udul : Otonari-San

Chapter : 16

Crossover : Naruto x LoveLive

Pairing : Naruto x (Rahasia) :v

Genre : Ecchi, lemon, romance, drama, dll.

Disclaimer : Naruto punya Om Masashi Kishimoto dan LoveLive punya Sakurako Kimino

Rating : M

A/N :

Gak suka jangan baca, hooman .. :v

.

.

.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ :)

.

.

.

.

.

Normal pov*

"Gomen, aku tidak bisa..aku sudah punya oranglain.." jelas Naruto dengan wajah serius, "Gomen.."

Seketika suasana menjadi canggung, Nozomi terdiam menatap Naruto dengan wajah terkejut. Mata hijau Nozomi beralih ke arah lain, lalu tersenyum tipis.

"Sou ka.." ucap Nozomi yang menyentuh tangan Naruto yang memegang pundaknya, "Syukurlah, kau bisa memiliki pacar dan hidup normal seperti yang kau inginkan.." Nozomi melepaskan tangan Naruto darinya.

Lalu berdiri dari posisi menindih Naruto, langkahnya menuju lemari futon. Tangannya menggeser pintu lemari lalu dia mengambil satu futon di sana dan menggelarnya. Naruto masih terdiam di tempat menatap ke bawah. Dibenaknya masih bertanya-tanya mengenai perilaku Nozomi.

"Soal yang tadi, lupakan saja.. sepertinya karena terlalu mabuk, pikiranku jadi kacau.." jelas Nozomi membelakangi Naruto yang masih menunduk, "Gomen nee, bisa kau bereskan minumannya? Entah mengapa kepalaku pusing.." Nozomi masuk ke dalam futon masih membelakangi Naruto, dia menutup dirinya dengan selimut.

Naruto menatap gestur Nozomi dengan pandangan sendu, entah apa yang merasuki dirinya tapi saat itu perasaannya terasa tercampur adukkan.

.

.

.

.

.

Lima hari setelahnya Naruto kembali pada rutinitas biasanya. Naruto kini berada di apartementnya dengan terduduk bersender di bangku depan meja belajarnya, pandangan matanya menuju langit-langit kamarnya. Pikirannya kembali terlintas beberapa hari ketika menemani Nozomi ke onsen.

Setelah itu tak ada kejadian aneh terjadi, Nozomi tak membahas apapun. Ketika mereka sampai di depan apartement mereka, Nozomi bertanya pada Naruto siapa perempuan yang Naruto pacari dan Naruto jawab dengan jujur bahwa orang itu adalah Kotori.

Nozomi mengalihkan matanya dari Naruto setelah mendengar jawaban itu, tapi setelahnya dia tersenyum dan mengucapkan selamat pada Naruto. Naruto memangku wajahnya dengan salah satu tangannya di meja. Memang benar, Naruto sama sekali tak mengerti apa yang Nozomi inginkan darinya.

Naruto mendengar dering ponselnya, tangannya mengambil ponselnya yang dia arahkan pada telingah.

"Halo.." Naruto menjawab panggilan tersebut, senyumnya merekah ketika mendengar suara perempuan yang merupakan pacarnya.

"Ah, Naruto-kun.. apa kau sudah bersiap? Kami sudah berada di depan apartementmu.." Tanya Kotori yang membuat Naruto berdiri dan menenteng tas yang berisi baju gantinya.

"Tentu saja, aku akan segera ke sana.." Naruto mematikan panggilan lalu berjalan ke pintu keluar, dia mengunci pintunya lalu berjalan ke arah tangga sambil melihat ke arah di bawah balkon.

Di sana sudah terlihat Kotori melambaikan tangannya yang membuat Naruto tersenyum, Naruto turun ke bawah tangga dan keluar dari pemukiman apartementnya menuju jalan di seberang depan taman. Di sana terlihat Kiba dan Honoka yang juga berdampingan.

Naruto terkejut dengan mobil dimana Kiba bersender di sana. Naruto melihat mobil itu dengan mulut terbuka.

"Kupikir kita akan pergi naik kereta.." Naruto mengatakan pendapatnya, meskipun Naruto baru tahu bahwa Kiba bisa menyetir.

Kiba mendengus lalu menggosok hidungnya dengan wajah sombong, "Tentu saja, aku menyewa mobil temanku untuk liburan ini. Jauh lebih bebas menggunakan mobil bukan?" Jelas Kiba yang membuat Naruto terperangah.

"Lalu, kau akan menyetir Kiba?" Tanya Naruto.

"Hah? Mana mungkin, aku tidak punya SIM.." ucap Kiba santai yang membuat Naruto terkejut.

"Tunggu, jadi kau menyetir mobil tanpa memiliki SIM?" Naruto mulai panik ketika mendengar jawaban Kiba.

Kotori merangkul salah satu tangan Naruto lalu menatap wajah Naruto dengan senyuman, "Tenang saja, Naruto-kun yang menyetir bukan Kiba-kun.." jelas Kotori yang membuat Naruto bertanya-tanya.

"Hah? Lalu bagaimana-" ucapan Naruto terhenti ketika Honoka mengulurkan tangannya dan menunjukkan sebuah kartu di depan wajah Naruto, alis Naruto bertautan begitu sadar dia langsung menatap Honoka terpukau.

"Be-benarkah..?" Tanya Naruto tak yakin dengan menatap Honoka, bukannya apa, tapi Naruto tahu Honoka itu kurang pintar dan ceroboh. Naruto tidak percaya Honoka bisa mendapatkan SIM.

"Tentu saja, sebelum liburan musim panas aku berlatih dengan keras.. begitu berhasil aku langsung ikut tes SIM.." Honoka menceritakan pengalamannya dengan begitu semangat, "Bahkan, aku yang menyetir mobilnya hingga sampai di apartement Naru-chan lho.." lanjutnya seperti merasa sudah sangat ahli.

"Naruto-kun tenang saja, Honoka-chan pasti bisa mengatasinya!" Ucap Kotori dengan antusias membuat Naruto tertawa canggung masih tidak yakin.

"Sudahlah, Naruto.. ayo, masuk saja.." paksa Kiba yang menyuruh Naruto masuk di kursi belakang bersama Kotori, akhirnya Naruto pasrah saja dan masuk ke dalam.

Kiba sudah duduk di samping Honoka yang menyetir, Honoka sudah sangat yakin dengan kemampuannya dan memasang sabuk pengaman. Tangannya memegang kunci mobil dan memasukkannya ke lubang kunci lalu memutarnya. Mesin mobil mulai menyala. Membuat Naruto menatap khawatir dengan kemampuan Honoka.

"Kau harus tenang Honoka-chan, tidak perlu terburu-buru menginjak gas.."

"Tentu saja, Aku tahu itu Naruto-kun.."

Honoka mulai menarik kopling lalu dia mulai dengan perlahan menginjak pedal gas dengan perlahan. Semua orang kagum ketika Honoka berhasil menjalankan mobilnya. Honoka langsung terkekeh lalu memandang Naruto yang duduk di belakang.

"Bagaimana Naruto-kun? Aku hebat bukan?" Ucap Honoka dengan sombong.

Lalu kemudian, "Honoka, awas!" Ucap Kiba ketika melihat mobil yang lewat di depannya, Honoka langsung membelokkan stirnya hingga membuat semuanya panik, lalu mobilnya hampir menabrak tembok di depannya.

"Honoka-chan, cepat injak remnya!" Ucap Naruto yang membuat Honoka langsung menginjak rem dan mobil itu langsung berhenti tepat di depan tembok, mereka semua ikut oleng ketika mobil itu berhenti.

"Bodoh! Apa yang kau lakukan?! Itu bahaya banget..! Kau tahu kan, ini mobil pinjaman? Kalau rusak kita harus ganti rugi.." Omel Kiba pada pacarnya yang berlinang air mata.

"Eh~? Kenapa? Padahal sebelumnya aku bisa.." ucap Honoka kecewa pada dirinya.

"Mau bagaimana lagi.." Kiba menengok ke arah Naruto yang berada di belakang, "Naruto, kau yang menyetir.."

Naruto menunjuk dirinya sendiri, "Heh? Kenapa aku?" Ucapnya yang kebingungan.

"Kau sudah punya SIM, 'kan?"

"Eh? Naruto-kun kau bisa menyetir..?" Tanya Kotori terlihat terpukau menatap Naruto.

"Eh? Ah, iya.. dulu aku sering mengambil bahan untuk restaurant yang Ibuku kelola, jadi harus punya SIM.."

Entah bagaimana Naruto mengingat pengalaman pahit ketika menyetir, saat itu Ibunya selalu menyuruhnya pergi mengambil bahan makanan dari pelabuhan. Tapi tanpa disadari saat itu rem mobilnya blong, Naruto jadi memiliki trauma saat menyetir. Naruto mengajak kedua adik kembarnya saat itu, sejak itu dia takut melukai seseorang karena menyetir. Itu sangat menakutkan kalau saat itu mobilnya tidak berhenti dengan sendirinya karena bensinnya habis Naruto pasti sudah mati.

"..aku sedikit takut, kau juga sudah tahu hal itu kan, Kiba?" Jelasnya pada Kiba yang menatap Naruto biasa saja.

"Kau payah sekali, kecelakaan sekali kau sudah trauma, penakut~~" entah bagaimana ucapannya malah membuat kesal.

"Hah?! Kalau begitu kenapa tidak kau saja?" Ucap Naruto membalasnya.

"Aku tidak punya SIM, lagian rencananya aku mau tidur di jalan~ tapi, Honoka malah mengacaukan semuanya.." jelas Kiba melirik Honoka yang juga menjadi emosi.

"Tunggu dulu, bukankah itu salah Kiba-kun? Awal liburan musim panas, kerjaanmu hanya males-malesan.. padahal bisa menyetir, tapi malah menyuruhku yang mengikuti tes membuat SIM..!" Honoka mulai mengeluarkan unek-uneknya, dia memandang Kiba kesal dengan Kiba yang juga tidak mau kalah.

"Tunggu dulu, kau pikir apa yang kulakukan? Aku bekerja mengumpulkan uang untuk liburan ini, bahkan bekerja keras untukmu juga.. dasar wanita, hanya bisa ngomong saja..! Padahal berkat ajaranku kau bisa menyetir..!" Kiba membalas omongan Honoka dengan sangat keras.

"Apa?!" Honoka menarik kerah baju Kiba, terlihat Kiba juga menatapnya tajam.

"Uumm.. Honoka-chan.." Kotori terlihat ingin melerai mereka untuk tidak bertengkar, Naruto hanya memandang pertengkaran sepasang kekasih itu yang dilandasi hal sepele.

Naruto langsung terbangun dan memisahkan mereka berdua, "Sudah hentikan itu, oke-oke aku yang menyetir.." ucapnya pada mereka yang kemudian saling membuang muka.

"Hmm!" Ucap mereka bersama membuat Naruto menggeleng.

.

.

.

.

.

Sekarang Naruto dengan konsentrasi mencoba melihat jalan tol yang berada di depannya, dia sama sekali tak berkedip melihat jalanan yang di isi beberapa mobil di depannya. Meskipun ini jalan tol dan tidak terlalu ramai, tetap saja mengerikan. Kiba yang berada di sebelahnya tersenyum melihat keluar jendela.

"Apa ini? Kau terlihat lancar saja menyetirnya.." ucapnya yang membuat Naruto kesal, dia memakan potato chips dengan nikmatnya tanpa peduli Naruto sedang konsentrasi penuh.

Kiba terlihat memberikan bungkus chiki itu ke belakang tepatnya pada Honoka, "Nih Honoka, biasanya kau suka, 'kan?" Tawar Kiba yang kelihatan ingin berbaikan dengan Honoka yang masih cemberut padanya.

"Gak mau!" Honoka terlihat kesal dan malah menepis tangan Kiba hingga bungkus chiki itu jatuh, menciptakan perempatan muncul di pelipis Kiba. Kotori terlihat tak enak dan mengambil bungkus itu.

"Kau ini sampai kapan seperti itu, hah? Kerjaanmu dari tadi itu marah-marah mulu.." ucap Kiba yang membuat Honoka menciptakan perempatan di pelipisnya juga.

"Hm! Masih saja belum sadar.." ucap Honoka.

"Hah?! Kau ngajak berantem ya?" Ucap Kiba yang memposisikan tubuhnya ke belakang.

"Lihat, Kiba-kun masih saja egois!"

Naruto merasa mulai terganggu dengan pertengkaran mereka.

"Itu karena kau sendiri yang kekanakan!"

Naruto terus menahan dirinya agar tak lepas kendali.

"Kiba-kun bodoh! Gamau ngalah sama cewek..!"

Naruto masih bersabar.

"Siapa suruh kau mau pacaran sama orang bodoh!"

"Aaaaaah! Berisik!" Teriak Naruto yang kemudian menatap ke belakang dan samping pada makhluk yang mengganggunya, "Kalian bisa tenang, aku sedang berusaha berkonsentrasi sekarang! Tapi kalian terus-terusan-"

"Naruto-kun di depan..!" Ucap Kotori yang melihat truk di depan.

"Wahh!" Naruto langsung membelokkan arahnya lalu memelankan laju mobil, dan berhasil dihindari.

Semua orang di sana bernapas lega, "Lihat, kalau ingin berantem nanti saja kalau sudah sampai.." tegas Naruto pada sepasang kekasih yang sedang bertengkar itu, Kotori hanya tersenyum hambar melihat tingkah sahabatnya.

.

.

.

.

.

Tak berapa lama mereka sampai di pantai, mereka menurunkan barang-barang di tempat parkir mobil lalu membawanya. Sepanjang perjalanan Kiba dan Honoka masih menjaga jarak. Sunggung pasangan yang keras kepala sekali. Mereka pergi menuju penginapan untuk menaruh barang-barangnya. Rencananya mereka akan menginap semalam di sana.

Kali ini Kiba dan Naruto sedang menyiapkan payung pantai, karpet, dan kursi. Sembari menunggu para wanita yang sedang berganti pakaian. Naruto menatap Kiba yang sedang memasang payung pantai sedangkan Naruto membuka gulungan karpet.

"Oy, Kiba.. bukankah lebih baik kau berbaikan dengan Honoka-chan, kita kan sedang liburan.. sudahlah, kau mengalah saja padanya.." Naruto menasehati temannya untuk tak larut dalam permasalahan di hari libur ini.

"Hah? Untuk apa? Kalau terus dimanjakan, dia tidak akan berubah.." ucap Kiba yang sepertinya belum ingin memaafkan Honoka.

"Go-gomen, kami membuat kalian menunggu lama.." ucap Kotori.

Suara langkah kaki terdengar berjalan ke arah Naruto dan Kiba, pandangan mereka beralih pada Honoka dan Kotori yang mengenakan bikini. Honoka mengenakan bikini berwarna pink dengan renda seperti rok di bawahnya, seluruh rambutnya dia kuncir menyamping. Sedangkan Kotori mengenakan bikini berwarna hijau dengan pita putih di tengah dadanya, rambutnya dia kepang dua.

Naruto tersenyum memperhatikan Kotori, "Oh, kau terlihat manis sekali Kotori-chan.." ucap Naruto yang membuat Kotori langsung tersipu dan berhamburan memeluknya.

"Na-naruto-kun~" mereka sedang menjadi pasangan yang lovey-dovey.

Melihat itu pasangan yang sedang bertengkar merasa terganggu. Kiba menatap Honoka yang berdiri tak jauh darinya. Kiba memperhatikan Honoka dari ujung kepala hingga kaki, meskipun Honoka banyak makan dan perutnya agak berlemak, bagi Kiba Honoka tetap sexy. Lama-kelamaan Honoka merasa tak nyaman di tatap penuh nafsu oleh Kiba.

"A-apa lihat-lihat?" Tanya Honoka yang wajahnya memerah karena dilihat oleh Kiba.

Kiba langsung mengalihkan kepalanya ke arah lain dengan wajah datar, "Tidak, aku hanya berpikir kau makin gendut saja~"

"Apa?!" Honoka kembali geram pada Kiba, lalu melompat padanya untuk memukul pacarnya yang sudah mengatainya gendut. Karena sudah biasa, reflek Kiba langsung menahan tangan Honoka yang masih memaksa untuk memukul.

"Ah akhirnya ketemu juga.." ucapan seorang gadis yang sangat dikenal mengintrupsi mereka, pandangan mereka beralih pada sekelompok orang-orang yang datang.

Itu adalah Umi yang mengenakan kaos putih dan celana pendek berwarna hitam, dengan dua orang lainnya. Naruto melihat Shii yang tersenyum ganteng padanya. Naruto baru ingat saat di mobil tadi dia mendengar Kiba berceloteh mengajak teman yang lainnya. Mata Naruto melebar saat melihat Nozomi muncul dibalik Shii. Naruto mencoba terdiam untuk bersikap biasa saja. Pandangan mereka bertemu untuk sesaat lalu beralih ke arah lain.

Ketika melihat Umi, mata Honoka berbinar-binar dan langsung berlari ke arah Umi dan memeluknya seperti anak kecil. Umi hanya kebingungan dengan hal tersebut. Kepala Honoka mengusel-ngusel di dadanya.

"Umi-chan~ Umi-chan~ Umi-chan~" Honoka menyebut nama Umi dengan manja.

"Eh? A-ada apa, Honoka?" Tanya Umi.

"Kiba-kun.."Honoka menunjuk Kiba, "..dia membullyku.." jelas Honoka yang sangat dimengerti oleh Umi tentang keadaan kekanakan yang dilakukan sepasang kekasih itu.

"Berhentilah bersikap begitu, kalian sudah dewasa, 'kan? Kalian bisa menyelesaikannya bersama.." terang Umi kemudian mendorong Honoka untuk menjauh.

"Oy, Umi! Kita masih di jam sibuk, lho..!" Dari kejauhan terlihat seorang pria berambut coklat dengan kaos putih dan celana hitam pendek memanggil Umi.

"Iya, aku akan segera ke sana!" Teriak Umi yang tersenyum pada semuanya, "Gomen nee, sekarang aku harus kerja.. semoga kalian bisa bersenang-senang.." ucap Umi yang kemudian berlari ke arah orang tadi.

"Umi-chaaaaan~~" rengek Honoka saat di tinggal oleh Umi.

"Ah, benar juga.. Umi-chan bilang dia sudah janji akan membantu stand makanan keluarga pacarnya.." jelas Kotori yang membuat Naruto terkejut.

"Hah? Sejak kapan?" Tanya Naruto.

"Sepertinya sejak dia mulai bekerja di pantai ini.." jawab Kotori.

Tiba-tiba Kiba merangkul Shii. Bukannya apa, tapi Kiba pasti ingin memanfaatkan wajah tampan Shii untuk menggoda wanita. Kiba tersenyum sebelum memulai pembicaraannya. Sebenarnya Shii ingin menghindari ajakan Kiba yang sudah di duganya.

"Shii-kun, daripada kita berdiam diri dengan cewek gendut lebih baik kita bermain dengan gadis SMA, 'bukan?" Jelas Kiba seperti menyindir Honoka, wajah Honoka langsung cemberut mendengar itu.

Honoka tiba-tiba menarik tangan Kotori, "Baiklah, kami juga bisa bersenang-senang sendiri.. ayo Kotori-chan.." ajak Honoka yang menarik Kotori ke pinggir laut dengan bola udara, Kotori menatap Naruto khawatir karena merasa tak enak meninggalkan pacarnya, Naruto hanya tersenyum memaklumi kondisi ini.

"Heh! Aku juga tidak butuh wanita itu untuk bersenang-senang.. ayo Shii-kun.." Kiba juga menarik Shii untuk pergi ke daerah permainan voli.

Sekarang Naruto hanya duduk berduaan saja dengan Nozomi memandang Honoka dan Kotori yang sedang bermain di pinggir laut sana. Naruto melirik ke samping dimana Nozomi berada, Nozomi mengenakan bikini berwarna putih yang diikat menyerupai tali di bagian punggungnya, rambutnya dia ikat dua seperti biasa.

Karena kejadian beberapa hari yang lalu, suasana di antara mereka menjadi canggung. Naruto menggaruk tengkuknya merasa tak nyaman dengan suasana diam-diaman di antara mereka. Naruto beberapa kali melihat laki-laki yang memandang Nozomi dengan intens, sepertinya mereka ingin mengajak Nozomi berkenalan.

Hal ini bukan urusan Naruto, tapi Naruto tidak tahan dengan tatapan mereka. Di tambah masalahnya dengan Nozomi yang entah apa membuatnya semakin ingin menjauh saja. Naruto akhirnya memikirkan untuk menjauh saja dari sana. Harusnya tadi dia ikut saja dengan Kiba.

Naruto berdiri dari posisi duduknya, "Aku akan membeli minuman.." ucap Naruto.

"Oh baiklah.. aku akan menjaga tempat ini.." balas Nozomi.

Naruto pergi dari sana menuju stand makanan mencari pedagang minuman sejauh mungkin dari tempat itu, agar lama untuk kembali pikirnya.

.

.

.

.

.

TBC

Sumimasen mina-sama..

Entah bagaimana Erocc sedang dirundung masalah keluarga jadi kemaren-maren sedikit kehilangan motivasi menulis..