Part 16:

Unsolved Quest

XXX

Chaeyoung langsung terdiam bingung. Mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menatap Baekhyun terheran-heran.

"Apa katamu?"

"Aku bilang, aku akan keluar dari sekolah ini dan mundur dari posisi ketua tim kedisplinan. Tapi aku tidak akan memutuskan Chanyeol."

Mendengar itu amarah Chaeyoung langsung meledak. "KAU GILA, YA?!"

"Loh, kenapa marah? Kalian 'kan memberikanku dua pilihan. Berarti terserah aku 'kan mau memilih yang mana?" Tanya Baekhyun bingung. Diam-diam ia menyembunyikan senyum puasnya melihat kedua orang didepannya bingung.

Pak kepala sekolah banjir keringat. Pengeluaran Baekhyun hanya sebuah gertakan. Tidak mungkin ia memiliki wewenang untuk mengeluarkan Baekhyun hanya karena perihal hubungan asmara. Baekhyun penyumbang hampir 70% piala dan prestasi di sekolah. Ia juga berperan besar dalam menjalankan kurikulum. Bahkan peraturan yang ia keluarkan tidak resmi, lagi-lagi hanya sebuah gertakan.

"Baekhyun, coba kau pikirkan lagi masa depanmu. Hanya karena hal sepele seperti ini, kau rela keluar dari sekolah terbaik di kota dan kehilangan seluruh jabatanmu? Aku tahu kau tidak bodoh Baekhyun," Ujar Kepala Sekolah dengan nada memohon.

"Ini bukan masalah sepele kalau aku sampai diberi pilihan untuk keluar 'kan pak? Kepala sekolah sendiri yang membuat peraturannya. Lagian, surat-surat undangan dari SMA lain sudah menumpuk di mejaku. Ah, tidak mau pamer, tapi aku ini siswa yang cukup diperebutkan di kota ini," Balas Baekhyun sambil tetap tersenyum.

Chaeyoung menggebrak meja didepannya, menunjuk Baekhyun marah. "APA KAU KEHILANGAN AKALMU? KAU ITU HARUSNYA MEMILIH PUTUS DARI CHANYEOL! KAU ITU CUMA ORANG KAKU, EGOIS DAN AMBISIUS! KENAPA SOK BERUBAH JADI PEDULI DENGAN CHANYEOL?!"

"Jujur, aku bingung. Kalian memberikanku pilihan dan aku sudah memilihnya. Kenapa kalian malah marah padaku?" Baekhyun memiringkan kepalanya, memasang tampang heran.

"Karena bukan ini yang harusnya terjadi! Harusnya kau ketakutan, memohon kepada kami, mematuhi kami dan putus dari Chanyeol. Harusnya tidak begini!" Seru Chaeyoung makin menjadi-jadi.

"Yang mengetahui diriku hanya diriku sendiri. Kenapa kau bisa menebak seperti itu? Oh, jadi rencanamu gagal karenaku, ya?"

"DIAM! DARI AWAL CHANYEOL ITU MILIKKU DAN SAMPAI SEKARANG TETAP JADI MILIKKU. KAU CUMA BENALU YANG TIBA-TIBA MENEMPEL DAN MEMBUATNYA BERUBAH! HANYA AKU YANG BOLEH BERSAMA CHANYEOL! PARK CHANYEOL HANYA AKAN BERADA DISISIKU UNTUK SELAMANYA KARENA AKU AKAN MENJADI NYONYA PARK!" Seru Chaeyoung seperti orang kesurupan. Baekhyun ngeri sendiri melihat betapa menyeramkannya muka Chayeoung. Namun saat ia akan membalas, pintu ruangan terbuka membuat mereka semua menoleh kearah pintu.

"Pak direktur!" Kepala sekolah langsung cepat-cepat bediri dari kursinya.

Seorang pria yang kira-kira berumur 40an masuk dengan wajah menawannya. Ia tinggi dan setelan jas yang ada ditubuhnya pas sekali. Walau sudah tua, Baekhyun masih bisa merasakan aura keren, bahkan wajahnya saja masih terlihat muda dan tampan. Baekhyun pernah melihatnya, tak salah lagi itu direktur sekolah mereka—orang yang memiliki jabatan paling tinggi di sekolah, pemilik sekolah ini dan bisa jadi musuh terbesar Baekhyun di ruangan ini mengingat koneksi yang dimiliki Chaeyoung.

Benar saja, Chaeyoung langsung tersenyum lebar dan menghampiri direktur mereka dengan suara manja.

"Ayah mertua! Aku menangkap pelanggar berat di sekolah ini. Dia bahkan membawa pengaruh buruk untuk Chanyeol. Kita harus mengeluarkan dia dari sini, masa ayah mau pewarisnya bersama orang miskin seperti dia? Aku yang terbaik—"

"Nona Chae, apakah kau tidak diajarkan sopan santun?" Tanya pria itu dingin, bahkan sampai membuat Baekhyun ikut kaget. Chaeyoung langsung syok dan melepaskan pelukannya dari tangan pak direktur.

Pak direktur menepuk-nepuk bekas pelukan Chaeyoung dan menatap gadis itu tidak suka. "Nyonya Park, huh? Aku tidak tahu keluarga kalian memiliki Putri yang tidak tahu malu. Setelah apa yang keluargamu perbuat, kau masih punya muka berhadapan denganku?"

Baekhyun bingung, serius. Mendadak tokoh utama dalam situasi ini berubah begitu saja. Ia sedikit terlonjak kaget saat direktur sekolah mereka menyunggingkan senyuman kecil kearahnya sebelum berjalan dan melempar sebuah buku di hadapan kepala sekolah.

"Jadi itu hasil kerjamu selama aku tidak mengawasi sekolah ini?"

"Hah, Tuan Park a-aku tidak mengerti," Jawab pak kepala sekolah gelagapan.

"Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Menerima uang gelap, menyelundupkan murid, mengubah peraturan, memihak golongan atas bahkan mengusik sistem kurikulum sekolah kita yang sudah kubuat bertahun-tahun. Dan kau masih bilang kau tidak mengerti?" Tuan Park tampak menahan amarahnya.

"I-itu bisa saya jelas—"

"Sebelum aku membawa ini ke jalur hukum, cepat pergi dari hadapanku untuk selamanya. Kau di pecat."

"Ta-tapi—"

"CEPAT! APA PERLU AKU MEMANGGIL TIM HUKUM?!" Seru Tuan Park marah.

Sontak saja tanpa mempedulikan apapun pak kepala sekolah langsung lari pergi keluar ruangan. Baekhyun yang menyaksikannya puas sekali melihat kepala sekolah tak becus mereka akhirnya enyah. Namun situasi tidak menjadi lebih baik. Masih ada direktur sekolah mereka yang marah, Chaeyoung dan dirinya yang terjebak disini.

"Namamu Byun Baekhyun, kan?" Tanya Tuan Park.

"Eh, iya namaku Byun Baekhyun," Jawab Baekhyun setengah kaget ditanya tiba-tiba seperti itu. Tuan Park mendekati Baekhyun dan menepuk pelan pundak Baekhyun.

"Jadi ini ketua tim kedisplinan kita. Terimakasih ya telah menjaga sekolah. Jika bukan karenamu, kepala sekolah itu masih ada disini dan terus berbuat seenaknya. Dia memang tidak pernah salah pilih orang, kau baik dan sempurna untuk menjadi bagian dari kami. Poin plusnya, kau tampan. Aku rasa sifatnya memang turun dari sifatku." Baekhyun hanya bisa tersenyum dan mengangguk-ngangguk walau ia tidak mengerti maksud dari direktur sekolahnya ini. Kenapa dia berterimakasih? Kenapa ia memecat kepala sekolah karena Baekhyun? Dan kenapa memangnya kalau dia tampan? Tunggu, bukannya yang memiliki koneksi dengan direktur sekolah itu Chaeyoung bukannya dia?

"Ayah mertua! Kenapa kau malah membela di Byun itu?!" Protes Chaeyoung.

"Nona Chae, sebenarnya kau ini siapa?" Tanya Tuan Park serius.

"Tentu saja aku calon menantumu! Juga pewaris keluarga Park. Aku ini—"

"Kau ini cuma gadis yang tidak tahu malu. Keluargamu baru saja kutendang karena perbuatan mereka, karena kalian mulai bangkrut tunanganmu yang ada di Australia membatalkan pertunangannya. Keluargamu menyuruhmu mendapatkan hati pewaris kami, awalnya kau menolak keras. Tapi setelah tahu bagaimana ia sekarang kau menjadi tergila-gila. Harta dan suami tampan, hidupmu begitu mudah ya Nona Lee?"

Chaeyoung yang mendengar itu tentu saja kaget sampai tidak bisa berkata-kata. Ia panik, sangat panik lebih tepatnya.

"Kau bahkan tidak pernah menganggap anakku sebagai temanmu saat kecil. Tidak tahu malu namanya jika sekarang kau mengejar-ngejar bahkan sampai masuk secara kotor ke sekolah ini demi ambisimu dan keluargamu. Bahkan kau bukan murid disini. Memangnya kau pikir aku tidak tahu apa saja yang telah kau perbuat disekolah ini? Jadi aku tanya sekali lagi, kau itu siapa Nona Lee?"

"A-aku...Aku akan mengadu pada ayahku!" Seru Chaeyoung marah sebelum berlari keluar kelas.

Tuan Park tampak menahan emosinya, menggeleng pelan. "Astaga, rasanya aku baru saja memakai stok dua puluh lima tahun kesabaranku untuk menghadapinya. Anak itu bodoh atau apa? Dia benar-benar tidak tahu posisinya dimana? Siapa yang berkuasa siapa yang tidak? Haish, jika dia anakku akan kukirim ke lembaga penataran," Gumam Tuan Park kesal.

"Er..."

Mendengar suara itu, Tuan Park teringat dan menoleh kepada Baekhyun yang masih berdiri disampingnya dengan wajah bingung.

"Terimakasih...kurasa?" Ujar Baekhyun ragu-ragu, membuat Tuan Park tertawa. "Tapi, kenapa pak direktur membantuku?"

"Oh, aku tahu banyak tentang dirimu. Ada seseorang yang menceritakannya tanpa henti padaku setiap hari." Baekhyun makin bingung mendengarnya, tiba-tiba suara gebrakan pintu terdengar dan pelakunya adalah Chanyeol dengan nafas yang tersengal.

"Chanyeol?" Tanya Baekhyun kaget.

"Nah, itu orangnya!"

"Apa yang ayah lakukan disini?!" Seru Chanyeol.

XXX

"Jadi, sebenarnya tadi itu apa?" Baekhyun mendongakkan kepalanya, melihat langit cerah yang ada diatasnya. Sebelum kemudian menyesap minuman kaleng yang dibelikan Chanyeol tadi.

"Hah, aku juga bingung harus menjelaskannya darimana. Saat aku tahu apa yang terjadi dengan kakak, aku langsung menghubungi ayahku tentang kekacauan yang terjadi. Lalu aku sibuk membereskan semua keributan yang dilakukan oleh Chaeyoung dari foto-foto di mading sampai masalah broadcasting bersama tim kedisplinan. Tapi aku tak tahu ayahku akan datang dan langsung mengambil tindakan begitu saja," Jelas Chanyeol.

Baekhyun menengok, memperhatikan wajah Chanyeol lamat-lamat. "Kau benar-benar anak direktur sekolah ini? Jadi secara tidak langsung kau pemilik sekolah ini?"

"Bisa dikatakan seperti itu?"

BUK!

"Aw! Sakit, kak!" Keluh Chanyeol sambil mengusap-ngusap pahanya yang dipukul kencang.

"Kenapa tidak bilang dari awal Chanyeol?! Untuk apa aku ketakutan setengah mati saat tau pacarku yang memiliki sekolah ini?!" Seru Baekhyun kesal.

"Eh, kakak ketakutan?" Tanya Chanyeol kaget.

"Tentu saja! Itu pertama kalinya dalam hidupku semua hal yang berharga bagiku bisa saja menghilang jika aku salah mengambil keputusan! Tim kedisplinan adalah hidupku, tapi aku menyukai Chanyeol juga dan tidak mau kau berakhir kepada gadis macam Chaeyoung! Apalagi harus pura-pura tidak mengenalmu dan membiarkan tim kedisplinan dan diriku sendiri menjadi bahan mainannya. Tapi kalau aku memilih Chanyeol, aku harus melepaskan semuanya yang ada di SMA JAEGUK. Anak-anak di tim kedisplinan adalah teman terbaikku. Senior dan adik kelas di organisasi juga sudah menjadi keluargaku. Aku suka anak-anak disekolah ini dan aku juga suka sekolah ini. Rasanya tadi aku mau menghilang saja!" Pada akhirnya, Baekhyun menangis. Chanyeol yang baru pertama kali melihat sisi lemah Baekhyun langsung saja memeluk kakak kelasnya itu untuk menenangkannya. Suara tangisan Baekhyun teredam digantikan suara cegukan kecil sambil Chanyeol terus mengusap-ngusap kepalanya.

"Semuanya sudah berlalu. Pasti berat ya hari ini? Pak kepala sekolah sudah di pecat dan Chaeyoung sudah di keluarkan. Peraturan kembali normal dan tidak ada yang bisa menganggu tim kedisplinan lagi."

"Tapi, anak-anak sekolah pasti jadi membenciku 'kan? Aku selalu jahat pada mereka. Apalagi saat mereka tahu aku berpacaran denganmu. Pasti ada dari mereka yang menginginkanku untuk keluar saja," Ujar Baekhyun dengan masih sesungukan. Chanyeol langsung memegang bahu Baekhyun, sedikit mengguncangkannya.

"Omong kosong! Komentar jahat yang tadi sempat kau baca si web sekolah itu ulah Kyulkyung dan kak Yumi! Siswa-siswa semua membelamu kak! Kau ini ketua tim kedisplinan SMA JAEGUK! Murid-murid di sekolah ini adalah pasukanmu. Enak saja mereka menganggu komandan kami!"

Barkhyun mengucek matanya. "Benarkah?"

"Tentu saja! Aku tidak berbohong." Baekhyun yang mendengar itu hanya mengusap-ngusap bekas air mata yang mengering di pipinya. Penampakan hidung mungil Baekhyun yang memerah dan mata yang masih sembab entah kenapa membuat Chanyeol menahan tawanya.

"Kenapa?"

"Tidak, hanya saja melihat kakak menangis didepanku seperti ini membuatku berpikir panggilan The Killer Byun jadi sedikit tidak cocok untuk kakak sekarang."

"Kau mau mati ya?"

"Woah, dari skala satu sampai sepuluh, cepat sekali kakak berubahnya."

XXX

Dan seperti tidak terjadi apa-apa, situasi kembali normal. Saat ia berjalan melewati koridor, anak-anak bersikap biasa. Masih ada yang takut-takut, ada yang biasa saja walau ada juga yang meliriknya sambil bisik-bisik. Tapi secara keseluruhan, semuanya sama seperti biasanya.

Saat ia membuka pintu ruangan tim kedisplinan, ia langsung ditarik kedalam pelukan Minseok.

"Baekhyun, kau tidak apa-apa 'kan? Kenapa lama sekali?" Tanya Minseok khawatir.

"Sebenarnya apa yang kau katakan sampai pak kepala sekolah lari keluar sekolah lalu tak lama Chaeyoung juga lari-lari begitu. Mereka seperti habis menghadapi setan," Ujar Kris sambil menatap Baekhyun khawatir, apalagi saat melihat sembabnya mata ketua tim kedisplinan mereka.

"Kau tidak benar-benar mengancam mereka seperti yang dirumorkan?" Tanya Sehun takut-takut.

"Hah, rumor apa?" Tanya Baekhyun bingung.

"Ada rumor yang mengatakan, saat peraturan konyol itu dibuat dan mengancam tim kedisplinan kau langsung menghadapi pak kepala sekolah seperti preman professional. Kau menghajarnya juga mengancamnya karena latar belakangmu itu keluarga mafia besar yang selama ini diam-diam menyokong Jaeguk Company's . Makanya direktur sekolah yang bahkan memiliki koneksi dengan Chaeyoung tidak berani berbuat apa-apa selain membelamu," Jelas Kyungsoo bersemangat. Baru pertama kali ia melihat pemuda datar itu berbicara panjang sekali. Sepertinya Kyungsoo terlalu banyak membaca komik-komik berkelahi anak sekolahan.

"Maksudku, kau itu Killer Byun. Tidak mungkin 'kan kau dikalahkan begitu saja," Kata Kris sambil tertawa.

"Hey, kalian kan tahu itu tidak benar! Kenapa diam saja saat rumor itu menyebar?" Protes Baekhyun.

"Kenapa harus dihentikan? Rumor itu menguntungkan kok bagi kita." Perkataan Minseok langsung disetujui oleh yang lainnya, sedangkan Baekhyun hanya bisa menepuk jidatnya.

"Aku akan menceritakan yang sebenarnya terjadi, dengarkan baik-baik."

XXX

"Jadi intinya, 061 itu anaknya Pak direktur dan Chaeyoung anak dari kolega bisnisnya yang mengkhianatinya. Keluarga Chaeyoung bangkrut dan taktik mereka adalah mendapatkan Chanyeol sebagai menantu mereka. Bla, bla, bla intinya rencana mereka jadi terhambat karena posisimu sebagai pacar Chanyeol jadi Chaeyoung dan kepala sekolah yang notabenenya tidak menyukaimu bekerjasama? Bla,bla,bla lagi, direktur sekolah datang menyelamatkanmu, memecat kepala sekolah, mengeluarkan Chaeyoung begitu saja dan semua keadaan kembali normal?"

"Tepat sekali."

"MEMANGNYA INI DRAMA?!" Protes Sehun kesal.

"Permainan orang kaya memang menyeramkan," Komentar Kyungsoo ngeri.

"Pada awalnya aku juga tidak mengerti dengan situasi yang terjadi sampai Chanyeol menjelaskannya padaku," Ujar Baekhyun.

"Hah, dasar orang kaya gila. Kenapa sampai bawa-bawa permasalahan ini ke lembaga pendidikan, sih? Untung kita punya anak bos mafia yang berpacaran dengan anak pewaris grup Jaeguk. Jadi semuanya aman," Canda Kris.

"Hentikan hal tentang anak bos mafia itu!" Seru Baekhyun kesal.

"Oke, aku mengerti hubungan antara kepala sekolah dan Chaeyoung. Lalu kenapa Kyulkyung dan Yumi juga ikut terlibat?" Tanya Minseok heran.

"Kyulkyung memang tidak suka padaku karena aku selalu menangkapnya saat ia sedang melanggar peraturan. Tapi untuk terlibat dengan perempuan selicik Chaeyoung juga aku tidak menyangka, mau bagaimanapun sebenarnya Kyulkyung itu anak baik. Dan untuk Yumi, itu masih tanda tanya besar." Baekhyun kembali mengingat apa yang dikatakan Yumi tentang dirinya tadi pagi. Benar-benar bukan sosok Yumi yang ia ketahui.

"Lebih-lebih lagi dia anggota organisasi kesiswaan. Saat aku bertanya kepada rekan-rekannya, sudah beberapa minggu ini dia bolos pertemuan. Apa dia terhasut Chaeyoung? Tapi untuk apa dia melakukan itu kepada senior organisasinya sendiri?" Tambah Kris membuat mereka semakin bingung.

"Padahal Yumi anak baik dan salah satu yang paling bisa diandalkan di dalam organisasi kesiswaan. Kenapa hanya karena Chaeyoung situasi jadi tidak terkontrol begini?" Keluh Sehun.

"Tapi kalau dipikir-pikir, rencana Chaeyoung sangat rapih. Bahkan dari awal mereka mulai memberontak tim kedisplinan. Aku tidak menyangka gadis kekanakan macam Chaeyoung bisa memiliki rencana secerdik dan selicik ini," Ujar Kyungsoo.

"Karena bukan Chaeyoung otak dari rencana ini." Perkataan Baekhyun sontak membuat semuanya menoleh padanya.

"Maksudmu?"

"Selama ini kita sudah salah menganggap lawan."

XXX

"Berani sekali siswa satu ini tidak mengetuk saat akan masuk keruangan direktur sekolahnya?"

"Jangan bercanda ayah."

Pria yang lebih tua tertawa, melihat bagaimana anak semata wayangnya yang menghampirinya dengan muka kesal.

"Jadi, ada apa anakku? Saat ayah ada di sekolah biasanya kau melirikpun tidak."

Chanyeol mendengus, menatap kesal ayahnya. "Informasi tentang kepala sekolah, ayah dapatkan dari Kak Baekhyun 'kan?"

"Woah, pintar sekali anak ayah." Tuan Park malah tertawa kecil.

"Sudah berapa lama ayah mengawasi Kak Baekhyun? Sejak aku berpacaran dengannya?"

"Tidak, ayah sudah lama mengawasinya. Tepat di hari pertama ia masuk sekolah. Anak itu murid emas di SMA Jaeguk juga seseorang yang penting. Semua yang ia lakukan ayah pantau. Hubungan kalian saja ayah sudah tahu dari lama, masalah kepala sekolah pastinya ayah dapatkan dengan mudah. Terimakasih kepada bukti-bukti yang bocah itu kumpulkan, kepala sekolah itu bisa aku singkirkan untuk selamanya," Ujar Tuan Park santai.

Mendengarnya, lagi-lagi Chanyeol mendengus. Ia melemparkan dirinya di kursi tepat dihadapan ayahnya. "Aku tidak tahu harus marah atau senang saat mendengar hal itu. Tapi, untuk apa kau memantau kehidupannya di SMA ini? Kak Baekhyun cuma satu dari banyaknya murid disini."

"Karena dia adalah orang yang penting bagi orang kepercayaan ayah."

"Dan orang itu adalah?"

"Coba tebak," Ujar sang ayah dengan nada jenaka.

Chanyeol memutar bola matanya malas, ini bukan saatnya mereka bermain tebak-tebakan. Pertanyaan itu bisa ditanyakan nanti, sekarang yang terpentiny adalah keselamatan Baekhyun dari Chaeyoung.

"Lalu keributan yang dibuat oleh Chaeyoung, ayah sudah membereskannya?" Tanya Chanyeol.

"Hah, gadis itu entah apa yang membuatnya jadi begini. Walau dia selalu bersikap buruk dan tidak menganggapmu sebagai teman kecilnya, dia bukanlah orang jahat. Aku sudah menelusurinya, dan benar keluarganya bangkrut karena ayahnya harus berurusan dengan kepolisian setelah Jaeguk melaporkannya atas perbuatannya. Tapi hal itu membuat tunangan Chaeyoung, pewaris perusahaan korea yang berbasis di Australia membatalkan acara pertunangannya. Jadi ia beralih mencoba mendapatkanmu."

"Jadi tingkah Chaeyoung selama ini yang tiba-tiba menempel padaku itu karena ia ingin kekuasaan dari grup Jaeguk? Mencegah dan menyelamatkan perusahaan keluarganya yang akan bangkrut?" Tanya Chanyeol lagi.

Tuan Park menggeleng. "Pada awalnya, itu yang aku pikirkan, tapi tidak. Keluarga Lee memiliki harga diri tinggi. Mau seterpuruk apapun ia tidak akan mejilat perusahaan yang telah membuatnya hancur. Chaeyoung mendekatimu bukan untuk mendapatkanmu. Yang ia lakukan itu untuk mendapatkan kembali tunangannya yang ada di Australia."

"Hah? Aku tidak mengerti. Untuk apa dia mendekati Jaeguk jika bukan itu yang ia inginkan?" Chanyeol bertanya heran.

"Mereka ingin menghancurkan Jaeguk dari dalam dengan kau sebagai pionnya. Kau akan digunakan sebagai perusak citra perusahaan, membuat perusahaan ini hancur tapi sebelum itu Chaeyoung akan mengambil apa yang bermanfaat baginya sebelum kembali ke Australia dengan syarat yang diberikan."

"Syarat? Syarat yang dibuat siapa?"

"Syarat yang dibuat perusahaan tunangan Chaeyoung. Hancurkan Jaeguk, itu syaratnya. Tentu saja keluarga Lee yang notabenenya memiliki dendam dengan kita langsung menerimanya."

"Tunggu, aku sama sekali tidak mengerti ayah. Kita bahkan belum pernah berhubungan dengan pebisnis Korea-Australia itu. Kenapa mereka membuat ini sebagai syaratnya?"

"Kita mungkin tidak, tapi kau iya. Itu syarat yang diberikan oleh adik tunangan Chaeyoung, anak bungsu kesayangan keluarga mereka. Sekarang, ia sedang bersekolah di SMA JAEGUK dengan identitas Koreanya. Aku belum bisa menemukan siapa, tapi dilihat dari ia yang membencimu, sepertinya kau telah berbuat sesuatu yang membuat ia kesal."

"Hah? Kenapa situasinya menjadi rumit? Siapa juga orang ini? Aku bahkan tidak pernah membuat masalah selama masuk SMA. Dan, ayah jangan menjelaskan ini dengan wajah tersenyum dan bersemangat seperti sedang menceritakan dongeng! Ini perusahaan ayah yang jadi taruhannya, anak ayah juga sedang dalam masalah. Kenapa malah duduk-duduk disini dan bertindak sebagai direktur sekolahan?" Protes Chanyeol kesal.

"Kenapa? Ini sama-sama pekerjaan ayah. Ini masalahmu dan grup Jaeguk juga milikmu. Maka, selesaikan sendiri, pewaris ayah," Ujar Tuan Park sambil menyeringai.

"Tapi aku ini cuma anak sekolahan!" Seru Chanyeol frustasi.

"Ini 'kan juga masalah anak sekolahan. Ayah sudah sangat banyak memberikan kau informasi. Cukup pastikan Chaeyoung atau anak bungsu pebisnis Australia itu tidak tahu bahwa sebagian rencana mereka sudah terbongkar."

"Apa tante tahu tentang hal ini?" Tanya Chanyeol, hampir menyerah menghadapi ayahnya yang sifatnya sama sekali tidak mencerminkan seorang pebisnis.

"Oh gadis itu? Tentu saja tahu. Sekarang ia sedang duduk-duduk di kursi CEO dengan manis. Mungkin ia sedang menyiapkan rencana untuk mengambil alih perusahaan tapi itu urusan gampang. Yang ingin ayah lakukan sekarang adalah berada di sekolah, mengawasi bagaimana putra ayah akan bertindak menghadapi masalahnya sendiri."

"Aku harap tante Byun benar-benar mengambil alih perusahaan saja ketimbang pak tua yang sukanya bermain-main," Sindir Chanyeol, sebelum ia pergi meninggalkan ruangan direktur itu.

"Hahaha, aku anggap itu sebagai pujian, nak!"

XXX

Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Baekhyun. Untung saja karena beberapa kejadian yang menghebohkan tadi, kegiatan belajar ditiadakan dan siswa diharapkan mengikuti kegiatan klub nya secara bebas.

Saat menatap pantulan wajahnya dari cermin, ia bisa melihat betapa berantakannya ia hari ini. Mulai dari pagi yang tidak terduga, debat di ruang kepala sekolah yang membuatnya super lemas, direktur sekolah yang membelanya dan kenyataan bahwa direktur itu ayah Chanyeol, juga rumor yang beredar tentang latar belakang keluarga mafia atau yakuza yang dimiliki Baekhyun.

"Arghhh, aku ini cuma anak sekolah biasa, bukannya mau syuting drama!" Keluh Baekhyun frustasi atas kejadian bertubi-tubi yang menimpanya hari ini.

Baekhyun duduk di meja belajarnya, membuka lemarinya dan mengambil kotak figura kecil dari dalamnya. Itu foto terakhir yang diambil sebelum sosok itu hilang. Tapi kalau dipikir-pikir, semua orang yang ada di foto itu sudah lama tak ia jumpai. Ia rindu makan di restoran keluarga mereka. Ia juga rindu anjing kecil mereka yang sudah tak ia lihat selama tiga tahun. Salahnya juga sih tak kembali kerumah bahkan saat malam natal.

Tapi kalau ia pulang, ia bisa kelewatan satu kesempatan untuk bertemu sosok yang hilang itu.

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Rasa lelah membuat perasaannya menjadi sentimental. Ia langsung memutuskan untuk menyegarkan badan juga kepalanya dengan berendam air hangat.

Saat Baekhyun masuk ke kamar mandi, sesuatu sedang bergerak-gerak mengikuti kemana langkahnya di kamar itu. Tepat di antara rak-rak bukunya.

XXX

Baekhyun baru saja keluar dari kamar mandi saat ia mendengar suara pintu diketuk. Dengan berlari kecil ia membuka pintu dan mendapati Chanyeol yang menyengir dengan seplastik kue beras pedas dan ayam goreng ditangannya.

"Hah, aku kira siapa malam-malam. Jika kamarmu memiliki perasaan, pasti ia sedih karena pemiliknya terus-terusan meninggalkannya," Gerutu Baekhyun tapi ia tetap mempersilahkan Chanyeol masuk. Pemuda jangkung itu hanya menyengir sambil meletakkan semua jajanannya diatas meja.

"Kamarku pasti tidak akan keberatan, soalnya kalau aku tidur disana nanti ada yang rindu." Baekhyun tertawa sarkas mendengarnya, namun ia maafkan karena Chanyeol membawakan makanan. Ia langsung duduk didepan meja pendek itu dan buru-buru membuka kotak berisikan ayam itu.

"Kebiasaan, Kakak tidak kapok kena demam, ya? Kemarikan handuk kakak." Chanyeol duduk diatas sofa yang tepat berada di belakang Baekhyun. Walau tampak menolak pada awalnya, akhirnya Baekhyun menyerah saat Chanyeol sudah mengambil alih handuk kecilnya.

"Chanyeol," Panggil Baekhyun disela kunyahnya.

"Hmm," Respon Chanyeol.

"Tadi siang kau pergi menemui ayahmu 'kan? Dia bilang apa?" Tanya Baekhyun.

"Bukan apa-apa, aku hanya kaget karena dia datang tiba-tiba. Harusnya dia ada di perusahaan saat itu." Mendengarnya Baekhyun hanya mengangguk-ngangguk.

"Lain kali, temani aku bertemu dengan beliau, ya. Aku ingin berterimakasih karena telah menyelamatkanku dari situasi terpojok. Kalau bukan karena dia, mungkin aku benar-benar sudah keluar dari SMA JAEGUK."

"Hah, tidak perlu berterimakasih kepada orang tua itu, nanti dagunya terangkat terlalu tinggi," Keluh Chanyeol membuat Baekhyun tertawa kecil-kecil.

"Omong-omong, bagaimana dengan masalah Chaeyoung? Tim kedisplinan ingin menangani kasusnya, tapi Chaeyoung menghilang begitu setelah dinyatakan dikeluarkan. Kyulkyung dan Yumi juga tidak bisa ditemukan," Tanya Baekhyun sambil mendongak menatap Chanyeol.

Chanyeol menundukkan kepala Baekhyun lagi, kembali mengeringkan rambut Baekhyun. "Urusan itu, ternyata jauh lebih—" Kalimat Chanyeol terpotong saat ia merasakan sesuatu bergerak. Ia langsung menoleh, mengamati ruangan Baekhyun. Yang memiliki kamar menatap heran Chanyeol.

"Kenapa?"

"Hah, tidak apa-apa tadi ada nyamuk yang berdengung di kupingku. Untuk Chaeyoung, aku rasa dia melakukan itu semua karena suka padaku. Maksudku, itu terlihat jelas 'kan? Tapi kalau urusan kenapa Kyulkyung dan Yumi membantunya aku masih belum tau kenapa," Jelas Chanyeol sedikit terbata. Ia hanya mengangguk-ngangguk dan mendengarkan balasan Baekhyun, namun matanya menangkap benda kecil yang bergerak di sela rak buku Baekhyun. Sebuah lampu merah berkedip-kedip kecil dari sana tanda sedang merekam sesuatu.

Tidak salah lagi, seseorang memasang kamera pengintai di kamar Baekhyun.

Chanyeol berdiri dari duduknya, hendak menuju rak buku Baekhyun. Namun tangan Baekhyun dengan cepat menahannya, kakak kelasnya itu menggeleng.

"Aku sudah tau, jangan diambil." Chanyeol sedikit kaget saat Baekhyun mengatakannya dengan wajah serius. Sebelum sesaat kemudian wajahnya kembali melembut. "Aku tidak kepedasan, kok. Nanti saja mengambil minumannya."

XXX

Sehun yang tadinya ingin mengunjungi kamar Baekhyun langsung menghentikkan langkahnya saat ia melihat adik kelasnya, Chanyeol berdiri di depan kamar temannya itu. Sebelum tak lama kemudian Baekhyun membukakan pintu dan Chanyeol masuk kedalamnya.

Mereka pacaran, jadi pasti kehadiran Sehun tidak diinginkan disana. Makanya disinilah Sehun berakhir. Di bangku taman yang menghadap lapangan, ditemani ayam bumbu dan sekaleng soda.

Malam ini cukup ramai, mungkin karena pergantian mendadak kepala sekolah mereka dan guru-guru yang sedang repot membuat mereka lupa untuk mengawasi jam malam. Tim kedisplinan pun tidak melakukan patroli seperti biasanya, mengingat hari ini adalah kejadian besar bagi mereka.

Harusnya Sehun tidak meletakkan kalimat mungkin, sih. Dirinya saja yang anggota Tim kedisplinan sedang bersantai sambil makan ayam. Kalau peraturan kepala sekolah benar-benar berlaku, sudah habis dia.

Lapangan dipenuhi anak-anak yang sedang main basket. Tipekal anak-anak basket, mereka semua tinggi. Sehun lama-lama merasakan malam ini dia menyedihkan. Ketua tim kedisplinannya sedang asik berpacaran di kamarnya sedangkan ia disini, makan ayam goreng sendirian sambil menonton sekumpulan anak laki-laki main basket.

Bola basket terlempar lalu menggeleinding tepat kebawah dua kakinya. Seorang pemuda dengan kaus putihnya menghampirinya, tapi Sehun terlebih dulu membuka mulut.

"088, Kim Jongin?" Tanya Sehun.

Yang dipanggil tersentak kaget. "Eh, iya Kak Sehun. Kebetulan sekali bertemu kakak disini, errr kami akan segera masuk ke dalam gedung asrama," Ujar Jongin takut-takut. Hell, dari semua tipe mahluk di SMA JAEGUK, yang paling ia takuti itu anggota tim kedisplinan. Sial sekali dirinya malah menghampiri salah satunya saat ia jelas-jelas sedang melanggar jam malam.

"Santai saja. Menurutmu aku sedang apa? Malam ini, aku mendapatkan point lebih buruk darimu," Balas Sehun sambil terkekeh melihat wajah panik Jongin.

"Hahaha, begitu ya kak," Tawa Jongin kikuk. Tapi matanya langsung terpaku saat melihat sekotak ayam bumbu disamping Sehun.

Itu ayam.

Sekali lagi, itu ayam.

Jongin menatap sekotak ayam itu berbinar. Jongin yang tiba-tiba diam dan memperhatikan ayam miliknya tentu saja tidak luput dari penglihatan Sehun. Saat ayam itu Sehun angkat, Jongin mendongak. Saat ia angkat ke kanan, Jongin menoleh ke kanan. Membuat diam-diam Sehun menahan tawanya melihat ekspresi lucu yang Jongin buat.

"Hey Jongin! Apa yang kau lakukan disitu?!"

Seruan itu membuat Jongin kaget dan tersadar. Ia menatap Sehun panik. "Ah, kalau begitu aku permisi mau melanjutkan mainnya." Jongin tampak menampar kecil pipinya. Namun baru berbalik, Sehun membuka suaranya.

"Hei, mau menemaniku makan ayam? Ini terlalu banyak, kalau tidak habis aku tidak memiliki pilihan lain selain membuangnya."

Mendengarnya, Jongin bagaikan tersambar petir. "Apa? Kakak membuang-buang ayam? Tidak-tidak, aku akan menemani kakak memakan ayamnya!" Jongin langsung melempar bolanya jauh kearah temannya. Lalu duduk disamping Sehun.

"Jong, bagaimana dengan permainannya?!"

"Main saja sana sama yang lain, aku mau makan ayam!" Balas Jongin. Ia lalu mulai memakan ayamnya dengan wajah orang paling bahagia di dunia.

Sehun akhirnya tertawa melihatnya. "Astaga, baru sedetik yang lalu kau terlihat ketakutan saat melihatku tapi berubah saat melihat ayam bumbu ini. Sepertinya kau lebih tertarik bersama ayam bumbu ini daripadaku, ya?"

"Eh, bukan. Maksudku aku takut. Eh tidak, aku tidak takut, cuma ini ayam..." Jongin bingung harus membalas apa. Kenapa sih otak bodohnya tidak mau di ajak kerjasama disaat situasi seperti ini. Bisa-bisanya ia tidak berpikir panjang dan malah makan ayam dengan anggota tim kedisplinan.

Sekali lagi, ANGGOTA TIM KEDISPLINAN.

"Santai saja, aku mengerti kok kami itu menakutkan. Saat mendengar ucapan Chaeyoung, Kyulkyung dan Yumi, aku jadi berpikir, apa itu yang dipikirkan oleh semua anak-anak di sekolah tentang SMA JAEGUK? Niat kami bukan begitu, tapi kalau yang dirasakan oleh anak-anak sekolah begitu, pantas saja mereka membenci kami," Ujar Sehun sebelum menghela nafasnya.

"Itu...Kalian memang menakutkan. Tapi aku tidak membenci kakak, kok." Mendengarnya membuat Sehun langsung menatap Jongin, hingga yang ditatap hampir menjatuhkan ayamnya, "Ma-maksudku, itu 'kan memang sudah tugas kalian sebagai anggota tim kedisplinan. Kalau ada yang berpikir begitu, berarti orang itu cuma tidak mau mengaku salah dan malah beralasan. Walau menyeramkan, kalian baik..." Jongin menciciy diakhir kalimatnya. Mampus dia, malah melantur kemana-mana. Padahal sudah diloloskan dari jam malam, diberi ayam gratis pula. Jongin menggigit ayamnya sambil menunduk, takut menatap senior tim kedisplinannya ini. Sampai ia merasakan usapan berantakan sesaat diatas rambutnya.

"Begitu, ya? Hahaha, aku kira kau cuma anak menyebalkan yang penakut. Ternyata kau ini menarik juga, ya!" Ujar Sehun sambil tertawa.

Jongin ikut tertawa. Intinya ikut tertawa saja walau ia tidak paham maksud dari perlakukan dan perkataan Sehun. Mereka melanjutkan acara mengobrol dan makan ayam sampai Sehun menangkap sesuatu.

"Huh, bukannya itu Kyulkyung? Sedang apa dia malam-malam begini?" Jongin langsung ikut menatap yang sedang di tatap Sehun. Kyulkyung terlihat terburu-buru. Ia mengenakan pakaian serba hitam dan topi hitam. Ia juga membawa tas besar yang entah apa isinya.

"Sebenarnya ini bukan hanya sekali aku melihat Kyulyung malam-malam begini berkeliaran," Ujar Jongin.

"Maksudnya, ia sering keluar malam-malam begini?" Tanya Sehun.

"Kadang bersama Kak Yumi dan Chaeyoung, tapi kadang ia sendirian. Dengan pakaian serba gelap," Jelas Jongin.

"Kau melihat tidak apa yang ia lakukan?"

"Aku tidak selalu melihatnya, tapi aku pernah melihatnya malam-malam masuk ke area parkiran sekolah kelas satu lalu sering keluar masuk gedung asrama kelas tiga membawa tas besar."

Mendengarnya, Sehun menyeringai.

"Jongin, mau bermain menjadi detektif tidak?"

XXX

Balik lg sama cerita ini! Gmnn cepet kaaan

Thanks for u guys adorables review, membuat aku ga bisa bikin kalian lebih lama nunggu wkwk

Aku asik ngetik sana sini tb2 nyadar, ini knp berubah genre dr school life ke sok misteri gini??

tp biarin lah aku suka yg ribet2 gini, anggep aja nonton drama the heirs chanbaek vers lol

udh ah segitu aja, see u guys in next chap!

btw REVIEW KALIAN LUCU BGT AKU MAU NANGIS AJA BACANYA KALIAN KANGEN DAN NUNGGUIN CERITA INI HUHUHU

Adios! Chanpawpaw.

Edited: astaga aku salah ngetik Nona Chae jadi Nona Lee makanya langsung banyak yg bingung kenapa marga Chaeyoung berubah. Im sowwwyy