang Jongin sampai tubuh Jongin terdorong ke depan dan nyaris tersungkur jika Jongin tak segera berpegangan pada jok depan.

"Yakk!" Jongin menyalak dengan penuh emosi "Kau ini kenapa Luhan?"

"Kau berisik. Aku mau mencium Sehun terganggu karena suaramu yang berisik itu." Luhan berpangku tangan "Lagipula, apa yang kau tonton hah? Kau sedang menonton video dewasa ya?"

Sehun yang melihat Luhan kesal, sudah bergerak gusar di tempatnya. Sehun yakin, sangat yakin jika pertengkaran ini akan berlanjut dan bisa saja menjadi pergulatan diantara Luhan dan Jongin.

Jongin melepas Earphone di kedua telinganya untuk membalas Luhan yang menuduhnya menjadi pengganggu, dan juga menuduhnya menonton video dewasa.

Pemuda itu balas menatap Luhan sengit. "Aku sedang menonton Drama Vagabond. Kau lihat ini, mereka sedang beradu tembak." Jongin memperlihatkan ponselnya "Jangan menuduhku menonton video dewasa. Kau pikir aku bandar video mesum, hah!"

Sehun bersiap untuk memindahkan Luhan, namun kedua orang itu sudah lebih dulu kembali saling meledek.

"Heh? Kau sudah jelas mengoleksi banyak video dewasa. Kau bahkan meracuni Sehun dengan video koleksimu itu."

Jelas Jongin tak terima mendengarnya. Sehun sendiri yang meminta koleksi videonya, kenapa Luhan menyalahkannya?

Inilah mengapa ia dulu ragu untuk berbagi video dewasa itu pada Sehun. Karena si Queen Rusa China ini akan menyalahkannya telah meracuni otak polos Sehun yang sebenarnya sudah tak se-polos yang Luhan kira.

Lagipula, Luhan harusnya tak perlu terlalu marah. Sehun bahkan tak melakukan hal senonoh padanya, kenapa ia marah hanya karena sehun menonton video dewasa koleksinya.

"Sehun yang memintanya padaku. Jangan menyalahkan aku, pendek!"

"Apa kau bilang? pendek?" Luhan mencengkram rambut Jongin "Kau hitam menyebalkan."

"Yakk Yakk... lepas Luhan... ini sakit! Yakkk!" Jongin memegangi lengan Luhan agar terlepas dari rambutnya.

Sehun ikut membantu melepas lengan Luhan dari rambut Jongin. Dan saat kedua tangan Luhan terlepas, Sehun mengangkat Luhan dan memindahkannya. Kini, jadi Sehun yang duduk diantara Luhan dan Jongin. Ia duduk ditengah untuk merelai perkelahian dua manusia tak bisa diam itu.

Jongin memegangi kepalanya yang sakit karena baru saja di jambak Luhan. Harusnya ia ingat jika Luhan itu gadis yang cukup bar-bar ketika marah.

Supir pribadi Luhan yang semula duduk diam dan pokus menyetir, mulai merasa jengkel dengan keributan di jok belakang.

"Dasar wanita jadi-jadian!" Jongin yang masih tak terima karena baru saja dijambak, mulai kembali meledek Luhan.

"Kau benar-benar ingin merasakan tendangan ku ya Jongin!" Luhan kembali ingin meraih Jongin untuk kembali ia jambak.

Sehun yang melihat itu berusaha merelai dan menengahi keduanya.

"Apa? Apa hah?" Jongin menantang Luhan

"Jongin, kau bisa diam tidak!" Sehun mulai ikut kesal.

Supir pribadi Luhan yang mulai merasa jengkel dengan keributan di jok belakang, berpikir untuk menjahili ketiga-nya. Maka, ketika Luhan dan Jongin kembali tak bisa diam dan saling meledek satu sama lain- supir pribadi Luhan menginjak pedal rem sekaligus.

Dan tindakannya itu berhasil membuat ketiga orang dibelakang sana berhenti bertengkar karena ketiga nya nyaris tersungkur ke depan. Bahkan ketiga orang itu berteriak memprotes-nya.

"AHJUSSI!" teriak mereka kompak.

"Maaf maaf. Kalian terlalu berisik, Ahjussi jadi tidak bisa berkonsentrasi menyetir!"

"Kalian dengar itu?" Sehun menatap kedua orang disamping kiri dan kanannya "Jangan bertengkar lagi. kalian berdua seperti anak kecil saja!" Sehun mengelus wajahnya dramatis.

Sementara Luhan dan Jongin memilih memalingkan wajah mereka seraya mendecih tak suka. Mereka memang sering ribut seperti itu. Tapi tak lama, karena setelah beberapa jam kemudian, mereka akan berbaikan kembali.

Perjalanan itu mulai kembali seperti semula. Tak berisik karena Luhan sudah diam, dan Jongin yang kembali melanjutkan menonton Drama Vagabond yang belum selesai ia tonton. Padahal Drama itu sudah lama selesai penayangannya. Tapi Jongin baru menontonnya sekarang karena ia tipe orang yang akan menonton Drama jika Drama itu sudah berakhir (END).

Katanya, ia tidak mau mati penasaran jika menonton Drama- saat Drama itu masih dalam penayangan.

-o0o-

Siwon tengah mengecek ponselnya kala mendapatkan pesan dari Kris, jika keadaan Chanyeol sudah membaik. Lelaki paruh baya itu menghela nafas lega, ia merasa bersalah tak berada disamping anaknya kala anaknya tengah berada di rumah sakit.

Pekerjaannya tak bisa di tunda. Ini semua juga demi masa depan Chanyeol. Lelaki itu juga mendapat kabar tentang Baekhyun yang ternyata kini sudah menerima pernyataan cinta Chanyeol.

"Jadi mereka sudah berpacaran!" Siwon menyunggingkan senyumnya.

Menatap foto Baekhyun yang tengah menunduk malu. Foto itu ia ambil kala Chanyeol berada di ruang IGD. Kris diam-diam memfoto Baekhyun saat wanita itu duduk di depan ruang IGD, setelah insiden salah orang.

Iya, kejadian saat Baekhyun menyangka jika pasien yang meninggal adalah Chanyeol.

Ada juga foto saat Baekhyun tertidur disamping Chanyeol.

"Ah! Aku jadi merindukan Istri cantik-ku." Siwon menutup ponselnya. Ia mengambil dompetnya untuk melihat foto Istri-nya yang ia simpan di dalam dompetnya.

"Anak kita sudah menemukan pujaan hatinya sayang. Di Surga sana, kau pasti melihatnya, kan? Chanyeol, anak kita terlihat sangat bahagia." Siwon mengelus foto itu.

Tersenyum bahagia, meski ada rasa sakit di hati nya.

Ia kembali menyimpannya ke dalam dompet setelah mencium foto itu. Jika boleh jujur, Siwon sangat merindukan Istri-nya. Untungnya ada Chanyeol, anaknya itu menjadi pengobat rindu Siwon pada Istri-nya. Ia ingat jelas perjuangan Istri-nya ketika melahirkan Chanyeol, dan ia ingat pesan Istri-nya untuk selalu mendukung Chanyeol, mengingatkan Chanyeol jika anak itu berbuat salah, dan membimbing Chanyeol untuk menjadi Lelaki dewasa, cerdas dan berwibawa serta bertanggung jawab.

"Sedang apa ya mereka?" Siwon bermonolog sendiri, kemudian ia kembali membuka berkas perusahaannya.

Sementara dua orang yang tengah Siwon pikirkan, tengah bermanja manja kursi taman rumah sakit.

"Aku suka aroma tubuhmu!" Baekhyun menempeli Chanyeol yang memeluknya erat.

Wanita itu memeluk tubuh tinggi Chanyeol, tak berhenti menciumi dada Chanyeol yang terbalut Piyama rumah sakit. Chanyeol tak merasa risih sama sekali, Pemuda itu justru tersenyum lebar dan sesekali mencium tangan Baekhyun yang melingkari pinggangnya.

Baekhyun sepertinya tengah mengalami pubertas kedua. Lihatlah betapa manja-nya ia pada Chanyeol.

"Noona, banyak orang disini!" Chanyeol mengingatkan jika mereka tengah berada d luar, banyak orang yang sekiranya bisa memperhatikan mereka.

"Lalu? Kau tak suka?" Baekhyun menatapnya, memberi tatapan sayu seakan perkataan Chanyeol barusan sedikit melukai hatinya. Chanyeol menggeleng seraya tersenyum.

Baekhyun hanya ingin menunjukan pada mereka, jika orang yang saat ini bersama dia- adalah miliknya seorang. Baekhyun tak suka tatapan memuja mereka pada Chanyeol.

Bahkan sebelumnya, saat mereka pergi ke taman, beberapa perawat tersenyum penuh makna melihat Chanyeol. Mungkin berharap Chanyeol membalas senyum mereka. Sayangnya, Chanyeol sama sekali tak akan tergoda. Pemuda itu bahkan tak sadar jika beberapa perawat sengaja tersenyum padanya.

Maklum saja, selama ini dalam pikiran dia hanya tentang betapa bahagianya dia akan statusnya yang sudah menjadi kekasih Baekhyun.

"Noona tak malu berpacaran denganku? Aku masih sekolah." Chanyeol menatap Baekhyun, menunggu dengan sabar jawaban yang akan diberikan Baekhyun.

Chanyeol hanya takut Baekhyun menerimanya karena terpaksa. Ia tak mau kehilangan Baekhyun.

Mereka berdua saling pandang. Menyelami kedua iris mata masing-masing. Baekhyun tersenyum manis. Menghela nafas cukup panjang lalu membuka suaranya.

"Kau yang memintaku untuk menjadi kekasihmu. Dan ya aku... Aku juga menyukaimu. Jadi, untuk apa aku harus malu?" Kepalanya ia miringkan seraya tersenyum.

Gemas.

Chanyeol di buat gemas dengan tingkah Baekhyun.

Sepertinya tak layak jika Baekhyun disebut wanita dewasa. Baekhyun sekarang justru terlihat seperti bocah TK yang sangat menggemaskan.

Pemuda itu membalas senyum Baekhyun. Menarik Baekhyun kedalam pelukannya dan mendaratkan ciuman di puncak kepala wanita itu berkali-kali.

"Aku ingin memperjuangkan Noona. Kuharap Noona sabar menungguku. Jangan pernah lupa, jika aku sangat menyukai dan mencintai Noona." Chanyeol tersenyum semakin lebar saat Baekhyun membalas pelukannya.

"Aku akan menunggu sampai kau melamar ku, untuk itu kau juga harus semangat mewujudkan impianmu." Baekhyun semakin memeluk Chanyeol dengan erat.

Chanyeol tertawa pelan mendapati mereka berpelukan di tempat umum. Tangannya yang di perban sudah bisa ia gerakan seperti biasanya. Luka sobek dengan 7 jahitan itu mendadak tak sesakit sebelumnya. Ia terlalu bahagia sampai tak lagi memikirkan luka di tangannya.

Cukup lama mereka berpelukan seperti Teletubies. Sampai kemudian, senyum Chanyeol mendadak luntur kala ia melihat seseorang yang cukup ia kenal, melintas di lorong koridor Rumah sakit.

'Dia...' Chanyeol menajamkan atensinya ke arah seorang wanita yang berjalan dengan jas Dokter, tengah mengobrol dengan seseorang yang juga Chanyeol kenal.

'Paman Oh?' Chanyeol masih memeluk Baekhyun saat ia memperhatikan dua orang itu. Lalu kemudian ia menggeleng pelan.

'Aku yakin jika aku salah lihat. Dia tinggal di Amerika, jadi tidak mungkin dia ada disini.' Monolognya dalam hati.

Mengabaikan seseorang itu, Chanyeol kembali mengobrol dengan Baekhyun sambil memakan buah-buahan yang di siapkan Baekhyun.

Sebisa mungkin Chanyeol tak memikirkan orang itu. Ia tak ingin mengingat orang itu. Baginya, orang itu tak penting lagi untuknya. Ia harus ingat, jika sudah ada Baekhyun di hidupnya.

"Apa Jongin, Sehun dan Luhan pergi ke Neraka? Kenapa mereka belum kembali sampai sekarang!"

Baekhyun menepuk pelan pundak Chanyeol. "Jangan sembarangan kalau bicara!" Wanita itu lalu menyuapi Chanyeol dengan sedikit kasar.

"Noona pelan-pelan!" Chanyeol mengusap bibirnya.

"Makanya, jangan asal bicara. Mereka itu temanmu, sayang~~~" Baekhyun memutar bola matanya melihat senyum sumringah Chanyeol yang baru saja ia panggil 'Sayang'

"Katakan lagi! Aku tak begitu jelas mendengarnya Noona." Chanyeol menunggu dengan senyum tampan nya yang tak pernah luntur.

Jika Jongin melihatnya, pasti anak itu akan meledek Chanyeol dan mengatakan 'Menjijikan'

Chanyeol saja terkekeh sendiri karena sikap yang ia perlihatkan di hadapan Baekhyun sekarang.

Entahlah... rasanya, Chanyeol akan mabuk jika lama-lama berdekatan dan terus bersama-sama dengan Baekhyun. Ia sudah gila karena Baekhyun, dan ia akan semakin gila karena Baekhyun.

Baekhyun yang malu, tak menatap lagi Chanyeol. Wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah lain sambil berdehem cukup keras. Pipi-nya sudah terlihat memerah seakan ia tengah memakai blush on .

Untung tak ada Kyungsoo. Jika ada Kyungsoo, mungkin ia sudah habis di ledek sahabatnya itu.

Seindah ini cinta? ...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

#Short Story

Sebelum Luhan menemui Sehun dan Jongin di kantin Rumah sakit.

Luhan tengah berjalan dengan santai di koridor rumah sakit ketika ia mendapati Ayah nya berjalan ke arah yang berlawanan dengannya.

Dan lagi, Ayah nya terlihat tengah bercengkrama dengan seorang wanita yang jika Luhan lihat lagi... ternyata wanita yang Luhan kenal.

"Bukankah itu Seohyun Eonni?" Gumamnya seraya berjalan cukup cepat untuk mendekati Ayah nya dan wanita yang sebelumnya ia panggil Seohyun.

"Dad!" Panggil Luhan.

Ayah Luhan yang semula sibuk mengobrol dengan orang lain, menoleh ke arah Luhan saat seruan Luhan terdengar di Telinga nya.

"Oh Luhan-ie." Ayah Luhan mendekat "Kau sedang apa di sini sayang?" Memeluk Luhan dan mengusap serta mengacak ngacak rambut Luhan.

"Tentu saja menjenguk sahabatku, Dad!" Luhan beralih menatap si wanita "Eonni kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya Eonni ada di Amerika?" Luhan menatapnya dengan pandangan yang sangat jelas- jika ia tak menyukai wanita itu.

"Seohyun akan bekerja di Rumah sakit Daddy mulai hari ini." Jawab Ayah Luhan terlihat bangga.

Luhan menatap Ayah nya dengan pandangan tak percaya. Benar-benar kabar yang tak bagus menurut Luhan.

Bahkan menurut Luhan, ini adalah kabar buruk. Sangat... Sangat buruk.

"Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan tinggal lagi di Korea. Kuliahku sudah selsai sejak tahun lalu, jadi aku kembali kesini." Wanita itu tersenyum ke arah Luhan.

Dan Luhan nyaris mengumpat kala mendengar penuturan wanita itu.

Seohyun adalah anak dari teman dekat Ayah nya. Dan Seohyun adalah orang yang ia benci semenjak ia melihat Chanyeol patah hati karena wanita itu.

Ya benar. Seohyun adalah cinta pertama Chanyeol. Orang yang dulu Chanyeol cintai, namun tak dapat Chanyeol miliki karena Minho sudah lebih dulu melangkahinya.

Walau akhirnya hubungan Seohyun dan Minho akhirnya tak berjalan mulus.

"Aku dengar Chanyeol sakit? Di ruangan mana dia dirawat? Aku akan merekomendasikan diri untuk menjadi dokter khususnya selama ia di sini." Seohyun menatap Ayah Luhan "Bolehkan paman aku menjadi dokter Chanyeol selama ia di rawat disini?"

Dan ketika Ayah Luhan mengizinkan Seohyun untuk menjadi dokter khusus Chanyeol, saat itu juga Luhan mulai merasakan firasat buruk.

Luhan benar-benar semakin tak tenang dan hawatir.

'Ini gawat! Nenek sihir ini kembali. Aku harus memberitahukan Chanyeol, Sehun dan Jongin. (angan sampai Chanyeol tergoda lagi oleh Nenek sihir ini!' ucapnya dalam hati.

Jika dilihat dari penampilannya, Seohyun emang terlihat jauh berbeda dengan Baekhyun. Seohyun itu cantik, tubuhnya tinggi dan langsing seperti seorang model. Dan lagi wanita itu selalu tampil modis, glamor dengan barang-barang mewah bermerk ternama.

Berbeda sangat jauh dengan Baekhyun yang lebih sering terlihat natural dan sederhana. Sesekali Baekhyun juga memang terlihat modis, tapi Baekhyun memang jauh berbeda dengan Seohyun.

Tentu saja, Seohyun terlahir dari kalangan orang berada. Berbeda dengan Baekhyun yang hanya anak keluarga menengah ke bawah. Ia ke Seoul saja untuk bekerja, bukan untuk berpoya poya atau liburan.

Luhan tersenyum tipis untuk menghargai keberadaan Ayah nya. Padahal jika Ayah nya tak ada, Luhan tak akan bersikap santai seperti saat ini.

Tak lama ia mengobrol dengan Seohyun dan Ayah nya. Luhan pamit pergi karena ingin mencari Sehun dan Jongin. Seraya berlalu mencari keberadaan Sehun dan Jongin, Luhan berpikir keras, bagaimana caranya menjauhkan Seohyun dari Chanyeol dan Baekhyun. Ini tidak akan mudah, dan ia harus bekerja sama dengan Sehun dan Jongin.

Kedua orang itu akan menjadi sekutu terbaik jika urusan seperti ini.

Ia mencari-cari keberadaan kekasih dan sahabatnya itu di kantin Rumah sakit. Ia harus segera memberitahu kedua orang itu mengenai kedatangan Seohyun, setelah itu baru ia akan memberitahu Chanyeol.

Namun pada kenyataannya Luhan lupa untuk memberitahu Sehun dan Jongin seperti niat awalnya. Ia lupa karena terlarut dengan kebiasaannya yang akan bermanja manja saat bersama Sehun.

Dan Luhan semakin lupa dengan niat awalnya itu, ketika ia bertengkar dengan Jongin.

Barulah saat mereka mampir ke cafe, Luhan ingat jika ia harus memberitahu Sehun dan Jongin tentang kembalinya Seohyun.

"Ah iya, aku nyaris saja lupa!" Luhan meminum minumannya terlebih dahulu sebelum lanjut berbicara "Nenek Sihi..- maksudku, Seohyun Eonni kembali. Katanya, dia akan tinggal lagi di sini, di Korea." Ucap Luhan santai.

Berbeda dengan Sehun dan Jongin yang seketika tersedak saat mendengarnya.

"Mwo?"

.

.

.

.

.

TBC

Minggu kemarin aku sakit gaiss, jadi maaf libur update. Hehe

Thanks buat yang udah sempetin Review.